XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label brad pitt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brad pitt. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

WORLD WAR Z : Reinvent Zombie Invasion For Better Experiences

Tagline:
Remember Philly!

Nice-to-know:
Paramount Pictures lewati proses panjang demi peroleh hak adaptasi novel Max Brooks, World War Z: An Oral History of the Zombie War.

Cast:
Brad Pitt sebagai Gerry Lane
Mireille Enos sebagai Karin Lane
Daniella Kertesz sebagai Segen
James Badge Dale sebagai Captain Speke
Ludi Boeken sebagai Jurgen Warmbrunn
Matthew Fox sebagai Parajumper


Director:
Merupakan feature film kesepuluh bagi Marc Forster setelah Machine Gun Preacher (2010).

W For Words:
Film zombie apocalypse terbaik bagi saya sejauh ini adalah 28 Days Later (2002) yang dilanjutkan dengan sekuelnya 28 Weeks Later (2007) yang sangat British itu. Kini Hollywood mencoba peruntungannya dengan memproduksi film sejenis yang diadaptasi dari novel Max Brooks keluaran tahun 2006. Sebagai daya tarik utama dipasang nama aktor handal, Brad Pitt dengan sederet cast yang belum banyak dikenal publik. Tidak tanggung-tanggung, jadwal rilis film berformat 2D, 3D dan IMAX 3D (di sebagian negara) pada periode summer mengindikasikan rasa percaya diri Paramount Pictures selaku distributor internasional.

Kota-kota besar di dunia mulai hancur karena wabah misterius yang mengganas yakni mengubah manusia normal menjadi zombie hanya dalam hitungan detik. Pihak Pemerintah dan militer Amerika Serikat kelimpungan. United Nations mengutus pegawainya, Gerry Lane melancong ke beberapa negara demi menemukan sumber virus sekaligus mencari penangkalnya. Sebagai imbalan, istrinya Karin dan dua putrinya dijanjikan tempat penampungan aman. Gerry harus berpacu dengan waktu sebelum umat manusia punah walau harus mempertaruhkan nyawanya sendiri. 

Skrip yang digagas oleh empat orang kreatif masing-masing Matthew Michael Carnahan, Drew Goddard, Damon Lindelof, J. Michael Straczynski ini memiliki alur linier. Adegan pembuka sudah langsung menempatkan anda di tengah situasi yang kian memburuk yang dialami tokoh utamanya. Paruh awal sukses memacu adrenalin anda tatkala melihat chaos dimana-mana baik dari sudut pandang orang pertama atau ketiga. Paruh akhir memang tidak terlalu intens karena lebih menekankan pada harapan hidup yang patut diperjuangkan walaupun kecil.

Sutradara Forster berhasil membangun setting ‘tidak biasa’ untuk  eksekusi sebuah premis yang sebenarnya sudah sering diangkat. Budapest, Skotlandia dan UK pun menjadi panggung bertutur yang fresh. CGI yang digunakan juga terbilang mencengangkan sekaligus efektif  dalam merajut ketegangan. Kapan lagi anda bisa melihat ratusan bahkan ribuan zombie yang teramat agresif hingga bisa meleburkan penghalang apapun. Gimmick 3D mungkin bisa meningkatkan intensitas meskipun tidak terlalu membantu ketika pendekatan shaky cam digunakan di beberapa bagian.

Pitt menghidupkan karakter Gerry Lane secara gemilang baik sebagai andalan umat manusia ataupun kepala keluarga yang dibebani tanggung jawab penuh. Kita mungkin akan memanggilnya lucky bastard tapi tetap tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya sepanjang durasi bergulir. Enos menjaga sisi dramatis film lewat karakter Karin yang samasekali tidak terlihat lemah. Sebaliknya Kertesz menyuguhkan penampilan heroik tentara wanita Israel berambut cepak bak Demi Moore dalam G.I. Jane (1997). Badge Dale, Boeken, Mokoena beserta duo aktris cilik Jerins dan Hargrove mampu mendukung para tokoh inti dalam film. 

World War Z memang menjual pengalaman bagi penonton. Itulah sebabnya banyak penjelasan signifikan yang digelorakan di sana-sini demi menjahit unsur logika dengan kemungkinan yang tak pernah terbayangkan dapat terjadi. Tentunya berbagai konsep menarik tetap dikedepankan termasuk penyelesaiannya yang cukup mindfuck tersebut. Sebuah suguhan summer blockbuster tahun ini yang berbeda karena memadukan drama kemanusiaan dengan action horror post-apocalyptic yang rasanya masih masuk akal. Prepare yourself for a thrilling fast-paced journey from start to finish!

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$66,411,834 till Jun 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 10 Desember 2011

HAPPY FEET 2 : Pencarian Identitas Kiamat Bangsa Pinguin

Quotes:
The Mighty Sven: If you want it, you must will it. If you will it, it will be yours.


Storyline:
Mumble kesulitan menghadapi putranya Erik yang tidak bisa berdansa tetapi terobsesi untuk terbang melihat figur idolanya, The Mighty Sven. Tak lama kemudian, bencana alam yang menyebabkan dataran yang tertutup es mulai hancur perlahan-lahan pun mengancam eksistensi bangsa penguin yang terjebak tanpa makanan dan jalan keluar. Mumble dan Gloria beserta Sven dan kawan-kawan harus memutar otak untuk menyatukan bangsa penguin agar tidak kehilangan harapan walau harus menanggung resiko bahaya pribadi demi tujuan yang lebih mulia lagi.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Warner Bros. Pictures, Village Roadshow Pictures, Kennedy Miller Mitchell dan Dr D Studios, sekuel ini beredar di Amerika Serikat pada tanggal 18 November 2011.

Voice:
Elijah Wood sebagai Mumble
Pink sebagai Gloria
Ava Acres sebagai Erik
Brad Pitt sebagai Will the Krill
Matt Damon sebagai Bill the Krill
Hank Azaria sebagai The Mighty Sven

Director:
Sekuel pertama yang dikerjakan George Miller adalah Mad Max 2: The Road Warrior (1981).

Comment:
Masih ingat dengan kisah penguin yang pandai berdansa menderapkan kaki di saat mencari jati dirinya yang berbeda dari kawanannya? Happy Feet (2006) waktu itu mencatat sukses luar biasa yaitu perolehan box office 198 juta dollar dari peredaran di Amerika Serikat saja yang kemudian dilengkapi oleh gelar Film Animasi Terbaik dalam ajang Academy Awards 2007. Tidak heran jika 5 tahun kemudian, muncul sekuelnya dengan tema yang lebih dewasa.
Gary Eck dan Paul Livingston melengkapi line-up George Miller dan Warren Coleman yang memang sudah terlibat dari prekuelnya. Kali ini mereka berempat mengajak penonton untuk mengenal sosok Mumble dan Gloria sebagai orangtua dari putra kecil mereka, Erik yang memiliki kesulitan untuk menggerakkan kaki. Bukan hanya itu, isu gangguan keseimbangan alam juga disajikan sebagai latar belakang cerita yang memang bisa mengancam eksistensi makhluk hidup tanpa terkecuali.

Wood masih menyumbangkan kontribusi yang sama dalam tokoh Mumble yang lugu tetapi tulus itu. Pink yang terpilih sebagai Gloria di luar dugaan mampu memberikan aksen yang berbeda. Tone suara rockernya ternyata mampu menyanyikan lagu ballad dengan baik seperti dalam nomor Do Your Thing, Bridge of Light atau Rhythm Nation. Acres juga menyulihkan suara si kecil Erik dengan lumayan meskipun dalam lagu Erik’s Opera yang sangat mendalam itu harus diback up oleh Omar Crook. Jangan lupakan juga gaya humor khas Azaria dan Williams dalam sosok Ramon dan Sven sekaligus.
Entah mengapa saya merasa tokoh Will dan Bill the Krill yang sebetulnya berada di luar konteks cerita utama seakan dibiarkan memiliki porsi tersendiri dengan petualangan mencari kerumunannya sendiri. Mungkin mengingatkan anda pada sosok Scrat dalam trilogi Ice Age yang amat sukses mencuri perhatian di setiap kemunculannya itu. Penunjukan Damon dan Pitt untuk mengisi suara dua udang kecil yang warna dan tekstur tubuh detil yang enak dipandang itu juga terbilang bijak.

Sutradara Miller bisa jadi lupa bahwa Happy Feet seharusnya menjadi tontonan seluruh anggota keluarga. Sekuelnya ini sedikit terlalu gelap untuk dinikmati anak-anak karena karakter penguin-penguin muda yang tak jarang diberikan tanggungjawab berat untuk memikul bahaya. Efek 3D memang ditempatkan secara benar di beberapa bagian bawah laut terutama di setiap scene Will-Bill yang menyala itu tapi rasanya tidak terlalu penting dalam memberikan nilai tambah.
Happy Feet Two ini sebetulnya sebuah sekuel yang tak diperlukan mengingat premis pencarian jati diri penguin yang memiliki kebiasaan unik sulit untuk diulang atas dasar apapun juga. Terbukti bagian pembuka hingga pertengahan tidak menawarkan hal-hal baru. Beruntung setelah itu menuju ending, intensitasnya naik lewat berbagai momen ajaib nan menyentuh yang banyak terbantu oleh lagu-lagu mixed up lawas seperti We Are The Champions, Ice Ice Baby ataupun Dragostea Din Tei. Nilai yang dapat dipetik tentunya kepedulian terhadap sesama makhluk hidup harus diperhatikan terutama sewaktu menghadapi bahaya yang bisa menjerumuskan semua pihak.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$51,704,566 till Dec 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 September 2011

THE TREE OF LIFE : Dogma Pertanyaan Manusia Tuhan Alam Semesta

Quote:
Father Haynes: He is in God's hands, now.
Mrs. O'Brien: He was in God's hands the whole time. Wasn't he?


Storyline:
Sebuah keluarga di Texas pada tahun 50an, Jack dewasa berjuang menyikapi keluguan masa kecil yang dipengaruhi oleh ayah ibunya hingga kehilangan saudara kandungnya yang terus membayangi. Kemapanan dunia modern yang sudah diraihnya tetap membuatnya mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup sambil mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Nice-to-know:
Ide cerita film ini sebenarnya sudah muncul sejak akhir tahun 70an dimana Terrence Malick mengerjakan proyek bertitel “Q” yang mengeksplorasi kehidupan asli di bumi. Mudah diduga, proyek batal tetapi sebagian besar elemen di dalamnya terkandung dalam film ini.

Cast:
Brad Pitt sebagai Mr. O'Brien
Sean Penn sebagai Jack
Jessica Chastain sebagai Mrs. O'Brien
Hunter McCracken sebagai Jack Muda

Director:
Merupakan feature film kelima Terrence Malick sejauh ini yang diawali dengan Badlands (1973) di usianya yang menginjak 30 tahun.

Comment:
Jujur saja, ini adalah film Terrence Malick pertama yang saya saksikan, tidak perlu malu untuk mengakuinya. Saya tidak begitu peduli akan pandangan orang yang mengatakan gaya film Malick demikian “unik” dan sulit dicerna oleh penonton awam. Saya hanya ingin merasakan sebuah pengalaman bersinema yang lain dari biasanya. Itulah sebabnya saya begitu tidak sabar setelah menyaksikan trailer The Tree Of Life untuk kali pertama beberapa waktu lalu.
Opening film ini dibuka dengan pengenalan singkat keluarga O’Brien secara samar, suami istri dengan tiga putera yang satu sama lain tidak berbeda jauh rentang usianya. Setelah itu dilanjutkan dengan introduksi alam semesta selama kurang lebih tiga perempat jam. Selayaknya channel National Geography, anda diajak mengawasi serentetan peristiwa evolusi yang terjadi di berbagai belahan bumi mulai dari asteroid angkasa luar, gunung meletus, kehidupan bawah laut bahkan interaksi dinosaurus ribuan tahun yang lalu.

Setelah melewati bagian tersebut yang konon membuat banyak penonton awam menyerah dengan meninggalkan bioskop, Malick mengajak anda kembali pada keluarga O’Brien. Bagaimana sang ayah begitu tegas mengajarkan tata krama berbanding terbalik dengan sang ibu begitu lembut menekankan kedamaian hati, dua sikap kontras yang sebetulnya membekali anak-anak mereka untuk menghadapi kedewasaannya kelak. Bagaimana ketiga putera tersebut menyikapi perlakuan ayah-ibunya dengan cara yang berbeda-beda pula. Sebuah contoh kasus keluarga yang umum terjadi dimanapun juga, dua dunia bertolak belakang yang sering dianalogikan sebagai yin dan yang.
Si sulung Jack mendapat porsi mayoritas. Keyakinannya akan hidup yang hitam-putih menjadi terguncang saat dihadapkan pada kesakitan, penderitaan hingga kematian. Meski telah menginjak tahap kedewasaan yang mapan sekalipun, Jack tetap terjebak dalam labirin pikiran yang dipengaruhi oleh pengampunan dan penerimaan dirinya sendiri. McCracken dan Penn menunaikan tugasnya dengan baik dan meyakinkan sebagai Jack kecil dan Jack dewasa yang diproyeksikan maju mundur secara simultan.
Yang menarik lagi, semua detail yang biasa terdapat dalam sebuah film seakan tidak dipedulikan Malick. Nyaris tidak ada penyebutan nama panggilan antar tokohnya atau penjelasan peranan satu terhadap lainnya. Seakan penonton hanya diperkenankan menjadi pengamat, tanpa perlu mengingat. Bahasa tubuh, lantunan kata, sorot mata justru sudah berbicara banyak mengungkapkan apa yang ada dalam kepala Pitt, Chastain dan lain-lain. Terkadang mereka seperti sekumpulan orang asing yang cukup diketahui saja tapi tidak untuk dikenal, layaknya ratusan orang yang tiap hari lalu lalang dalam kehidupan anda.

Baru kali ini saya merasa tidak terganggu dengan banyaknya pertanyaan tidak terjawab yang ditinggalkan sebuah film begitu saja selepas menontonnya. Semua pertanyaan yang akan menghinggapi benak anda, menjadikannya buah pemikiran pribadi sebagai instrospeksi selama beberapa saat atau justru mendiskusikannya bersama-sama dengan teman-teman adalah opsi yang bijak. Yang jelas semakin banyak pertukaran informasi yang terjadi akan turut memperkaya pemahaman anda tentang film yang diganjar penghargaan tertinggi Palm d’Or dalam ajang Festival Film Cannes tahun 2011 ini.
Tree of Life bukanlah sebuah bahan perkuliahan dari Malick untuk direnungkan, melainkan sebuah dogma sederhana yang bermakna universal tanpa mengacu pada agama tertentu. Diterjemahkan secara emosional dalam seni bercitarasa tinggi bernuansakan surealis dengan balutan puisi retorik nan indah. Lalu lintas ingatan yang bertumpuk-tumpuk di kepala manusia, yang tak jarang tergali kembali oleh suatu peristiwa yang memicunya, memang kerapkali mempengaruhi langkah hidup yang seharusnya hanya berfokus pada tujuan dan mimpi-mimpi untuk diwujudkan. Berpikir untuk maju atau maju untuk berpikir, pilihan selalu ada di tangan anda!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$13,013,549 till Sept 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 30 Oktober 2010

MEGAMIND : Menjadi Pahlawan Atau Penjahat Itu Pilihan

Quotes:
Roxanne Ritchi-What’s the plan?
Megamind-It mostly involves *not dying*!
Roxanne Ritchi-That’s a good plan, I like that plan…!

Storyline:
Metro Man merupakan pujaan hati Metro City karena selalu berhasil menanggulangi kejahatan yang terjadi termasuk dari penjahat super Megamind yang menjalani hukuman kurungan berpuluh-puluh tahun. Namun asisten Megamind, Minion tidak tinggal diam dan berhasil membebaskan tuannya dari penjara. Megamind segera menyiapkan rencana besarnya yaitu menculik penyiar televisi Roxanne untuk menghancurkan Metro Man. Di luar dugaan rencananya berhasil dan Mega Mind segera menguasai dunia. Namun ia merasa bosan dan tidak ada tantangan lagi. Menggunakan gen Metro Man, Megamind mengubah si kameraman biasa Hal menjadi superhero baru Titan. Malangnya semua tidak berjalan sesuai rencana karena Titan justru menjadi jahat karena obsesif akan kekuatan barunya. Sekarang Megamind mesti menyelesaikan semua kekacauan yang telah dimulainya itu.

Nice-to-know:
Awalnya direncanakan berjudul “Master Mind.” Namun ternyata sudah dipatenkan oleh pembuat serial televisi dan board game tahun 1970an.

Voice:
Will Ferrell sebagai Megamind
Brad Pitt sebagai Metro Man
Tina Fey sebagai Roxanne Ritchi
Jonah Hill sebagai Titan / Hal
David Cross sebagai Minion

Director:
Tom McGrath sebelumnya mengerjakan dua film Madagascar yang tergolong sukses itu.

Comment:
Melihat trailernya tidak banyak yang saya harapkan dari film ini. Mengapa?
Karakter utamanya Megamind adalah super villain yang penampilannya tidak menjual. Wajah yang tirus, kulit berwarna biru gelap dengan jubah panjang hitam yang dikenakannya lebih mengingatkan saya akan tokoh Count Dracula! Sepintas tidak ada yang spesial darinya. Namun Dreamworks mengetengahkan konflik pergulatan batin dengan cukup matang. Sesungguhnya Megamind bukanlah orang jahat tetapi ia dianggap demikian. Yang terjadi kemudian adalah transformasi karakter yang dilakukannya sehingga pribadi aslinya yang berbicara pada akhirnya. Jujur storyline ini terasa agak berat bagi anak-anak meskipun yang sudah agak besar sekalipun.
Sekali lagi saya katakan, saya sulit menyukai seorang Will Ferrell. Namun dalam animasi yang hanya memakai suaranya, hal tersebut tidak mengganggu. Ferrell mampu menghadirkan sosok Megamind yang sinis sekaligus eksentrik dengan imej yang tepat. Brad Pitt seperti biasa “loveable” selayaknya seorang Metro Man yang dipuja-puja, tetapi film ini tidak bercerita mengenai dirinya. Tina Fey sendiri merupakan pilihan tepat bagi karakter reporter Roxanne yang witty sekaligus cerdas. Lain lagi dengan Jonah Hill yang sedari awal tone suara dan bahasa tubuh seorang Hal sudah demikian menyebalkan.
Sutradara McGrath tergolong berhasil menghadirkan visualisasi yang kreatif dengan pengeksekusian elemen 3D yang brilian sepanjang film. Namun saya merasa terlalu banyak hal yang ingin disampaikan pada dua pertiga durasinya sehingga film ini terasa sedikit membosankan bagi para penonton yang seakan dipaksa untuk diseret-seret mengikutinya. Beruntung endingnya ditutup dengan cukup manis dimana sisi emosionalnya tertangkap secara maksimal.
Megamind tidaklah sesolid Despicable Me dalam berbagai aspek tetapi masih cukup menyenangkan sebagai sebuah tontonan terutama jika anda bisa mencoba untuk menyukai sosok Megamind sejak menit awal film. Ohya kemunculan beberapa soundtracknya juga sangat tepat untuk menyokong bangunan cerita yang ingin dihadirkan. Pesan moralnya adalah jadilah dirimu sendiri dan selalu ikuti kata hatimu karena itulah karakter asli pembentuk kepribadianmu!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 18 Oktober 2009

INGLOURIOUS BASTERDS : Sarkasme NAZI Sudut Pandang Tarantino

Quotes:
Col. Hans Landa-[Aldo has just killed his driver] Are you mad? What have you done? I made a deal with your general for that man's life!
Lt. Aldo Raine-Yeah, they made that deal, but they don't give a fuck about him. They need you.
Col. Hans Landa-You will be shot for this!
Lt. Aldo Raine-Naw, I don't think so. More like I'll be chewed out. I've been chewed out before.

Cerita:
Saat Nazi menduduki Perancis, gadis muda Yahudi bernama Shosanna menyaksikan keluarganya dibantai dengan sadis oleh Kolonel Hans Landa sebelum melarikan diri. Perlahan-lahan, Shosanna membangun kehidupannya sambil merencanakan balas dendam beberapa tahun kemudian saat pahlawan perang Jerman, Fredrick Zoller menaruh hati padanya. Di lain pihak, the Basterds, sebuah kelompok Yahudi Amerika yang dipimpin Letnan Aldo Raine bertekad membunuh setiap perwira Nazi yang mereka temui. Pada akhirnya semua pihak pun bertemu di gedung teater tepat pada pertunjukkan film dokumen kebanggaan Jerman yang turut dihadiri sang pemimpin Nazi itu sendiri, Adolf Hitler!

Gambar:
Demi menciptakan situasi yang sesungguhnya, Tarantino mengambil dua lokasi di Jerman yaitu Saxony dan Brandenburg sebagai latar belakang jaman penjajahan Nazi.

Act:
Dengan cast keroyokan, aktor-aktris yang bermain dalam Inglourious Basterds tetap menunjukkan performa terbaik sesuai tuntutan sutradara.
Brad Pitt sebagai Lt. Aldo Raine
Mélanie Laurent sebagai Shosanna Dreyfus
Christoph Waltz sebagai Col. Hans Landa
Eli Roth sebagai Sgt. Donny Donowitz
Michael Fassbender sebagai Lt. Archie Hicox
Diane Kruger sebagai Bridget von Hammersmark
Daniel Brühl sebagai Pvt Fredrick Zoller
Til Schweiger sebagai Sgt. Hugo Stiglitz

Sutradara:
Memenangkan satu-satunya Oscar pada tahun 1995 kategori Naskah Penulisan Terbaik dalam Pulp Fiction (1994), Quentin Tarantino merupakan salah satu sutradara eksentrik Hollywood yang sangat ternama berkat karya-karyanya yang off-mainstream.

Comment:
Film yang gelap penuh kekerasan tapi sedikit bernuansa fiksi komikal. Ya rasa salut harus dilayangkan pada Tarantino yang berhasil menggambarkan sekelompok bajingan yang bisa jadi mengingatkan kita semua pada kekejaman Nazi pada masanya. Terbagi dalam lima sekuens yang fasih dalam bercerita, Tarantino tidak hanya menyorot Inggris, Amerika ataupun Jerman yang saling bersitegang tetapi juga Perancis dan warga sipil Jerman yang tertindas karenanya. Hal unik dilakukannya lewat bertukar dialog dimana orang Perancis berbicara Jerman dan sebaliknya sehingga tercipta percakapan yang lucu sekaligus tajam. Hampir semua cast bermain brilian, hanya saja daya tarik utamanya yaitu Pitt terlihat paling lemah saat memerankan karakter idiot berkuasa yang penuh dendam. Pada beberapa adegan lambat, mungkin cukup mencengangkan anda dengan dramatisasi kekejaman yang seolah dibuat untuk ditertawakan.
Akhir kata, acungan jempol buat Tarantino yang sukses membuat banyak orang yakin ia pantas menerima gelar Sutradara Terbaik pada Oscar tahun depan. Namun saya ingatkan, Inglourious Basterds tidak bisa "dinikmati" begitu saja, terutama bagi anda yang tidak menyukai atau mengenal gaya dari Tarantino.

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$118,297,669 till early Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 06 Maret 2009

CURIOUS CASE OF BENJAMIN BUTTON : Perjalanan Hidup Pria Dengan Siklus Hidup Tak Lazim

Quotes:
Benjamin Button-It's a funny thing about comin' home. Looks the same, smells the same, feels the same. You'll realize what's changed is you.
----------
Daisy-Would you still love me if I were old and saggy? Benjamin Button-Would you still love ME if I were young and had acne? When I'm afraid of what's under the bed? Or if I end up wetting the bed?

Cerita:
Saat Badai Katrina menghantam New Orleans, ibu tua Daisy Williams dan putrinya yang sudah dewasa, Caroline bersama-sama membaca buku harian teman lama Daisy, Benjamin Button yang memiliki siklus hidup yang sangat menarik dimana lahir sebagai fisik orang tua dan beranjak muda seiring pertambahan usianya. Semua perjalanan hidup Benjamin tertuang di dalam diary tersebut, mulai dari dibuang oleh ayah kandungnya Thomas Button, pemilik pabrik kancing sampai diadopsi oleh wanita kulit hitam baik hati, Queenie yang juga petugas panti jompo. Berangkat dewasa, Benjamin bertemu kapten kapal Mike dan bekerja dengannya selama bertahun-tahun. Tak pelak pertemuan dininya dengan Daisy di usia muda menimbulkan getar asmara yang sulit disangkalnya. Bagaimana perjuangan seorang Benjamin dengan hidup yang tak biasa itu menyesuaikan diri dengan cinta dan mimpinya?

Gambar:
Sinematografi yang mengagumkan dari awal sampai akhir karena potret kehidupan seorang Benjamin Button mampu dijangkau dengan sempurna.

Act:
Brad Pitt sebagai Benjamin Button walau tidak tampil full sepanjang film berhasil menguatkan image nya sebagai aktor papan atas Hollywood yang rajin bervariasi dalam mengambil peran. Terima kasih untuk tim make up dan efek visual yang mencitrakan dirinya dalam berbagai rentang usia.
Aktris kaliber Oscar Cate Blanchett kebagian peran Daisy Williams yang cantik, cerdas dan menyenangkan didukung dengan kemampuan menarinya yang tinggi.
Didukung pula oleh Julia Ormond sebagai Caroline, Jason Flemyng sebagai Thomas Button Faune, Taraji P. Henson sebagai Queenie dan beberapa aktor-aktris yang semuanya tampil maksimal di film ini.

Sutradara:
Bekerjasama untuk ketiga kalinya setelah Se7en dan Fight Club bersama Brad Pitt, David Fincher boleh dibilang sutradara berbakat yang seringkali di bawah radar. Hal ini dikarenakan karyanya yang tentatif dan cenderung tidak komersil serta kesibukannya menggarap video klip artis-artis terkenal. Kinerja Fincher dalam Curious Case Of Benjamin Button ini boleh dibilang karya terbaiknya sejauh ini karena berhasil memaksimalkan plot dan eksplorasi cerita dalam durasi yang cukup panjang.

Komentar:
Mengambil rentang waktu yang panjang, bisa dibilang sepanjang hidup seorang Benjamin Button menonton film ini niscaya akan membangkitkan semua panca indera anda, mulai dari tertawa lepas, sedih terharu, tersenyum simpul sampai mungkin mengernyitkan dahi. Boleh dikatakan film yang lengkap dan nyaris sempurna, tidak heran jika banyak meraih nominasi penghargaan bergengsi dunia. Semua aspek film ini dari sinematografi, spesial efek, original score, akting, gaya bercerita, penyutradaraan dll mampu berkolaborasi dengan sangat baik dalam film yang konon diangkat dari cerita fiksi pendek. Salah satu film yang akan bertahan kualitasnya sepanjang masa!

Durasi:
160 menit

U.S. Box-Office:
$125,388,340 till March 2009

Overall:
8.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 18 Januari 2009

BURN AFTER READING : Tolok Ukur Bahwa Kecerdasan Itu Tidak Mutlak

Tagline:
Intelligence is relative.

Quotes:
Osbourne Cox-You are the guy from the gym.
Ted Treffon-I don't represent Hardbodies.
Osbourne Cox-I know very well what you represent. You represent the idiocy of today.
Ted Treffon-No, I don't represent that either.
Osbourne Cox-You are part of a league of morons. Oh, yes. You see you're one of the morons I've been fighting my whole life. My whole, fucking life. But guess what. Today, I win.

Cerita:
Setelah dipecat dari CIA karena masalah sepele, Osbourne Cox mulai berpikir untuk menebus hidupnya dengan suatu cara. Istrinya mengajukan cerai dan berharap kekasihnya, seorang mantan petugas Departemen Pertahanan, Harry yang sudah beristri mau menikahinya. Saat disket Osbourne jatuh dari tas gym nya di sebuah klub fitness Hardbodies, masalah mulai timbul. Dua pegawai yang menemukannya yakni Linda yang menginginkan uang untuk melakukan bedah plastik pada tubuhnya dan Chad yang bodoh tanpa ambisi kemudian berusaha memeras Osbourne. Yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan karena semua tokoh yang sebetulnya menjadi saling terkait itu berpusat pada tempat yang sama.

Gambar:
Adegan komikal yang tajam dimana scene demi scene bergerak cepat banyak dimainkan disini oleh aktor-aktris utamanya.

Act:
Semua tokoh mendapat porsi yang hampir sama besar untuk mengekspresikan talenta akting masing-masing mulai dari George Clooney sebagai Harry Pfarrer, Frances McDormand sebagai Linda Litzke, John Malkovich sebagai Osbourne Cox, Tilda Swinton sebagai Katie Cox dan Brad Pitt sebagai Chad Feldheimer bergantian saling memberikan performa terbaiknya dengan unik.

Sutradara:
Kolaborasi dua bersaudara Ethan dan Joel Coen terbukti ampuh dengan memenangkan beberapa Oscar termasuk karya terakhir mereka, No Country For Old Men. Ciri khas mereka adalah menciptakan konflik tajam antar para tokoh dimana pada akhirnya menjadi saling terhubung satu sama lain. Formula sama digunakan disini dan hasilnya jadilah film komedi satir dewasa ini.

Komentar:
Menyaksikan Burn After Reading yang penuh dengan kata-kata kasar dan lelucon sarkastik mungkin akan mengasyikan bagi mereka yang sudah mengenal siapa itu Coen bersaudara. Alurnya bergerak cepat dan pintar sekali menyambung plot menjadi satu kesatuan yang utuh dengan kejutan yang manis di beberapa scene. Namun sekali lagi, ini bukan film yang bisa dengan mudah dinikmati umum. Butuh kejelian dan cita rasa yang tinggi untuk bisa menyukai film ini.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office (till end of 2008):
$60,338,891

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!