XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label leonardo dicaprio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leonardo dicaprio. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Mei 2013

THE GREAT GATSBY : Timeless Love Issue About ‘What-If' Curiosity


Quote:
Nick Carraway: You can't repeat the past.
Jay Gatsby: Can't repeat the past? Why, of course you can.

Nice-to-know:
Syuting sempat tertunda tatkala sutradara Baz Luhrmann terantuk crane kamera yang berujung pada tiga jahitan di kepala.

Cast:
Leonardo DiCaprio sebagai Jay Gatsby
Carey Mulligan sebagai Daisy Buchanan
Tobey Maguire sebagai Nick Carraway
Joel Edgerton sebagai Tom Buchanan
Isla Fisher sebagai Myrtle Wilson 
Jason Clarke sebagai George Wilson
Elizabeth Debicki sebagai Jordan Baker
Amitabh Bachchan sebagai Meyer Wolfsheim

Director:
Merupakan feature film kelima bagi Baz Luhrmann setelah terakhir menangani Australia (2008).

W For Words:
Karakter Jay Gatsby memang fiktif. Namun fakta itu tidak menghalangi kesuksesan novel karangan F. Scott Fitzgerald berjudul The Great Gatsby yang terbit di tahun 1925. Betapa tidak, penulis asal Amerika Serikat tersebut berhasil memotretkan sejarah kehidupan sosialita Amerika pada masa ‘Roaring Twenties’ yang kental dengan kemakmuran ekonomi hingga memicu terjadinya berbagai tindak kriminal. Nah, tentunya anda sudah memiliki gambaran bagaimana seorang sutradara sekelas Baz Luhrmann akan mengadaptasinya ke layar lebar versi kedua apalagi didukung dengan jajaran cast yang menjanjikan.

Nick Carraway yang bekerja sebagai salesman di desa West Egg kerap diundang ke rumah sepupunya Daisy yang merupakan istri dari Tom Buchanan. Mereka mengenalkan Nick pada Jordan Baker, atlet golf ternama. Belakangan diketahui Tom memiliki affair dengan Myrtle, istri George Wilson yang tinggal di lingkungan kumuh. Suatu saat Nick berkenalan dengan konglomerat misterius Jay Gatsby yang ternyata pernah menjalin cinta dengan Daisy lima tahun lalu. Lewat bantuan Nick, api cinta mereka kembali berkobar. Kemana affair tersebut akan berujung? 

Luhrmann yang juga menangani skripnya langsung bersama Craig Pierce akan membangkitkan imajinasi penonton dengan kedetilan sisi teknis yang begitu tajam. Pesta super megah dimana semua undangan tampil dalam kostum stylish retro merupakan treatment tersendiri. Efek 3D yang dihasilkan terbilang memuaskan kecuali pada beberapa bagian percakapan. Sedikit gangguan bagi saya ada pada musik kombinasi pop ballad dengan hip-hop yang dirasa masih terlalu modern dari Shawn Carter alias Jay Z untuk nuansa tahun 20an yang seharusnya lebih dekat dengan jazz.

Tak mudah menerjemahkan karakter Gatsby yang terlihat tegar dan ambisius di luar tapi sensitif dan emosional di dalam. DiCaprio yang sudah tidak terlalu tampak babyface lagi melakukannya dengan gemilang sesuai evolusi karakteristiknya. Aktris kesayangan saya Mulligan juga menjiwai tokoh Daisy dengan semangat tinggi tanpa harus kehilangan sifat manja dan feminisnya. Edgerton yang semakin bersinar menunjukkan determinasi tinggi ketika berhadapan langsung dengan DiCaprio. Tokoh Tom yang terkesan ignorant justru posesif dan penuh perhitungan. Mereka membangun pondasi cinta segitiga lewat alasan dan motif yang juga sama kuatnya.

Kembalinya salah satu aktor favorit saya Maguire selepas dari karakter Peter Parker (2002-2007) ini mengobati kerinduan. Bagaimana mata lebar dan senyum khasnya terasa pas dalam diri Nick yang naïf sekaligus narator first person yang baik. Fisher dan Clarke juga tampil ciamik sebagai pasutri Wilson nan oportunis yang hidup di kota buangan lengkap dengan citarasa quirky masing-masing. Pendatang baru Debicki di luar dugaan lumayan mencuri perhatian lewat peran Jordan yang cantik menggoda. Penampilan khusus Amitabh Bachchan kian melengkapi nama-nama sohor yang terlibat di dalamnya.

The Great Gatsby versi terbaru ini mampu terlihat nyata dan absurd secara bersamaan. Kekuatan sebuah literatur klasik yang terbangun hidup tanpa harus melewati proses analisa mendalam. Penonton juga dapat menangkap metafora lewat simbolisasi kaya di sepanjang film, salah satu yang paling memorable bagi saya adalah konsep ‘green light’ yang melambangkan mimpi. It’s a mix of classic and modern Hollywood grandeur which deliver timeless love issue about 'what if' curiosity.

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:
$93,398,909 till May 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 06 April 2012

TITANIC 3D : Full Steam Reminiscence Of Its Sinking You’ll Never Forget


Quotes:
Rose: Jack, I want you to draw me like one of your French girls. Wearing this...
Jack: All right.
Rose: Wearing *only* this.

Nice-to-know:
Memegang rekor dengan menempati posisi puncak box office Amerika Serikat selama 15 minggu berturut-turut mulai dari 19 Desember 1997 hingga 2 April 1998.

Cast:
Leonardo DiCaprio sebagai Jack Dawson
Kate Winslet sebagai Rose DeWitt Bukater
Billy Zane sebagai Caledon 'Cal' Hockley
Kathy Bates sebagai Molly Brown
Frances Fisher sebagai Ruth Dewitt Bukater
Gloria Stuart sebagai Old Rose
Bill Paxton sebagai Brock Lovett
Bernard Hill sebagai Captain Edward James Smith

Director:
Merupakan pemenang Academy Award kategori Best Picture pertama yang diproduseri, disutradarai, ditulis sekaligus diedit oleh orang yang sama yaitu James Cameron.

W for Words:
Salah satu dari sedikit film yang menyandang predikat nyaris sempurna menurut saya ini pertama kali beredar pada akhir tahun 1997 dan sukses mencatatkan diri sebagai film terlaris sepanjang masa sebelum dipatahkan oleh karya teranyar James Cameron lainnya yaitu Avatar (2010). Faktanya adalah saya pertama kali menyaksikannya di vcd bajakan dengan kualitas belum 100% bersama seluruh anggota keluarga sambil menantikan detik-detik pergantian tahun 1998. Tidak usah heran karena pada waktu itu saya belum menonton film di bioskop sefrekuentif sekarang.
14 tahun berlalu, memperingati 100 tahun peristiwa naas yang tak terduga tersebut, Cameron merilisnya kembali dalam format 3D dengan embel-embel “pengalaman bersinema yang paling dalam dan dinamis mengenai perjalanan kapal Titanic itu sendiri”. Pernyataan yang menurut saya tidak sepenuhnya benar tetapi efek 3D nya jelas sukses menghadirkan kedalaman gambar yang lebih tajam dan jernih yang tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi layar bioskop masa kini.

Esensi menyaksikan kembali bagi sebagian besar orang ternyata bukan karena 3D melainkan tujuan bernostalgia yang manis terutama dengan orang-orang terkasih. Sinematografi yang dihasilkan samasekali tidak terkesan lawas, hal ini dikarenakan Cameron sudah menggunakan teknologi canggih pada jamannya sehingga dapat dikategorikan timeless. Skrip yang juga ditulisnya sendiri memang masih berisi romantika picisan antara dua orang dari kelas sosial berbeda tetapi bukan itu yang menjadi fokus penonton melainkan sisi emosional yang campur aduk antara iba, simpati, trenyuh dan sebagainya.
Gaya penceritaan Cameron tergolong menakjubkan sehingga durasi 195 menit tidak terasa lambat. Keragaman karakter yang diusungnya berhasil menjembatani berbagai konflik yang dilandasi oleh kesenjangan antar kasta yang tercermin dari pembagian lantainya, sebuah masalah abadi yang akan selalu terjadi dimanapun. Lihat bagaimana kalangan atas sibuk menyombongkan kekayaan masing-masing dalam pesta mewah membosankan, berbanding terbalik dengan kalangan bawah bersenang-senang dengan cara yang sederhana lewat iringan musik dan bir murahan.

Hal tersebut memicu kemudian akan pertunangan yang tak diinginkan antara Rose dan Cal, perjumpaan yang tak terduga antara Jack dan Rose, pertahanan status sosial yang diupayakan Ruth, persamaan martabat yang diusahakan Molly atau pengorbanan mulia Kapten Edward dan para krunya. Kesemua tokoh seakan digariskan dalam suratan takdir yang mengharuskan mereka berada pada tempatnya masing-masing. Saya tahu ini hanyalah fiksi belaka tapi akting dan chemistry luar biasa dari Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet yang masing-masing berusia 23 dan 22 tahun pada waktu itu membuat semuanya kian hidup.
Titanic memang tak terpisahkan dari sinema itu sendiri. Kronologis karam yang demikian megah amat layak dinikmati via layar besar demi mendapatkan suasana mencekam tak terbayangkan yang dilengkapi dengan sound efek yang menggetarkan. 3D nya memang menyempurnakan modernisasi tapi tetap tidak dapat menggantikan pengalaman menonton film ini untuk pertama kalinya (sejujurnya selalu merasa demikian walau sudah berkali-kali melihatnya). Original score dari James Horner terlebih hit My Heart Will Go On dari Celine Dion akan selalu menghantui saya seumur hidupnya tanpa harus disesali. Definitely one of the most amazing wonderful movies of the 20th Century that will never be forgotten!

Durasi:
195 menit

U.S. Box Office:
$600,779,824 till Sept 1998

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 18 Juli 2010

INCEPTION : Absurditas Dunia Mimpi Rekaan Nolan

Quotes:
Cobb-Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up that we realize something was actually strange.

Storyline:
Dom Cobb bukan sekadar pencuri ulung, tetapi ia adalah pencuri mimpi seseorang yang menjadi targetnya. Sebuah rahasia dari alam bawah sadar yang bisa jadi kunci dari semua peristiwa di muka bumi. Kemampuan itu membuat Dom menjadi buronan internasional juga yang sempat berakibat kehilangan istri tercintanya, Mal. Kini Dom disewa Saito untuk menuntaskan misi terakhirnya yaitu masuk ke dalam mimpi Robert Fischer, Jr yang baru saja mewarisi perusahaan minyak dari ayahnya yang sekarat. Tentunya Dom tidak sendiri karena dibantu asistennya yang jenius, Arthur dan arsitek muda, Ariadne. Saito sendiri memasukkan nama Earnes dan Yusuf untuk memperlancar aksinya. Mereka merencanakan semua dengan penuh perhitungan tanpa mempertimbangkan musuh tak terduga yang mungkin saja menghadang dalam mimpi-mimpi tersebut.

Nice-to-know:
Ide membuat film ini muncul di kepala Christopher Nolan setelah menyelesaikan Insomnia (2002) dan dijanjikan kepada studio untuk selesai dalam beberapa bulan. Nyatanya butuh delapan tahun untuk kelar dimana proses produksi Inception sendiri sangatlah dirahasiakan.

Cast:
Sempat mendukung 5 episode serial televisi ternama awal 1990an "Santa Barbara", Leonardo DiCaprio berperan sebagai Dom Cobb.
Ken Watanabe sempat dinomasikan Aktor Pendukung Terbaik Oscar 2004 lewat The Last Samurai (2003) dan disini bermain sebagai klien terakhir Cobb, Saito.
Keduanya dinominasikan Aktris Terbaik dalam Oscar 2008 yaitu Marion Cotillard sebagai Mal yang akhirnya menang dan Ellen Page sebagai Ariadne.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Arthur
Tom Hardy sebagai Eames
Dileep Rao sebagai Yusuf
Cillian Murphy sebagai Robert Fischer, Jr.
Tom Berenger sebagai Browning
Pete Postlethwaite sebagai Maurice Fischer
Michael Caine sebagai Miles

Director:
Berbagi dengan saudaranya Jonathan Nolan saat mendapatkan nominasi Oscar 2002 kategori Penulisan Skrip Terbaik dalam Memento (2000), pria kelahiran Inggris bernama Christopher Nolan ini menggarap film ke-9nya selama 12 tahun berkarya.

Comment:
Beberapa referensi film yang mengangkat mimpi atau dunia bawah sadar terdahulu mungkin saja pernah hadir dalam ingatan tetapi berapa banyak yang mampu memuaskan anda secara total? Berpendapat sama dengan yang satu ini? Nanti dulu! Saksikan dulu baru berkomentar dan lebih baik anda singkirkan semua review yang membahas film ini karena semakin sedikit anda mengetahui plotnya akan lebih tercengang dibuatnya. Jangan juga berkerut melihat durasinya yang panjang, lakukan seperti yang saya lakukan, melepas jam tangan saat menontonnya dan fokuslah terus pada layar!
Jika mau dirunut semua subplotnya dan mencari penjelasan yang masuk akal rasanya akan sulit. Namun saya rasa hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak. Sebab semakin dalam masuk dalam eksplorasi cerita, anda akan menemukan hal-hal yang jauh lebih menarik. Spesial efek yang digunakan juga sangat efektif dan simpel, kontras dengan kompleksitas skripnya. Adegan bertarungnya sedikit mengingatkan pada trilogi Matrix yang melawan gaya gravitasi. Belum lagi penggambaran arsitektur kota-kota yang teramat unik dalam dunia mimpi. Bonus lagi, gubahan komposer Hans Zimmer menyatu dengan pas di setiap scene nya hingga terkadang membuat anda merinding.
Dari jajaran cast, DiCaprio sekali lagi menunjukkan performa terbaiknya sebagai aktor terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini. Bukan hanya ia pribadi yang menunggu Piala Oscar tetapi seluruh penikmat film dunia rasanya setuju jika suatu saat gelar tersebut sampai di tangannya. Dan kabar baiknya, disini Leo tidak perlu berjuang sendirian mengangkat film seperti yang biasa dilakukannya. Page dan Gordon-Levitt yang notabene masih muda dan Hardy yang miskin pengalaman tampil memuaskan sebagai supporting cast. Publik Jepang juga nampaknya perlu berbangga akan sosok Watanabe yang kharismatik. Kesemua aktor-aktris yang mendukung film ini tampil brilian dan mengusung efek magis yang ingin disampaikan sutradara Nolan. Mengenai pria yang genap berusia 40 tahun ini sanggup menjawab tantangan paska kesuksesan kualitas dan komersil The Dark Knight (2008) dengan menghadirkan film kelas A.
Inception merupakan sci-fi action thriller kontemporer dengan berbagai twists dan turns yang akan membuat anda terus bertanya-tanya sepanjang film tetapi tetap tergugah mengikutinya sambil menikmati suguhan sinematografi yang luar biasa. Selayaknya absurditas mimpi, kesimpulan akhir film juga tergantung pandangan anda sendiri dan bisa jadi bahan diskusi yang mengasyikkan dengan rekan-rekan audiens yang lain. Satu yang pasti, film ini akan menjadi salah satu cult movie terbaik dunia perfilman era tahun 2000 ke atas.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$21,645,000 in opening week mid July 2010.

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 09 Maret 2010

SHUTTER ISLAND : Marshal Kompeten Melacak Jejak Napi Hilang

Quotes:
Chuck Aule-All I know is it's a mental hospital.
Teddy Daniels-...for the criminally insane.

Storyline:
Tahun 1954, U.S. Marshall Teddy Daniels bersama asistennya, Chuck Aule ditugaskan untuk melakukan investigasi atas menghilangnya seorang pasien dari Rumah Sakit Jiwa Boston di Shutter Island yang terisolasi dari manapun juga. Awalnya Teddy merasa ada alasan tersendiri mengapa ia yang dipilih tetapi lambat laun ia mencurigai adanya konspirasi antara dokter-dokter rumah sakit tersebut dalam melakukan treatment rahasia ilegal terhadap pasien-pasiennya. Penyelidikan Teddy dan Chuck mulai dari Bangsal Pria, Bangsal Wanita hingga Bangsal C yang berisi tahanan berbahaya mengarah pada beberapa petunjuk yang sulit dipahami. Belum lagi sebuah mercusuar misterius yang selalu muncul dalam mimpi Teddy. Lambat laun, Teddy mulai meragukan semua kenyataan dan orang-orang di sekelilingnya. Apa yang sesungguhnya terjadi dalam institusi tersebut?

Nice-to-know:
Konsep Shutter Island diilhami dari pemandangan Peddocks Island, Acadia National Park di Maine, Medfield State Hospital di Medfield, dan Rice Estate at Turner Hill Country Club di Ipswich yang semuanya dikombinasikan CGI secara keseluruhan.

Cast:
Kini salah satu aktor dengan bayaran termahal, Leonardo DiCaprio diplot sebagai Teddy Daniels, U.S. Marshall yang cekatan dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya.
Mark Ruffalo mengisi peran Chuck Aule yang sempat dipertimbangkan sang sutradara untuk Robert Downey JR maupun Josh Brolin.
Dua aktor senior, Ben Kingsley dan Max Von Sydow mengisi tokoh Dr. Cawley dan Dr. Naehring.

Director:
Pernah mendapat Oscar Sutradara Terbaik 2007 dalam The Departed (2006), Martin Scorsese untuk keempat kalinya mengarahkan DiCaprio dalam drama thriller psikologis ini.

Comment:
Layar dibuka langsung pada kedatangan dua tokoh sentral di Shutter Island. Premis ini sedikit membuat saya menerka-nerka apa yang akan ditawarkan film. Sayangnya sebelum menonton, salah satu rekan telanjur membocorkan endingnya sehingga tidak ada kejutan lagi. Tetapi tidak apa karena saya bisa fokus pada konstruksi cerita per layer dan tentunya kualitas acting dari castnya. DiCaprio bisa dibilang menampilkan acting yang cemerlang walau tidak sebaik dalam The Departed. Ruffalo sebagai tandemnya juga tidak mengecewakan. Kingsley seperti biasa memperlihatkan kualitasnya sebagai actor watak. Von Sydow, Williams dan beberapa pendukung juga tampil baik. Semuanya berhasil diarahkan berkat tangan dingin Scorsese yang diakui public sebagai sutradara bertangan dingin. Meskipun genre ini bukan spesialisnya yang lebih banyak bermain di action tetapi eksekusi yang dilakukan Scorsese sangat brilian. Intensitas cerita terjaga dari awal sampai akhir dengan segmen-segmen yang saling terkait menyatukan potongan puzzle. Misteri yang dibangun sepintas mengingatkan kita pada kisah-kisah Alfred Hitchcock yang kelam. Pada akhirnya, Shutter Island bukanlah film orang kebanyakan karena alur lambat dan narasi yang tidak wajar apalagi semakin lama semakin sulit dicerna karena tidak ada yang masuk akal seiring berjalannya film. Namun jika dicermati secara lebih dalam, unsur suspensinya sangat kuat dengan sinematografi yang sangat menunjang. Meski sempat mengalami pergeseran tanggal rilis, rasanya film ini akan diunggulkan pada festival-festival film akhir tahun 2010. Kita tunggu saja!

Durasi:
135 menit

U.S. Box Office:
$75,541,271 till end of Feb 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 26 Agustus 2009

REVOLUTIONARY ROAD : Krisis Perkawinan Antara Mimpi dan Realita

Quotes:
Frank Wheeler-Well I support you, don't I? I work ten hours a day at a job I can't stand!
April Wheeler-You don't have to!
Frank Wheeler-But I have the backbone not to run away from my responsibilities!

Cerita:
1955, tahun ketujuh dalam perkawinannya, sepintas Frank dan April Wheeler terlihat berbahagia. Namun sesungguhnya tidak! Kehidupan di Connecticut dengan dua anak, April menjadi ibu rumah tangga sedangkan Frank disibukkan dengan pekerjaannya sebagai administrasi kantor. Sampai pada suatu ketika, April mempunyai ide untuk pindah ke Paris dan menjadi sekretaris sementara Frank bisa melanjutkan hobinya. Rencana yang semula matang menjadi mentah kembali saat Frank dipromosikan naik jabatan. Dilema antar kedua orangtua muda tersebut semakin memuncak. Apakah semua bisa terselesaikan tanpa perceraian menjadi jalan keluarnya?

Gambar:
Bersetting asli di Connecticut, kehidupan keluarga urban di tepi kota besar disorot dengan sangat baik, konstan dengan gaya tahun 1950an yang kental di segala sisi.

Act:
Terakhir tampil dalam Body Of Lies, Leonardo DiCaprio kembali pada genre drama yang pernah membesarkan namanya. Dalam peran Frank Wheeler, Leo terlihat matang dan dewasa sebagai karyawan administrasi yang sebetulnya tidak ia sukai.
Sama seperti Leo dimana terlibat juga dalam satu proyek yang akhirnya mengantarkan Piala Oscar baginya dalam The Reader, Kate Winslet sekali lagi membuktikan talentanya. Dalam karakter April Wheeler, Kate tampil emosional dan pemimpi sehingga masuk nominasi Aktris Terbaik BAFTA Film Award 2009.

Sutradara:
Meraih Piala Oscar pada debut penyutradaraan layar lebarnya dalam American Beauty (1999), Sam Mendes yang juga suami dari Kate Winslet di kehidupan nyata memang belum banyak berkarya tetapi sudah diakui kualitasnya di dunia perfilman internasional.

Komentar:
Dibuat berdasarkan novel karangan Richard Yates, Sam Mendes mentranskripsikan hampir 100% sama dalam bentuk layar lebarnya termasuk lokasi, scene dan karakter. Bicara tentang karakter, Leo dan Kate bermain nyaris sempurna sebagai pasangan yang tengah mengalami krisis perkawinan sehingga kita bisa mengerti kebencian dan ketidaksukaan satu sama lain akan situasi yang tengah berjalan. Sinematografinya terasa kuat di berbagai elemen. Satu-satunya yang patut diperhatikan adalah Revolutionary Road menonjolkan kedepresian secara dominan, maka dari itu bukan tipe film dimana penonton bisa duduk nyaman begitu saja. Film yang bagus dari berbagai sisi tetapi bukan dari unsur hiburan.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$22,877,808 till Apr 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 21 Oktober 2008

BODY OF LIES : Kolaborasi Konflik-Intrik-Polemik CIA

Cerita:
Seorang staf operasional CIA, Roger Ferris yang ditugaskan di Timur Tengah secara lambat tapi pasti menunjukkan kapabilitasnya dalam “menyelesaikan” beberapa konflik yang terjadi. Semuanya ia kerjakan sendiri hanya dengan informasi dari atasannya, Ed Hoffman yang melakukan komunikasi dengan telpon secara berkala. Konflik intern mulai tumbuh saat Roger jatuh cinta dengan suster blasteran Iran-Yordania yang cantik, Aisha dan semakin yakin bahwa Timur Tengah merupakan tempat yang tepat baginya. Ed yang diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Roger dari kantor pusat CIA menyusun suatu “siasat” khusus untuk menghadapi musuh utama mereka, Al Saleem yang mungkin saja menempatkan Roger dalam situasi yang sulit.

Gambar:
Setting yang berpindah-pindah antar negara Timur Tengah seperti Iran, Yordania, UAE menggambarkan gambaran situasi yang kurang lebih sama yaitu populasi yang padat, kekeringan padang pasir, kemiskinan di sebagian besar masyarakatnya.

Act:
Leonardo DiCaprio sekali lagi memberikan nuansa akting yang berbeda. Kecemerlangannya dalam melakoni peran semakin diuji dan usahanya di film ini patut diacungi jempol sebagai Roger yang ambisius sekaligus cerdas.
Russell Crowe yang kerapkali kebagian peran-peran serius juga tampil apik walau terlihat “tidak terlibat” langsung dalam situasinya ini namun aksen dan gerak-gerik yang dia berikan sebagai seorang atasan dalam CIA yang berbahaya cukup meyakinkan.

Sutradara:
Ridley Scott sudah tidak diragukan lagi kehandalannya. Menyajikan drama spy tingkat tinggi seperti ini, ia cukup berhasil membangun intrik cerita yang rumit dengan diselingi adegan aksi yang tidak terduga.

Komentar:
Film ini bukan film yang bisa dinikmati oleh siapapun. Konflik internal dan eksternal berbau dunia spionase tidak bisa begitu saja dicerna oleh orang awam. Mungkin kalimat ini yang paling tepat menjelaskan film ini: “Good director, great two leading actors but complicated spy non-thriller movie.”

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 17 Januari 2007

BLOOD DIAMOND : Pergulatan Konflik Berlian Berdarah Sierra Leone

Quotes:
Danny Archer-So, don't tell me you're here to make a difference, huh?
Maddy Bowen-And you're here to make a buck?
Danny Archer-I'm here for lack of a better idea.
Maddy Bowen-That's a shame.

Cerita:
1999 di Sierra Leone, seorang pemancing Solomon Vandy mendambakan anaknya Dia menjadi dokter. Sayang semua kandas saat kaum pemberontak menyerang desa dan menculiknya untuk bekerja di penyaringan berlian. Saat menemukan berlian pink besar dan berusaha menyembunyikannya, komandan pemberontak melihat Solomo melakukan itu tepat di saat kaum pemberontak mendapat serangan dadakan. Belakangan hal tersebut diketahui penyelundup berlian Danny Archer dari Zimbabwe yang membebaskan Solomon dan memintanya untuk menukar berlian demi kebebasan keluarganya. Dengan bantuan jurnalis Amerika yang idealis, Maddy Bowen, Danny berhasil menemukan lokasi tahanan istri dan anak Solomon. Berhasilkah kolaborasi itu mendapatkan tujuan mereka masing-masing di saat semua bentuk bahaya mengancam?

Gambar:
Suasana pemberontakan dan kehidupan keras Sierra Leone berhasil digambarkan secara gamblang dimana nyawa manusia bisa begitu murah harganya.

Act:
3 kali dinominasikan pada tahun 1994, 2005 dan di film ini rupanya Oscar belum berpihak pada Leonardo DiCaprio. Meskipun hampir semua pihak yakin suatu saat piala tersebut akan mampir ke tangannya. Sebagai Danny Archer, Leo mampu bertransformasi dengan baik, terbukti dari aksen Afrika yang dilakukannya dengan mulus.
Jennifer Connelly yang pernah memenangkan Oscar Aktris Terbaik dalam A Beautiful Mind (2001) kali ini berperan sebagai jurnalis cantik yang idealis, Maddy Bowen. Penampilannya yang segar dan cekatan cukup pas di tengah situasi dinas yang tidak menguntungkan.
Gagal menyabet penghargaan di ajang Academy Award pada tahun 2004 tidak menyurutkan langkah Djimon Hounsou untuk terus berkarir. Penampilan gemilang meyakinkan sebagai seorang ayah yang berusaha menyelamatkan keluarganya sekaligus pemancing Solomon Vandy membuahkan satu nominasi kembali.

Sutradara:
Terakhir kali dipuji saat membesut The Last Samurai (2004), Edward Zwick membuat Blood Diamond dengan tempo cepat. Casting yang brilian menampilkan aktor-aktris kaliber Oscar. Plot cerita yang sebetulnya biasa tapi menjadi unik karena menyangkut isu kemanusiaan di negara Afrika.

Komentar:
Pertama saya tertarik melihat sinopsis singkat film ini disertai dengan jajaran cast yang menjanjikan, tapi belakangan agak kehilangan minat saat membaca beberapa review tentang film ini yang sebagian mendiskreditkan usaha Leo disini. Namun setelah menyaksikan sendiri, satu kata yang mewakilinya: SPEKTAKULER! Blood Diamond merupakan film yang menghibur sekaligus sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang nyata. Sebuah film yang pantas mendapat pengakuan di ajang penghargaan bergengsi dunia, terlepas dari unsur kekerasan yang cukup detail tersaji.

Durasi:
135 menit

U.S. Box-Office:
$57,312,489 till April 2007

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!