XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 12 November 2011

THE ADVENTURES OF TIN TIN : SECRET OF THE UNICORN Perkenalan Haddock Harta Kapal Unicorn

Quotes:
Captain Haddock: You do know what you're doing, right?
Tintin: Relax. I interviewed a pilot once!


Storyline:
Membeli replika kapal Unicorn, Tintin malah diburu oleh berbagai pihak yang mengincar peta harta karun tersembunyi termasuk Mr. Sakharine yang bersikeras menghalalkan segala cara untuk mewujudkan kemauannya. Tintin yang diculik bersama anjingnya Snowy kemudian bertemu si pemabuk Kapten Haddock di sebuah kapal yang juga disandera. Ketiganya meloloskan diri dan kabur ke Moroko. DI luar dugaan Kapten Haddock yang amnesia tiba-tiba mengingat sejarah dirinya bersama leluhur Sir Francis Haddock di atas kapal Unicorn asli! Akankah harta tersebut dapat ditemukan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Film animasi sekaligus adaptasi komik pertama yang ditangani oleh Steven Spielberg yang sebenarnya sudah memiliki ide ini sejak tahun 80an.

Cast:
Terakhir tampll dalam remake Jane Eyre (2011), Jamie Bell didapuk sebagai Tintin
Memulai karir layar lebarnya dalam Royal Deceit (1994), Andy Serkis ditunjuk sebagai Captain Haddock
Daniel Craig sebagai Ivanovich Sakharine
Simon Pegg sebagai Inspector Thompson
Nick Frost sebagai Thomson

Director:
Produser terkondang seHollywood bernama Steven Spielberg ini pertama kali menyutradarai film berjudul Fireflight (1964) di usia 18 tahun.

Comment:
Salah satu komik petualangan yang tumbuh bersama saya sewaktu kecil adalah detektif berjambul berperawakan kecil bernama Tintin dan anjing cerdas setianya Snowy. Koleksi berharga komik yang semakin lengkap dengan hadirnya beberapa seri VCD original animasi tak dipungkiri menjadi santapan yang sudah puluhan kali saya baca/putar tanpa rasa bosan. Penantian panjang untuk adaptasi layar lebar yang tidak sia-sia apalagi ditangani oleh nama sekaliber Steven Spielberg. Satu kata: EXCITED!
Trio penulis skrip Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish yang bekerja berdasarkan karya Herge ini tidak hanya mengadaptasi satu tetapi tiga komik sekaligus! Kepiting Bercapit Emas, Harta Karun Rakham Merah dan Rahasia Unicorn memang memiliki benang merah yang dapat ditarik sebuah garis lurus. Keputusan tepat demi menghadirkan petualangan yang lebih panjang dengan tempo yang lebih dinamis dalam durasi nyaris dua jam tersebut.

Dalam film memang nyaris tidak ada petunjuk bahwa Tintin adalah seorang reporter handal. Ia hanya digambarkan tidak kenal takut apalagi ragu-ragu serta selalu memperjuangkan apa yang dianggap instingnya benar. Sebaliknya Kapten Haddock sebagai sidekicknya banyak memperlihatkan kelemahan sebagai penyeimbang mulai dari sifat pemarah dan cerobohnya yang membuatnya pantas menyandang julukan pecundang. Komposisi yang tepat bukan sehingga keduanya bisa saling mengisi satu sama lain!
Wajah lugu belia Bell yang sesungguhnya sudah berusia 25 tahun ini terasa pas mewakili karakter Tintin, belum lagi suara tipis dan nyaringnya mewujudkan imajinasi selama ini. Acungan jempol saya berikan pada Serkis yang selalu sukses besar melebur dalam karakter unik yang benar-benar di luar dirinya sendiri. Suara umpatan berat Kapten Haddock terdengar “hidup” dalam aksen Skotlandia. Sedangkan Craig memeragakan Sakharine yang tidak dapat dipercaya dengan karisma tersendiri.

Spielberg yang membandrol filmnya dengan rating PG alias aman disaksikan siapapun ini terbukti membombardir layar dengan suguhan action scenes variatif berangle ekstrim yang tak jarang disyut panjang dalam satu kali take saja, contoh adegan perebutan peta di dermaga. Bahkan kacamata terpasang di wajah yang biasanya mengganggu kenyamanan anda tidak akan terlalu dirasakan mengingat teknologi 3D nya teramat memuaskan menyuguhkan gambar-gambar “hidup” di depan mata.
The Adventures of Tin Tin : Secret of the Unicorn tidak hanya setia dengan komiknya tetapi juga menjanjikan sebagai awal franchise sukses di masa mendatang. Jelas merupakan salah satu adaptasi komik terbaik yang pernah dibuat. Ketajaman visualisasi berpadu dengan kekayaan karakteristik yang mampu menghimpun tawa dan ketegangan sekaligus. Bersiaplah terhibur maksimal wahai anda para pecinta Tintin atau bukan!

Durasi:
107 menit

Europe Box Office:
£6,758,724 opening week in U.K. Nov 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 11 November 2011

OPENING INAFFF11 – INDONESIA INTERNATIONAL FANTASTIC FILM FESTIVAL 2011

Tanpa terasa sudah memasuki tahun kelima, ajang iNAFFF digelar di Blitzmegaplex dengan sponsor utama L.A. Lights yang berlangsung selama 10 hari di Grand Indonesia, Jakarta dilanjutkan dengan 3 hari di Paris Van Java, Bandung.


Opening speech dari Eddy Rusli, sang director iNAFFF.

Total film yang diputar adalah 35 judul dari negara-negara seperti Amerika, Inggris, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Swiss, Swedia, Norwegia bahkan Israel serta tidak ketinggalan tuan rumah sendiri yaitu Indonesia yang diwakili oleh The Raid, FisFic Vol 1 dan The Perfect House.



Antrian panjang 30 menit menjelang pemutaran film pembuka iNAFFF11


Suasana Audi 1 sebelum film dimulai, full penonton!

Animo penonton yang begitu tinggi terlihat dari langsung ludesnya tiket presale beberapa show yang dibuka sejak tanggal 2 November 2011 itu terutama The Raid dan Surprise Movie. Penjualan tiket sendiri dapat dilakukan melalui online ticketing dan box office on spot dengan ketentuan yang berlaku masing-masing.


Seorang model dewa Yunani berkeliling melayani permintaan foto bareng pengunjung Blitz GI

Film pembuka iNAFFF11 di Blitzmegaplex Grand Indonesia ini adalah Immortals yang berkisah tentang Raja Hyperion yang kejam dan gila kekuasaan nekad menyatakan perang terhadap kemanusiaan dengan menciptakan sebuah armada tentara tangguh yang haus darah. Bukan hanya itu, ia bertekad menemukan Busur Epirus legendaris. Adalah sebuah ramalan yang menyebutkan akan adanya seorang manusia biasa yang mampu menghentikan Raja Hyperion itu bernama Theseus yang baru kehilangan ibunya dan tidak pernah mengenal ayahnya sendiri itu. Siapa yang memenangkan pertarungan pada akhirnya?

Sekadar catatan, Indonesia termasuk satu dari sedikit negara yang mendapatkan kesempatan pertama menayangkan Immortals dengan tanggal fantastis yaitu 11-11-11 dalam format reguler sekaligus 3D. Oleh karena itu, kita berhak merasa bangga bisa menyaksikannya terlebih dahulu dibandingkan negara-negara lain.

Jangan lupakan sederetan film keren lainnya yang bisa anda cek melalui website http://www.inafff.com atau information counter yang menyediakan booklet iNAFFF lengkap dengan resensi film dan jadwal tayangnya. Mari sukseskan event perfilman negeri sendiri yang terbilang sudah mapan ini!


Kawanan moviebloggers Indonesia yang menyempatkan diri berfoto setelah pemutaran film.

IMMORTALS : Peperangan Raja Tirani Busur Ajaib

Tagline:
The Gods Need a Hero


Storyline:
Dihantui gila kekuasaan, Raja Hyperion menyatakan perang terhadap kemanusiaan dengan menciptakan sebuah armada tentara tangguh yang haus darah. Bukan hanya itu, ia bertekad menemukan Busur Epirus yang legendaris itu yang mampu membuatnya berkuasa hingga ke Surga sekaligus membebaskan the Titan. Ramalan lama yang menyebutkan akan ada seorang manusia biasa yang mampu menghentikan maksud Raja Hyperion seakan timbul dalam diri Theseus yang baru kehilangan ibunya dan tidak pernah mengenal ayahnya itu. Siapa yang memenangkan pertarungan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Relativity Media, Atmosphere Entertainment MM, Hollywood Gang Productions, Virgin Produced dan mendapat kehormatan diputar sebagai film pembuka iNAFFF 2011 di Blitzmegaplex Grand Indonesia tanggal 11 November 2011.

Cast:
Sebelum ini disibukkan dalam serial televisi Tudors (2007-2010), Henry Cavill ditunjuk sebagai Theseus
Terakhir banyak mengisi peran antagonis dalam film-filmnya, Mickey Rourke kebagian peran Raja Hyperion
Stephen Dorff sebagai Stavros
Freida Pinto sebagai Phaedra
Luke Evans sebagai Zeus
John Hurt sebagai Old Man
Kellan Lutz sebagai Poseidon
Isabel Lucas sebagai Athena

Director:
Merupakan film ketiga Tarsem Singh yang keturunan India ini setelah The Fall (2006).

Comment:
Nama Tarsem Singh mungkin cukup tenar sebagai sutradara internasional di samping M. Night Shyamalan yang kebetulan sama-sama berkebangsaan India. Terbukti debut dan karya terakhirnya diterima baik karena sangat visioner. Namun mengangkat sebuah kisah para dewa dan manusia dalam mitologi Yunani tentunya tidaklah mudah. Lihat saja hasil akhir dari Charley Parlapanides dan Vlas Parlapanides yang banyak mengundang pertanyaan itu.
Mengapa dewa bisa mati? Mengapa Zeus melarang para dewa ikut campur membela manusia? Mengapa Theseus seakan lebih ”superior” dari para dewa itu sendiri? Jawaban-jawabannya memang bisa ditemukan tetapi tidak didukung oleh logika yang pasti. Semakin diperburuk dengan rentang waktu yang dituturkan dalam film, kadang yang panjang terasa pendek dan begitupun sebaliknya. Semisal panah ajaib yang ditemukan di kuburan ibu Theseus yang baru saja meninggal? Saya tidak berani memberikan opini kali ini.

Sutradara Singh juga menggunakan tempo lambat yang seharusnya tidak menjadi masalah jika saja dilengkapi dengan percakapan menarik di antara aktor-aktrisnya. Sayangnya hal itu tidak terjadi disini. Demikian yang tersisa hanyalah berbagai adegan stop motion pertarungan disana-sini yang sangat memanjakan mata sekaligus memiriskan hati jika kelewat sadis, seperti kepala pecah ataupun pencacahan anggota-anggota tubuh dari pedang terhunus dsb.
Cavill tidak diragukan lagi memiliki modal yang cocok sebagai Theseus. Ia tegap dan rupawan, tetapi dari segi akting tidak terlalu maksimal karena cenderung datar-datar saja. Begitu pula dengan Pinto, saya tidak melihat banyak perbedaan dari apa yang sudah disuguhkannya dalam Rise of the Planet of the Apes baru-baru ini. Sedangkan Rourke memang mampu menghadirkan sosok antagonis keji dan mengundang antipati walaupun masih teramat monoton.

Nyaris tidak ada kedalaman karakter-karakter dalam film ini sehingga tidak sulit bagi anda untuk menebak adegan apa yang akan terjadi sesungguhnya bahkan sampai endingnya. Reaksi yang timbul setelah munculnya aksi begitu seterusnya apalagi tidak adanya twisted plot yang diharapkan oleh khalayak penonton. Mereka bagaikan kawanan domba yang digiring patuh oleh gembala melewati padang rumput sampai batas waktu tertentu. Inilah yang tidak terhindarkan.
Immortals jelas cuma memiliki kelebihan dalam visualisasi memikat dan terkonsep penggunaan warna-warni simbolik mitologi Yunani yang kental. Suatu aspek yang dimanfaatkan demi menutupi kelemahan-kelemahan yang sudah tersebut di atas. Penggunaan 3D “timbul”nya juga tidak terlalu krusial, mungkin akan mengingatkan anda pada 300 (2006) atau Clash of the Titans (2010). Launching tanggal keramat 11-11-11 bisa jadi menyita perhatian penikmat film internasional untuk setidaknya mau menengok sosok Theseus dan dewa-dewa lainnya yang berpostur indah layaknya mitos Yunani tapi sayangnya tidak mampu berbahasa Greek.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 10 November 2011

THE MENTALIST : Pertempuran Bukan Sulap Bukan Sihir

Quotes:
Zo: Nama gue Zo. Thanks kalo loe gak mau kenalan sama gue <- Suer, dialog ini sempat bikin bola mata gue berputar mengelilingi bulan!


Storyline:
Mentalis ternama Deddy Corbuzier pernah memiliki asisten bernama Ki Ronggo Sewu. Sayang bertahun-tahun setelahnya, mereka memutuskan berpisah karena Deddy tidak ingin sulapnya terkotori oleh ilmu sihir yang diterapkan oleh Ronggo. Keduanya lantas sepakat berduel memainkan trik yang paling berbahaya sekalipun dimana anak masing-masing yaitu Zo dan Jane yang saling jatuh hati mendampingi orangtua mereka. Siapa yang akan unggul pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Bintang Kawakibi Pictures dimana press conference tanpa pemutaran filmnya diadakan di Rolling Stone Cafe tanggal 4 November 2011 yang lalu.

Cast:
Deddy Corbuzier sebagai Deddy
Limbad sebagai Ki Ronggo Sewu
Vista Putri sebagai Cathy
Meiditha Badawijaya sebagai Jane
Hafil Andrio sebagai Zo
Denaya

Director:
Merupakan film ketujuh Walmer Sitohang setelah beberapa film esek-esek periode 90an.

Comment:
Ada yang mengenal nama Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo? Rasanya tidak. Namun jika menyebut nama bekennya yaitu Deddy Corbuzier, rasanya publik Indonesia sudah dipastikan tahu dan mengikuti kiprahnya yang sudah lebih dari satu dekade malang melintang sebagai mentalist nomor wahid dalam pertunjukan live atau recording sekalipun yang kerapkali mengundang rasa heran dan decak kagum sekaligus.
Kini di tahun 2011, Deddy kembali mencoba “eksis” di layar lebar setelah sebelumnya mengisi layar gelas lewat sinetron Raja Sulap ataupun acaranya sendiri Hitam Putih berikut sederetan acara lainnya. Para produser macam Hengky Kurniawan, Lucky Hakim dkk pun mengutus nama Walmer Sitohang untuk duduk di belakang meja penulis maupun bangku sutradara. Sebuah keputusan yang tergolong nekad karena Walmer sendiri catatan filmografinya tidak membanggakan samasekali.
Hasilnya adalah skrip carut marut yang seakan ditulis oleh makhluk planet mana yang herannya mau bersusah payah turun ke bumi. Tiga poin utamanya adalah persaingan sengit Deddy dan Ronggo, keluarga masing-masing sampai putra-putri mereka yang menjalin hubungan. Sayangnya ketiga hal tersebut gagal total dieksplorasi, setidaknya secara logis. Satu sama lainnya saling melemahkan cerita dengan lobang disana-sini yang nyaris tidak termaafkan.

Deddy dan Limbad terlihat sama bingungnya mengusung konsep bukan sulap bukan sihir tanpa perbedaan yang nyata. Trik-trik yang diperagakan keduanya juga benar-benar membuat saya tidak mau membuka mata sedikitpun. Apa yang dipertontonkan Deddy di televisi rasanya 1011 kali lebih baik daripada ini. Sedangkan karakter Limbad tidak dijelaskan apakah bisu atau tidak mau bicara di sepanjang film semakin diperbodoh dengan penampilan aneh bin ajaib rambut awut-awutan, mata bohongan dan kostum hitam-hitam “man in bleki”. Astaganaga! *brb muntah
Berani-beraninya Zo dan Jane memeragakan peran ala Edward dan Bella Swan, lengkap dengan satu adegan jiplakan dalam Twilight. Mudah-mudahan mereka tidak keberatan menerima serangan tomat busuk 100 hari dari para fans franchise ini atas plagiasi tak bertanggungjawab. Alasan keduanya jatuh cinta juga dijelaskan lewat proses instan yang tak indah samasekali, hanya lewat tatapan mata, suara cempreng plus dandanan ala rocker takut sinar matahari? Dialog di antara keduanya pun teramat absurd hingga membuat saya merasa malu sebagai manusia. *masukpesawatulangalik
Sutradara Walmer juga tampaknya lupa bahwa ini adalah produksi film. Segala trik tentunya mampu dimanipulasi secara sempurna oleh efek grafis ataupun permainan kamera sekalipun. Atau jangan-jangan malah si Deddy Kok-Buset yang menolak triknya diganggu gugat secara sepihak? Seharusnya tim departemen produksi mau lebih bersusah payah menghadirkan segala sesuatu yang tidak pernah disaksikan penonton sebelumnya, bukan juga comotan adegan teror Ghostface dalam Scream yang langsung disajikan di depan mata!
The Mentalist sudah dipastikan akan masuk bursa persaingan memperebutkan gelar film terburuk tahun 2011 karena na’udzubillah berantakannya. Suatu proyek tidak penting yang tidak dibuat dengan niat, lihat saja nama-nama karakternya yang aneh pengucapannya dan berubah-ubah di sepanjang film. Upaya menyuguhkan twist di akhir cerita juga semakin menjadi-jadi ngaconya hingga mengalihkan perhatian kita dari duel yang sebetulnya paling ditunggu sejak menit pertama itu. Begitu credit title bergulir, saya hanya bisa bersyukur mendapati kantung muntahan yang mulai luber itu.

Durasi:
78 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 06 November 2011

SANG PENARI : Kisah Kasih Bertembok Nasib Ronggeng

Quotes:
Rasus: Kalau nggak mau ‘buka kelambu’ ya nggak usah jadi ronggeng!


Storyline:
Kedua orangtua Srintil meninggal karena keracunan tempe bongkrek atas tuduhan warga semasa kecilnya. Beranjak dewasa ia seakan memiliki kewajiban untuk memulihkan nama baik keluarga, salah satu cara adalah menjadi penari ronggeng sesuai bakat magis yang dimilikinya. Adalah Rasus yang mengasihi Srintil sejak kecil hingga beranjak dewasa memadu kasih bersama. Keputusan Srintil menjadi ronggeng mengecewakan Rasus yang kemudian pergi mengabdi negara sebagai tentara muda pemberantas gerakan komunis. Terpisah selama bertahun-tahun, Rasus masih berupaya menemukan Srintil meskipun situasi di antara keduanya tak lagi sama.

Nice-to-know:

Diproduksi oleh KG Productions dan Salto Films dimana gala premierenya diselenggarakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 6 November 2011.

Cast:
Oka Antara sebagai Rasus
Prisia Nasution sebagai Srintil
Slamet Rahardjo sebagai Kartareja
Dewi Irawan sebagai Nyai Kartareja
Landung Simatupang sebagai Sakarya
Happy Salma sebagai Surti
Teuku Rifnu Wikana sebagai Darsun
Tio Pakusadewo sebagai Sersan Binsar Harahap
Lukman Sardi sebagai Bakar

Director:
Merupakan film keenam bagi Ifa Isfansyah yang mulai angkat nama lewat Garuda Di Dadaku (2009).

Comment:
Ahmad Tohari merupakan penulis Indonesia asli Banyumas yang tenar dengan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Satu dari sedikit penulis lokal yang berani mengangkat tema komunis di tahun 1965 sebagai latar belakang percintaan seorang tentara dan ronggeng di sebuah desa yang penuh lika-liku. Sebelumnya pernah difilmkan juga dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng di tahun saya lahir yaitu 1983.
Skenario yang dikerjakan keroyokan oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn sekaligus sang penulis novel tersebut di atas memang amat solid. Terciptalah dialog-dialog tajam di antara karakter-karakternya yang pluralisme dalam sebuah rentang waktu yang teramat panjang. Cinta Rasus dan Srintil yang seringkali menemui hambatan karena visi masing-masing yang berbeda mampu bersinergi maksimal dengan pergolakan politik yang terjadi.

Pendatang baru Prisia Nasution adalah satu nama yang pantas diingat di masa mendatang. Tarian magis Srintil memang tidak dominan porsinya tetapi dari beberapa kali penampilannya, penonton sudah dibuat percaya melihat keluwesannya melenggokkan tubuh. Belum lagi penjiwaan dramatisnya sebagai cah ayu sebatang kara yang berusaha memenuhi takdir hidup sekaligus tanggung jawabnya terhadap warga desa sehingga harus mengorbankan cinta sejatinya.
Seperti biasa Oka Antara mampu melebur dalam peran yang disodorkan kepadanya. Bagaimana pria desa nan lugu bernama Rasus mampu bertransformasi menjadi tentara sigap yang cepat menyerap ilmu. Lihat caranya belajar saat berhadapan dengan Tio Pakusadewo mulai dari intonasi bicara yang mudah ditertawakan hingga baca tulis yang kelak berguna. Tanggung jawab terhadap negara tidak menghalangi tekad kuat menemukan belahan jiwanya yang seakan hilang ditelan oleh waktu.
Di luar kedua nama tersebut masih terdapat serentetan nama beken yang mampu memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Selain Tio, sebut saja Slamet Rahardjo yang bermain sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki Srintil, kakek Kartareja penanggungjawab setiap kegiatan sang ronggeng plus kembalinya Dewi Irawan sebagai dukun ronggeng Nyai Kartareja yang ahli pengobatan dan hal-hal mistik. Belum lagi Lukman Sardi sebagai Bakar dengan segala agenda tersembunyinya. Jajaran cast yang luar biasa dalam menampilkan seni peran berkualitas tinggi.

Sutradara Ifa Isfansyah patut diacungi jempol karena mampu menghimpun kinerja semua departemen mulai dari artistik, gambar, suara hingga editing secara maksimal. Setting lokasi dimunculkan dengan pas sesuai keadaan Jawa Tengah tahun 50-60an mendukung sinematografi sendu yang dibangun Yadi Sugandi sejak menit awal. Tata busana lawas karya Chitra Subiyakto ciamik bersanding dengan scoring musik indah hasil kolaborasi Aksan-Titi Sjuman yang berkali-kali membuat saya merinding.
Ada baiknya sebelum menonton, anda membaca novelnya untuk memperkaya pemahaman karena masih banyak hal yang tidak dijelaskan dalam filmnya yang terbatas oleh durasi dan kebijakan sensor. Meski tidak runut, Sang Penari mampu menyuguhkan dramatisasi yang kaya makna terutama dari segi pengabdian dan pengorbanan dua individu berlainan jenis. Sebuah cinta yang tidak selalu memaksakan kata hati tetapi cukup dimengerti logika sebelum benar-benar berlalu dalam suatu ambiguitas yang pilu. One of the best Indonesian movies ever made!

Durasi:
109 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 05 November 2011

IN TIME : Menghargai Ketersediaan Waktu Dunia

Tagline:
Live forever or die trying.


Storyline:
Di masa depan dimana manusia berhenti menua di usia 25 tahun, mereka hanya memiliki satu tahun tersisa dalam hidup. Demi memperpanjangnya, anda harus melakukan sesuatu. Will Salas dituduh melakukan pembunuhan atas seorang kaya yang memberinya “waktu” dalam jumlah besar. Kini Will harus menyeberangi zona waktu untuk mencari jawaban akan tujuan hidupnya selepas peninggalan ibunya Rachel Salas termasuk perjumpaan dengan keluarga Weis yang semakin membulatkan tekadnya untuk mengubah sistem global.

Nice-to-know:
Amanda Seyfried adalah satu-satunya pemeran dalam film ini yang berusia tepat 25 tahun sesuai kondisi terakhir penuaan.

Cast:
Terakhir bertandem gokil dengan Mila Kunis dalam Friends with Benefits (2011), Justin Timberlake bermain sebagai Will Salas
Baru saja menyelesaikan A Bag of Hammers (2011), Amanda Seyfried berperan sebagai Sylvia Weis
Cillian Murphy sebagai Raymond Leon
Olivia Wilde sebagai Rachel Salas
Vincent Kartheiser sebagai Philippe Weis

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Andrew Niccol setelah terakhir Lord of War (2005).

Comment:
Rasanya film ini dapat dikategorikan sains fiksi karena mengambil setting masa depan dimana tak ada seorangpun yang bisa mengira apa yang bakal terjadi. Melihat nama Andrew Niccol sebagai penulis cerita memang menjanjikan mengingat debut penulisan sekaligus penyutradaraan yang dilakukannya dalam Gattaca (1997) lumayan memorable bagi kalangan moviegoers. Kali ini, ia lagi-lagi menyelipkan unsur drama, action dan thriller silih berganti menghadirkan kisah yang unik.
Time is money. Semboyan yang nyaris selalu kita dengungkan dalam hidup. Bagaimana jika waktu benar-benar menjadi pengganti uang? Bisa bayangkan anda membayar segala kebutuhan hidup dengan mengurangi waktu hidup yang tertera indikasinya berupa cahaya hijau di sekitar nadi pergelangan tangan anda? Saya belum pernah menyaksikan ini sebelumnya dan terus terang amat tertarik membaca premis cerita dan trailer yang menyertainya.

Kelemahan yang dimiliki adalah banyaknya pertanyaan inti dalam benak penonton yang tidak terjawab samasekali. Bagaimana asal muasal Time System ditetapkan sebagai pengganti uang? Siapa yang mengontrol kinerja Timekeeper hingga begitu gigih memantau lalu lintas waktu? Mengapa system keamanan Time Bank begitu lemah sampai mudah sekali dibobol? Kenapa ada perbedaan kalangan yang mencolok di antara Time Zone antara si kaya dan si miskin? Semua ide brilian yang dimiliki mudah sekali lenyap jika tidak ada jawaban yang mendukung pertanyaan-pertanyaan di atas.
Duduk di kursi sutradara, Niccol berupaya keras menyajikan film yang enak ditonton. It is! Beberapa adegan kejar-kejarannya terbukti cukup inspiratif. Hanya saja terlalu banyak kesamaan satu dan lain hal disana-sini dari berbagai film yang menjadi referensinya, paling kentara adalah Bonnie And Clyde (1967) atau Robin Hood (1973). Gaya sinematografi yang diusung Roger Deakins ini nampaknya akan mengingatkan anda pada The Adjustment Bureau (2011). Sedangkan ilustrasi music dari Craig Armstrong juga menjadi salah satu poin kuat kali ini.

JT rupanya belum bisa ditakdirkan sebagai pemeran utama yang handal padahal selama ini cukup menyita perhatian sebagai pemeran pembantu. Ia masih terasa kurang maksimal dalam menerjemahkan emosi tokoh Will Salas yang sebetulnya turun naik cukup drastis dari awal sampai akhir ini. Beruntung Seyfried dan Murphy mampu memainkan peran masing-masing dengan baik dimana tokoh Sylvia terlihat transformasi karakter dari gadis baik-baik menjadi pemberontak dan tokoh antagonis Raymond begitu kompleks dan intens dalam menjalankan fungsinya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang telah saya sebutkan, In Time tetaplah sebuah film wajib tonton karena elemen inovatif yang dimilikinya akan mencengangkan anda, bukan cuma dari satu tapi beberapa sudut pandang sang subyek. Belum lagi sederetan pesan moral yang sukses digelorakan secara natural seiring film bergulir, bagaimana harus menghargai tiap waktu yang berjalan dalam hidup, terutama kebersamaan dengan orang-orang yang penting bagi anda. Sebab siapa yang tahu jika satu detik yang anda miliki sekalipun mampu mengubah segalanya!

Durasi:
109 menit

U.S. Box Office:
$23,990,237 till Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 04 November 2011

THOR : Kebangkitan Heroik Pahlawan Terbuang Asgard

Quotes:
Thor: These people are innocent. You cannot sacrifice an entire race!
Loki: Then die with them.


Storyline:
Putra Odin, Thor dan Loki sudah bersaing sejak kecil. Namun beranjak dewasa, Thor jauh lebih menonjol dengan arogansi dan kecekatannya dalam bertarung. Dalam satu insiden, Thor dibuang dari Asgard oleh ayahnya ke dunia bersama godam ajaibnya. Disanalah Thor berjumpa ilmuwan Jane Foster yang sedang melakukan penelitian fenomena aurora di New Mexico bersama Erik dan Darcy. Jane lantas mengajari Thor hal-hal dasar sekaligus membantunya kembali ke Asgard dimana terjadi peperangan kekuatan jahat yang juga mengancam Bumi.

Nice-to-know:
Sebagai persiapan bermain disini, Chris Hemsworth rela menambah beban latihannya dalam 6 bulan di gym sekaligus menjalani diet habis-habisan yang diisi dengan menu telur, ayam, sandwich, sayur mayur, nasi merah dan minuman berprotein.

Cast:
Aktor Australia ini mulai dikenal sejak membintangi Star Trek (2009), Chris Hemsworth didapuk sebagai Thor
Natalie Portman sebagai Jane Foster
Sebelumnya tampil dalam Archipelago (2010), Tom Hiddleston berperan sebagai Loki
Anthony Hopkins sebagai Odin
Stellan Skarsgård sebagai Erik Selvig
Kat Dennings sebagai Darcy Lewis

Director:
Merupakan feature film ke-12 Kenneth Branagh setelah terakhir Sleuth di tahun 2007. Nama Joss Whedon yang juga menggarap post credit scenes tidak dicantumkan dalam credit title.

Comment:
Thor adalah salah satu tokoh legendaris dalam Marvel Comics. Menilik begitu banyaknya film adaptasi superhero tentunya Paramount Pictures tidak akan gegabah untuk sekadar menjadi pengikut. Cerita yang dikembangkan oleh duet J. Michael Straczynski dan Mark Protosevich ini lantas berusaha menampilkan dunia paralel yang dihubungkan oleh portal Bifrost Bridge sekaligus mempersatukan karakter manusia masa kini dengan tokoh pahlawan masa silam.
Terus terang konsep inipun tidak baru dan terkesan menggampangkan logika cerita. Paling mengganggu adalah perubahan sifat dan sikap Thor yang terlalu instan setelah menginjak Bumi beberapa hari. Ya ya ya, jawabannya bisa jadi cinta Jane Foster yang menyebabkan itu semua. That’s the power of love! Namun saya ingin melihat sesuatu yang lebih realistis terlebih kekuatan dari segi persahabatan atau ikatan keluarga daripada romansa yang begitu-begitu saja.

Hopkins lah yang paling mengagumkan sebagai si tua Odin terlepas dari minimnya porsi disini. Hiddleston juga memberikan performa menarik saat harus berdiri di antara identitas dirinya sendiri dan nama keluarganya. Sedangkan Hemsworth memperlihatkan karisma pahlawan yang cukup kuat dengan rambut panjang keemasan dan tubuh kekarnya. Portman yang biasanya berakting menawan, kali ini mengandalkan kecantikannya saja karena hanya menjadi peran pendukung.
Sutradara Branagh merupakan salah satu nama lawas yang menjawab tantangan modern menghadirkan kisah kepahlawanan klasik. Ia mempertahankan konsep drama ala Shakespeare beserta konflik keluarga kerajaan Asgard yang menjadi menu utama. Perbedaan tone warna Bumi dan Asgard seakan dituangkan dalam dualisme kanvas yang kontras. Balutan 3D nyaris merusak segala adegan aksi disini walaupun pada adegan non aksi cukup membantu visualisasi yang lebih nyata dan gelap.

Dialog yang disuguhkan trio penulis skrip Ashley Miller, Zack Stentz dan Don Payne harus diakui cukup kontradiktif. Saat Thor di Bumi terasa sekali sarkastis komediknya sedangkan ketika di Asgard jauh lebih serius kompleks. Setting Asgard dikerjakan dengan spesial efek yang solid, agak mengingatkan saya pada tampilan video game arcade di playstation atau komputer semasa kecil. Komposisi musik Patrick Doyle memenuhi standar film fantasi semacam ini, tidak bombastis tetapi cukup wajar.
Thor adalah film pembuka musim panas yang cukup menghentak walaupun bagi saya cukup mengecewakan karena elemen fantasinya kelewat cupu untuk dapat diterima akal sehat. Plot cerita yang mudah ditebak tidak sampai merusak sisi menarik perjalanan Thor yang terbuang nista hingga bangkit kembali secara heroik. Bukan tipikal film “pahlawan” pada umumnya, masih beruntung Thor tidak kehilangan sisi magisnya dengan godam ajaib yang juga bertindak sebagal senjata pamungkas kebaikan versus kejahatan.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$181,030,624 till Aug 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 03 November 2011

SAJADAH KA’BAH : Eksis Cara Ayah Anak Rhoma

Quotes:
Rhoma: Nabi tidak menggunakan jam untuk menentukan waktu sholat tetapi menggunakan matahari.


Storyline:
Seorang musafir bernama Rhoma Irama dalam kunjungan silaturahmi dan syiar Ukhuwah Islamiyah bersama forum Fahmi Tamami di Lombok di luar dugaan bertemu musuh lamanya, Towi. Perang urat syarat segera meruncing di antara keduanya terlebih setelah proyek Tanjung Aan Paradise Resort milik Andrean yang dipercayakan pengawasannya pada Towi ditentang habis-habisan oleh Rhoma yang tidak ingin perjudian dan segala macam kegiatan yang bertentangan dengan agama dilegalkan. Di sisi lain, putra Rhoma yaitu Ridho justru menjalin cinta dengan putri Towi yakni Rara. Tarik ulur perselisihan Rhoma dan Towi pun menyangkut kehidupan seorang janda cantik bernama Sohibah dengan putrinya Saimah hingga harus diselesaikan dalam duel Peresean satu lawan satu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Falcon Pictures dan Rumah Kreatif 23 dimana screeningnya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 22 Oktober 2011.

Cast:
Rhoma Irama sebagai Rhoma
Ida Iasha sebagai Sohibah
Ruhut Sitompul sebagai Towi
Ridho Rhoma sebagai Ridho
Michella Adlen sebagai Rara
Leroy Osmani sebagai Usman
Zahwa Aqilah sebagai Saimah
Qomar sebagai Marbot

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Rhoma Irama.

Comment:
Masih ingat Dawai 2 Asmara (2010) yang ditulis dan disutradarai oleh Asep Kusdinar? Mungkin duet ayah-anak kondang Rhoma Irama dan Ridho Rhoma yang anda ingat dalam film penyemarak liburan Idul Fitri tahun lalu itu. Setahun kemudian, keduanya kembali bertandem dalam sebuah film yang kandungan religinya lebih kental. Tidak tanggung-tanggung, Rhoma memulai kirahnya sebagai orang di balik kamera alias sutradara disini.
Asep yang kali ini hanya bertindak sebagai penulis skrip mengetengahkan sebuah benang merah yang teramat umum dan banyak dijumpai dalam film-film India dimana semua karakternya dapat ditarik garis lurus disana-sini yaitu “reuni” dua musuh bebuyutan yang melibatkan keturunan masing-masing. Itulah sebabnya tidak terlalu sulit bagi anda menebak jalan ceritanya dari opening hingga endingnya, cukup duduk manis bersabar menunggu credit title bergulir di bangku bioskop yang nyaman.
Rhoma tampaknya “nyaman” berakting sebagai dirinya sendiri. Musafir sejati yang bahkan sempat memberikan dakwah di pertengahan film sekitar 5-10 menit sampai menyumbangkan suaranya dalam 2 tembang. Ridho juga tak mau kalah memberikan sumbangsih 3 hit Melayu lengkap dengan koreografi ala India nya termasuk adegan hujan-hujanan mengemis cinta. Epik! Saya tidak akan mengomentari Ida Iasha yang masih terlihat cantik atau Michella Adlen yang juga ayu itu. Kasihan!
Poltak alias Ruhut Sitompul lebih menyedihkan lagi dalam menyuguhkan akting antagonis datar dengan dialog-dialog tekstual. Kemampuan “bertarung” pun seadanya plus penampilan dengan penutup mata sebelah ala bajak laut yang tidak sukses memunculkan momok apapun. Sama halnya “si bule” Andrean yang numpang lewat dengan sederetan kalimat berbahasa Inggris. Atau si petarung berbusana daerah yang cupu abis tetapi rajin wara-wiri di layar gelas.
Sebagai sutradara debutan, Rhoma masih perlu belajar proses editing yang rapi. Sekuens perpindahan berbagai babak yang diketengahkannya terasa terseok-seok dengan tempo yang tidak dinamis samasekali. Belum lagi adegan aksi yang diharapkan seru malah terkesan monoton dimana efek suara pukulannya justru lebih menggigit telinga, tanpa terkecuali duel peresean yang tidak seru dan antiklimaks itu. Tidak heran jika beberapa penonton memilih walkout sebelum film berakhir.
Sajadah Ka’bah hanyalah sebuah upaya Rhoma Irama dan Ridho Rhoma untuk “eksis” di kancah perfilman nasional. Semua jurus yang dikeluarkannya untuk membuat sebuah film menghibur harus diakui terlambat 20 tahun. Andai saja film ini rilis periode 90an yang lalu, bisa jadi apresiasi yang diterima akan lebih menggembirakan daripada selembar sajadah kuning bergambar kabah yang bertindak sebagai “saksi” perseteruan harga diri yang dibumbui oleh dramatisasi cinta lawas.

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 02 November 2011

SEEKING JUSTICE : Sindikat Misterius Main Hakim Sendiri

Tagline:
Would you cross the lines for vengeance?


Storyline:
Melewatkan pesta bersama teman-temannya, Laura Gerard secara brutal diperkosa oleh seorang pria di dalam mobilnya sendiri. Cedera fisik dan trauma tersebut memang hilang setelah terapi 6 bulan. Namun sang suami, Will Gerard tidak tinggal diam terlebih setelah seorang pria misterius bernama Simon menawarkan diri untuk menghabisi sang pelaku. Tanpa sadar, Will terjerat “permainan” sindikat luas New Orleans yang memiliki aturan mainnya sendiri untuk membereskan kejahatan. Berhasilkah suami istri tersebut mendapatkan ketenangan hidup mereka kembali?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Endgame Entertainment, Maguire Entertainment dan Ram Bergman Productions mengambil setting di New Orleans, Louisiana, L.A.

Cast:
Bermain di satu dari 4 filmnya di tahun 2011 setelah Drive Angry, Nicolas Cage berperan sebagai Will Gerard
Sama sibuknya dengan Cage, ini adalah film ke-3 setelah X-Men : First Class di tahun 2011 bagi January Jones yang bermain sebagai Laura Gerard
Jennifer Carpenter sebagai Trudy
Guy Pearce sebagai Simon
Harold Perrineau sebagai Jimmy
Xander Berkeley sebagai Lieutenant Durgan
Jason Davis sebagai Leon Walczak / Alan Marsh

Director:
Merupakan film ke-19 bagi sutradara kawakan Roger Donaldson yang mengawali film perdananya Sleeping Dogs (1977).

Comment:
Masih ingat konsep tindak kejahatan yang tidak diganjar dengan hukum setimpal hingga sang tokoh utama harus turun tangan sendiri mencari keadilan dalam sebuah film? Saya sebutkan salah satu judul yang paling anyar adalah Jodie Foster dalam The Brave One (2007). Setidaknya film ini terlihat di awal memiliki arah yang sama. Selebihnya? Jangan terlalu cepat menarik kesimpulan karena masih ada berbagai twist dari cerita yang direkayasa oleh Todd Hickey dan Robert Tannen ini.
Nic Cage lagi-lagi bermain sebagai one man show. Bedanya ada garis lurus yang bisa ditarik dari interaksi menarik karakter Will dengan orang-orang di sekitarnya, sebut saja sang istri-Laura, sahabatnya-Jimmy, penolongnya-Simon hingga kepala polisi yang menyelidikinya-Durgan. Apa yang dilakukan Cage mungkin mengingatkan kita pada tipikal film Liam Neeson. Namun harus saya akui, Cage mampu menarik simpati penonton sejak awal dan tidak membosankan samasekali seperti diduga sebelumnya.

Karakter-karakter lain di luar Will memang tidak banyak mendapat kesempatan yang cukup tetapi sudah mampu menerjemahkan maksud dan tujuan skenario tersebut. Jones terlihat tegar sebagai istri yang mengalami musibah sebelum bangkit berdiri bahkan mampu menjaga dirinya sendiri. Saya nyaris tidak mengenali sosok Pearce yang botak sebagai Simon yang keji dan merasa berkuasa dalam organisasi itu. Davis lumayan mencuri perhatian walau muncul sejenak sebagai jurnalis kriminal yang misterius.

Sutradara Donaldson memvisualkan kota New Orleans dengan baik sebagai setting lokasi, lengkap dengan kultural Mardi Gras di bagian pembuka hingga insiden Badai Katrina tak lama setelahnya. Berbagai adegan aksi termasuk kejar-kejaran dan kebut-kebutan mobil yang disuguhkan mungkin tidak sampai taraf luar biasa tetapi cukup mempertahankan animo penonton mengikuti kiprah pasangan guru sekolah dan pemain biola orchestra yang sangat “biasa” itu.
Seeking Justice sepintas terlihat seperti action lawas yang tidak menawarkan hal-hal baru. Namun percayalah dengan sedikit twists dan turns cerita, film ini cukup sepadan untuk diikuti selama satu setengah jam lebih. Pada akhirnya memang kembali pada bumbu tipikal yaitu pengkhianatan dan penyelesaian berdarah di tingkat kekuatan yang tertinggi. Kejahatan seringkali berada di luar kendali tetapi apakah “main hakim sendiri” adalah solusi yang tepat bagi penduduk sipil seperti kita? Think again!

Durasi:
105 menit

Europe Box Office:
€351,788 in Italy till Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 01 November 2011

PENGEJAR ANGIN : Bajing Loncat Pendidikan Cita-Cita

Quotes:
Dapunta: Dapun ingin sekolah, Pak. Dapun nak kuliah..


Storyline:
Siswa SMA cerdas, Dapunta tinggal di Lahat menjelang kelulusannya sangat berambisi untuk meneruskan ke bangku kuliah. Sayangnya niat baik itu ditentang sang ayah yang lebih mengarahkannya menjadi penerusnya sebagai pemimpin Bajing Loncat di kampung mereka, belum lagi ibunya yang sakit-sakitan hingga membutuhkan biaya pengobatan. Pak Damar dan Pak Ferdi yang melihat potensi Dapunta berusaha melakukan segala cara agar muridnya itu mampu menerima beasiswa. Dapunta dibantu oleh kekasihnya, Nyimas dan sahabatnya, Husni harus bersaing dengan Yusuf di segala bidang termasuk keunggulannya sebagai pelari tercepat sekaligus membuka pintunya untuk kesempatan emas yang membentang. Akankah mimpi tersebut dapat diraih?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Putaar Production dengan didanai oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 31 Oktober 2011.

Cast:
Qausar Harta Yudana sebagai Dapunta
Lukman Sardi sebagai Pak Damar
Agus Kuncoro sebagai Ferdy
Mathias Muchus sebagai Ayah Dapunta
Wanda Hamidah sebagai Bunda Dapunta
Siti Helda Meilita sebagai Nyimas
Giorgino Abraham sebagai Yusuf

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Hestu Saputra, jebolan Dapur Film yang dibantu oleh Hanung Bramantyo.

Comment:
Cerita di balik layar yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai narasumber, proyek film ini memang seperti “Sangkuriang”. Siapapun yang terlibat di dalamnya bisa jadi menggali kuburannya sendiri dikarenakan waktu yang begitu singkat dan tuntutan yang begitu besar dari penyumbang dana produksinya. Cukup mengejutkan melihat nama sekaliber Hanung Bramantyo tercantum dalam credit title apapun jabatannya disitu.
Penulis skrip Ben Sihombing terlalu banyak memasukkan elemen dalam film ini, setidaknya ada 3 yang paling utama yaitu:
1. Bajing loncat, tidak jelas digambarkan sebagai antagonis/protagonist.
2. Pendidikan, isu kelas gratis dan jatah beasiswa.
3. Olahraga, pelari jarak dekat untuk kompetisi.

Kesemuanya itu masih dibaurkan lagi dalam tema persaingan, persahabatan, pelatihan, dedikasi, cinta, kekeluargaan dari keseluruhan tokoh-tokohnya yang juga amat variatif dan sama kuatnya. Interaksi antara Dapunta dan sobat-sobatnya, ayah Dapunta dengan kawanan bajing loncatnya, guru Pak Damar dengan kepsek dan rekan-rekannya serta berbagai hubungan linier lainnya turut andil dalam menjungkir balikkan logika penonton yang kelelahan mengikutinya.
Mathias Muchus dan Lukman Sardi adalah dua nama besar di perfilman Indonesia. Keduanya memiliki peran penting terhadap sang tokoh utama yang dihidupkan dengan natural dan cukup maksimal oleh Qausar. Sayangnya tidak terlihat proses Ayah ataupun Pak Damar menginspirasi Dapunta secara tegas karena kurang fokusnya karakterisasi yang berusaha dibangun. Agus Kuncoro, Wanda, Siti Helda, Giorgino pun seakan hanya numpang lewat menciptakan riak-riak kecil dalam problematika yang ada.

Sutradara debutan Hestu Saputra bekerja di bawah supervisi Hanung Bramantyo. Sinematografi yang dihasilkan justru terkesan terlalu dinamis, terasa sekali perbedaan kinerja kamera di siang dan malam hari. Penceritaan sekolah (pendidikan Dapunta) dan hutan (penempaan ayah Dapunta) terasa seperti dua alam yang berbeda. Tata musiknya sebenarnya sudah mewakili daerah Sumatera Selatan, hanya saja penempatannya agak dipaksakan sehingga gagal membangun feel yang diharapkan.
Benang kusut yang hadir selama satu setengah jam pun akhirnya dituntaskan dalam 10 menit terakhir, seakan dimasukkan ke dalam lubang hitam begitu saja. Propaganda Pemprov dalam menggelorakan semangat Sea Games ke-26 di Palembang pun mengubah arah endingnya tanpa rasa dosa sekalipun. Semakin mengaburkan kualitas Pengejar Angin secara keseluruhan yang sudah kehilangan identitasnya sejak menit awal. Yang tersisa hanyalah aspek-aspek comotan dari berbagai film yang sudah-sudah hingga sukses membuat penontonnya berhalusinasi. Untuk apa susah-susah dikejar, angin yang sebatas lalu itu ternyata cuma mampu meninabobokan.

Durasi:
101 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: