Tagline:Saving the world is their idea of family time.
Storyline:Agen rahasia yang tengah mengandung, Marissa akhirnya berhasil membekuk Timekeeper tepat sebelum air ketubannya pecah. Ia kemudian melahirkan bayi perempuan yang cantik dan menjadi istri bintang televisi Spy Hunter, Wilbur Wilson. Sayangnya dua anak Wilbur yaitu Rebecca dan Cecil sulit menerima Marissa begitu saja sebagai ibu tiri mereka. Sewaktu Timekeeper melarikan diri dari penjara, Marissa pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan putra-putri tiri kecilnya sekaligus membuka peluang Rebecca dan Cecil untuk menjadi spy kids yang baru dengan dibantu anjing canggih Argonaut.Nice-to-know:Ide cerita ini muncul ketika Robert Rodriguez tengah menggarap Machete (2010) dimana saat itu Jessica Alba menjalani syuting sembari mengurus putrinya yang baru berusia setahun.Cast:Jessica Alba sebagai Marissa WilsonTerakhir mendukung Matt Damon dalam The Informant! (2009), Joel McHale bermain sebagai Wilbur WilsonRowan Blanchard sebagai Rebecca WilsonMason Cook sebagai Cecil WilsonAktor yang angkat nama lewat serial televisi The Larry Sanders Show (1992-1998) bernama Jeremy Piven ini kebagian peran Danger D'Amo / Tick Tock / Time KeeperAlexa Vega sebagai Carmen CortezDaryl Sabara sebagai Juni CortezDanny Trejo sebagai Uncle MacheteDirector:Robert Rodriguez terakhir menggarap Machete (2010) yang cukup brutal itu.Comment:Sulit membayangkan film keluarga ringan semacam Spy Kids (2001) telah menjadi franchise yang mampu bertahan selama satu dekade. Berselang rentang waktu yang panjang yakni 8 tahun setelah installment ketiganya, muncullah All The Time In The World. Sebuah terobosan baru pun dilakukan disini yaitu Aromascope, sebidang kertas persegi dengan berbagai nomor yang jika digosok akan menghasilkan bau yang berbeda-beda. Unik bukan?Sayangnya ide inovatif tersebut tidak dibarengi oleh skrip yang kreatif dari Robert Rodriguez yang juga bertindak sebagai sutradara. Ide “pregnant spy” yang kemudian berganti menjadi “step mother spy” sayangnya masih terlalu dangkal untuk dieksploitasi. Khusus antagonis dihadirkanlah penjahat waktu yang bisa mengacaukan sistem di seluruh dunia. Selebihnya banyak sekali pengulangan adegan dari tiga seri sebelumnya terutama yang melibatkan sepasang bocah laki-laki dan perempuan.
Sulit untuk menyebut salah satu nama yang berakting di atas rata-rata disini. Semuanya di bawah standar. Mason dan Rowan terlihat palsu sebagai kakak-adik yang digambarkan kontradiktif sifatnya padahal seharusnya intelejensi dan keluguan yang ditonjolkan. Alba? Jelas tidak pernah menjadi akttris favorit anda dan melihatnya harus beraksi sebagai ibu/mata-mata dengan perut buncit membuat saya kasihan. McHale juga tidak terlalu meyakinkan sebagai ayah dan terlihat kebingungan di depan kamera.Timekeeper seharusnya bisa menjadi villain yang menarik apalagi Piven adalah aktor yang sudah cukup berpengalaman. Malang, karakternya terlalu komedik nan konyol, terlebih dengan kostum yang digunakannya plus penutup muka bergambar jam? Jika ingin menegaskan bahwa ini adalah film anak-anak semestinya tidak juga dengan cara demikian. Padahal konsep mencuri waktu sebetulnya cukup menarik andaikata disajikan dalam detail yang lebih runut dan cerdas.
Efek CGI yang buruk dan palsu pun tidak bisa diharapkan mengangkat faktor 3D nya di sepanjang film. Warna-warni yang terlalu variatif tak jarang membuat mata sakit menyaksikannya. Satu-satunya yang layak dijual dalam Spy Kids 4D ini adalah aromascope, itupun sebatas memenuhi rasa penasaran saja walau sejujurnya seperti membodohi penonton dengan esensi aroma manis yang disugestikan ini itu. All The Time In World mungkin mengajarkan anda untuk menghargai waktu yang dimiliki meskipun pada akhirnya malah membuang waktu yang berharga setelah menyaksikannya.Durasi:89 menitU.S. Box Office:$34,598,322 till Dec 2011Overall:6.5 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Jaki: Untung kita naik mobil. Kalo pocong kan larinya cuma bisa sekotak-sekotak.
Storyline:Bertujuan membuat sebuah film pendek mengenai kehidupan warga, lima sahabat yaitu Jaki, Remon, Papay, Niken dan Anna pergi ke Puncak. Sayangnya di tengah jalan, mobil mereka mogok karena ban kempes. Bermaksud meminjam dongrak, mereka masuk ke sebuah rumah tak berpenghuni. Kejadian menyeramkan terjadi saat ketiga pocong mulai mengganggu mereka. Terbirit-birit Jaki mengendarai mobil kembali ke Jakarta. Teror tak berhenti karena pocong perempuan tersebut terus mengikuti. Apa yang sesungguhnya diinginkan dari Jaki dkk?Nice-to-know:Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Productions dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI tanggal 12 Desember 2011.Cast:Zaky Zimah sebagai JakiSoraya Larasati sebagai NikenRonald Gustav sebagai RemonIrene Justine sebagai AnnaYoga Arizona sebagai PapayMucleMalih Tong TongMpok AtiekDirector:Merupakan film ke-5 bagi Chiska Doppert sekaligus penutup tahun 2011 ini.Comment:Saya sempat berpikir bahwa film ini merupakan parodi dari Bukan Cinta Biasa karena kemiripan judulnya. Namun ternyata sebuah stand alone yang ide ceritanya digagas oleh Tb. Ule Sulaeman S. Lantas pertanyaannya adalah apakah kali ini si pocong memiliki kekuatan “luar biasa” untuk menakuti atau bahkan menghibur penonton? Jawabannya bisa anda temukan dalam produksi terbaru Mitra Pictures & Bic Productions ini.Sebuah rumah bertingkat gaya tradisional dengan interior kayu dominan menjadi setting yang dianggap “efektif” oleh sutradara Chiska untuk membangun ketakutan (atau kelucuan?) lengkap dengan sound yang memekakkan telinga. Meski sempat berpindah ke rumah modern plus kampus, tiga sosok berkain kafan tersebut ternyata tergabung dalam GMP alias gerakan mobilitas pocong. Jelaslah, fasilitas angkutan umum sudah cukup memadai sehingga mereka bisa menumpang mobil sampai bus umum.
Zaky Zimah kali ini menokohkan anak gaul “beatboxing” lengkap dengan topi yang diputar ke samping. Celetukan-celetukan khas yang keluar dari mulutnya kembali disuguhkan. Namun ia tidak sendiri dalam melucu disini karena Ronald Gustav ternyata cukup fasih memeragakan pria gagap yang kontras dengan ekspresi polosnya di sepanjang film. Aksi keduanya secara tidak langsung menenggelamkan tokoh-tokoh lainnya yang dimainkan oleh Soraya, Irene ataupun Yoga. Namun duet satpam bermuka “mengganggu” Malih dan Mucle merupakan sebuah pengecualian dengan segmen komedik khusus bergaya lawas.Secara khusus saya ingin mengomentari tampilan tiga pocong “tak biasa” yang rajin sekali menampilkan ekspresi aneh bin ajaibnya itu. Seringai mengejek, mata mendelik, lidah terjulur hingga yang paling ekstrim adalah menggunakan tangan dan kaki mereka untuk aktifitas yang tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seikat pocong. Ups, maaf jika saya sedikit spoiler. Mudah-mudahan tidak mengurangi unsur kejutannya jika memang anda berniat menyaksikan film ini.
Bukan Pocong Biasa sebetulnya bukan komedi horor yang buruk, hanya saja premis serupa terlalu sering diangkat sebelumnya sehingga tinggal menyisakan sedikit kejutan. Endingnya pun ditutup dengan twist tipikal yang malahan sudah disinggung di opening film yaitu minta ditemukan. Jualan utamanya jelas adegan slapstick komikal yang akan memaksa anda tertawa “tidak biasa” terus-menerus. Durasi satu jam pertama malah sibuk menyorot interaksi manusia dengan pocong secara panjang kali lebar sama dengan pusing tujuh keliling. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!Durasi:84 menitOverall:6.5 out of 10Movie-meter:
Quotes:Shannon: I know a lot of guys who mess around with married women, but you're the only one I know who robs a place to pay back the husband.
Storyline:Driver adalah seorang pemeran pengganti sopir dalam industri perfilman Hollywood yang tidak pernah gagal dan menguasai teknik mengemudi yang tinggi. Saat berjumpa dengan tetangganya Irene dengan seorang putra Benicio, Driver mulai menemukan warna kehidupan yang berbeda dari biasanya. Sayangnya kebahagiaan tak berlangsung lama ketika suami Irene, Standard dibebaskan dari penjara dan menangguk hutang yang tidak sedikit. Driver bersedia membantu Standard merampok sebuah pegadaian hingga tidak sadar bahwa bahaya mulai menyeretnya ke dalam arus liar yang tidak terkendali.Nice-to-know:Nicolas Winding Refn menggantikan Neil Marshall sebagai sutradara. Refn sendiri dipilih langsung oleh Ryan Gosling yang juga terpilih setelah Hugh Jackman batal memerankan Driver.Cast:Baru saja bermain dalam All Good Things dan Blue Valentine di tahun 2010, Ryan Gosling ditunjuk sebagai DriverCarey Mulligan sebagai IreneBryan Cranston sebagai ShannonAktor yang suaranya dikenal dalam serial televisi kartun abadi The Simpsons (1990-2011), Albert Brooks bermain sebagai Bernie RoseOscar Isaac sebagai StandardChristina Hendricks sebagai BlancheRon Perlman sebagai NinoDirector:Pria berkebangsaan Denmark bernama Nicholas Winding Refn ini mulai angkat nama lewat Pusher (1996) yang dilanjutkan dengan dua sekuelnya.Comment:Terkadang sebuah film harus dinikmati dengan sesedikit mungkin informasi yang terdapat di kepala anda sebelum menyaksikannya. Skrip yang ditulis oleh Hossein Aimi berdasarkan novel berjudul sama karangan James Sallis ini sebaiknya diperlakukan demikian demi menjaga kejutan yang terkandung di dalamnya. Yang perlu anda ketahui adalah sosok Driver seorang melalui sepak terjangnya menjalani kehidupan nyatanya yang seakan semu itu.Paruh pertama yang berjalan lambat memperkenalkan anda terlebih dahulu pada Driver, Shannon, Irene, Benicio. Interaksi Driver yang sepi kehidupan sosialnya dengan Irene tak jarang diakhiri lewat keheningan penuh makna di antara mereka. Sebuah “tikungan tajam” membuka paruh kedua yang menghentak cepat sekaligus membawa karakter-karakter keras macam Bernie Rose, Nino, Standard, Blanche masuk mempertajam konflik yang ingin disampaikan.
Lagi-lagi Gosling menampilkan akting kelas satunya disini. Konon anda akan lupa total dengan peran-peran sebelumnya yang tidak pernah di bawah rata-rata itu. Sosok Driver tanpa nama yang nyaris selalu diam seribu bahasa itu menuntaskan sempurna setiap dialog minim dimana sorot mata tajam dan gestur tubuh sudah cukup berbicara secara efektif. Terjemahan karakternya yang kompleks dimana kelembutan hati dan ketangguhan mental diperlihatkan silih berganti.Sederetan aktor senior juga menyuguhkan kontribusi yang maksimal. Cranston terasa berjiwa besar sebagai atasan Driver. Brooks menjiwai peran raja kejahatan yang bengis didampingi Perlman yang juga keras kepala. Hubungan di antara ketiganya dapat ditarik sebuah garis linier satu sama lain saling mempengaruhi. Tentu saja kehadiran si cantik lembut Mulligan menambah daya tarik sendiri terlepas dari minimumnya porsi yang diberikan padanya.
Sutradara Refn menyajikan visual yang cantik nan kental dengan warna oranye yang menghangatkan. Kerasnya kehidupan Los Angeles juga tidak ketinggalan dengan berbagai scene kejar-kejaran mobil plus pertarungan yang tak jarang diakhiri kekerasan yang brutal tak terduga. Suguhan scoring music brilian dari Cliff Martinez termasuk tembang-tembang pop sintesis lawas ala The Bangles menghiasi setiap adegan dramanya dengan nuansa kelembutan yang seakan mengawang kembali ke tahun 1990an.Dukungan eksekusi unik dari plot cerita nan cerdas sekaligus kontribusi akting yang mumpuni membuat Drive layak diperhitungkan dalam ajang festival film manapun termasuk Academy Awards sekalipun. Mungkin bukan tontonan umum bagi anda para penikmat film Hollywood yang menjual otot dan bombardir spesial efek untuk adegan aksi tipikal. Namun yang jelas elemen noir dan art-house yang kental membangkitkan feel yang emosional merupakan sesuatu yang patut diapresiasi tinggi. Above it all, would you protect something or even someone whose importance are only secondary reasons in your life?Durasi:95 menitU.S. Box Office:$34,598,322 till Dec 2011Overall:8 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:The Mighty Sven: If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.
Storyline:Mumble kesulitan menghadapi putranya Erik yang tidak bisa berdansa tetapi terobsesi untuk terbang melihat figur idolanya, The Mighty Sven. Tak lama kemudian, bencana alam yang menyebabkan dataran yang tertutup es mulai hancur perlahan-lahan pun mengancam eksistensi bangsa penguin yang terjebak tanpa makanan dan jalan keluar. Mumble dan Gloria beserta Sven dan kawan-kawan harus memutar otak untuk menyatukan bangsa penguin agar tidak kehilangan harapan walau harus menanggung resiko bahaya pribadi demi tujuan yang lebih mulia lagi.Nice-to-know:Diproduksi oleh Warner Bros. Pictures, Village Roadshow Pictures, Kennedy Miller Mitchell dan Dr D Studios, sekuel ini beredar di Amerika Serikat pada tanggal 18 November 2011.Voice:Elijah Wood sebagai MumblePink sebagai GloriaAva Acres sebagai ErikBrad Pitt sebagai Will the KrillMatt Damon sebagai Bill the KrillHank Azaria sebagai The Mighty SvenDirector:Sekuel pertama yang dikerjakan George Miller adalah Mad Max 2: The Road Warrior (1981).Comment:Masih ingat dengan kisah penguin yang pandai berdansa menderapkan kaki di saat mencari jati dirinya yang berbeda dari kawanannya? Happy Feet (2006) waktu itu mencatat sukses luar biasa yaitu perolehan box office 198 juta dollar dari peredaran di Amerika Serikat saja yang kemudian dilengkapi oleh gelar Film Animasi Terbaik dalam ajang Academy Awards 2007. Tidak heran jika 5 tahun kemudian, muncul sekuelnya dengan tema yang lebih dewasa.Gary Eck dan Paul Livingston melengkapi line-up George Miller dan Warren Coleman yang memang sudah terlibat dari prekuelnya. Kali ini mereka berempat mengajak penonton untuk mengenal sosok Mumble dan Gloria sebagai orangtua dari putra kecil mereka, Erik yang memiliki kesulitan untuk menggerakkan kaki. Bukan hanya itu, isu gangguan keseimbangan alam juga disajikan sebagai latar belakang cerita yang memang bisa mengancam eksistensi makhluk hidup tanpa terkecuali.
Wood masih menyumbangkan kontribusi yang sama dalam tokoh Mumble yang lugu tetapi tulus itu. Pink yang terpilih sebagai Gloria di luar dugaan mampu memberikan aksen yang berbeda. Tone suara rockernya ternyata mampu menyanyikan lagu ballad dengan baik seperti dalam nomor Do Your Thing, Bridge of Light atau Rhythm Nation. Acres juga menyulihkan suara si kecil Erik dengan lumayan meskipun dalam lagu Erik’s Opera yang sangat mendalam itu harus diback up oleh Omar Crook. Jangan lupakan juga gaya humor khas Azaria dan Williams dalam sosok Ramon dan Sven sekaligus.Entah mengapa saya merasa tokoh Will dan Bill the Krill yang sebetulnya berada di luar konteks cerita utama seakan dibiarkan memiliki porsi tersendiri dengan petualangan mencari kerumunannya sendiri. Mungkin mengingatkan anda pada sosok Scrat dalam trilogi Ice Age yang amat sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya itu. Penunjukan Damon dan Pitt untuk mengisi suara dua udang kecil yang warna dan tekstur tubuh detil yang enak dipandang itu juga terbilang bijak.
Sutradara Miller bisa jadi lupa bahwa Happy Feet seharusnya menjadi tontonan seluruh anggota keluarga. Sekuelnya ini sedikit terlalu gelap untuk dinikmati anak-anak karena karakter penguin-penguin muda yang tak jarang diberikan tanggungjawab berat untuk memikul bahaya. Efek 3D memang ditempatkan secara benar di beberapa bagian bawah laut terutama di setiap scene Will-Bill yang menyala itu tapi rasanya tidak terlalu penting dalam memberikan nilai tambah.Happy Feet Two ini sebetulnya sebuah sekuel yang tak diperlukan mengingat premis pencarian jati diri penguin yang memiliki kebiasaan unik sulit untuk diulang atas dasar apapun juga. Terbukti bagian pembuka hingga pertengahan tidak menawarkan hal-hal baru. Beruntung setelah itu menuju ending, intensitasnya naik lewat berbagai momen ajaib nan menyentuh yang banyak terbantu oleh lagu-lagu mixed up lawas seperti We Are The Champions, Ice Ice Baby ataupun Dragostea Din Tei. Nilai yang dapat dipetik tentunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup harus diperhatikan terutama sewaktu menghadapi bahaya yang bisa menjerumuskan semua pihak.Durasi:99 menitU.S. Box Office:$51,704,566 till Dec 2011Overall:7.5 out of 10Movie-meter:
Notes:6-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Quotes:Kyle Miller: Your filthy lust invited them in.
Storyline:Kyle dan Sarah Miller dapat dikatakan memiliki semuanya, rumah elit menghadap pantai, kendaraan mewah termasuk putrinya Avery yang beranjak dewasa. Sekembalinya dari perjalanan bisnis, Kyle yang juga seorang pedagang berlian mendapati empat penjahat memasuki rumahnya secara paksa. Suami istri Miller pun disandera dimana penjahat tersebut menginginkan sejumlah uang tunai dan berlian yang bernilai tinggi itu. Perlahan-lahan, rahasia masing-masing mulai terkuak. Pertaruhan hidup dan mati pun terancam oleh kepercayaan.Nice-to-know:Produksi sempat tertunda pada tanggal 3 Agustus 2010 saat Nic Cage ingin mengganti peran nya sebagai pencuri. Peran suami Nic Kidman sempat ditawarkan kepada Liev Schreiber. Nic Cage akhirnya memutuskan untuk meneruskan peran semulanya.Cast:Nicolas Cage sebagai Kyle MillerTidak terlalu sukses mendampingi Adam Sandler dalam Just Go With It (2011), Nicole Kidman berperan sebagai Sarah MillerBen Mendelsohn sebagai EliasBaru saja bermain luar biasa dalam Trust (2010), Liana Liberato bermain sebagai Avery MillerCam Gigandet sebagai JonahDirector:Pria berusia 72 tahun bernama Joel Schumacher ini pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai dalam The Incredible Shrinking Woman (1981).Comment:Tema penyanderaan di rumah sendiri yang dilakukan oleh sekelompok orang rasanya bukan sesuatu yang baru. Berkali-kali dihadirkan sebelumnya dalam drama action maupun thriller, bahkan beberapa diantaranya menggunakan gaya dokumenter yang secara detil menyuguhkan babak per babak dengan mencekam. Kali ini daya tariknya jelas ada pada faktor jajaran cast dan sutradara yang menanganinya. Apakah hasilnya berbeda? Anda sendiri yang menentukan.Penulis skrip Karl Gajdusek kali ini membagi cerita dalam dua kubu yaitu protagonis versus antagonis. Masing-masing kubu memiliki hubungan yang tidak dapat disepelekan artinya begitu saja. Sepanjang cerita bergulir, anda akan menemukan banyak sekali intrik dan problematika yang terjadi di antara para karakternya sehingga konflik diperlebar sedemikian rupa yang berujung pada sebuah klimaks yang lagi-lagi klise yaitu “Who’s gonna survive?”
Saya mempertanyakan motif Kidman bermain disini. Setelah memenangkan Piala Oscar, ia terlihat selektif bermain film. Namun keputusannya mendukung film yang dikategorikan “biasa-biasa saja” ini cukup mencengangkan. Meski demikian peran Sarah Miller mampu dijiwainya, istri yang tidak puas meski bergelimang harta hingga pada akhirnya berusaha sekuat tenaga menebus kesalahannya. Justru yang lebih mencuri perhatian adalah aktris masa depan Liberato yang bermain lugas sebagai putri yang menginginkan kepercayaan orangtuanya untuk bisa bertindak dewasa.Sebaliknya Cage merupakan aktor yang boleh dibilang menerima peran apapun yang disodorkan kepadanya. Terbukti beberapa deretan filmografi terakhirnya tidak terlalu memuaskan dari segi kualitas maupun kuantitas. Tokoh Kyle yang “tricky” disini ternyata lebih dari sekadar ayah maupun suami biasa. Para penjahat seperti Gigandet, Mendelsohn, Mihok dan Spiro sebetulnya cukup menakutkan dengan keberingasan dan senjata di tangan tapi agak gagal menjaga intensitas yang diinginkan.
Sutradara senior Schumacher melupakan sedikit logika disini. Kyle dan Sarah Miller seakan memiliki superioritas lebih. Memang secara nama besar jelas di atas aktor-aktris lainnya tapi kapasitas mereka sebagai pihak tersandera yang nyawanya betul-betul terancam harusnya diperhatikan terlepas dari status sebagai pemegang harta yang amat diinginkan oleh penjahat. Klastrofobia yang bisa melingkupi setiap ruang dalam rumah megah tersebut juga gagal dimanfaatkan setiap jengkalnya.Trespass adalah sebuah ide lawas yang dieksekusi tanpa mengacu pada realita yang ada apalagi dilengkapi latar belakang para karakternya. Permainan kucing tikus yang diharapkan memacu adrenalin tidak terjadi secara frekuentif. Sebaliknya pertukaran dialog yang terganggu oleh suara bising maupun histeris tokoh wanita kerapkali terjadi. Pada akhirnya yang membuat film ini masih layak tonton adalah akting kaliber Cage dan Kidman selain fakta bahwa kepercayaan merupakan modal utama yang harus dijaga kalau tidak ingin berselisihpaham yang berujung pada kefatalan.Durasi:91 menitU.S. Box Office:$16,816 in opening week end of Oct 2011 (10 screens)Overall:7 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:Tepat di kilometer sembilan puluh tujuhJalan tol cipularang di selimuti ratapan piluTepat di tempat haus darah ituArwah kuntilanak duyung menunggumu
Storyline:Di sebuah pantai, Linda dan Ardo bertemu dan saling jatuh cinta. Demi masa depan mereka berdua, Ardo membangun Villa Linda disana atas rekomendasi Jali untuk hidup berbahagia bersama istri tercinta. Adalah dua pembantu kocak yang mendampingi keduanya yaitu Ayu dan Odong. Sementara itu tukang ojek sepeda paruh baya Amat tanpa sengaja membuang ari-ari bayi ke pantai sehingga mengundang Aisha, kuntilanak duyung penunggu pantai setempat. Sejak saat itulah Amat dan Sule yang rajin mangkal seringkali menjadi sasaran gangguan. Apa yang sesungguhnya diinginkan Aisha?Nice-to-know:Diproduksi oleh K2K Productions dimana syutingnya diselesaikan sebelum Ramadhan lalu.Cast:Dewi Perssik sebagai AishaSaipul Jamil sebagai JaliEntis Sutisna alias Sule sebagai SulePretty Asmara sebagai AyuAfdhal Yusman sebagai ArdoDian Widiantoro sebagai LindaDirector:Merupakan film keenam bagi Yoyok Dumprink sekaligus yang kelima di tahun 2011 ini setelah Pacar Hantu Perawan.Comment:Mari terjemahkan kata per kata judul film ini versi saya, jadi dilarang protes. Arwah adalah intisari dari tubuh fisik perempuan. Kuntilanak identik dengan makhluk halus berwujud perempuan yang meninggal saat tengah mengandung. Sedangkan duyung adalah ikan berkepala manusia yang biasanya perempuan. Persamaan dari ketiga kata tersebut adalah perempuan. Lantas jika ketiga kata tersebut dipersatukan, konsepnya dapat diartikan perempuan jadi-jadian. Setuju saja deh dengan KKD kali ini!Entah siapa yang patut dipersalahkan atas ide brilian skrip yang tak dapat dipertanggungjawabkan itu. Bagaimana empat tempat yang berbeda mulai dari vila, hutan, pantai, tol Cipularang dapat dihubungkan begitu saja tanpa korelasi yang jelas. Mungkin Doraemon harus mengecek pintu kemana saja nya apakah digunakan tanpa ijin oleh KKD? Yang pasti dengan gaya bercerita loncat-loncat ala bajingan eh bajing, Yoyok Dumprink berusaha menciptakan momok dari kuntilanak naik ojek sepeda (DP), kuntilanak duyung (DP lagi) dan pocong banci (untung bukan DP).
Samasekali tidak ada penjelasan masuk akal bagaimana seorang wanita yang tengah mengandung mati dibunuh lalu dibuang ke laut lantas menjadi kuntilanak air yang kemudian diperhalus menjadi kuntilanak duyung? Asumsi liar saya mulai berkelana. Lantas twist di akhir cerita yang berusaha menjawab misteri tol Cipularang KM 97 dihadirkan dengan adegan bulan purnama di belahan langit malam saja. Sungguh sebuah masterpiece!Ricuh “drama king” Saipul Jamil yang sempat memprotes pemasangan tulisan Tol Cipularang KM 97 besar-besar dalam posternya ternyata tidak diimbangi oleh akting yang baik. Jika di kemudian hari ia mempersalahkan LSF yang memangkas adegan seks “brutal” nya itu, saya tidak heran. Dewi Perssik tampaknya sudah semakin “nyaman” bekerjasama dengan KKD dalam beberapa film terakhirnya. Baik sebagai wanita biasa atau hantu luar biasa, ia tidak berkeberatan, termasuk mengenakan kostum duyung emas yang untungnya tidak sampai memalukan.
Debut Sule disini setidaknya sedikit menyelamatkan film. Gaya humornya yang fresh di layar lebar cukup mampu memancing tawa berkali-kali. Adegannya membonceng kuntilanak dengan sepeda di tengah hutan malah mengingatkan saya akan sosok (alm.) Suzanna dan Muni Cader di film-film horor lawas. Karakter Ayu dan Odong rasanya ditakdirkan menjadi perusak mata dengan banyaknya syut close up yang mempertontonkan bulu dada dan beha-kolor Pretty yang triple XL itu. Sedangkan tokoh Linda Ardo sudah ditakdirkan menjadi pelengkap derita saja terlepas dari apapun yang mereka lakukan.Satu-satunya nilai plus Arwah Kuntilanak Duyung adalah originalitas seorang KK Dheeraj yang biasanya “mencontek” itu. Bahkan kreatifitasnya diganjar dengan acknowledgement yang membuat film ini konon akan diremake oleh Hollywood menjadi sebuah sains fiksi horor yang lain daripada biasanya. Apapun hasilnya kelak, kita sebagai masyarakat penikmat film local tidak perlu berbangga hati dahulu. Namun sebaiknya merasa malu jika di penghujung tahun 2011 ini masih dijejali dengan ide “gabrukan” semacam ini. Teruskanlah mengikik Dewi Perssik sembari dikritik!Durasi:77 menitOverall:6 out of 10Movie-meter:
Quotes:Mr. Children: We are rebel without a cause, betray with a case
Storyline:3 tahun lalu, eksekutif musik Gu Ju meninggalkan Korea Selatan setelah kematian Ji Hoon vokalis band idola Mr. Children. Sekembalinya di tanah air, Gu ditawari Hee-Moon yang mengelola agensi bakat baru Star Music untuk membentuk sebuah grup pria yang memenuhi standar. Mantan anggota Mr. Children yaitu Hyun-Ji, Jio dan Ricky berkumpul kembali hingga akhirnya diputuskan Eugene sebagai vokalis baru yang terpilih dari sebuah audisi. Namun apakah kembalinya Mr. Children ke kancah musik Korea semudah membalikkan telapak tangan?Nice-to-know:Syuting Mr Idol dimulai pada tanggal 28 Februari 2011 di Universitas Hongik, Seoul sampai berakhir pada tanggal 9 Juni 2011 di Han River Bridge.Cast:Park Ye Jin sebagai Gu JuWoo Ji Hyun sebagai EugeneJay Park sebagai JioJang Seo Won sebagai Hyun YiKim Randy sebagai Gi KiKim Soo Ro sebagai Moon HeeDirector:Ra Hee ChanComment:Invasi Korean Pop boleh dibilang sudah melanda benua Asia selama beberapa tahun terakhir. Baik solois maupun grup musik pria dan wanita sekalipun berlomba-lomba unjuk gigi dengan tembang-tembang andalan yang rata-rata upbeat dengan dukungan koreografi yang dinamis hingga nama mereka dikenal luas. Itulah sebabnya produser Kim Sung-Chul jeli melihat peluang ini dan menjadikannya premis drama komedi musikal terbaru negeri ginseng ini.Seperti telah diperkirakan sebelumnya, keahlian menyanyi dan menari kuartet Woo Ji Hyun, Jay Park, Jang Seo Won dan Kim Randy lah yang paling diutamakan selain penampilan lahiriah mereka yang sudah dari sononya itu. Beruntung masih diceritakan proses “jatuh bangun” latihan keras dan pembentukan karakter masing-masing sesuai masa lalunya sebelum menuju tingkat tersebut sehingga konsep mencetak bintang secara instan dapat dihindari kali ini.Sutradara Ra dengan cerdas memadukan konsep musikal dan drama secara pas. Bagaimana aksi panggung dari para idola tersebut dapat disorot dari berbagai arah menyajikan sebuah pertunjukan yang memikat. Belum lagi babak kehidupan yang dialami oleh masing-masing personil berikut produsernya sendiri itu juga dikisahkan tidak berlebihan walau kesan kemonotonan sulit dihindari karena riak konflik yang tidak sampai memuncak.
Lagu Summer Dream memang layak dijadikan jualan utama karena liriknya yang bagus dan musiknya yang catchy. Diulang berkali-kali di sepanjang filmpun anda akan tetap tergelitik untuk mendengar dan bergoyang bersamanya. Selain itu hit-hit Missing U, Remember, I Will Get U, Shall We Kiss, Yes It Is!, Believe dari Wonder Boys, NAVI dsb juga menjadi nilai tambah tersendiri. Bahkan rasanya album soundtracknya bisa menjadi collectible item yang patut anda miliki.Mr Idol memang belum sempurna sebagai sebuah film. Plot ceritanya tergolong datar di samping faktor penyelesaiannya yang sangat ngepop itu. Festival Musik yang menjadi babak pamungkas yang dituju juga esensinya tidak ditampilkan secara utuh. Namun setidaknya mereka membuktikan bahwa kedigdayaan propaganda musisi Korea yang mencerminkan semangat dan optimisme tinggi demi menghibur para penggemarnya secara total.Durasi:114 menitOverall:7 out of 10Movie-meter:
Notes:6-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent