XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label charlie hunnam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label charlie hunnam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juli 2013

PACIFIC RIM : Witness The Big Battle Childhood Imagination


Tagline:
To fight monsters we created monsters.

Nice-to-know:
Kaiju dalam bahasa Jepang berarti monster aneh. Sedangkan Jaeger adalah kata dalam bahasa Jerman yang berarti pemburu.

Cast:
Charlie Hunnam sebagai Raleigh Becket
Idris Elba sebagai Stacker Pentecost
Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori
Charlie Day sebagai Dr. Newton Geiszler
Burn Gorman sebagai Gottlieb
Max Martini sebagai Herc Hansen
Robert Kazinsky sebagai Chuck Hansen
Diego Klattenhoff sebagai Yancy Becket

Ron Perlman sebagai Hannibal Chau


Director:
Merupakan feature film kedelapan bagi Guillermo del Toro setelah Hellboy II : The Golden Army (2008).

W For Words:
Masih ingat dengan serial televisi Tokusatsu Jepang yang pertama muncul di tahun 1966 berjudul Ultraman yang kemudian diikuti dengan Kamen Rider di tahun 1971? Saya yakin beberapa di antara anda akan menganggukkan kepala. Persamaan keduanya adalah memerangi Kaiju, monster laut yang muncul ke permukaan dan mengancam peradaban manusia. Publik internasional mungkin lebih familiar dengan sebutan godzilla yang rencananya akan diremake tahun depan. Kini di tahun 2013, Warner Bros dan Legendary Pictures kembali mengangkat action fantasy bertema sama dengan citarasa Amerika. Penasaran? Yes, it’s one of the most awaited movie this year for sure!

Robot Jaegers sukses memerangi Kaiju pada suatu masa. Namun monster laut tersebut mulai berevolusi kecerdasan dan daya tahannya sehingga sekali lagi umat manusia terancam keselamatannya. Adalah pilot Jaegers, Raleigh Becket yang pensiun setelah kehilangan abangnya Yancy dalam satu pertempuran sampai bekerja mati-matian di sebuah konstruksi. Kedatangan Marshall Stacker Pentecost secara tiba-tiba bermaksud melatih Raleigh kembali mengendalikan Gipsy Danger sekaligus mencarikan tandem di bawah pengawasan Mako Mori. Mampukah ia mengemban misi tersebut sebelum kiamat melanda? 

Skrip yang ditulis oleh Travis Beacham dan Guillermo del Toro sendiri ini tergolong straightforward dengan timeline yang juga pendek, terlepas dari panggung bercerita yang sebetulnya luas. Pengenalan terhadap karakter-karakter inti dilakukan secara cepat dimana cuma tersisa sedikit waktu untuk membangun interaksi emosional di antara mereka. Andai ada itupun hanya Raleigh dan Mako yang tak jarang diakhiri dengan kesan terlalu dramatis. Tidak heran karena yang lebih ditonjolkan adalah pertarungan Jaegers dan Kaiju itu sendiri dengan segala kronik yang terjadi.

Setidaknya Del Toro di kursi sutradara berhasil memaksimalkan imajinasinya yang terkenal liar. Desain monster dan robot yang detil diyakini akan memerangkap kekaguman anda. Kedekatan dengan pelbagai referensi film Hollywood atau serial teve Jepang yang sudah-sudah memang tak bisa dipungkiri. Perkawinan original music dan sound design yang klop semakin menambah daya tarik film ini untuk disaksikan di bioskop berkelengkapan mutakhir. Meskipun 3D nya merupakan hasil konversi tetap memuaskan apalagi versi IMAX nya yang kian melipatgandakan sensasi menonton.

Elba dapat dianggap ‘pemimpin’ di sini dengan kualitas akting yang mumpuni. Pergerakan emosi tokoh Stacker dari awal sampai akhir dilakoninya dengan baik. Hunnam yang terbilang pendatang baru lebih menonjol jika berbagi layar dibandingkan tampil solo, termasuk chemistry nya yang cukup solid bersama Kikuchi yang menurut hemat saya hanya bermasalah di pengucapan dialog saja lebih karena kendala bahasa. Day dan Gorman mampu mencuri perhatian walaupun posisi mereka sebagai karakter pendamping dengan subplot tersendiri. Tak ketinggalan Perlman masih dengan nuansa Hellboy nya dalam karakter milyarder eksentrik.

Pacific Rim rasanya akan lebih ‘menjual’ di kawasan Asia yang notabene dekat dengan settingnya yaitu Samudera Pasifik. Secara keseluruhan kelasnya memang masih di atas film-film summer blockbuster sejenis, sebut saja salah satunya The Transformers. Kepiawaian Del Toro meramu sisi fantasy di dunia nyata adalah keunggulan pesona yang tak terbantahkan. That’s why we got such super fun pure entertainment. Definitely not-to-be-missed for anime fans who’ve always been dreaming to see some real battle between robots and monsters since their childhood. Be the witness over and over again!

Durasi:
131 menit

U.S. Box Office:
$37.285.325 till
Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 21 Oktober 2011

THE LEDGE : Tepian Keputusan Pertentangan Keagamaan

Quotes:
Gavin Nichols: Love the Sinner, hate the sin?


Storyline:
Seorang polisi, Hollis yang baru mendapati dirinya memiliki putra-putri bukan dari benihnya ditugasi menuju puncak sebuah gedung tinggi. Disana ada Gavin yang berniat melompat bunuh diri sewaktu jam menunjukkan tepat tengah hari. Ia dirundung masalah ketika teman sekamarnya Chris yang gay divonis HIV+ belum lagi Shana, pegawainya di hotel tengah menjalani rumah tangga yang tidak bahagia dengan Joe, Kristen taat yang menganggap setiap tindakannya sesuai dengan ajaran Alkitab. Waktu yang tersisa harus disiasati Hollis untuk mengubah pikiran Gavin. Adakah motivasi lain yang melingkupinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Film & Entertainment VIP Medienfonds 4 GmbH & Co. KG bersama dengan Modern VideoFilm dan sudah rilis di Amerika Serikat pada tanggal 10 Juli 2011 yang lalu.

Cast:
Sebelumnya mendukung Children of Men (2006), Charlie Hunnam berperan sebagai Gavin Nichols
Mengawali karir aktris dalam film Silent Fall (1994), Liv Tyler bermain sebagai Shana
Patrick Wilson sebagai Joe Harris
Terrence Howard sebagai Hollis Lucetti
Christopher Gorham sebagai Chris

Director:
Merupakan film keempat bagi Matthew Chapman sekaligus yang pertama dalam 13 tahun terakhir sejak Heart of Midnight (1988).

Comment:
Perselingkuhan bukanlah tema baru dalam sebuah film, dari kelas Oscar hingga kelas abal-abal sekalipun, maaf saya tidak berbicara mengenai film biru disini. Namun bagaimana jika hal tersebut digabungkan dengan aspek religius, pertentangan Kristen dengan atheis mengenai konsep hubungan cinta berlawanan jenis dalam pernikahan atau sesama jenis dalam komitmen itu sendiri? Jawabannya tertuang dalam drama thriller yang diproduseri salah satunya oleh Mark Damon ini.
Penulis sekaligus sutradara Chapman dengan cerdas mengambil gaya penceritaan flashback yang tidak biasa dengan simpanan twist spesial di ujung film yang membuat antusiasme penonton tetap terjaga. Penetrasi terhadap konflik dilakukan secara detail perlahan-lahan dari sudut pandang keempat tokohnya secara bergantian yakni Gavin, Shana, Joe, Chris disamping peran Hollis sebagai negosiator pihak ketiga. Sisi emosionalnya pun terjaga dengan rapi, tidak lemah tapi tidak dipaksakan berlebihan.

Hunnam adalah aktor Inggris yang berhasil membuat aksen Amerika. Karakternya abu-abu disini, hitam sebagai pria yang gagal mempertahankan rumah tangga sekaligus putih sebagai pria yang berusaha membangun cinta baru. Semakin kompleks dengan filosofi atheis yang mempengaruhi setiap tindak tanduknya yang terkesan “semau gue” itu. Chemistrynya dengan Tyler cukup manis, dimana keduanya dapat dikatakan sama-sama pernah gagal dalam hidup.
Wilson dan Howard, which happen to be two of my fave actors, melakoni karakter Joe dan Hollis dengan mengesankan. Satu pria fundamental yang secara mengejutkan diplot sebagai tokoh antagonis kali ini. Padahal jika dicermati, ia hanyalah pria Kristen biasa yang melindungi apa yang dimilikinya berdasarkan keyakinan yang kuat selayaknya menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri. Sedangkan satu lagi mempertanyakan kesetiaan istrinya sendiri hingga mengancam keutuhan keluarganya yang nyaris sempurna itu.

Chapman juga mempertahankan eksplorasi topik sensitif dalam film ini agar tidak terkesan menimbulkan argumentasi keras dari golongan tertentu. Dialog-dialog yang tercipta tidak menggurui tetapi mampu memprovokasi secara positif sehingga amat mendekati kenyataan. Banyak sekali bahasa tubuh dari karakter-karakter utama yang sudah lebih dari cukup untuk menerjemahkan sisi perspektif psikologis yang dihadapi masing-masing, apalagi dibantu dengan music scoring dari Nathan Barr.
The Ledge adalah mainstream movie yang bermuatan diskusi teologi yang menarik. Bagi anda yang kadar keagamaannya tidak terlalu dominan bisa jadi akan lebih mudah jatuh hati pada tokoh Gavin. Sebuah contoh kasus kompleksitas karakter yang multi-dimensi yang mampu dijembatani secara utuh terhadap penonton. Terkadang suara hati memang berbeda dengan keyakinan manusia yang sesungguhnya. Itulah sebabnya anda dipersilakan mengambil posisi pengamat di sebuah tepian yang sangat menentukan langkah selanjutnya menuju pilihan-pilihan hidup.

Durasi:
101 menit

U.S. Box Office:
$5,176 till July 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent