XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label shinta bachir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shinta bachir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 November 2012

DENDAM DARI KUBURAN : Teror Kuntilanak Rumah Baru So What?


Quotes:
Stephen: Dia mandi pake baju apa gak ya?
Willy: Si tolol kalo mandi pake baju namanya diceburin.

Nice-to-know: 
Film ini diproduksi oleh Mitra Pictures dan BIC Productions.

Cast: 
Chika Jessica
Natassa Lengkong
Angie Amanda
Raymond Knuliqh
sebagai Stephen
Dion Chow sebagai Willy
Munajat Praditya sebagai Pasha
Yudha Putra
Yafi Tesazahara
Shinta Bachir
Bolot

Director: 
Merupakan film kesembilan bagi Koya Pagayo di tahun 2012 ini.

W For Words: 
Jika bulan Juli lalu ada Bangkit Dari Kubur maka empat bulan kemudian ada Dendam. Coba anda definisikan perbedaan kata "Bangkit" dan "Dendam" terlebih dahulu. Menurut hemat saya satu bermakna kata kerja dan lainnya sifat yang bisa dikategorikan sebagai objek. Sependapat? Terserah. Namun tampaknya Koya Pagayo tidak mau peduli dan memilih menggunakan "template" yang sudah-sudah. Terima kasih buat timnya yang sudah sangat kompak dan saling pengertian itu. Anjing menggongong, kafilah berlalu. Begitulah kira-kira slogan mereka.

Alkisah Willy si penulis skenario tengah mencari rumah kontrakan baru untuk berkonsentrasi dengan karyanya. Sebuah rumah yang dijaga oleh Pak Bolot menarik minatnya. Ia mengajak dua sohibnya, Stephen si pemilik tempat fitness dan Pasha yang selalu gagal mendekati cewek. Rumah tersebut akhirnya jatuh ke tangan mereka sebelum penampakan demi penampakan mulai mengganggu. Willy yang berpacaran dengan Agnes mulai panas ketika Wisnu mendekati ceweknya itu. Adakah hubungannya dengan cewek seksi penjual parfum bernama Puspita?

Duet penulis skrip "langganan", Erry Sofid dan Ule Sulaeman tampaknya sudah semakin malas memberi nama dan karakteristik yang unik pada tokoh-tokohnya. Tidak penting! Yang jelas selalu ada cowok jayus berbadan kekar, cowok kutu buku pecundang cinta, cowok pintar-pintar bodoh serta sederetan cewek cantik nan seksi. Sebut saja mereka Bunga, Mawar, Duri, Daun dan sejenisnya pun tak akan berpengaruh banyak. Tinggal mainkan interaksi satu tokoh dengan lainnya dalam dialog komedi bernuansa horor secara simultan di sepanjang film. Mudah bukan?

Koya Pagayo juga menggunakan rumah, kamar tidur, kamar mandi, kampus dan kuburan yang sama sebagai setting lokasinya. Saya curiga, jangan-jangan setiap habis syuting tidak pernah dibenahi, langsung dipakai untuk syuting berikutnya. Berapa banyak penghematan yang dilakukan departemen art? Beruntung, make-up sang kuntilanak Puspita dan versi mininya Jojo tidak berlebihan seperti biasanya. Tak jarang mereka memilih nunduk dan muncul tiba-tiba sambil sesekali seliweran layaknya mengenakan sepatu roda.

Dendam Dari Kuburan juga memanfaatkan medio cenayang untuk menjembatani dunia nyata dan alam baka. Lihat bagaimana Kilan kesurupan dan menjelaskan semua kejadian dari mulutnya. Epik! Setelah semuanya terungkap tak berarti film berakhir. Ketika kuburan Puspita dan Jojo diketemukan maka layar segera ditutup. Lagi-lagi penonton jadi korban! Bersyukurlah jika beberapa di antara anda masih bisa tertawa melihat “aksi” Haji Bolot atau Reymond yang repetitif itu. Bahkan judul-judul film kondang macam Spongebob, Spiderman, Safe House dan Jelangkung turut disebutkan tanpa tujuan yang jelas. Ah sudahlah!

Durasi: 
76 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 22 Juni 2012

MAMA MINTA PULSA : Horor Tanpa Gigi Komedi Tanpa Visi

Quotes:
Maya: Setan indonesia itu serem banget, nggak kayak setan Amerika.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Movie Eight dan Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum pada tanggal 20 Juni 2012.

Cast:
Farida Pasha sebagai Mak Lampir
Daus Sparo sebagai Umar
Opie Kumiz sebagai Said
Gary Iskak sebagai Dadang
Nikita Mirzani sebagai Komandan Carolina
Rizky Mocil sebagai Iko
Shinta Bachir sebagai Tessa
Kartika Putri sebagai Jelly
Kikky Rizky sebagai Tino

Director:
Merupakan film ketiga bagi Nuri Dahlia yang rencananya akan dilanjutkan ke Papa Minta Pulsa.

W For Words:
Siapapun para pengguna ponsel di Indonesia rasanya pernah menerima sms “Mama Minta Pulsa karena…” 1001 alasan yang dibuat-buat demi meyakinkan penerimanya untuk bereaksi sesuai yang diinginkan yaitu mentransfer pulsa sebesar nominal tertentu. Modus yang harus diakui kreatif dan berhasil memakan sejumlah korban tersebut diangkat sebagai premis film layar lebar oleh Movie Eight yang tampaknya semakin rajin mengetengahkan urban legend sebagai temanya. Rapi Films menjadi tandemnya dalam menjaring nama-nama yang sudah tidak asing lagi untuk terlibat di dalamnya.

Iko, Tino, Tessa, Jelly mengikuti sesi pelatihan satpam keliling Camp Garuda yang akan menentukan masa depan mereka. Di bawah pimpinan Komandan Carolina yang keras tegas beserta dua asistennya yang pintar-pintar bodoh yakni Umar dan Said, mereka mendapatkan cobaan yang berat. Ketika semua ponsel dikumpulkan, salah satunya berbunyi dimana terdapat sms masuk bertuliskan “mama minta pulsa, kalau tidak dikasih, mama minta nyawa..” yang diikuti dengan kemunculan Mak Lampir. Teror mulai menerpa masing-masing peserta sehingga teka-teki harus dipecahkan sebelum korban berjatuhan.
Tunggu dulu! Sepertinya saya terlalu berlebihan dalam membuat synopsis di atas. Percayalah imajinasi anda tidak akan kemana-mana setelah menyaksikan filmnya dengan mata kepala sendiri. Tidak ada adegan yang memperlihatkan Mak Lampir benar-benar mencabut nyawa manusia. Ia cuma berseliweran dari satu tempat ke tempat lain terutama saat malam tiba. Kasihan sekali melihat aktris legendaris, Farida Pasha harus menurunkan derajatnya menjadi Mak Lampir tak bergigi, kehilangan momoknya meski sudah dimake-up sedemikian rupa untuk terlihat menakutkan.

Penulis skrip Bono Sutisno sedikit meminjam template Chakushin Ari (2003) alias One Missed Call yang melibatkan ponsel sebagai media terornya. Lagi-lagi harapan saya untuk melihat sms berantai dari satu ponsel ke ponsel lainnya dalam mencabut nyawa pemiliknya harus pupus. Lantas apa yang tersisa? Komedi basi yang bergulir, sebagian besar melibatkan fisik mulai dari dada besar Kartika Putri, Shinta Bachir, Nikita Mirzani, kurus kerempengnya Rizky Mocil, besar berototnya Billy hingga kebancian Gary Iskak yang di luar batas toleransi tersebut. What you see is what you get!

Sebetulnya Mama Minta Pulsa menyajikan eksploitasi konflik yang demikian merakyat apalagi didukung dengan desain poster yang cukup menyeramkan. Sayangnya filmmaker ND alias HK yang menggarap ide mentah BS alias AS terlalu malas untuk mengeksplorasi celah tersebut secara lebih bertanggungjawab. Saya meragukan adanya “skrip baku” dalam proses syuting film yang tergolong instan ini. Komedi jor-joran saja belum cukup untuk melengkapi sebuah hiburan ringan yang samasekali tidak didasari oleh logika ini. Uang yang anda keluarkan untuk membeli tiket bioskop sebaiknya digunakan untuk anggaran pulsa saja.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 03 Januari 2012

PULAU HANTU 3 : Komedi Ekspos Dada Hantu Pulau

Quotes:
Nero: Kita ini dimana, Mo?
Kimo: Gue juga baru kali.


Storyline:
Resor indah di Pulau Madara memiliki pemilik baru yaitu Patigana yang telah ditinggalkan istrinya. Empat muda-mudi yakni Nero, Kimo, Octa dan Gaby dipertemukan oleh nasib saat bersamaan melamar pekerjaan di resor tersebut. Nero yang merasa dejavu memang pernah berdiam di pulau tersebut bersama teman-temannya dahulu dan kali ini ia memperingatkan yang lain untuk tidak mengusik hantu kuburan belakang pulau. Namun satu-persatu tamu lenyap secara misterius sebelum terungkapnya fakta bahwa mereka dibunuh! Apakah hal ini disebabkan oleh kemarahan hantu belakang pulau atau justru ada kekuatan jahat yang baru?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 28 Desember 2011.

Cast:
Abdurrahman Arif sebagai Nero
Ricky Komo sebagai Kimo
Shinta Bachir sebagai Monica
Boy Hamzah sebagai Patigana
Grace Veronica sebagai Gaby
Laras Monca sebagai Ibu Monca
Aiko Sarwosri sebagai Santang
Jenny Cortez sebagai Korban pertama

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Jose Poernomo setelah terakhir menggarap remake Murder (2004) menjadi Skandal (2011).

Comment:
Kesuksesan komersil Pulau Hantu (2007) disusul Pulau Hantu 2 (2008) secara raihan jumlah penonton memacu sekuel keduanya 3 tahun kemudian. Namun apakah Jose Poernomo yang bertindak sebagai penulis skrip sekaligus sutradara memiliki hal baru untuk dieksploitasi? Atau ia cuma melanjutkan teror hantu menganga berbaju putih dan berambut panjang yang boleh dikatakan perpaduan Sadako dalam The Ring dan Ghostface dalam Scream di pulau terpencil?
Kekhawatiran saya terjadi juga. Jose terlihat kebingungan mengombang-ambingkan ide “setengah jadi” nya di sepanjang durasi. Permasalahan cerita seharusnya ada di sosok Patigana yang berniat membangkitkan istrinya kembali melalui sejumlah ritual. Namun tidak ada penjelasan spesifik akan persyaratan yang dimaksud. Haruskah membunuh? Atau sekadar memperkosa? Korbannya pun ternyata tak pandang bulu, pria atau wanita. Peletakan lilin satu demi satu dianggap cukup untuk membuat penonton mengerti. Justru plot serupa pernah dituturkan lebih baik dalam Enam (2007).

Momok hantu kuburan belakang pulau (selanjutnya disingkat HKBP) malahan tak lagi menakutkan. Kemunculannya semakin sedikit dan sangat predictable, u have seen it before! Hal ini juga disebabkan lebih banyaknya adegan yang menonjolkan (maaf) payudara wanita dalam busana minim. Jose rupanya punya 1001 alasan untuk mensyut bagian tersebut, entah pada saat wanita-wanita tersebut berenang, mandi, jogging, senam dan lain sebagainya, nyaris di setiap kesempatan!
Twist ending yang menyuguhkan “duel maut” sebetulnya bisa menjadi aspek yang menarik sekaligus menjadikan film ini mampu mencapai klimaksnya sebagai sebuah komedi yang digelorakan sejak menit awal. Lagi-lagi Jose mundur beberapa langkah dan berusaha setia dengan pakem horornya yang terus terang saja basi! Satu persatu dibunuh bahkan tanpa cipratan darah sedikit pun? Oh come on, rating Dewasa yang dibebat film ini sudah cukup menjadi lampu hijau baginya.

Abdurrahman Arif dan Ricky Komo yang mengambil alih peran utama yang ditinggalkan Ricky Harun memang cukup berhasil membawakan duet “dumb & dumber”. Kekonyolan dan kemesuman keduanya kompak mengisi setiap frame yang berkesan slapstick. Terima kasih pada sumbangsih Ruslan Bojes yang menghadirkan musik latar layaknya dagelan dalam program televisi. Sebaliknya Boy Hamzah gagal menampilkan akting freak dan psycho yang membuat tokoh antagonis Patigana terasa datar-datar saja.
Pulau Hantu 3 semakin menjauhi kualitas pendahulunya. Originalitas yang semakin semu ditambah kemiskinan kreatifitas membuat sekuel ini lebih pantas “direct-to-dvd” daripada dijual sebagai tontonan layar lebar. Samasekali tidak ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Saya menyaksikan film ini tanpa ekspektasi apa-apa selain unsur fun belaka dan patut bersyukur tidak sampai meninggalkan bioskop dalam kondisi “mabok susu”. U know what I'm talking about!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 21 September 2011

MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : Perebutan Jejaka Dua Janda Metropolitan

Quotes:
Dengar Mira, Facebook dan Twitter itu harammm!
Mira: Haraman muka loe!


Storyline:
Sejak kecil ditinggal kedua orangtuanya yang tewas karena hanyut, Rahmat diadopsi oleh Mbak Bunga alias Mas Bambang pemilik salon “Mawar” yang hanya mampu menyekolahkannya sampai lulus SMA. Meski demikian, Rahmat tetaplah pribadi yang cerdas, alim dan berbakti bersama banci namun Rahmat tumbuh menjadi lelaki tulen yang pintar, baik, soleh dan berbakti. Sebagai petugas satpol PP, Rahmat cepat mendapat simpati dari atasannya yang kemudian dibenci oleh Bento yang iri hati padanya. Dalam urusan asmara pun, Rahmat menaruh hati pada tetangganya Ratih, janda muda yang berprofesi sebagai tukang jahit. Namun perjalanan cinta mereka tidak mulus karena diganggu Mpok Sari, pemilik warteg Sari Nikmat yang juga mengaku janda dan menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadinya itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Mega Kreasi dimana screeningnya diselenggarakan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 20 September 2011.

Cast:
Ihsan Tarore sebagai Rahmat
Ayu Pratiwi sebagai Ratih
Shinta Bachir sebagai Mpok Sari
Julia Robex sebagai Bunga
Vijey Sadiansyah sebagai Bento

Director:
Merupakan film kedua di tahun 2011 bagi Helfi Kardit setelah Arwah Goyang Karawang yang cukup laris itu.

Comment:
Melihat judulnya yang terkesan ekstrim dan murahan itu rasanya segmentasi film ini memang ditujukan bagi penonton kelas bawah. Asumsi ini bukannya tanpa alasan karena terbukti di bioskop papan atas ibukota, sebut saja Plaza Senayan XXI hanya memutar film ini satu hari saja! Sedangkan di bioskop-bioskop lain pun, nasibnya terseok-seok mengumpulkan jumlah penonton yang bisa dihitung dengan jari. Cukup mengenaskan!
Skenario yang ditulis oleh duet Hilman Mutasi dan Team Bintang Timur ini tergolong dangkal dan terlalu apa adanya. Tidak ada proses yang cukup kuat untuk bisa membuat penonton terkoneksi dengan nasib para tokohnya. Rahmat yang digambarkan sopan dan baik hati tidak diceritakan langkah pendewasaannya sebagai anak adopsi seorang banci salon kesepian. Ratih yang ditinggal menjanda juga tidak dikisahkan menanggung kepedihan karena kegagalan rumah tangganya. Sari malah agak dipaksakan sebagai antagonis walaupun sifat obsesifnya masih terbilang tanggung, lewat satu dua kejadian busuk yang dilakukannya, ia langsung menjelma menjadi wanita jahat.
Dengan karakterisasi yang demikian miskin, tentunya sulit mengharapkan Ihsan, Ayu, Shinta, Julia ataupun Vijey mampu mengerahkan usaha luar biasa untuk mengangkat film ini. Ibarat modal pas-pasan, akhirnya toh cekak juga. Maaf tidak bermaksud mendiskreditkan nama-nama tersebut di atas tetapi saya benar-benar tidak habis pikir dengan kontribusi mereka yang cuma keluar masuk scenes begitu saja. Kondisi lebih parah menimpa para aktor-aktris pendukungnya yangyang entah bagaimana nasibnya di akhir film. Bad directing!
Sutradara Helfi tampaknya tidak berusaha membuat sesuatu yang “alhamdulillah banget” bisa dikenang oleh penonton. Setting lokasi yang identik dengan masyarakat menengah ke bawah seperti warteg, rumah sederhana, gang sempit dll boleh-boleh saja menjadi panggung tersendiri tapi bukan berarti gambar-gambar yang disuguhkan bisa seadanya seperti itu. Sangat tidak menarik! Tidak perlu saya sebutkan referensi judul-judul lain yang lebih berhasil dalam hal ini, bukan?
Mati Muda Di Pelukan Janda memang masuk kategori film non sampah tapi kualitasnya lebih jauh dari buruk. Salahkan screenplay yang demikian dangkal dan terlalu bermain aman dalam upayanya untuk menghibur. Tidak heran jika penonton akan segera melupakan konten film ini sepersekian detik selepas beranjak dari bangku bioskop. Termasuk saya yang segera mengosongkan isi kepala dari lantunan suara band D’Cokiel yang sama mengganggunya di sepanjang film itu. Janda mudaaa, bisa bikin gue gila…

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa