XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Minggu, 22 Januari 2012

MIDNIGHT IN PARIS : Keindahan Magis Perjalanan Waktu Penulis

Quotes:
Inez: You're in love with a fantasy.
Gil: I'm in love with you.


Storyline:
Sambil mempersiapkan pernikahan, Gil dan Inez berlibur ke Paris menemani orangtua Inez yang melakukan perjalanan bisnis. Di sana Inez berjumpa dengan sahabatnya Carol dan Paul untuk bergabung dalam tour singkat. Gil yang tengah menyelesaikan buku terbarunya memilih menelusuri jalanan malam demi mendapatkan inspirasi. Sekonyong-konyong sebuah kereta kuda menjemputnya, Gil lantas bertemu tokoh-tokoh pujaannya yang hidup di masa lalu. Sebuah proses yang akan mempengaruhi keputusan masa depannya dalam waktu yang amat singkat.

Nice-to-know:
Woody Allen sempat merencanakan produksi film ini di Paris pada tahun 2006 tetapi dibatalkan karena biayanya terlalu mahal.

Cast:
Owen Wilson sebagai Gil Pender
Rachel McAdams sebagai Inez
Kurt Fuller sebagai John
Mimi Kennedy sebagai Helen
Michael Sheen sebagai Paul
Nina Arianda sebagai Carol

Director:
Woody Allen pernah menggarap Everyone Says I Love You di tahun 1996 yang cukup mengesankan itu.

Comment:
Tak henti-hentinya kota Paris menjadi obyek eksploitasi sineas Eropa maupun Amerika. Umumnya karena dipandang indah dan romantis, genre drama selalu menjadi pilihan utamanya. Tanpa terkecuali nama sekaliber Woody Allen yang kali ini menaburkan bumbu komedi dalam takaran yang minim sehingga masih dapat dikategorikan drama elegan yang membahas perjalanan waktu dari masa lalu ke masa depan yang mungkin mengingatkan anda pada The Purple Rose of Cairo (1985).
Hotel bintang lima, Le Bristol dan sederetan lokasi ternama Paris menjadi setting yang amat menjual. Apalagi lantunan jazzy score karya Stephane Wrembel berhasil membangun suasana magis yang menghangatkan. Langit senja, jalanan temaram, tata kota yang rapi, detil arsitektur bangunan yang memanjakan mata menjadi production value yang tak tergantikan. Sebagian besar memang mengesankan gaya hidup masyarakat kelas menengah ke atas.

Awalnya saya menganggap adanya nama Owen Wilson dalam jajaran cast merupakan keputusan yang salah. Aktor komedi slapstick yang melekat padanya ternyata memang pas untuk melakoni tokoh Gil yang berjiwa seniman. Seseorang yang bimbang menghadapi situasi dunia nyata yang seringkali bertentangan dengan mimpi-mimpinya. Ketika dihadapkan pada kesempatan paling berharga dalam hidupnya, Gil harus membuat pilihan yang sulit.
Melihat tokoh-tokoh legendaris macam Cole Porter, Zelda Fitzgerald, Ernest Hemingway. F. Scott Fitzgerald, Joséphine Baker,Gertrude Stein, Adriana hingga Pablo Picasso dihidupkan aktor-aktris kaliber akan memukau anda. Tidak lupa menyebut nama si cantik Marion Cotillard yang benar-benar pas untuk peran Adriana yang mempesona itu lengkap dengan aksen Perancis yang seksi. Bertolak belakang dengannya, Rachel McAdams tampak berusaha keras untuk mengangkat karakter Inez yang kurang tereksplorasi itu.

Midnight In Paris bagaikan menjual mimpi tengah malam yang penuh keajaiban dalam visualisasi yang mengagumkan. Sayangnya begitu kembali ke dunia nyata, bagian penutupnya yang melibatkan konflik inti antara Gil dan Inez menjadi sedikit kurang sempurna. Suguhan absurd bertema kompleks tetapi disajikan dengan sederhana jelas menjadikan summer movie yang satu ini tidak dapat dilewatkan begitu saja, stimulasi kuat yang akan membawa jiwa anda menelurusi setiap jengkal kota Paris sebelum menyiapkan raga anda untuk benar-benar travelling kesana!

Durasi:
94 menit

U.S. Box Office:
$56,407,283 till Jan 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 21 Januari 2012

LOVE YOU YOU : Rahasia Terpendam Pantai Cinta

Quotes:
You Lele: To be or not to be. To do or bu xiang do..


Storyline:
12 tahun lalu, Xiami yang berlibur dengan kedua orangtuanya diselamatkan oleh paman nelayan ketika kapalnya terbalik. Sebatang kara ia melanjutkan hidupnya di Beijing dengan bekerja di kantor pengacara. Kemampuan Xiami membaca gerak bibir orang membuatnya menerima tugas dari klien JK menyelidiki saingan bisnisnya yang dianggap memalsukan catatan bisnis resort Love You You. Setibanya disana, Xiami teringat akan peristiwa pahit masa silam sebelum bertemu You Lele yang eksentrik tapi amat perhatian padanya. Andai You Lele mengetahui identitas Xiami yang sesungguhnya, akankah romansa di antara keduanya dapat dipertahankan?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh DMG Entertainment ini disebut sebagai sekuel tak resmi dari Summer Holiday (2002) yang melejitkan pasangan Richie Rend an Sammi Cheng.

Cast:
Angelababy sebagai Xiami
Eddie Peng Yu-Yan sebagai You Lele
Zhu Yuchen sebagai Hao Chang
Zhou Yang sebagai Sophia
Steve Yap sebagai JK

Director:
Jingle Ma Chor Sing terakhir menggarap Mulan (2009).

Comment:
Jika harus menyebutkan drama romantik Asia yang bersetting di pantai, ingatan anda otomatis akan langsung melayang pada Summer Holiday (2002) yang lagu-lagunya bahkan tetap dikenang sampai sekarang. Kini sang penulis skrip sekaligus sutradara, Jingle Ma meneruskan apa yang sudah dimulainya nyaris satu dekade yang lalu itu. Mudah-mudahan bukan karena ingin mengulang sukses serupa dalam rentang waktu yang terlampau jauh. Lantas apa alasan pemilihan Malaysia sebagai setting utamanya?

Meskipun kostum “pantai” amat dominan disini, Jingle Ma tidak menjual hal-hal seronok yang menjurus seksualitas. Sebaliknya kejutan manis disiapkan di akhir film, bergaya twisted dengan flashback scenes layaknya berbagai judul komedi romantik Thailand yang beredar belakangan ini. Sayangnya proses menuju kesana sedikit diperpanjang di beberapa bagian sehingga bisa jadi penonton akan merasa bosan terlebih dahulu dengan konsep yang itu-itu saja sebelum “melek” di penghujung cerita.
Eddie Peng dan Angelababy berbagi chemistry dengan luar biasa tanpa terkesan didikte oleh skrip ataupun sutradara. Karisma mereka sebagai pujaan remaja terjaga dengan baik, terima kasih pada karunia fisik yang memang di atas rata-rata itu. Tak jarang penonton terpekik menyemangati You Lele dan Xiami untuk dapat bersatu. Kedua tokoh juga menegaskan kepribadian banyak orang pada umumnya yang kesulitan menyeimbangkan mimpi dan cinta di antara kehidupan nyatanya.

Penempatan beraneka produk komersial yang menjadi sponsor film memang cukup mengganggu di beberapa adegan. Untungnya sumbangsih suara biduan Singapore yaitu JJ Lin dalam berbagai tembang mampu menjaga mood film untuk tetap sendu dan ceria sekaligus. Production value jelas keunggulan utama, lihat saja Lang Tengah yang terletak di antara Pulau Redang dan Pulan Perhentian berhasil menyuguhkan lanskap pemandangan pantai yang ciamik lengkap dengan resortnya.
Anda bisa dengan mudah menebak Love You You akan menjadi satu dari sekian judul komedi romantik yang empuk untuk dinikmati tetapi dangkal secara esensi. Namun tidak ada salahnya jika sesekali menyaksikan film semacam ini, bukan? Lagi-lagi sebuah contoh konkret bahwa cinta sejati tidak akan datang jika anda terus menunggu orang yang sempurna, melainkan belajar untuk mencintai orang yang tidak sempurna sekalipun dengan cara yang sempurna!

Durasi:
91 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 20 Januari 2012

HYBRID : Mobil Maut Berinsting Pembunuh

Quotes:
Tilda: If it can bleed, it can die. We’re going to kill it!


Storyline:
Sebuah mobil misterius dibawa polisi Chicago ke bengkel Ray setelah terjadinya kecelakaan maut. Mekanik yang bertugas yaitu Tilda menemukan keanehan dimana mobil tersebut seakan memiliki nyawa dan pikiran sendiri. Kecurigaannya tidak menunggu lama untuk terjawab karena mobil tersebut mulai mengincar nyawa mereka yang terjebak di dalam garasi malam itu dengan kemampuan berubah bentuk yang mengerikan.

Nice-to-know:
Film berjudul asli Super Hybrid ini sempat disertakan dalam Berlin Fantasy Filmfest pada bulan August 2010 lalu.

Cast:
Shannon Beckner sebagai Tilda
Oded Fehr sebagai Ray
Ryan Kennedy sebagai Bobby
Melanie Papalia sebagai Maria
Adrien Dorval sebagai Gordy

Director:
Eric Valette sebelumnya dikenal ketika menggarap One Missed Call (2008).

Comment:
Mobil pembunuh manusia? Ah, bisa jadi ingatan anda melayang pada masa silam dimana John Carpenter pernah membesut Christine di tahun saya lahir di dunia. Beberapa judul lain sebelum dan sesudahnya memang pernah bermunculan tetapi belum sempat saya saksikan. Kini, Benjamin Carr yang bertindak sebagai penulis skrip mencoba mengangkat tema serupa dimana atraksi Chevrolet C-10 dan Mercury Colony Park serta sederetan mobil lain akan memanjakan mata anda.

Harus diakui konsep mobil yang bisa membunuh memang menggelikan. Namun jika anda bisa menerima premis tersebut, tidak ada alasan untuk tidak menyukai yang satu ini. Penjelasan unik mengapa mobil tersebut membunuh dilakukan secara wajar di pertengahan film sekaligus membuka rahasia monster laut yang mampu bertransformasi dalam waktu singkat. Jebakan maut yang menjanjikan begitu manusia masuk dan duduk di belakang setir? Dang!
Perubahan “identitas” Tilda dari wanita penurut menjadi empunya inisiatif perlawanan memang terlalu instan tetapi Beckner melakukannya dengan cukup meyakinkan. Fehr mungkin nama lain yang anda kenal dan peran Ray yang brengsek tampak dinikmatinya. Dari segi akting memang tidak ada yang luar biasa disini tetapi karakterisasi hitam-putih yang terbangun lumayan menarik sehingga anda akan peduli mengikutinya sambil berpikir, “Who’s gonna be the next victim?”

Sutradara Valette menggunakan setting garasi dengan efektif. Kamera yang bergerak dinamis menyoroti setiap sudut gelap dan lengang bisa membuat anda paranoid membayangkannya. Efek CGI nya lumayan maksimal meski tidak dapat dibandingkan dengan milik James Cameron atau Steven Spielberg. Elemen 3D yang dibebatkan hanya sebagai pelengkap saja, terbantu oleh pencahayaan temaram yang membuat setiap obyek dalam film terasa hidup.
Sebagai thriller horor kelas B tanpa banyak ekspektasi, Hybrid 3D ternyata cukup enjoyable. Bahkan sebuah film dengan rating PG-13 semacam ini ternyata menyimpan beberapa adegan gory yang cukup eksplisit. Semua departemen bekerja secara efektif terutama music scoringnya yang dinamis itu. Pacing yang terjaga dengan suguhan sekuens action yang believeable membuat film ini jelas lebih baik dari berbagai review negatif yang terpampang di internet. Tidak percaya?

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 19 Januari 2012

PARANORMAL ACTIVITY 3 : Teman Imajiner Keluarga Ritual Misterius

Tagline:
It Runs In The Family.


Storyline:
Tahun 1988, dua gadis kecil bersaudari yaitu Katie dan Kristi memiliki teman imajiner bernama Toby yang juga tinggal di rumah mereka. Sang Ibu, Julie dan kekasihnya, Dennis tidak percaya cerita tersebut. Ketika Dennis bermain-main dengan kamera barunya dan memasang beberapa di setiap penjuru rumah, gangguan supernatural makin menjadi. Julie yang tidak percaya kerapkali memprotes tindakan Dennis tersebut. Kekuatan apakah yang sesungguhnya mengintai keluarga tersebut?

Nice-to-know:
Sebagian besar adegan dalam trailer yang tidak ada dalam film sehingga banyak fans franchise ini yang marah karena merasa ditipu.

Cast:
Christopher Nicholas Smith sebagai Dennis
Lauren Bittner sebagai Julie
Chloe Csengery sebagai Young Katie
Jessica Tyler Brown sebagai Young Kristi Rey
Dustin Ingram sebagai Randy Rosen

Director:
Merupakan debut feature film bagi Henry Joost dan Ariel Schulman yang sebelumnya hanya menggarap film pendek, documenter dan film televisi.

Comment:
Gelombang protes dari para pecinta franchise Paranormal Activity telah bermunculan di seluruh dunia. Pasalnya trailer film ini tidak setia dengan isi filmnya. Ekspektasi tinggi menyaksikan trailernya yang cukup menggigit itu bisa jadi alasan penurunan rating yang diterima film lanjutan yang mengambil waktu kejadian sebelum Paranormal Activity (2007) dan Paranormal Activity 2 (2010) yaitu di tahun 1988 dimana dua bersaudari, Katie dan Kristi masih berusia kurang dari 10 tahun.

Penulis skrip Christopher Landon dan Oren Peli menggunakan stereotype sejenis dalam pengenalan keluarga Julie dimana karakterisasi masing-masing tokohnya disesuaikan dengan kebanyakan orang pada umumnya. Anda akan diajak mengenal Julie yang skeptis dan tidak percaya kejadian supernatural. Dennis yang terobsesi dengan kamera barunya sebelum menemukan keganjilan dalam rekamannya. Lalu seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Katie dan Kristi yang memiliki teman imajiner layaknya anak-anak sebaya mereka alami.
Sutradara Joost dan Schulman menggunakan empat ruang utama yang menjadi fokus ketakutan yaitu kamar Julie dan Dennis, loteng tempat tidur Katie dan Kristi, ruang makan serta dapur yang terhubung. Pintu yang terbuka sebagian dan anak tangga yang lengang dijamin akan membuat imajinasi anda bekerja dengan sendirinya. Namun aset juara film ini adalah kamera yang dipasang pada kipas angin sehingga mampu bergerak menyoroti dua ruangan sekaligus secara bergantian. Bisa bayangkan kejutan apa yang bakal temui?

Awal film yang bergulir lambat seakan memberi waktu bagi penonton untuk menyiapkan mental terbaik untuk menghadapi teror-teror yang semakin memuncak mendekati akhir. Jujur saja, prekuel ini tidak melebihi Paranormal Activity 2 yang masih menjadi favorit saya. Banyak adegan yang sudah dapat kita prediksi mengacu pada dua episode pendahulunya. Kejutan di ending juga tidak semengejutkan sebelum-sebelumnya apalagi dengan sedikitnya penjelasan yang melatarbelakanginya.
Paranormal Activity 3 tidak akan (atau belum) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa dari 1 dan 2 nya secara gamblang. Namun petunjuk demi petunjuk yang merangkai keseluruhan misteri yang melingkupi keluarga Katie bahkan hingga dewasa cukup terpampang jelas dari bahasa gambar yang disuguhkan. Ketiga seri sejauh ini masih dalam range kualitas yang sama sehingga saya lagi-lagi menikmati permainan mata yang menyapu setiap sudut rumah sampai berimbas pada berdirinya bulu kuduk tanpa disadari. Pastikan tidak mendapati rumah anda kosong sepulang menonton film ini.

