XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 24 April 2013

IRON MAN 3 : Final Round Technology Bound


Quote:
Tony Stark: Things are different now. I have to protect the one thing that i can’t live without. That’s you.

Nice-to-know:
Jon Favreau batal menyutradarai seri penutup ini karena kebagian proyek Magic Kingdom dan Jersey Boys. Namun demikian ia mengaku lebih leluasa memerankan karakter Happy Hogan di sini.

Cast:
Robert Downey Jr.
sebagai Tony Stark / Iron Man
Gwyneth Paltrow sebagai Pepper Potts
Guy Pearce sebagai Aldrich Killian
Rebecca Hall sebagai Maya Hansen
Ben Kingsley sebagai The Mandarin
Paul Bettany sebagai Jarvis (voice)
Don Cheadle sebagai James Rhodes / War Machine
Jon Favreau sebagai
Happy Hogan

Director:
Shane Black yang mengawali karirnya sebagai penulis film aksi ini menggarap film keduanya setelah Kiss Kiss Bang Bang (2005).

W For Words:
Jika sebuah film superhero sudah mencapai sekuel maka pertaruhannya akan semakin berat. Mengapa? Beberapa di antaranya untuk sekadar menyamai saja gagal. Cuma sedikit yang terbilang sukses mengungguli seri sebelumnya. Bagaimana dengan keluaran Marvel yang satu ini? Well, i’m one of those people who got lucky to see it first during the grand opening of IMAX Kelapa Gading. Hell yeah! Tell you what, saya bukanlah fans setia Iron Man jika dibandingkan dengan karakter pahlawan lainnya. Namun selepas film berakhir dapat tersenyum puas.

Tony Stark kerapkali mengalami serangan panik karena terlalu memikirkan keselamatan kekasihnya Pepper Pots. Ketika mantan kekasih Tony yakni Maya datang, tiba-tiba rumah mereka diserang oleh helikopter hingga berujung pada pemberitaan tewasnya Tony di surat kabar. Saat bersembunyi, Tony berjumpa bocah jenius Harley yang memotivasinya kembali. Sementara itu Mandarin mengancam Presiden Amerika lewat pembajakan siaran televisi. Adakah hubungannya dengan ilmuwan sinting Aldrich Killian yang pernah dikecewakan Tony belasan tahun silam?

Shane Black bersama Drew Pearce yang menulis skrip bersama tampak menggunakan pendekatan yang berbeda dengan dua seri sebelumnya. Seri ketiga yang diyakini sebagai penutup ini murni berfokus pada pergulatan seorang Tony Stark dalam memenuhi ‘kewajiban’ nya baik sebagai kekasih ataupun pahlawan masyarakat. Sisi playboy, narsis dan sok pamernya yang biasa dominan sedikit dikesampingkan. Semua berganti oleh pertukaran dialog sarkastis yang menggigit dengan karakter-karakter di sekelilingnya. 

Sebagai sutradara Black memulainya dengan terlampau ‘biasa’. Begitu memasuki pertengahan barulah bermunculan twist dan turns yang segera menganulir segala keklisean yang ada. Patut dicatat, tidak semua fan base Iron Man akan happy dengan perubahan tersebut. Alih-alih protes banyak bermunculan. Sah-sah saja. Bombardir efek khusus tergolong sesuai kapasitas sebuah film aksi (superhero), terlebih di ending yang lumayan mencengangkan itu. Sementara gimmick 3D ataupun versi IMAX nya hanya berdampak minor karena merupakan hasil konversi.

Downey Jr. memang masih pilihan paling tepat untuk tokoh Tony Stark/Iron Man. Range emosinya yang luas mendapat porsi yang cukup signifikan dalam menerjemahkan semua konflik di dalamnya. Pearce sebagai villain juga terkesan ‘sebanding’ dengan kekuatan dahsyat dan kegilaan kejam yang melandasinya. Menarik mengamati karakter-karakter wanita yang dihidupkan oleh Paltrow, Hall atau Szostak yang mencuri perhatian walau kemunculannya sejenak. Belum lagi kontribusi aktor senior Cheadle, Kingsley hingga si cilik Simpkins. Sutradara terdahulu Favreau turut hadir sebagai Hogan, diikuti dengan sumbangan ‘suara’ milik Bettany sebagai Jarvis.

Iron Man 3 bagi saya adalah yang terbaik dari keseluruhan seri. Saya mendapati esensi sebuah film utuh, tak seperti dua seri sebelumnya yang masih mengesankan film komik. Permasalahan utamanya terbilang baru yakni bagaimana seorang pahlawan super ternyata bisa mengalami krisis ketergantungan dengan teknologi canggih yang selama ini membantunya. Belum lagi pengembangan ‘cinta’ semenjak seri pertama yang biasanya selingan belaka. Penambahan berbagai karakter baru juga kian mempertajam esensi interpersonal nan variatif. Does the journey end? Shall we continue to Avengers 2? Don’t ask, don’t think. Just enjoy this one first as i did!

Durasi:
1
25 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
 


Sabtu, 20 April 2013

KON-TIKI : Questionable Journey With High Determination


Tagline:
Real adventure has no limits.

Nice-to-know:
Merupakan wakil Norwegia pada kategori Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards 2013.  

Cast:
Pål Sverre Hagen sebagai Thor Heyerdahl
Anders Baasmo Christiansen sebagai Herman Watzinger
Gustaf Skarsgård sebagai Bengt Danielsson
Odd Magnus Williamson sebagai Erik Hesselberg
Tobias Santelmann sebagai Knut Haugland
Jakob Oftebro sebagai Torstein Raaby
Agnes Kittelsen sebagai Liv Heyerdahl

Director:
Merupakan kolaborasi ketiga Joachim Rønning dan Espen Sandberg setelah Bandidas (2006) dan Max Manus (2008).

W For Words:
Label film termahal yang pernah dibuat Norwegia sepanjang masa rasanya sudah cukup membuat moviegoers di seluruh dunia sepantasnya mengantisipasi tanggal rilisnya film ini termasuk Indonesia lewat jaringan Blitzmegaplex. Apalagi Thor Heyerdahl merupakan tokoh nyata yang menjadi inspirasi atas upayanya mengarungi Samudera Pasifik dengan menggunakan rakit primitif. Namun tampaknya tidak mudah menyajikan sebuah casual biopic dengan adventure drama yang cukup believable untuk menggamit perhatian penonton selama nyaris dua jam. Tidak percaya?

Tahun 1947, pengembara Thor bersama lima pria dengan latar belakang yang berbeda-beda yaitu Herman Watzinger, Bengt Danielsson, Erik Hesselberg, Knut Haugland dan Torstein Raaby mempersiapkan segala sesuatunya demi melakukan perjalanan ke Kepulauan Polynesia mengikuti jejak tokoh sejarahwan Tiki di masa lampau yang menjadi inspirasinya. Istrinya Liv meski kurang setuju terpaksa menerima keputusan itu dengan berat hati. Selama 101 hari melalui 8000 kilometer, mereka berenam menghadapi berbagai macam bahaya yang muncul. 

Sutradara Rønning dan Sandberg
tak lupa menambahkan potongan film dokumenter pemenang Oscar tahun 1950 sebagai remarkable footage. Sinematografer Geir Hartly Andreassen bahkan menggunakan metode B&W saat pembangunan rakitnya. Hubungan yang terjadi di antara ‘awak’ rakit tersebut menjadi salah satu highlight tersendiri selain kemunculan obyek-obyek detail yang memperkaya penuturannya. Bagaimana paus, hiu, ubur-ubur, kakaktua, kepiting, ikan terbang dan sebagainya silih berganti menyita perhatian penonton

Kinerja make-up, wardrobe dan art department sangat memuaskan. Keenam pria tersebut tampil lusuh dan kumuh dengan pakaian seadanya dengan kumis dan cambang yang semakin lebat. Spesial efeknya juga cukup meyakinkan untuk membuat anda seakan merasakan apa yang mereka alami juga. Ada satu pergerakan kamera yang mencengangkan saya saat aerial shot menangkap posisi rakit di lautan lalu mengangkasa terus menerus hingga keluar planet sebelum kembali lagi saat hari berganti. Editing yang mulus membuatnya terkesan tanpa putus.

Sayangnya konflik yang dihadirkan di atas rakit memang tergolong minim. Hanya ada keegoisan dan kegilaan yang melanda, itupun tidak benar-benar sampai memuncak ke permukaan. Jujur saya mengharapkan terjadinya berbagai realita pahit agar terlihat lebih meyakinkan. Bukankah perjuangan hidup memang demikian? Sebagai contoh Herman yang sekujur tubuhnya telah terpercik darah hiu jatuh ke laut masih tidak terjamah oleh kawanan hiu yang mengelilinginya. Maafkan saya jika terlalu banyak menonton Jaws ataupun thriller sejenis lainnya.

Kon-Tiki yang merupakan nama lawas dari dewa matahari suku Inca – Viracocha selayaknya film biografi lain memang tampak mengedepankan sosok Heyerdahl sebagai ‘pahlawan’ yang konvensional. Pål Sverre Hagen menjiwainya dengan gemilang dimana ia harus memimpin tanpa terkesan otoriter. Pada akhirnya banyak pihak yang meragukan fakta perjalanan ini setelah meneliti detil-detil pendukung. Percaya atau tidak menjadi keputusan anda sepenuhnya. Bagi saya yang penting adalah memaknai determinasi tinggi seorang anak manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.

Durasi:
118
menit

Europe Box Office:
871,645 in Norway till Nov 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 19 April 2013

SINISTER : Fun Horror That Best Served Slow


Tagline:
Once you see him, nothing can save you.  

Nice-to-know:
Penulis skrip C. Robert Cargill mendapat ide cerita dari mimpi buruk yang muncul setelah menyaksikan The Ring.

Cast:
Ethan Hawke sebagai Ellison Oswalt
Juliet Rylance sebagai Tracy
Fred Dalton Thompson sebagai Sheriff
James Ransone sebagai Deputy
Michael Hall D'Addario sebagai Trevor
Clare Foley sebagai Ashley
 

Director:
Scott Derrickson yang juga dikenal sebagai penulis skrip ini menggarap feature film ketiganya setelah The Day the Earth Stood Still (2008).

W For Words:
Sulit rasanya menemukan film horor yang ‘menyenangkan’ beberapa tahun terakhir ini. Tahun lalu saya dan kawan-kawan pecinta genre ini sempat dikejutkan dengan kemunculan trailer film berbujet rendah produksi kolaborasi Alliance Films, IM Global, Blumhouse Productions, Automatik Entertainment dan Possessed Pictures yang cukup menyeramkan. Daya tarik lain jelas keterlibatan aktor mumpuni Ethan Hawke sebagai tokoh utamanya. Sayangnya penantian terasa begitu panjang karena jaringan bioskop 21 baru memutuskan tanggal rilis 16 Maret 2013 yang lalu.    

Penulis novel kriminal Ellison Oswalt memutuskan pindah ke rumah baru demi menyelesaikan karya teranyarnya meski istri dan anak-anaknya tidak setuju. Sesungguhnya di rumah tersebut pernah terjadi pembunuhan mengerikan dimana seantero keluarga tewas tergantung di pohon halaman belakang rumah. Tak lama kemudian, Ellison menemukan satu kardus berisikan video di loteng rumahnya yang ternyata berisikan rekaman keluarga-keluarga yang terbunuh secara misterius di masa lampau. Mampukah ia memecahkan misteri tersebut sebelum nyawanya terancam juga?
Scott Derrickson bekerjasama dengan C. Robert Cargill berupaya mengetengahkan suguhan thriller horror yang fresh melalui elemen-elemen tipikal sebut saja rumah mencekam, tokoh misterius, latar belakang mencengangkan dsb. Berhasil? Bagi saya iya. Momok menakutkan kali ini adalah Mr. Boogie yang terlihat seperti seorang pria bertopeng.  Sewajarnya film bergenre sejenis, ada twist yang tersimpan di penghujung cerita. Tugas anda lah menerkanya sambil ‘memutar kembali’ apa saja yang telah anda saksikan sejak menit awal.

Sebagai sutradara, Derrickson berupaya semaksimal mungkin menjaga intensitas film lewat serangkaian ‘trik’ yang sebenarnya tak bisa dikatakan baru. Namun pace yang terasa lambat tetap tak mampu dihindari. Tak ayal penonton kadung bosan sebelum sampai klimaksnya. Beruntung multi relationship yang dimiliki Ellison dengan orang-orang sekitarnya mampu memperkuat plot yang ada. Belum lagi variasi video footage kuno yang berulang kali efektif menciptakan kengerian lewat gambar dan suara yang khas. Niscaya akan akan gelisah mendapati siang berganti malam di sepanjang durasinya.
Hawke memegang peranan kunci di sini termasuk narasi utama yang dilakukannya. Tokoh Ellison yang cukup ‘gelap’ itu sesungguhnya cuma kepala keluarga biasa, suami setia dan ayah perhatian yang menyayangi keluarganya sendiri. Hanya saja ambisi pribadi membuatnya mempertaruhkan segalanya. Ketakutannya yang membuncah diterjemahkannya secara wajar. Rylance berhasil memberikan penjiwaan yang baik sebagai istri tertekan karena obsesi suaminya yang tidak rasional. Foley dan D’Addario juga tak kalah memikat sebagai putra dan putri dengan kedalaman psikologis masing-masing.

Sekali lagi kenikmatan menyaksikan Sinister adalah membuka misteri yang tersimpan rapat satu-persatu dengan penjelasan yang cukup logis. Kombinasi dengan mitos yang ada juga terbilang relevan dalam memperkuat substansi penerimaan penonton yang tanpa sadar mengaplikasikan langsung dengan kondisi nyata. Gambar-gambar yang disturbing bisa jadi sulit dibuang dari ingatan apalagi ditambah dengan beberapa scene ‘berdarah’ dengan penyajian yang variatif. Semua aspek tersebut jelas beralasan. So, be prepared for this one without any single information. Too bad its poster has already explained much.

Durasi:
110
menit

U.S Box Office:
$48.056.940 till Dec 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 13 April 2013

OBLIVION : Audio-Visual Fair Above Earth and Humanity


Quote:
Jack Harper: Is it possible to miss a place you've never been? To mourn a time you never lived?

Nice-to-know:
Proyek The Oblivion awalnya berasal dari skrip 8 halaman yang ditulis Joseph Kosinski dan diajukan sebagai novel grafis kepada Barry Levine dan Jesse Berger di Radical Publishing pada tahun 2007.

Cast:
Tom Cruise sebagai Jack
Morgan Freeman sebagai Beech
Olga Kurylenko sebagai Julia
Andrea Riseborough sebagai Victoria
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Sykes
Melissa Leo sebagai Sally  

Director:
Merupakan film kedua Joseph Kosinski setelah TRON : Legacy (2010).

W For Words:
Delapan tahun sudah sejak terakhir kemunculan Tom Cruise dalam film bergenre science fiction, itupun remake ternama yakni War of the Worlds. Bisa jadi anda sama seperti saya, lebih ingat pendahulunya yaitu Minority Report (2002). Suguhan terbaru Universal Pictures ini tak sepenuhnya dapat dikatakan baru karena plotnya akan mengacu pada beberapa referensi dari yang sudah-sudah, tidak perlu disebutkan di sini agar tak ada tudingan menjiplak mentah-mentah. Sah-sah saja untuk sebuah tema post-apocalyptic yang sesungguhnya memang penuh dengan tanda tanya.

Jack Harper adalah teknisi yang ditugaskan menjaga robot-robot agar tetap pada fungsinya membasmi scavs di bumi. Pangkalannya terletak di lapisan stratosfer yang juga dikomandoi oleh Victoria dan disupervisi langsung oleh Sally melalui layar monitor. Ya, bumi memang telah mati selama enam puluh tahun akibat serangan alien. Kehidupan keduanya yang tenang mulai terusik saat Jack menyelamatkan nyawa Julia dari pesawat yang terbakar di area terpencil. Memori masa lalu yang perlahan terkuak agaknya membuat Jack bingung akan jati diri yang sebenarnya.

Joseph Kosinski mengembangkan komiknya bersama Arvid Nelson tapi kolaborasinya dengan Karl Gajdusek dan Michael Arndt lah yang menghasilkan skrip film ini. Nyaris setengah durasi awalnya dihabiskan untuk dua hal yakni pengenalan karakter Jack Harper berikut kecanggihan teknologi yang digunakannya dan penjelasan keadaan bumi berikut ancaman serius yang dihadapinya. Lewat pertengahan barulah muncul konflik utama yang segera diikuti penyelesaiannya. Tampaknya tidak terlalu sulit menerka kemana arah cerita akan bergulir.

Cruise adalah mega bintang Hollywood yang nyaris selalu “one man show” di setiap filmnya. Tokoh Jack Harper dimainkannya dengan energik, sensitif dan penuh keingintahuan. In my opinion, he did great, not as bad as people talked about. Riseborough dan Kurylenko memerankan dua pendamping wanita yang karakternya bertentangan. They are good enough to keep Cruise on balance. Sulit mengomentari penampilan Freeman, Coster-Waldau, Leo dll karena tak banyak kesempatan yang diberikan. Nah salah satu permasalahan utama film adalah kurangnya sosok antagonis yang bisa mempertajam konflik.

Kosinski di kursi sutradara mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya yaitu pamer kecanggihan spesial efek. Lihat saja basis Harper dan Victoria yang sangat memanjakan mata dengan background langit biru atau kendaraan Harper dalam menjelajah semesta. Keunggulan itulah yang membuat anda cukup yakin merogoh kocek lebih untuk menyaksikan versi IMAX nya. Tak dipungkiri, storytelling miliknya menjadi sedikit terkesampingkan. Pace yang lambat di awal sangat mungkin membuat penonton awam merasa bosan hingga tak terlalu terjerat kepedulian lagi terhadap klimaks yang disuguhkan.

Di satu sisi, Oblivion terlalu memberi keleluasaan bagi penikmatnya untuk memahami konsep film secara utuh. Bagi anda yang menyukai detail, hal ini tentu akan sangat menyenangkan. Di sisi lain, pokok pembicaraannya masih berkisar pada hubungan interpersonal. Tak terlalu mengejutkan memang karena manusia semestinya tetap menggunakan hati dan perasaannya walaupun seburuk apapun situasi yang dihadapi. In the end, it’s about earth and humanity. Our own memories will always stand for who we are and what we do.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 06 April 2013

PEE MAK : Fun Peek-A-Boo For The Nak-ed Truth


Quote:
Nak: Jika suatu saat aku mati. Dapatkah kau tetap hidup?
Mak: Aku tak dapat hidup tanpamu.


Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film Thailand kedua sepanjang masa yang menjadi pengumpul uang terbanyak di hari pertama rilisnya dengan total 21 juta baht di bawah Ong Bak (2003).

Cast:
Mario Maurer
sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Nattapong Chartpong sebagai Ter
Pongsatorn Jongwilak sebagai Puak
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai
Aey

Director:
Merupakan f
eature film keempat bagi Banjong Pisanthanakun setelah terakhir Kuan Meun Ho alias Hello Stranger (2010).

W For Words:
Tiga faktor yang menjadi jaminan kesuksesan besar film ini adalah Mario Maurer, GTH dan legenda urban klasik Nang Nak di Phra Kanong yang sudah demikian melegenda di kalangan masyarakat Thailand. Bagaimana dengan pasar internasional? Rasanya masih dapat berbicara banyak mengingat sutradara Banjong Pisanthanakun telah berhasil menelurkan film-film box office sebelumnya sebut saja dwilogi Phobia (2008-2009) di antaranya yang turut menjadi landasan daya tarik film yang turut menghadirkan Mario di acara meet and greet yang diadakan oleh Blitzmegaplex pada tanggal 7 April 2013 ini.

Tentara Mak yang terluka di medan perang berhasil diselamatkan keempat sahabatnya yang kemudian menyertainya pulang ke kampung halaman Phra Kanong. Di sanalah istri setia Nak telah menunggunya bersama putra mereka yang masih bayi bernama Dang. Rumor berhembus di antara warga desa bahwa sesungguhnya Nak telah meninggal beberapa waktu lalu. Ter, Puak, Shin dan Aey yang mempercayainya segera mencari cara untuk memberitahu Mak tanpa sepengetahuan Nak. Siapa yang hantu dan siapa yang manusia pada akhirnya?

Skrip yang dikerjakan oleh Banjong bersama Chantavit Dhanasevi dan Nontra Khumvong ini masih berpakem pada komedi horor andalan mereka. Nama Ter, Puak, Shin dan Aey sebagai sidekicks bahkan dipertahankan lengkap dengan karakteristik masing-masing. Tokoh Mak pun lebih ditonjolkan ketimbang Nak demi memberikan perspektif yang berbeda. Seperti biasa twist-ending dipersiapkan untuk menipu penonton. Berhasil? Mungkin. Yang jelas perubahan seratus delapan puluh derajat yang terjadi di akhir memang cukup mencengangkan sambil tetap berpegang pada kisah cinta itu sendiri.

Jangan salahkan alasan pemilihan Mario dan debutan Davika yang wajahnya terlihat lebih barat dalam memerankan tokoh pasutri asli Thai karena keduanya terbilang sukses membangun chemistry Mak dan Nak yang awkward sekaligus manis. Jangan ragukan penampilan kuartet “setia kawan” Nattapong, Pongsaton, Wiwat dan Kantapat yang tetap mencuri perhatian kapanpun mereka muncul. Lupakan sejenak penyajian beberapa joke seputar tokoh/film asing yang bisa dibilang tidak relevan dengan jaman kesemua tokoh tersebut hidup mengingat kesempatan lain anda tertawa melihat keempatnya masih amat lebar.
Setting lokasi hutan dan sungai yang terdapat dalam segmen “In The Middle” – 4BIA (2008) kembali digunakan sutradara Banjong sebagai panggung bercerita di samping gubuk tua Mae Nak yang terlihat rapuh tersebut. Durasi keseluruhan yang nyaris dua jam itu seharusnya dipangkas lebih singkat mengingat baru sejam pertama saja sudah merangkum semua situasi dan kondisi yang dialami keenam tokoh utamanya. Trailernya yang diluncurkan sejak bulan lalu sudah berbicara ‘terlampau’ banyak sehingga unsur kejutannya menjadi berkurang.

Tak diragukan lagi, Pee Mak merupakan ‘peremajaan’ yang kreatif dari judul-judul tersebut di atas, bukan remake, bukan sepenuhnya orisinil. Dengan demikian tujuan akhir filmmaker untuk merangkul penonton dewasa dan remaja sekaligus dapat tercapai. Cerdas bukan? Secara pribadi saya memang menyukainya sebagai tontonan menghibur walau tidak sampai menganggapnya spesial. Bagaimanapun juga memanusiakan hantu tetaplah sebuah konsep yang sulit diterima nalar, tak peduli apapun alasan di baliknya. Well, at least it makes you keep guessing for the real Nak-ed truth.

Durasi:
115 menit

U.S Box Office:
21.700.000 baht in opening day Maret 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
  

Kamis, 28 Maret 2013

TAMPAN TAILOR : Jatuh Bangun Penjahit Ulung Inspiratif

Penulis: Diaksa Adhistra

Tagline: 
Dia kehilangan segalanya.. Tapi dia tidak pernah kehilangan harapan..

Nice-to-know:
Awalnya akan rilis sekitar bulan Mei-Juni 2013 tetapi dimajukan tiga bulan.

Cast:
Vino G Bastian sebagai Topan
Jefan Nathanio sebagai Bintang
Marsha Timothy sebagai Prita
Ringgo Agus Rahman sebagai Darman

Director:
Merupakan film ketujuh Guntur Soeharjanto setelah Brandal-Brandal Ciliwung (2012).

W For Words:
Sebagian besar di antara kalian pasti sudah pernah menonton The Pursuit Of Happyness (2006) yang diperankan oleh Will Smith dan putranya sendiri. Tak salah jika air mata anda menggenang di akhir film karena haru biru yang berhasil digelorakan dari satu perjuangan mencari penghidupan yang layak. Alim Sudio dan Cassandra Massardi yang bertandem menulis skenarionya memang tidak persis sama karena masih ada penghuni negeri ini yang memiliki kehidupan serupa. Jika tidak percaya coba tengok sekeliling anda secara lebih seksama. 

Jasa menjahit “Tampan Tailor” terpaksa tutup. Sang pemilik, Topan kehilangan segalanya selepas kepergian istrinya termasuk tempat tinggal hingga terpaksa menumpang di rumah sepupunya, Darman dan istrinya yang galak, Atun. Lantas Topan berusaha keras mengambil semua pekerjaan mulai dari calo tiket kereta api, kuli bangunan sampai stuntman film aksi demi menyambung hidup sekaligus menyekolahkan kembali putranya Bintang. Gadis pemilik kios, Prita diam-diam kagum pada upaya pria yang satu itu. Akankah Topan berhasil pada akhirnya?

Suatu kesalutan sendiri dengan sang sutradara yaitu Guntur Soeharjanto alias @toersky yang terang-terangan mengakui kalau karya terbarunya ini memang terinspirasi dari film Hollywood tersebut di atas. Padahal banyak film Indonesia yang terang-terangan menjiplak cerita dari film luar tapi yang membuat film itu sendiri bilang tidak meniru (atau terinspirasi) dari film luar pendahulunya. Guntur juga terampil membesut setiap sudut ibukota yang kerap terlewatkan oleh mata sebut saja stasiun kereta api, flyover yang belum jadi dsb.

Saya pribadi menyukai film ini. Film ini berhasil menggambarkan cerita seorang pria yang berusaha keras untuk menghidupi anaknya walaupun dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Tone warna film ini juga lumayan bagus, mewakili sekali dari awal sampai akhir. Kita akan dibuat miris dengan keadaan ayah-anak ini, bahkan jika kalian yang gampang terharu bisa jadi menangis kala menonton film ini. Sayangnya, waktu yang diberikan untuk itu seringkali “diambil”, bisa jadi demi menghindari kesan menye-menye yang terlalu dramatis. 

Ada beberapa artikulasi dialog yang kurang jelas sehingga kita tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para pemainnya. Walau demikian, Vino dan Marsha yang juga suami istri di luar layar bermain maksimal sebagai Topan dan Prita. Hanya saja Topan masih terlalu rapi dan klimis menurut pengamatan saya. Si kecil Jefan tak kalah memukau sebagai anak penurut yang penuh empati. Jangan lupakan Ringgo Agus yang berhasil membawa warna tersendiri tanpa harus melucu maksimal sebagaimana biasanya. Tokoh yang sedikit memberi keleluasaan bagi penonton untuk meresapi karakteristik masing-masing.

Tampan Tailor memang sedikit cacat di ending yang terasa antiklimaks. Hubungan ayah anak yang kuat sejak menit pertama seakan berbalik menjadi latar belakang yang tidak istimewa. Sebaliknya romansa yang awalnya bumbu belaka malah menjadi bahan utama. Tak apalah toh kita masih bisa menelaah secara positif sebuah perjuangan hidup inspiratif warga ibukota yang nasibnya kurang beruntung. Tak pelak masih banyak Topan dan Bintang lain di luar sana yang tidak (atau belum) memiliki kesempatan layak untuk setidaknya mencoba peruntungan mereka.

Durasi:
104
menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 Maret 2013

CRAZY CRYING LADY : Inexplicably Crazy You May Cry


Quotes: 
“Heartbreaks for a day, Remember it for the rest of one's life”

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh M-Thirtynine Pictures ini telah edar di Thailand pada tanggal 27 Desember 2012 yang lalu.

Cast:
Araya A. Hargate
sebagai Ho
Akom Preedakul sebagai Kom Chaunchuen
Jaroenporn Ornlamai sebagai Nava/Nana
Teeradate Methavorrayuth sebagai Doc
Ray MacDonald sebagai Boyd

Director:
Merupakan f
ilm ketujuh bagi Rerkchai Paungpetch setelah terakhir Valentine Sweety (2012).

W For Words:
Mayoritas film Thailand yang beredar di bioskop Indonesia (sebagian besar lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex) tidak pernah mengecewakan saya. Selama ini yang dianggap agak lemah adalah Lulla Man (2011) dan Teenage Love (2012). Nyatanya dua judul tersebut belum mampu menandingi kekurangan film yang berjudul asli Khun Nai Ho ini  Padahal Araya merupakan artis cantik bintang Lux di sana yang ketenarannya tak perlu diragukan lagi. Malangnya ia harus terbiasa mengenakan wig di sepanjang film untuk terlihat lucu? Well, i don’t think it works at all.

Sejak kecil impian Ho sederhana, ia ingin mempunyai bayi sebelum mengetahui ibu dan kakak perempuannya tewas dalam kecelakaan mobil. 20 tahun kemudian, Ho masih tinggal bersama ayahnya Kapten Burapha yang terobsesi kembali ke medan pertempuran dan adik lelakinya Nava yang lebih senang berdandan seperti perempuan. Tiba pada satu ketika dimana rahim Ho akan segera berhenti berfungsi menurut diagnosa dokter Doc yang juga teman kecilnya. Ia lantas bertekad mengandung sesegera mungkin dengan bantuan kekasihnya Boyd.

Paras Araya memang cantik dan kemampuannya untuk terus menangis dalam puluhan ekspresi dari awal sampai akhir pantas diacungi jempol. Namun tokoh Ho tetap belum mampu mendapatkan simpati dari penonton meski nasibnya digambarkan malang sedari kecil. Kesedihan yang bertubi-tubi dialaminya malah terasa berlebihan hingga pada satu titik saya nyaris berteriak “CUKUP!”. Sosoknya juga tidak diperlihatkan bekerja atau setidaknya melakukan sesuatu yang berguna selain mengejar cinta lelaki demi desperasi pembuahan rahim? Oh my Godness!

Di luar Ho, tokoh-tokoh dalam film ini tak kalah mengganggunya. Akom terlihat menggelikan sebagai ayah irrasional karena statusnya sebagai pensiunan militer yang pernah kehilangan rekannya sendiri. Jaroenporn terlihat mengerikan sebagai Nava lengkap dengan implan dada palsu dan kostum semi baletnya yang merusak mata tersebut. Lelucon ala gay/transeksual berulang kali disuguhkan tanpa batasan yang jelas. Satu-satunya yang agak menghibur dari keduanya adalah kemampuan menyamar Kom dan keahlian presentasi Nana dalam video Youtube nya.

Desain produksi memang dibuat memanjakan mata lewat tampilan kostum warna-warni demi memberi penekanan pada penonton bahwa ini adalah komedi slapstick. Sayangnya kinerja sutradara Paungpetch malah kian mengesankan serial televisi dari babak ke babak. Apalagi setting lokasi dalam kota yang demikian terbatas sehingga terbilang gagal menyajikan value yang berarti. Sound efek dari keyboard elektronik semakin memperparah keadaan. Alih-alih lucu memancing tawa, saya malah menganggapnya norak. Nyaris tak ada dialog yang memorable untuk memperkuat konflik yang ada.

Crazy Crying Lady adalah sebuah siksaan dua jam bagi siapapun yang menyaksikannya. Apabila tiap karakter dalam sebuah film gagal menjalin koneksi dengan penonton maka tidak ada lagi yang tersisa. Anda selalu memiliki opsi untuk walkout jika demikian adanya. Mereka semua tidak terkesan ‘manusia’, tidak lucu, juga tidak romantis. Semua plot yang tercerai berai sejak menit awal pada akhirnya berupaya diikat dengan tidak rapi di penghujung kisah. Terlambat sudah! I didn’t get any point in the end. Maybe Thai audiences have different opinions for some inexplicable reasons.

Durasi:
11
5 menit

Asian Box Office:
80,000,000 baht till Feb 2013 in Thailand

Overall:
No rating

Minggu, 03 Maret 2013

SILVER LININGS PLAYBOOK : Unlikeliest Romantic Comedy Bipolar Life


Quotes:
Tiffany: You know, for a while, I thought you were the best thing that ever happened to me. But now I'm starting to think you're the worst.
Pat: Of course you do. Come on, let's go dance.


Nice-to-know:
5 nominasi utama yaitu Best Picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Writing dari 8 nominasi Academy Award yang diterimanya, film ini menyusul langkah Reds (1981) dan Million Dollar Baby (2004).

Cast:
Bradley Cooper sebagai Pat
Jennifer Lawrence sebagai Tiffany
Robert De Niro sebagai Pat Sr.
Jacki Weaver sebagai Dolores
Chris Tucker sebagai Danny
Anupam Kher sebagai Dr. Cliff Patel

Director:
Merupakan feature film keenam bagi David O. Russell setelah terakhir The Fighter (2010) yang juga menominasikan dirinya sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Academy Awards 2011.

W For Words:
Nyaris semua orang pernah mengalami kehilangan seseorang yang mereka cintai, entah karena kematian atau segala bentuk perpisahan yang dilandasi oleh rasa ketidakcocokan. Proses move-on kemudian menjadi tahapan terberat untuk menata hidup kembali. Premis itulah yang diangkat dalam novel berjudul sama karangan Matthew Quick yang kemudian dibeli hak adaptasi layar lebarnya oleh The Weinstein company. Awalnya sempat dikabarkan akan diproduseri oleh Sydney Pollack dan Anthony Minghella dimana keduanya meninggal sebelum tahun 2008.

Sekeluarnya dari institusi kejiwaan akibat memukuli selingkuhan istrinya Nikki, Pat Solatano Jr. kembali ke rumah orangtuanya Pat Sr. dan Dolores di Philladelphia. Dr. Cliff Patel yang menangani Pat Jr. mengindikasikan adanya gangguan bipolar dan mengharuskannya menjalani sesi perawatan. Awalnya Pat Jr. yang juga mantan guru itu terobsesi untuk rujuk dengan berbagai cara hingga ia berjumpa Tiffany yang juga pernah dirawat karena gangguan psikologis. Keduanya lantas sepakat saling membantu setelah melalui serangkaian perjanjian unik demi rekonsiliasi.

Kekuatan skrip ini jelas ada pada rangkaian dialog tajam dari dua protagonisnya pengidap bipolar yang kerap menyebabkan perubahan mood secara mendadak, lari dari kenyataan, kesulitan belajar dari kesalahan masa lalu dsb. Keadaan tersebut kian diperburuk oleh pemutusan hubungan, kehilangan pekerjaan, keluarga disfungsi sampai merasa tak diterima oleh lingkungan sekitar. Kompleksitas yang sesungguhnya sangat mungkin terjadi di kehidupan kita sehari-hari tapi jarang yang mau mengakuinya. Pat and Tiff could be anyone of us. Only its’ scale makes the difference betwe
en sane and insane.

Sutradara O’Russell yang sudah lekat dengan bentuk kehidupan nyata seorang bipolar dari putranya Matthew tampak tidak berupaya mendramatisir keadaan yang memang sudah dramatis dari ‘sono’ nya. Bagaimana moment-to-moment scenes yang dari awal sampai akhir didominasi oleh Cooper-Lawrence dieksekusi secara brilian. Setting Philadelphia yang mengedepankan keluarga Amerika modern kelas menengah ini sesungguhnya memiliki pakem baku sebuah komedi romantic meski sesekali menyasar pada konsep satir dalam porsi yang minor.

Kemenangan Lawrence di ajang Oscar menyisihkan empat nominee lain yang jauh lebih senior memang mengejutkan. Namun melihat performanya dalam mengimbangi lawan main yang berusia 15 tahun lebih tua pantas diacungi jempol. Karakternya kompleks dan unpredictable dalam sosok Tiff yang cantik sekaligus rapuh. Akting Cooper juga tak kalah spektakuler dalam menerjemahkan karakter delusional Pat Jr. yang menyedihkan (atau justru mengganggu) tanpa harus kehilangan pesonanya. Jangan kecilkan sumbangsih DeNiro, Weaver, Tucker, Kher yang begitu besar sebagai supporting casts, terlebih melihat ‘polah tingkah’ superstitious Pat Sr. kita bisa tahu mengapa putranya demikian.


Silver Linings Playbook tetaplah sebuah komedi romantis yang berasal dari dunia yang ‘berbeda’. Tak melulu mengeksploitasi pahit manis chemistry pria dan wanitanya, sahabat dan keluarga mereka dalam neighborhood yang sama pun dilibatkan secara serius. Ending cheesy nya memang tergolong klise tapi tetap tak akan menghalangi hadirnya senyum di wajah dan kehangatan di hati anda. Easily connect with us because we’ve all been very emotional through the struggling times. In the end, you might realize it’s the journey of life that matters. Do not ever lose any hope.

Durasi:
122 menit

U.S. Box Office:
$115.697.021 till Mar 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 02 Maret 2013

WARM BODIES : Skeptically Good Zom-Com Into Lives


Quotes:
Nora: You miss him... like a boyfriend... you miss your zombie boyfriend?

Nice-to-know:
Kisah ini secara tidak langsung didasari oleh "Romeo and Juliet". "R" = "Romeo"; "Julie" = "Juliet; "Perry" = "Paris"; "M/Marcus" = "Mercutio"; "Nora" = Juliet's "Nurse".

Cast:
Nicholas Hoult sebagai R
Teresa Palmer sebagai Julie
Analeigh Tipton sebagai Nora
Rob Corddry sebagai M
Dave Franco sebagai Perry
John Malkovich sebagai Grigio

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Jonathan Levine setelah 50/50 (2011) yang menuai banyak pujian dan penghargaan itu.

W For Words:
Cermati poster dan penggunaan judul film ini, anda harusnya dapat merasakan suguhan yang berbeda. Ya. Bagaimana cinta remaja tampil dalam format yang ‘nyeleneh’ yaitu antara manusia dan zombie, lengkap dengan berbagai pakem familiar yang dikreasikan sedemikian rupa untuk memberikan nuansa baru. Ide ini muncul dari Isaac Marion lewat novel berjudul sama yang dipublikasikan pada tahun 2010. Bukan rahasia pula jika Marion yang mengagumi roman sepanjang masa Romeo & Juliet turut memasukkan beberapa elemen tersebut ke dalam ceritanya. Interesting, right?

Populasi manusia di masa depan membentengi wilayah untuk bertahan hidup dari kawanan zombie yang siap memangsa mereka. Saat bergerilya mencari obat-obatan, Julie bersama sang kekasih Perry dan teman-temannya diserang. Adalah zombie muda R yang menewaskan Perry dan mengambil ‘memori’ dari otaknya. Seketika ia jatuh cinta pada Julie yang kemudian diselamatkannya. Lambat laun terjadi interaksi unik di antara keduanya. Kehadiran Julie kian memanusiakan R hingga wajah dunia bisa jadi berubah. Namun kumpulan tengkorak zombie tak tinggal diam.
 
Rasanya tepat mempercayakan Jonathan Levine menulis sekaligus menyutradarai film ini. Visi pemuda bertalenta yang satu ini memang tak jarang menyinggung Twilight saga (2008-2012) yang ‘mengawinkan’ manusia dengan vampir. Jangan buru-buru melakukan justifikasi karena isu kehidupan dan segala isinya juga menjadi faktor penguat yang tak bisa dipandang sebelah mata. Alih-alih menggelorakan percintaan muda-mudi yang ‘cheesy’, ia malah membangun rasa lewat serangkaian proses natural mulai dari keterasingan, kecanggungan sampai penerimaan.

Setting lokasi juga dibangun Levine sedemikian rupa demi menyesuaikan keadaan ‘post-apocalyptic’ Amerika yang berantakan. Lihat saja lima belas menit pertama yang captivating itu dimana dunia diperkenalkan secara langsung oleh karakter R yang berjalan keliling kota seorang diri. Interaksi dan dialog yang tercipta memang minim tapi sudah cukup maksimal dalam mempertahankan ritme film. Dukungan tembang-tembang lawas dari Scorpions, Bob Dylan, John Waite, Roy Orbison, Bruce Springsteen dsb mungkin akan lebih memanjakan penonton dewasa.
 
Nicholas Hoult tampaknya memiliki masa depan yang cerah di Hollywood. Peran R cukup menantang baginya dan ia terbilang berhasil menjiwainya. Saya menyukai ‘transformasi’ yang begitu terlihat melalui gaya bicara dan bahasa tubuh. Tak mudah memberi nyawa pada tokoh mati seperti itu. Lupakan dandanan yang mirip dengan Kristen Stewart, Teresa Palmer menokohkan Julie dengan lugas, berani dan mau berjuang untuk sesuatu yang diyakininya. Saya menyukai Corddry dan Tipton sebagai sidekick di sini. Sedangkan Malkovich masih terlalu stereotype sebagai ayah Julie yang tak kenal kompromi. 

Warm Bodies adalah tontonan alternatif yang menyenangkan. Karakter-karakternya meski tak terlalu dikembangkan maksimal tetap mampu menghangatkan hati penonton. Semua bumbu satir sosialnya ditakar secara pas, romansanya tidak menye-menye, komedinya enggan berlebihan dan horornya juga tak sampai berdarah-darah. Twist manis nan kreatif diselipkan di akhir kisah. Kunci untuk menikmati produksi Summit Entertainment ini adalah percaya dan open-minded. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang sudah hancur masih dapat diperbaiki. Yes, this witty quirky one is skeptically good zom-com!

Durasi:
98
menit

U.S. Box Office:
$58.243.441
till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 01 Maret 2013

AH BOYS TO MEN : Neo Comedy Revealing Singapore Army


Tagline:
The ‘Keng’ Evolution of An “Ah Boy” to A Man.

Nice-to-know:
Film yang didistribusikan oleh Golden Village Pictures dan Clover Films ini sudah rilis di Singapura pada tanggal 8 November 2012 yang lalu.

Cast:
Joshua Tan sebagai Ken Chow
Wang Wei Liang sebagai Lobang
Noah Yap sebagai I.P. Man
Maxi Lim sebagai Aloysius Jing Sia-lan
Richard Low sebagai Ayah
Irene Ang sebagai Ibu
Qiu Qiu sebagai Amy

Director:
Merupakan film ke-14 bagi Jack Neo yang pertama dikenal lewat I Not Stupid (2002).

W For Words:
Wajib militer merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masyarakat, pemuda pada khususnya. Tujuannya tentu untuk mempersiapkan mereka dalam membela negara bilamana dibutuhkan. Film yang diprakarsai oleh Jack Neo ini secara cerdas mengangkat isu tersebut. Bujet produksi dua seri sebesar 3 juta dollar Singapore sebagian besar dihabiskan demi menciptakan opening yang meyakinkan. Lihat bagaimana serbuan teroris yang menghancurkan berbagai ikon negara tetangga tersebut seperti Merlion Park dan Esplanade hingga menelan banyak korban jiwa. 

Pemuda kaya nan manja, Ken Chow bertekad meneruskan studinya di Kanada bersama kekasihnya, Amy. Sayangnya panggilan Wajib Militer menghalanginya. Ibu dan neneknya yang selalu memanjakannya mengupayakan berbagai cara agar Ken lolos dari kewajiban. Namun tidak dengan ayahnya yang mendukung penuh program tersebut. Akhirnya Ken berangkat dan menjalani segala bentuk pelatihan. Di sana ia berkenalan dengan sahabat-sahabat barunya, I.P. Man, Lobang, Aloysius Jing dll sebelum menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.

Skrip yang ditulis oleh Jack Neo dan Link Sng ini memang seakan memiliki mata pisau dua sisi. Satu, mendukung program Pemerintah dalam memupuk semangat nasionalisme sekaligus melatih ketahanan mental generasi penerus bangsa. Dua, menertawakan semua kegiatan Wajib Militer yang tak jarang lebih dilandasi kepentingan pribadi para personilnya tersebut. Apapun itu tergantung sudut pandang pribadi anda. Saya menyukai ide yang digelorakan walaupun ‘konflik utama’nya tentang cinta yang klise itu kerapkali membuat kening berkerut.

Jack Neo di kursi sutradara harus diakui terampil meramu bumbu-bumbu komedi dengan pas. Sosok ibu overprotektif yang ditampilkan berseberangan dengan ayah disipliner. Belum lagi teman-teman Ken dalam ragam dan sifat yang berbeda-beda. Tokoh-tokoh inilah yang menjadi nyawa film karena berpijak kuat pada permasalahan yang diangkat. Malangnya, paruh pertama yang begitu apik bertutur didegradasi sedemikian rupa di paruh kedua yang terkesan cheesy dan mengada-ada. Toh, Jack tetap berhasil merajut kembali apa yang mau disampaikannya sebagai penutup episode pertama ini.

Keseluruhan cast utamanya merupakan pendatang baru. Jack memoles akting mereka sedemikian rupa sampai terlihat meyakinkan. Joshua Tan terasa believable sebagai putra konglomerat yang terbiasa hidup bergelimang harta. Transformasi Ken Chow menjadi pria yang lebih dewasa dan bertanggungjawab cukup terbentuk. Penampilan Maxi Lim juga pantas dipuji. Aloysius di tangannya tergolong lugu tetapi ambisius. Richard Low dan Irene Ang sebagai ayah ibu Ken tipikal karikatural dengan perangai bawaan masing-masing. Mungkin hanya Qiu Qiu yang lumayan mengganggu di mata saya.

Ah Boys To Men merupakan karya kedua Jack Neo yang saya saksikan setelah I Not Stupid (2002). Jangan bandingkan konsep boot camp citarasa Asia ini dengan suguhan Hollywood yang sudah-sudah. Ciri khas nya belum hilang dimana aspek sosial ekonomi yang kali ini dikombinasikan dengan politik dalam format komedi ini tak hanya sukses mengajak penonton tertawa, melainkan merenung lewat cara yang paling sederhana sekalipun. Keegoisan tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Sebaliknya hak dan kewajiban patut dijaga keseimbangannya agar tercipta kehidupan yang sinergis.

Durasi:
108
menit

Asian Box Office:
S$6,180,000
till Mar 2013 in Singapore

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: