XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label patrick wilson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patrick wilson. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 September 2013

INSIDIOUS : CHAPTER 2 Lambert’s Horror Saga Goes Full Circle


Quote:
Young Elise Rainier: In my line of work things tend to happen when it gets dark.

Nice-to-know:
Ketika Specs dan Tucker memasuki rumah Elise, terdapat lukisan African Tribal tergantung di dinding. Sama persis dengan yang ada di kamar Daniel dan rumah nenek di Paranormal Activity 2 dan 3.

Cast:
Patrick Wilson sebagai Josh Lambert
Rose Byrne sebagai Renai Lambert
Ty Simpkins sebagai Dalton Lambert
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Barbara Hershey sebagai Lorraine Lambert
Steve Coulter sebagai Carl
Leigh Whannell sebagai Specs
Angus Sampson sebagai Tucker


Director:
Merupakan feature film ketujuh bagi James Wan yang memulainya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Masih segar dalam ingatan bagaimana The Conjuring sukses menakuti jutaan penonton Indonesia dua bulan lalu. Film yang kemudian menjadi summer hit dimana-mana bahkan dinobatkan sebagai salah satu horor terbaik sepanjang masa. Berlebihan? Tidak. We all know the mastermind behind it. None other than the talented James Wan. Pria kelahiran Malaysia tersebut, bahkan sebelum dua filmnya di tahun 2013 beredar, sudah menyatakan cukup dengan genre yang satu ini. Kabar yang tidak menggembirakan mengingat tak banyak sutradara yang ahli sepertinya. Namun keputusan tersebut dirasa masuk akal, terlebih semua trik miliknya mungkin sudah dikeluarkan, dimana anda akan mulai terbiasa dibuatnya. His bag of tricks might be empty after this! Let him fastforward to FF7 then.

Kematian misterius cenayang Elise Rainier membuat polisi mencurigai Josh Lambert sebagai pelakunya meski sang istri Renai membela habis-habisan. Mereka sepakat mengungsi ke rumah masa kecil demi suasana baru bersama sepasang putra Dalton-Jordan dan bayi mereka Cali. Lambat laun kelakuan Josh mulai aneh, bersamaan dengan teror supernatural yang menghampiri Renai. Ibu Josh, Lorraine lantas menghubungi rekan lama Elise, Carl untuk menguak misteri masa lalu dengan bantuan dua asisten Elise, Specs dan Tucker di sebuah rumah sakit tua sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Dua tahun lalu Insidious menggebrak dengan horor psikologis yang memperkenalkan proyeksi astral. Penulis Whannell dan Wan langsung melanjutkan kejadian dari ending tersebut hingga membentuk satu kesatuan utuh. Klausa sebab akibat dijelaskan melalui dua plot yang berjalan bersisian. Beruntung mereka tidak terang-terangan mendikte logika penonton saat melakukannya. Nalar kita tetap dibiarkan bebas berasumsi sekaligus menganalisa di sepanjang prosesnya. Tidak sulit bagi anda yang memiliki banyak referensi dari puluhan (bahkan ratusan) horror/thriller sebelumnya.

Wilson dan Byrne yang pada prekuelnya mendapat karakter 'linier' kali ini berkesempatan lebih untuk mengeksplorasi kemampuan akting mereka. Shaye yang sebenarnya digambarkan sudah tiada justru masih memegang peranan kunci di sini. Begitupun Hershey yang harus menggunakan ingatan masa lampaunya untuk menarik benang merah dari semua kutukan yang menimpa. Duet pinpinbo Whannell dan Sampson memang berfungsi mencairkan suasana mencekam dengan aksi komedi mereka di beberapa bagian. Si kecil Simpkins yang sebelumnya menjadi sentral cerita di sini kebagian porsi yang minim tapi memorable, terlebih di bagian ber'telepon'. Penampilan Fitzpatrick dan Bisutti terbilang tidak mengecewakan walaupun harus terbantu dengan tim make-up dan wardrobe.
Sutradara Wan memang mahir menerapkan slogan, "It comes when least expected." Adegan-adegan yang dijamin membuat anda terpekik atau terlompat dari kursi. Setting rumah masa kecil Josh yang dominan warna lampu merah kuning temaram dengan ruang yang saling terhubung sudah cukup efisien sebagai panggung bercerita, ditambah lagi dengan rumah sakit terbengkalai yang menyimpan banyak misteri gelap. Konsep ruang dan waktu yang saling bertubrukan mungkin akan menjadi pertanyaan anda. Sah-sah saja mengingat selalu ada 'pintu' psikologis yang bisa menjungkirbalikan seluruh peristiwa. Scoring music dari Joseph Bishara kian memperkuat nuansa creepy yang dibangun. Judul ber font merah dan sound yang mendirikan bulu kuduk yang mengiringinya bahkan masih dipertahankan.

Insidious Chapter 2 terlepas dari pergeseran genre menjadi psychological thriller yang justru lebih menonjolkan kekerasan fisik tetap memikat sebagai tontonan yang tak boleh dilewatkan. Uniknya bagi saya yang beragama Buddha, premis film ini sangat kental dengan hukum karma dan hypnotherapy yang belakangan kerap dibahas. Bagaimana seseorang melacak masa lalunya untuk memperbaiki apa yang salah. Bagaimana karma seseorang bisa mempengaruhi karma orang lain. Tak ada pengulangan formula yang biasanya jadi stereotype sebuah sekuel. It will come in full circle. Another benchmark in Wan's young career that should be fully appreciated. It’s not only about haunted house but keeping what you love most before taken away.

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$69,349,509 till September 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 26 Juli 2013

THE CONJURING : Old Fashioned Scares That Summon Your Fears


Quote:
Lorraine Warren: You have a lot of spirits in here, but there is one I'm most worried about because it is so hateful.

Nice-to-know:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata di rumah keluarga Perron ini sudah direncanakan selama 20 tahun terakhir. Inisiasi datang dari Ed Warren yang memutar rekaman wawancaranya dengan Carolyn Perron kepada produser Tony DeRosa-Grund.

Cast:
Vera Farmiga sebagai Lorraine Warren
Patrick Wilson sebagai Ed Warren
Lili Taylor sebagai Carolyn Perron
Ron Livingston sebagai Roger Perron
Shanley Caswell sebagai Andrea
Hayley McFarland sebagai Nancy
Joey King sebagai Christine
Mackenzie Foy sebagai Cindy
Kyla Deaver sebagai April

Director:
Merupakan feature film keenam bagi James Wan yang memulai karir penyutradaraannya lewat Stygian (2000).

W For Words:
Sebutkan salah satu horor paling berkesan yang pernah anda tonton. Rasanya saya akan mendapatkan judul-judul seperti The Exorcist (1973), The Omen (1976) atau mungkin The Amityville Horror (1979). Semuanya harus diakui telah menjadi cult saat ini dimana berbagai versi remakenya bermunculan beberapa dekade kemudian. Kali ini Evergreen Media Group, New Line Cinema dan The Safran Company berupaya menghadirkan kembali horor bernuansa tahun 70an yang ditangani oleh sutradara muda jempolan generasi baru di genre yang sudah membesarkan namanya yaitu James Wan. Indeed, he’s Asian!

Tahun 1971, Carolyn dan Roger Parren pindah ke rumah lading di daerah terpencil Rhode Island bersama kelima putri mereka yaitu Andrea, Nancy, Christine, Cindy dan April. Suasana baru yang menenangkan tak lama kemudian berganti menjadi mimpi buruk ketika satu persatu anggota keluarga diteror oleh makhluk gaib yang lebih dulu mendiami rumah tersebut. Lewat referensi akhirnya Carolyn meminta bantuan pasangan suami istri cenayang Warren untuk membantu mereka hidup tenteram. Sejak pertama melangkahkan kaki, Ed dan Lorraine sudah merasakan kekuatan jahat yang amat kuat. Berhasilkah pengusiran tersebut dilakukan sebelum semuanya memburuk?

Skrip yang ditulis oleh duo Hayes,Chad dan Carey ini memang berdasarkan kisah nyata yang dituturkan langsung dari mulut Lorraine Warren dan Andrea Perron. Itulah sebabnya foto ataupun rekaman mereka turut dihadirkan sebagai bukti nyata kepada penonton baik melalui end credit title ataupun viral video film ini. Jika menilik materi sebetulnya nyaris tidak ada yang baru selain memaksimalkan trik-trik menakuti yang fresh dan terjaga kontinuitasnya dari awal sampai akhir. Background keluarga The Warrens dan The Perrons sendiri mendapati porsi memadai sehingga anda sulit untuk tidak peduli pada nasib mereka di sepanjang film.

Apabila ada yang berhak pertama kali mendapatkan kredit khusus adalah sang sutradara kelahiran Malaysia itu. Betapa tidak? Wan tampak sangat menguasai ‘panggung bermain’nya. Setting dibangun secara detil dimana setiap sudut dan ruang di seluruh area rumah mampu memberikan efek klastrofobik yang tidak menyenangkan. Permainan kamera dari John R. Leonetti selaku DOP sukses menampilkan trik yang smooth dengan angle yang juga variatif. Editing Kirk M. Morri juga terampil merajut scene demi scene sehingga jalinan kisahnya terasa padat dengan sedikit mengabaikan timeline yang berlaku
dimana sesungguhnya serentetan peristiwa terjadi dalam kurun waktu yang lebih panjang

Farmiga merupakan salah satu aktris favorit saya. Ia menokohkan Lorraine dengan sempurna dimana ikatan emosi antara ibu dan putrinya sendiri atau rasa peduli antara cenayang dan klien yang ditolongnya begitu terasa. Wilson juga efektif memerankan Ed yang logis dan percaya diri akan apa yang tengah dikerjakannya. Anda bisa jadi lupa pada sosok komedik Livingston yang mendominasi filmografinya karena tokoh Roger di tangannya cukup efektif meskipun terkesan satu dimensi. Acungan jempol patut dilayangkan pada Taylor yang amat cemerlang menjiwai karakter Caroline, seorang ibu rasional nan sensitif. Kelima aktris belia yang bermain sebagai anak-anak Perron juga mampu mencuri perhatian. Sama halnya dengan sang sherif dan asisten Ed yang mendapat screen time nya masing-masing.

The Conjuring memang berbeda dari horor modern yang lebih mengandalkan CGI ataupun efek visual demi menakuti penontonnya. Oleh karena itu citarasa horor lawas memang terjaga dimana tidak ada darah atau kesadisan sebagai gimmick pelengkap. Kekurangannya di mata saya adalah alurnya yang sedikit predictable dikarenakan hasil adaptasi dari kisah nyata, bukan fiksi seperti karya Wan sebelum dan sesudah yang satu ini. Walau demikian tensi yang terjaga dan terus meningkat hingga ending sudah cukup untuk mendirikan bulu kuduk anda secara konsisten di depan layar. Go see it with a bunch of friends for multiple pleasures!

Durasi:
112 menit

U.S. Box Office:
$57,512,249 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 21 Oktober 2011

THE LEDGE : Tepian Keputusan Pertentangan Keagamaan

Quotes:
Gavin Nichols: Love the Sinner, hate the sin?


Storyline:
Seorang polisi, Hollis yang baru mendapati dirinya memiliki putra-putri bukan dari benihnya ditugasi menuju puncak sebuah gedung tinggi. Disana ada Gavin yang berniat melompat bunuh diri sewaktu jam menunjukkan tepat tengah hari. Ia dirundung masalah ketika teman sekamarnya Chris yang gay divonis HIV+ belum lagi Shana, pegawainya di hotel tengah menjalani rumah tangga yang tidak bahagia dengan Joe, Kristen taat yang menganggap setiap tindakannya sesuai dengan ajaran Alkitab. Waktu yang tersisa harus disiasati Hollis untuk mengubah pikiran Gavin. Adakah motivasi lain yang melingkupinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Film & Entertainment VIP Medienfonds 4 GmbH & Co. KG bersama dengan Modern VideoFilm dan sudah rilis di Amerika Serikat pada tanggal 10 Juli 2011 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya mendukung Children of Men (2006), Charlie Hunnam berperan sebagai Gavin Nichols
Mengawali karir aktris dalam film Silent Fall (1994), Liv Tyler bermain sebagai Shana
Patrick Wilson sebagai Joe Harris
Terrence Howard sebagai Hollis Lucetti
Christopher Gorham sebagai Chris

Director:
Merupakan film keempat bagi Matthew Chapman sekaligus yang pertama dalam 13 tahun terakhir sejak Heart of Midnight (1988).

Comment:
Perselingkuhan bukanlah tema baru dalam sebuah film, dari kelas Oscar hingga kelas abal-abal sekalipun, maaf saya tidak berbicara mengenai film biru disini. Namun bagaimana jika hal tersebut digabungkan dengan aspek religius, pertentangan Kristen dengan atheis mengenai konsep hubungan cinta berlawanan jenis dalam pernikahan atau sesama jenis dalam komitmen itu sendiri? Jawabannya tertuang dalam drama thriller yang diproduseri salah satunya oleh Mark Damon ini.
Penulis sekaligus sutradara Chapman dengan cerdas mengambil gaya penceritaan flashback yang tidak biasa dengan simpanan twist spesial di ujung film yang membuat antusiasme penonton tetap terjaga. Penetrasi terhadap konflik dilakukan secara detail perlahan-lahan dari sudut pandang keempat tokohnya secara bergantian yakni Gavin, Shana, Joe, Chris disamping peran Hollis sebagai negosiator pihak ketiga. Sisi emosionalnya pun terjaga dengan rapi, tidak lemah tapi tidak dipaksakan berlebihan.

Hunnam adalah aktor Inggris yang berhasil membuat aksen Amerika. Karakternya abu-abu disini, hitam sebagai pria yang gagal mempertahankan rumah tangga sekaligus putih sebagai pria yang berusaha membangun cinta baru. Semakin kompleks dengan filosofi atheis yang mempengaruhi setiap tindak tanduknya yang terkesan “semau gue” itu. Chemistrynya dengan Tyler cukup manis, dimana keduanya dapat dikatakan sama-sama pernah gagal dalam hidup.
Wilson dan Howard, which happen to be two of my fave actors, melakoni karakter Joe dan Hollis dengan mengesankan. Satu pria fundamental yang secara mengejutkan diplot sebagai tokoh antagonis kali ini. Padahal jika dicermati, ia hanyalah pria Kristen biasa yang melindungi apa yang dimilikinya berdasarkan keyakinan yang kuat selayaknya menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri. Sedangkan satu lagi mempertanyakan kesetiaan istrinya sendiri hingga mengancam keutuhan keluarganya yang nyaris sempurna itu.

Chapman juga mempertahankan eksplorasi topik sensitif dalam film ini agar tidak terkesan menimbulkan argumentasi keras dari golongan tertentu. Dialog-dialog yang tercipta tidak menggurui tetapi mampu memprovokasi secara positif sehingga amat mendekati kenyataan. Banyak sekali bahasa tubuh dari karakter-karakter utama yang sudah lebih dari cukup untuk menerjemahkan sisi perspektif psikologis yang dihadapi masing-masing, apalagi dibantu dengan music scoring dari Nathan Barr.
The Ledge adalah mainstream movie yang bermuatan diskusi teologi yang menarik. Bagi anda yang kadar keagamaannya tidak terlalu dominan bisa jadi akan lebih mudah jatuh hati pada tokoh Gavin. Sebuah contoh kasus kompleksitas karakter yang multi-dimensi yang mampu dijembatani secara utuh terhadap penonton. Terkadang suara hati memang berbeda dengan keyakinan manusia yang sesungguhnya. Itulah sebabnya anda dipersilakan mengambil posisi pengamat di sebuah tepian yang sangat menentukan langkah selanjutnya menuju pilihan-pilihan hidup.

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$5,176 till July 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 18 Juni 2011

INSIDIOUS : Proyeksi Astral Pengundang Arwah Baka

Quotes:
Foster Lambert: Dalton scares me when he gets up and walks around at night.

Storyline:
Pasutri sempurna, Renai dan Josh Lambert memiliki 3 orang anak masing-masing Dalton, Foster dan Cal pindah ke rumah baru. Di suatu pagi setelah malamnya terjatuh, Josh mendapati Dalton koma. Tidak ada penjelasan medis yang dapat diterima logika hingga akhirnya setelah 3 bulan, Dalton dirawat di rumah. Semenjak itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai terjadi. Renai yang stress meminta ibu mertuanya, Lorraine untuk menemani. Penasaran dengan misteri yang melingkupi, Lorraine memanggil sahabat lamanya Elise untuk menganalisa apa yang sesungguhnya melanda rumah tersebut.

Nice-to-know:
Pada adegan dimana Josh membubarkan kelasnya, anda akan melihat nama sutradara James Wan di papan tulis hitam digarisbawahi dua kali serta coretan boneka puppet SAW yang terkenal itu.


Cast:
Reuni keduanya dengan Simpkins setelah Little Children (2006), Patrick Wilson berperan sebagai Josh Lambert
Pernah menerima nominasi Aktris Pendukung Terbaik lewat Damages (2007) dalam ajang Golden Globe, Rose Byrne bermain sebagai Renai Lambert
Debutnya dalam remake War Of The Worlds (2005), Ty Simpkins kebagian peran Dalton Lambert
Lin Shaye sebagai Elise Rainier
Barbara Hershey sebagai Lorraine Lambert

Director:
Merupakan feature film kelima bagi James Wan yang mulai dikenal namanya lewat Saw (2004).

Comment:
Rumah berhantu. Rasanya sudah jutaan kali anda pernah mendengar frase tersebut dalam konteks sebuah film horor. Berharap menemukan hal yang sama dalam film yang satu ini? Nanti dulu. Penulis Leigh Whannell jelas memiliki “sesuatu” dalam skripnya kali ini, sebuah twisted plot yang tidak baru tapi berhasil dikombinasikan dengan begitu kreatifnya sehingga terciptalah film horor modern bercitarasa klasik. Curious? You should be..
Masih ingat nama James Wan? Pria Malaysia otak di balik SAW yang legendaris itu? Skill thriller dan horror nya tidak perlu diragukan lagi karena dari sanalah ia berhulu. Saya justru berpendapat disini James seperti Raja Midas dengan sentuhan emasnya. Apapun yang dilakukan James dalam mendirikan bulu kuduk sangatlah berhasil mulai dari lighting, angle kamera, setting, eksekusi, pengarahan cast hingga spesial efek (sound/visual). Dan agar bernuansa tradisional khas 80an, James memilih warna pucat yang dominan abu-abu, hitam, putih sebagai main colornya. Smart choice!
Semua gimmick horor yang pernah ada di pikiran anda diwujudkan oleh James dalam durasi lebih kurang seratus menit. Sebut saja rumah tua, loteng gelap, pintu terbanting, kamera infrared, suara bisikan, lantai berderit, anak kesurupan, pengusir hantu, foto penampakan dsb. Belum lagi sosok horor macam nenek rambut panjang, pria jubah hitam, iblis merah dll dijamin akan mengisi kepala anda dalam jangka waktu yang tidak pendek.
Paruh pertama film ini memang murni menyajikan atmosfir rumah berhantu yang dibangun secara perlahan untuk membuat anda terus bersugesti dalam mood yang tidak mengenakkan. Sedangkan paruh kedua menjelang akhir, tensinya terasa dipercepat hingga membuat anda tersengal-sengal bernafas dalam ketakutan yang tidak terbayangkan. James will drive you crazy scary both in slow and quick heartbeat racing!
Wilson sekali lagi membuktikan kualitas aktingnya dimana Josh tidaklah kompulsif tapi mampu mengakomodir istri dan anaknya dengan masuk akal. Byrne juga tidak mengecewakan sebagai Renai yang tertekan dan bingung menghadapi situasi yang demikian tak lazim itu. Dua aktris watak kawakan yaitu Shaye dan Hershey menerjemahkan karakter masing-masing dengan determinasi tinggi, begitu pula Whannell dan Sampson secara jenaka bertindak layaknya anggota The Ghostbusters!
Terus terang saya tidak mudah ditakuti oleh film horor apapun juga. Namun harus saya akui Insidious adalah one of the scariest movies of all time yang mampu membuat anda terpaku dalam kengerian tanpa batas sambil merasakan degup jantung yang tidak menentu. Saya yakin anda akan merasakannya pula dan bisa jadi merasa paranoid setelah meninggalkan gedung bioskop. Tapi ini bukanlah akhir dari penderitaan 100 menit anda karena bersiaplah terbayang-bayang oleh creepy images yang secara otomatis terekam dalam memori terlebih saat harus sendiri memasuki rumah kosong anda. Berani? Karena jika tidak anda akan melewatkan kesempatan “What it feels like to be scared out of your skulls for once in your lifetime?”

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$53,010,822 till June 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 19 September 2010

THE SWITCH : Kedewasaan Dua Sahabat Besarkan Anak

Quotes:
Wally Mars-Did you just use my name as a verb?

Storyline:
Wally dan Kassie telah bersahabat lama hingga mereka selalu berbagi satu sama lain. Tiba saatnya Kassie memutuskan untuk melakukan inseminasi buatan karena yakin tidak akan bertemu jodohnya dan tidak mau usianya terlambat mengandung. Wally yang diam-diam menyukai Kassie pun membantah ide gila tersebut. Namun tekad Kassie sudah bulat dan lewat sebuah pesta ia bertemu dengan Roland yang bersedia mendonorkan spermanya. Secara tidak sengaja ketika sedang mabuk, Wally malah menumpahkan botol sample itu dan menukarnya dengan miliknya sendiri. Bertahun-tahun rahasia tersebut disimpan hingga nasib mempertemukan Wally dengan Kassie lagi yang telah membesarkan seorang diri. Akankah terjadi sesuatu di antara mereka?

Nice-to-know:
Film pertama Miramax setelah dijual Walt Disney Company ke Colony Capital.

Cast:
Pernah meraih Golden Globe lewat serial televisi Arrested Development di tahun 2003, Jason Bateman bermain sebagai Wally.
Memenangkan Golden Globe lewat serial televisi Friends di tahun 1994, Jennifer Aniston berperan sebagai Kassie.
Patrick Wilson sebagai Roland
Jeff Goldblum sebagai Leonard
Juliette Lewis sebagai Debbie
Thomas Robinson sebagai Sebastian

Director:
Kerjasama kedua Josh Gordon dan Will Speck setelah Blades of Glory (2007).

Comment:
Entah sudah berkali-kali film mengenai wanita yang menjalani inseminasi buatan diproduksi sebelumnya. Rasanya baru kemarin The Back Up Plan (2009) menyambangi kita di bioskop-bioskop ibukota. Apa yang bisa membuat film ini berbeda?
30 menit pertama nyaris sama saja dengan yang sudah-sudah bahkan tingkah Bateman yang sedikit over-the-top cukup menyebalkan. Namun pergerakan setelahnya cukup di luar dugaan dimana plot mengalir lancar dan sangat dewasa. Meskipun mudah ditebak arahnya tetapi tidaklah klise karena karakterisasi para tokohnya dikembangkan dengan baik. Duet sutradara Gordon dan Speck memperpanjang cerita pendek karangan Jeffrey Eugenides dengan gaya penyutradaraan yang baik, tentunya hal ini tak lepas dari campur tangan sang penulis All Loeb yang kreatif dalam menyusun skrip itu.
Bateman layak mendapat bintang disini. Ia begitu mendominasi scene dan transformasi sikapnya sangat terasa disini dari seseorang yang kekanak-kanakan menjadi seseorang yang bertanggungjawab. Aniston berakting tanpa improvisasi yang signifikan dari apa yang ia perlihatkan dalam chick-flick serupa. Perubahan dari wanita singel yang mapan hingga menjadi single mother tidak terlalu terasa. Si kecil Robinson ternyata cukup mahir beraksi di depan kamera, lihat bagaimana sorot matanya yang berbicara dan gayanya yang kalem. Sedangkan Goldblum dan Wilson sebagai supporting cast lumayan memberi kontribusi pelengkap.
The Switch adalah komedi romantis yang tidak berfokus pada proses menuju cinta itu sendiri melainkan bagaimana seorang pria dan wanita dewasa mampu bersikap di atas situasi yang canggung dan tidak mengenakkan. Suguhan menghibur dan bisa jadi menginspirasi pria-wanita 40 tahunan yang kebetulan belum menikah di luar sana.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$27,207,766 till end of Sep 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 13 September 2009

EVENING : Nostalgia Masa Muda Di Usia Senja

Quotes:
Ray-Mistakes are beautiful, baby. Mistakes are part of the fun.

Cerita:
Menjelang ajalnya, Ann Lord kerapkali menyebutkan nama Harris sambil mengingat masa 50 tahun lalu saat ia masih menjadi penyanyi paruh waktu. Ia melakukan perjalanan dari New York demi menghadiri pernikahan sahabatnya Lila Wittenborn di Newport sekaligus menjadi pengiringnya. Ann Grant disambut oleh saudara Lila, Buddy yang menaruh hati padanya. Buddy bercerita bahwa sesungguhnya Lila jatuh hati pada Harris Arden yang memiliki daya tarik tinggi. Alih-alih menghindari, Ann malah terlibat affair singkat dengan Harris. Pada akhirnya semua hanyalah kenangan belaka dan kedua putri Ann, Nina dan Constance memiliki perbedaan mendasar satu sama lain yang disebabkan masa lalu ibunya.

Gambar:
Keindahan New York dan Rhode Island di masa 1950an tergambar dengan jelas, pemandangan senja dan malam hari mendominasi scene.

Act:
Claire Danes memulai aktingnya dalam Dreams of Love (1990) dan kali ini kebagian peran Ann Grant dimana ia dituntut untuk bernyanyi dan berekspresi sebagai gadis oportunis yang berkepribadian hangat.
Aktor berusia 36 tahun ini pertama muncul dalam My Sister's Wedding (2001). Disini Patrick Wilson bermain sebagai Harris Arden, bekas pekerja militer yang juga seorang dokter lapangan.
Didukung oleh belasan nama ternama seperti Meryl Streep, Glenn Close, Eileen Atkins, Vanessa Redgrave, Hugh Dancy, Mamie Gummer dll.

Sutradara:
Pria kelahiran Hungaria 63 tahun yang lalu bernama Lajos Koltai ini lebih sering bertindak sebagai sinematografer untuk film-film Jerman ataupun Perancis semasa karirnya.

Komentar:
Film adaptasi yang cukup pintar dari sebuah novel yang bagus. Alur maju mundur yang digunakan tetap mampu mengeksplorasi beberapa karakter utama secara konsisten. Dari segi cast tidak perlu diragukan lagi, nama-nama kondang yang sudah jaminan mutu turut mendukungnya. Acungan jempol patut dilayangkan pada Claire Danes yang memperlihatkan kemampuan bernyanyinya, juga Patrick Wilson yang menunjukkan kharismanya dengan gemilang. Permasalahan keluarga yang diangkat terasa nyata karena siapapun mungkin menyesali kehidupannya terutama jika dipandang dari usia lanjut. Yang sedikit dipertanyakan adalah solusi yang bisa jadi kelewat rapi dibandingkan kehidupan sesungguhnya. Tetapi lihatlah Evening dari sudut pandang personal, kita akan menemui banyak nilai kehidupan yang patut direnungkan. Sayangnya alur lambat yang digunakan rasanya cukup menyiksa penonton untuk tetap duduk manis.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$12,406,646 till July 2007

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 05 Mei 2009

WATCHMEN : Reuni Superhero Berbuntut Misteri

Quotes:
Adrian Veidt-It doesn't take a genius to see the world has problems.
Edward Blake-No, but it takes a room full of morons to think they're small enough for you to handle.
----------
Rorschach-A Comedian died last night, and nobody cares. Nobody cares but me.
----------
D
an Dreiberg-Maybe this was a political killing?
Rorschach-Maybe. Or maybe someone's picking off costumed heroes.
Dan Dreiberg-Um. Don't you think that's maybe a little paranoid?
Rorschach-That's what they're saying about me now? That I'm paranoid?

Cerita:
Sekitar 1985, masa-masa pahlawan dan penjahat berkostum telah berakhir, Pemerintah tenang dan rakyat menyikapi revolusi dengan biasa. Namun saat satu pahlawan bertopeng ditemukan tewas mengenaskan, investigasi kembali dimulai. Sekelompok pahlawan super pun mau tidak mau bereuni kembali untuk menghindari kehancuran kubu mereka. Tetapi hal tersebut tidaklah mudah karena konspirasi dan akar permasalahan sangat rumit dan perlu penelusuran lebih dalam. Masing-masing pahlawan tersebut juga harus menghadapi ego dan karakteristik mereka yang unik sekaligus kompleks.

Gambar:
Seakan bergaya grafis dengan dominan warna biru gelap, gambar-gambar Watchmen bisa dibilang stylish membaur dengan kostum warna-warni superhero yang mencolok.

Act:
Malin Akerman sebagai Laurie Jupiter / Silk Spectre II yang seksi dengan balutan kostum kuning.
Billy Crudup sebagai Dr. Manhattan / Jon Osterman yang sepanjang film hanya sebagai grafis bayangan biru dimana sesungguhnya telanjang dalam komiknya tapi mengenakan cawat pada filmnya.
Matthew Goode sebagai Adrian Veidt / Ozymandias pernah mendukung Chasing Liberty (2004) bersama Mandy Moore.
Jackie Earle Haley sebagai Rorschach yang selalu bertopeng kain putih dengan siluet hitam yang membentuk dan mengikuti ekspresinya.
Jeffrey Dean Morgan terkenal dari serial Supernatural kali ini bermain sebagai The Comedian / Edward Blake yang kasar dan playboy.
Belum lama ini tampil dalam Passengers (2008), Patrick Wilson cukup konsisten karir aktingnya. Sebagai Nite Owl II disini, Patrick memperlihatkan karakter pahlawan super yang cool.
Carla Gugino yang pernah mendukung Spy Kids berperan sebagai Silk Spectre I.


Sutradara:
Pria kelahiran Wisconsin 1 Maret 1966, Zack Snyder angkat nama lewat karya perdananya Dawn of the Dead (2004) yang cukup sukses itu. Reputasinya dipertaruhkan saat membesut Watchmen yang dahulu komiknya populer tapi proyek layar lebarnya selalu tertunda sampai akhirnya terealisasi. Hasilnya? Patut berkaca dahulu pada angka box-office film ini di Amerika dan seluruh dunia.

Komentar:
Penonton Watchmen mungkin akan terbagi dua kubu yaitu mereka yang membaca komiknya dan yang tidak. Hal itupun yang mempengaruhi hasil akhir film ini dimana sebagian menyukai film ini dan sebagian tidak. Yang pasti Watchmen menampilkan film superhero yang berbeda dari yang pernah ada, nuansa gelap sangat terasa karena menampilkan kelemahan dan sisi lain dari masing-masing karakter pahlawan super tersebut. Bagaimana mereka saling berinteraksi, bersahabat sekaligus diam-diam bersaing satu sama lain. Tergantung selera anda apakah bisa menerima gaya seperti itu atau tidak untuk bertahan di bangku bioskop sampai film yang berdurasi panjang ini berakhir. Di samping itu nikmati saja semua adegan pertempuran yang menarik untuk diikuti karena memperhatikan detail dengan didukung grafis spesial efek yang sangat baik.

Soundtrack:
”The Times They Are A’Changin” by Bob Dylan
”Hallelujah” by Leonard Cohen
”First We Take Manhattan” by Janis Joplin
”Me and Bobby McGee” by Janis Joplin
”All Along The Watchtower” by Jimi Hendrix
”The Sounds of Silence” by Paul Simon
”99 Luftballons” by Nena
”I’m Your Boogie Man” by KC & The Sunshine Band
”Everybody Wants to Rule the World” by Tears for Fears
”Prophecies” by The Philip Glass Ensemble
”Pruit Igoe” by The Philip Glass Ensemble
”Desolation Row” by My Chemical Romance
”Unforgettable” by Nat King Cole

Durasi:
150 menit

U.S. Box Office:
$107,061,353 till end of April 2009

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 12 Maret 2009

PASSENGERS : Konseling Penumpang Selamat Kecelakaan Pesawat

Quotes:
Eric-What is scary about commitment is that your life becomes real. It is not a plan, it is not what you had hoped for - it is real.

Storyline:
Setelah kecelakaan pesawat, terapis muda bernama Claire ditugaskan atasannya untuk sesi konseling lima penumpang yang selamat. Satu persatu mulai mengungkapkan pengalamannya sekaligus penjelasan yang mungkin berguna untuk melacak penyebab sayap pesawat terbakar terlebih dahulu. Tetapi ada satu pasien yang paling menarik di mata Claire yaitu Eric yang tertutup. Lambat laun kedekatan Claire dan Eric berubah menjadi cinta. Satu persatu dari lima penumpang tersebut mulai menghilang secara misterius. Claire pun mencurigai adanya konspirasi maskapai di balik semua itu. Namun siapa dalang yang sesungguhnya bertanggungjawab?

Nice-to-know:
Keseluruhan syuting dilaksanakan di British Columbia, Kanada.

Cast:
Terakhir dipuji dalam Rachel Getting Married, Anne Hathaway berperan sebagai Claire Summer, terapis cantik yang khusus menangani orang-orang yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang yang fatal.
Pada tahun 2004 dinominasikan sekaligus dalam Golden Globe dan Emmy Award lewat Angels In America, Patrick Wilson kali ini bermain sebagai Eric, salah satu korban selamat yang juga bermasa lalu kelam.

Director:
Pria kelahiran Colombia bernama Rodrigo Garcia ini terakhir menangani 22 episode serial televisi In Treatment. The Passengers adalah film layar lebarnya yang kelima.

Comment:
Dari segi cerita, film ini mengalir lembut nyaris tanpa riak dari awal sampai akhir. Sangat kental dengan unsur drama psikologis daripada sebutan thriller yang disematkannya. Anda mungkin akan mengalami kebosanan. Beruntung dari cast, mereka memiliki Hathaway yang tampil berkharisma sebagai terapis muda yang sepintas kelihatan kuat tetapi kesepian di dalamnya. Wilson juga seperti biasa bermain memikat sebagai pemuda mandiri tetapi rapuh. Interaksi keduanya juga menarik. Sayangnya tidak banyak penjelasan mengenai masa lalu mereka berdua yang seharusnya bisa dieksplorasi lebih detail lagi untuk memperkuat konflik yang ada. Pengalaman sejauh ini di dunia pertelevisian, sang sutradara Garcia malah seperti membawa film ini menjadi tampilan serial televisi mingguan. Sungguh! Anda yang mengharapkan elemen-elemen horor tidak akan menemukannya disini. Twist penting di endingnya juga tidak akan terlalu mengejutkan karena beberapa film sejenis sudah mengungkapkannya terlebih dahulu. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, jajaran cast lah yang menolong film ini dari penilaian buruk para kritikus sekaligus penonton awam.

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
€561,000 (Italy) till end of 2008

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!