Quote:
Lorraine Warren: You have a lot of spirits in here, but there is one I'm
most worried about because it is so hateful.
Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata di rumah keluarga Perron ini sudah
direncanakan selama 20 tahun terakhir. Inisiasi datang dari Ed Warren yang
memutar rekaman wawancaranya dengan Carolyn Perron kepada produser Tony
DeRosa-Grund.
Cast:
Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
Patrick Wilson sebagai Ed Warren
Lili Taylor sebagai Carolyn Perron
Ron Livingston sebagai Roger Perron
Shanley Caswell sebagai Andrea
Hayley McFarland sebagai Nancy
Joey King sebagai Christine
Mackenzie Foy sebagai Cindy
Kyla Deaver sebagai April
Director:
Merupakan feature film keenam bagi James Wan yang memulai karir
penyutradaraannya lewat Stygian (2000).
W For Words:
Sebutkan
salah satu horor paling berkesan yang pernah anda tonton. Rasanya saya akan
mendapatkan judul-judul seperti The Exorcist (1973), The Omen (1976) atau
mungkin The Amityville Horror (1979). Semuanya harus diakui telah menjadi cult
saat ini dimana berbagai versi remakenya bermunculan beberapa dekade
kemudian. Kali ini Evergreen Media Group, New Line Cinema dan The Safran
Company berupaya menghadirkan kembali horor bernuansa tahun 70an yang ditangani
oleh sutradara muda jempolan generasi baru di genre yang sudah membesarkan
namanya yaitu James Wan. Indeed, he’s Asian!
Tahun 1971, Carolyn dan Roger Parren pindah ke rumah lading di daerah terpencil
Rhode Island bersama kelima putri mereka yaitu Andrea, Nancy, Christine, Cindy
dan April. Suasana baru yang menenangkan tak lama kemudian berganti menjadi
mimpi buruk ketika satu persatu anggota keluarga diteror oleh makhluk gaib yang
lebih dulu mendiami rumah tersebut. Lewat referensi akhirnya Carolyn meminta
bantuan pasangan suami istri cenayang Warren untuk membantu
mereka hidup tenteram. Sejak pertama melangkahkan kaki, Ed dan Lorraine sudah
merasakan kekuatan jahat yang amat kuat. Berhasilkah pengusiran tersebut
dilakukan sebelum semuanya memburuk?

Skrip yang ditulis oleh duo Hayes,Chad dan Carey ini memang berdasarkan kisah nyata yang dituturkan langsung dari mulut
Lorraine Warren dan Andrea Perron. Itulah sebabnya foto ataupun rekaman mereka
turut dihadirkan sebagai bukti nyata kepada penonton baik melalui end credit
title ataupun viral video film ini. Jika menilik materi sebetulnya nyaris tidak
ada yang baru selain memaksimalkan trik-trik menakuti yang fresh dan terjaga
kontinuitasnya dari awal sampai akhir. Background keluarga The Warrens dan The
Perrons sendiri mendapati porsi memadai sehingga anda sulit untuk tidak peduli
pada nasib mereka di sepanjang film.
Apabila ada yang berhak pertama kali mendapatkan kredit khusus adalah sang
sutradara kelahiran Malaysia itu. Betapa tidak? Wan tampak sangat menguasai
‘panggung bermain’nya. Setting dibangun secara detil dimana setiap sudut dan
ruang di seluruh area rumah mampu memberikan efek
klastrofobik yang tidak menyenangkan. Permainan kamera dari John R. Leonetti
selaku DOP sukses menampilkan trik yang smooth dengan angle yang juga variatif.
Editing Kirk M. Morri juga terampil merajut scene demi scene sehingga jalinan
kisahnya terasa padat dengan sedikit mengabaikan timeline yang berlaku dimana sesungguhnya
serentetan peristiwa terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang.

Farmiga merupakan salah satu aktris favorit saya. Ia menokohkan Lorraine
dengan sempurna dimana ikatan emosi antara ibu dan putrinya sendiri atau rasa
peduli antara cenayang dan klien yang ditolongnya begitu terasa. Wilson juga
efektif memerankan Ed yang logis dan percaya diri akan apa yang tengah
dikerjakannya. Anda bisa jadi lupa pada sosok komedik Livingston yang
mendominasi filmografinya karena tokoh Roger di tangannya cukup efektif
meskipun terkesan satu dimensi. Acungan jempol patut dilayangkan pada Taylor
yang amat cemerlang menjiwai karakter Caroline, seorang ibu rasional nan
sensitif. Kelima aktris belia yang bermain sebagai anak-anak Perron juga mampu
mencuri perhatian. Sama halnya dengan sang sherif dan asisten Ed yang mendapat screen time nya masing-masing.
The Conjuring memang berbeda dari horor modern yang lebih mengandalkan CGI
ataupun efek visual demi menakuti penontonnya. Oleh karena itu citarasa horor
lawas memang terjaga dimana tidak ada darah atau kesadisan sebagai gimmick pelengkap. Kekurangannya di mata
saya adalah alurnya yang sedikit predictable
dikarenakan hasil adaptasi dari kisah nyata, bukan fiksi seperti karya Wan
sebelum dan sesudah yang satu ini. Walau demikian tensi yang terjaga dan terus
meningkat hingga ending sudah cukup untuk mendirikan bulu kuduk anda secara
konsisten di depan layar. Go see it with
a bunch of friends for multiple pleasures!
Durasi:
112 menit
U.S. Box Office:
$57,512,249 till Jul 2013
Overall:
8.5 out of 10
Movie-meter: