XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label raffi ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label raffi ahmad. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 10 Juli 2008

LIAR : Konflik Kakak Beradik dan Balap Jalanan

Cerita:
Kakak beradik Indra dan Bayu memiliki hobi balapan liar. Indra selalu menang setiap bertanding dan dijuluki Raja Jalanan sehingga dibenci Macan, pimpinan genk motor saingannya. Setelah kematian ayahnya, Indra memutuskan meninggalkan dunia balap dan bekerja sebagai pengantar makanan yang membawanya berkenalan dengan Monique. Diam-diam Bayu melanjutkan kiblat kakaknya menjadi pembalap motor yang handal termasuk bertemu montir cantik bernama Pepi. Sempat memancing kemarahan Macan, Bayu tidak menyadari bahaya apa yang dihadapinya selagi kakaknya Indra berjuang melawan kanker yang terus menggerogoti waktu hidupnya.

Gambar:
Adegan balap yang seharusnya menjadi nilai jual film ini tidak terlalu dominan. Alhasil gambar didominasi oleh dramatisasi adegan yang terkadang berlebihan.

Act:
Setelah terakhir terlibat dalam komedi Asoy Geboy, Raffi Ahmad kembali bermain serius sebagai Bayu yang ambisius dan punya caranya sendiri.
Mantan presenter Indonesian Idol, Irgi Ahmad Fahrezi kebagian peran utama pertamanya sebagai Indra yang kalem dan berusaha melindungi keluarganya sepeninggal ayahanda tercinta.
Dua love interest tokoh utama yaitu Pepi dan Monique masing-masing dimainkan oleh model cantik Asmirandah dan Intain Nuraini.

Sutradara:
Rudi Soedjarwo berusaha kembali pada genre drama yang membesarkan namanya. Bertekad mengambil tema balap liar yang belum banyak diangkat di perfilman nasional, Rudy tampaknya masih harus banyak belajar untuk mengeksplorasi dengan lebih tepat.

Komentar:
Menyaksikan Liar memang terkesan serba tanggung. Dunia balap liar yang melatarbelakanginya seakan hanya tempelan belaka karena tidak ada penjelasan yang dalam tentang asal usul Indra-Bayu dan geng motor yang mendukung sekaligus melawannya. Jika saja konflik antar geng tidak sedangkal itu, niscaya film akan lebih menarik lagi. Apakah drama yang ingin diketengahkan? Romantika mungkin? Rasanya tidak karena segala unsur itupun masih terasa mengambang di sana-sini.Hm, di beberapa segi, Rudi tampaknya cukup berhasil "menjual". Namun tidak menolong kualitas film secara keseluruhan yang jatuh menjadi teramat standar dan mungkin tidak cukup menarik bagi penonton umum. Sayang sekali!

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!