XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label epic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label epic. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

WRATH OF THE TITANS : Slightly Better Epic Demigods’ Letdown


Quotes:
Zeus: You will learn someday that being half human, makes you stronger than a god.

Nice-to-know:
Gemma Arterton sedianya kembali dalam produksi film ini tapi mengalami konflik jadwal dengan Hansel and Gretel: Witch Hunters (2012).

Cast:
Sam Worthington sebagai Perseus
Liam Neeson sebagai Zeus
Ralph Fiennes sebagai Hades
Édgar Ramírez sebagai Ares
Toby Kebbell sebagai Agenor
Rosamund Pike sebagai Andromeda
Bill Nighy sebagai Hephaestus
Danny Huston sebagai Poseidon

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Jonathan Liebesman yang terakhir menggarap Battle Los Angeles (2011).

W for Words:
Pada Clash of the Titans (2010), Perseus berhasil mengalahkan Medusa dan Kraken sambil menyelamatkan Andromeda dan juga kota Argos dari kehancuran. Film tersebut sukses mengumpulkan nyaris 500 juta dollar lewat peredaran internasionalnya saja. Untuk itulah Warner Bros bermata silau untuk melanjutkan petualangan tokoh yang masih diperankan oleh Sam Worthington itu ke dalam installment baru, tentunya dengan konflik yang berbeda dan musuh-musuh yang jauh lebih tangguh.
Satu dekade setelah peristiwa yang mengangkat namanya, Perseus yang merupakan keturunan dari Zeus berupaya menjalani hidup normal sebagai nelayan bersama putranya Helius di sebuah desa yang tenang. Sementara itu, perebutan kekuasaan terjadi di antara para dewa dan the Titans itu sendiri. Pemimpin Titans yaitu Kronos bekerjasama dengan Hades dan Ares mengancam kedudukan Zeus dengan pasukan mautnya. Kini Perseus harus sekali lagi mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi apa yang ia punya meski harus membahayakan nyawanya.

Kali ini anda akan menjadi saksi visualisasi monster-monster yang dihidupkan oleh CGI dengan senyata mungkin mulai dari chimera, trio Cyclopes, raksasa berkepala dua Makhai hingga sang Kronos itu. Kesemuanya berguna dalam menciptakan teror yang cukup mencengangkan dan berdarah untuk sebuah film remaja. Sutradara Liebesman yang banyak menggunakan shaky cam style di paruh pertama terutama untuk pertarungan Perseus melawan raksasa mampu menghadirkan serangkaian adegan aksi ala blockbuster yang lebih nyaman untuk disimak di paruh keduanya.
Saya tidak melihat ada perbedaan akting Worthington disini. Sorot matanya masih terasa kosong dan intonasi suaranya datar saja padahal muatan emosinya jauh lebih berisi, lihat saja nasib ayahnya Zeus dan putra remajanya Helius yang berkali-kali terancam. Pike yang menggantikan Davalos sebagai Andromeda memang terlihat jauh lebih dewasa walau cenderung lebih feminin yang mengurangi kesan tangguhnya. Dua aktor senior, Neeson dan Fiennes seperti biasa tidak mengecewakan samasekali sebagai dua saudara yang saling berebut kekuasaan menjelang akhir dunia, Zeus dan Hades.

Wrath of the Titans untungnya masih menyisakan beberapa adegan yang memorable, salah satunya adalah sekuens labirin di penghujung film yang terasa mencekam. Selebihnya tidak ada perbaikan yang signifikan dari prekuelnya selain action yang lebih intens dan visual yang lebih menjual termasuk konversi 3D yang lebih efektif di setengah jam terakhir durasinya. Kekurangan dari plot cerita dan pengembangan karakternya yang miskin tidak membantu para penggemar kisah ini untuk memberikan opini yang positif. See it only if you want to see some fantasy action in the fantastic spare time but for me, the last few demigods movies have been such a letdown including this one.

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$34,200,000 in opening week of Apr 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 01 Desember 2011

LEGENDARY AMAZONS : Perjuangan Wanita Martabat Keluarga Yang

– 杨门女将之军令如山

Storyline:
Dinasti Song, ketika pria-pria keturunan klan Yang mengorbankan diri dalam perang, para wanitanya memutuskan untuk ambil bagian. 14 wanita dengan senjata andalannya masing-masing mulai dari tombak, pisau, tongkat, gada, busur dsb terjun ke medan pertempuran dengan tekad merebut kemenangan. Mu Guiying yang berduka karena menyangka suaminya Yang Zongbao tewas pun memimpin armada sekaligus emansipasi wanita tanpa kenal rasa takut.

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli yang men nv jiang zhi jun ling ru shan ini rilis di China pada tanggal 17 November 2011.

Cast:
Cecilia Cheung sebagai Mu Guiying
Liu Xiaoqing sebagai Princess Chai
Richie Ren sebagai Yang Zongbao
Cheng Pei-pei sebagai She Saihua
Ôshima Yukari sebagai Zou Lanying
Kathy Chow sebagai Fifth Sister Yang

Director:
Merupakan film ke-19 bagi Frankie Chan yang mengawalinya sejak Jia ren you yue (1992).

Comment:
Mungkin hanya sebagian dari anda yang mengingat sebuah film epik sejarah klasik dari Shaw Brothers di tahun 1972 yaitu The Fourteen Amazons yang dibintangi oleh Lisa Lu, Ivy Ling Po, Lily Ho dan Li Ching. Jika belum menyaksikannya, anda tidak sendiri karena saya sendiri belum lahir pada masa itu. Kini nyaris 40 tahun kemudian, lahirlah sebuah remake yang idenya muncul oleh Jackie Chan yang kali ini duduk di kursi produser eksekutif.
Tentunya rentang waktu yang demikian panjang dianggap tepat untuk memperkenalkan kisah wanita-wanita tangguh keluarga Yang ini kepada generasi muda. Untuk itu ditunjuk Cecilia Cheung dan Richie Ren yang pernah mengharu-biru dalam Fly Me To Polaris. Tidak mengherankan jika keduanya sempat berbagi scene emosional bersama tetapi sekeras apapun usaha mereka, tidak mampu mengulang momen yang sama apalagi tidak didukung oleh chemistry yang kuat.

Kembalinya Cecilia ke dunia akting paska problema pernikahannya lewat peran ini terbukti seperti bunuh diri. Ekspresi pilu atau semangat berkobar saja tidak cukup untuk menerjemahkan heroisme seorang Mu Guiying yang memimpin pasukan wanita ini. Dua nama senior yang turut mendukung adalah Cheng Pei-Pei dan Kathy Chow yang sudah menunjukkan usaha terbaiknya tapi apa daya terlalu sedikit porsi yang menampilkan karakter mereka.
Masuknya nama Frankie Chan sebagai sutradara memang membingungkan apalagi harus menangani film epik semacam ini yang jelas menyedot dana besar. Mungkin anda akan menyebut nama John Woo atau Ang Lee sebagai pilihan yang lebih bijaksana. Kekhawatiran itu akhirnya terjadi karena Frankie teramat lemah dalam penceritaan dan visualisasi yang sedianya dibuat brutal. Saat emosi akan berusaha dibangun, scene sudah berpindah lagi, begitu seterusnya sehingga sulit membangun simpati audiens.

Adegan pertarungan selayaknya dipertontonkan dalam koreografi martial arts yang meyakinkan untuk menciptakan intensitas. Yang terjadi adalah keamatiran belaka dimana efek CGI mengambil alih secara berlebihan. Tak jarang teknik “blue/green screen” yang melatarbelakanginya malah terlihat jelas. Belum lagi teknik “melayang” ala konvensional yang digunakan semakin mengurangi nilai jualnya. Lihat adegan jembatan manusia dari dua kawat sling yang sukses membuat penonton terpingkal-pingkal.
Satu-satunya yang mungkin menyelamatkan Legendary Amazons adalah aspek komedi yang justru tanpa sengaja tereksploitasi oleh filmmaker yang sudah merusak kepercayaan dan kesempatan untuk mengangkat sebuah perjuangan kaum wanita yang historik. Cecilia dkk bukan lagi wanita-wanita tangguh keluarga Yang melainkan anggota sirkus yang kebingungan melakukan aksinya untuk menghibur penonton. Kualitas “Behind The Scenes” sekitar 5 menit yang mendampingi credit title bergulir justru lebih bernilai dibandingkan 108 menit anda yang terbuang sia-sia.

Durasi:
108 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 11 November 2011

IMMORTALS : Peperangan Raja Tirani Busur Ajaib

Tagline:
The Gods Need a Hero


Storyline:
Dihantui gila kekuasaan, Raja Hyperion menyatakan perang terhadap kemanusiaan dengan menciptakan sebuah armada tentara tangguh yang haus darah. Bukan hanya itu, ia bertekad menemukan Busur Epirus yang legendaris itu yang mampu membuatnya berkuasa hingga ke Surga sekaligus membebaskan the Titan. Ramalan lama yang menyebutkan akan ada seorang manusia biasa yang mampu menghentikan maksud Raja Hyperion seakan timbul dalam diri Theseus yang baru kehilangan ibunya dan tidak pernah mengenal ayahnya itu. Siapa yang memenangkan pertarungan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Relativity Media, Atmosphere Entertainment MM, Hollywood Gang Productions, Virgin Produced dan mendapat kehormatan diputar sebagai film pembuka iNAFFF 2011 di Blitzmegaplex Grand Indonesia tanggal 11 November 2011.

Cast:
Sebelum ini disibukkan dalam serial televisi Tudors (2007-2010), Henry Cavill ditunjuk sebagai Theseus
Terakhir banyak mengisi peran antagonis dalam film-filmnya, Mickey Rourke kebagian peran Raja Hyperion
Stephen Dorff sebagai Stavros
Freida Pinto sebagai Phaedra
Luke Evans sebagai Zeus
John Hurt sebagai Old Man
Kellan Lutz sebagai Poseidon
Isabel Lucas sebagai Athena

Director:
Merupakan film ketiga Tarsem Singh yang keturunan India ini setelah The Fall (2006).

Comment:
Nama Tarsem Singh mungkin cukup tenar sebagai sutradara internasional di samping M. Night Shyamalan yang kebetulan sama-sama berkebangsaan India. Terbukti debut dan karya terakhirnya diterima baik karena sangat visioner. Namun mengangkat sebuah kisah para dewa dan manusia dalam mitologi Yunani tentunya tidaklah mudah. Lihat saja hasil akhir dari Charley Parlapanides dan Vlas Parlapanides yang banyak mengundang pertanyaan itu.
Mengapa dewa bisa mati? Mengapa Zeus melarang para dewa ikut campur membela manusia? Mengapa Theseus seakan lebih ”superior” dari para dewa itu sendiri? Jawaban-jawabannya memang bisa ditemukan tetapi tidak didukung oleh logika yang pasti. Semakin diperburuk dengan rentang waktu yang dituturkan dalam film, kadang yang panjang terasa pendek dan begitupun sebaliknya. Semisal panah ajaib yang ditemukan di kuburan ibu Theseus yang baru saja meninggal? Saya tidak berani memberikan opini kali ini.

Sutradara Singh juga menggunakan tempo lambat yang seharusnya tidak menjadi masalah jika saja dilengkapi dengan percakapan menarik di antara aktor-aktrisnya. Sayangnya hal itu tidak terjadi disini. Demikian yang tersisa hanyalah berbagai adegan stop motion pertarungan disana-sini yang sangat memanjakan mata sekaligus memiriskan hati jika kelewat sadis, seperti kepala pecah ataupun pencacahan anggota-anggota tubuh dari pedang terhunus dsb.
Cavill tidak diragukan lagi memiliki modal yang cocok sebagai Theseus. Ia tegap dan rupawan, tetapi dari segi akting tidak terlalu maksimal karena cenderung datar-datar saja. Begitu pula dengan Pinto, saya tidak melihat banyak perbedaan dari apa yang sudah disuguhkannya dalam Rise of the Planet of the Apes baru-baru ini. Sedangkan Rourke memang mampu menghadirkan sosok antagonis keji dan mengundang antipati walaupun masih teramat monoton.

Nyaris tidak ada kedalaman karakter-karakter dalam film ini sehingga tidak sulit bagi anda untuk menebak adegan apa yang akan terjadi sesungguhnya bahkan sampai endingnya. Reaksi yang timbul setelah munculnya aksi begitu seterusnya apalagi tidak adanya twisted plot yang diharapkan oleh khalayak penonton. Mereka bagaikan kawanan domba yang digiring patuh oleh gembala melewati padang rumput sampai batas waktu tertentu. Inilah yang tidak terhindarkan.
Immortals jelas cuma memiliki kelebihan dalam visualisasi memikat dan terkonsep penggunaan warna-warni simbolik mitologi Yunani yang kental. Suatu aspek yang dimanfaatkan demi menutupi kelemahan-kelemahan yang sudah tersebut di atas. Penggunaan 3D “timbul”nya juga tidak terlalu krusial, mungkin akan mengingatkan anda pada 300 (2006) atau Clash of the Titans (2010). Launching tanggal keramat 11-11-11 bisa jadi menyita perhatian penikmat film internasional untuk setidaknya mau menengok sosok Theseus dan dewa-dewa lainnya yang berpostur indah layaknya mitos Yunani tapi sayangnya tidak mampu berbahasa Greek.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 04 April 2010

CLASH OF THE TITANS : Pertarungan "Balas Dendam" Manusia Melawan Dewa

Quotes:
Perseus-If I do this, I do it as a man.
Draco-But you are not JUST a man!

Storyline:
Yunani masa purba, kota Argos mengingkari kekuatan dewa-dewa sehingga dikutuk akan dimusnahkan dari muka bumi jika dalam 10 hari, putri raja Andromeda tidak dikorbankan kepada Kraken, monster lautnya dewa Hades pada saat gerhana. Sementara itu Perseus yang semasa kecil menjadi satu-satunya selamat dari karamnya kapal nelayan telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tangguh. Ia sesungguhnya masih keturunan Zeus sehingga mendapat sebutan demigod, setengah manusia setengah dewa. Dendamnya pada Hades coba dituntaskan Perseus dengan menyelamatkan kota Argos. Dengan bantuan Calibos, Io, Draco dkk, mereka berkelana mencari jawaban untuk mengalahkan Kraken. Berhasilkah mereka?

Nice-to-know:
Awalnya Stephen Norrington akan menyutradarai film ini tetapi ia belum pernah menyaksikan versi aslinya sehingga tidak yakin mampu. Pada Juni 2008, proyek akhirnya diserahkan pada Louis Leterrier.

Cast:
Karir layar lebarnya dimulai lewat Bootmen (2000), kini Sam Worthington didapuk sebagai Perseus masa kini yang keras hati sekaligus tangguh bertarung.
Dua aktor senior, Liam Neeson dan Ralph Fiennes didaulat sebagai dewa yang selalu berseberangan yaitu Zeus dan Hades.
Dua gadis cantik, Gemma Arterton dan Alexa Davalos dipercayakan sebagai Io dan Andromeda.

Director:
Terakhir menggarap The Incredible Hulk (2008) yang cukup sukses itu, pria Perancis bernama Louis Leterrier ini sangat mengagumi film klasik Clash Of The Titans (1981) dan antusias saat mendapat kesempatan meremakenya.

Comment:
Apakah sebuah kesalahan melakukan remake film klasik dengan tambahan spesial efek? Hm, bisa jadi iya walau harapan meraih hasil yang lebih baik juga ada. Sebetulnya jika ditelaah lebih jauh dunia dewa-dewa teramat sangat banyak karakternya dengan karakterisasi dan cerita kehidupannya masing-masing. Clash Of The Titans hanyalah menarasikan segelintir peristiwanya dan sayangnya hal tersebut sudah dilakukan oleh film pop remaja, Percy Jackson yang baru launching beberapa bulan lalu! Plot ceritanya memang terkesan mengambang karena diawali seperti di tengah-tengah sesuatu dan tiba-tiba saja Perseus sudah dewasa tanpa kita tahu perkembangan jiwanya. Transisi antara adegan aksinya juga sedikit mengganggu, belum lagi dialognya yang tidak terlalu mengesankan. Mengingatkan film-film blockbuster buatan Michael Bay yang tidak beremosi dan bermakna. Worthington sudah melakukan yang terbaik bagi karakter Perseus tetapi kedalaman eksplorasinya tidak memungkinkan. Fiennes dan Neeson sekalipun tidak dapat berkontribusi banyak karena cerita seakan tidak menjadi fokus utama. Di luar faktor aksi dan visual efek yang menampilkan Medusa dan Kraken, film ini tidaklah terlalu spesial apalagi sampai dibilang epik. Faktor 3D juga tidak akan banyak membantu karena 2D nya sendiri sudah cukup.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$61,400,000 in first week of April 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 21 Februari 2010

LITTLE BIG SOLDIER : Nostalgia Jackie Chen dengan Karakter Lawasnya

Storyline:
Seorang prajurit negara Liang berhasil menawan seorang jenderal negara Wei dimana kedua negara tersebut sedang berseteru. Interaksi keduanya sepanjang perjalanan secara tidak langsung berubah dari saling membenci hingga saling menyelamatkan. Tanpa diketahui, adik sang jenderal terus mengikuti jejak kakaknya yang hilang untuk diam-diam merebut tahta. Kini dilema menjadi problem sang prajurit yang harus membawa pulang sang jenderal ke negaranya sekaligus berkumpul dengan keluarganya kembali.


Nice-to-know:
Diproduksi oleh Polybona Films, Jce Movies Limited dengan bujet kurang lebih 25 juta dollar.


Cast:
Terakhir tampil dalam Spy Next Door yang dibilang orang sebagai bentuk lain dari The Pacifiernya Vin Diesel, Jackie Chan disini bermain sebagai prajurit Liang.
Pernah dipuji saat mendukung Lust, Caution! (2008), kali ini Wang Lee Hom berperan sebagai jenderal Wei.

Director:
Merupakan film kedua bagi Ding Sheng setelah Underdog Knight (2008) yang dibintangi Liu Ye dan Anthony Wong.

Comment:
Sebagai sebuah tontonan, film ini sangat simpel dan mudah dicerna, hingga simpelnya semua karakternya tidak diberi nama samasekali! Dari awal sampai akhir, penonton hanya disuguhi tindak tanduk kocak praktis sang prajurit yang secara real dihidupkan oleh Chen Lung yang memang sudah memainkan karakter serupa selama lebih dari 20 tahun sebelum namanya melejit sebagai legenda hidup pelakon Mandarin di kancah perfilman dunia termasuk Hollywood yang sudah ditaklukkannya. Gaya khas Jackie muncul disini termasuk adegan-adegan slapstick. Konon awalnya Jackie ditawarkan peran sang jenderal tetapi karena faktor usia beralih ke tokoh prajurit. Sedangkan biduan tenar Taiwan, Wang tidak terlalu banyak bereksplorasi sebagai jenderal muda yang idealis dan arogan. Beruntung keduanya berbagi chemistry yang cukup baik. Sepanjang perjalanan, interaksi Chen dan Wang mengalami pertumbuhan yang unik sehingga arah film menjadi sedikit blur. Beberapa pesan sosial juga diselipkan disini. Sayangnya ending Little Big Soldier mungkin terkesan tidak masuk akal dan sangat dipaksakan. Oleh karenanya tidak sedikit penonton yang mengeluh saat meninggalkan bioskop. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 06 Januari 2010

MU LAN : Kepahlawanan Pejuang Wanita Legendaris Cina

Storyline:
Tahun 450 di Cina, seorang purnawirawan Hua Hu bersikeras mengabdi negara walau sedang sakit keras. Pagi-pagi buta keesokan harinya putri semata wayangnya Hua Mulan nekad menggantikan posisinya dan berangkat wamil. Karena tomboi, Mulan sukses mengelabui orang-orang kecuali Tiger, sahabat masa kecilnya dengan berdandan sebagai laki-laki. Pertempuran menghadapi bangsa Rouran terbentang di depan mata dan mencemaskan Wentai, putra Kaisar. Namun keberanian dan ketangkasan Mulan membuat bangsa Wei maju terus dan menuai kemenangan demi kemenangan. Lalu apa konsekuensi dari pengorbanan itu sendiri terhadap bangsa sekaligus pribadi Mulan sendiri?

Nice-to-know:
Materi promo film yang judulnya diangkat dari salah satu lagunya band Hole ini sudah disiapkan 15 bulan sebelum tanggal rilisnya!

Cast:
Vicky Zhao Wei mengawali karir aktingnya lewat Penitentiary Angel (1995) di usia 19 tahun. Disini ia kebagian memerankan salah satu tokoh wanita paling dikenal dalam sejarah peperangan Cina yaitu Hua Mulan.
Putra kandung Jackie Chan, Jaycee Chan menokohkan Tiger alias Fei Xiaohu.
Protagonis Wentai dan antagonis Danyu Modu dimainkan oleh Chen Kun dan Hu Jun, keduanya aktor asli RRC.

Director:
Pernah sukses mengharu biru seantero publik Asia lewat karyanya Fly Me To Polaris (1999), Jingle Ma yang sudah menjadi sutradara sejak tahun 1986 ini berusaha mengangkat kisah kepahlawanan Hua Mulan versi terbarunya.

Comment:
Jika anda memutuskan untuk menonton film ini, jangan mengharapkan sebuah epik megah yang sangat memanjakan mata dengan adegan pertempuran yang kolosal semisal dwilogi Red Cliff dsb. Sang sutradara Jingle Ma bertutur dengan halus dan kental dengan unsur drama. Namun bukan berarti tidak ada scene peperangan, hanya saja tidak terlalu diekspos sampai detil apalagi sampai menampilkan adegan berdarah-darah yang keji. Pengenalan terhadap karakter Hua Mulan di awal terlalu singkat dan penonton langsung diajak melihat kiprahnya. Yes, Zhao Wei di atas kuda dengan baju perang, helm, pedang dan perisai merupakan pilihan yang tepat untuk karakter pejuang wanita legendaris tersebut. Penjiwaannya tergolong baik walau terkadang dialog yang diucapkannya terkesan datar karena pita suara aslinya memang sudah seperti itu. Plot cerita yang dibangun sangat khas film-film China yaitu membelokkan sejarah asli walau tidak terlalu signifikan dampaknya. Mu Lan masih dapat dinikmati dengan unsur-unsur emosional yang cukup kuat di sepanjang film walau secara keseluruhan bukan film yang luar biasa.

Durasi:
100 menit

Asian Box Office:
CNY 88,800,000 in China till end of 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 01 Oktober 2009

THE LAST LEGION : Epik Asal Mula Legenda King Arthur

Quotes:
Young Arthur-Is that where the last legion made their stand?
Ambrosinus-Of course. Just like in the story.
Young Arthur-With you as the hero.
Ambrosinus-Of course. We need heroes, don't we?

Cerita:
Tahun 460 Sebelum Masehi, kaum Goth yang dipimpin Odoacer menyerang Roma; membunuh orangtua Kaisar Romulis Augustus dengan brutal dan menculik bocah tersebut bersama gurunya Ambrosinus ke penjara di Capri. Pemerintahan Constantinople bersama Senator Nestor mengirim pejuang wanita bernama Mira untuk membantu Komandan setia, Aurelius untuk menyelamatkan Romulus dengan bermodalkan sedikit prajurit. Kesuksesan misi tersebut dikejutkan oleh fakta bahwa mereka dikhianati oleh Senator Nestor pada saat kembali. Tanpa pilihan, mereka mengubah haluan menuju Brittannia untuk bertemu kaum pejuang terakhir Roman.

Gambar:
Bersetting di Slovakia dan Tunisia, The Last Legion cukup berhasil mengedepankan bahasa gambar epik yang baik dan meyakinkan.

Act:
Colin Firth yang pernah mendukung Bridget Jones' Diary (2001) kali ini berperan sebagai Aurelius
Aktor berusia 65 tahun kelahiran Inggris bergelar Sir ini sudah malang melintang di kancah perfilman Hollywood. Disini Ben Kingsley bermain sebagai Ambrosinus / Merlin.
Salah satu aktris India yang cukup dikenal di Amerika, Aishwarya Rai kebagian tokoh Mira, pejuang wanita yang tangguh.
Angkat nama lewat Nanny McPhee (2005), Thomas Sangster didapuk sebagai Romulus Augustus kecil.

Sutradara:
Doug Lefler lebih berpengalaman dalam bidang art department sekaligus sutradara beberapa episode serial televisi epik selayaknya Hercules, Xena dll.

Komentar:
Melihat premis dan trailer The Last Legion, rasanya penonton akan berharap banyak. Tetapi sayangnya hanya akan dikecewakan pada akhirnya. Apa pasal? Walau didukung oleh efek CGI yang lumayan sebagai sebuah epik, film ini tidak didukung oleh jalan cerita yang memadai dan adegan laga yang memukau. Jajaran cast yang ada pun tergolong bermain biasa-biasa saja walaupun masing-masing dari mereka sebenarnya memiliki bakat, hal ini mungkin saja disebabkan kinerja sutradara yang belum maksimal. Ending yang ditawarkan pun terasa dipaksakan dan cenderung norak. Secara keseluruhan, The Last Legion mungkin tidak seburuk itu, hanya saja segmennya lebih ditujukan untuk remaja muda dibandingkan orang dewasa karena film yang ringan ini bebas dari adegan berdarah, kekerasan ataupun seks.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$5,920,150 till Nov 2007

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 06 September 2009

NOMAD : Epik Sejarah Dari Asia Tengah

Cerita:
Pada abad 18 di Kazakhstan, Mansur sejak awal dididik untuk menjadi seorang pemimpin masa depan yang mampu mempersatukan berbagai suku yang selama ini berperang. Bersama Erali, sahabat yang dianggapnya adik kandung sendiri, mereka tumbuh menjadi pejuang gagah berani yang jatuh cinta pada gadis yang sama, Gaukhar. Kedamaian tidak berlangsung lama saat Gaukhar diculik dan berniat diperistri oleh Sharish. Akankah pada akhirnya Mansur berhasil menyelamatkan pujaan hatinya tersebut sekaligus memenuhi cita-cita ayahnya?

Gambar:
Berlokasi syuting di Kazakhstan, kehidupan masa silam terasa meyakinkan dengan kostum dan settingnya. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan beberapa adegan perang yang tidak konsisten.

Act:
Angkat nama lewat trilogi Goal!, Kuno Becker yang asli Mexico ini bermain sebagai Mansur, pemersatu suku-suku Kazakhstan di masa silam yang tangguh sekaligus berjiwa besar.
Memulai akting lewat peran kecil dalam Living The Life (2000), Jay Hernandez yang kelahiran California ini berperan sebagai Erali, pejuang pemberani yang harus terlibat cinta segitiga dengan Mansur yang sudah dianggap kakaknya sendiri.
Turut didukung juga oleh Ayanat Ksenbai sebagai si cantik love interestnya Mansur dan Erali, Gaukhar serta dua nama lama Mark Dacascos sebagai Sharish dan Jason Scott Lee sebagai Oraz.


Sutradara:
Kolaborasi pria Ceko, Ivan Passer dan pria Rusia, Sergei Bodrov menghasilkan epik Asia yang justru diperankan bintang Amerika. Kabarnya film ini akan dirilis dalam dua versi, Asia dan Amerikanya. Kita tunggu versi Amerikanya di masa mendatang.

Komentar:
Salah satu kelemahan mencolok film ini adalah suara karakter-karakter utamanya yang seakan dubbing hanya karena mereka bukan asli Kazakhstan, entah beberapa bagian saja atau sepenuhnya! Satu lagi yang lebih mengganggu adalah ketidakakuratan gambaran kaum nomad Kazak yang harus berjuang selama 300 tahun melawan kaum penjajah Jongar. Bagi non Kazak, hal itu rasanya termaafkan karena jarang sekali suguhan epik sejarah Asia Tengah di kancah perfilman internasional. Bujet 40 juta dollar terlihat bisa dimaksimalkan untuk adegan pertarungan memikat, terlepas dari kemiripan gaya dengan film-film sejenis seperti Musa, Gladiator, Troy dsb. Secara keseluruhan dari kacamata saya, hasil akhir Nomad hanya sampai taraf lumayan walau seharusnya bisa lebih baik lagi.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$73,369 till May 2007 (selected theatres)

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!