Durasi:
83 menit

U.S. Box Office:
$104,007,828 till Jan 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 18 Januari 2012

I DON’T KNOW HOW SHE DOES IT : Kesibukan Working Mother Profesional

Quotes:
Kate Reddy: I love my work. Although sometimes I wish I didn't love it so much.


Storyline:
Kate Reddy adalah seorang eksekutif finansial yang sibuk. Suaminya Richard yang juga bekerja selalu mendukungnya. Namun Kate sering merasa bersalah sudah mengabaikan putrinya Emily dan putranya yang masih bayi Ben. Proyek baru diterimanya untuk meyakinkan Jack Abelhammer yang merupakan klien penting perusahaannya. Kini Kate harus berjibaku membagi waktunya sekaligus melakukan perjalanan dinas pulang pergi yang melelahkan.

Nice-to-know:
Sarah Jessica Parker dan Pierce Brosnan sebelumnya pernah bersama-sama membintangi Mars Attacks! (1996).

Cast:
Sarah Jessica Parker sebagai Kate Reddy
Pierce Brosnan sebagai Jack Abelhammer
Greg Kinnear sebagai Richard Reddy
Christina Hendricks sebagai Allison Henderson
Kelsey Grammer sebagai Clark Cooper
Seth Meyers sebagai Chris Bunce
Olivia Munn sebagai Momo Hahn

Director:
Merupakan film kelima Doug McGrath yang terakhir menggarap Infamous (2006).

Comment:
Novel I Don’t Know How She Does It dengan subjudul The Life of Kate Reddy, Working Mother karya Allison Pearson yang terbit pada tahun 2002 bertutur tentang wanita masa kini yang terbiasa berkarir dan mengurus rumah tangga sekaligus. Kisah inspiratif yang patut menjadi cerminan ini kemudian diangkat ke layar lebar dimana skripnya dikerjakan oleh Aline Brosh McKenna. Nama Sarah Jessica Parker menjadi terobosan yang dianggap bisa mengangkat komedi yang satu ini.

Permasalahan utama adalah film ini nyaris tidak memiliki fokus selain bercerita dalam durasi satu setengah jam tentang “kegilaan” segunung aktivitas seorang Kate Reddy yang harus mengurus suami dan kedua anaknya serta bekerjasama dengan kliennya. Terkadang penonton bingung apakah harus mengernyitkan kening melihatnya atau justru tertawa getir membayangkan jika anda ada di posisinya. Beruntung porsi komedinya cukup menggigit sehingga masih dapat ditertawakan dengan cara yang sarkastik.
Anda yang biasa menyaksikan Sarah Jessica Parker tampil sempurna dan glamor bisa jadi kecewa kali ini. Bukan karena ia tidak sempurna. Ia tetap “sempurna” tetapi dengan sudut pandang yang amat berbeda. Menarik melihat Kate Reddy harus berurusan dengan kutu rambut atau pakaian formal yang ketumpahan noda makanan/minuman akibat bayi berusia 2 tahunnya atau sederetan aktifitas rumah tangga lainnya yang menyita waktunya termasuk di malam hari.

Multiple relationships yang dijalani SJP memang dikondisikan untuk mendapatkan banyak sudut pandang yang berbeda. Suaminya Richard yang penyabar dan pengertian dimainkan dengan decent oleh Greg Kinnear. Kliennya yang perfeksionis dihidupkan dengan karismatik oleh Pierce Brosnan. Asistennya yang kaku dijiwai dengan natural oleh Olivia Munn. Emily yang cemburuan dan Ben yang periang juga dilakoni Emma Rayne Lyle dan si kembar Julius/Theodore Goldberg secara bergantian. Jangan lupakan juga Christina Hendricks sebagai Allison Henderson.
I Don’t Know She Does It memang tidak menawarkan solusi dari segala permasalahan kaum wanita yang merasa senasib dengan Kate Reddy. Sutradara Doug McGrath hanya berusaha mengingatkan anda akan kebiasaan menata jadwal, membuat daftar, menentukan prioritas sehari-hari sambil tetap berkomitmen terhadap keluarga dan pekerjaan sekaligus yang secara praktek seringkali luput dilakukan. Wanita macam itu bukan hanya satu dan anda tidak akan pernah sendiri dalam melaluinya. Sarah Jessica Parker adalah pilihan tepat untuk Kate Reddy yang cerdas dan bertanggungjawab akan pilihan hidupnya itu!

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$9,659,074 till Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 17 Januari 2012

MY LAST LOVE : Takdir Cinta Terakhir Rasa Bersalah

Quotes:
Angel: Gua punya pengalaman, orang yang paling gua kenal adalah orang asing buat gua.



Storyline:
2 tahun sudah, Angel menjalin cinta dengan Hendra. Namun musibah tragis tak dapat ditolak, Angel ditabrak oleh mobil mewah Martin yang melaju kencang. Dalam kekalutan, Martin malah melarikan diri dan memilih bercerita pada sahabatnya, Ferdy. Angel memang selamat tapi menderita kelumpuhan yang merenggut masa depannya termasuk Hendra yang memilih meninggalkannya. Sahabat dan sepupu Angel, Nadya dan Anton mengajaknya berlibur ke vila untuk menenangkan diri. Di sanalah Angel bertemu dengan Martin tanpa sengaja. Martin yang prihatin berupaya mengembalikan keceriaan dan kesehatan Angel kembali hingga tumbuh benih kasih di antara mereka. Akankah keduanya berkesempatan memiliki cinta terakhir masing-masing?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diadakan di Studio XXI eX pada tanggal 17 Januari 2012.


Cast:
Evan Sanders
sebagai Martin

Donita
sebagai Angel

Ajun Perwira
sebagai Hendra

Rozie Mahally sebagai Ferdy
Caroline Elodie
sebagai Agnes

Jordi Onsu
sebagai Anton


Director:

Merupakan film pertama Nayato Fio Nuala di tahun 2012 ini.


Comment:

Cerita My Last Love yang kondang dari Agnes Davonar cukup membekas dalam ingatan saya karena menyentuh sanubari. Subjudulnya adalah kisah cinta gadis lumpuh dan pria penderita HIV. Namun apa yang terjadi sehingga Ery Sofid dan Agnes Davonar memutuskan untuk mengubah plot ceritanya sedemikian rupa. Apakah ini permintaan MD Pictures atau murni inisiatif dari seorang Nayato Fio Nuala? Jika ada dari anda sekalian yang mengetahui jawabannya, sudi kiranya untuk berbagi informasi.

Kapabilitas Donita untuk memerankan tokoh sendu tidak perlu diragukan lagi. Ia dapat menitikkan air mata dengan mudah apapun kondisinya. Karakter Angel di tangannya memang terasa mellow. Sayangnya proses melupakan Hendra begitu saja dan langsung mencintai Martin yang baru dikenalnya dalam waktu singkat terkesan terlalu mudah. Untungnya Caroline Elodie dan Jordi Onsu lumayan memberikan kontribusi sebagai sahabat-sahabat setianya yang kocak dan baik hati.


Evan Sanders pernah mempesona dalam Dealova (2006). Namun kefasihannya berakting dalam berbagai judul sinetron kejar tayang stasiun televisi lokal justru terbawa disini. Peran pesakitan memang cukup meyakinkan dibawakannya walaupun transisi dari pria muda bergaya hidup jetset tanpa komitmen cinta terasa mendadak. Nama Ajun Perwira yang mengisi peran Hendra seakan mendompleng ketenarannya yang meroket belakangan ini. Sedangkan Rozie Mahally yang kebagian tokoh Ferdy selama ini memang setia sebagai “pengikut” Nayato.

Berbagai kejanggalan juga patut dicermati dalam film ini. Tidak diceritakan faktor apa yang memungkinkan seseorang bisa sembuh dari kelumpuhan. Lantas menyaksikan Angel bisa dibonceng sepeda oleh Martin dengan gampangnya juga menimbulkan tanda tanya besar. Belum lagi keluarga Martin yang kaya raya secara materi tapi mempercayakan perawatan putra kesayangannya di rumah sakit kurang berkelas. Semua itu akan membuat anda mengernyitkan kening pertanda kebingungan.

Kinerja Nayato sebagai sutradara kali ini sedikit banyak mengingatkan saya pada Cinta Pertama (2007) yang bertemakan serupa. Salah satu bukti bahwa ia mampu membesut sebuah film yang melebihi standar rata-rata! Dramatisasinya tergolong pas tanpa memaksakan diri untuk terlalu cengeng. Berbagai momen menyentuh yang ada pun berhasil dimaksimalkan untuk membangkitkan simpati penonton akan kelangsungan hubungan Martin dan Angel yang tidak “sempurna” tersebut.

Tak dipungkiri, bagi saya My Last Love merupakan film terbaik Nayato dalam 5 tahun terakhir! Meskipun sesungguhnya saya mengharapkan eksekusi yang lebih setia pada ide originalnya yang lebih kompleks tersebut. Bagaimanapun juga tidak ada salahnya jika sesekali memberikan rekomendasi #KamisKeBioskop bagi Nayato kali ini. Suguhan keikhlasan dan ketulusan cinta situasi dari pemasangan Evan dan Donita yang sama-sama rupawan itu pada akhirnya menjadi nilai tambah tersendiri.

Durasi:
91 menit


Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Minggu, 15 Januari 2012

5 DAYS OF WAR : Kecamuk Peperangan Rusia dan Georgia

Tagline:
Their only weapon is the truth.


Storyline:
Sekelumit kisah kemanusiaan yang terjadi di tengah peperangan antara Rusia dan Georgia dimana sentralisasi cerita ada di tangan jurnalis Amerika yaitu Thomas Anders dan Sebastian Ganz serta wanita lokal Tatia yang berjuang untuk bertahan hidup sekaligus menyiarkan keseluruhan kejadian nyata tersebut agar dunia tahu yang sesungguhnya.

Nice-to-know:
Dikarenakan Georgia memiliki infrastruktur terbatas yang mampu mendukung produksi fllm ini, banyak sekali dukungan teknisi dan tenaga akhli dari Bulgaria.


Cast:

Rupert Friend sebagai Thomas Anders
Emmanuelle Chriqui sebagai Tatia
Richard Coyle sebagai Sebastian Ganz
Heather Graham sebagai Miriam
Johnathon Schaech
sebagai Kapten Rezo Avaliani

Rade Serbedzija
sebagai Col. Alexandr Demidov

Andy Garcia
sebagai President Mikheil Saakashvili

Val Kilmer
sebagai Dutchman


Director:

Merupakan feature film ke-16 bagi Renny Harlin yang terakhir menggarap 12 Rounds (2009).


Comment:

Berada dalam situasi di tengah peperangan memang sangat tidak mudah meskipun anda mengenakan kartu identitas pers sekalipun. Film yang skripnya ditulis oleh Mikko Alanne dan David Battle ini berkisah mengenai perang antara Rusia dan Georgia di tahun 2008 dari kacamata kru televisi. Pecahnya konflik tidak serta merta terjadi dengan sendirinya karena merupakan akumulasi dari intrik politik yang tidak berkesudahan melalui serangkaian waktu yang panjang.
Sayangnya eksplorasi cerita cenderung memihak rakyat Georgia sehingga pihak Rusia digambarkan sebagai antagonis. Negara kecil versus adi kuasa! Sama halnya dengan peristiwa U.S. versus Irak dalam beberapa judul film bergenre serupa. Permasalahannya adalah Georgia tidak sepenuhnya “putih”, berbagai pembunuhan masal terhadap warga mereka sendiri terjadi di South Ossetia. Bagi anda yang mengetahui sejarah sesungguhnya bisa jadi merasakan banyak penyimpangan dalam film ini.

Dari segi akting, tidak ada yang tampil luar biasa kali ini. Tro Anders, Ganz dan Tatia memang sejak awal diplot untuk merenggut simpati penonton karena perjuangan mereka dari sisi jurnalis yang wajib memberitakan kejadian nyata. Kilmer dan Garcia adalah dua aktor senior yang dapat dikatakan telah melewati masa keemasan, peran wartawan Belanda dan presiden Georgia tidak lagi menarik dibawakan oleh mereka. Penampilan Schaech sebagai antagonis cukup memberikan kredit tersendiri.
Harlin adalah mantan sutradara blockbuster Hollywood yang kini lebih berkecimpung dalam perfilman kelas B, tanpa terkecuali yang satu ini. Kinerjanya memang masih di atas rata-rata dalam menghadirkan nuansa chaos yang sesungguhnya. Namun kekurangan dari segi spesial efek yang terlihat miskin tidak dapat dihindari. Meski demikian ledakan berkelanjutan di sepanjang film yang diwarnai oleh serangan mendadak, penyelinapan dari satu tempat ke tempat lainnya, penyelamatan detik-detik terakhir mampu membuat anda menahan napas berkali-kali.

5 Days of War mengingatkan saya akan The Hunting Party (2007). Kekurangan terbesar film ini adalah propaganda Georgia yang cukup kental, politik yang terlalu didramatisir. Sebagian dapat diterima logika tetapi sebagian lagi tidak. Sisi humanisme ditampilkan dalam beragam aspek untuk memunculkan nuansa ekspresif dan emosional. Jika anda bisa (atau berniat) mengabaikan fakta yang sebenarnya, tontonan yang satu ini masih bisa memenuhi standar dengan gaya Hollywood yang cukup dipaksakan.

Durasi:
113 menit


U.S. Box Office:
$17,149 till Sept 2011


Overall:
7 out of 10


Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good

8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 14 Januari 2012

30+ SINGLE ON SALE : Pilihan Cinta Usia Kepala Tiga

Quotes:
Ing: I am 30 now. I don’t want to start over again from zero!


Storyline:
Ing yang berprofesi sebagai fotografer mapan dengan studio sendiri kurang beruntung dalam percintaan. Hubungan jarak jauhnya yang sudah terjalin 7 tahun kandas ketika mengetahui kekasihnya akan menikahi wanita lain. Dalam kesedihan, Mint dan Yee menghibur Ing habis-habisan dan menyemangatinya untuk berkencan dengan beberapa pria sekaligus. Salah satunya adalah peramal babi panggang, Jeud yang banyak menasehatinya bahkan menawarkannya untuk menjadi kekasih palsu sampai Ing bertemu Mr. Tan, fotografer profesional yang menjadi idolanya. Siapa yang pada akhirnya dipilih oleh Ing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sahamongkolfilm International dan dirilis di Thailand pada tanggal 13 Oktober 2011 yang lalu.

Cast:
Chermarn Boonyasak sebagai Eing
Arak Amornsupasiri sebagai Jeud
Sudarat Budtporm sebagai Yee
Pijitra Siriwerapan sebagai Mint

Director:
Puttipong Promsaka Na Sakolnakorn terakhir mereguk kesuksesan besar dalam Crazy Little Thing Called Love (2010).

Comment:

Usia 30 tahunan merupakan masa rawan bagi seorang gadis lajang yang mendambakan jodoh dan pernikahan yang sempurna. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk bisa mendapatkan pria pilihan yang mau serius berkomitmen yang tampaknya semakin langka dari masa ke masa. Penulis Puttipong Promsaka Na Sakolnakorn menyajikan realita urban tersebut ke dalam genre komedi romantik yang terbukti sudah membesarkan namanya itu.
Cherman Boonyasak yang dikenal dengan nickname Ploy itu pernah kita saksikan dalam horor hit 4BIA (2008). Karakter Eing disini bisa jadi mengingatkan anda pada Chris Horwang dalam film Thailand terfavorit saya sepanjang masa yaitu Bangkok Traffic Love Story (2009). Keduanya sama-sama berwajah cantik sendu yang menangis saat dikecewakan dan berseri-seri kala dibalas cintanya oleh pria idaman. Untungnya Ploy tidak sampai menghadirkan adegan komikal yang sama.

Arak Amornsupasiri pernah saya sukai dalam Best of Times (2009) tetapi saya benci dalam Loser Lover (2010). Karakter Jeud yang juga mendapat sebutan peramal babi panggang memang simpatik tapi sayangnya tidak dibekali background masa lalu yang menunjang penokohannya. Sudarat dan Pijitra yang juga bermain bersama dalam Crazy Little Thing Called Love (2010) banyak memberikan aksi slapstick yang memancing tawa sebagai dua sahabat karib Ing yang amat suportif itu.
Cinta segitiga antara Ing, Jeud dan Mr. Tan merupakan refleksi dari dua jenis cinta yang berbeda. Satu adalah cinta yang memberikan kenyamanan sedangkan yang lain menawarkan cinta yang didasari oleh kekaguman. Sebuah hal yang wajar dimana kaum wanita biasanya memiliki sosok pria idola yang seringkali disalahartikan sebagai cinta. Padahal dalam dunia nyata yang modern seperti sekarang ini, tidak akan ada kisah yang seindah romansa dongeng pengantar tidur.

Dunia fotografi yang ditekuni Ing dan Mr. Tan pada akhirnya hanya menjadi semacam informasi sebatas lalu yang tidak mampu dimaksimalkan demi kekuatan cerita. Apalagi ramalan babi panggang Jeud yang terkesan main-main itu rasanya sulit diterima oleh akal sehat. Percintaan yang terjadi di antara Ing dan Jeud ataupun Ing dan Mr. Tan sedikit terkesan terlalu instan tanpa proses yang menggigit. Bahkan unsur komedi yang ditebar di sepanjang durasi tidak mampu menjembataninya.
30+ Singles On Sale adalah komedi romantik urban yang diformulakan secara manis tetapi gulanya tidak larut habis. Serangkaian hal klise menggemaskan yang ditutup dengan kejutan menarik di akhir cerita tidak mampu menggugah indera. Setidaknya sutradara Puttipong mengajarkan anda untuk tidak mengagungkan cinta. Realistis adalah sikap yang paling benar untuk menjalani suatu hubungan cinta di samping faktor naluri yang dibutuhkan untuk membaca apakah si dia memang orang yang tepat untuk anda. It’s not difficult to find out, just use your own heart to feel it!

Durasi:
112 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 13 Januari 2012

WHITE VENGEANCE : Persaingan Dua Saudara Perebutan Kaisar


Storyline:
Dua saudara yaitu Liu Bang dan Xiang Yu saling bersaing setelah kejatuhan Dinasti Qin yang memerintah China dari tahun 221 hingga 206 Sebelum Masehi. Kekacauan terjadi dimana-mana akibat iming-iming Raja Huai dari Chu yang memaksimalkan persaingan Liu dan Xiang tersebut. Xiang sendiri dibantu Fan Zheng sekuat tenaga berusaha menjatuhkan Liu yang didukung oleh Zhang Liang. Di antara keduanya juga ada wanita cantik bernama Yu Ji. Akankah adu trik dan strategi memihak salah satu pihak untuk keluar sebagai pemenang pada akhirnya?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Hongmen Yan ini sudah dirilis di China pada tanggall 24 November 2011 yang lalu.

Cast:
Feng Shao-feng sebagai Xiang Yu
Leon Lai sebagai Liu Bang
Zhang Hanyu sebagai Zhang Liang
Anthony Wong sebagai Fan Zeng
Liu Yifei sebagai Yu Ji
Jordan Chan sebagai Fan Kuai
Andy On sebagai Han Xin

Director:
Daniel Lee sebelum ini menggarap 14 Blades (2010).

Comment:
Sutradara Daniel Lee terkenal sering memberikan versi alternatif dari sebuah kejadian bersejarah. Kali ini yang diangkat adalah persaingan militer yang terjadi di China beribu-ribu tahun yang lalu saat tuan tanah masih berkuasa di daerahnya masing-masing. Daniel Lee memulainya dari peristiwa Hongmen yang menghadapkan Xiang Yu dan Liu Bang sebagai calon kaisar kuat. Yang terjadi setelahnya adalah “permainan catur” yang penuh intrik sepanjang durasi lebih dari dua jam.

Tali persaudaraan yang awalnya dijalin oleh Liu Bang dan Xiang Yu ditegaskan oleh Leon Lai dan Feng Shao-feng dengan cemerlang. Back up kedua belah pihak sekaligus otak operasi adalah Zhang Liang dan Fan Zheng yang juga dihidupkan dengan meyakinkan oleh Zhang Hanyu dan Anthony Wong. Rata-rata semua aktor disini bermain di atas rata-rata. Sayangnya Liu Yifei masih terlihat terlalu muda untuk peran Yu Ji walaupun aktingnya tidak buruk.
Daniel mengemas sinematografinya dengan memikat, lanskap jauh dekat dari berbagai ketinggian juga memberikan jarak pandang yang variatif. Pertarungan satu lawan satu maupun dua kubu sekaligus berkali-kali dipresentasikan secara nyata tanpa terlalu banyak campur tangan CGI. Koreografi martial arts nya cenderung dinamis baik tangan kosong ataupun menggunakan senjata sekalipun. Tidak lupa twist cerdas yang disiapkan di akhir cerita mampu menutup rangkaian secara utuh.

Cinta segitiga yang terjalin di antara Liu Bang-Yu Ji-Xiang Yu tidak mendapat porsi yang memadai. Andai saja ada fokus yang lebih pada bagian ini, niscaya eksplorasi emosi penonton dapat bermain disini sekaligus menentukan pada siapa mereka pantas berpihak. Hal ini penting sebab sudut pandang orang pertama berulang kali ditukar sehingga predikat protagonis-antagonis pun berpindah-pindah antar Liu Bang dan Xiang Yu. Menarik bukan?
Sempat terasa lambat di pembukaan, White Vengeance pada akhirnya akan memicu debat di antara penonton yang langsung berdiskusi begitu meninggalkan bioskop. Adu intelejensi antara Zhang Liang dan Fan Zheng jelas menjadi highlight yang mengundang decak kagum. Saksikanlah sejak menit pertama dengan seksama untuk bisa benar-benar mengerti keseluruhan jalan cerita. Banyak orang tidak menyadari bahwa acapkali pertikaian habis-habisan antar dua pihak itu secara harfiah tidak akan memunculkan arti pemenang yang sesungguhnya.

Durasi:
130 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 12 Januari 2012

MOTHER KEDER : EMAKKU AJAIB BENER Lebih Kurang Arti Keluarga

Quotes:
Mami: Kebahagiaan itu bukan dari apa yang kita dapet tapi dari apa yang kita rasa..


Storyline:
Hidup mapan dengan karir bagus, mobil dan apartemen pribadi membuat Vivi sibuk dengan urusannya sendiri. Ia tak kepalang kaget menyaksikan kekasihnya Valdi malah berselingkuh. Problematika di kantor pun membuat Vivi mengundurkan diri dan memutuskan pulang ke rumah orangtuanya. Kenyataan tak terduga lagi-lagi menghampiri ketika mengetahui adiknya Dinda akan menikah lebih dahulu dengan Bayu. Berhasilkah Vivi menyelesaikan semua masalah pribadinya dan melebur dalam sebuah jalinan keluarga yang utuh terlepas dari segala ke”ajaib”an ayah ibunya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Visi Lintas Film dimana gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 10 Januari 2012.

Cast:
Ira Maya Sopha sebagai Mami
Qory Sandioriva sebagai Vivi
Jill Gladys sebagai Dinda
Pong Hardjatmo sebagai Papi
Yoga Prasetya sebagai Valdi
Zahra Nurani Farisza sebagai Inka
Yati Surachman sebagai Nenek
Athoy Herlambang sebagai Bayu

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Eko Nobel.

Comment:
Masih ingat dengan Putri Indonesia Fotogenik 2001 yaitu Viyanthi Silvana? Jika tidak, inilah kisahnya yang menginspirasi Reka Wijaya untuk mengembangkan skrip film yang berjudul unik. Seorang ibu merupakan permata keluarga dimana pancaran kasihnya selalu tulus menerangi setiap anggota tanpa terkecuali. Namun bagaimana jika sosok ibu digambarkan eksentrik, bahkan mendapat predikat ajaib? Tentu itulah alasan utama anda untuk menoleh pada film ini.
Ira Maya Sopha memang jagoan dalam berakting. Aktris senior yang satu ini mampu menjiwai peranan “Mami” annoying ataupun “Istri” penggerutu secara natural. Lihat gesturnya yang meyakinkan apalagi dengan bantuan outfit daster, rol rambut bahkan kacamata hitam mentereng. Emosinya pun mampu berbalik 180 derajat dari senang menjadi sedih dengan wajar sesuai tuntutan skenario. Anda akan geregetan sekaligus bersimpati dibuatnya.

Qory Sandioriva dan Jill Gladys memperlihatkan ikatan kakak adik dengan menarik. Respek satu sama lain pun tercipta dengan sendirinya, bagaimana si adik sesungguhnya iri pada kemandirian hidup sang kakak hingga berusaha lari dari rutinitas rumah yang tidak “normal” itu dengan jalan menikah muda. Tokoh Vivi sendiri sangat lekat dengan cerminan wanita ibukota masa kini yang sibuk berkarir sampai melupakan urusan asmaranya sendiri yang tidak terpelihara dengan baik.
Saya jadi teringat pada salah satu curhat teman saya, “Jangan pernah kembali ke rumah orangtua jika sudah bertahun-tahun hidup mandiri dan tinggal sendiri. Jika itu terjadi, maka posisimu akan kembali dari nol di mata orangtua alias diperlakukan sebagai anak kecil kembali.” Itulah yang menimpa tokoh Vivi, dimana ia harus berurusan dengan ayah-ibunya yang ajaib dan ketiga adiknya yang sulit diatur. Ayah ibu akan tetap menjadi orangtua dan putra putri mereka akan selalu menjadi anak-anaknya. Hubungan keluarga tidak pernah mengenal usia atau jabatan sekalipun.

Kekurangan mendasar adalah Eko Nobel terlalu datar dalam menggarap karya perdananya. Film ini seperti takut dikategorikan sebagai drama kekomedian atau komedi kedramaan. Akibatnya fokus cerita menjadi hilang, apakah sentral ada di Mami dengan sudut pandang Vivi? Namun Dinda juga ternyata menyita perhatian besar disini. Melihat penekanan di tokoh ibu ajaib, lebih baik kecemplung sekalian dalam genre komedi slapstick jika tujuan utamanya menghibur. Toh, pesan moral masih bisa diselipkan di berbagai lini tanpa harus kehilangan identitas.
Mother Keder : Emakku Ajaib Bener sesungguhnya dibangun di atas pondasi yang memikat tetapi lemah dalam eksekusi ide. Film ini tak lebih seperti sebuah sinetron tanpa jeda iklan. Terkadang anda akan melirik jam untuk mengetahui berapa lama durasinya sudah berjalan. Setidaknya berbagai adegan konyol akan membuat anda tertawa lepas tanpa banyak berpikir. Jangan lupakan message film ini, esensi orangtua adalah pembangun sekaligus pendukung anda untuk tumbuh dewasa karena di mata mereka, anda akan selalu menjadi anaknya yang teristimewa!

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: