XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Jumat, 16 Desember 2011

SPY KIDS : ALL THE TIME IN THE WORLD Sensasi Aromascope Franchise Miskin Ide

Tagline:
Saving the world is their idea of family time.


Storyline:
Agen rahasia yang tengah mengandung, Marissa akhirnya berhasil membekuk Timekeeper tepat sebelum air ketubannya pecah. Ia kemudian melahirkan bayi perempuan yang cantik dan menjadi istri bintang televisi Spy Hunter, Wilbur Wilson. Sayangnya dua anak Wilbur yaitu Rebecca dan Cecil sulit menerima Marissa begitu saja sebagai ibu tiri mereka. Sewaktu Timekeeper melarikan diri dari penjara, Marissa pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan putra-putri tiri kecilnya sekaligus membuka peluang Rebecca dan Cecil untuk menjadi spy kids yang baru dengan dibantu anjing canggih Argonaut.

Nice-to-know:
Ide cerita ini muncul ketika Robert Rodriguez tengah menggarap Machete (2010) dimana saat itu Jessica Alba menjalani syuting sembari mengurus putrinya yang baru berusia setahun.

Cast:
Jessica Alba sebagai Marissa Wilson
Terakhir mendukung Matt Damon dalam The Informant! (2009), Joel McHale bermain sebagai Wilbur Wilson
Rowan Blanchard sebagai Rebecca Wilson
Mason Cook sebagai Cecil Wilson
Aktor yang angkat nama lewat serial televisi The Larry Sanders Show (1992-1998) bernama Jeremy Piven ini kebagian peran Danger D'Amo / Tick Tock / Time Keeper
Alexa Vega sebagai Carmen Cortez
Daryl Sabara sebagai Juni Cortez
Danny Trejo sebagai Uncle Machete

Director:
Robert Rodriguez terakhir menggarap Machete (2010) yang cukup brutal itu.

Comment:
Sulit membayangkan film keluarga ringan semacam Spy Kids (2001) telah menjadi franchise yang mampu bertahan selama satu dekade. Berselang rentang waktu yang panjang yakni 8 tahun setelah installment ketiganya, muncullah All The Time In The World. Sebuah terobosan baru pun dilakukan disini yaitu Aromascope, sebidang kertas persegi dengan berbagai nomor yang jika digosok akan menghasilkan bau yang berbeda-beda. Unik bukan?
Sayangnya ide inovatif tersebut tidak dibarengi oleh skrip yang kreatif dari Robert Rodriguez yang juga bertindak sebagai sutradara. Ide “pregnant spy” yang kemudian berganti menjadi “step mother spy” sayangnya masih terlalu dangkal untuk dieksploitasi. Khusus antagonis dihadirkanlah penjahat waktu yang bisa mengacaukan sistem di seluruh dunia. Selebihnya banyak sekali pengulangan adegan dari tiga seri sebelumnya terutama yang melibatkan sepasang bocah laki-laki dan perempuan.

Sulit untuk menyebut salah satu nama yang berakting di atas rata-rata disini. Semuanya di bawah standar. Mason dan Rowan terlihat palsu sebagai kakak-adik yang digambarkan kontradiktif sifatnya padahal seharusnya intelejensi dan keluguan yang ditonjolkan. Alba? Jelas tidak pernah menjadi akttris favorit anda dan melihatnya harus beraksi sebagai ibu/mata-mata dengan perut buncit membuat saya kasihan. McHale juga tidak terlalu meyakinkan sebagai ayah dan terlihat kebingungan di depan kamera.
Timekeeper seharusnya bisa menjadi villain yang menarik apalagi Piven adalah aktor yang sudah cukup berpengalaman. Malang, karakternya terlalu komedik nan konyol, terlebih dengan kostum yang digunakannya plus penutup muka bergambar jam? Jika ingin menegaskan bahwa ini adalah film anak-anak semestinya tidak juga dengan cara demikian. Padahal konsep mencuri waktu sebetulnya cukup menarik andaikata disajikan dalam detail yang lebih runut dan cerdas.

Efek CGI yang buruk dan palsu pun tidak bisa diharapkan mengangkat faktor 3D nya di sepanjang film. Warna-warni yang terlalu variatif tak jarang membuat mata sakit menyaksikannya. Satu-satunya yang layak dijual dalam Spy Kids 4D ini adalah aromascope, itupun sebatas memenuhi rasa penasaran saja walau sejujurnya seperti membodohi penonton dengan esensi aroma manis yang disugestikan ini itu. All The Time In World mungkin mengajarkan anda untuk menghargai waktu yang dimiliki meskipun pada akhirnya malah membuang waktu yang berharga setelah menyaksikannya.

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$34,598,322 till Dec 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 15 Desember 2011

GARUDA DI DADAKU 2 : Hambatan Diri Kompetisi Sepakbola Asean

Quotes:
Wisnu: Kita jatuh bukan karena batu besar, tapi karena kerikil!


Storyline:
Bayu yang sudah menjadi kapten timnas U-15 bertekad membawa timnya menjuarai kompetisi sepakbola junior tingkat ASEAN di Jakarta. Sahabat setianya Heri selalu mendukungnya dengan analisa pertandingan yang tajam. Kedatangan pelatih baru Pak Wisnu sempat menurunkan semangat Bayu dkk karena kerasnya latihan fisik yang diberikan pada mereka. Kehadiran pemain baru bernama Yusuf sedikit mengacaukan konsentrasi Bayu ditambah dengan kedekatan Ibunya dengan om Rudi. Belum lagi rapornya yang semakin memerah menuntut kerja kerasnya di sekolah menyelesaikan tugas bersama murid pindahan Anya yang disukainya . Apakah Bayu bisa mengatasi hambatan dalam dirinya sendiri untuk meraih sukses?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh SBO Films dan KG Productions & XY Kids dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI tanggal 11 Desember 2011.

Cast:
Emir Mahira sebagai Bayu Purnomojati
Aldo Tansani sebagai Heri
Monica Sayangbati sebagai Anya
Maudy Koesnaedi sebagai Wahyuni
Ramzi sebagai Dulloh
Rio Dewanto sebagai Wisnu
Rendi Krisna sebagai Rudi
Muhammad Ali sebagai Yusuf
Mayo Ramzi Fuhaira sebagai Effendi
Joshua Pandelaki sebagai Pak Miftah
Dorman Borisman sebagai Harri Dotto

Director:
Merupakan film ke-21 bagi Rudi Soedjarwo sekaligus yang ke-3 di tahun 2011 ini.

Comment:
Masih ingat dengan Garuda Di Dadaku (2009) yang berhasil membukukan jumlah penonton sebanyak 1,4 juta orang itu? Terus terang, film tersebut cukup membekas dalam ingatan saya sebagai salah satu film anak-anak bertemakan olahraga terbaik yang pernah ada dalam sejarah perfilman nasional karena kisahnya yang lugu dan inspiratif. Tak heran jika lantas 2 tahun kemudian muncul sekuelnya meski tanpa kehadiran Ikranagara ataupun Ari Sihasale.
Penulis skrip handal, Salman Aristo kembali melanjutkan tugasnya. Beberapa elemen yang ada dalam prekuelnya seperti nilai kerjasama, persahabatan, cinta monyet tetap dipertahankan. Selebihnya faktor persaingan dan kecemburuan menjadi konflik yang paling ditonjolkan kali ini, menyertai perkembangan karakterisasi para tokohnya yang beranjak remaja tersebut. Kompetisi sepakbola junior tingkat Asia Tenggara pun diambil sebagai latar belakangnya.

Emir yang baru saja memenangkan Piala Citra kategori Aktor Utama Terbaik lewat Rumah Tanpa Jendela (2011) ini menunjukkan perkembangan akting yang cukup signifikan. Sorot mata dan bahasa tubuh Bayu turut bermain saat mencemburui pemain baru Yusuf yang menjadi idola sahabatnya Heri atau om Rudi yang merenggut perhatian ibunya Wahyuni. Belum lagi perasaan ketertarikannya kepada Anya lewat tatapan malu-malu bercampur kagum.
Aldo dan Ramzi yang sukses mencuri perhatian di film pertamanya disini seperti kehilangan taji. Terjadi pengulangan dalam tokoh Heri yang kurang berkembang ataupun celetukan jenaka Bang Dulloh yang gagal mengembangkan senyum. Entah mengapa saya merasa raut “jutek” Monica cukup mengganggu dalam interpretasinya sebagai Anya yang seharusnya cerdas dan menyenangkan. Highlight akting tentu saja jatuh pada Rio Dewanto yang bermain keras tegas sebagai pelatih baru berdedikasi bernama Wisnu.

Rudi Soedjarwo yang menggantikan Ifa Isfansyah di kursi sutradara cukup berhasil merangkai plot dan subplotnya sedemikian rupa sehingga enak diikuti. Kekurangan yang cukup mengganggu adalah scoring music megah yang seharusnya menjadi latar suara belaka tapi malah digunakan sebagai penyelesaian momentum, contoh ketika presentasi PLKJ yang dilakukan Bayu di hadapan para guru atau saat mencetak gol pamungkas. Padahal hal sepele macam ini bisa memperkuat dramatisasi film yang terkadang kehilangan klimaksnya itu.
Saya berharap Garuda Di Dadaku 2 bukan hanya pengulangan sebuah proyek komersil, melainkan kelanjutan sebuah proses pendewasaan insan muda penerus kejayaan sepakbola Indonesia di tingkat kompetisi manapun juga. Setidaknya optimisme dan inspirasi nyata kali ini mampu dituangkan selayaknya menikmati esensi pertandingan sepakbola seru yang sesungguhnya. Kita butuh sosok seperti Bayu yang mau bekerja tiga kali lebih keras untuk menggapai mimpinya sekaligus beritikad baik untuk terus memperbaiki kesalahannya.

Durasi:
99 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 14 Desember 2011

THE WHISTLEBLOWER : Mengungkap Pelaku Berpengaruh Human Trafficking

Tagline:
Nothing is more dangerous than the truth.


Storyline:
Polisi Nebraska, Kathryn Bolkovac tiba di Bosnia untuk bekerja di dalam lembaga U.N. khusus pengawasan polisi internasional di Bosnia bertahun-tahun setelah penandatanganan Dayton Agreement. Tak lama kemudian, Kathryn berjumpa gadis 15 tahun bernama Raya yang melarikan diri setelah diperbudak secara seksual dari Ukraina. Ketika Kathryn bertindak, ia menyadari bahwa pihak di balik semua itu ternyata berasal dari rekan-rekannya sendiri serta orang-orang yang memiliki kedudukan dalam U.N. Apakah ia berani bersaksi perbuatan bejat DynCorp tersebut kepada publik?

Nice-to-know:
Rachel Weisz awalnya membaca skrip di tahun 2005 ketika mengandung. Ia mundur dari proyek dikarenakan peran Bolkovac yang cukup keras. Namun produksi tidak pernah berlanjut hingga tahun 2009 sehingga Weisz akhirnya terlibat juga.

Cast:
Terakhir muncul dalam The Lovely Bones (2009), Rachel Weisz didapuk sebagai Kathryn Bolkovac
Sempat mengesankan mendukung Letters to Juliet (2010), aktris gaek Vanessa Redgrave bermain sebagai Madeleine Rees
Monica Bellucci sebagai Laura Leviani
David Strathairn sebagai Peter Ward
Nikolaj Lie Kaas sebagai Jan Van Der Velde

Director:
Merupakan film pertama Larysa Kondracki yang pernah menggarap film pendek berjudul Viko di tahun 2009.

Comment:
Film ini diangkat dari kisah nyata mengenai “human trafficking” yang kenyataannya masih dialami lebih dari 2.5 juta penduduk dunia setiap tahunnya. Larysa Kondracki dan Eilis Kirwan mereka-reka langsung skripnya berdasarkan pengalaman pribadi mereka saat terlibat dalam konflik Balkan di Bosnia beberapa tahun lalu. Tentunya beberapa penyamaran/pengubahan identitas wajib dilakukan terlebih jika menyangkut identitas asli para korban selama kejadian ini.

Rachel Weisz bisa jadi memberikan salah satu akting terbaik selama karirnya. Tokoh Kathryn yang bersemangat sehingga dengan mudah mendapat pengakuan oleh para koleganya dijiwainya dengan kompleksitas emosi yang pas. Bagaimana mencampuri sebuah urusan yang tidak pernah melibatkannya itu hanya karena merasa setiap orang berhak mendapat persamaan hak di atas kebenaran yang patut dijunjung tinggi. Sungguh suatu inspirasi yang patut dicontoh!
Jajaran tokoh pendukung disini juga menyuguhkan performa yang baik. Redgrave dan Bellucci bermain kuat sebagai Madeleine dan Laura walaupun kemunculan mereka dapat dihitung jari. Aktor senior Strathairn bagaikan oase di tengah padang pasir yang menyiksa, ia tidak terpengaruh oleh polisi-polisi kotor di sekitarnya. Salah satu highlight dalam cast adalah pendatang baru Roxana Condurache yang mengundang simpati sebagai sang korban Raya yang merasa tidak berdaya untuk berbuat apa-apa.

Sutradara Kondracki tampak amat memahami bahwa ia berdiri di sisi korban dalam hal ini kaum wanita. Keseluruhan adegan gadis-gadis muda yang mengalami penyiksaan dan kekerasan seksual ditampilkan secara eksplisit untuk membuat anda trenyuh. Setting lokasi pun dibuat mirip dengan tone film yang juga tersendat-sendat. Faktor sinematografi yang maksimal tidak didukung oleh editing yang baik, seringkali momentum konflik tidak terangkat secara maksimal.
The Whistleblower belum mampu berdiri sebagai drama thriller politik yang konsisten membangun emosi penonton dari awal hingga akhir. Beberapa bagian yang “mengenaskan” memang cukup sulit bagi sebagian penonton. Namun setidaknya orang-orang seperti Kathryn Bolkovac yang mungkin satu dari sejuta itu kiranya dapat mengingatkan anda untuk berbuat sesuatu memerangi human-trafficking walaupun harus menghadapi pihak yang lebih dominan segala-segalanya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$1,120,914 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 12 Desember 2011

BUKAN POCONG BIASA : Gangguan Pocong Maksud Tersembunyi

Quotes:
Jaki: Untung kita naik mobil. Kalo pocong kan larinya cuma bisa sekotak-sekotak.


Storyline:
Bertujuan membuat sebuah film pendek mengenai kehidupan warga, lima sahabat yaitu Jaki, Remon, Papay, Niken dan Anna pergi ke Puncak. Sayangnya di tengah jalan, mobil mereka mogok karena ban kempes. Bermaksud meminjam dongrak, mereka masuk ke sebuah rumah tak berpenghuni. Kejadian menyeramkan terjadi saat ketiga pocong mulai mengganggu mereka. Terbirit-birit Jaki mengendarai mobil kembali ke Jakarta. Teror tak berhenti karena pocong perempuan tersebut terus mengikuti. Apa yang sesungguhnya diinginkan dari Jaki dkk?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Productions dimana gala premierenya diadakan di Hollywood XXI tanggal 12 Desember 2011.

Cast:
Zaky Zimah sebagai Jaki
Soraya Larasati sebagai Niken
Ronald Gustav sebagai Remon
Irene Justine sebagai Anna
Yoga Arizona sebagai Papay
Mucle
Malih Tong Tong
Mpok Atiek

Director:
Merupakan film ke-5 bagi Chiska Doppert sekaligus penutup tahun 2011 ini.

Comment:
Saya sempat berpikir bahwa film ini merupakan parodi dari Bukan Cinta Biasa karena kemiripan judulnya. Namun ternyata sebuah stand alone yang ide ceritanya digagas oleh Tb. Ule Sulaeman S. Lantas pertanyaannya adalah apakah kali ini si pocong memiliki kekuatan “luar biasa” untuk menakuti atau bahkan menghibur penonton? Jawabannya bisa anda temukan dalam produksi terbaru Mitra Pictures & Bic Productions ini.
Sebuah rumah bertingkat gaya tradisional dengan interior kayu dominan menjadi setting yang dianggap “efektif” oleh sutradara Chiska untuk membangun ketakutan (atau kelucuan?) lengkap dengan sound yang memekakkan telinga. Meski sempat berpindah ke rumah modern plus kampus, tiga sosok berkain kafan tersebut ternyata tergabung dalam GMP alias gerakan mobilitas pocong. Jelaslah, fasilitas angkutan umum sudah cukup memadai sehingga mereka bisa menumpang mobil sampai bus umum.

Zaky Zimah kali ini menokohkan anak gaul “beatboxing” lengkap dengan topi yang diputar ke samping. Celetukan-celetukan khas yang keluar dari mulutnya kembali disuguhkan. Namun ia tidak sendiri dalam melucu disini karena Ronald Gustav ternyata cukup fasih memeragakan pria gagap yang kontras dengan ekspresi polosnya di sepanjang film. Aksi keduanya secara tidak langsung menenggelamkan tokoh-tokoh lainnya yang dimainkan oleh Soraya, Irene ataupun Yoga. Namun duet satpam bermuka “mengganggu” Malih dan Mucle merupakan sebuah pengecualian dengan segmen komedik khusus bergaya lawas.
Secara khusus saya ingin mengomentari tampilan tiga pocong “tak biasa” yang rajin sekali menampilkan ekspresi aneh bin ajaibnya itu. Seringai mengejek, mata mendelik, lidah terjulur hingga yang paling ekstrim adalah menggunakan tangan dan kaki mereka untuk aktifitas yang tidak pernah terbayangkan dilakukan oleh seikat pocong. Ups, maaf jika saya sedikit spoiler. Mudah-mudahan tidak mengurangi unsur kejutannya jika memang anda berniat menyaksikan film ini.

Bukan Pocong Biasa sebetulnya bukan komedi horor yang buruk, hanya saja premis serupa terlalu sering diangkat sebelumnya sehingga tinggal menyisakan sedikit kejutan. Endingnya pun ditutup dengan twist tipikal yang malahan sudah disinggung di opening film yaitu minta ditemukan. Jualan utamanya jelas adegan slapstick komikal yang akan memaksa anda tertawa “tidak biasa” terus-menerus. Durasi satu jam pertama malah sibuk menyorot interaksi manusia dengan pocong secara panjang kali lebar sama dengan pusing tujuh keliling. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 11 Desember 2011

DRIVE : Kehidupan Pengantar Bahaya Pencari Masalah

Quotes:
Shannon: I know a lot of guys who mess around with married women, but you're the only one I know who robs a place to pay back the husband.


Storyline:
Driver adalah seorang pemeran pengganti sopir dalam industri perfilman Hollywood yang tidak pernah gagal dan menguasai teknik mengemudi yang tinggi. Saat berjumpa dengan tetangganya Irene dengan seorang putra Benicio, Driver mulai menemukan warna kehidupan yang berbeda dari biasanya. Sayangnya kebahagiaan tak berlangsung lama ketika suami Irene, Standard dibebaskan dari penjara dan menangguk hutang yang tidak sedikit. Driver bersedia membantu Standard merampok sebuah pegadaian hingga tidak sadar bahwa bahaya mulai menyeretnya ke dalam arus liar yang tidak terkendali.

Nice-to-know:
Nicolas Winding Refn menggantikan Neil Marshall sebagai sutradara. Refn sendiri dipilih langsung oleh Ryan Gosling yang juga terpilih setelah Hugh Jackman batal memerankan Driver.

Cast:
Baru saja bermain dalam All Good Things dan Blue Valentine di tahun 2010, Ryan Gosling ditunjuk sebagai Driver
Carey Mulligan sebagai Irene
Bryan Cranston sebagai Shannon
Aktor yang suaranya dikenal dalam serial televisi kartun abadi The Simpsons (1990-2011), Albert Brooks bermain sebagai Bernie Rose
Oscar Isaac sebagai Standard
Christina Hendricks sebagai Blanche
Ron Perlman sebagai Nino

Director:
Pria berkebangsaan Denmark bernama Nicholas Winding Refn ini mulai angkat nama lewat Pusher (1996) yang dilanjutkan dengan dua sekuelnya.

Comment:
Terkadang sebuah film harus dinikmati dengan sesedikit mungkin informasi yang terdapat di kepala anda sebelum menyaksikannya. Skrip yang ditulis oleh Hossein Aimi berdasarkan novel berjudul sama karangan James Sallis ini sebaiknya diperlakukan demikian demi menjaga kejutan yang terkandung di dalamnya. Yang perlu anda ketahui adalah sosok Driver seorang melalui sepak terjangnya menjalani kehidupan nyatanya yang seakan semu itu.
Paruh pertama yang berjalan lambat memperkenalkan anda terlebih dahulu pada Driver, Shannon, Irene, Benicio. Interaksi Driver yang sepi kehidupan sosialnya dengan Irene tak jarang diakhiri lewat keheningan penuh makna di antara mereka. Sebuah “tikungan tajam” membuka paruh kedua yang menghentak cepat sekaligus membawa karakter-karakter keras macam Bernie Rose, Nino, Standard, Blanche masuk mempertajam konflik yang ingin disampaikan.

Lagi-lagi Gosling menampilkan akting kelas satunya disini. Konon anda akan lupa total dengan peran-peran sebelumnya yang tidak pernah di bawah rata-rata itu. Sosok Driver tanpa nama yang nyaris selalu diam seribu bahasa itu menuntaskan sempurna setiap dialog minim dimana sorot mata tajam dan gestur tubuh sudah cukup berbicara secara efektif. Terjemahan karakternya yang kompleks dimana kelembutan hati dan ketangguhan mental diperlihatkan silih berganti.
Sederetan aktor senior juga menyuguhkan kontribusi yang maksimal. Cranston terasa berjiwa besar sebagai atasan Driver. Brooks menjiwai peran raja kejahatan yang bengis didampingi Perlman yang juga keras kepala. Hubungan di antara ketiganya dapat ditarik sebuah garis linier satu sama lain saling mempengaruhi. Tentu saja kehadiran si cantik lembut Mulligan menambah daya tarik sendiri terlepas dari minimumnya porsi yang diberikan padanya.

Sutradara Refn menyajikan visual yang cantik nan kental dengan warna oranye yang menghangatkan. Kerasnya kehidupan Los Angeles juga tidak ketinggalan dengan berbagai scene kejar-kejaran mobil plus pertarungan yang tak jarang diakhiri kekerasan yang brutal tak terduga. Suguhan scoring music brilian dari Cliff Martinez termasuk tembang-tembang pop sintesis lawas ala The Bangles menghiasi setiap adegan dramanya dengan nuansa kelembutan yang seakan mengawang kembali ke tahun 1990an.
Dukungan eksekusi unik dari plot cerita nan cerdas sekaligus kontribusi akting yang mumpuni membuat Drive layak diperhitungkan dalam ajang festival film manapun termasuk Academy Awards sekalipun. Mungkin bukan tontonan umum bagi anda para penikmat film Hollywood yang menjual otot dan bombardir spesial efek untuk adegan aksi tipikal. Namun yang jelas elemen noir dan art-house yang kental membangkitkan feel yang emosional merupakan sesuatu yang patut diapresiasi tinggi. Above it all, would you protect something or even someone whose importance are only secondary reasons in your life?

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$34,598,322 till Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 Desember 2011

HAPPY FEET 2 : Pencarian Identitas Kiamat Bangsa Pinguin

Quotes:
The Mighty Sven: If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.


Storyline:
Mumble kesulitan menghadapi putranya Erik yang tidak bisa berdansa tetapi terobsesi untuk terbang melihat figur idolanya, The Mighty Sven. Tak lama kemudian, bencana alam yang menyebabkan dataran yang tertutup es mulai hancur perlahan-lahan pun mengancam eksistensi bangsa penguin yang terjebak tanpa makanan dan jalan keluar. Mumble dan Gloria beserta Sven dan kawan-kawan harus memutar otak untuk menyatukan bangsa penguin agar tidak kehilangan harapan walau harus menanggung resiko bahaya pribadi demi tujuan yang lebih mulia lagi.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Warner Bros. Pictures, Village Roadshow Pictures, Kennedy Miller Mitchell dan Dr D Studios, sekuel ini beredar di Amerika Serikat pada tanggal 18 November 2011.

Voice:
Elijah Wood sebagai Mumble
Pink sebagai Gloria
Ava Acres sebagai Erik
Brad Pitt sebagai Will the Krill
Matt Damon sebagai Bill the Krill
Hank Azaria sebagai The Mighty Sven

Director:
Sekuel pertama yang dikerjakan George Miller adalah Mad Max 2: The Road Warrior (1981).

Comment:
Masih ingat dengan kisah penguin yang pandai berdansa menderapkan kaki di saat mencari jati dirinya yang berbeda dari kawanannya? Happy Feet (2006) waktu itu mencatat sukses luar biasa yaitu perolehan box office 198 juta dollar dari peredaran di Amerika Serikat saja yang kemudian dilengkapi oleh gelar Film Animasi Terbaik dalam ajang Academy Awards 2007. Tidak heran jika 5 tahun kemudian, muncul sekuelnya dengan tema yang lebih dewasa.
Gary Eck dan Paul Livingston melengkapi line-up George Miller dan Warren Coleman yang memang sudah terlibat dari prekuelnya. Kali ini mereka berempat mengajak penonton untuk mengenal sosok Mumble dan Gloria sebagai orangtua dari putra kecil mereka, Erik yang memiliki kesulitan untuk menggerakkan kaki. Bukan hanya itu, isu gangguan keseimbangan alam juga disajikan sebagai latar belakang cerita yang memang bisa mengancam eksistensi makhluk hidup tanpa terkecuali.

Wood masih menyumbangkan kontribusi yang sama dalam tokoh Mumble yang lugu tetapi tulus itu. Pink yang terpilih sebagai Gloria di luar dugaan mampu memberikan aksen yang berbeda. Tone suara rockernya ternyata mampu menyanyikan lagu ballad dengan baik seperti dalam nomor Do Your Thing, Bridge of Light atau Rhythm Nation. Acres juga menyulihkan suara si kecil Erik dengan lumayan meskipun dalam lagu Erik’s Opera yang sangat mendalam itu harus diback up oleh Omar Crook. Jangan lupakan juga gaya humor khas Azaria dan Williams dalam sosok Ramon dan Sven sekaligus.
Entah mengapa saya merasa tokoh Will dan Bill the Krill yang sebetulnya berada di luar konteks cerita utama seakan dibiarkan memiliki porsi tersendiri dengan petualangan mencari kerumunannya sendiri. Mungkin mengingatkan anda pada sosok Scrat dalam trilogi Ice Age yang amat sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya itu. Penunjukan Damon dan Pitt untuk mengisi suara dua udang kecil yang warna dan tekstur tubuh detil yang enak dipandang itu juga terbilang bijak.

Sutradara Miller bisa jadi lupa bahwa Happy Feet seharusnya menjadi tontonan seluruh anggota keluarga. Sekuelnya ini sedikit terlalu gelap untuk dinikmati anak-anak karena karakter penguin-penguin muda yang tak jarang diberikan tanggungjawab berat untuk memikul bahaya. Efek 3D memang ditempatkan secara benar di beberapa bagian bawah laut terutama di setiap scene Will-Bill yang menyala itu tapi rasanya tidak terlalu penting dalam memberikan nilai tambah.
Happy Feet Two ini sebetulnya sebuah sekuel yang tak diperlukan mengingat premis pencarian jati diri penguin yang memiliki kebiasaan unik sulit untuk diulang atas dasar apapun juga. Terbukti bagian pembuka hingga pertengahan tidak menawarkan hal-hal baru. Beruntung setelah itu menuju ending, intensitasnya naik lewat berbagai momen ajaib nan menyentuh yang banyak terbantu oleh lagu-lagu mixed up lawas seperti We Are The Champions, Ice Ice Baby ataupun Dragostea Din Tei. Nilai yang dapat dipetik tentunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup harus diperhatikan terutama sewaktu menghadapi bahaya yang bisa menjerumuskan semua pihak.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$51,704,566 till Dec 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 09 Desember 2011

TRESPASS : Perampokan Rumah Berujung Pengkhianatan

Quotes:
Kyle Miller: Your filthy lust invited them in.


Storyline:
Kyle dan Sarah Miller dapat dikatakan memiliki semuanya, rumah elit menghadap pantai, kendaraan mewah termasuk putrinya Avery yang beranjak dewasa. Sekembalinya dari perjalanan bisnis, Kyle yang juga seorang pedagang berlian mendapati empat penjahat memasuki rumahnya secara paksa. Suami istri Miller pun disandera dimana penjahat tersebut menginginkan sejumlah uang tunai dan berlian yang bernilai tinggi itu. Perlahan-lahan, rahasia masing-masing mulai terkuak. Pertaruhan hidup dan mati pun terancam oleh kepercayaan.

Nice-to-know:
Produksi sempat tertunda pada tanggal 3 Agustus 2010 saat Nic Cage ingin mengganti peran nya sebagai pencuri. Peran suami Nic Kidman sempat ditawarkan kepada Liev Schreiber. Nic Cage akhirnya memutuskan untuk meneruskan peran semulanya.

Cast:
Nicolas Cage sebagai Kyle Miller
Tidak terlalu sukses mendampingi Adam Sandler dalam Just Go With It (2011), Nicole Kidman berperan sebagai Sarah Miller
Ben Mendelsohn sebagai Elias
Baru saja bermain luar biasa dalam Trust (2010), Liana Liberato bermain sebagai Avery Miller
Cam Gigandet sebagai Jonah

Director:
Pria berusia 72 tahun bernama Joel Schumacher ini pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai dalam The Incredible Shrinking Woman (1981).

Comment:
Tema penyanderaan di rumah sendiri yang dilakukan oleh sekelompok orang rasanya bukan sesuatu yang baru. Berkali-kali dihadirkan sebelumnya dalam drama action maupun thriller, bahkan beberapa diantaranya menggunakan gaya dokumenter yang secara detil menyuguhkan babak per babak dengan mencekam. Kali ini daya tariknya jelas ada pada faktor jajaran cast dan sutradara yang menanganinya. Apakah hasilnya berbeda? Anda sendiri yang menentukan.
Penulis skrip Karl Gajdusek kali ini membagi cerita dalam dua kubu yaitu protagonis versus antagonis. Masing-masing kubu memiliki hubungan yang tidak dapat disepelekan artinya begitu saja. Sepanjang cerita bergulir, anda akan menemukan banyak sekali intrik dan problematika yang terjadi di antara para karakternya sehingga konflik diperlebar sedemikian rupa yang berujung pada sebuah klimaks yang lagi-lagi klise yaitu “Who’s gonna survive?”

Saya mempertanyakan motif Kidman bermain disini. Setelah memenangkan Piala Oscar, ia terlihat selektif bermain film. Namun keputusannya mendukung film yang dikategorikan “biasa-biasa saja” ini cukup mencengangkan. Meski demikian peran Sarah Miller mampu dijiwainya, istri yang tidak puas meski bergelimang harta hingga pada akhirnya berusaha sekuat tenaga menebus kesalahannya. Justru yang lebih mencuri perhatian adalah aktris masa depan Liberato yang bermain lugas sebagai putri yang menginginkan kepercayaan orangtuanya untuk bisa bertindak dewasa.
Sebaliknya Cage merupakan aktor yang boleh dibilang menerima peran apapun yang disodorkan kepadanya. Terbukti beberapa deretan filmografi terakhirnya tidak terlalu memuaskan dari segi kualitas maupun kuantitas. Tokoh Kyle yang “tricky” disini ternyata lebih dari sekadar ayah maupun suami biasa. Para penjahat seperti Gigandet, Mendelsohn, Mihok dan Spiro sebetulnya cukup menakutkan dengan keberingasan dan senjata di tangan tapi agak gagal menjaga intensitas yang diinginkan.

Sutradara senior Schumacher melupakan sedikit logika disini. Kyle dan Sarah Miller seakan memiliki superioritas lebih. Memang secara nama besar jelas di atas aktor-aktris lainnya tapi kapasitas mereka sebagai pihak tersandera yang nyawanya betul-betul terancam harusnya diperhatikan terlepas dari status sebagai pemegang harta yang amat diinginkan oleh penjahat. Klastrofobia yang bisa melingkupi setiap ruang dalam rumah megah tersebut juga gagal dimanfaatkan setiap jengkalnya.
Trespass adalah sebuah ide lawas yang dieksekusi tanpa mengacu pada realita yang ada apalagi dilengkapi latar belakang para karakternya. Permainan kucing tikus yang diharapkan memacu adrenalin tidak terjadi secara frekuentif. Sebaliknya pertukaran dialog yang terganggu oleh suara bising maupun histeris tokoh wanita kerapkali terjadi. Pada akhirnya yang membuat film ini masih layak tonton adalah akting kaliber Cage dan Kidman selain fakta bahwa kepercayaan merupakan modal utama yang harus dijaga kalau tidak ingin berselisihpaham yang berujung pada kefatalan.

Durasi:
91 menit

U.S. Box Office:
$16,816 in opening week end of Oct 2011 (10 screens)

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 08 Desember 2011

ARWAH KUNTILANAK DUYUNG : Suami Penyiksa Kuntilanak Duyung Pembalas

Tagline:
Tepat di kilometer sembilan puluh tujuh
Jalan tol cipularang di selimuti ratapan pilu
Tepat di tempat haus darah itu
Arwah kuntilanak duyung menunggumu


Storyline:
Di sebuah pantai, Linda dan Ardo bertemu dan saling jatuh cinta. Demi masa depan mereka berdua, Ardo membangun Villa Linda disana atas rekomendasi Jali untuk hidup berbahagia bersama istri tercinta. Adalah dua pembantu kocak yang mendampingi keduanya yaitu Ayu dan Odong. Sementara itu tukang ojek sepeda paruh baya Amat tanpa sengaja membuang ari-ari bayi ke pantai sehingga mengundang Aisha, kuntilanak duyung penunggu pantai setempat. Sejak saat itulah Amat dan Sule yang rajin mangkal seringkali menjadi sasaran gangguan. Apa yang sesungguhnya diinginkan Aisha?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh K2K Productions dimana syutingnya diselesaikan sebelum Ramadhan lalu.

Cast:
Dewi Perssik sebagai Aisha
Saipul Jamil sebagai Jali
Entis Sutisna alias Sule sebagai Sule
Pretty Asmara sebagai Ayu
Afdhal Yusman sebagai Ardo
Dian Widiantoro sebagai Linda

Director:
Merupakan film keenam bagi Yoyok Dumprink sekaligus yang kelima di tahun 2011 ini setelah Pacar Hantu Perawan.

Comment:
Mari terjemahkan kata per kata judul film ini versi saya, jadi dilarang protes. Arwah adalah intisari dari tubuh fisik perempuan. Kuntilanak identik dengan makhluk halus berwujud perempuan yang meninggal saat tengah mengandung. Sedangkan duyung adalah ikan berkepala manusia yang biasanya perempuan. Persamaan dari ketiga kata tersebut adalah perempuan. Lantas jika ketiga kata tersebut dipersatukan, konsepnya dapat diartikan perempuan jadi-jadian. Setuju saja deh dengan KKD kali ini!
Entah siapa yang patut dipersalahkan atas ide brilian skrip yang tak dapat dipertanggungjawabkan itu. Bagaimana empat tempat yang berbeda mulai dari vila, hutan, pantai, tol Cipularang dapat dihubungkan begitu saja tanpa korelasi yang jelas. Mungkin Doraemon harus mengecek pintu kemana saja nya apakah digunakan tanpa ijin oleh KKD? Yang pasti dengan gaya bercerita loncat-loncat ala bajingan eh bajing, Yoyok Dumprink berusaha menciptakan momok dari kuntilanak naik ojek sepeda (DP), kuntilanak duyung (DP lagi) dan pocong banci (untung bukan DP).

Samasekali tidak ada penjelasan masuk akal bagaimana seorang wanita yang tengah mengandung mati dibunuh lalu dibuang ke laut lantas menjadi kuntilanak air yang kemudian diperhalus menjadi kuntilanak duyung? Asumsi liar saya mulai berkelana. Lantas twist di akhir cerita yang berusaha menjawab misteri tol Cipularang KM 97 dihadirkan dengan adegan bulan purnama di belahan langit malam saja. Sungguh sebuah masterpiece!
Ricuh “drama king” Saipul Jamil yang sempat memprotes pemasangan tulisan Tol Cipularang KM 97 besar-besar dalam posternya ternyata tidak diimbangi oleh akting yang baik. Jika di kemudian hari ia mempersalahkan LSF yang memangkas adegan seks “brutal” nya itu, saya tidak heran. Dewi Perssik tampaknya sudah semakin “nyaman” bekerjasama dengan KKD dalam beberapa film terakhirnya. Baik sebagai wanita biasa atau hantu luar biasa, ia tidak berkeberatan, termasuk mengenakan kostum duyung emas yang untungnya tidak sampai memalukan.

Debut Sule disini setidaknya sedikit menyelamatkan film. Gaya humornya yang fresh di layar lebar cukup mampu memancing tawa berkali-kali. Adegannya membonceng kuntilanak dengan sepeda di tengah hutan malah mengingatkan saya akan sosok (alm.) Suzanna dan Muni Cader di film-film horor lawas. Karakter Ayu dan Odong rasanya ditakdirkan menjadi perusak mata dengan banyaknya syut close up yang mempertontonkan bulu dada dan beha-kolor Pretty yang triple XL itu. Sedangkan tokoh Linda Ardo sudah ditakdirkan menjadi pelengkap derita saja terlepas dari apapun yang mereka lakukan.
Satu-satunya nilai plus Arwah Kuntilanak Duyung adalah originalitas seorang KK Dheeraj yang biasanya “mencontek” itu. Bahkan kreatifitasnya diganjar dengan acknowledgement yang membuat film ini konon akan diremake oleh Hollywood menjadi sebuah sains fiksi horor yang lain daripada biasanya. Apapun hasilnya kelak, kita sebagai masyarakat penikmat film local tidak perlu berbangga hati dahulu. Namun sebaiknya merasa malu jika di penghujung tahun 2011 ini masih dijejali dengan ide “gabrukan” semacam ini. Teruskanlah mengikik Dewi Perssik sembari dikritik!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 07 Desember 2011

MR. IDOL : Kisruh Formasi Baru Grup Idola

Quotes:
Mr. Children: We are rebel without a cause, betray with a case


Storyline:
3 tahun lalu, eksekutif musik Gu Ju meninggalkan Korea Selatan setelah kematian Ji Hoon vokalis band idola Mr. Children. Sekembalinya di tanah air, Gu ditawari Hee-Moon yang mengelola agensi bakat baru Star Music untuk membentuk sebuah grup pria yang memenuhi standar. Mantan anggota Mr. Children yaitu Hyun-Ji, Jio dan Ricky berkumpul kembali hingga akhirnya diputuskan Eugene sebagai vokalis baru yang terpilih dari sebuah audisi. Namun apakah kembalinya Mr. Children ke kancah musik Korea semudah membalikkan telapak tangan?

Nice-to-know:
Syuting Mr Idol dimulai pada tanggal 28 Februari 2011 di Universitas Hongik, Seoul sampai berakhir pada tanggal 9 Juni 2011 di Han River Bridge.

Cast:
Park Ye Jin sebagai Gu Ju
Woo Ji Hyun sebagai Eugene
Jay Park sebagai Jio
Jang Seo Won sebagai Hyun Yi
Kim Randy sebagai Gi Ki
Kim Soo Ro sebagai Moon Hee

Director:
Ra Hee Chan

Comment:
Invasi Korean Pop boleh dibilang sudah melanda benua Asia selama beberapa tahun terakhir. Baik solois maupun grup musik pria dan wanita sekalipun berlomba-lomba unjuk gigi dengan tembang-tembang andalan yang rata-rata upbeat dengan dukungan koreografi yang dinamis hingga nama mereka dikenal luas. Itulah sebabnya produser Kim Sung-Chul jeli melihat peluang ini dan menjadikannya premis drama komedi musikal terbaru negeri ginseng ini.
Seperti telah diperkirakan sebelumnya, keahlian menyanyi dan menari kuartet Woo Ji Hyun, Jay Park, Jang Seo Won dan Kim Randy lah yang paling diutamakan selain penampilan lahiriah mereka yang sudah dari sononya itu. Beruntung masih diceritakan proses “jatuh bangun” latihan keras dan pembentukan karakter masing-masing sesuai masa lalunya sebelum menuju tingkat tersebut sehingga konsep mencetak bintang secara instan dapat dihindari kali ini.
Sutradara Ra dengan cerdas memadukan konsep musikal dan drama secara pas. Bagaimana aksi panggung dari para idola tersebut dapat disorot dari berbagai arah menyajikan sebuah pertunjukan yang memikat. Belum lagi babak kehidupan yang dialami oleh masing-masing personil berikut produsernya sendiri itu juga dikisahkan tidak berlebihan walau kesan kemonotonan sulit dihindari karena riak konflik yang tidak sampai memuncak.

Lagu Summer Dream memang layak dijadikan jualan utama karena liriknya yang bagus dan musiknya yang catchy. Diulang berkali-kali di sepanjang filmpun anda akan tetap tergelitik untuk mendengar dan bergoyang bersamanya. Selain itu hit-hit Missing U, Remember, I Will Get U, Shall We Kiss, Yes It Is!, Believe dari Wonder Boys, NAVI dsb juga menjadi nilai tambah tersendiri. Bahkan rasanya album soundtracknya bisa menjadi collectible item yang patut anda miliki.
Mr Idol memang belum sempurna sebagai sebuah film. Plot ceritanya tergolong datar di samping faktor penyelesaiannya yang sangat ngepop itu. Festival Musik yang menjadi babak pamungkas yang dituju juga esensinya tidak ditampilkan secara utuh. Namun setidaknya mereka membuktikan bahwa kedigdayaan propaganda musisi Korea yang mencerminkan semangat dan optimisme tinggi demi menghibur para penggemarnya secara total.

Durasi:
114 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 06 Desember 2011

CARJACKED : Pembajakan Mobil Ibu Anak Pelarian Perampok

Tagline:
It's her car. Don't tell her what to do with it.


Storyline:
Berusaha memenangkan hak asuh Chad dalam persidangan menghadapi mantan suaminya Gary Burton, Lorraine menyewa pengacara handal. Sayangnya dalam perjalanan mengendarai mobil, Lorraine dan Chad dihadang oleh Roy yang baru saja merampok sebuah bank dan bertekad melarikan diri. Pembajakan mobil tak dapat dihindari dimana Lorraine harus menuruti setiap permintaan Roy atau nyawanya bersama Chad menjadi taruhan yang mahal harganya.

Nice-to-know:
Film yang mengambil lokasi syuting di Baton Rouge, Louisiana, USA ini rilis di Amerika Serikat pada tanggal 22 November 2011.

Cast:
Memulai karir aktingnya dalam Maintenance (1992), Maria Bello bermain sebagai Lorraine Burton
Tahun lalu sempat tampil dalam Somewhere, Stephen Dorff berperan sebagai Roy
Joanna Cassidy sebagai Betty
Connor Hill sebagai Chad Burton

Director:
Merupakan film kedua yang digarap John Bonito setelah The Marine (2006).

Comment:
Thriller bergaya road movie adalah salah satu sajian yang patut didukung oleh skrip yang baik dan karakterisasi yang kuat dari para tokoh-tokohnya. Sherry Compton dan Michael Compton melakukan usaha terbaiknya untuk menerjemahkan premis yang sederhana dimana hanya melibatkan seorang ibu dengan putra kecilnya berhadapan dengan sang penjahat yang membajak mobil mereka. Tiga orang yang bahu membahu selama lebih kurang satu setengah jam ini.

Stephen Dorff merupakan aktor berpengalaman yang jarang menampilkan akting di bawah standar. Peran Roy di tangannya tidak terlalu mengerikan walau cukup menyebalkan untuk dibenci penonton. Maria Bello juga aktris berkualitas yang selalu memberikan penjiwaan yang menarik. Kali ini Lorraine adalah seorang wanita biasa yang sedang mengalami hari buruk dimana sisi emosionalnya dituntut untuk bereaksi sesuai kenyataan yang bisa anda bayangkan.
Chemistry keduanya dalam bertukar dialog cukup mengesankan. Ketegangan dapat dijaga lewat serangkaian peristiwa kucing-tikus yang wajar. Bagaimana usaha Lorraine untuk mengelabui Roy merupakan poin yang menarik disini terutama perlawanan yang diberikan menjelang akhir cerita. Sebetulnya saya berharap lebih pada Connor Hill untuk bisa menyuguhkan twist yang unik, sayangnya hal tersebut tidak terjadi.

Sutradara Bonito gagal menampilkan kekerasan yang sama dengan The Marine. Ia memilih bermain aman dan menyajikan Carjacked sebagai tontonan ringan yang mudah diikuti. Thriller yang pada akhirnya mengecewakan para pecinta genre ini karena minimnya adegan seru ataupun gory di dalamnya. Predikat direct-to-dvd memang sulit dilepaskan oleh film ini karena nyaris tidak ada sisi kreatif yang dapat dijual selain adu emosi antara Dorff versus Bello disini.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent