XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label remake. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remake. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 November 2013

CARRIE : Revenge Ain't Always Best Served Cold

Quote:
Carrie White: The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late.

Nice-to-know:
Adaptasi film pertama dimana tokoh Carrie benar-benar dimainkan oleh remaja, Chloe Grace Moretz yang berusia 15 tahun. Terdahulu Sissy Spacek dan Angela Bettis masing-masing berusia 26 tahun dan 28 tahun.

Cast:
Chloë Grace Moretz sebagai Carrie White
Julianne Moore sebagai Margaret White
Gabriella Wilde sebagai Sue Snell
Portia Doubleday sebagai Chris Hargensen
Alex Russell sebagai Billy Nolan
Zoë Belkin sebagai Tina
Ansel Elgort sebagai Tommy Ross


Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Kimberly Peirce yang mulai angkat nama lewat Boys Don’t Cry (2006).

W For Words:
Carrie White adalah siswi SMU pemalu yang kesulitan bergaul. Dunianya hanya diisi oleh ibunya semata, Margaret White, wanita relijius berprofesi penjahit yang merasa terkhianati oleh cinta di masa lampau. Kejadian menstruasi pertamanya di toilet sekolah membuat Carrie jadi buah bibir sekaligus bahan celaan teman-temannya terutama siswi bermasalah, Chris Hargensen dan kekasihnya, Billy Nolan. Sue Snell yang merasa bersalah mengutus pacarnya Tommy Ross yang juga idola sekolah untuk mengajak Carrie ke prom night. Mimpi buruk pun dimulai dimana kekuatan telekinesis Carrie akan mengambil alih. 

Ada dua nama besar yang sudah membesarkan Carrie. Satu adalah Stephen King yang pertama kali mengangkat kisah fiktifnya ke dalam novel di tahun 1974 yang lantas menjadi best seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Dua adalah Brian De Palma yang sukses mengadaptasinya dengan bintang Sissy Spacek yang kemudian menerima nominasi Oscar pertamanya sebelum berjaya pada kesempatan berikutnya lewat Coal Miner’s Daughter (1980). Kini lebih dari tiga puluh tahun berlalu, MGM Pictures bekerjasama dengan Screen Gems dan Misher Films meremakenya dengan bekal yang menjanjikan dari tiga nama.

Pertama, Chloë Grace Moretz adalah the next big thing in Hollywood dengan kemampuan aktingnya yang terakreditasi. Walaupun banyak pihak yang mengatakan ia terlampau cantik untuk peran Carrie White, setidaknya usia gadis kelahiran 1997 ini benar-benar remaja saat syuting berlangsung. Pilihan yang terbukti tidak rancu karena saya benar-benar melihat transformasi dari korban tak berdaya menjadi pelaku berkuasa di sini, bukan hanya secara fisik tetapi juga segi emosionalnya yang cukup matang berbicara di layar.

Kedua, Julianne Moore adalah aktris kaliber Oscar dengan empat nominasi. Ia diyakini akan menjadi penyanding yang pas bagi Moretz. She performed great. Sisi lunatic psychotic nya terwujud nyata lewat setiap tindakan dan perkataannya. Sosok Kristen taat yang kerap menghubungkan segala sesuatunya dengan Tuhan dan iblis secara kontradiktif. Wilde dan Doubleday berhasil menempati posisi berseberangan secara brilian. Elgort juga terbilang likeable sebagai Tommy yang mulai terdistraksi oleh perasaannya sendiri. Greer juga mencuri perhatian sebagai pihak ketiga di sekolah, Ibu Desjardin yang juga pengajar olahraga.

Ketiga, Kimberly Peirce yang 14 tahun silam menghentak dunia dimana film yang ditulis dan disutradarainya sendiri, Boys Don’t Cry (1999) sukses menyabet Oscar baginya. Skrip yang ditulis oleh Lawrence D. Cohen dan Roberto Aguirre-Sacasa ini berupaya dimodernisasi dengan pemakaian ponsel berkamera dan media Youtube sebagai alat eksploitasi. Namun Peirce seakan menyandang beban berat apalagi harus berurusan dengan efek khusus yang terkadang bertentangan dengan spirit indie nya. Bagi saya apa yang dilakukannya secara detail dari awal sampai akhir masih terlalu episodik dibandingkan originalnya sehingga kerap terasa jumpy dan inconsistent.


Terlepas dari segala kekurangannya, remake Carrie yang satu ini tetap berhak mendapatkan spotlight yang diharapkannya. Tidak akan terlalu bersahabat bagi mereka yang mengenal betul versi originalnya tetapi lumayan menjanjikan bagi penonton ‘generasi baru’. Faktor kesetiaan dengan pendahulunya di departemen storytelling tampak berusaha diupgrade dengan tampilan visualnya yang lebih kekinian. Unsur gory dan violence yang diusungnya sedikit berpihak pada elemen horor dibandingkan thriller. For me it’s still haunting to see payback time where revenge ain't always best served cold.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,050,775 till Nov 2013

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 22 Mei 2013

THE GREAT GATSBY : Timeless Love Issue About ‘What-If' Curiosity


Quote:
Nick Carraway: You can't repeat the past.
Jay Gatsby: Can't repeat the past? Why, of course you can.

Nice-to-know:
Syuting sempat tertunda tatkala sutradara Baz Luhrmann terantuk crane kamera yang berujung pada tiga jahitan di kepala.

Cast:
Leonardo DiCaprio sebagai Jay Gatsby
Carey Mulligan sebagai Daisy Buchanan
Tobey Maguire sebagai Nick Carraway
Joel Edgerton sebagai Tom Buchanan
Isla Fisher sebagai Myrtle Wilson 
Jason Clarke sebagai George Wilson
Elizabeth Debicki sebagai Jordan Baker
Amitabh Bachchan sebagai Meyer Wolfsheim

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Baz Luhrmann setelah terakhir menangani Australia (2008).

W For Words:
Karakter Jay Gatsby memang fiktif. Namun fakta itu tidak menghalangi kesuksesan novel karangan F. Scott Fitzgerald berjudul The Great Gatsby yang terbit di tahun 1925. Betapa tidak, penulis asal Amerika Serikat tersebut berhasil memotretkan sejarah kehidupan sosialita Amerika pada masa ‘Roaring Twenties’ yang kental dengan kemakmuran ekonomi hingga memicu terjadinya berbagai tindak kriminal. Nah, tentunya anda sudah memiliki gambaran bagaimana seorang sutradara sekelas Baz Luhrmann akan mengadaptasinya ke layar lebar versi kedua apalagi didukung dengan jajaran cast yang menjanjikan.

Nick Carraway yang bekerja sebagai salesman di desa West Egg kerap diundang ke rumah sepupunya Daisy yang merupakan istri dari Tom Buchanan. Mereka mengenalkan Nick pada Jordan Baker, atlet golf ternama. Belakangan diketahui Tom memiliki affair dengan Myrtle, istri George Wilson yang tinggal di lingkungan kumuh. Suatu saat Nick berkenalan dengan konglomerat misterius Jay Gatsby yang ternyata pernah menjalin cinta dengan Daisy lima tahun lalu. Lewat bantuan Nick, api cinta mereka kembali berkobar. Kemana affair tersebut akan berujung? 

Luhrmann yang juga menangani skripnya langsung bersama Craig Pierce akan membangkitkan imajinasi penonton dengan kedetilan sisi teknis yang begitu tajam. Pesta super megah dimana semua undangan tampil dalam kostum stylish retro merupakan treatment tersendiri. Efek 3D yang dihasilkan terbilang memuaskan kecuali pada beberapa bagian percakapan. Sedikit gangguan bagi saya ada pada musik kombinasi pop ballad dengan hip-hop yang dirasa masih terlalu modern dari Shawn Carter alias Jay Z untuk nuansa tahun 20an yang seharusnya lebih dekat dengan jazz.

Tak mudah menerjemahkan karakter Gatsby yang terlihat tegar dan ambisius di luar tapi sensitif dan emosional di dalam. DiCaprio yang sudah tidak terlalu tampak babyface lagi melakukannya dengan gemilang sesuai evolusi karakteristiknya. Aktris kesayangan saya Mulligan juga menjiwai tokoh Daisy dengan semangat tinggi tanpa harus kehilangan sifat manja dan feminisnya. Edgerton yang semakin bersinar menunjukkan determinasi tinggi ketika berhadapan langsung dengan DiCaprio. Tokoh Tom yang terkesan ignorant justru posesif dan penuh perhitungan. Mereka membangun pondasi cinta segitiga lewat alasan dan motif yang juga sama kuatnya.

Kembalinya salah satu aktor favorit saya Maguire selepas dari karakter Peter Parker (2002-2007) ini mengobati kerinduan. Bagaimana mata lebar dan senyum khasnya terasa pas dalam diri Nick yang naïf sekaligus narator first person yang baik. Fisher dan Clarke juga tampil ciamik sebagai pasutri Wilson nan oportunis yang hidup di kota buangan lengkap dengan citarasa quirky masing-masing. Pendatang baru Debicki di luar dugaan lumayan mencuri perhatian lewat peran Jordan yang cantik menggoda. Penampilan khusus Amitabh Bachchan kian melengkapi nama-nama sohor yang terlibat di dalamnya.

The Great Gatsby versi terbaru ini mampu terlihat nyata dan absurd secara bersamaan. Kekuatan sebuah literatur klasik yang terbangun hidup tanpa harus melewati proses analisa mendalam. Penonton juga dapat menangkap metafora lewat simbolisasi kaya di sepanjang film, salah satu yang paling memorable bagi saya adalah konsep ‘green light’ yang melambangkan mimpi. It’s a mix of classic and modern Hollywood grandeur which deliver timeless love issue about 'what if' curiosity.

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:
$93,398,909 till May 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Mei 2013

EVIL DEAD : You’re All Going To Scream Together


Quote:
Mia: You're all going to die tonight!

Nice-to-know:
Inisial nama lima karakter utama jika dieja akan membentuk kata
D.E.M.O.N.  

Cast:
Jane Levy sebagai Mia
Shiloh Fernandez sebagai David
Lou Taylor Pucci sebagai Eric
Jessica Lucas sebagai Olivia
Elizabeth Blackmore sebagai Natalie
Jim McLarty sebagai Harold
 


Director:
Merupakan feature film pertama bagi Fede Alvarez setelah empat film pendek sebelumnya
.

W For Words:
Hollywood tampaknya kian telaten mendaur ulang horor lawas setelah terakhir Don't Be Afraid of the Dark (2011) dan segera menyusul Carrie (2013). Tak terkecuali produksi terbaru FilmDistrict, Ghost House Pictures dan TriStar Pictures ini. Mudah-mudahan alasannya bukan karena kehabisan ide, melainkan "pelestarian" sebuah karya besar (dikenang sebagai salah satu yang terbaik di genrenya sepanjang masa) demi menjangkau audiens yang lebih luas lagi. Itu harapan saya. Pada akhirnya memang harus siap diperbandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik. Bukan begitu?
 
Mia yang kecanduan narkoba terpaksa diisolir di pondok terpencil tengah hutan. Kakaknya David datang menjenguk bersama kekasihnya Natalie dan teman-teman mereka guru Fisika, Eric dan mahasiswi perawat, Olivia. Ketika menemukan buku misterius di lantai bawah, Eric tanpa sengaja merapal mantera pembangkit iblis yang segera merasuki Mia. Satu persatu dari mereka mulai bertingkah aneh dan saling membunuh. David harus mencari cara untuk menghentikan semua itu sebelum hujan darah turun dan iblis mampu berkuasa kembali di bumi. 

Sam Raimi merupakan otak dari Evil Dead yang ditulis dan disutradarainya dalam dua versi resmi yaitu The Evil Dead (1981) dan Evil Dead II (1987) dengan tokoh utama Ashley ‘Ash’ J. Williams. Namun pujian kali ini pantas dialamatkan pada Fede Alvarez dan Rodo Sayagues yang tampak tidak mau terjebak stereotype dengan menggabungkan berbagai plot dari dua pendahulunya dengan penyesuaian yang lebih logis dan modern tentunya. Lihat bagaimana kakak beradik David dan Mia memiliki hubungan sebab akibat yang menjelaskan situasi nyata yang dialami keduanya saat ini.

Alvarez sebagai filmmaker juga menunjukkan taringnya. Sinematografi yang kelam, blocking yang dinamis sampai pengaturan sekuens yang runut menjadikan tontonan satu ini begitu menyenangkan. Memang masih terasa pengaruh gaya Raimi terlebih menyangkut penggunaan efek tradisional untuk membangun horornya. Pengemasan kejutan dari satu adegan sadis dengan yang lainnya juga sukses menciptakan sensasi miris sekaligus magis membius. Tensinya pun terjaga secara maksimal selama kurang dari sembilan puluh satu menit, terima kasih pada lembaga sensor film kita.

Aktor-aktris belia yang belum terlalu dikenal tersebut mampu melebur dalam peran masing-masing. Levy berhasil menghidupkan sosok iblis yang kotor dan menjijikkan di samping Mia yang terlihat liar dan rapuh. Fernandez tak kalah dramatisnya menghadapi pergulatan batin dalam diri David yang merupakan karakter sentral. Pucci kali ini bertugas menonjolkan sisi komedinya sebagai Eric yang konyol dan eksentrik, tokoh yang mungkin akan membuat anda geregetan sejak menit pertama. Sedangkan Blackmore dan Lucas justru menampilkan pesonanya tatkala menjadi  Natalie dan Olivia yang ‘berbeda’.

Evil Dead tampaknya akan tercatat sebagai satu dari sedikit remake tersukses sepanjang sejarah, bahkan lebih daripada inisiatornya yang dikenal sebagai film kelas B. Begitu banyak sick moment dan changeover twist yang digulirkan membuat anda sulit menerka tokoh mana yang bertahan paling akhir. Itupun jika sempat berpikir mengingat begitu intensnya teror berpacu dengan waktu. Penonton lama dan baru dijamin terpuaskan dengan tertawa, menjerit dan meringis bersama di dalam bioskop. Definitely best rare cinematic experiences for truly horror fans who might prefer late night show.

Durasi:
91
menit

U.S. Box Office:
$53.200.013 till May 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 09 Desember 2012

RED DAWN : Guerillas Movement For Patriotic Unnecessary Remake


Quote:
Jed Eckert: Marines don't die, they go to hell and regroup.
  
Nice-to-know: 

Chris Hemsworth dan Isabel Lucas berkencan di kehidupan nyata dan sama-sama membintangi soap opera Australia "Home and Away".

Cast: 
Chris Hemsworth sebagai Jed Eckert
Josh Peck sebagai Matt Eckert
Josh Hutcherson sebagai Robert Kitner
Adrianne Palicki sebagai Toni Walsh
Isabel Lucas sebagai Erica Martin
Connor Cruise sebagai Daryl Jenkins


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Dan Bradley yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung sebagai stunt coordinator sejak tahun 1983.

W For Words: 
Pada tahun 1984 terdapat sebuah film bertajuk Red Dawn yang dibintangi oleh Patrick Swayze, C. Thomas Howell dan Lea Thompson. Genre action yang disutradarai oleh John Milius itu pada akhirnya sukses meraup pendapatan lebih dari empat kali pengeluarannya hanya di Amerika Serikat saja. Siapa nyana jika lebih dari satu dekade kemudian Contrafilm, Metro-Goldwyn-Mayer dan Vincent Newman Entertainment berpikiran untuk meremakenya dengan bintang-bintang masa kini. Satu pertanyaan besar adalah seberapa jauh perombakan skrip dalam penyesuaiannya dengan jaman modern?

Mantan anggota angkatan laut, Jed Eckert baru saja kembali ke rumah tapi bersitegang dengan adiknya yang masih duduk di bangku SMU Matt hingga ditengarai sang ayah Tom yang juga berjiwa keras. Suatu malam, kota kecil Spokane tempat tinggal mereka mendadak diserang pasukan tentara Korea Utara sehingga Pemerintah segera memberlakukan peraturan militer bagi warganya. Kakak beradik itu tak tinggal diam dan mengajak kawan-kawannya mengadakan perlawanan di bawah nama “The Wolverines” yang segera memancing amarah Kapten Lo yang kejam. 

Carl Ellsworth dan Jeremy Passmore tampaknya tidak memberi banyak perubahan pada skrip asli milik Kevin Reynolds dan John Milius selain penekanan pada hubungan abang adik Jed-Matt yang lebih kuat dan perpindahan Calumet, Colorado ke Spokane, Washington. Satu hal yang terlupakan adalah fakta bahwa Perang Dingin sudah lama berlalu. Jika demikian mengapa rasisme antar bangsa masih cukup kental? Hal ini terlihat dari figur Kapten Korea Utara, ayah Afro Amerika yang pembelot dan Jenderal Rusia dengan maksud tertentu yang mulai muncul sejak pertengahan film. 

Latar belakang sutradara Bradley jelas berguna dalam merekonstruksi sekuens aksi seru yang bertebaran di sepanjang film ini. Sayangnya kelemahan narasi masih cukup terasa disana-sini sehingga berbagai faktual menjadi terabaikan. Aksi The Wolverines memang believable tapi kemampuan memperdaya pasukan tentara yang jauh lebih berpengalaman jelas patut dipertanyakan. Belum lagi persiapan minim dengan perbekalan seadanya, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? Penggunaan CGI nya tergolong amatir walau tidak sampai konyol sekali.

Hemsworth secara dominan mampu menegaskan kepemimpinannya, terima kasih pada beberapa judul blockbuster Hollywood yang sudah mengangkat namanya.  Sesungguhnya Peck menerima peran menantang dimana transformasi karakter Matt dari awal hingga akhir begitu kentara dan ia memperlihatkan potensinya. Chemistry keduanya menjadi aspek yang paling menarik dalam film. Duet Hutcherson dan Cruise juga lumayan kompak sebagai pendukung yang mampu mencuri perhatian. Kemunculan Dean Morgan di pertengahan terasa sebagai cameo belaka.

Mungkin Red Dawn sebaiknya tidak perlu diproduksi kembali apalagi sampai dipresentasikan kepada publik. Bukan drama perang inspiratif melainkan propaganda action akan sebuah patriotistik Amerika Serikat yang kental. Sulit rasanya untuk percaya bahwa di masa seperti sekarang ini, hal serupa dapat terjadi di luar sana. Tidak ada salahnya apabila anda berandai-andai menempatkan diri pada posisi mereka untuk benar-benar dapat terikat pada film secara keseluruhan. It’s a pure entertainment holiday season movie but doesn’t come up with something special that will be remembered for long time.

Durasi: 
93 menit 

U.S. Box Office: 

$31,272,953 till Dec 2012 

Overall: 

7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 18 Juli 2012

SILENT HOUSE : Dark Ride One Woman Show

Tagline:
Experience 88 minutes of real fear captured in real time.

Nice-to-know:
Keseluruhan film seakan disyut secara kontinuitas tanpa terputus. Sesungguhnya dilakukan setidaknya 10 menit per segmen sebelum diedit secara halus untuk menyamarkannya.

Cast:
Elizabeth Olsen sebagai Sarah
Adam Trese sebagai John
Eric Sheffer Stevens sebagai Peter
Julia Taylor Ross sebagai Sophia
Adam Barnett sebagai Stalking Man
Haley Murphy sebagai Little Girl

Director:
Dalam menggarap film ketiganya ini, Chris Kentis menggandeng sang istri, Laura Lau yang memulai debutnya.

W For Words:
Sebagian besar dari anda mungkin tidak pernah mendengar film Uruguay yang diinspirasi dari kejadian nyata berjudul La Casa Muda di tahun 2010 karya sutradara Gustavo Hernandez. Jangan khawatir karena Chris Kentis yang terkenal lewat Open Water (2003) memutuskan untuk meremakenya dengan mengandalkan gadis berusia 23 tahun, Elizabeth Olsen yang lebih populer sebagai saudari termuda Olsen twins yaitu Mary Kate dan Ashley. Yet, she already proved that her last role in Martha Marcy May Marlene (2011) was no luck.

Sarah bersama ayahnya John dan pamannya Peter sepakat membereskan rumah peristirahatan keluarga yang rencananya akan dijual dengan tampilan yang lebih menarik. Listrik yang mati membuat mereka harus mengandalkan lampu portable untuk menjelajahi setiap ruangan. Sarah mulai mencurigai adanya penyusup misterius yang berujung pada kondisi dimana ayahnya tidak sadarkan diri di lantai atas. Sayangnya Peter tidak begitu saja percaya tanpa berinisiatif mencari bantuan dari luar rumah yang terisolasi itu sehingga Sarah harus berjuang sendiri mengungkap misteri yang terjadi di tempat itu.

Penghargaan pantas dilayangkan bagi Olsen yang mampu menjaga kualita aktingnya di sepanjang film yang amat dominan. Yes, it’s a one-woman-show! Ekspresi ketakutan sekaligus kebingungan Sarah diimbanginya dengan sisi emosional yang stabil mengikuti pergeseran konflik. Ia tidak mengumbar pekikan histeris yang mengganggu telinga tapi disesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Anda tidak akan bosan menyaksikannya hilir mudik mengatasi klastrofobia mencekam, melainkan penasaran yang berujung pada simpati akan nasib tokoh yang dimainkannya itu. Trese dan Sheffer Stevens memang tak banyak mendapat kesempatan screen time tetapi sudah cukup memenuhi standar yang diinginkan.

Sutradara Kentis dan istrinya Lau secara cerdas memanfaatkan ruang sempit dan pencahayaan terbatas untuk menipu teknis kamera yang seakan berjalan linier dari menit ke menit tanpa terputus. Penggunaan berbagai sudut pandang, mostly from Sarah’s POV, membuat penonton seakan diajak menelusuri setiap sudut rumah tersebut. Kejutan demi kejutan disiapkan sehingga anda dibiarkan terus menerka-nerka gambar keseluruhan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh filmmakers. Momen terbaik jelas saat Sarah berada dalam kegelapan pekat dan hanya mengandalkan kamera Polaroid untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Creepy!

Silent House adalah sebuah film dimana semakin sedikit petunjuk maka semakin mungkin anda menikmatinya. Sebuah presentasi yang dilakukan tanpa mengekspos aksi kekerasan ataupun momok ketakutan yang biasa disuguhkan film horor thriller found-footage. Namun lebih pada kegelapan yang mengerikan sehingga nalar anda dibiarkan bermain liar tanpa batas. Overall, the theme reminds me of our own, Joko Anwar’s Modus Anomali with similar one main character is seeking for an answer. Well, the conclusion itself might be as confusing as Kentis-Lau wanted to end but surely this is type of movie that either you love it or hate it.

Durasi:
86 menit

U.S. Box Office:
$12,555,230 till April 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:






Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 30 Januari 2012

AGNEEPATH : Balas Dendam Seteru Masa Kecil


Tagline:
The path of fire

Nice-to-know:
Merupakan remake berjudul sama di tahun 1990 yang melejitkan nama Amitabh Bachchan.

Cast:
Hrithik Roshan sebagai Vijay
Priyanka Chopra sebagai Kaali
Sanjay Dutt sebagai Kancha
Rishi Kapoor sebagai Rauf Lala
Om Puri sebagai Gaitonde
Zarina Wahab sebagai Ibu Vijay
Katrina Kaif

Director:
Debut penyutradaraan bagi Karan Malhotra.

W For Words:
Remake film yang sudah melegenda tampaknya menjadi tren terbaru industri perfilman Bollywood. Sejauh ini hasil box officenya memang bagus termasuk yang satu ini sudah mengumpulkan total 67.5 crore di minggu pertama perilisannya. Namun jika ukurannya adalah kualitas maka semua penilaian akan dikembalikan kepada penonton, apakah versi asli atau remake yang lebih baik menurut mereka terlepas dari seberapa banyak kesamaan di antaranya.

Masih setia dengan originalnya yang rilis 22 tahun lalu, film ini berkisah mengenai terbunuhnya seorang guru yang disegani Dinanath Chauhan karena fitnah dari penjahat sadis Kancha di desa Mandwa disaksikan putranya Vijay. 15 tahun kemudian, Vijay yang telah tumbuh dewasa pindah ke Mumbai bersama ibunya yang tengah mengandung. Mudah ditebak, aroma balas dendam segera tercium dimana Vijay sepakat bekerjasama dengan musuh Kancha yaitu Rauf Lala.
Hrithik Roshan sekali lagi menunjukkan kelasnya. Penjiwaan ikon legendaris Vijay (dulu diperankan Amitabh Bachchan) dilakukannya dengan elegan sekaligus tangguh. Berseberangan dengannya, Sanjay Dutt yang sudah mulai berumur juga mampu memancing kebencian khalayak terhadap tokoh Kancha yang kejam. Di luar keduanya, Rishi Kapoor, Priyanka Chopra dan Zarina Wahab juga bermain baik walaupun karakter-karakternya sedikit kurang pengembangan.

Sutradara debutan Karan Malhotra memiliki semua elemen yang layak dijual disini mulai dari aksi seru, balas dendam, drama, percintaan yang teramat menghibur. Sebuah paket lengkap yang diceritakan dengan memikat. Tanpa lupa sentuhan baru juga diberikan pada masing-masing karakternya, Suguhan musik dari Ajay-Atul tidak buruk di sepanjang film tapi rasanya sulit menunjuk salah satu tembang untuk bisa menjadi hit dalam tangga lagu, mungkin Chikni Chameli dari Katrina Kaif?
Kekuatan Agneepath versi remake ini memang terletak dari eksplorasi Karan Malhotra yang dinamis di berbagai departemen. Scene yang mempertemukan Vijay dan Kancha diyakini akan selalu menarik perhatian audiens. Sebuah drama balas dendam yang setia dengan pakem tradisional dengan sedikit bergaya melodramatic berlebihan. Terlepas dari sumbangsih brilian para castnya, saya tetap merasa durasi 3 jam terlalu melelahkan dimana terjadi perpanjangan plot disana-sini. It’s quite good but not memorable enough to carry on in the next days!

Durasi:
174 menit

Asian Box Office:
Rs 67.5 crore in opening week in India

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 10 Januari 2012

DON’T BE AFRAID OF THE DARK : Misteri Penghuni Ruang Bawah Tanah

Tagline:
Fear is never just make believe.


Storyline:
Gadis kecil Sally dikirim oleh ibunya kepada ayahnya Alex yang kini tinggal bersama kekasih barunya yang juga seorang arsitek muda, Kim. Rumah megah bergaya klasik tersebut awalnya dimiliki seorang pelukis yang secara misterius menghilang begitu saja. Kini Kim yang turut mendesain dan mendekor ulang berusaha mendekatkan diri pada Sally yang lebih tertarik bermain di ruang bawah tanah rumah.Ia tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada sesuatu yang mengintai.

Nice-to-know:
Guillermo del Toro sempat muncul sebagai cameo di film ini yaitu penumpang di belakang Sally di dalam pesawat.

Cast:
Katie Holmes sebagai Kim
Guy Pearce sebagai Alex
Bailee Madison sebagai Sally
Jack Thompson sebagai Harris

Director:
Merupakan debut feature film bagi Troy Nixey yang pernah menangani film pendek berjudul Latchkey's Lament (2007).

Comment:
Saya acungkan jempol bagi anda yang pernah menyaksikan versi originalnya yang digagas oleh Nigel McKeand di tahun 1973. Kali ini Guillermo del Toro dan Matthew Robbins menyempurnakan skripnya untuk sebuah remake fresh tapi tetap bernuansa klasik. Salah satu ciri khas del Toro yang saya cermati adalah tokoh perempuan yang dikedepankan dalam film-filmnya, sebut saja Pan’s Labyrinth (2006) atau The Orphanage (2007), tanpa terkecuali yang satu ini.
Jika anda berpikir bahwa ini adalah film horor biasa sebaiknya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Terlepas dari elemen-elemen klise yang terdapat disini yaitu rumah antik, ruang bawah tanah gelap, rahasia masa lalu yang tersimpan dsb ternyata masih ada beberapa bumbu baru semisal bentuk “makhluk” menakutkan yang sebaiknya tidak perlu anda cari tahu lewat berbagai review film di internet agar tidak mengurangi unsur kejutannya.

Sutradara Nixey cukup terampil menjaga konsistensi sinematografi gelap dengan pencahayaan temaram di dalam rumah meskipun di siang hari. Terima kasih pada pemilihan rumah yang mengesankan karya-karya Rembrandt menciptakan atmosfer yang tepat apalagi dibantu oleh suara-suara misterius yang berdecit/berderak tehadap interior kayu yang dominan disini. Opening dan ending film yang agak terlalu sadis tentunya memberikan start dan finish yang menyenangkan bagi para pecinta genre ini.
Bukan hanya konsentrasi untuk menciptakan momen ketakutan yang dominan di sepanjang film ini, tetapi juga penitikberatan cerita pada persoalan umum yang biasa dialami sebuah keluarga yaitu komunikasi orangtua dan anak ataupun antar pasangan seperti Kim dan Alex kali ini. Horor tanpa drama yang dibangun kuat dapat dianalogikan sebagai sajian masakan lezat tanpa bumbu. Beruntung remake yang satu ini tidak melupakan hal krusial tersebut.

Esensi yang digelorakan Don't Be Afraid of the Dark bagi saya lebih ke arah menggemaskan daripada mengerikan, walau belum seekstrim The Orphan (2009). Holmes, Madison dan Pearce menyuguhkan akting yang cukup memikat sehingga karakterisasi masing-masing tercipta dengan kuat. Ending yang lumayan gelap menutup film dengan perasaan pilu sekaligus menegaskan bahwa dunia kegelapan bisa jadi berisikan makhluk-makhluk yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya. Imajinasi del Toro membantu mewujudkan semua itu. Please stay under the (spot)light, Mr. Guillermo!

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$24,042,490 till Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 03 Oktober 2011

THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE : Cinta Siluman Ular Seteru Rahib Suci

Quotes:
Xu Xian: Someone once told me if i want to see someone, I should keep her in my heart, then I will really see her again.


Storyline:
Bai Xu Zhen dan Qingqing adalah dua siluman ular putih dan hijau yang telah bersemedi selama ribuan tahun demi mencapai kesempurnaan. Pada suatu hari, Bai Xu Zhen melihat Xu Xian dari kejauhan. Rasa penasarannya timbul dan ia mengubah wujudnya menjadi manusia untuk menyelamatkan pria yang ahli meracik obat tersebut dari tenggelam. Keduanya jatuh cinta dan saling mengikrarkan diri dalam pernikahan. Rahib Fa Hai yang bertugas membersihkan siluman jahat dari muka bumi menentang cinta keduanya bahwa siluman dan manusia tidak akan pernah bisa bersatu. Bagaimana akhir kisah mereka?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh China Juli Entertainment Media dan dirilis di Hongkong pada tanggal 29 September 2011 yang lalu.

Cast:
Baru saja terlihat bermain dalam produksi Hollywood yakni The Expendables (2010), Jet Li sebagai Rahib Fa Hai
Eva Huang sebagai Bai Xu Zhen
Raymond Lam sebagai Xu Xian
Charlene Choi sebagai Qingqing
Vivian Hsu sebagai Goblin
Zhang Wen sebagai Human Devil
Miriam Yeung
Sonija Kwok

Director:
An Empress and the Warriors (2008) merupakan garapan terakhir Tony Ching Siu Tung sebelum meremake film klasik ini.

Comment:
Tidak perlu menutupi fakta bahwa saya dan keluarga serta sebagian masyarakat Indonesia pada medio 1990an pernah memfavoritkan serial televisi di SCTV yang berjudul White Snake Legend. Waktu itu persahabatan ular putih-hijau, pernikahan ular putih-tabib dan perseteruan siluman ular-rahib suci sangat membius penonton sehingga tidak peduli jika plotnya sendiri terlampau bertele-tele tetaplah ditunggu-tunggu dan menjadi memorable hingga saat ini.

Trio Zhang Tan, Tsang Kan-cheong, Szeto Cheuk-hon tidak banyak mengubah ide yang ada dalam skrip gubahannya kali ini. Garis besarnya masih sama dengan penegasan hubungan cinta dan perseteruan baik melawan jahat itu sendiri. Berbagai detail yang diperkirakan menyita durasi dihilangkan, terbukti cukup efektif meski berbagai latar belakang terasa kurang penjelasan. Contoh paling konkrit adalah alasan Xu Xian dan Bai Xu Chen jatuh cinta yang terlalu instan.
Kinerja sutradara Tony Ching harus diakui sangat terbantu oleh CGI. Setting lokasi benar-benar terlihat hasil komputerisasi, sebagian bahkan terlihat seperti screensaver. Belum lagi perwujudan para siluman mulai dari kelelawar, rubah, ular, tikus dsb. Sepertinya sah-sah saja demi menyuguhkan gambaran terdekat sesuai intruksi produser. Imbasnya film kehilangan sentuhan realistiknya, bukan hanya sebagian tetapi sebagian besar.

Setidaknya Raymond Lam benar-benar pria sejati, bukan “jadi-jadian” seperti Cecilia Yip dahulu. Chemistrynya dengan Huang Shenyi cukup efektif membangun romantisme yang dibalut oleh kebahagiaan dan kesedihan. Penampilan Jet Li sebagai Rahib Fa Hai cukup dipertanyakan motivasinya. Apapun itu ia sudah mengotori seni koreografi kungfunya sendiri dengan bantuan efek spesial. Beberapa scene emosional yang diharapkan darinya juga cenderung datar saja.
The Sorcerer and the White Snake jelas tidak akan menjadi favorit penonton yang tidak terlalu mementingkan faktor CGI itu sendiri. Walau demikian bagi saya, elemen fantasi yang dibumbui oleh cinta dan aksi lumayan sukses bersinergi satu sama lain, terima kasih pada scoring musik dan soundtrack yang mengalir dengan baik. Pemirsa klasik akan mengobati rasa rindunya kali ini sedangkan penonton baru berkesempatan menyaksikan kisah cinta terlarang klasik Tiongkok antara manusia dan siluman dimana kesanggupan berkorban dan sikap tulus memang tiada bandingannya.

Durasi:
96 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 15 Juni 2011

NIGHT OF THE DEMONS : Mimpi Buruk Malam Halloween

Tagline:
All Hell Is Going To Break Loose

Storyline:
Malam Halloween menjadi ajang pesta bagi sekawanan remaja di sebuah kastil tak berpenunggu. Tidak ada yang tahu bahwa pernah terjadi tragedi menakutkan di tempat yang sama beberapa decade lalu. Setelah polisi membubarkan mereka dalam hitungan menit, tinggal Maddie, Collin, Jason dkk yang tersisa disana. Berusaha keluar di tengah malam mencekam, ketiganya malah berhadapan dengan iblis-iblis yang terbangun dan merasuki teman-teman mereka satu persatu. Satu-satunya tempat teraman adalah bilik berdinding mantra yang menjauhkan iblis-iblis tersebut. Berhasilkah mereka melewati malam dengan selamat atau malah bergabung ke neraka?

Nice-to-know:
Jangan lupakan scene menarik yang nyeleneh setelah credit title berakhir.

Cast:
Mulai dikenal setelah mendukung While You Were Sleeping (1995), Monica Keena bermain sebagai Maddie
Mengawali debut akting dalam Terminator 2: Judgment Day (1991) yang laris manis itu, Edward Furlong berperan sebagai Colin
Shannon Elizabeth sebagai Angela
Bobbi Sue Luther sebagai Suzanne
John F. Beach sebagai Jason

Director:
Merupakan film kedua bagi Adam Gierasch setelah Autopsy (2008).

Comment:
Mungkin anda pernah mendengar versi originalnya di tahun 1988 yakni sebuah horor kelas B yang sukses menarik perhatian hingga mendapat rating yang cukup bagus. Pada masa itu genre ini memang menjadi tambang emas para produser untuk mengeruk keuntungan. Namun rentang waktu lebih dari 2 dekade bagi Michael Arata dan Jerry Daigle untuk membuat remakenya bisa jadi sebuah keputusan yang terlalu berani karena genre ini tidaklah sepopuler dahulu.
Plotnya mengalir begitu saja tanpa perlu banyak berpikir yakni mengumpulkan + 10 muda-mudi untuk berkumpul di sebuah kastil kuno megah pada malam Halloween. Selanjutnya mudah ditebak, terjadilah pesta miras dan seks di antara mereka sebelum iblis-iblis merasuki dan merajai malam panjang yang tidak berkesudahan. Prolog film sempat membahas juga asal muasal kejadian memilukan di kastil terkutuk itu, entah berusaha memperkuat cerita atau ada tujuan lain.
Sayangnya cara Jace Anderson dan Adam Gierasch menyajikan skrip terasa lemah dimana banyak sekali dialog-dialog klise ala remaja wanita. Gierasch juga memperparah dengan konsep penyutradaraan MTV style yang hingar bingar dan perpindahan kamera yang terlampau cepat di setiap scenenya tanpa berusaha memaksimalkan angle tata ruang. Padahal spesial efek alias make up sang demons sudah cukup meyakinkan di sepanjang durasinya.
Jika anda mencermati nama-nama yang mengisi cast mungkin terkejut melihat nama Elizabeth, Furlong ataupun Keena disini. Bukan peran-peran spesial yang mereka mainkan walaupun upaya terbaiknya telah terlihat. Bisa jadi mereka hanya sekadar mengisi kekosongan filmografi sampai pada akhirnya seiring waktu melupakan keterlibatan masing-masing di film ini.
Selayaknya horor kelas B, film ini juga menghadirkan boobs, blood and gore. Sayang tidak semuanya bekerja dengan maksimal terlebih sex scenes nya yang menggelikan ataupun tingkat kesadisan yang menjemukan. Satu-satunya yang memorable adalah lipstick scene yang aneh tapi nyata itu. Tanpa berusaha membangun mood ataupun menyisakan kejutan bermakna, Night Of The Demons hanya menambah deretan remake gagal saja.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: