XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label tara basro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tara basro. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 November 2015

A COPY OF MY MIND : Gritty Love Within Political Sphere


Quote:
Alek: Loe kalo mau nyari yang bagus, loe cari yang asli lah. Bajakan masa loe protes.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Lo-Fi Flicks dan CJ Entertainment yang juga menjadi distributornya.

Cast:
Tara Basro sebagai Sari
Chicco Jerikho sebagai Alek
Maera Panigoro sebagai Ny Mirna
Paul Agusta sebagai Bandi
Ario Bayu sebagai Hitman
Tony Setiaji sebagai Penjual DVD
Ronny P Tjandra sebagai Pak Ronny

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Joko Anwar setelah Modus Anomali (2012).

W For Words:
Dua belas tahun sudah filmmaker bertalenta tinggi yang mengawali karirnya sebagai jurnalis film ini menggeluti industri film Indonesia baik sebagai pelakon, penata skrip ataupun sutradara. Untuk pertama kalinya menjabat sebagai produser eksekutif selain menulis skenario dan menyutradarainya, Joko Anwar berhasil meraih legitimasi tertinggi dalam negeri yakni Piala Citra sebagai sutradara terbaik melalui A Copy Of My Mind yang juga diputar pada berbagai festival luar seperti 2015 Venice International Film Festival, Toronto International Film Festival, Busan International Film Festival ini.

Dua insan kelas bawah metropolitan yaitu Sari, pekerja facial salon kecantikan yang kerap menutup harinya dengan menonton DVD bajakan di kamar kosnya dan Alek, pembuat teks terjemahan yang selalu menghabiskan harinya dengan bekerja di dalam rumah seorang nenek sebatang kara yang dirawatnya. Keduanya lantas dipertemukan oleh ‘film’ dan segera bertautan karena kesamaan hobi. Namun sebuah ‘kesempatan’ yang datang bersamaan dengan riuh rendahnya kampanye calon presiden negeri ini justru mengancam masa depan hubungan mereka.
Pembajakan adalah musuh utama sang kreatifitas yang lumrah dihadapi oleh industri film di negara manapun juga. Joko dengan cerdas mengambil tema ini melalui sudut pandang ‘produsen’ dan ‘konsumen’ yang (bukan kebetulan) saling jatuh hati. Proses pengerjaan hingga distribusi langsung secara detil digambarkan di paruh pertama. Sedangkan paruh kedua diisi oleh gejolak sosial politik yang acapkali memihak kepentingan elite harus bersinggungan dengan masyarakat yang tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti arus sambil mencoba bertahan hidup.

Pendekatan indie memang terasa dilakukan Joko melalui panggung Jakarta yang digambarkan ‘kumuh’ seperti kos padat penghuni, rumah gang, warteg sederhana, jalan sempit dsb yang tak jarang berkesan temaram. Namun jangan ragukan sinematografi Ical Tanjung yang efektif menangkap setiap sudut metropolitan yang terlupakan. Alur lambat tetapi konsisten di setiap babaknya dijamin memberikan waktu yang cukup bagi anda untuk mengenal semua karakternya sekaligus mengikuti konflik yang menjalar perlahan sebelum mencapai titik kulminasi.
Chicco membangun tokoh Alek dari tampilan fisiknya yang tegap dan kumal tapi berhati lembut dan meyakini apa yang dianggapnya benar. Tara menjiwai peran Sari dengan kepercayaan diri tinggi terlepas dari keterbatasan yang dimilikinya dan sentiasa mencari pembenaran dari segala tindakannya. Chemistry mereka yang bermula dari nafsu mulai berkembang menjadi saling membutuhkan dengan semua upaya kompromi yang terlihat jelas. Maera mampu mencuri perhatian di atas limitasi screen time sebagai Ny Mirna yang tegas dan oportunis. Sementara Paul menunjukkan sisi antagonis yang dibutuhkan sebagai Bandi.

A Copy Of My Mind, yang lahir dari kecintaan seorang Joko Anwar sejak belia terhadap film itu sendiri, lebih merupakan sebuah drama kontemporer dengan character study dan conflict relevance yang kental. Sentuhan thriller yang coba dihadirkan di penghujung cerita memang tidak sampai mengubah ‘haluan‘ tetapi dirasa sudah cukup untuk meninggalkan kesan menetap, bahkan setelah anda meninggalkan bioskop. Your mind will be blown by a pair of helpless lovers in seeking of their own entertainment and testament.

Durasi:
118 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 16 Desember 2014

PENDEKAR TONGKAT EMAS : Saksi Tak Hidup Dari Aksi Balas Dendam

Quote:
Cempaka: Aku tidak takut mati. Namun tidak ada ilmu silat yang membuat seseorang hidup selamanya dan terhindar dari kematian.

Nice-to-know:
Xiong Xin Xin alias Hung Yan-yan adalah pesilat, aktor, stuntman, dan sutradara laga kelahiran Hong Kong, 25 Februari 1965. 

Cast:
Eva Celia sebagai Dara
Nicholas Saputra sebagai Elang
Reza Rahadian sebagai Biru
Tara Basro sebagai Gerhana
Christine Hakim sebagai Cempaka
Aria Kusumah sebagai Angin
Slamet Rahardjo sebagai Dewan Tertinggi
Whani Dharmawan sebagai Sayap Merah
Darius Sinathrya sebagai Naga Putih
Prisia Nasution sebagai Cempaka muda
Landung Simatupang sebagai Guru Sepuh


Director:
Merupakan film ke-15 bagi Ifa Isfansyah setelah 9 Summers 10 Autumns (2013).

W For Words:
Komik silat Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan di era tahun 70an hingga 80an. Termasuk beberapa di antaranya sukses diadaptasi ke layar lebar seperti Si Ayub Dari Teluk Naga (1979), Jaka Sembung (1981), Pendekar Bukit Tengkorak (1987), trilogy Angling Darma, Wiro Sableng ataupun Saur Sepuh. Produser handal kenamaan Mira Lesmana sudah memiliki cita-cita untuk membangkitkan kembali genre yang satu ini semenjak delapan tahun yang lalu sebelum akhirnya mendapat dukungan penuh dari KG Studio di tahun 2012. Perjalanan Pendekar Tongkat Emas pun dimulai!

Pendekar yang disegani dan dihormati, Cempaka mulai menua. Pada suatu hari ia memanggil keempat anak didiknya yaitu Biru, Gerhana, Dara dan Angin untuk mewarisi Tongkat Emas. Sayangnya pembunuhan dan pengkhianatan terjadi hingga mahasenjata itu menjadi incaran banyak pihak. Satu-satunya yang menguasai jurus handal tersebut adalah Naga Putih yang telah lama menghilang. Dua murid Cempaka yang tersisa pun bertekad menemukannya sebelum dunia persilatan menjadi kacau karena dikuasai orang-orang yang salah.

Skenario yang ditulis oleh Jujur Prananto, Mira Lesmana, Ifa Isfansyah dan Seno Gumira Ajidarma ini seperti komiknya memang lebih menitikberatkan pada ‘drama’ yang terjadi di antara para karakternya. Bagaimana luapan ekspresi dan kecamuk emosi kerap membingkai setiap tindakan yang ada. Garis batas abu-abu yang memisahkan benar dan salah pun terkadang bias karena kepentingan yang mendasarinya. Sejak awal, anda langsung digiring untuk mengenal karakteristik empat murid Cempaka sebelum mencerna konflik utama yang digulirkan secara sederhana ini.

Kapabilitas Ifa yang meraih Piala Citra melalui Sang Penari (2011) di kursi sutradara memang tak perlu diragukan lagi. Setting dunia persilatan berhasil dibangun di Sumba terlepas dari kendala cuaca dan keterbatasan sumber daya. Pegunungan, perbukitan, lembah, danau, lautan di bawah hamparan langit biru dan sinar matahari yang kuat turut memperkaya unsur sinematiknya yang diambil menggunakan kamera Red Dragon. Dukungan penata laga pro dari Hongkong, Xiong Xin Xin kian menghidupkan setiap adegan tarung secara meyakinkan mulai dari menit pertama hingga terakhir.

Dua aktor ‘beda generasi’ beradu akting untuk pertama kalinya di layar lebar, Nicholas Saputra dan Reza Rahadian memang terpaut satu dekade dalam mencapai masa keemasannya. Tokoh Biru dan Elang yang kontradiktif mampu dihidupkan secara cemerlang. Eva Celia dan Tara Basro pun tak kalah memikat sebagai Dara dan Gerhana. Penampilan si cilik Aria Kusumah berhasil mencuri perhatian. Aktris senior Christine Hakim membuka film dengan narasi yang begitu meyakinkan. Dua aktor kawakan, Slamet Rahardjo dan Landung Simatupang juga menambah solid jajaran cast nan variatif ini.
Perjuangan tim filmmaker selama proses produksi lebih dari 2 tahun dengan biaya yang mencapai 25 milyar telah terbayar lunas. Perjuangan para pendekar untuk menjaga harkat, martabat dan harga dirinya sekaligus menegakkan kebenaran dan keadilan sudah tersaji sebagai tontonan yang cukup ‘berisi’ selama nyaris dua jam. Pada akhirnya Tongkat Emas hanyalah simbolisasi saksi tak hidup dari sebuah perwujudan aksi balas dendam terhadap obsesi yang harus dituntaskan. Mengalahkan atau dikalahkan, begitulah takdir pendekar.

Durasi:
112
menit

Overall:
8 out of 10

Kamis, 29 Maret 2012

HI5TERIA : Omnibus Lima Kecemasan, Belum Ketakutan


Quotes:
Vita: Jika kepala terlepas dari ragamu, carilah wanita berbadan dua.. Atau bayi yang masih suci..

PASAR SETAN - Adriyanto Dewo (14 menit)
Sari mencari kekasihnya Jaka yang telah menghilang 3 hari di sebuah hutan pegunungan Lawu. Tak lama kemudian ia berjumpa seorang pendaki lain bernama Zul. Keduanya ternyata hanya berputar-putar di tempat yang sama selama berhari-hari. Ketika malam tiba, hutan mendadak ramai dengan suara dan cahaya yang terang benderang. Berhasilkah mereka keluar dari hutan tersebut?

WAYANG KOELIT - Chairun Nissa (24 menit)
Seorang jurnalis Amerika, Nicole bertugas untuk meliput pertunjukan wayang kulit di sebuah desa Jawa Tengah. Ketika menyadari bahwa semua anggotanya adalah perempuan, ia justru diikuti oleh kekuatan mistis yang sulit diperkirakan tujuannya. Nicole semakin terperangkap dimana satu-satunya yang bisa dipercaya adalah pemahamannya sendiri.

KOTAK MUSIK - Billy Christian (20 menit)
Ilmuwan muda bernama Farah terbiasa hidup modern dan independen dimana segala kejadian diyakininya mampu dijelaskan secara ilmiah. Namun penemuan kotak musik yang kemudian diikuti dengan hantu bocah perempuan kecil yang selalu mengikutinya membuat Farah goyah. Ia harus mulai mempercayainya atau segalanya terlambat.

PALASIK - Nicho Yudifar (21 menit)
Sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan putri remajanya tengah menikmati liburan di sebuah villa yang terletak di sebuah kota kecil Sumatera Barat. Kegembiraan tidak berlangsung lama karena sang istri diteror oleh setan kepala terbang tanpa badan yang tampaknya berhubungan dengan rahasia misterius masa lalu.

LOKET - Harvan Agustriansyah (18 menit)
Pada suatu malam sepi, seorang petugas penjaga loket parkiran basement sebuah mall mengalami kejadian aneh. Diawali dengan palang pintu loket yang tidak bisa terbuka hingga muncul sosok menyeramkan seorang perempuan setengah baya yang meneror dirinya. Benarkah ada kasus pembunuhan yang terjadi di sekitar situ?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Upi Production dan PT Kharisma Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 27 Maret 2012.

Cast:
Luna Maya sebagai Farah
Dion Wiyoko sebagai Zul
Ichi Nuraini sebagai Penjaga Loket
Poppy Sovia sebagai Novi
Tara Basro sebagai Sari
Kriss Hatta sebagai Teddy
Imelda Therinne sebagai Vita
Maya Otos sebagai Nicole
Sigi Wimala
Bella Esperance
Dinda Kanya Dewi

W For Words:
Regenerasi filmmaker harus tetap berjalan di belantara perfilman nasional, setidaknya itulah yang dikumandangkan oleh Upi yang sukses meyakinkan Chand Parwez Servia untuk kemudian memproduseri sekelompok anak muda yang sudah berkiprah sebagai pembuat film-film pendek berkualitas sebelumnya. Lahirlah sebuah omnibus horor thriller yang hendaknya tidak disamakan dengan produksi Thailand yakni 4BIA (2008) dan kelanjutannya Phobia 2 (2009) walaupun memiliki pendekatan yang kurang lebih sama.
Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar dan Harvan Agustriansyah tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini untuk mengerahkan kemampuan terbaik yang mereka punya apalagi dengan mentor sekelas Upi. Dua nama yang paling outstanding adalah Ilun dan Billy, tak heran karena dari segi jam terbang mereka sedikit di atas yang lainnya. Urutan favorit saya adalah Wayang Koelit, Kotak Musik, Loket, Palasik dan Pasar Setan. Lihat SPOILER ALERT! di bawah jika anda ingin tahu detail penilaian saya.

Saya bersyukur omnibus horor thriller ini masih tetap setia dengan akar budaya lokal, terlihat dari penekanan masing-masing segmennya yang Indonesia banget. Satu garis lurus yang dapat ditarik adalah tokoh wanita yang menjadi sentralisasi cerita dan bukan kebetulan kalau semuanya ditempatkan sebagai korban. Lihat saja posternya yang jelas menampilkan wajah-wajah mereka dengan warna yang berbeda-beda. Komposisi scoring music dari Tya Subiakto juga tidak mengecewakan karena berhasil melebur pas untuk memancing rasa tertentu yang diharapkan oleh filmmaker.
Di satu sisi, HI5TERIA memang sukses mencuri start dengan teaser trailer yang kerap diputar pada ajang iNAFFF tahun lalu. Namun di sisi lain, hal tersebut justru dapat memancing ekspektasi yang kelewat tinggi dari para penikmat genre sejenis. Terlepas dari berbagai kekurangan minor, HI5TERIA tetap harus diapresiasi karena tujuan mulia produser dan kerja keras pekerja kreatif generasi penerus ini. Meskipun belum sampai mencapai batas phobia (baca: ketakutan) yang diinginkan, HI5TERIA tetap mampu memunculkan kecemasan dalam diri penonton yang bisa jadi akan dihadapkan pada situasi serupa di kehidupan nyata mereka selepas menyaksikannya.


SPOILER ALERT!
Pasar Setan: Saya melihat fokus berada di antara pencarian orang hilang dan keberadaan pasar setan itu sendiri. Dua elemen yang seharusnya saling memperkuat untuk koalisi cerita yang padat tapi nyatanya pasar setan itu sendiri hanya ditampilkan dalam satu adegan sebagai latar belakang belaka. Selebihnya Tara dan Dion yang sibuk berputar-putar di hutan Gunung Lawu tanpa menyadari bahwa keduanya telah meretas rentang waktu yang teramat panjang. Twist nya tidak buruk hanya saja pernah dilakukan sebelumnya dalam Pencarian Terakhir (2008).
Wayang Koelit: Entah mengapa instrumen musik dan atribut etnik yang digunakan benar-benar mampu menciptakan suasana magis yang mendirikan bulu kuduk. Sudut pandang dari tokoh utama Maya Otos yang berasal dari luar semakin mempertebal konflik pertentangan budaya yang terjadi. Jujur saja, adegan bayangan wayang merambat di dinding sempat menggetarkan saya selain kinerja make-up artist yang demikian baik dalam menyajikan “wajah” seram di tengah kekalutan malam. Twist nya tidak terlalu sulit ditebak dan adegan penutup persis dengan prediksi saya.

Kotak Musik: Tak pelak lagi, Luna Maya bermain paling menonjol dalam omnibus horor ini. Anda akan melihatnya bersikap mandiri, tak butuh cinta, profesionalitas dalam bekerja, apatis terhadap supernatural hingga bingung dengan pemahamannya sendiri. Aksesori kotak musik yang selalu iringi kemunculan arwah bocah perempuan itu menjadi momok tersendiri walau saya berharap sedikit penjelasan di akhir cerita mengenai “koneksi” khusus antara Farah dengan arwah yang mengikutinya. Twist nya terbilang memelintir konsep garis waktu sehingga kembali ke kondisi awal dengan keadaan yang berbeda 180 derajat!
Palasik: Sosok setan kepala terbang tidak ditampilkan dengan jelas di sepanjang durasinya padahal ini yang paling ingin dilihat penonton kecuali beberapa detik di akhir cerita yang efeknya masih terasa kasar. Untungnya penjiwaan Imelda Therinne sebagai obyek teror dalam kondisi hamil mampu mengangkat cerita. Keganjilan terjadi ketika Vita yang sudah berada di ambang kebebasannya justru kembali masuk ke dalam rumah tanpa alasan yang jelas?! Jangan lupakan kemunculan Poppy Sovia yang merupakan tokoh penting di balik twist nya.

Loket: Saya sependapat bahwa karyawan yang bekerja sebagai penjaga loket keluar masuk kendaraan shift malam di basement gedung itu memiliki nyali yang luar biasa. Ichi Nuraini menghidupkannya dengan pas apalagi dengan dukungan nyonya menyeramkan Bella Esperance! Sedikit lambat dalam bercerita di awal, Harvan akhirnya tancap gas di penghujung. Tetap saya merasa seharusnya film ditutup ketika Ichi “sadar”. Twist yang ditawarkan mungkin mengingatkan anda pada Triangle tapi sayangnya tidak tersampaikan dengan jelas. Anyway, this could be a great finale segment but came up quite short!

Durasi:
97 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: