XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label kareena kapoor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kareena kapoor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2015

BAJRANGI BHAIJAAN : Crossing Borders With A Heart

Quote:
Pawan: I don’t have a passport or a visa. But i promise, i’ll take Munni home myself. 

Nice-to-know:
Merupakan film keempat Salman khan dengan Kareena Kapoor.

Cast:
Salman Khan sebagai Pawan Kumar Chaturvedi / Bajrangi Bhaijan
Kareena Kapoor sebagai Rasika
Harshaali Malhotra sebagai Shahida / Munni
Nawazuddin Siddiqui sebagai Chand Nawab
Sharat Saxena sebagai Dayanand             
Najeem Khan

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Kabir Khan setelah Ek Tha Tiger (2012).

W For Words:
Sama seperti Indonesia, Bollywood memiliki tradisi merilis film-film unggulan untuk menyambut Idul Fitri yang biasanya dibintangi oleh aktor besar. Kali ini giliran Salman Khan yang sudah berusia setengah abad untuk unjuk gigi paska pemenjaraan dirinya yang tertunda akibat kasus pembunuhan seorang pria tuna wisma. Well, we won’t talk further about that except his latest movie produced by Eros International, Kabir Khan Films, Rockline Entertainment and Salman Khan Films which collected 100 crore in just four days release. Amazing!












Seorang gadis cilik tuna wicara Pakistan berusia 6 tahun, Shahida tanpa sengaja terpisah dari keluarganya dan terdampar di India. Adalah mantan pegulat, Pawan yang tinggal di rumah kerabat ayahnya Dayanand, menemukannya dan kemudian menamakannya Munni. Pawan yang berniat menikahi Rasika menyanggupi tantangan untuk memulangkan Munni ke rumah asalnya walaupun harus melintasi perbatasan tanpa visa dan paspor. Pawan malah dituduh sebagai mata-mata dan jadi buronan. Wartawan lokal Chand membantunya dan menyebarkan kisahnya kepada publik.

Skrip yang digagas Prasad bersama Khan, Shaikh dan Hussain ini mesti diakui memang memiliki setup-setup kemanusiaan yang potensial mengetuk hati penontonnya. Modal yang kemudian didukung juga oleh directing skills mumpuni dari Khan yang begitu cekatan menangani setting sederhana hingga kompleks dengan grande. Karakter demi karakter diperkenalkan secara detail di paruh pertama sebelum pembahasan konflik antar negara yang mulai mencuat di paruh kedua. Toh film ini tidak berbicara politik bilateral melainkan perpaduan drama dan komedi dalam takaran yang pas tanpa harus terkesan preachy.
















Tidak seperti biasanya yang lebih mengandalkan otot, Salman di sini sukses menampilkan sisi rapuh selain kepolosan dan keteguhan hati seorang Bhaijaan. Si kecil Harshaali juga berhasil mencuri perhatian anda lewat sorot mata, ekspresi dan gesture yang sudah berbicara dengan sendirinya. Penampilan menawan Nawazuddin yang baru muncul setelah intermission mampu menghadirkan tawa lewat polah tingkah nya yang canggung tapi berhati baik. Sedangkan si cantik Kareena rasanya lebih berfungsi sebagai cameo dengan jumlah scene yang masih terbilang memadai.

Bajrangi Bhaijaan patut mendapat applause karena mengusung elemen patriotisme, cinta, kekeluargaan dan persaudaraan yang begitu emosional di atas segala batas yang ada. Terima kasih pada kontribusi musik Julius Packiam dan hits Pritam yang mendukung storytelling. Sekuens opening dan ending di pegunungan Kashmir bukan hanya indah tapi juga membuka dan menutup film secara brilian. Tak ayal, sajian blockbuster yang satu ini akan memenangkan hati banyak orang yang tak akan sungkan menitikkan air matanya. A hero with a heart? Definitely Salman’s best role to date!

Durasi:
154 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 08 Desember 2012

TALAASH : Unconventional Gripping Thriller In Slow Pace


Tagline:
The Answer Lies Within

Nice-to-know: 

Aamir Khan sempat menjalani latihan renang selama tiga bulan untuk beberapa adegan spesifik untuk film ini.

Cast: 
Aamir Khan sebagai Surjan Singh Sekhawat
Kareena Kapoor sebagai Rosy
Rani Mukerji sebagai Shreya Bondre
Nawazuddin Siddiqui sebagai Tehmur
Raj Kumar Yadav sebagai Devrath Kulkarni


Director: 
Merupakan film kedua bagi Reema Kagti setelah Honeymoon Travels Pvt. Ltd. (2007).

W For Words: 
Sedianya sebuah thriller yang baik sudah mempersiapkan “kejutan manis” di akhir cerita. Apakah hal serupa berlaku untuk Bollywood? Tentu saja. Di tahun 2012 ini, Kahaani telah membuktikannya, setidaknya menurut anggapan sebagian besar orang yang telah menyaksikannya. Produksi terbaru Aamir Khan Productions dan Excel Entertainment dengan genre sejenis ini jelas menjual nama Aamir Khan yang bertindak sebagai produser dan aktor utamanya. Tambahan lagi dua aktris papan atas Kareena Kapoor dan Rani Mukerji. Who dare to miss this?

Aktor Armaan Kapoor tewas dalam kecelakaan misterius. Inspektur Surjan Singh Sekhawat ditugaskan untuk menyelidiki kasus itu bersama rekannya Devrath Kulkarni. Padahal Surjan baru saja pindah ke Mumbai bersama istrinya Shreya Bondre demi melupakan kematian putra mereka satu-satunya, Karan yang tenggelam di lautan. Tetangga baru mereka, Franny yang juga cenayang berupaya melepaskan kesedihan melalui komunikasi tulisan dengan Karan. Surjan yang tidak percaya memilih pergi dan bertemu dengan pelacur Rosy yang dapat memberi titik terang pada kasus yang dikerjakannya. 

Kolaborasi Reema Kagti dan Zoya Akhtar dalam skrip ini mengambil waktu sebanyak yang dibutuhkan untuk memperkenalkan karakternya. Perlahan penonton diajak menyelami visi dan misi masing-masing sambil merajut benang merah cerita menjadi satu konklusi utuh. Plot yang terkesan simpel lantas menjelma menjadi teka-teki rumit dengan berbagai kemungkinan di setiap tikungannya. Dialog buah pikiran Farhan Akhtar juga terbilang jitu dalam menerjemahkan multi konflik yang ada sehingga anda akan merasa dekat dengan semua tokoh dalam film ini.

Kagti yang juga menjabat sebagai sutradara sukses menjaga misteri dan ketegangan hingga akhir melalui narasi lambat penuh suspensi. Nuansa Kamathipura yang suram dan klastrofobik serta Mumbai yang gelap dan misterius dihadirkan sebagai panggung bercerita yang sempurna untuk membangun mood. Sinematografi dari KU Mohanan terkesan surealis dengan warna pucat yang mengaburkan batas mimpi dan kenyataan. Berpadu padan dengan musik campuran klasik, jazz dan elektronika dari Ram Sampath plus lirik memikat milik Javed Akhtar. 

Aamir terampil menerjemahkan kedalaman emosi suami yang didera rasa bersalah sekaligus kesigapan inspektur polisi yang penuh wibawa. Keinginannya untuk move on kerap bertentangan dengan kata hatinya sendiri. Rani cekatan menjiwai sosok istri yang depresi dan ibu yang putus asa menghadapi masalah bertubi-tubi. Kareena sendiri mampu mencuri perhatian di tiap kemunculannya melalui sosok pelacur cantik glamor berbusana seksi nan seronok. Pendatang baru Siddiqui menegaskan talentanya sebagai si pincang Tehmur yang menyimpan berbagai rahasia.

Talaash jelas membutuhkan kesabaran tinggi dan konsentrasi penuh untuk mengikutinya dari menit ke menit agar tidak ketinggalan petunjuknya. Percayalah usaha anda selama lebih dari dua jam itu sebanding dengan endingnya yang memukau. Memang tidak sulit ditebak bagi penggemar thriller sejati tapi upaya filmmaker untuk keluar dari pakem standar patut diapresiasi apalagi sampai mengalihkan perhatian penonton berkali-kali tanpa kehilangan kemudi. Thumbs up for the great performances and two thumbs more for the script itself because writing and making thrillers is never easy.

Durasi: 
139 menit 

U.S. Box Office: 

$1,638,706 in opening week early Dec 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 23 September 2012

HEROINE : Desperate Survival In Movie Industry


Quotes:
Pallavi: Either you manipulate, or you get manipulated. The choice is yours, babes.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Bhandarkar Entertainment dan UTV Motion Pictures ini rilis di India pada tanggal 21 September 2012.

Cast:
Kareena Kapoor sebagai Mahi Arora
Randeep Hooda sebagai Angad
Arjun Rampal sebagai Aryan Khanna
Shahana Goswami sebagai Promita
Lillete Dubey sebagai Ibu Mahi Arora
Divya Dutta sebagai Pallavi
Ranvir Shorey

Director:
Merupakan
film kesebelas bagi Madhur Bhandarkar setelah Dil Toh Baccha Hai Ji (2011).

W For Words:
Begitu menarikkah kehidupan seorang pelakon wanita di luar layar? Tentu saja! Terlebih perjalanan karir aktris yang biasanya dianggap lebih singkat daripada aktor dalam industri perfilman manapun tanpa terkecuali Bollywood yang sangat produktif mengeluarkan sekitar 500 judul film dalam setahunnya. Sutradara pemenang National Award, Madhur Bhandarkar mengangkat tema tersebut lewat skrip yang juga ditulisnya bersama Niranjan Iyengar. Aktris cantik yang dikenal dengan julukan Bebo yaitu Kareena Kapoor menjadi tokoh sentral sekaligus nyawa film.

Mahi Arora adalah seorang aktris besar yang tengah berada di puncak kejayaan. Kandasnya hubungan dengan Aryan di ambang pernikahan mereka dalam sekejap menghempaskan Mahi ke titik nadir. Peran Pallavi sebagai PR handal untuk setiap langkah yang diambilnya perlahan mengembalikan Mahi ke jalur yang semestinya. Kedekatan dengan kapten tim cricket India, Angad semakin menyempurnakannya. Namun ternyata peran besar untuk membuatnya bertahan di industri perfilman bukan hal yang mudah untuk digapai.

Aktris yang bermain sebagai “aktris” jelas bukan perkara mudah. Kali ini Kareena Kapoor melakukannya dengan cemerlang. Emosi naik turun seiring pergeseran konflik terpampang jelas seperti optimis, depresi, bahagia, sedih dsb di dalam sosok Mahi Arora yang penuh percaya diri. Fleksibilitas akting Randeep Hooda sebagai Angad tampak lebih baik dari Arjun Rampal yang bermain tipikal sebagai Aryan. Kredit tersendiri pantas disematkan bagi Divya Dutta yang cerdas ambisius sebagai public relation Pallavi dan juga Shahana Goswami sebagai aktris lesbian Promita. 

Agaknya Madhur Bhandarkar mengerti betul seluk beluk perfilman Bollywood. Banyak karakter stereotype disini mulai dari sutradara idealis, aktor perfeksionis, aktris oportunis dan sederet pelaku industri dengan segala sikap saling memanfaatkannya. Tak lupa bumbu rokok, alcohol dan seks juga menyertai. Babak demi babak yang repetitif itu pada akhirnya ditutup dengan ending tak inspiratif. Sinematografi Mahesh Limaye mampu menghadirkan nuansa glamor yang diharapkan. Musik dari Salim-Sulaiman dengan nomor-nomor Halkat Jawani, Saiyaan dan Heroine cukup earcatchy.

Dua setengah jam anda akan “dipaksa” untuk bisa bersimpati pada Kareena Kapoor karena frekuensi patah hati dan politik kotor yang cukup melelahkan. Kontradiktif dengan sifat pemarah dan oportunisnya yang lumayan menyebalkan. Argumentasi yang dilakukan bersama sang ibu sayangnya terlalu singkat dimana latar belakang seorang Mahi harusnya bisa lebih dieksplorasi untuk pemahaman karakter. Beruntung permainan dialog-dialog bernas nan menggigit masih mampu menjaga intensitas penonton untuk bertahan di kursi masing-masing.

Layaknya film India pada umumnya, Heroine mengalami penurunan kualitas paska interval. Kedangkalan skrip pendek yang didramatisir sedemikian rupa itu menjadi penyebab utamanya. Pengembangan plot nyaris tanpa inovasi baru sehingga sangat predictable. Setidaknya akting mumpuni dan seksi Kareena Kapoor dalam balutan baju indah dan make-up cantik menyelamatkan film dari kebosanan. Wajib tonton bagi anda yang tertarik dengan “rahasia kehidupan” para pelaku industri yang selama ini telah menawarkan begitu banyak alternatif hiburan.

Durasi:
150 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 28 Oktober 2011

RA ONE : Aktualisasi Hitam Putih Dunia Game

Quotes:
Shekhar: Bullets don't win you a battle, your heart does...


Storyline:
Shekhar dan Sonia adalah pasutri berbahagia yang memiliki satu putra cerdas bernama Prateek. Shekhar sendiri yang bekerja di perusahaan video game tengah mengembangkan proyek terbarunya yang diinspirasi dari permintaan Prateek yaitu penjahat yang lebih hebat daripada jagoannya. Terciptalah tokoh jahat Ra.One alias Raavan dan tokoh baik G.One alias Good One dimana optimisme kesuksesan membubung tinggi. Sayangnya terjadi kesalahan teknis hingga Ra.One dapat diproyeksikan ke dunia nyata dan memburu Prateek yang menggunakan nama Lucifer. Kini tugas Shekhar dan juga G.One untuk menghancurkan Hart milik Ra.One sebelum semuanya terlambat.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Red Chillies Entertainment dan Bollywood Hollywood Production dimana tanggal rilis di negara asalnya, India adalah 26 Oktober 2011.

Cast:
Aktor ini memulai karirnya lewat serial televisi Fauji di tahun 1988, Shah Rukh Khan sebagai Shekhar / G.One
Kareena Kapoor sebagai Sonia Subramanium
Arjun Rampal sebagai PiBi 2 / RA. One
Aman Verma sebagai Prateek Subramaniam
Shahana Goswami sebagai Jenny Nayar
Satish Shah sebagai Iyer

Director:
Merupakan film keenam bagi Anubhav Sinha yang mengawali penyutradaraannya lewat Tum Bin...: Love Will Find a Way (2001).

Comment:
Shah Rukh Khan dan Gauri Khan selaku produser tampaknya serius menggarap sains fiksi superhero movie termegah yang pernah ada dalam industri perfilman India. Tidak peduli besar dana yang dikucurkan yang konon termahal sepanjang sejarah, film ini juga dikonversi ke dalam format 3D sehingga menyebabkan penundaan tanggal rilis yang seharusnya di musim panas 2011. Belum lagi penggunaan dua versi bahasa yaitu Tamil dan Telugu agar menjangkau keseluruhan pasar India.
Penulis cerita Anubhav Sinha dan David Benullo dibantu dengan Kanika Dhillon, Niranjan Iyengar, Shah Rukh Khan, Mushtaq Sheikh menggarap skenarionya bersama-sama. Jujur saja ide mereka tidaklah orisinil karena bermuatan banyak referensi film Hollywood sukses. Namun yang terpenting adalah bagaimana menggabungkan keseluruhan elemen yang sudah ada menjadi bercitarasa India dan hal ini dilakukan dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Shah Rukh Khan adalah megastar Bollywood dan ia tidak perlu melakukan terlalu banyak untuk mempertahankan justifikasi tersebut. Dari segi akting, saya merasakan ada sedikit kesamaan antara karakter G.One yang dapat dikatakan robot dengan karakter Rizvan yang terbelakang dalam My Name Is Khan (2010) terutama dalam interaksinya dengan manusia normal. Meski demikian kemampuannya menggoyangkan tubuh dan pinggul pada khususnya masih menjadi hiburan tersendiri.
Verma berakting cukup maksimal dalam kapasitasnya sebagai aktor cilik menghadapi ayah ibunya yang overprotektif. Menarik melihat Tom Wu dan Arjun Rampal memerankan Ra.One secara bergantian dalam dua bagian yang berbeda dengan interpretasi yang berbeda-beda. Sedangkan intermission (tipikal) diisi dengan romansa komedik antara G.One dengan Sonia. Pada bagian ini Kapoor menuntaskan tugasnya dengan baik lewat paras cantik dan tubuh aduhainya yang tetap memikat.
Sutradara Anubhav menyaksikan sekuens aksinya dengan setengah komikal sehingga tidak akan sampai menegangkan untuk disimak. Contoh paling konkret saat berjalan di antara gerbong kereta api melawan gaya gravitasi, semacam parodi dari Hancock (2008). Bombardir spesial efek disana-sini memang memanjakan mata dan mengundang naluri anda untuk berdecak kagum, terlebih kubus-kubus kecil merah biru yang menjadi sel dasar G.One ataupun Ra.One saat terluka. Namun tak jarang spesial efek lumayan “menyakiti” telinga dengan suara elektronik yang terlampau bising.

Satu hal yang cukup inovatif adalah inisiatif Shah Rukh Khan menggandeng penyanyi R&B ternama Akon untuk bernyanyi dan mengerjakan lagu-lagunya. Hasilnya Chammak Challo sangatlah asyik untuk bergoyang ditambah dengan koreografi colorful yang heboh seperti biasanya. Daur ulang Dildaara alias Stand By Me juga berhasil memberikan nuansa yang berbeda pada bagian intermission. Sederetan tembang lain terbukti sukses membangunkan mood penonton yang terkadang lelah mengikuti serangkaian plot cerita predictable yang diperpanjang disana-sini.
Ra.One sebagai sebuah hiburan “ONE time watch” memang harus diakui berdaya jual tinggi dan menyenangkan untuk disimak. Namun dari segi kualitas, nyaris tidak ada yang bisa dibanggakan apalagi jika mengingat penonton awam sekalipun mampu menyebutkan setidaknya 10 judul film yang menjadi sumber comot gagasan ini. Beban berat yang dibawa Shah Rukh Khan sebagai “that ONE man” tidak dapat disembunyikan lagi, mengangkatnya dari luar tetapi menjatuhkannya dari dalam. Selayaknya Ra.One (negatif) yang lebih dominan daripada G.One (positif) disini.

Durasi:
145 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 13 September 2011

BODYGUARD : Pengawal Putri Konglomerat Terancam


Storyline:
Konglomerat dari Jaisinghpur, Sartaj Rana memancing kemarahan dari Mhatre bersaudara yaitu Ranjan dan Vikrant karena persaingan bisnis. Ia mengutus Lovely Singh untuk mengawasi sekaligus melindungi putri kesayangannya yang masih seorang mahasiswi, Divya dan temannya Maya. Awalnya Divya merasa terganggu dan berniat mengganggu Lovely dengan menciptakan karakter fiktif bernama Chhaya untuk jatuh cinta padanya. Dengan intensitas telepon yang tinggi, Lovely akhirnya terperdaya walaupun pada akhirnya Divya harus mengakui perasaannya sendiri. Bagaimana akhir dari dendam dan kisah cinta tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Reel Life Production yang bekerjasama dengan Reliance Entertainment.

Cast:
Menutup tahun 2010 dengan penampilan gemilang dalam Dabangg, Salman Khan kembali sebagai Lovely B. Singh
Kareena Kapoor sebagai Divya S. Rana
Raj Babbar sebagai Sartaj Rana
Asrani sebagai Shekhar
Vidya Sinha sebagai Mrs. Rana (as Vidhya Sinha)
Rose Dawn sebagai Maya (as Hazel Keech)
Chetan Hansraj sebagai Mhatre

Director:
Merupakan film ketiga bertitel sama bagi Siddique dalam 2 tahun terakhir setelah sebelumnya Bodyguard (2010) dan The Bodyguard (2011).

Comment:
Setiap negara rasanya memiliki versi film “pengawal pribadi” nya masing-masing walau gemanya tidak akan mampu mengalahkan The Bodyguard (1992) yang melejitkan nama Kevin Costner dan Whitney Houston dengan lagu-lagunya yang timeless hingga kini. Bagaimana dengan Siddique yang terlihat ambisius dengan trilogy Bodyguard nya yang tidak berhubungan satu sama lain ini? Kebetulan saya hanya menyaksikan installment terakhir ini dan tidak terlalu berniat menonton yang dua lainnya.
Salman dan Kareena harus diakui memiliki daya tarik fisik yang tinggi. Pemasangan keduanya menghasilkan chemistry yang pas apalagi saat menari bersama diiringi lagu. Ya, saya tidak becanda jika film ini masih sedikit menganut “paham” lama. Sayangnya tidak ada penjelasan apakah adegan “duet” ini terjadi dalam khayalan atau kenyataan? Jika kenyataan, bukankah hubungan mereka hanya terjalin dalam khayalan? Pertanyaannya adalah khayalan siapa? Divya atau Lovely? Tarik nafas sejenak untuk memikirkannya. Jika masih bingung, lanjut saja.
Penulis Siddique tampaknya masih menggunakan format lama, tokoh baik melawan tokoh jahat di atas fakta-fakta yang sedikit samar. Semuanya menjadi tak terlalu penting bagi nalar anda karena skrip hanya didesain untuk menghibur secara dangkal. Beruntung adegan laganya memuaskan, terima kasih pada stop-motion scenes ala The Matrix yang seakan menjadikan tokoh Lovely bagaikan seorang superhero yang lebih cepat dan lebih tangguh daripada manusia pada umumnya. Berlebihan tetapi bisa diterima!
Bodyguard tidak memiliki masalah samasekali sebagai sebuah tontonan yang masih sangat setia dengan pakem Bollywood ini walaupun amat kentara mengadopsi gaya Hollywood dari berbagai sisi. Adegan aksinya cukup banyak, humor slapsticknya mudah memaksakan tawa, romansanya juga bikin geregetan terlepas dari kesan yang dibuat-buat. Kesemuanya dibalut dengan scoring music yang memikat hasil karya trio Pritam, Himesh dan Sandeep.
Namun ada dua permasalahan utama yang mempengaruhi skor akhirnya. Pertama adalah kualitas akting dari jajaran castnya termasuk si mega bintang Salman Khan, bahkan jika anda termasuk pemujanya sekalipun. Kedua yaitu endingnya yang seakan turun dari langit ketujuh. Twistnya terjadi begitu saja menjawab segala pertanyaan yang tertinggal selama lompatan rentang waktu tertentu. Jika tujuannya untuk memuaskan penonton, hal ini tidak cerdas, sangat tidak cerdas! Menurut saya, akan lebih bijaksana apabila Siddique tidak memaksakan “kehendak” dan memberikan beberapa alternatif ending.

Durasi:
150 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 27 Februari 2010

3 IDIOTS : Perjalanan Mewujudkan Cita-Cita Di Atas Persahabatan

Quotes:
Rancho-Pursue excellence, and success will follow, pants down.

Storyline:
Dua sahabat bodoh, Farhan dan Raju sedang dalam perjalanan mencari teman mereka yang menghilang, Rancho. Ingatan pun melayang pada masa-masa bersekolah di kampus terbaik negeri yang dikepalai oleh rektor Viru. Pembelajaran yang disiplin, peraturan yang ketat serta tuntutan mendapat nilai tinggi tidak jarang membuat siswa-siswi bekerja keras hingga frustrasi. Kehadiran Rancho sedikit mengubah itu semua dengan ide-ide konyol sekaligus briliannya. Belum lagi putri rektor yang cantik, Pia menambah dinamika perkawanan Rancho, Farhan dan Raju. Apapun perjalanan hidup mereka, ada beberapa hal yang tidak akan terpisahkan dan terlupakan..

Nice to know:
Sedikit banyak karakter-karakternya diinspirasi dari novel berjudul Five Point Someone yang dihasilkan oleh Chetan Bhagat.

Cast:
Dua bintang papan atas Bollywood, Aamir Khan dan Kareena Kapoor dipasangkan sebagai Rancho dan Pia.
Sharman Joshi sebagai Raju
Madhavan sebagai Farhan
Boman Irani sebagai Viru Sahastrabudhhe
Omi Vaidya sebagai Chatur Ramalingam

Director:
Ini adalah film ketiga bagi Rajkumar Hirani setelah terakhir Lage Raho Munna Bhai (2006) dimana ia juga bertindak sebagai penulis skenario, editor dan sutradara.

Comment:
Sinematografi yang disuguhkan benar-benar mengguncang secara visualisasi termasuk area Shimla dan Ladakh yang memanjakan mata. Koreografi dan lagu-lagunya enak didengar dan sangat pas seiring bergulirnya narasi cerita. Temanya sebetulnya simpel mengenai sistem pendidikan yang perfeksionis yang menuntut murid memaksimalkan potensinya walau harus mengorbankan impiannya masing-masing. Namun karakterisasi dan castnya lah yang membuat film ini berbeda dimana semuanya tampil lepas dan maksimal. Dianggap sebagai salah satu performa terbaik Aamir Khan sebagai Rancho yang pandai dan ekstrim meski usianya tidak bisa dibilang anak dua puluh tahunan lagi. Kareena juga bermain lumayan apalagi dengan kecantikannya sebagai putri rektor yang idealis. Boman cukup kharismatik sebagai rektor otoriter yang melakukan segala cara demi nama baik pribadi dan institusinya. Sharman dan Madhavan juga kompak dalam memerankan siswa tertindas yang tidak terlalu pintar. Semua itu dimix dengan luar biasa oleh sang editor sekaligus sutradara Hirani yang terampil memainkan momen-momen emosional di beberapa bagian. Humor-humor yang ditampilkan agak bergaya komikal tajam sinis sekaligus menyegarkan. Tidak dipungkiri, 3 Idiots dianggap publik sebagai film India terbaik tahun 2009! Luangkan waktu anda untuk menyaksikannya di jaringan bioskop Blitz Megaplex untuk tertawa sekaligus menangis selayaknya menaiki rollercoaster.

Durasi:
170 menit

U.S. Box Office:
$6,523,137 till end of Feb 2010

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!