XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label kate beckinsale. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kate beckinsale. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

TOTAL RECALL : Reinvent Memories That Easily Forgotten

Quote:
Doug Quaid: If I'm not me, then who the hell am I?

Nice-to-know:
Sesungguhnya Ethan Hawke melakukan monolog sebanyak lima halaman skrip dalam film ini. Namun adegannya tidak dimasukkan dalam final cut walau tetap menjadi bagian dalam viral marketing.

Cast:
Colin Farrell sebagai Douglas Quaid / Hauser
Kate Beckinsale sebagai Lori Quaid
Jessica Biel sebagai Melina
Bryan Cranston sebagai Cohaagen
Bokeem Woodbine sebagai Harry
Bill Nighy sebagai Matthias
John Cho sebagai McClane



Director:
Merupakan feature film keempat bagi Len Wiseman setelah terakhir menggarap Live Free Or Die Hard (2007).

W For Words:
Cerita pendek karya Phillip K. Dick di tahun 1966 yang berjudul “We Can Remember It for You Wholesale” telah menginspirasi Paul Verhoeven untuk membesut Total Recall (1990). Dua puluh dua tahun kemudian, Len Wiseman sepakat untuk meremakenya. Perbedaan paling mencolok tentunya setting yang berpindah dari Mars ke Bumi. Jika anda sudah lupa versi terdahulunya maka biarkan saja seperti itu. Tak perlu menontonnya kembali sebagai referensi ataupun pemanasan versi terbarunya ini demi obyektifitas yang lebih netral. Just a suggestion though.

Dunia masa depan telah terbagi menjadi dua yaitu The United Federation of Britain dan The Colony. Seorang pekerja yang tinggal di UFB, Douglas Quaid hidup cukup berbahagia dengan istrinya, Lori meski selalu terganggu dengan mimpi buruk yang sama terus menerus. Penasaran, Doug menyambangi The Rekall yang diyakini mampu menanamkan ingatan palsu akan bentuk kehidupan yang diinginkan. Sayangnya proses yang terlalu instan itu membuat Doug bingung menentukan identitas mana yang sesungguhnya dimiliki sambil berupaya menghindari pihak-pihak yang memburunya.

Kembalinya Farrell sebagai leading actor jelas nilai tambah tersendiri. Lupakan Arnold Schwarzenegger karena Doug di tangannya lebih manusiawi, berjuang dalam kebingungan mereka-reka identitas aslinya sekaligus berhati-hati dalam mempercayai orang-orang di sekitarnya. Simpati anda akan muncul terhadapnya. Penampilan Beckinsale sebagai Lori yang tangguh dan tricky disini memang mempesona walaupun sangat mengingatkan anda pada karakter Selene dalam franchise Underworld. Biel dan Cranston meski tampil memikat tapi terasa minim pengaruhnya terhadap kesolidan jalan cerita.

Sutradara Wiseman memperkenalkan kita pada Bumi yang sebagian besarnya tak lagi bisa ditinggali karena bencana pencemaran kimia. Panggung sains fiksi futuristik yang dirasa cukup untuk membangun konflik yang kerapkali harus diselesaikan dengan baku tembak atau baku hantam yang stylish. Sederetan adegan aksi yang akan menjaga intensitas anda dalam menyaksikannya disuguhkan secara ciamik lewat penempatan multi kamera yang variatif untuk menangkap sudut-sudut yang tak terjangkau oleh mata sekalipun. 

Lumayan banyak pertanyaan tak terjawab dalam film ini seperti: Mengapa Britain terhindar dari bencana kimia yang menghancurkan seluruh belahan bumi utara? Mengapa para pekerja di Colony masih melakukan pekerjaan simultan monoton yang seharusnya bisa digantikan oleh robot? Sebagai gantinya, kecanggihan teknologi niscaya mampu menggelitik daya pikir anda seperti handphone yang terintegrasi di tangan manusia, robot yang mampu berkomunikasi lewat tulisan di bagian wajahnya serta proyeksi empat dimensi yang dapat berinteraksi terbatas.

Keunggulan demi keunggulan Total Recall sebagai non-stop action memang menyenangkan tapi tidak mampu menutupi kekosongan esensi di dalamnya yang membuatnya mudah terlupakan begitu saja. Beragam elemen cerita familiar dari Blade Runner (1982), Pitch Black (2000), Minority Report (2002), Star Wars: Episode II — Attack of the Clone (2002) serasa dipinjam untuk dilebur menjadi satu. Bagi mereka yang tak pernah mengenal versi lamanya mungkin dapat mengapresiasi. Namun generasi lama bisa jadi mencibir sambil berupaya memulihkan ingatan mereka seperti sediakala tanpa harus memasuki Rekall yang baru ini.

Durasi:
118 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 07 Februari 2012

UNDERWORLD : AWAKENING Kebangkitan Keturunan Dunia Baru


Quotes:
Selene: For 12 years, I was held captive by the humans. The world I once knew has changed. Vampires and Lycans are now the hunted.


Nice-to-know:
Tanggal rilis film ini tepat sama dengan Underworld : Evolution (2006) atau 6 tahun lalu.


Cast:
Kate Beckinsale
sebagai Selene

Stephen Rea
sebagai Dr. Jacob Lane

Michael Ealy
sebagai Detective Sebastian

Theo James
sebagai David

India Eisley sebagai Eve
Charles Dance
sebagai Thomas


Director:
Feature film pertama bagi Måns Mårlind dan Björn Stein yang sebelumnya menangani berbagai film televisi.


W for Words:
Tak kurang 6 nama yang terlibat dalam penulisan skrip sekaligus pengembangan karakter untuk installment keempat ini. Namun ide cerita tetap dipegang oleh Len Wiseman yang berhasil menggaet istrinya Kate Beckinsale untuk kembali mengisi peran utama yaitu vampir Selene yang telah menjelma menjadi ikon franchise ini. Sebagai inovasi, film ini dirilis langsung dalam format Real-D, Real-3D bahkan Imax-3D sekaligus yang pertama dari empat seri yang sudah ada.

Ketika manusia mengetahui keberadaan Vampire dan Lycan, perang digelorakan untuk memusnahkan kedua golongan tersebut. Selene yang tengah menyelamatkan kekasihnya Michael tertangkap dan dibekukan dalam kondisi terluka. 12 tahun kemudian, Selene terbangun dalam peti kaca es dan mendapati sosok gadis kecil Eve yang dicurigai sebagai keturunannya bersama Michael. Selene pun harus mencari jawaban sambil memimpin peperangan melawan manusia sekaligus Lycan yang ternyata bertambah kuat.


Tak dipungkiri film ini terasa seperti episode serial televisi yang diperpanjang. Hal ini dikarenakan duet sutradara Måns Mårlind dan Björn Stein lebih berpengalaman dalam bidang tersebut. Adegan aksi seru bertubi-tubi disuguhkan meski dalam setting yang juga tidak terlalu wah. Efek CGI murahan tampak pula pada kreasi makhluk lycan/vampire yang tidak jauh berbeda dengan True Blood ataupun Supernatural. Elemen 3D tidak terlalu istimewa karena setting waktu yang dominan di malam hari.

Kate Beckinsale memang masih memukau sebagai Selene yang cantik tangguh berdarah dingin dalam kostum kulit ketat melakukan semua aksi memukaunya. Karakternya sedikit berkembang dengan kehadiran Eve yang banyak mempertanyakan naluri keibuannya tapi tidak banyak eksplorasi yang dilakukan disini. Di luar faktor Beckinsale, tidak ada karakter pendukung yang kuat disini. Theo James, Michael Ealy ataupun Stephen Rea terkesan hanya sebagai pelengkap saja, tidak seperti installment sebelumnya yang lebih kaya kontribusi terhadap ceritanya.

Underworld : Awakening jelas hanya diperuntukkan bagi para pecinta franchise ini yang kangen sekaligus penasaran akan kiprah Selene dalam menjaga “keseimbangan” dunia. Lebih mudah dinikmati sebagai stand alone movie karena tiada kompleksitas mitos “dunia bawah” seperti yang tersaji dalam episode pendahulunya. Bombardir action dalam tempo cepat memang dilakukan untuk menutupi kedangkalan plot dalam sekuel yang tampaknya masih akan menginisiasi sekuel berikutnya. Thankfully this time still works well!

Durasi:
88 menit

U.S. Box Office:
$44,978,415 till Jan 2012.


Overall:
7.5 out of 10


Movie-meter:



Notes: Art can’t be below 6 6-poor 6.5-poor but still watchable 7-average 7.5-average n enjoyable 8-good 8.5-very good 9-excellent

Rabu, 25 Januari 2012

CONTRABAND : Terjun Kembali Kapal Penyelundupan Narkoba


Quotes:
Chris Farraday: You think you're the only guy with a gun?

Nice-to-know:
Baltasar Kormákur yang menyutradarai film ini adalah aktor utama Reykjavik-Rotterdam yang kemudian diremakenya itu.

Cast:
Mark Wahlberg sebagai Chris Farraday
Ben Foster sebagai Sebastian Abney
Kate Beckinsale sebagai Kate Farraday
Giovanni Ribisi sebagai Tim Briggs
Connor Hill sebagai Michael
Robert Wahlberg sebagai John Bryce
Caleb Landry Jones sebagai Andy

Director:
Merupakan film Hollywood pertama bagi Baltasar Kormákur.

W for Words:
Mantan napi yang kembali lagi ke dunia hitam karena situasi yang tidak terhindarkan, semisal anggota keluarga yang terjerat hutang atau musuh lama yang membuat perhitungan dsb memang selalu menjadi tema yang kerapkali diangkat dalam sebuah film aksi, tanpa terkecuali yang satu ini. Jujur saya antusiasme saya nyaris tidak ada lagi mengingat banyaknya kemiripan dengan film-film sebelumnya. Apalagi film remake ini sepertinya lebih dikategorikan sebagai film kelas B.
Cerita asli yang ditulis oleh Arnaldur Indriðason dan Óskar Jónasson yang kemudian digubah oleh Aaron Guzikowski ini bertutur mengenai mantan penyelundup, Chris Farraday yang harus terlibat sekali lagi dalam aksi kotor demi menyelamatkan iparnya Andy dari tangan mafia kejam Tim Briggs. Dengan bantuan sahabat karibnya Sebastian, Chris tidak kesulitan mengumpulkan kru kapal dalam perjalanan menuju Panama untuk bekerjasama memasok narkoba dalam jumlah besar.

Film yang bertemakan pembajakan biasanya memberikan detil perencanaan yang memikat. Namun sutradara Baltasar Kormákur memilih tidak melakukannya sehingga penonton hanya bisa meraba-raba lewat serangkaian elemen suspensi yang tidak maksimal. Adegan aksi yang diharapkan seru nyatanya terjadi dalam porsi kecil, padahal anda sudah dihadapkan pada para kriminal, penyelundup, senjata, mobil, penyanderaan bahkan soundtrack blues ala New Orleans yang kental!
Mark Wahlberg pernah melakukan hal serupa dalam The Italian Job (2003) yang menjadi favorit saya itu. Sayangnya kali ini ia berakting dengan datar. Entah apa motivasinya memilih peran yang itu-itu saja, mudah-mudahan bukan karena uang sebab kita semua tahu bahwa ia adalah aktor laga yang cukup kompeten. Ben Foster dan Giovanni Ribisi justru bermain dengan esensi yang lebih baik, dimana antipati penonton mampu timbul menyaksikan aksi kotor mereka.

Contraband memang masih dapat dinikmati tetapi tidak dapat dikatakan bagus. Jika anda sempat menyaksikan trailernya yang dibuat dramatis dengan sempilan musik latar penggugah jiwa, tidak demikian dengan isi filmnya itu sendiri. Kesalahan utama mungkin ada pada penampilan para castnya yang kurang maksimal tetapi andil Kormákur dalam eksekusi ide cerita dan pengarahan aktor-aktrisnya jelas tidak bisa diabaikan begitu saja. Semua terserah anda jika masih bersemangat menyaksikan kapal pengangkut container yang bergerak lambat dengan aksi penyelundupan yang diperpanjang.

Durasi:
109 menit

U.S. Box Office:
$45,937,525 till Jan 2012.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 07 Januari 2011

NOTHING BUT THE TRUTH : Reporter Wanita Berprinsip Menjadi Tahanan

Quotes:
Rachel Armstrong: A man leaves his family to go to jail to protect a principle, and they name a holiday after him. A man leaves his children to go fight in a war, and they erect a monument to him. A woman does the same thing, and she's a monster.

Storyline:
Reporter wanita Rachel Armstrong menulis cerita dalam sebuah kolom surat kabar mengenai Presiden yang menolak mengungkapkan keterlibatan CIA dalam peluncuran serangan udara di Venezuela dan ia menyebut nama Erica Van Doren sebagai salah satu agen CIA tersebut. Hal tersebut membuatnya menjadi tahanan dan dipaksa memberitahukan siapa sumbernya. Rachel menolak dan terpaksa menghabiskan hari-harinya di penjara dimana ia terpaksa mengabaikan fakta bahwa suaminya Ray dan putranya Timmy merindukan kehadirannya. Patton Dupois pun ditugaskan menginterogasi Rachel yang kemudian didampingi bossnya Bonnie dan pengacaranya Alan. Apa yang sesungguhnya dipertahankan Rachel dalam hidupnya?

Nice-to-know:
Rod Lurie membawa poligrafis asli untuk membuktikan ucapan tokoh yang dimainkan Vera Farmiga apakah ia bekerja untuk CIA atau tidak. Setelah syuting ternyata Farmiga berhasil menipu tes poligraf tersebut.

Cast:
Merupakan satu dari dua film yang dimainkan Kate Beckinsale sepanjang 2008 selain Winged Creatures. Saksikan aktingnya sebagai Rachel Armstrong, jurnalis yang harus dipenjara karena tulisannya.
Tahun 2007 lalu sempat cameo dalam serial kartun sukses The Simpsons, Matt Dillon kali ini bermain sebagai Patton Dubois.
Angela Bassett sebagai Bonnie Benjamin
Alan Alda sebagai Alan Burnside
Vera Farmiga sebagai Erica Van Doren
David Schwimmer sebagai Ray Armstrong
Courtney B. Vance sebagai Agent O'Hara
Noah Wyle sebagai Avril Aaronson
Preston Bailey sebagai Timmy Armstrong

Director:
Rod Lurie terakhir menggarap Resurrecting the Champ (2007).

Comment:
Saya tidak mengerti alasan film ini mengalami penundaan pemutaran regular begitu lama di Indonesia semenjak midnitenya. Padahal jarang sekali film Hollywood berkualitas serupa belakangan ini. Tidak perlu melihat terlalu jauh karena dari jajaran cast nya, anda akan menemukan nama-nama sekaliber Dillon, Beckinsale, Farmiga, Bassett, Schwimmer dll.
Rod Lurie bukan hanya berhasil menulis kisah yang sedikit berbau politik dari sudut pandang jurnalisme tetapi menyajikannya dalam unsur kemanusiaan yang kental. Tugas rangkap yang tidak mudah tentunya. Kesederhanaan gayanya dalam meramu plot dan mengeksekusinya dengan sewajar mungkin merupakan suatu kelebihan sendiri.
Beckinsale sebagai nyawa film ini tampil sangat brilian. Nominasi Aktris Terbaik Critics Choice Award 2009 pun akhirnya mampir di tangannya. Peran Rachel Armstrong dibawakan dengan penuh emosi yang teramat sangat wajar. Penonton akan diajak bersimpati mengikuti perjalanannya mempertahankan idealismenya walau harus mengorbankan diri sendiri dan keluarganya yang perlahan hancur. Bagaimana efek dipenjara dalam waktu yang cukup panjang dengan proses interogasi yang terus menerus sukses tergambar di wajahnya.
Saya selalu mengagumi Farmiga yang walau bukan fokus utama tetap memberikan kontribusi sendiri sebagai Erica Van Doren yang tangguh dan keras hati. Schwimmer yang biasanya tampil komedik kali ini bermain sebagai penulis yang juga seorang suami dan ayah yang tertekan oleh situasi. Jangan lupakan juga aktor kawakan Dillon yang justru terlihat antagonis disini sebagai penuntut yang tetap teguh memegang nilai-nilai hukum meski kadang bertentangan dengan hati nuraninya. Si kecil Bailey menunjukkan kelasnya sebagai calon aktor caliber masa depan sebagai Timmy. Very well done cast!
Terlepas dari alur lambat dan terlalu detail per adegan, Nothing But The Truth akan membuat anda mengerti kegelapan sisi terdalam seorang manusia saat dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit mengenai prinsipnya sendiri. Bagaimana pilihan tersebut bisa jadi berujung pada sebuah konsekuensi yang sangat tidak diharapkan kejadiannya. Simak endingnya yang simpel sekaligus menjawab segala pertanyaan yang tersimpan sepanjang film.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$3,045 till end of Dec 2008 (hanya 2 layar).

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 14 November 2010

EVERYBODY'S FINE : Perjalanan Orangtua Mengunjungi Anak-Anaknya

Quotes:
Rosie-We could just talk to mom.
Frank Goode-Oh, but you couldn't just talk to me?
Rosie-Well she was a good listener, you were a good talker.
Frank Goode-Well so that's good, we made a good team.

Storyline:
Frank Goode hidup sendirian di Elmira, New York selepas kematian istrinya beberapa bulan yang lalu. Kesepian yang melanda setelah pensiun dari pabrik, Frank bertekad mengunjungi keempat anak-anaknya yang ia pikir sudah sukses dan mandiri masing-masing David yang seniman di New York City, Amy yang eksekutif periklanan di Chicago, Robert yang konduktor musik di Denver dan Rosie yang penari di Vegas. Nyatanya keadaan asli berbeda dari bayangan Frank. Akankah interaksi anak dan orangtua akan tetap terjaga keharmonisannya terlepas dari jam kehidupan yang terus berdetak?

Nice-to-know:
Coba perhatikan karakter Frank yang bekerja di bidang kabel telepon selalu menggunakan telepon berkabel. Sedangkan anak-anaknya memakai handphone alias ponsel nirkabel.

Cast:
Tahun 2008 lalu muncul dalam 2 film yang tidak terlalu booming yaitu Righteous Kill dan What Just Happened, Robert DeNiro kali ini bermain sebagai Frank Goode yang memiliki penyakit jantung dan di usia tua berusaha mempotretkan kehidupan anak-anaknya yang sudah dewasa sesuai imajinasinya.
Drew Barrymore sebagai Rosie
Kate Beckinsale sebagai Amy
Sam Rockwell sebagai Robert

Director:
Sempat menyutradarai Nanny McPhee (2005) sebelumnya, Kirk Jones maju dengan film ketiganya ini yang bergenre family drama.

Comment:
Jika melihat posternya sepintas kita akan mengharapkan drama keluarga yang dibumbui komedi dengan latar belakang Natal dan sejenisnya. Nyatanya tidak seperti itu. Suasana gloomy yang cukup depresif mewarnai sepanjang plot cerita dieksekusi. Tunggu dulu. Jangan artikan ini sebagai sesuatu yang negatif karena film ini justru sangat mendekati kenyataan sehari-hari dari sebuah kehidupan yang terus bergulir tanpa henti.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa seiring pertambahan umur, esensi dari keluarga itu sedikit mengalami perubahan, beberapa di antaranya bahkan hilang begitu saja dalam arti para anggotanya benar-benar hidup terpisah satu sama lain. Film ini adalah salah satu contohnya. Sutradara Jones dengan cerdas menghadirkan sinematografi yang lembut dengan alunan musik minimalis untuk menceritakan subplot demi subplot dengan lancar. Rasanya kita semua akan jatuh hati pada karakter Frank yang malang. Acungan jempol bagi DeNiro disini dalam memerankan pria tua yang kesepian dan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Tidak heran jika ia diganjar piala Best Actor dalam Hollywood Film Award 2009 yang lalu Di luar DeNiro, memang tidak terlalu cemerlang tetapi Barrymore, Beckinsale dan Rockwell memberikan warna tersendiri dengan penokohan yang unik sebagai ketiga anak Frank.
Saya sebagai salah satu dari anak-anak yang kesemuanya selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orangtua kami bisa memahami ketakutan Frank. Orangtua kerapkali melihat anak-anaknya dalam sosok yang jauh lebih muda selayaknya bertahun-tahun silam sehingga terlalu khawatir dan melupakan fakta bahwa anak-anaknya sudah dewasa dan bisa hidup mandiri. Namun ikatan orangtua dan anak itu sendiri memang tidak akan terpisahkan dengan cara apapun juga. Waktu demi waktu terkadang membangkitkan kenangan demi kenangan yang akan membuat kita bahagia tersenyum ataupun menangis terharu mengingat apa yang pernah terjadi dalam keluarga. (Mudah-mudahan review ini tidak diartikan sebagai curhat pribadi saya). Everybody's Fine adalah perjalanan seorang ayah yang berusaha mencari jawaban akan makna hidupnya di usia tua. Drama keluarga yang sangat bermakna dan menyentuh sanubari. It's more than just fine!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$8,855,646 till end of 2009.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 Oktober 2009

WHITEOUT : Kasus Misterius Di Tengah Badai Salju Antartika

Tagline:
See Your Last Breath.

Storyline:
Tiga hari menjelang kepulangan mereka di musim dingin sebelum badai salju yang dikenal dengan sebutan Whiteout, Marshall Carrie Stetko dan tim harus dihadapkan pada penemuan mayat membeku di sebuah pangkalan Amerika di Kutub Selatan. Kejadian itu membawa Carrie dan pilot Delfy melakukan penyelidikan intensif meskipun Carrie pernah menderita trauma masa lalu di Miami. DI luar dugaan saat mengunjungi Vostok, Carrie diserang sesosok tidak dikenal dengan sebuah kapak es. Belakangan terungkap bahwa kasus tersebut berhubungan dengan jatuhnya pesawat Rusia 50 tahun lalu. Dibantu detektif FBI, Robert Pryce, Carrie harus menemukan penyerangnya sekaligus mencaritahu siapa dalang yang sesungguhnya.

Nice-to-know:
Film ini awalnya dikembangkan pada tahun 2002 dengan Reese Witherspoon sebagai bintang utama. Namun baru terealisasi di tahun 2007, itupun Warner Bros menunda penayangannya hingga 2 tahun ke depan.

Cast:
Memulai akting di usia 20 tahun lewat Much Ado About Nothing (1993), Kate Beckinsale kali ini bermain sebagai marshall Carrie Stetko yang menyalahkan diri sendiri atas kesalahan masa lalunya.
Ketiga karakter utama pria yaitu Robert Pryce, Dr. John Fury, Russell Haden diperankan masing-masing oleh Gabriel Macht, Tom Skerritt dan aktor Australia, Alex O'Loughlin.

Director:
Debut berartinya dimulai lewat Kalifornia (2003), Dominic Sena bisa dibilang tidak terlalu aktif menggarap fllm. Whiteout adalah film layar lebar keempatnya sejauh ini.

Comment:
Melihat jajaran produser dan sutradara serta tema yang diangkat, rasanya penonton akan berharap lebih pada film ini. Hasilnya, sebagian besar akan kecewa karena penggarapannya boleh dibilang terlalu sederhana dengan alur yang datar-datar saja! Namun anda yang tidak terlalu berharap banyak seperti saya, niscaya bisa menikmatinya. Beckinsale bermain sedikit di atas rata-rata walau adegan mandinya selama beberapa menit sebagai pembuka film rasanya tidak penting. Aktor-aktor disini rasanya tidak banyak mendapat kapasitas untuk mampu memperlihatkan sesuatu. Sayang sekali karena Sena sang sutradara biasanya terampil menggarap film aksi. Adegan flashback yang diulang-ulang sampai 3 kali rasanya cukup mengganggu. Yah nilai jual film ini adalah Antartika. Kondisi sulit badai salju dengan suhu minus puluhan derajat bisa jadi tidak pernah terbayangkan bagi anda yang belum pernah mengalaminya. Dan semua rintangan itu diproyeksikan dengan baik terutama adegan di udara terbuka. Whiteout adalah sebuah action thriller yang lumayan saja, mudah ditebak arahnya dengan sedikit kekerasan dan kesadisan yang pas porsinya.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$10,275,638 till Dec 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent