XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ricky harun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ricky harun. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

POTONG BEBEK ANGSA : Komedi Bodoh Hangover KW Tiga


Quote: 
Sasha: Ini tuh yang ngomong, Otong mabok ato Otong sadar sih?
Otong: Otong mabok, mabok asmara.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 24 Desember 2012.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Sasha
Boy William sebagai Masen
Ricky Harun sebagai Otong
George Rudy sebagai Gembong Mafia
Max Don sebagai Bos mafia Afro-American
Oka Sugawa sebagai Bowo
Dewi Rezer sebagai Ibu
Ferry Salim sebagai Ayah


Director: 
Merupakan karya kedua Alyandara setelah Xia Aimei di awal tahun.

W For Words: 
Mengadaptasi satu (atau dua) film Hollywood yang sudah memiliki reputasi dan fanbase internasional tersendiri tentunya harus menimbang resiko yang ada agar tidak gagal total. Sayangnya Falcon Pictures tampaknya tidak berpikir panjang bahwa secara konten budaya dan adat istiadat pun “kegilaan” dalam Dude, Where’s My Car? (2000) dan The Hangover (2009) tidak dapat diterapkan begitu saja terhadap film lokal. Sah-sah saja sebenarnya jika “versi gue (ato kite)” tetap melakukannya karena penilaian akhir ada pada bursa alias penonton. Penasaran? Saya sih iya!

Sasha yang tengah berangkat ke Paris dalam dua hari diundang sahabatnya Ivan ke pesta kostum. Ia lantas mengajak kakaknya Masen dan sohibnya Otong. Kasus salah alamat akhirnya berbuntut panjang. Minuman memabukkan membuat ketiganya lupa diri dan terbangun di pesisir pantai dengan sebuah mobil sedan silver yang bukan milik mereka. Sasha panik karena paspor, tiket dan dokumen penting miliknya ada di mobil Masen. Bukan hanya itu, seorang polisi bernama Bowo, tiga mafia Afro Amerika dan gerombolan mafia lokal turut memburu ketiganya yang harus tunggang langgang mencari jawaban.

Skrip yang ditulis oleh Hilman Mutasi dan Away Martianto ini memiliki logika jumpalitan yang rasanya hanya bisa dicerna oleh makhluk angkasa luar. Kemalasan memberi nama kepada para tokohnya sudah menjadi indikasi. Simpati penonton yang harusnya terbangun dari kelucuan spontan dan kepanikan wajar ketiga karakter utamanya sejak menit awal terbilang gagal. Beberapa penonton mungkin berharap Otong, Masen dan Sasha tak “terbangun” lagi untuk selama-lamanya daripada menyaksikan kebodohan episodik tak berkesudahan yang begitu mengganggu nalar.

Pertama, Sasha yang panik mencari ponsel begitu tersadar malah lupa apa yang seharusnya dilakukan setelah dipinjami oleh Ivan. Kedua, adakah polisi sebodoh Bowo yang bertugas sendiri. Tunggu, dia polisi atau detektif? Ketiga, mengapa gerombolan Gembong Mafia begitu tolol meninggalkan mobil tanpa dijaga saat ingin menangkap ketiga muda-mudi itu? Keempat, kenapa mafia Afro-Amerika menggunakan dialek campuran. Kelima, aksi kejar-kejarannya sangat tidak believable. Lontaran peluru yang semuanya luput (cuma satu mengenai lengan Otong) hingga penyelesaian kelemut yang semestinya bisa lebih dini. Thumbs up if you could get through these!

Saya nobatkan gelar worst costume in a movie tahun ini bagi trio Ricky, Olivia, Boy sekaligus salut mereka mampu bertahan mengenakan kain seprai, pakaian balet dan kostum bebek di sepanjang film. Seberapa kerasnya Otong mencoba melucu, saya tidak tertawa. Seberapa kuatnya persahabatan Otong dan Masen, saya tidak tergugah. Seberapa manisnya Otong berupaya mendapatkan hati Sasha, saya tidak tersentuh. Salahkan pada himpitan komedi situasi berpondasi lemah yang gagal menambatkan konflik apapun dengan kendali ceritanya.

Kinerja Alyandra yang di bawah standar saat mengarahkan Xia Aimei beberapa waktu lalu bisa dimaklumi karena debutnya. Namun karya keduanya ini yang juga tidak inspiratif membuat kapabilitasnya dipertanyakan. Saya justru menangkap gaya Anggy Umbara dalam Mama Cake (2012) disini yang menyelipkan gimmick-gimmick ala komik dan video game di berbagai scene. Karena sudah pernah melihat sebelumnya, saya tidak melihat hal tersebut sebagai terobosan baru yang kreatif. Ya setidaknya editing Cesa David dan tata musik Ramondo Gascaro sedikit membuat perbedaan positif.

Satu-satunya unsur hiburan dalam Potong Bebek Angsa adalah suguhan penampilan Super Senior dalam membawakan lagu ciptaan Pak Kasur versi baru ini plus behind the scene yang menampilkan kesalahan-kesalahan saat syuting. Selebihnya adalah rentetan chaos tak bertanggungjawab yang urung memunculkan tawa tapi sukses menimbulkan manyun. Andai saja membuat film semudah memberikan kostum Pocong, Bebek dan Angsa untuk dipakai oleh Ricky Harun, Boy William dan Olivia Jensen hingga menjadikannya judul film sekaligus. Mengerikan!


Durasi: 

75 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 21 April 2011

SUSTER KERAMAS 2 : Terjebak Di Rumah Sakit Penuh Misteri

Quotes:
(Menyelimuti mayat) Gak usah rapi-rapi amat lah.. Gak dinilai ini..

Storyline:
Tiga sohib masing-masing Jack, Tando dan Shelly memiliki hobi yang sama yaitu balap motor di jalan raya. Hingga pada suatu malam, Shelly mengalami kecelakaan yang cukup fatal. Jack dan Tando pun membawanya ke rumah sakit terdekat. Di lain kesempatan, Cakil yang mengantar seorang gadis Jepang mengalami cedera parah karena jari-jarinya terjepit pintu mobil. Kedua grup tersebut bertemu di rumah sakit saat menunggu dokter bertugas. Sayangnya tidak lama kemudian, berbagai kejadian supernatural menghantui mereka yang berujung pada satu konklusi yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Maxima Pictures dan screening terbatas diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 19 April 2011.

Cast:
Ricky Harun sebagai Jack
Zidni Adam sebagai Tando
Marcell Darwin sebagai Cakil
Violenzia Jeanette sebagai Shelly
Sola Aoi
Eva Asmarani
Tasya Djerly Emor

Director:
Film pertama Findo Purwono HW di tahun 2011 ini setelah sebelumnya Love In Perth di penghujung 2010 lalu.

Comment:
Saat pertama menyaksikan trailernya, saya sungguh merasa miris dengan konten seperti apa yang kira-kira akan disajikan. Sebab aksi semua jenis hantu dan musik hingar-bingar mengisi preview selama kurang lebih satu menit tersebut, samasekali tidak ada kesan menyembunyikan daya tarik yang sesungguhnya. Untuk hal ini jelas memang urusan produser apapun alasannya.
Pertama saya ingatkan bahwa sekuel ini tidak ada hubungannya dengan Suster Keramas (2009) meskipun masih digawangi penulis yang sama yakni Abbe Ac. Plot ceritanya benar-benar baru dan entah disengaja atau tidak, justru terdapat beberapa kemiripan dengan film-film Thai/Hongkong seperti Phobia 2 ataupun The Eye. Tidak perlu saya sebutkan bagian mana karena anda mungkin bisa menebaknya sendiri jika rajin mengamati.
Comebacknya Marcell Darwin ternyata belum memberikan perubahan yang signifikan, bisa jadi karena ia harus “berbagi” Sola Aoi dengan Ricky Harun. Keduanya silih berganti berakting pintar-pintar bodoh termasuk berkali-kali mengarahkan mata ke belahan dada. Tidak heran karena setiap pria pasti akan melakukan hal serupa! Zidni Adam yang satu-satunya pernah mendukung prekuelnya justru kebagian bermain dengan suster-suster dan penjaga kamar mayat. Dan ia tampak cukup “menghayati” terlebih saat berpura-pura sebagai orang buta.
Saya cukup mengagumi keberanian aktris-aktris yang terlibat disini mempertontonkan tubuh mereka masing-masing. Rasanya di rumah sakit manapun tidak ada suster-suster yang demikian seronok dan nekad mencopot seragam mereka di WC kamar mandi. Imajinasi tersebut hanya terdapat disini. Di sisi lain, Sola Aoi tidaklah selugas Maria Ozawa dalam berekspresi lugu dan berdialog spontan. Saya heran adegan topless yang hanya ditutupi rambut panjangnya bisa lolos gunting sensor begitu saja. Hmm..
Usaha Abbe Ac untuk menyajikan sebuah twist ending “kreatif” itu patut diapresiasi. Namun memasuki pertengahan seharusnya tidak terlalu sulit diduga terlebih karena terdapat banyak kelemahan yang tidak dapat ditutupi. Sutradara Findo juga kurang mampu mengeksplorasi suasana rumah sakit yang sunyi dari unsur psikologisnya. Ia malah lebih percaya pada trik-trik lama yang sudah basi dan tidak inovatif.
Suster Keramas 2 merupakan panggung pertemuan manusia dengan segala jenis hantu dalam nuansa komedi dan horor sekaligus. Sebagian berhasil membuat ngeri/tertawa tapi justru lebih banyak gagalnya. Repetisi selama kurang lebih 80 menit yang melelahkan akhirnya ditutup dengan theme song yang menyayat perasaan dengan lirik dan musiknya. Semoga tidak ada episode ketiganya!!!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 14 Januari 2010

TOILET 105 : Misteri Hilangnya Siswi dan Toilet Sekolahan

Tagline:
Semua toilet ada penunggunya..

Storyline:
Tiga sekawan yang juga playboy SMU Bina Persada masing-masing Okta, Ical dan Rio terang-terangan mendekati Marsya, siswi baru pindahan dari Perancis. Padahal Okta sudah memiliki pacar, Viola dan ganknya yang juga suka menindas anak-anak baru. Wakil kepala sekolah, Ibu Endang berulangkali mengingatkan siswa-siswinya untuk menerima Marsya dan dibantu suaminya, Pak Wahyu yang juga seorang guru bimbingan. Keluguan Marsya membuatnya sering terlibat masalah tetapi ada satu yang mengganggunya yaitu penampakan hantu siswi di toilet sekolah. Apa hubungannya dengan menghilangnya Adelia beberapa waktu yang lalu? Rahasia apa yang sesungguhnya disembunyikan?

Nice-to-know:
Diproduksi MVP Pictures yang awalnya berencana tayang bulan November 2009 yang lalu tapi mengalami penundaan beberapa saat. Lokasi sekolah pada umumnya dan toilet pada khususnya menjadi setting utama film ini.

Cast:
Ricky Harun
kembali dengan tipikal peranannya yaitu siswa playboy mesum Okta, tidak jauh dari apa yang diperlihatkannya di dua sekuel Pulau Hantu.

Pendatang baru Coralie Gerald didapuk sebagai Marsya, siswi pindahan dari Perancis yang lancar berbahasa Indonesia-Inggris selayaknya Cinta Laura.
Suami istri guru, Wahyu dan Endang diperankan Indra Birowo dan Suty Karno yang sudah lama menghilang dari perfilman nasional.
Jangan lupakan cameo Aming di awal dan akhir film sebagai satpam sekolah.

Director:
Terakhir membesut horor erotis Darah Perawan Bulan Madu (2009), Hartawan Triguna kali ini mengangkat horor komedi yang diangkat dari novel remaja berjudul sama.

Comment:
Tema klise yang digarap dengan sentuhan yang begitu-begitu saja. Itulah kesan yang muncul sejak awal menyaksikan Toilet 105. Dari segi penokohan dan karakterisasi terasa serba tanggung. Tanpa mengeksplorasi tokoh Marsya yang harusnya kesulitan menyesuaikan budaya dari Eropa ke Asia. Trio Okta, Ical dan Rio yang harusnya bersinergi menciptakan kekonyolan juga tidak dimaksimalkan. Peran guru dan aktifitas di sekolah juga terkesan ala kadarnya. Alhasil skenario yang pas-pasan menjadi semakin miskin tanpa improvisasi yang cukup yang seharusnya dilakukan sutradara. Unsur horror juga diperlihatkan lewat make-up dan seragam SMU yang berdarah-darah saja berikut spesial efek sederhana yang dibantu oleh lighting, tidak menyeramkan sama sekali. Keseluruhan isi cerita dan arah filmpun bisa ditebak penonton dengan mudah. Satu-satunya yang mungkin menjadi kelebihan film ini adalah setidaknya mencoba bercerita dengan runut. Ohya angka 105 di judul film ini sebetulnya tempelan belaka. Silakan anda tebak sendiri maknanya setelah menonton film ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average

7.5-average n enjoyable

8-good
8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 10 Desember 2009

AI LOP YU PUL : Kabur Ke Jakarta Merajut Impian Bersama

Tagline:
Cinta Sampai Mati


Cerita:
Saat kios Emak dihancurkan oleh gerombolan penagih hutang yang dipimpin Beno, Topan tidak terima dan bertekad membalas dendam kepada Satyo, bos Beno cs. Disitulah ia berkenalan dengan Indun, putri semata wayang Satyo yang tengah kecewa dengan ayahnya yang berniat kawin lagi. Suatu peristiwa membuat Indun terkesan dilarikan Topan ke Jakarta. Dalam perjalanan, kedua insan berbeda jenis itu mengenal satu sama lain dan berjuang melawan kerasnya kehidupan kota besar. Topan diterima bekerja di sebuah pencucian mobil sedangkan Indun mengejar cita-cita menjadi penulis novel. Satyo tidak tinggal diam kehilangan anak kesayangannya tersebut dan memerintahkan Beno cs untuk mendapatkan Indun kembali. Bagaimana akhir romansa Topan dan Indun yang mulai saling mencinta tersebut?

Gambar:

Rumah kos-kosan dan beberapa sudut lingkungan kumuh Jakarta disyut dengan pas dari berbagai sisi sehingga terkesan realistis.


Cast:
Terakhir tampil dalam sekuel Kawin Kontrak, Ricky Harun kali ini bermain sebagai pemuda Batak, Topan yang berusaha mengais rejeki demi melunasi hutang ibunya yang diperankan Anna Shirley, mantan aktris lawas yang lama absen bermain film.
Sempat mendukung Nadine Chandrawinata dalam Mati Suri (2008), Oxcell disini kebagian karakter Indun alias Indah yang bertekad mandiri walau berayahkan juragan kaya Satyo, yang diperankan aktor senior Didi Petet.


Sutradara:
Pernah dipuji realistis dalam mengarahkan MBA, Winaldha E. Melalatoa kembali dengan roman remaja yang dipadu dengan unsur komedi Betawi yang kental.

Comment:

Film produksi Maleo Pictures ini awalnya cukup idealis dengan menampilkan budaya Betawi yang dikombinasikan dengan Batak. Namun sayangnya eksekusi ide cerita tidak berjalan mulus. Banyak hal-hal yang sangat dipaksakan mengalir dan ditelan bulat-bulat oleh penonton begitu saja hingga bisa jadi membuat muak. Beberapa adegan slapstik yang diperlihatkan VJ Mike Lucock dan kawan-kawan juga tidak mampu memancing tawa lepas. Pemilihan cast juga terasa kurang matang, Ricky hanya pas untuk peran komikal dan jika dibawa drama terlihat kedodoran. Demikian Oxcell yang terkesan cukup kewalahan menciptakan chemistry yang pas dengan lawan mainnya itu. Beruntung beberapa aktor-aktris senior seperti Didi, Anna dan Subarkah tampil natural seperti biasanya. Sang sutradara yang saya sukai kinerjanya dalam MBA kali ini mengulangi kesalahan yang sama dengan DO yaitu plot cerita tambal sulam yang kurang berhasil. Sound yang harusnya membantu malah terdengar menggelikan dengan gesekan biola yang tidak simetris dengan situasi cerita. Pada akhirnya Ai Lop Yu Pul yang diilhami dari lagu almarhum Mbah Surip ini terasa hambar di berbagai unsur dan tidak akan meninggalkan kesan apapun.


Durasi:

85 menit


Overall:
6 out of 10


Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average

7.5-average n enjoyable

8-good

8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 02 Maret 2009

KIRUN+ADUL PENGEN PUNYA PACAR KEREN : Pengejaran Kesalahpahaman Berbuntut Asmara

Cerita:
Dua pemuda Bali, Kirun dan Adul menjalani kehidupan sehari-hari yang nyaris sama, bekerja dengan santai di siang hari lalu party dengan gerombolan cewek seksi di malam hari. Kebosanan merambat dan Kirun bertekad mendapatkan pacar yang bisa melimpahinya dengan kasih sayang. Semua berubah saat Kirun bertemu dengan anak perempuan Wapres yang manis, Gita. Berbuntut dari ketidak sengajaan saat menelpon, Gita malah marah dan menugaskan seorang aparat intelijen bernama Nugroho untuk melacak jejak Kirun. Kontan saja dalam sekejap, Kirun dan Adul berusaha untuk tidak tertangkap dengan terus melakukan pelarian. Bagaimana akhir dari pengejaran tersebut? Apakah kesalahpahaman bisa berbuah manis pada akhirnya?

Gambar:
Khas Jose Poernomo dimana mixing scene dan fast-forward style masih menjadi andalan!

Act:
Ricky Harun sebagai Kirun tetap terjebak dalam peran stereotype anak muda easy going yang polos. Kali ini sebagai Kirun, Ricky "seakan" menjadi dirinya sendiri. Lucu memang tapi just it!
Abdurrahman Arif sebagai Adul bermain kocak dengan mimik muka dan bahasa tubuhnya yang luwes.
Permata Sari Harahap sebagai Gita, sang putri Wapres terlihat belum dapat mengeksplorasi aktingnya disini. Masih terlihat turun naik dan terkadang cenderung datar.
Reza Rahadian sebagai Nugroho, sang intelijen yang kaku, siaga tapi selalu terhambat oleh dua anak buahnya yang bodoh dan lamban.

Sutradara:
Jose Purnomo setelah puas mengeksplorasi pulau berhantu dan sekuelnya kali ini seperti memiliki template yang sama dari segi setting dan gaya bercerita hanya saja ini murni komedi. Kepiawaiannya memang terasa tapi tidak cukup kreatif untuk mengembangkan segala aspek ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Komentar:
Tanpa harapan tinggi saat menyaksikannya, saya malah terhanyut dengan plot sederhana, alur cerita yang cepat dan fun yang ditawarkan Kirun+Adul dengan humor yang terkadang tidak jelas tapi masih bisa memancing tawa. Ringan sekaligus kocak memang, hanya saja entah kenapa kesan berantakan masih terasa di sepanjang film. Mungkinkah durasi yang singkat dengan masa syuting yang cepat menjadi jawabannya?

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 21 November 2008

KAWIN KONTRAK LAGI : Lokasi dan Petualangan Baru dengan Penguasa Baru

Cerita:
Setahun setelah meninggalkan Desa Pakelonan, Jody mengalami kesulitan finansial yang membuatnya berpindah-pindah kontrakan. Pertemuannya dengan Kang Sono, memunculkan ide menjadi makelar kawin kontrak. Klien-klien pertamanya adalah Menfo, Hakim dan Fredo. Tiga sekawan pecundang cinta itu dibawa ke Desa Pakelonan yang ternyata sudah mengalami perubahan karena penguasa baru Bos Maung menerapkan sistem militer terhadap anak buahnya, istri-istri kontrakan. Segera saja Menfo, Hakim dan Fredo diajak berkeliling memilih istri kontrakannya masing-masing. Pada saat bersamaan, Teh Euis yang mengaku tengah mengandung anak Jody mencium kebusukan bos Maung yang ternyata suka memeras pelanggannya. Bahu-membahu, mereka berusaha menggagalkan rencana bos Maung. Temukan jawabannya di ending yang cukup mengejutkan.

Gambar:
Setting lanskap kehijauan lengkap dengan sawah, gunung dan perkampungan pedesaan yang rapi menjadi daya jual utama untuk permainan gambar di film ini.

Act:
Ricky Harun meneruskan peran satu dari tiga pemuda polos tanggung di prekuelnya sebagai Jody. Dia berusaha memberikan sedikit kedewasaan dari apa yang dulu pernah ditampilkannya tapi tetap sebagai anak muda yang tidak berpikir panjang.
Lukman Sardi menemukan peran komedi dalam film ini melanjutkan peran Kang Sono yang pintar-pintar bodoh namun bertanggungjawab dengan apa yang telah dimulainya.
Wiwied Gunawan sebagai Teh Euis mendapat porsi lebih di film ini. Boleh dibilang dialah nilai jual utama disini. Peran yang kocak berhasil memikat penonton untuk berempati padanya.

Sutradara:
Oddy C Harahap melanjutkan tugasnya dengan sekuel pertama di film ini. Beberapa adegan masih menjual humor yang berbau seks yang terbukti ampuh memancing tawa. Namun penggarapannya cenderung datar walaupun film dibuka dan ditutup dengan cukup manis dan kreatif.

Komentar:
Walaupun masih cukup menghibur, menurut pandangan saya, film ini tidak semanis dan selugas film pertamanya. Terlihat sekali di pertengahan film seperti kedodoran dan kebingungan menjaga intensitas cerita agar tetap menarik. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10