XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label anna kendrick. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anna kendrick. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

50/50 : Cancer Movie With Tears, Laughs and Life Lessons


Quotes:
Adam: See, but... that's bullshit. That's what everyone has been telling me since the beginning. "Oh, you're gonna be okay," and "Oh, everything's fine," and like, it's not... It makes it worse... that no one will just come out and say it. Like, "hey man, you're gonna die."


Nice-to-know: 

Joseph Gordon-Levitt benar-benar membotaki kepalanya selama syuting. Bersama Seth Rogen, mereka berimprovisasi sambil direkam walau adegan yang dimaksud tidak ada dalam skrip. 

Cast: 

Joseph Gordon-Levitt sebagai Adam
Seth Rogen sebagai Kyle
Anna Kendrick sebagai Katherine
Bryce Dallas Howard sebagai Rachael
Anjelica Huston sebagai Diane
Serge Houde sebagai Richard
 


Director: 

Merupakan feature film ketiga bagi Jonathan Levine setelah The Wackness (2008).

W For Words: 
Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab kematian di dunia dimana jumlah penderitanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sudah banyak film yang mengangkat tema serupa, beberapa di antaranya yang memorable adalah Dying Young (1991), Biutiful (2010) atau Terms of Endearment (1993) yang sempat disebut-sebut dalam film ini. Dua nominasi di ajang Golden Globe 2012 untuk kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical dan Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Comedy or Musical untuk Joseph Gordon-Levitt tentu bukan prestasi sembarangan. Tak ada salahnya anda menyaksikan yang satu ini walau terlambat diputar di bioskop-bioskop Indonesia sekalipun.

Adam di usia 27 tahun adalah pemuda bergaya hidup sehat dan taat peraturan. Suatu hari ia memeriksakan diri ke dokter karena gangguan kesehatan yang berujung pada diagnosa tumor/kanker langka yaitu Schwannoma neurofibrosarcoma. Operasi pengangkatan yang dilakukan kemudian memiliki resiko keberhasilan lima puluh persen saja. Untuk itu ia berkonsultasi dengan terapis muda Katherine sambil mendapat dorongan semangat sahabat setianya Kyle dan ibunya yang dramatis, Diane. Berhasilkah Adam menghadapi tekanan berat dimana sisa waktunya mungkin tidak banyak lagi?

Penulis skrip Will Reiser berhasil menuangkan kisah hidupnya sendiri dengan kemiripan situasi dalam tokoh Adam. Itulah sebabnya perjalanan yang ada terasa jujur dan bermakna. Berbagai subplot yang sempat mengintervensi tidak mengganggu tapi memberikan pemahaman lebih dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimana Adam menyikapi garis takdirnya sendiri sebagai pilihan, positif atau negatif. Bagaimana orangtua, sahabat, kekasih dan orang-orang di sekitarnya merespon kemalangan Adam sesuai dengan karakteristik masing-masing yang amat manusiawi.

Tugas Levine sebagai sutradara jelas tidak mudah karena subyek yang ditanganinya cenderung sensitif. Untuk itu ia berusaha “meringankan” nuansa gelap atau depresi dengan sempilan komedi satir yang cukup efektif memancing tawa getir. Perubahan tone secara simultan dari drama ke komedi atau sebaliknya memang tidak mudah apalagi bisa mempengaruhi keseimbangan film. Oleh karena itu paruh terakhir film menjadi sedikit terganggu apakah harus memfokuskan diri pada Adam pribadi atau substansi hubungan yang dimiliki dengan orang-orang di sekelilingnya.
Beruntung penampilan aktor-aktris disini terbilang spesial. Gordon-Levitt memberikan kompleksitas emosional yang dibutuhkan pada karakter Adam. Seseorang yang biasa hidup lurus dan teratur diajak untuk moody dan spontan. Rogen menjiwai tokoh “get going” secara menyenangkan dimana joke kasar dan pikiran kotornya sangat kontradiktif dengan sohib kecilnya tersebut. Kendrick menjembatani kecanggungan hubungan terapis-pasien dengan believable walau kepedulian di luar batas normalnya sebenarnya tidak masuk akal. Dallas Howard terampil memerankan tipikal gadis cantik oportunis. Sama halnya dengan Huston yang cekatan menghidupkan sosok ibu overprotektif yang menanggung beban berat.  

Kualitas film yang di atas rata-rata mengingatkan saya akan Juno (2007) dengan warna yang kurang lebih sama. Ragam interaksi yang sangat membumi jelas saling mendukung dengan reaksi yang diharapkan dari seorang penderita kanker. Tebaran dialog cerdas, natural, hangat dan konyol akan menghadirkan tawa dan haru secara bersamaan dalam diri penonton. Simpati deras mengalir terhadap tokoh Adam yang sebetulnya bingung harus senang atau sedih. Kanker memang tak pernah mudah untuk dihadapi tapi jelas butuh semangat untuk melaluinya, sekecil apapun kemungkinannya. This is a perfect example to learn about it and be grateful for what you already have.

Durasi:
100 menit 

U.S. Box Office: 

$35,014,192 till Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 21 Oktober 2012

END OF WATCH : Heroism Charm Against Realism Crime

Quotes:
Mike Zavala: My Grandmother said, "If you can live without her, then man-up and cut her off. Don't string her along."

Nice-to-know:
Dua karakter utama dalam film berdasarkan kisah nyata petugas LAPD, Charles Wunder dan Jamie McBride yang bertandem di Divisi Newton pada pertengahan hingga akhir tahun 90an

Cast: 

Jake Gyllenhaal sebagai Brian Taylor
Michael Peña sebagai Mike Zavala
Natalie Martinez sebagai Gabby
Anna Kendrick sebagai Janet
David Harbour sebagai Van Hauser
Frank Grillo sebagai Sarge


Director: 

Merupakan film ketiga David Ayer setelah Street Kings (2008).

W For Words: 
Buddy cop movies. Berapa banyak judul hadir sebelumnya dengan premis serupa? Beberapa berkesan, beberapa tidak. Kombinasi dua orang yang berasal dari ras berbeda sejauh ini paling efektif mungkin ada pada Training Day (2001), The Fast and the Furious (2001), S.W.A.T. (2003) atau Rush Hour (1998). Konflik narkoba, senjata api serta pertentangan antar geng tentunya tidak asing lagi bagi seorang David Ayer yang hidup di South Central. Itulah sebabnya film produksi Exclusive Media Group, Emmett/Furla Films, Hedge Fund Film Partners, Le Grisbi Productions, Crave Films dan Envision Entertainment Corporation ini menarik untuk ditonton.

Dua petugas LAPD, Mike Zavala dan Brian Taylor ditugaskan berpatroli di South Central Los Angeles. Misi yang tidak mudah mengingat tingkat kejahatan tinggi yang berhubungan dengan narkoba, senjata api hingga human trafficking. Mike sendiri tengah menunggu istrinya Gabby melahirkan sedangkan Brian baru saja berkencan dengan Janet. Persahabatan mereka tak jarang diuji ketika harus melindungi satu sama lain termasuk ancaman pembunuhan yang datang setelah keterlibatan keduanya dalam pertikaian antar geng berbahaya.

Skrip film ini secara tak langsung menegaskan kekhawatiran masyarakat untuk dapat hidup tenang di kota besar seperti Los Angeles. It’s sad but true. Maraknya aksi kejahatan tak terduga tergambar lewat serangkaian kejadian dari yang ringan seperti laporan kehilangan anak dari keluarga junkie sampai yang disturbing seperti kawanan orang terpenjara untuk komoditas human trafficking. Itulah sebabnya para petugas polisi ditempatkan di Divisi dan Area masing-masing untuk berjaga-jaga. Tempo yang lambat terkadang membuat film ini menjadi terlalu episodik layaknya serial televisi mingguan.

Sutradara Ayer awalnya menggunakan konsep found-footage dari kamera yang terpasang di saku Brian. Gambar-gambar hasil shaky cam memang tak nyaman di mata tetapi berhasil menangkap realitas dengan nyata. Sudut pandang orang pertama semacam video game seakan langsung mengajak anda berpatroli menjelajah kompleks rumah/apartemen yang dianggap mencurigakan sambil menerka baha apa yang kira-kira mengancam. Sayangnya ia tidak cukup konsisten dengan gaya tersebut karena seiring film berjalan, format standar orang ketiga mulai dipakai untuk menyelaraskannya. 

Beruntung akting luar biasa Gyllenhaal dan Peña mampu menutupi kekurangan naratif tersebut. Anda akan menyukai sosok Mike dan Brian di sepanjang film serta mau peduli dengan bentuk kehidupan pribadi yang mereka jalani masing-masing. Chemistry bromance di antara keduanya pun tercipta melalui tokoh pria tangguh memesona Gyllenhaal dan family man sensitif Peña yang saling bertukar cerita baik serius maupun becanda. Aktris favorit saya Kendrick juga tidak mengecewakan sebagai kekasih pintar, pula Martinez yang menjelma sebagai istri suportif. Jangan lupakan penampilan berbagai tokoh antagonis kejam yang akan memancing emosi anda.

End Of Watch bisa saja menjelma sebagai crime thriller yang membosankan dengan dramatisir disana-sini. Namun karakterisasi yang kuat dari tokoh-tokoh utamanya meniadakan hal tersebut. Pertukaran peluru dan aksi pengejaran mungkin tidak sebanyak atau seintens yang anda harapkan tapi percayalah setiap subplot disini memiliki sesuatu untuk dikatakan. Saya sedikit menyesalkan tipikal ending yang “memihak” macam ini, di luar logika yang seharusnya terjadi. Ya, stereotype polisi kotor setidaknya bisa terhapus lewat heroisme Zavala dan Taylor kali ini. For seconds, you might believe that it’s a reality show.

Durasi: 
109 menit

U.S. Movie Box Office: 
$36,374,223 till October 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 19 Juli 2012

WHAT TO EXPECT WHEN YOU’RE EXPECTING : Expect Less For These Pre-parenthood Episodes


Quotes:
Wendy: I just wanted the glow. The one that they promise you on the cover of those magazines. Well, I'm calling it - pregnancy sucks. Making a human being is really hard. I have no control over my body or my emotions.  

Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada buku populer panduan kehamilan yang telah terjual lebih dari 14,5 juta kopi selama tahun 2011.

Cast:
Cameron Diaz sebagai Jules
Jennifer Lopez sebagai Holly
Elizabeth Banks sebagai Wendy
Chace Crawford sebagai Marco
Brooklyn Decker sebagai Skyler
Ben Falcone sebagai Gary
Anna Kendrick sebagai Rosie
Matthew Morrison sebagai Evan
Dennis Quaid sebagai Ramsey
Chris Rock sebagai Vic
Rodrigo Santoro sebagai Alex
Joe Manganiello sebagai Davis

Director:
Merupakan film keempat bagi Kirk Jones setelah Everybody’s Fine (2009) yang mengharu-biru itu.

W For Words:
Masih ingat kesuksesan Knocked Up (2007) dari Judd Apatow yang bertemakan persiapan kehamilan? Skrip yang dikerjakan duet penulis, Shauna Cross dan Heather Hach berdasarkan adaptasi buku karangan Heidi Murkoff ini tak hanya membahas satu pasangan melainkan lima sekaligus! Formula tema “dewasa” dikombinasikan dengan komedi yang belakangan terbukti sukses di pasaran Amrik apalagi dukungan ensemble cast yang tenar. Bukankah semua momen penting dalam hidup bisa ditertawakan karena relevansi yang begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari?

Pasangan dansa selebritis, Jules-Evan yang terkenal dengan gaya hidup sehat harus dikejutkan dengan kehamilan setelah berkencan selama beberapa bulan. Mantan pasangan masa SMU, Marco-Rosie yang sepakat kencan semalam justru dikaruniai kehamilan tak diinginkan. Fotografer bayi, Holly dan suami keras kepala Alex melulu gagal dalam terapi kehamilan hingga berniat mengadopsi bayi Ethiopia. Penasihat kehamilan Wendy mengalaminya sendiri saat berhenti berusaha bersama suaminya Gary Cooper yang kerap bersaing dengan ayah kandungnya, Ramsey Cooper yang baru menikahi gadis yang tiga puluh tahun lebih muda, Skyler.

Sutradara Jones berupaya keras menyeimbangkan unsur komedi satir sosial yang muncul dari sulitnya persiapan menjadi orangtua dengan elemen drama menyentuh yang timbul dari berharganya pengorbanan yang dilakukan untuk mencapai tahapan itu. Bukan hanya itu, sudut pandang antara pria dan wanita yang equal juga merupakan tantangan tersendiri untuk mengirimkan pesan yang universal bagi penontonnya. Dua konsistensi yang menurut saya masih hit and miss di sepanjang durasinya mengingat tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk tidak mengorbankan salah satunya.

Tiga nama yang paling memikat bagi saya kali ini adalah Elizabeth Banks, Anna Kendrick dan Ben Falcone. Lihat bagaimana emosionalnya tokoh Wendy ketika mendapati video pengaruh hormonnya ditonton jutaan orang di Youtube? Atau ngototnya tokoh Gary tatkala berhadapan dengan sang ayah yang selalu selangkah lebih maju? Atau mindernya tokoh Rosie yang merasa tidak menarik dan tidak pantas mendapat tempat di dunia ideal? Sedangkan pasangan yang mengajarkan banyak hal sekaligus adalah Holly dan Alex dimana kejujuran dan keikhlasan mereka memerlukan proses panjang yang tak jarang menggantungkan harapan pada bantuan orang lain.

Momen teraneh dalam film adalah sewaktu gerombolan ayah yakni Vic, Gabe, Craig dan Patel sering iri pada Davis yang selalu fit dan commitment-free seakan menjadi sindiran tersendiri bagi pria-pria berkeluarga. Rumput memang selalu tampak lebih hijau di sebelah jika kita tak cukup jauh menelaah. Pergeseran dari satu frame ke frame yang lain secara simultan mungkin mengingatkan anda pada apa yang dilakukan Garry Marshall dalam New Year’s Eve (2011) tapi sayangnya tidak dinamis dan terlalu banyak kesamaan yang bernada kebetulan dimana semua wanita tersebut melahirkan di malam yang sama pada rumah sakit yang sama pula? Maybe they called this: intertwining.

What To Expect When You’re Expecting tampak terlalu memaksakan diri untuk muat dalam kemasan komedi romantis dimana subplotnya sendiri terlalu variatif dengan multi-karakter yang dimensional. Segi humor yang disajikan cenderung garing dan membosankan. Beruntung masih ada berbagai momen menyentuh yang mampu menyelamatkan kualitas film yang samasekali tidak sulit ditebak arahnya ini. At one point I actually thought of heartbreaking end. Tontonan yang diperuntukkan sebagai gambaran akan sesuatu yang anda (akan) alami atau sekadar membayangkan saja. See it only if you wanna know about pregnancy and pre-parenthood process with lesser expectations.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$40,420,546 till July 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 06 Maret 2010

UP IN THE AIR : Hidup Perjalanan Sang Eksekutor Pemecatan

Quotes:
Ryan Bingham: If you think about it, your favorite memories, the most important moments in your life... were you alone? Life's better with company.

Storyline:
Bekerja bertahun-tahun sebagai konsultan eksekutif di Omaha, Ryan Bingham menghabiskan waktu nyaris 320 hari dalam setahun dalam perjalanan antar negara bagian! Tujuannya hanya memecat orang seefektif mungkin. Tiba-tiba bosnya, Craig memiliki ide lain dengan melakukan semua tugas Ryan lewat teleconference webcam oleh pekerja baru yang pintar, Natalie Keener. Ryan yang terancam kedudukannya berusaha membuktikan bahwa apa yang sudah dilakukannya lebih tepat dengan mengajak Natalie ikut serta dalam perjalanannya sekaligus menurunkan ilmunya. Di sisi lain ketika adik kandungnya, Julie menikah, Ryan memutuskan untuk mengajak "teman kencannya", Alex Goran pulang ke kampung halamannya. Pada saat itulah, Ryan mulai merasakan sesuatu yang berubah dalam hidupnya.

Nice-to-know:
Diangkat dari novel tahun 2001 berjudul sama karya Walter Kim, Sheldon Turner dan Jason Reitman berencana memfilmkan pada tahun 2002 tetapi rencananya dibatalkan dan baru terealisasi 7 tahun kemudian.

Cast:
Pernah memenangkan Oscar Aktor Terbaik lewat Syriana (2005), George Clooney membuktikan kualitas aktingnya sekali lagi dengan berperan sebagai Ryan Bingham yang terbiasa hidup praktis dalam perjalanan tanpa terikat hal apapun.
Terakhir bermain cemerlang dalam Orphan (2009), Vera Farmiga sebagai Alex Goran yang cantik independen.
Aktris muda potensial, Anna Kendrick yang baru saja mendukung New Moon (2009) bermain sebagai Natalie Keener, pekerja muda yang cerdas idealis.

Director:
Pernah mendapat nominasi Oscar dalam kategori Best Achievement in Directing lewat Juno (2008), Jason Reitman kali ini berusaha mengulangi pencapaian yang sama dalam film yang bertemakan unik dan fresh ini.

Comment:
Dengan tema yang simpel tetapi baru, film ini bertempo lambat tapi bercerita dengan sangat maksimal. Bagi setiap karyawan yang pernah mengalaminya, pemecatan bukanlah hal yang mudah diterima oleh subyek maupun obyeknya dan hal tersebut disajikan dengan sangat menarik disini. Dari segi cast, Clooney, Farmiga dan Kendrick masuk nominasi Aktor Utama Terbaik dan Aktris Pendukung Terbaik Oscar tahun ini sudah membuktikan kualitas yang mereka tampilkan. Clooney menunjukkan ketegaran dan kerapuhan seorang eksekutif kesepian sekaligus dengan brilian. Kendrick yang awalnya idealis tetapi semakin ragu dengan tujuan hidupnya sendiri. Farmiga yang menarik dan mandiri tetapi menyimpan rahasia besar. Ketiganya memperlihatkan chemistry yang sama baiknya ketika berhadapan satu sama lain. Belum lagi supporting cast yang juga bermain di atas rata-rata. Reitman sang sutradara juga berhasil melakukan eksekusi dengan cara yang luar biasa dengan mengatur kinerja aktor-aktrisnya ke bagian depan dan belakang dengan maksimal. Penonton mampu diajak tertawa lucu dan getir sambil memikirkan apa yang benar-benar penting dalam hidup mereka sekaligus bersyukur atas hal-hal normal yang dimiliki selepas meninggalkan gedung bioskop. Up In The Air adalah sebuah film menghibur dengan konsep cerdas dimana pengenalan karakternya seakan-akan tidak pernah cukup karena banyak sisi humanisme tersembunyi yang sepintas terlihat biasa saja tetapi sangat menarik untuk dieksplorasi.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$82,078,918 till end of Feb 2010

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!