XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label vera farmiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vera farmiga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juli 2013

THE CONJURING : Old Fashioned Scares That Summon Your Fears


Quote:
Lorraine Warren: You have a lot of spirits in here, but there is one I'm most worried about because it is so hateful.

Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata di rumah keluarga Perron ini sudah direncanakan selama 20 tahun terakhir. Inisiasi datang dari Ed Warren yang memutar rekaman wawancaranya dengan Carolyn Perron kepada produser Tony DeRosa-Grund.

Cast:
Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
Patrick Wilson sebagai Ed Warren
Lili Taylor sebagai Carolyn Perron
Ron Livingston sebagai Roger Perron
Shanley Caswell sebagai Andrea
Hayley McFarland sebagai Nancy
Joey King sebagai Christine
Mackenzie Foy sebagai Cindy
Kyla Deaver sebagai April

Director:
Merupakan feature film keenam bagi James Wan yang memulai karir penyutradaraannya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Sebutkan salah satu horor paling berkesan yang pernah anda tonton. Rasanya saya akan mendapatkan judul-judul seperti The Exorcist (1973), The Omen (1976) atau mungkin The Amityville Horror (1979). Semuanya harus diakui telah menjadi cult saat ini dimana berbagai versi remakenya bermunculan beberapa dekade kemudian. Kali ini Evergreen Media Group, New Line Cinema dan The Safran Company berupaya menghadirkan kembali horor bernuansa tahun 70an yang ditangani oleh sutradara muda jempolan generasi baru di genre yang sudah membesarkan namanya yaitu James Wan. Indeed, he’s Asian!

Tahun 1971, Carolyn dan Roger Parren pindah ke rumah lading di daerah terpencil Rhode Island bersama kelima putri mereka yaitu Andrea, Nancy, Christine, Cindy dan April. Suasana baru yang menenangkan tak lama kemudian berganti menjadi mimpi buruk ketika satu persatu anggota keluarga diteror oleh makhluk gaib yang lebih dulu mendiami rumah tersebut. Lewat referensi akhirnya Carolyn meminta bantuan pasangan suami istri cenayang Warren untuk membantu mereka hidup tenteram. Sejak pertama melangkahkan kaki, Ed dan Lorraine sudah merasakan kekuatan jahat yang amat kuat. Berhasilkah pengusiran tersebut dilakukan sebelum semuanya memburuk?

Skrip yang ditulis oleh duo Hayes,Chad dan Carey ini memang berdasarkan kisah nyata yang dituturkan langsung dari mulut Lorraine Warren dan Andrea Perron. Itulah sebabnya foto ataupun rekaman mereka turut dihadirkan sebagai bukti nyata kepada penonton baik melalui end credit title ataupun viral video film ini. Jika menilik materi sebetulnya nyaris tidak ada yang baru selain memaksimalkan trik-trik menakuti yang fresh dan terjaga kontinuitasnya dari awal sampai akhir. Background keluarga The Warrens dan The Perrons sendiri mendapati porsi memadai sehingga anda sulit untuk tidak peduli pada nasib mereka di sepanjang film.

Apabila ada yang berhak pertama kali mendapatkan kredit khusus adalah sang sutradara kelahiran Malaysia itu. Betapa tidak? Wan tampak sangat menguasai ‘panggung bermain’nya. Setting dibangun secara detil dimana setiap sudut dan ruang di seluruh area rumah mampu memberikan efek klastrofobik yang tidak menyenangkan. Permainan kamera dari John R. Leonetti selaku DOP sukses menampilkan trik yang smooth dengan angle yang juga variatif. Editing Kirk M. Morri juga terampil merajut scene demi scene sehingga jalinan kisahnya terasa padat dengan sedikit mengabaikan timeline yang berlaku
dimana sesungguhnya serentetan peristiwa terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang

Farmiga merupakan salah satu aktris favorit saya. Ia menokohkan Lorraine dengan sempurna dimana ikatan emosi antara ibu dan putrinya sendiri atau rasa peduli antara cenayang dan klien yang ditolongnya begitu terasa. Wilson juga efektif memerankan Ed yang logis dan percaya diri akan apa yang tengah dikerjakannya. Anda bisa jadi lupa pada sosok komedik Livingston yang mendominasi filmografinya karena tokoh Roger di tangannya cukup efektif meskipun terkesan satu dimensi. Acungan jempol patut dilayangkan pada Taylor yang amat cemerlang menjiwai karakter Caroline, seorang ibu rasional nan sensitif. Kelima aktris belia yang bermain sebagai anak-anak Perron juga mampu mencuri perhatian. Sama halnya dengan sang sherif dan asisten Ed yang mendapat screen time nya masing-masing.

The Conjuring memang berbeda dari horor modern yang lebih mengandalkan CGI ataupun efek visual demi menakuti penontonnya. Oleh karena itu citarasa horor lawas memang terjaga dimana tidak ada darah atau kesadisan sebagai gimmick pelengkap. Kekurangannya di mata saya adalah alurnya yang sedikit predictable dikarenakan hasil adaptasi dari kisah nyata, bukan fiksi seperti karya Wan sebelum dan sesudah yang satu ini. Walau demikian tensi yang terjaga dan terus meningkat hingga ending sudah cukup untuk mendirikan bulu kuduk anda secara konsisten di depan layar. Go see it with a bunch of friends for multiple pleasures!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$57,512,249 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 03 Maret 2012

SAFE HOUSE : Running Away With Intensity


Quotes:
Matt Weston: How am I supposed to get more experience by staring at four walls all day?

Nice-to-know:
Awalnya lokasi syuting direncanakan berlangsung di Rio de Janeiro tetapi rumah produksi membatalkannya dengan alasan keamanan.

Cast:
Denzel Washington sebagai Tobin Frost
Ryan Reynolds sebagai Matt Weston
Vera Farmiga sebagai Catherine Linklater
Brendan Gleeson sebagai David Barlow
Sam Shepard sebagai Harlan Whitford

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Daniel Espinosa setelah terakhir Outside Love (2007).

W for Words:
Denzel Washington merupakan satu dari sangat sedikitnya aktor kulit hitam terfavorit saya sepanjang masa dan menyaksikannya bersanding dengan idola masa kini Ryan Reynolds dalam sebuah action crime mystery membuat ekspektasi dan rasa penasaran semakin membuncah. Penulis naskah David Guggenheim dengan pintar memanfaatkan fasilitas rumah perlindungan sebagai sentralisasi cerita yang berkembang penuh intrik dan aksi tak terduga.
Tobin Frost merupakan pengkhianat legendaris yang ditangkap untuk menjalani proses interogasi mengenai berkas rahasia yang ia sembunyikan. Petugas CIA, Matt Weston yang ditugaskan menjaga rumah perlindungan di Johannesburg selama 12 bulan terakhir terpilih untuk mengawal Frost. Tak diduga, segerombolan penyusup bersenjata mengancam nyawa Tobin dan juga Matt yang harus melarikan diri dengan segala upayanya demi mempertahankan fakta yang rupanya jauh lebih berharga daripada nyawa.

Besar kemungkinan sutradara Daniel Espinosa terinspirasi oleh trilogy The Bourne Identity yang berkembang di tangan Paul Greengrass. Itu sebabnya kinerja kamera yang menangkap serentetan adegan aksi secara close up disajikan dengan senyata mungkin walaupun tak jarang “shaky” terlebih saat pengejaran ala cat and mouse. Richard Pearson juga memaksimalkan hasil editingnya untuk dapat memberikan penonton rasa mencekam dari apa yang mereka lihat dan dengar di saat yang bersamaan.
Apa yang dilakukan Denzel disini tak jauh berbeda dengan apa yang sudah anda lihat dalam Training Day ataupun Unstoppable dimana ia bertindak sebagai mentor atas rekan yang lebih muda. Perbedaannya adalah Washington dan Reynolds berhasil menguatkan posisi satu sama lain dengan penjiwaan yang teramat personal dan believeable. Baik Tobin maupun Matt tidak mengesankan superioritas yang mereka miliki sebagai agen CIA terlatih melainkan kemungkinan paling manusiawi untuk bertahan hidup dari situasi yang berbahaya sekalipun.

Di luar faktor rumah pengamanan yang dimanfaatkan secara maksimal sebagai setting lokasi, plot ceritanya sendiri masih menawarkan hal-hal klise yang mudah ditebak seiring dengan berjalannya durasi. Keistimewaannya terletak pada pengaturan tempo yang terasa tepat dalam membentuk sisi emosional yang diinginkan filmmakers atau penonton. Sekuens aksinya yang intens dijamin mengundang decak kagum para pecinta genre ini tanpa lupa menyebutkan berbagai twist and turns yang sebetulnya tidak terlalu mengejutkan lagi. Safe House is definitely a safe bet to fulfill your thirst for such mindless two hours entertainment!

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$81,812,440 till Feb 2012.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 14 Mei 2011

SOURCE CODE : Misi Ungkap Pelaku Pemboman Kereta

Quotes:
Colter Stevens: What would you do if you knew you only had one minute to live?
Christina Warren: I'd make those seconds count.

Storyline:
Pilot AU Amerika, C olter Stevens tiba-tiba terbangun dalam tubuh pria asing yang berprofesi sebagai guru bernama Sean Fentres. Di hadapannya duduk seorang wanita cantik, Christina Warren dan mereka tengah menikmati perjalanan kereta super cepat Chicago. Saat kebingungan mencari jawaban, 8 menit kemudian kereta meledak. Steven kembali ke dalam sebuah pod misterius dan mendapati dirinya berbicara dengan Goodwin yang mulai menjelaskan misinya untuk menemukan siapa pelaku pengeboman di kereta tersebut. Berulang kali “dikirim”, Steven harus menuntaskan kasus tersebut sekaligus mengetahui nasibnya sendiri dalam dunia paralel.

Nice-to-know:
Scott Bakula memulai pembicaraan via telepon dengan kalimat “Oh Boy" yang merupakan trademarknya dari serial Quantum Leap yang memiliki plot serupa dengan Source Code.

Cast:
Karirnya diawali di usia 11 tahun dalam City Slickers (1991), Jake Gyllenhaal berperan sebagai Colter Stevens.
Terakhir mendukung Somewhere dan Due Date di tahun 2010, Michelle Monaghan bermain sebagai Christina Warren
Vera Farmiga sebagai Colleen Goodwin
Jeffrey Wright sebagai Dr. Rutledge
Michael Arden sebagai Derek Frost

Director:
Merupakan film kedua bagi Duncan Jones setelah Moon (2009) yang dipuji para kritikus tersebut.

Comment:
Film ini seperti angin segar bagi bioskop-bioskop Indonesia di tengah krisis film yang melanda selama beberapa bulan terakhir. Jika ada yang mengatakan ide ceritanya campur aduk mulai dari Quantum Leap, Avatar, Inception ataupun sederetan judul lainnya sesungguhnya saya tidak terlalu peduli karena penulis Ben Ripley jelas punya “sesuatu” untuk disodorkan kali ini.
Siapa yang tidak ingin memiliki kesempatan untuk mengubah masa lalu? Rasanya semua orang akan mengangguk setuju dan mayoritas saya yakin akan berusaha menghapus catatan buruk tentang dirinya. Tujuannya jelas yakni memperbaiki masa depan alias nasib yang lebih baik lagi. Namun berapa banyak diantara anda yang mampu berpikir secara global dan melakukan semua itu demi kepentingan luas sekaligus mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi?





Manusia yang sangat langka tersebut dihidupkan dengan pas oleh Gyllenhaal. Kebingungan dan kemarahannya di awal proses menjalani “SUMBER” pada akhirnya bertransformasi menjadi aksi kepahlawanan seorang Colter Stevens. Monaghan seperti biasa mempesona dengan keluguan dan kebaikan hatinya sebagai Christina. Dua nama yang menyajikan akting paling memukau disini tentu saja Wright dan Farmiga sebagai Dr. Rutledge dan Goodwin yang misterius dan sempat berseberangan walau berada pada satu kapal.
Sutradara Jones tampaknya tidak mau terjebak pada thriller yang klise dan biasa-biasa saja. Opening “dejavu” yang cenderung mudah ditebak arahnya itu tiba-tiba digerakkan maju mundur dengan brilian sehingga membuat anda kerap bertanya-tanya. Setiap potongan puzzle bisa jadi kunci bagi adegan berikutnya. Keterbatasan ruang kereta sekalipun dapat dimaksimalkan untuk menjadi panggung teka-teki yang mengasyikkan. Tidak percaya?





Kekurangan film ini memang terbilang minimal. Salah satunya adalah bagaimana Colter Stevens yang notabene pria biasa memiliki kemampuan yang dapat dijajarkan dengan seorang superhero dengan segala kesigapan dan daya ingat yang luar biasa? Plus endingnya yang terlalu “bersahabat” setelah penjelasan panjang lebar yang memaksa penonton untuk dapat mengikuti logika sang penulis. Berhasil? Kemungkinan tidak bagi sebagian orang.
Source Code adalah sebuah suspense thriller yang cerdas. Pembahasan dua plot yang berjalan bersama (Colter Stevens dan Sean Fentres) diikuti pula oleh pengembangan karakter masing-masing tokoh hingga sampai pada konklusi yang memikat tanpa harus kehilangan elemen action itu sendiri. Tidak lupa pesan moral yang berusaha disisipkan mengenai pencarian kebahagiaan sejati serta bagaimana menghadapi dunia yang terkadang sinis akan eksistensi kita. Hiburlah diri anda dan temukan makna dari setiap detik yang disodorkan Duncan James di awal karir panjangnya ini.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$50,944,922 till May 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 07 Januari 2011

NOTHING BUT THE TRUTH : Reporter Wanita Berprinsip Menjadi Tahanan

Quotes:
Rachel Armstrong: A man leaves his family to go to jail to protect a principle, and they name a holiday after him. A man leaves his children to go fight in a war, and they erect a monument to him. A woman does the same thing, and she's a monster.

Storyline:
Reporter wanita Rachel Armstrong menulis cerita dalam sebuah kolom surat kabar mengenai Presiden yang menolak mengungkapkan keterlibatan CIA dalam peluncuran serangan udara di Venezuela dan ia menyebut nama Erica Van Doren sebagai salah satu agen CIA tersebut. Hal tersebut membuatnya menjadi tahanan dan dipaksa memberitahukan siapa sumbernya. Rachel menolak dan terpaksa menghabiskan hari-harinya di penjara dimana ia terpaksa mengabaikan fakta bahwa suaminya Ray dan putranya Timmy merindukan kehadirannya. Patton Dupois pun ditugaskan menginterogasi Rachel yang kemudian didampingi bossnya Bonnie dan pengacaranya Alan. Apa yang sesungguhnya dipertahankan Rachel dalam hidupnya?

Nice-to-know:
Rod Lurie membawa poligrafis asli untuk membuktikan ucapan tokoh yang dimainkan Vera Farmiga apakah ia bekerja untuk CIA atau tidak. Setelah syuting ternyata Farmiga berhasil menipu tes poligraf tersebut.

Cast:
Merupakan satu dari dua film yang dimainkan Kate Beckinsale sepanjang 2008 selain Winged Creatures. Saksikan aktingnya sebagai Rachel Armstrong, jurnalis yang harus dipenjara karena tulisannya.
Tahun 2007 lalu sempat cameo dalam serial kartun sukses The Simpsons, Matt Dillon kali ini bermain sebagai Patton Dubois.
Angela Bassett sebagai Bonnie Benjamin
Alan Alda sebagai Alan Burnside
Vera Farmiga sebagai Erica Van Doren
David Schwimmer sebagai Ray Armstrong
Courtney B. Vance sebagai Agent O'Hara
Noah Wyle sebagai Avril Aaronson
Preston Bailey sebagai Timmy Armstrong

Director:
Rod Lurie terakhir menggarap Resurrecting the Champ (2007).

Comment:
Saya tidak mengerti alasan film ini mengalami penundaan pemutaran regular begitu lama di Indonesia semenjak midnitenya. Padahal jarang sekali film Hollywood berkualitas serupa belakangan ini. Tidak perlu melihat terlalu jauh karena dari jajaran cast nya, anda akan menemukan nama-nama sekaliber Dillon, Beckinsale, Farmiga, Bassett, Schwimmer dll.
Rod Lurie bukan hanya berhasil menulis kisah yang sedikit berbau politik dari sudut pandang jurnalisme tetapi menyajikannya dalam unsur kemanusiaan yang kental. Tugas rangkap yang tidak mudah tentunya. Kesederhanaan gayanya dalam meramu plot dan mengeksekusinya dengan sewajar mungkin merupakan suatu kelebihan sendiri.
Beckinsale sebagai nyawa film ini tampil sangat brilian. Nominasi Aktris Terbaik Critics Choice Award 2009 pun akhirnya mampir di tangannya. Peran Rachel Armstrong dibawakan dengan penuh emosi yang teramat sangat wajar. Penonton akan diajak bersimpati mengikuti perjalanannya mempertahankan idealismenya walau harus mengorbankan diri sendiri dan keluarganya yang perlahan hancur. Bagaimana efek dipenjara dalam waktu yang cukup panjang dengan proses interogasi yang terus menerus sukses tergambar di wajahnya.
Saya selalu mengagumi Farmiga yang walau bukan fokus utama tetap memberikan kontribusi sendiri sebagai Erica Van Doren yang tangguh dan keras hati. Schwimmer yang biasanya tampil komedik kali ini bermain sebagai penulis yang juga seorang suami dan ayah yang tertekan oleh situasi. Jangan lupakan juga aktor kawakan Dillon yang justru terlihat antagonis disini sebagai penuntut yang tetap teguh memegang nilai-nilai hukum meski kadang bertentangan dengan hati nuraninya. Si kecil Bailey menunjukkan kelasnya sebagai calon aktor caliber masa depan sebagai Timmy. Very well done cast!
Terlepas dari alur lambat dan terlalu detail per adegan, Nothing But The Truth akan membuat anda mengerti kegelapan sisi terdalam seorang manusia saat dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit mengenai prinsipnya sendiri. Bagaimana pilihan tersebut bisa jadi berujung pada sebuah konsekuensi yang sangat tidak diharapkan kejadiannya. Simak endingnya yang simpel sekaligus menjawab segala pertanyaan yang tersimpan sepanjang film.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$3,045 till end of Dec 2008 (hanya 2 layar).

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 06 Maret 2010

UP IN THE AIR : Hidup Perjalanan Sang Eksekutor Pemecatan

Quotes:
Ryan Bingham: If you think about it, your favorite memories, the most important moments in your life... were you alone? Life's better with company.

Storyline:
Bekerja bertahun-tahun sebagai konsultan eksekutif di Omaha, Ryan Bingham menghabiskan waktu nyaris 320 hari dalam setahun dalam perjalanan antar negara bagian! Tujuannya hanya memecat orang seefektif mungkin. Tiba-tiba bosnya, Craig memiliki ide lain dengan melakukan semua tugas Ryan lewat teleconference webcam oleh pekerja baru yang pintar, Natalie Keener. Ryan yang terancam kedudukannya berusaha membuktikan bahwa apa yang sudah dilakukannya lebih tepat dengan mengajak Natalie ikut serta dalam perjalanannya sekaligus menurunkan ilmunya. Di sisi lain ketika adik kandungnya, Julie menikah, Ryan memutuskan untuk mengajak "teman kencannya", Alex Goran pulang ke kampung halamannya. Pada saat itulah, Ryan mulai merasakan sesuatu yang berubah dalam hidupnya.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel tahun 2001 berjudul sama karya Walter Kim, Sheldon Turner dan Jason Reitman berencana memfilmkan pada tahun 2002 tetapi rencananya dibatalkan dan baru terealisasi 7 tahun kemudian.

Cast:
Pernah memenangkan Oscar Aktor Terbaik lewat Syriana (2005), George Clooney membuktikan kualitas aktingnya sekali lagi dengan berperan sebagai Ryan Bingham yang terbiasa hidup praktis dalam perjalanan tanpa terikat hal apapun.
Terakhir bermain cemerlang dalam Orphan (2009), Vera Farmiga sebagai Alex Goran yang cantik independen.
Aktris muda potensial, Anna Kendrick yang baru saja mendukung New Moon (2009) bermain sebagai Natalie Keener, pekerja muda yang cerdas idealis.

Director:
Pernah mendapat nominasi Oscar dalam kategori Best Achievement in Directing lewat Juno (2008), Jason Reitman kali ini berusaha mengulangi pencapaian yang sama dalam film yang bertemakan unik dan fresh ini.

Comment:
Dengan tema yang simpel tetapi baru, film ini bertempo lambat tapi bercerita dengan sangat maksimal. Bagi setiap karyawan yang pernah mengalaminya, pemecatan bukanlah hal yang mudah diterima oleh subyek maupun obyeknya dan hal tersebut disajikan dengan sangat menarik disini. Dari segi cast, Clooney, Farmiga dan Kendrick masuk nominasi Aktor Utama Terbaik dan Aktris Pendukung Terbaik Oscar tahun ini sudah membuktikan kualitas yang mereka tampilkan. Clooney menunjukkan ketegaran dan kerapuhan seorang eksekutif kesepian sekaligus dengan brilian. Kendrick yang awalnya idealis tetapi semakin ragu dengan tujuan hidupnya sendiri. Farmiga yang menarik dan mandiri tetapi menyimpan rahasia besar. Ketiganya memperlihatkan chemistry yang sama baiknya ketika berhadapan satu sama lain. Belum lagi supporting cast yang juga bermain di atas rata-rata. Reitman sang sutradara juga berhasil melakukan eksekusi dengan cara yang luar biasa dengan mengatur kinerja aktor-aktrisnya ke bagian depan dan belakang dengan maksimal. Penonton mampu diajak tertawa lucu dan getir sambil memikirkan apa yang benar-benar penting dalam hidup mereka sekaligus bersyukur atas hal-hal normal yang dimiliki selepas meninggalkan gedung bioskop. Up In The Air adalah sebuah film menghibur dengan konsep cerdas dimana pengenalan karakternya seakan-akan tidak pernah cukup karena banyak sisi humanisme tersembunyi yang sepintas terlihat biasa saja tetapi sangat menarik untuk dieksplorasi.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$82,078,918 till end of Feb 2010

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 16 Agustus 2009

ORPHAN : Misteri Gadis Yatim Piatu Adopsi Keluarga Coleman

Tagline:
There's something wrong with Esther..

Quotes:
Esther-Please, Mommy. Don't let me die.
Kate Coleman-I'm not your fucking mommy!

Cerita:
John dan Kate Coleman mengalami masalah dalam perkawinan terlebih setelah anak ketiga mereka yang rencananya dinamakan Jessica meninggal dalam kandungan Kate. Berusaha mengatasi trauma, John dan Kate mendatangi panti asuhan dan jatuh cinta pada Esther, seorang gadis cilik 9 tahun yang santun dan cerdas. Segera saja Daniel dan Max memiliki saudari yang baru. Perlahan-lahan sikap Esther mulai berubah menjadi posesif dan sensitif. Kate yang pertama menyadarinya segera menghubungi Suster Abigail, kepala panti tempat Esther diadopsi. Petunjuk demi petunjuk semakin menguatkan kecurigaan Kate akan kemisteriusan Esther. Namun apakah semua misteri bisa diungkapkan sebelum terlambat?

Gambar:
Mengambil lokasi di Quebec dan Ontario, Kanada benar-benar pas untuk menggambarkan suasana keluarga Coleman yang jauh dari kehangatan serta lingkungan yang selalu tertutup salju.
Act:
Vera Farmiga mengawali karir layar lebarnya dalam The Butterfly Dance (1998) dan terus melejit namanya termasuk saat menjiwai karakter Kate Coleman yang berusaha bangkit dari trauma masa lalunya dengan keluarganya sendiri.
Dead Man Walking (2005) menjadi debut akting Peter Sarsgaard yang kali ini kebagian peran John Coleman, seorang ayah yang mencintai istri dan anak-anaknya ini.
Dipuji sebagai calon bintang setelah menjadi bintang tamu dalam serial teve Ghost Whisperer, Isabelle Fuhrman yang baru berusia 12 tahun kembali membuktikan bakatnya sebagai Esther, gadis cilik yatim piatu yang misterius sekaligus kejam.
Dua bintang cilik Jimmy Bennett dan Aryana Engineer juga tak kalah gemilang memerankan kakak beradik Daniel dan Max Coleman.

Sutradara:
Jaume Collet-Serra yang berkebangsaan Spanyol melejit lewat debutnya yang juga sebuah remake, House Of Wax (2005) yang cukup sukses dalam peredaran dunianya. Kini ia mempertahankan tensi thriller yang kurang lebih sama dalam Orphan walaupun memiliki storyline yang jauh berbeda.

Komentar:
Ini adalah film dewasa, bukan konsumsi anak-anak meskipun plotnya tentang pengadopsian anak yatim piatu. Lebih tepat disebut drama thriller psikologis daripada horor yang semula diperkirakan orang. Dan memang Orphan bercerita dengan runut sehingga terkesan sangat lambat terutama di bagian awal pengenalan keluarga Coleman secara detail. Tapi semua itu tertutupi dengan akting yang brilian dari lima karakter utama dan juga eksekusi sinematografi yang sangat baik dari sang sutradara. Belum lagi ditambah dengan background score yang semakin memperkuat adegan demi adegan. Plot cerita terkonstruksi dengan baik. Film ini tidak berusaha mengeksplorasi ketakutan dan rasa penasaran penonton, tetapi tetap menjaga penonton merasa tegang dan mereka-reka sampai semuanya terungkap di penghujung. Jika anda lelah atau bosan dengan horor/thriller yang biasa "berlebihan", saksikan film ini. Semua elemen pendukung yang brilian itu membuat saya berani memberikan poin tinggi walaupun mungkin tidak akan memenangkan penghargaan apapun!

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$38,346,772 till mid Aug 2009

Overall:
8.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 03 Agustus 2009

THE BOY IN THE STRIPED PYJAMAS : Persahabatan Dua Bocah Bertolak Latar Belakang

Quotes:
Bruno-Why do you wear pajamas all day?
Shmuel-The soldiers. They took all our clothes away.
Bruno-My dad's a soldier, but not the sort that takes people's clothes away.

Cerita:
Merasa bosan dan tidak nyaman di rumah barunya, Bruno, seorang anak lelaki polos berusia 8 tahun, tidak memperdulikan ayah-ibunya dan memulai suatu petualangan di hutan. Kemudian dia bertemu seorang anak lelaki plontos bernama Shmuel yang berusia sama dengannya. Lambat laun keduanya menjalin persahabatan yang dibatasi oleh kawat listrik. Apakah pada akhirnya Bruno yang anak komandan Jerman mengetahui bahwa Shmuel sesungguhnya adalah tawanan Yahudi ayahnya?

Gambar:
Bersetting di Budapest, Hungaria, film ini bisa dikatakan kaya dengan gambar-gambar alaminya termasuk rumah tahanan dan rumah komandan tentara yang terlihat sangat otentik.

Act:
Asa Butterfield yang sebelumnya tampil dalam Son of Rambow (2007) kali ini bermain mengesankan sebagai Bruno, anak lelaki yang tidak bahagia karena kondisi ayah-ibunya yang saling bertengkar dan kakak perempuan yang berbeda watak dengannya.
Tidak kalah gemilang dalam debut layar lebarnya, Jack Scanlon yang asal Inggris berperan sebagai Shmuel, anak tahanan Yahudi yang terbelenggu dan terbatas ruang geraknya.
Pernah mendukung film Oscar, The Departed (2006), Vera Farmiga juga terampil memerankan Ibu Bruno yang tertekan oleh kekejaman suaminya yang merupakan tentara Jerman sejati.

Sutradara:
Absen 5 tahun setelah menelurkan Hope Springs (2003), Mark Herman merupakan sutradara berbakat yang ada di luar pantauan. Ia sukses membawa film ini memenangkan Audience Choice Award bersama Slumdog Millionaire di ajang Chicago Film Festival 2008.

Komentar:
Diangkat dari novel laris karya John Boyne, The Boy In The Stripped Pyjamas mampu mentransformasikan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar yang mengagumkan. Cast yang kuat terutama Farmiga dan Butterfield berhasil mendukung penonton bersimpati pada mereka. Persahabatan yang terjalin antar dua bocah tersebut terasa natural dan berkembang dengan baik. Dari awal sampai akhir, film ini memang dirancang untuk menggugah sekaligus mengejutkan sehingga mungkin anda akan terpaku lama di bangku selepas endingnya berakhir. Ending dengan seribu arti yang tidak terjelaskan oleh kata-kata..

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$9,030,581 till Jan 2009

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!