XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label mario maurer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mario maurer. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2013

PEE MAK : Fun Peek-A-Boo For The Nak-ed Truth


Quote:
Nak: Jika suatu saat aku mati. Dapatkah kau tetap hidup?
Mak: Aku tak dapat hidup tanpamu.


Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film Thailand kedua sepanjang masa yang menjadi pengumpul uang terbanyak di hari pertama rilisnya dengan total 21 juta baht di bawah Ong Bak (2003).

Cast:
Mario Maurer
sebagai Mak
Davika Hoorne sebagai Nak
Nattapong Chartpong sebagai Ter
Pongsatorn Jongwilak sebagai Puak
Wiwat Kongrasri sebagai Shin
Kantapat Permpoonpatcharasuk sebagai
Aey

Director:
Merupakan f
eature film keempat bagi Banjong Pisanthanakun setelah terakhir Kuan Meun Ho alias Hello Stranger (2010).

W For Words:
Tiga faktor yang menjadi jaminan kesuksesan besar film ini adalah Mario Maurer, GTH dan legenda urban klasik Nang Nak di Phra Kanong yang sudah demikian melegenda di kalangan masyarakat Thailand. Bagaimana dengan pasar internasional? Rasanya masih dapat berbicara banyak mengingat sutradara Banjong Pisanthanakun telah berhasil menelurkan film-film box office sebelumnya sebut saja dwilogi Phobia (2008-2009) di antaranya yang turut menjadi landasan daya tarik film yang turut menghadirkan Mario di acara meet and greet yang diadakan oleh Blitzmegaplex pada tanggal 7 April 2013 ini.

Tentara Mak yang terluka di medan perang berhasil diselamatkan keempat sahabatnya yang kemudian menyertainya pulang ke kampung halaman Phra Kanong. Di sanalah istri setia Nak telah menunggunya bersama putra mereka yang masih bayi bernama Dang. Rumor berhembus di antara warga desa bahwa sesungguhnya Nak telah meninggal beberapa waktu lalu. Ter, Puak, Shin dan Aey yang mempercayainya segera mencari cara untuk memberitahu Mak tanpa sepengetahuan Nak. Siapa yang hantu dan siapa yang manusia pada akhirnya?

Skrip yang dikerjakan oleh Banjong bersama Chantavit Dhanasevi dan Nontra Khumvong ini masih berpakem pada komedi horor andalan mereka. Nama Ter, Puak, Shin dan Aey sebagai sidekicks bahkan dipertahankan lengkap dengan karakteristik masing-masing. Tokoh Mak pun lebih ditonjolkan ketimbang Nak demi memberikan perspektif yang berbeda. Seperti biasa twist-ending dipersiapkan untuk menipu penonton. Berhasil? Mungkin. Yang jelas perubahan seratus delapan puluh derajat yang terjadi di akhir memang cukup mencengangkan sambil tetap berpegang pada kisah cinta itu sendiri.

Jangan salahkan alasan pemilihan Mario dan debutan Davika yang wajahnya terlihat lebih barat dalam memerankan tokoh pasutri asli Thai karena keduanya terbilang sukses membangun chemistry Mak dan Nak yang awkward sekaligus manis. Jangan ragukan penampilan kuartet “setia kawan” Nattapong, Pongsaton, Wiwat dan Kantapat yang tetap mencuri perhatian kapanpun mereka muncul. Lupakan sejenak penyajian beberapa joke seputar tokoh/film asing yang bisa dibilang tidak relevan dengan jaman kesemua tokoh tersebut hidup mengingat kesempatan lain anda tertawa melihat keempatnya masih amat lebar.
Setting lokasi hutan dan sungai yang terdapat dalam segmen “In The Middle” – 4BIA (2008) kembali digunakan sutradara Banjong sebagai panggung bercerita di samping gubuk tua Mae Nak yang terlihat rapuh tersebut. Durasi keseluruhan yang nyaris dua jam itu seharusnya dipangkas lebih singkat mengingat baru sejam pertama saja sudah merangkum semua situasi dan kondisi yang dialami keenam tokoh utamanya. Trailernya yang diluncurkan sejak bulan lalu sudah berbicara ‘terlampau’ banyak sehingga unsur kejutannya menjadi berkurang.

Tak diragukan lagi, Pee Mak merupakan ‘peremajaan’ yang kreatif dari judul-judul tersebut di atas, bukan remake, bukan sepenuhnya orisinil. Dengan demikian tujuan akhir filmmaker untuk merangkul penonton dewasa dan remaja sekaligus dapat tercapai. Cerdas bukan? Secara pribadi saya memang menyukainya sebagai tontonan menghibur walau tidak sampai menganggapnya spesial. Bagaimanapun juga memanusiakan hantu tetaplah sebuah konsep yang sulit diterima nalar, tak peduli apapun alasan di baliknya. Well, at least it makes you keep guessing for the real Nak-ed truth.

Durasi:
115 menit

U.S Box Office:
21.700.000 baht in opening day Maret 2013 in Thailand

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
  

Minggu, 17 Juni 2012

TEENAGE LOVE : Only Pretty Faces But Emotionally Disconnected

Quotes:
Mint: Celana jeans harus sebagus pemiliknya, bukan begitu?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Rak Sud Teen ini sudah rilis di Thailand pada tanggal 1 Maret 2012 yang lalu.

Cast:
Mario Maurer sebagai Aek chai
Worachat Thamwijin sebagai Tem-soop
Amena Gul sebagai Mintra
Thema Kanchanapairin sebagai Judd
Pornsuda Tawarapa

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Paripan Watcharanon yang juga menulis skenarionya.

W For Words:
Mario Maurer memang teen heartthrob nomor satu di Thailand yang kepopulerannya mulai merambah ke negara-negara Asia lainnya termasuk Indonesia. Sayangnya sejauh ini peran yang dimainkannya dalam film-film tidak jauh berbeda dan saya belum melihat perkembangan akting yang signifikan darinya termasuk dalam film yang diproduksi oleh Sahamongkol International ini. Adapun otak di balik film ini adalah Paripan Watcharanon yang besar dalam bidang sulih suara Panthamitr Film dari bahasa China untuk tayangan televisi Thailand bersama timnya. 

Aek yang memiliki toko jeans telah bersumpah untuk tidak jatuh cinta pada siapapun sampai bertemu ketiga kalinya dalam 24 jam terakhir dengan Mintra yang langsung menawan hatinya. Ajakan hura-hura seperti biasa dari kedua teman baiknya yaitu Tem dan Judd pun tidak digubris. Dalam waktu singkat, status Aek berubah dari playboy sejati menjadi pecinta setia yang terus mengejar kemana tambatan hatinya pergi. Ia tidak tahu jika diam-diam Mintra menyimpan rahasia yang mungkin akan menghancurkan hatinya kelak.

Premis yang tergolong biasa itu pada akhirnya benar-benar biasa saja. Paruh pertama film yang mengetengahkan petualangan trio Aek-Tem-Judd dalam memburu wanita dengan berbagai cara gagal menitikberatkan esensi komedik ladiesman yang diharapkan. Kanchanapairin yang seharusnya menggelitik sebagai bisexual guy malah terjebak dalam repetisi idiom yang kurang wajar. Humor situasional diantara ketiga pria predator tersebut cenderung kering dan memaksakan penonton untuk tertawa tanpa strukturisasi yang rapi.

Percintaan Aek dan Mint juga tidak berhasil membangun kesan manis dan unyu yang biasa diusung romcom Thailand. Proses love at first sight yang berujung pada kencan pertama juga terbilang instan sehingga chemistrynya tidak terbangun dengan baik. Penonton hanya akan menikmati wajah tampan Mario dan paras cantik Amena di berbagai kesempatan. Asmara tanpa pondasi tersebut lalu dihadapkan pada konflik utama yang lagi-lagi muncul secara mendadak untuk kemudian diselesaikan dengan begitu mudahnya tanpa usaha yang pantas diapresiasi.

Beberapa hal yang menarik dalam Teenage Love justru bukan berasal dari plot utamanya melainkan sindiran-sindiran halus di dalamnya seperti fasilitas chat yang dimiliki ponsel-ponsel canggih masa kini memang mempermudah komunikasi antara sepasang kekasih sekaligus mengaburkan esensi percintaan nyata itu sendiri saat keduanya saling berhadapan. Analogi cinta melalui celana jins yang pas melekat di tubuh memang cukup unik tapi belum terhubung kuat dengan korelasi cerita. Not much humor to enjoy, not enough romance to feel. Maurer’s fans out there, keep your expectations low to see what’s really left in the movie!

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 11 Agustus 2011

FRIENDSHIP : Sejuta Kenangan Sejati Pertemanan

Quotes:
Mituna: Kau tahu mengapa aku menyukai bunga Marigold? Sebab kau yang memberikannya padaku..


Storyline:
Singha menyanggupi ajakan Jack untuk reuni bersama Song, Kanda, Jud Duang, Pong. Kelimanya bersahabat semasa SMP dimana pahit manisnya sudah dijalani bersama. Tidak lama kemudian, ingatan Singha melayang pada perkenalannya dengan Lam dan Mituna yang baru pindah ke sekolahnya. Lam yang jago beladiri mengajarkannya untuk bersikap secara jantan sedangkan Mituna membuatnya mengerti akan makna cinta pertama. Apa yang sesungguhnya terjadi di antara mereka selama bertahun-tahun? Akankah Singha berkesempatan menemui Mituna kembali pada akhirnya?

Nice-to-know:
Berjudul asli Friendship You and Me dirilis di Thailand pada tanggal 3 Juli 2008 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya meraih popularitas tinggi lewat The Love of Siam (2007), Mario Maurer bermain sebagai Singha
Terakhir tampil mendukung salah satu segmen dalam 4BIA (2008), Apinya Sakuljaroensuk berperan sebagai Mituna
Chalermpon Thikumporn Teerawong as Song
Jetrin Wattanasin as Singha Dewasa
Kanawat Chantaralawan as Jud Duang

Director:
Merupakan debut penyutradaraan dari Chatchai Naksuriya.

Comment:
Kepopuleran film ini belum sampai ke telinga saya (dan juga para penonton Indonesia) pada waktu rilis 2008 di Thailand sana mengingat jaman drama komedi romantik produksi Negeri Gajah Putih itu baru mencapai puncaknya paska 2009 ke atas sebut saja Bangkok Traffic Love Story, Hello Stranger dll yang sudah ditonton lebih dulu. Beruntung Blitzmegaplex masih bersedia menayangkannya di tahun 2011 ini sehingga perbandingan dari berbagai segi tetap dapat dilakukan.
Premisnya sekilas mengenai cinta sepasang remaja SMU. Namun setelah menyaksikannya, ternyata jauh lebih kompleks meski disajikan dengan sesederhana mungkin. Cukup banyak subplot yang dihadirkan yaitu keluarga, ibu dan anak, sesama sahabat lelaki atau perempuan bahkan gabungan dari keduanya. Kesemuanya diberikan porsi yang tidak dominan tetapi cukup untuk memback-up plot utama sehingga keterkaitannya dapat terjelaskan dengan lancar.

Sutradara Chatchai menggunakan alur maju mundur secara terampil. Setting tahun 80an juga ditampilkan dengan baik dimana penggunaan cat air palet, kembang kertas, rollerskate, kaset video porno sekalipun mungkin terasa jadul bagi kita di masa sekarang. Tempo yang ia gunakan memang cenderung lambat, sedikit terbantu dengan unsur humor simpel yang masih mampu mengundang senyum.
Mario dan Apinya berbagi chemistry secara natural. Sepintas jika diperhatikan ada kemiripan raut wajah di antara keduanya. Namun film ini bukan hanya milik mereka tapi juga teman-teman mereka yang tak kalah kaya karakteristiknya sehingga masing-masing tokoh disini tidak akan anda abaikan begitu saja kehadirannya. Penggambaran dewasa dan remaja yang terpisah dalam rentang waktu yang cukup panjang juga terasa pas meski Jetrin tidak dapat dikatakan mewarisi ke”bule”an Mario.

Prolog cerita yang menyajikan hal-hal ringan perlahan bergulir menjadi serius. Persahabatan yang menonjolkan kekonyolan satu sama lain terkadang menyinggung masalah pubertas. Pendekatan lawan jenis yang penuh bujuk rayu pun berganti menjadi rasa saling menghargai. Sayangnya setelah semua terbangun dengan sempurna, ending yang tidak diharapkan pun muncul. Tanpa penjelasan yang logis, film pun ditutup begitu saja dengan gloomy. Sampai disini mengingatkan saya akan The Notebook tetapi tidak sampai menghadirkan rasa haru yang sama.
Friendship tidak hanya menawarkan indahnya cinta dan persahabatan, melainkan suka dukanya kehidupan itu sendiri. Bagaimana suatu kenangan dapat demikian membekas di hati seseorang selama bertahun-tahun. Atau ketika sebuah kesalahan seakan tidak termaafkan hingga menghapus kesempatan untuk berbahagia. Film ini mengajarkan anda tentang berempati pada orang-orang di sekeliling anda, terlepas dari closing yang kurang bersahabat itu.

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 23 Februari 2011

A CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE : Manis Pahit Cinta Remaja Sekolah

Tagline:
Love conquers everything, especially fear..

Storyline:
Gadis remaja 14 tahun bernama Nam ini sangat biasa dari segi penampilan alias tidak menarik. Namun ia tetap percaya diri dalam menyukai siswa popular di sekolah yang juga seniornya, Chon. Segala cara dilakukan Nam untuk menarik minat Chon tapi selalu tidak berhasil. Saat pementasan drama Snow White, di luar dugaan Nam dipilih oleh Profesor In sebagai peran utama. Disitulah ia menjelma menjadi seorang siswi cantik menarik yang segera digilai cowok-cowok termasuk Top, sahabat karib Chon. Namun perasaan Nam tetap pada Chon hingga membuatnya terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apakah semua itu cukup untuk membuat Chon menoleh padanya?

Nice-to-know:
Berjudul asli Sing Lek Lek Tee Riak Wa Ruk.

Cast:
Angkat nama lewat peran dalam The Love of Siam (2007), Mario Maurer yang kini berusia 21 tahun bermain sebagai Chon.
Pimchanok Leuwisetpaibul sebagai Nam
Peerawat Herabat
Sudarat Budtporm
Acharanat Ariyaritwikol

Director:
Putthiphong Promsakha dan Wasin Pokpong.

Comment:
Jika anda mulai menantikan film-film komedi romantis dari negeri Gajah Putih maka tidak ada yang salah dengan hal itu. Sebab berbagai judul yang dirilis 2-3 tahun belakangan ini memang cukup memuaskan. Stereotipe aktor tampan, aktris cantik, romansa yang menggemaskan dengan proses memang bumbu utama yang wajib ada dalam film bergenre serupa.







Bedanya sutradara Putthiphong dan Wasin menyajikan semua dari kacamata remaja belia dengan sangat realistis. Anda akan mengingat kembali masa-masa cinta monyet dahulu dimana anda menyimpan cinta tapi tidak berani mengungkapkannya hingga melihat sang pujaan hati saja berbunga-bunga setengah mati. Sinematografi cantik dominan warna cerah teduh ditampilkan dari setting sekolah hingga berbagai lanskap Thailand yang indah. Proses editing juga tergolong lancar sehingga lompatan tiap scenenya terasa mulus walaupun durasinya panjang.







Mario merupakan pilihan tepat untuk sosok Chon, ia terlihat cool, cute dan fresh, cocok sebagai idola para siswi di sekolah. Sedangkan Pimchanok membawakan tokoh Nam dengan kelembutan gadis belia yang feminine, kita akan dapat merasakan perasaannya yang campur aduk setiap menatap pujaannya dari kejauhan. Bukan hanya mereka berdua yang menjadi sorotan disini karena karakter guru dan teman-teman mereka memberikan corak warna tersendiri bagi unsur penokohan di film ini.







Elemen komedi yang cukup kental di paruh pertama film sepintas mengingatkan pada dorama Jepang tahun 90an dimana komedi situasional yang ditunjukkan terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Hal ini sekaligus menjadi pemanasan bagi paruh kedua yang lebih memberi penekanan drama terutama dalam mencapai cita dan cinta. Acuhkan saja transformasi itik buruk rupa menjadi angsa cantik Nam yang sedemikian drastis, bukan hanya dari penampilan tetapi juga sikapnya secara keseluruhan. Bukankah wajar jika semua orang berkeinginan lebih baik dari sebelumnya demi hal-hal yang positif?









Jika anda tidak menyaksikan A Ctazy Little Thing Called Love dijamin akan kehilangan sebagian kecil waktu hidup anda yang dihabiskan untuk tertawa dan menangis dalam rasa hangat sambil bernostalgia kembali terhadap masa “puber” anda yang telah berlalu. Bisa jadi anda tergerak untuk mengalami kembali sekaligus memperbaiki semua yang tidak pernah selesai pada masa itu. Sebuah komedi romantik yang tidak hanya mengajarkan seluk-beluk cinta tetapi juga arti persahabatan dan motivasi dalam menjalani hidup itu sendiri.


Durasi:
115 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: