XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jessica chastain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jessica chastain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Mei 2013

LAWLESS : Riveting Truth and Fiction Bootlegging Days


Quote:
Forrest Bondurant: Jack, look at me. We're survivors. We control the fear. And without the fear, we are all as good as dead. Do you understand? - Do you?

Nice-to-know:
Karakter Forrest Bondurant seharusnya lebih kurus tapi tubuh Tom Hardy membesar karena The Dark Knight Rises (2012).

Cast:
Shia LaBeouf sebagai Jack Bondurant
Tom Hardy sebagai Forrest Bondurant
Jason Clarke sebagai Howard Bondurant
Guy Pearce sebagai Charlie Rakes
Jessica Chastain sebagai Maggie Beauford
Mia Wasikowska sebagai Bertha Minnix

Dane DeHaan sebagai Cricket Pate
Gary Oldman sebagai Mason Wardell

Director:
Merupakan feature film kelima John Hillcoat setelah terakhir menangani The Road (2009).

W For Words:
Jika anda pernah membaca atau setidaknya mengetahui novel berjudul "The Wettest County in the World" (2008) karangan Matt Bondurant, bisa dipastikan bayangan kerasnya kondisi kehidupan negara barat pada masa lampau sedianya akan terpampang dalam benak. Sekadar catatan, Matt adalah cucu langsung dari Jack Bondurant yang merupakan salah satu tokoh sentral dalam cerita. Nah film ini adalah adaptasi resmi yang skripnya ditulis oleh Nick Cave. Jajaran cast yang mengisi pun tidak main-main.  Penasaran?  You should be.

Tahun 1931 di Franklyn County, Virginia hiduplah tiga bersaudara Bondurant yang menjadi penguasa setempat, terima kasih pada Kepala Wilayah Mason Wardell yang korup. Si sulung, Forrest dikenal sebagai legenda karena selamat dari perang. Ia lantas jatuh hati pada Maggie, mantan penari yang bekerja di barnya. Si tengah, Howard adalah begundal tangguh yang sulit mengontrol emosi. Si bungsu, Jack dapat dikatakan pengecut bersama sahabat karibnya si pincang Cricket Pate. Ketenangan mereka mulai terusik saat Sherif Khusus, Charles Rakes bertekad menjalankan peraturannya.

Kisah nyata memang tak pernah mudah diterjemahkan. Namun sutradara Hillcoat tergolong berhasil melakukannya. Kita tak hanya disuguhi sepak terjang Bondurant bersaudara tetapi juga intrik politik yang terjadi di Franklin County. Sah-sah saja jika pada akhirnya ditambahkan beberapa elemen fiktif untuk memperkuat narasi. Pilihan warna-warni tonenya seakan menegaskan era The Great Depression yang cenderung naik turun bagi siapapun yang hidup di dalamnya. Menarik melihat panggung berlanskap yang begitu alami lengkap dengan nilai produksi yang tinggi.

Sebagai dua pihak berseberangan yang sudah memilih jalan hidupnya masing-masing, Hardy dan Pearce tampil menawan. Keberingasan Forrest (masih dalam bayang-bayang Bane) masih akan mengundang simpati penonton. Sedangkan kesadisan Charlie (masih terbawa sosok Killian) secara tidak langsung menggiring antipati pemirsa. Upaya LaBeouf untuk menokohkan Jack yang labil pantas diapresiasi karena berhasil menjembatani berbagai karakter dalam film. Sayangnya Clarke tidak mendapat porsi memadai untuk benar-benar unjuk gigi dibanding abang dan adiknya itu.

Chastain seperti biasa memperlihatkan kelasnya. Tak peduli seberapa minim kemunculannya, tokoh Maggie tetaplah penting untuk menunjukkan ‘peran wanita’ di antara dominasi pria sekalipun. Sedangkan Wasikowska kebagian karakter Bertha yang polos manis. Status scene-stealer patut dialamatkan terhadap DeHaan yang tampak begitu hidup sebagai si lugu timpang. Sayangnya aktor senior Oldman terkesan kurang diberdayakan di sini. Banyaknya nama yang terlibat membuat fokus utama dan tambahan silih berganti masuk demi penyesuaian konfliknya.

Lawless menghadapi tantangan sulit dalam penyajiannya. Bagaimana drama konspirasi harus tetap terkait erat dengan konten historis yang ada. Bagi saya tontonan yang satu ini tetap akan memorable karena akting mumpuni para cast dan strategi filmmaking cerdas sang sutradara. Belum lagi porsi kekerasan brutal yang tak jarang membuat penonton merasa gelisah di kursi masing-masing. Tak usah memungkiri keberpihakan anda pada keluarga Bondurant di masa jayanya yang tak taat hukum tersebut. You know that true-life is (always) stranger than fiction!

Durasi:
116 menit

U.S. Box Office:
$37.397.291 till Nov 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 10 Februari 2013

MAMA : Horror With Heart and Fright


Quotes:
Dr. Dreyfuss' Secretary: A ghost is an emotion bent out of shape, condemned to repeat itself time and time again.


Nice-to-know:
Saat Annabel mendengar Victoria dan Lilly masih bermain, dia pergi ke kamar mereka untuk mengatakan bahwa hari sudah larut dan waktunya tidur tetapi nyatanya jendela menunjukkan siang hari. Kejadian ini berlangsung tiga kali..

Cast:
Jessica Chastain sebagai Annabel
Nikolaj Coster-Waldau sebagai Lucas / Jeffrey
Megan Charpentier sebagai Victoria
Isabelle Nélisse sebagai Lilly
Daniel Kash sebagai Dr. Dreyfuss
Javier Botet sebagai Mamal

Director:
Merupakan debut penyutradaraan feature film bagi Andrés Muschietti.

W For Words:
Jika anda cermati
, horor kreasi seorang Guillermo del Toro yang kali ini bertindak sebagai produser eksekutif selalu mengedepankan tokoh wanita dan anak. Lihat saja The Orphanage (2006) dan Don't Be Afraid Of The Dark (2010). Menilik premisnya, yang satu ini rasanya masih mengusung 'identitas' yang sama. Namun apakah hasil akhirnya akan serupa? Nanti dulu! Satu yang selalu saya kagumi adalah kesetiaan del Toro mempertahankan pakem horor tradisional yang tetap bisa dinikmati oleh penonton modern sekalipun.

Sebelum menyaksikan yang satu ini, ada baiknya anda menengok film pendek berdurasi 3 menit dari Andres Muschietti sebagai pemanasan. Skrip yang ditulisnya sendiri bersama saudarinya, Barbara Muschietti dan Neil Cross untuk debut film panjangnya ini tergolong berhasil mengeksplorasi ketakutan tanpa harus meninggalkan kekuatan konflik orangtua dan anak. Tiga sosok dewasa yaitu Annabel, Lucas dan Dr. Dreyfuss serta dua gadis cilik Victoria dan Lilly masing-masing diperkaya dengan karakterisasi kompleks yang menarik untuk dieksploitasi satu persatu.
Alkisah Victoria dan Lilly dilarikan ke sebuah pondok di hutan oleh ayah mereka yang berlaku tak waras hingga membantai rekan kerja dan istrinya sendiri. Entah bagaimana dua gadis cilik itu mampu bertahan hidup selama 5 tahun sampai ditemukan paman mereka, Lucas. Terapi demi terapi perlahan memulihkan kondisi Victoria dan Lilly yang berada di bawah pengawasan langsung Dr. Dreyfuss. Lucas lantas mengasuh keduanya di rumah hibahan bersama kekasihnya Annabel. Lambat laun, Annabel menyadari ada sosok lain yang selama ini menjaga Victoria dan Lilly kemanapun mereka pergi.

Muschietti sebagai sutradara sukses membangun creepy moments yang bernuansa klastrofobik lewat dua set rumah dan segala isinya dimana sisi artistik tertata begitu rapi. Production value yang pantas diapresiasi tinggi melihat detail yang begitu diperhatikan. Timing setiap adegannya pun terbilang apalagi ditambah penempatan sound yang tepat dijamin akan membuat anda semakin mengkeret di kursi masing-masing. Sosok mama dengan bantuan CGI itu memang mengerikan di awal karena gerak-geriknya yang tak tertuga tetapi semakin diungkap seiring bergulirnya cerita malah kian kehilangan tajinya.

Para wanita di film ini menunjukkan kelasnya. Pertama, Chastain dengan penampilan gothic eksentrik mampu bertransformasi dari rocker cuek menjadi ibu penuh perhatian. Kedua, Charpentier yang seakan terjebak dalam memori masa lalu sebelum dan sesudah tragedi nyatanya dapat menyadari keadaan yang sesungguhnya. Lihat bagaimana sebuah kacamata mengubah visinya 180 derajat. Ketiga, Nelisse yang lebih mirip sebagai hewan liar itu benar-benar terlihat polos. Momen saat ia berontak dalam pelukan Annabel cukup menyentuh bagi saya.

Mama memulainya dengan begitu sempurna lewat potongan-potongan gambar dan cerita yang belum tersusun rapi. Namun memasuki paruh kedua dimana puzzle sudah mulai terbentuk nyata, horor ini terasa sedikit kehilangan gregetnya. Ending yang agak overlong demi mengejar aspek ketakutan dan keharuan sekaligus malah menurunkan mood saya. Meski demikian, kualitas keseluruhannya masih di atas film-film bergenre sejenis yang beredar beberapa tahun terakhir. Setidaknya Mama memiliki hati daripada sekadar menebar teror yang membuat anda memekik.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$68.273.535 till Feb 2013

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 07 Agustus 2012

CORIOLANUS : Great Shakespeare Play Into Cinema

Quote:
Caius Martius Coriolanus: I'll fight with none but thee, for I do hate thee.
Tullus Aufidius: We hate alike.

Nice-to-know:
Ralph Fiennes pernah memerankan tokoh Coriolanus dalam opera di Almeida Theatre, London pada tahun 2000.

Cast:
Ralph Fiennes sebagai Caius Martius Coriolanus
Gerard Butler sebagai Tullus Aufidius
Brian Cox sebagai Menenius
Jessica Chastain sebagai Virgilia
Vanessa Redgrave sebagai Volumnia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ralph Fiennes yang pernah dua kali dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam ajang Oscar.

W For Words:
William Shakespeare dikenal publik sebagai pujangga berbahasa Inggris terbaik di dunia. Karya-karyanya berulang kali dipertunjukkan di atas panggung dan beberapa di antaranya bahkan diadaptasi ke layar lebar. Paling ternama adalah Romeo + Juliet versi Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dimana sutradara Baz Luhrmann memindahkan settingnya ke jaman modern. Sama halnya yang dilakukan oleh Ralph Fiennes lewat film ini yang merupakan kali pertama kisah pahlawan Roma ini diangkat dalam format apapun juga. Interesting, huh?

Paska perang, Caius Martius adalah tentara sekaligus figur publik berpandangan ekstrim yang berbalik membenci rakyat Roma karena sikap dan perlakuan mereka yang apatis terhadapnya. Label pengkhianat pun disematkan padanya sehingga demi menghindari kekacauan masal, dewan memutuskan Caius wajib meninggalkan kota. Tidak terima, ia bertekad membalas dendam sekaligus berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Tullus Aufidius.

Yang menarik adalah kinerja Fiennes yang super sibuk di depan dan di belakang kamera sekaligus. Pergeseran konfliknya cukup terlihat mulai dari Caius yang dibenci, memperoleh simpati, kehilangan respek,  pengasingan, pengkhianatan sampai keputusan hidup atau mati pada akhirnya. Sejujurnya banyak adegan yang dapat dipangkas untuk penekanan yang lebih efisien sehingga durasinya tidak kelewat lama. Sayangnya lagi nama-nama besar seperti Butler, Cox, Redgrave, Chastain tidak dimaksimalkan dan terkesan sebagai karakter pelengkap belaka bagi Fiennes yang sangat dominan disini.

Penggunaan bahasa menjadi kendala utama disini. Penulis skrip John Logan memilih “setia” pada Shakespeare dengan mempertahankan archaic language yang sangat asing di telinga. Porsi terbesar film yang dihabiskan melalui pertukaran dialog antar karakternya pun semakin memperburuk situasi dimana penonton masa kini bisa jadi kehilangan interest walaupun sudah dibantu dengan subtitle. Padahal jika mau dicermati, setting modern lengkap dengan pemakaian seragam/kostum masa kini, penggunaan ponsel dan pengendaraan mobil teranyar telah menegaskan adaptasi lawas yang bergulir lancar.

Coriolanus seakan diperuntukkan bagi ambisi positif seorang Ralph Fiennes. Karisma dan keahlian aktingnya belum pudar, ditambah kompetensi sutradara yang mulai dirambahnya semakin memperkuat posisinya di kancah perfilman Hollywood masa mendatang. Secara keseluruhan, saya merasa screenplay dengan bahasa asli ini sejatinya lebih cocok bagi panggung teater, bukan media film. It’s definitely not everybody’s cup of tea, especially for moviegoers nowadays who are looking for a quick snack but might end up bored and completely clueless.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$756,452 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 27 Juni 2012

TEXAS KILLING FIELDS : Promising Casts Confusing Thriller

Tagline:
Once in... There's no way out.

Nice-to-know:
Dalam mempersiapkan peran mereka, Sheryl Lee dan Chloë Grace Moretz menghabiskan waktu di pusat rehabilitasi pengguna narkoba.

Cast:
Sam Worthington sebagai Mike Souder
Jeffrey Dean Morgan sebagai Brian Heigh
Chloë Grace Moretz sebagai Little Ann Sliger
Corie Berkemeyer sebagai Shauna Kittredge
Trenton Perez sebagai White Kid
Sheryl Lee sebagai Lucie Sliger
Jessica Chastain sebagai Pam Stall

Director:
Merupakan feature film kedua Ami Canaan Mann setelah Morning (2001).

W For Words:
Konon film ini dibuat berdasarkan kisah nyata pembantaian sejumlah gadis belia yang terjadi di Texas bagian Selatan yang hingga hari ini kasusnya belum terungkap. Skrip yang dikerjakan oleh Don Ferrarone ini mungkin akan mengingatkan anda pada The Texas Chainsaw Massacre (2003) walau tidak sampai mencapai tingkat gory yang sama. Sekali lagi kombinasi kejahatan dan kegilaan pelaku yang kontras dengan kelambanan polisi dalam beraksi di kota kecil menjadi suguhan utama yang banyak dilakukan oleh filmmakers internasional sebelumnya.

Mike Souder yang bertindak sebagai detektif pembunuhan di kota Texas mendapat partner baru dari New York yaitu Brian Heigh. Keduanya tengah mengusut jejak pembunuh berantai sadis yang selalu membuang mayat korbannya yang telah dimutilasi ke dalam area yang disebut The Killing Fields. Sang pembunuh yang selalu selangkah lebih maju dalam permainan kerapkali menjebak kedua detektif tersebut dengan petunjuk palsu. Ketika gadis lokal Ann Sliger menghilang, Mike dan Brian pun harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan sekaligus membekuk orang yang mereka buru.

Prosedur interogasi dan penyidikan kasus dalam film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah disuguhkan serial televisi bertemakan serupa, sebut saja Law & Order atau CSI. Sang penulis skrip yang juga mantan petugas administrasi Badan Anti Narkoba seakan langsung menempatkan audiens di tengah situasi yang berjalan dimana segala petunjuk sebelumnya tidak lagi dijelaskan. Belum selesai kebingungan berlangsung, penonton lantas diperkenalkan pada serentetan tokoh baru dari yang paling penting hingga yang selayang pandang begitu saja.

Dean Morgan sebenarnya sudah bermain meyakinkan dengan karisma detektif berpengalaman dan family man yang kuat dalam diri Heigh. Sebaliknya Worthington masih terjebak stereotype peran-peran sebelumnya, belum lagi perangai keras tokoh Souder seakan tanpa sebab. Moretz seperti biasa tampil paling memikat sebagai Ann yang memiliki problem keluarga tapi korelasinya terhadap bangunan cerita patut dipertanyakan. Belum lagi Clarke yang sebenarnya terlihat sukses sebagai bad ass Rule tapi timbul tenggelam sepanjang film. Sulit rasanya menjalin koneksi dengan salah satu tokoh disini meskipun nama-nama yang terlibat di dalamnya jelas bukan aktor-aktris sembarangan.

Upaya sutradara Canaan Mann (putri kandung Michael Mann) dalam menyuguhkan thriller kompleks beratmosfer depresi dan kehampaan memang cukup berhasil. Namun kesan amatir masih sulit lepas menilik sinematografi dan editingnya. Narasi liar antara tokoh, tempat dan kejadian yang terus berpindah-pindah pada akhirnya menyisakan minim ketertarikan bagi penonton yang sesungguhnya setia menantikan sesuatu yang brilian dan twisted. Hal tersebut tidak pernah terjadi! Texas Killing Field seharusnya tetap menjadi misteri menakutkan di dunia nyata, bukan menggelikan di layar lebar.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$45,282 till Nov 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 10 Juni 2012

MADAGASCAR 3 : EUROPE’S MOST WANTED Colorful Vibrant Circus Save The Show


Quotes:
Alex: In order to get home, we will come up with an act that will blow everyone away!

Nice-to-know:
Sekuel yang masih diproduksi oleh DreamWorks Animation ini berjarak 7 tahun dari seri pertama dan 4 tahun dari seri keduanya.

Voice:
Ben Stiller sebagai Alex
Chris Rock sebagai Marty
David Schwimmer sebagai Melman
Jada Pinkett Smith sebagai Gloria
Sacha Baron Cohen sebagai King Julien XIII
Cedric the Entertainer sebagai Maurice
Jessica Chastain sebagai Gia
Frances McDormand sebagai Captain Chantel DuBois
Andy Richter sebagai Mort
Bryan Cranston sebagai Vitaly

Director:
Conrad Vernon bergabung dengan duet Eric Darnell dan Tom McGrath yang sudah menyutradarai dua seri sebelumnya.

W For Words:
Kuartet Alex si singa, Marty si zebra, Melman si jerapah dan Gloria si kuda nil merupakan penghuni kebun binatang New York yang kompak dan atraktif. Petualangan mereka terbukti telah menjadi daya tarik utama DreamWorks Animation sejak kesuksesan Madagascar (2005) dan Madagascar: Escape 2 Africa (2008) dalam peredaran domestik dan internasionalnya yang menggembirakan. Eric Darnell yang sedari awal berperan aktif sebagai penulis skrip kali ini bertandem dengan Noah Baumbach mencari sensasi baru yang diharapkan kembali “menggigit” setelah 4 tahun berselang.

Mendapati diri ditipu mentah-mentah oleh gerombolan pinguin, empat sahabat ini melakukan pengejaran sampai Monte Carlo. Kehadiran mereka menarik perhatian Animal Control yang dikepalai oleh kapten wanita ambisius Chantel Dubois hingga terpaksa bergabung dengan kawanan sirkus Eropa. Alex harus berbohong bahwa ia dan teman-temannya merupakan anggota sirkus Amerika agar diterima oleh Gia, Vitaly dkk. Tujuannya tentu kembali ke Big Apple, terutama kebun binatang Central Park setelah rangkaian tur Eropa mulai dari Rome hingga London. Akankah atraksi mereka berhasil menarik penonton sekaligus menuntaskan misi bersama?

Konsistensi karakteristik Alex, Marty, Gloria dan Melman tetap dipertahankan. Stiller, Rock, Schwimmer, Pinkett-Smith masih tetap eksentrik dengan keunikan masing-masing. Catatan khusus bagi Marty, dansa Afro polkadot lengkap dengan tampilan colorful nya itu sangat inspiratif. Sedangkan Baron Cohen melanjutkan rayuan mautnya terhadap Sonia, beruang betina yang loveable itu. Cute couple with slow-mo and background music! Pendatang baru Gia yang disuarakan oleh Chastain sebagai love interest nya Alex memang manis, kontras dengan Vitaly yang disulihkan dengan aksen Rusia kental oleh Cranston. Jangan lupakan pula kontribusi Short sebagai singa laut Stefano yang menyenangkan itu.

Beberapa elemen dalam animasi ini tergolong over the top, jika diperuntukkan untuk anak-anak mungkin dapat dimaafkan tetapi bagi orang dewasa bisa jadi mengangkat sebelah alisnya. Paling nyata adalah aksi impossible Vitaly menembus ring berdiameter semakin kecil, terjadi hanya dalam kedipan mata saja. Lainnya adalah aksi tak kenal lelah Dubois mengejar Alex,  lihat adegan pembuka saat ia melacak jejak, menerobos dinding sekaligus melompati gedung bertingkat. Well, those are too much. Ekspresi bengisnya mungkin mengingatkan anda pada tokoh Cruella DeVille dalam 101 Dalmatians (1996).

Bagan terbaik sekuel ini jelas ada pada pertunjukan sirkus ala Cirque de Soleil nya. Semua tokoh berbaur menjadi satu kesatuan yang utuh dalam mempertontonkan aksi bergemuruh luar biasa yang menyihir audiens dengan balutan warna-warni ciamik dan tembang enerjik “Fireworks” milik Katy Perry. Mata anda tak akan berkedip menikmatinya. Penempatan kamera dengan berbagai arah sudut pandang juga menjadikan efek 3D nya terasa lebih dinamis. Terima kasih pada kinerja trio sutradara Darnell-McGrath-Vernon yang bergerak cepat untuk meminimalkan unsur kemustahilannya disana-sini.

Madagascar 3 memang tidak berambisi menjadi film animasi terbaik yang akan dikenang selama-lamanya oleh penonton tetapi cukup memuaskan selama kurang dari satu setengah jam durasinya. Drama yang tak berlebihan, komedi penghadir tawa demi tawa serta aksi penggugah rasa mampu menata struktur yang kokoh sekaligus membuat anda tetap terhubung secara emosional dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Feel the European sensation buoyed by some famous tracks along the way. Yes, you have the most wanted simple entertainment for this summer and the producers will likely continue to the fourth, Madagascar 4ever perhaps? Move it!

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 10 September 2011

THE TREE OF LIFE : Dogma Pertanyaan Manusia Tuhan Alam Semesta

Quote:
Father Haynes: He is in God's hands, now.
Mrs. O'Brien: He was in God's hands the whole time. Wasn't he?


Storyline:
Sebuah keluarga di Texas pada tahun 50an, Jack dewasa berjuang menyikapi keluguan masa kecil yang dipengaruhi oleh ayah ibunya hingga kehilangan saudara kandungnya yang terus membayangi. Kemapanan dunia modern yang sudah diraihnya tetap membuatnya mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup sambil mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Nice-to-know:
Ide cerita film ini sebenarnya sudah muncul sejak akhir tahun 70an dimana Terrence Malick mengerjakan proyek bertitel “Q” yang mengeksplorasi kehidupan asli di bumi. Mudah diduga, proyek batal tetapi sebagian besar elemen di dalamnya terkandung dalam film ini.

Cast:
Brad Pitt sebagai Mr. O'Brien
Sean Penn sebagai Jack
Jessica Chastain sebagai Mrs. O'Brien
Hunter McCracken sebagai Jack Muda

Director:
Merupakan feature film kelima Terrence Malick sejauh ini yang diawali dengan Badlands (1973) di usianya yang menginjak 30 tahun.

Comment:
Jujur saja, ini adalah film Terrence Malick pertama yang saya saksikan, tidak perlu malu untuk mengakuinya. Saya tidak begitu peduli akan pandangan orang yang mengatakan gaya film Malick demikian “unik” dan sulit dicerna oleh penonton awam. Saya hanya ingin merasakan sebuah pengalaman bersinema yang lain dari biasanya. Itulah sebabnya saya begitu tidak sabar setelah menyaksikan trailer The Tree Of Life untuk kali pertama beberapa waktu lalu.
Opening film ini dibuka dengan pengenalan singkat keluarga O’Brien secara samar, suami istri dengan tiga putera yang satu sama lain tidak berbeda jauh rentang usianya. Setelah itu dilanjutkan dengan introduksi alam semesta selama kurang lebih tiga perempat jam. Selayaknya channel National Geography, anda diajak mengawasi serentetan peristiwa evolusi yang terjadi di berbagai belahan bumi mulai dari asteroid angkasa luar, gunung meletus, kehidupan bawah laut bahkan interaksi dinosaurus ribuan tahun yang lalu.

Setelah melewati bagian tersebut yang konon membuat banyak penonton awam menyerah dengan meninggalkan bioskop, Malick mengajak anda kembali pada keluarga O’Brien. Bagaimana sang ayah begitu tegas mengajarkan tata krama berbanding terbalik dengan sang ibu begitu lembut menekankan kedamaian hati, dua sikap kontras yang sebetulnya membekali anak-anak mereka untuk menghadapi kedewasaannya kelak. Bagaimana ketiga putera tersebut menyikapi perlakuan ayah-ibunya dengan cara yang berbeda-beda pula. Sebuah contoh kasus keluarga yang umum terjadi dimanapun juga, dua dunia bertolak belakang yang sering dianalogikan sebagai yin dan yang.
Si sulung Jack mendapat porsi mayoritas. Keyakinannya akan hidup yang hitam-putih menjadi terguncang saat dihadapkan pada kesakitan, penderitaan hingga kematian. Meski telah menginjak tahap kedewasaan yang mapan sekalipun, Jack tetap terjebak dalam labirin pikiran yang dipengaruhi oleh pengampunan dan penerimaan dirinya sendiri. McCracken dan Penn menunaikan tugasnya dengan baik dan meyakinkan sebagai Jack kecil dan Jack dewasa yang diproyeksikan maju mundur secara simultan.
Yang menarik lagi, semua detail yang biasa terdapat dalam sebuah film seakan tidak dipedulikan Malick. Nyaris tidak ada penyebutan nama panggilan antar tokohnya atau penjelasan peranan satu terhadap lainnya. Seakan penonton hanya diperkenankan menjadi pengamat, tanpa perlu mengingat. Bahasa tubuh, lantunan kata, sorot mata justru sudah berbicara banyak mengungkapkan apa yang ada dalam kepala Pitt, Chastain dan lain-lain. Terkadang mereka seperti sekumpulan orang asing yang cukup diketahui saja tapi tidak untuk dikenal, layaknya ratusan orang yang tiap hari lalu lalang dalam kehidupan anda.

Baru kali ini saya merasa tidak terganggu dengan banyaknya pertanyaan tidak terjawab yang ditinggalkan sebuah film begitu saja selepas menontonnya. Semua pertanyaan yang akan menghinggapi benak anda, menjadikannya buah pemikiran pribadi sebagai instrospeksi selama beberapa saat atau justru mendiskusikannya bersama-sama dengan teman-teman adalah opsi yang bijak. Yang jelas semakin banyak pertukaran informasi yang terjadi akan turut memperkaya pemahaman anda tentang film yang diganjar penghargaan tertinggi Palm d’Or dalam ajang Festival Film Cannes tahun 2011 ini.
Tree of Life bukanlah sebuah bahan perkuliahan dari Malick untuk direnungkan, melainkan sebuah dogma sederhana yang bermakna universal tanpa mengacu pada agama tertentu. Diterjemahkan secara emosional dalam seni bercitarasa tinggi bernuansakan surealis dengan balutan puisi retorik nan indah. Lalu lintas ingatan yang bertumpuk-tumpuk di kepala manusia, yang tak jarang tergali kembali oleh suatu peristiwa yang memicunya, memang kerapkali mempengaruhi langkah hidup yang seharusnya hanya berfokus pada tujuan dan mimpi-mimpi untuk diwujudkan. Berpikir untuk maju atau maju untuk berpikir, pilihan selalu ada di tangan anda!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$13,013,549 till Sept 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!