XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label Vithaya Thongyuyong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vithaya Thongyuyong. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2018

BROTHER OF THE YEAR : Her Worst Enemy That Never Leaves

Original title:
Nong, Pee, Teerak

Quote:
Jane: Kau tak punya hak menghentikan aku menikah.
Chut: Kenapa tidak? Aku cuma takkan mengizinkanmu.


Nice-to-know:
Dalam film, Sunny dan Yaya memainkan karakter kelahiran Thai-French sedangkan Nichkhun Thai-Japanese. Aslinya Sunny adalah Thai-Singaporean-French, Yaya adalah Thai-Norwegian dan Nichkhun adalah American-born Thai-Chinese.

Cast:
Sunny Suwanmethanont sebagai Chut
Urassaya Sperbund sebagai Jane
Nichkhun sebagai Moji 
Anchuleeon Buagaew sebagai Ibu
Chanchalerm Manasaporn

Director:
Merupakan film keempat bagi Witthaya Thongyooyong setelah The Little Comedian (2015).

W For Words:
Selayaknya orangtua, kita tidak pernah bisa memilih siapa saudara kandung kita, tentunya anak tunggal adalah pengecualian. Anak perempuan ataupun laki-laki tentu saja sama di mata mereka yang melahirkan dan membesarkannya. Namun apakah di mata satu sama lain, mereka punya hak dan kewajiban yang sama untuk dapat saling mengisi? GDH yang dikenal sebagai pioneer dalam industri perfilman Thailand kali ini punya kisah menarik mengenai siblings, yang lagi-lagi dikemas dalam genre komedi romantik dengan cara yang unik.

Chut adalah perjaka ting-ting yang berkarir di bidang periklanan, yang memiliki kekasih Muay yang nyaris tak dianggapnya, yang kerap mabuk dan one night stand dengan wanita yang tak perlu diketahui namanya. Kebiasaan hidupnya berubah saat adiknya Jane pulang dari studinya di Jepang, yang dari segala sisi merupakan kebalikan 180 derajat dari sang abang. Bukan terpacu untuk berbenah diri, Chut malah berusaha menjatuhkan Jane yang segera meniti karir dan berencana menikah dengan kekasih Jepang yang baru dikenalnya, Moji.

Sejak awal kwartet Nontra Kumwong, Tossaphon Riantong, Witthaya Thongyooyong dan Adisorn Trisirikasem tidak membuang waktu untuk mengenalkan para tokohnya, melainkan langsung masuk ke dalam konflik yang kemudian membuka karakter mereka selapis demi selapis lewat presentasi situasi terkini dan juga cuplikan masa lalu. Stigma kakak yang wajib beri contoh kepada adik, atau adik yang harus nurut kepada kakaknya juga dihadirkan di sini. Keberpihakan yang dibangun dari pencapaian hasil sang kakak atau adik itu sendiri, memang tak jarang menimbulkan kompetisi di antara keduanya.

Thongyooyong yang juga duduk di bangku pengisah mampu memadukan gaya hidup bebas masyarakat Thailand dengan kultur moral masyarakat Jepang di jaman modern ini. Coba simak perilaku ibu, ‘bibi’, teman-teman kantor Chut dan bos, calon ibu mertua Jane yang cukup kontras. First act nya yang banyak diisi oleh adegan slapstick dijamin membuat anda terpingkal-pingkal. Sedangkan third act nya yang dramatis niscaya membuat anda menitikkan air mata. Perubahan tone yang signifikan tersebut mampu dijembatani dengan smooth melalui konflik personal Jane dan Chut yang turut berkembang.

Urassaya Sperbund alias Yaya adalah nama baru di dunia layar lebar tetapi kemampuannya memainkan rentang emosi mulai dari marah, kesal, bahagia hingga sedih patut diacungi jempol. Jane dengan cepat akan menarik simpati anda. Sebaliknya Chut yang menyebalkan diperankan dengan apik oleh Sunny yang tampaknya sudah tak asing dengan peran cowok slengean. Terlepas dari peran tipikal cowok baik-baik nan sempurna dan screentime yang terbatas, Nickhun tetap berhasil memberikan sensitifitas pria Jepang yang bertanggungjawab pada diri dan keluarganya ke dalam karakter Moji.

Sesungguhnya Brother Of The Year memiliki isu yang kompleks, yang patut dikaji dari berbagai sisi untuk mendapatkan sebuah obyektifitas yang sempurna. Namun Thongyooyong memilih cara-cara yang klise, yang dibangun melalui momentum pernikahan, untuk meluluhkan kesalahpahamanan di antara keduanya. Secara tontonan terbilang berhasil. Secara kehidupan nyata mungkin anda punya pengalaman sendiri. The point is, this movie served as a sweet reminder that “Brothers and sisters are as close as hands and feet. A friend, might also be an enemy that never leaves.”

Durasi:
124 menit

Asian Box Office:
$66.76 millio
n till Jun 2018 in Thailand

Movie-meter:

Sabtu, 26 Februari 2011

THE LITTLE COMEDIAN : Kisah Krisis Humor Plus Puber Dewasa

Tagline:
“Will you love me, if I am not funny?”


Storyline:
Terlahir dalam keluarga comedian tiga generasi Pa-Plern yang dikepalai Plern, Tock diharapkan banyak orang untuk meneruskan hegemoni ayahnya itu. Sayangnya Tock tidak berbakat melucu samasekali meski sudah mendapat julukan 'Lor Tock', malah adiknya Mon lebih mampu membuat orang tertawa. Suatu hari Tock berkenalan dengan Preeya alias Dokter Ice yang bekerja di klinik perawatan wajah. Dalam waktu singkat, Tock jatuh cinta pada perempuan yang 12 tahun lebih tua tersebut apalagi Ice merupakan orang pertama yang menganggapnya lucu. Akankah masa puber pertama Tock akan berakhir dengan bahagia?

Nice-to-know:
Berjudul asli Baan Chan Talok Wai Gon dan sudah beredar di Thailand pada tanggal 11 Maret 2010 yang lalu.

Cast:
Chawin Likitjareonpong
sebagai Tock

Paula Taylor
sebagai Ice

Jaturong Pholaboon
sebagai Plern

Nichapat Jaruratanawaree
sebagai Mon

Ornanong Panyawong sebagai Ibu Tock
Kwanjit Sriprajun
sebagai Nenek Tock


Director:

Vithaya Thongyuyong
sebelumnya menggarap My Girl (2003) yang juga sukses itu.

Comment:

Seorang remaja pria belia yang jatuh cinta pada gadis yang jauh lebih tua rasanya sudah pernah anda saksikan sebelumnya. Contoh paling mudah diingat adalah Malena (2000) yang legendaris itu. Atau buatan lokal, Janda Kembang (2009) yang terinspirasi darinya Kini sineas Thailand mengangkat tema serupa yang dibumbui oleh unsur komedi yag kental. Bagaimana dengan hasil akhirnya?

Paruh pertama film dapat dikatakan kental dengan nuansa humor. Pintarnya film ini menggunakan sudut pandang Tock. Jika anda tertawa dengan sajian humornya itu bagus, tapi jika tidak maka sah-sah saja sebab Tock memang tidak pintar melawak. Berbagai gestur dan mimik wajah yang mengantar semburan kata-kata jenaka Plern dan kelompoknya memang terasa kentara sekali ciri khas Thai nya tapi rasanya penonton masih dapat mengikutinya.

Paruh kedua film memang terasa mellow, jelas bukan hasil dramatisasi. Pendekatan Tock terhadap Ice tidak dibumbui hasrat atau polosnya cinta monyet tetapi lebih pada ketulusan dan pengorbanan yang teramat tinggi nilainya. Hal ini sekaligus menjadi peristiwa teramat penting bagi proses kedewasaan seorang remaja pria. Kalau boleh jujur sedikit mengingatkan saya pada pengalaman pribadi bertahun-tahun silam.








Saya memuji Chawin yang berakting secara natural disini. Rasa optimis sekaligus depresifnya yang silih berganti ditampilkan tidak terkesan sok dewasa samasekali. Paula juga bermain memikat dengan senyum khas bidadarinya mewakili sosok wanita muda yang sempurna, cantik sekaligus pintar. Di luar mereka berdua, Jaturong dan Nichapat juga cukup mencuri perhatian dengan polah tingkah jenakanya.
Sutradara Vithaya dengan cermat memaksimalkan segala jengkal skrip dan setting film ini. Bagaimana setiap tempat bisa menjadi latar belakang cerita yang kuat dan bagaimana setiap detail skrip seakan bertutur dengan sendirinya secara wajar. Semua elemen tersebut menjadikan The Little Comedian sangat mengena dalam menyampaikan pesannya termasuk silih bergantinya rasa geli dan haru di hati anda. Thumbs up!


Durasi:

115 menit


Asian Box Office:

$1,311,519 in Thailand

Overall:

7.5 out of 10


Movie-meter: