XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label varun dhawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label varun dhawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

ANY BODY CAN DANCE 2 : Bigger Deal But Less Value Exuberant Sequel

Quote:
Suresh: Sir, u r superb sir, outstanding, sir i salute u sir.

Vishnu: I know men, shut up & get lost.


Nice-to-know:
Demi memperdalam penjiwaan karakter Suresh, Varun Dhawan menato Michael Jackson di tangan kanannya.


Cast:
Varun Dhawan sebagai Suresh
Shraddha Kapoor
sebagai VinniePrabhudheva sebagai Vishnu
Sushant Pujari sebagai Vernon
Punit Pathak sebagai Vinod
Lauren Gottlieb sebagai Olive
Pooja Batra sebagai Puja Kohli

Director:
Merupakan film ketiga bagi Remo setelah prekuelnya ABCD (2013).

W For Words:
Rasanya industri Bollywood yang identik dengan musik dan tari sudah tidak lagi membutuhkan dance movie selayaknya yang dilakukan Hollywood dari masa ke masa. Namun di awal tahun 2013 yang lalu, UTV Spotboy membuat sebuah gebrakan dengan ABCD (Any Body Can Dance) yang memiliki banyak persamaan dengan franchise Step Up. Tidak salah karena masih mengakar dengan budaya India hingga akhirnya mencapai kesuksesan yang lumayan. Dua tahun kemudian, sekuelnya pun diproduksi. Tidak tanggung-tanggung, IX Faces Pictures dan UTV Motion Pictures langsung menggandeng Disney. We knew it’s gonna be huge!

Mumbai Stunners gagal dalam pertunjukan televisi nasional hingga mereka dicap sebagai peniru. Suresh yang bekerja di bar pamannya lantas berkenalan dengan Vishnu, guru tari yang handal tapi hobi mabuk-mabukan. Lewat perjuangan bujuk rayu yang intens, Vishnu akhirnya setuju melatih Suresh, Vinnie dkk. Nama kelompok yang berganti menjadi Indian Stunners tersebut mulai mencari anggota baru demi mewujudkan mimpi mereka bersama yakni tampil dalam World Dance Competition di Las Vegas sekaligus keikutsertaan negara India untuk pertama kalinya.

Skenario yang ditulis oleh Remo dibantu oleh Mayur Puri dalam penyusunan dialognya ini terinspirasi dari perjuangan nyata Nalasopara boys yang menempatkan India pada peta dunia hiphop saat memenangkan kejuaraan dunia di Las Vegas pada tahun 2012 lalu. Namun segalanya dalam film dibuat dalam skala yang lebih besar dimana passion tampak begitu mudah mengalahkan segala hambatan. Berbagai karakter kunci memang masih mengalami struggling tetapi turning point konfliknya masih terkesan dipaksakan dan tak jarang penyelesaiannya berlalu begitu saja.

Ambisi Remo yang tinggi untungnya masih dibarengi dengan directing skills yang memadai. Trik-trik patriotisme yang juga kental dengan nilai-nilai keagamaan terbilang sulit untuk tidak mengundang empati penonton. Koreografi tari baik individual maupun kelompok sukses ditampilkan secara memikat dari awal hingga akhir. Balutan musik hiphop yang digagas oleh Jigar, Mayur Puri dan Sachin akan dengan mudah menstimulasi indera pendengaran anda. Durasi yang masih terlalu panjang menjadi isu krusial, terlebih paruh pertama yang terasa lamban sebelum berakhir dengan eksplorasi kota judi tersebut.
Varun dan Sraddha mungkin bisa dimaafkan jika menyangkut performa dance. Perhatikan saja group performance yang tidak pernah menempatkan mereka di posisi sentral. Namun harus diakui kharisma keduanya sebagai leading memang memukau. Banyak wajah baru yang berfungsi sebaliknya, lemah di akting tapi kuat di dancing. Meski demikian, kekayaan karakteristik para underdog yang berbeda latar belakang tersebut niscaya masih menarik untuk disimak. Tokoh Sir Prabudheva yang dominan pada prekuelnya kali ini hanya bertugas sebagai guard yang memiliki hidden agenda.

Terlepas dari format 3D yang diembannya, ABCD 2 merupakan ‘upgrade’ dari segi teknis dan style. Plot nya tidak banyak berubah selain mengganti spirit can-do yang sederhana dengan believe in hardworking yang cukup kompleks. Lupakan kedalaman cerita yang sedikit menguap karena kompensasi dancing sequences akan menawan perhatian anda. Just feel the energetic perfomances in stages full of energy. Dance freaks or not, you might love the cinematic experience with better feeling guaranteed after you walk out of the cinemas!

Durasi:
152 menit

Movie-meter:

Selasa, 23 Oktober 2012

STUDENT OF THE YEAR : Extravagant Competition For Love and Honor


Quotes: 
Ashok Nanda: You can either be rich, or a chamcha.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Dharma Productions dan Red Chillies Entertainment ini rilis di Indonesia bersamaan dengan India dan Amerika Serikat yaitu 19 Oktober 2012.   

Cast: 

Sidharth Malhotra sebagai Abhimanyu Singh
Varun Dhawan sebagai Rohan
Nanda
Alia Bhatt sebagai Shanaya Singhania
Sana Saeed sebagai Tanya
Asrani
Rishi Kapoor sebagai Dean Yoginder Vasisht

Ronit Roy sebagai Pelatih Karan Shah
Ram Kapoor sebagai Ashok Nanda
Manjot Singh sebagai Dimpy
Sahil Anand sebagai Jeet Khurana
Kayoze Irani sebagai Sodo

Boman Irani                       

Director: 
Merupakan film kelima bagi Karan Johar setelah My Name Is Khan (2010).

W For Words: 
Sekolah seringkali menjadi panggung bercerita yang asyik dalam sebuah film. Salah satu referensi berkualitas terdahulu adalah film lawas Mansoor Khan berjudul Jo Jeeta Wohi Sikandar (1992) yang dibintangi oleh Aamir Khan, Ayesha Jhulka dan Deepak Tijori. Kali ini Karan Johar, pria kelahiran Bombay 40 tahun lalu yang juga peraih beberapa penghargaan lokal dan internasional atas beberapa film-film sebelumnya berupaya “meremajakan” karyanya dengan menampilkan bintang-bintang muda di barisan terdepan dan memperkenalkan mereka sebagai MURID!

ST Teresa di Dehradun merupakan sekolah papan atas sekaligus pertemuan siswa-siswi kaya atau berprestasi. Kepala sekolahnya Yoginder Vasisht adalah gay yang jatuh cinta pada pelatih olahraga. Penyokong dananya seorang pebisnis kejam dimana putranya, Rohan Nanda bersekolah disana dengan segudang fasilitas mewah. Kekasih Rohan, Shanaya Singhania juga siswi populer. Kedatangan siswa baru dari luar negeri, Abhi yang penuh talenta membuat Rohan merasa tersaingi. Puncaknya terjadi pada saat kompetisi tahunan siswa terbaik yang menjadi penentuan segalanya. 

Skenario Rensil Dsilva memang tidak anyar. Dua lelaki yang saling bersaing untuk seorang gadis dan juga sebuah piala. Sub konflik lain adalah hubungan ayah dan anak yang tidak mulus hingga konsep frenemies diantara beberapa karakter utama pelajarnya mengingat standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak awal di sekolah bergengsi yang tidak mengenal kata bodoh dan miskin tersebut. Dialog karangan Niranjan Iyengar juga sebetulnya tidak terlalu kreatif tapi cukup untuk menghadirkan drama klise, romansa tipikal sambil sesekali melontarkan humor praktis. 

Sutradara Johar lagi-lagi bersikap perfeksionis. Sinematografi Ayananka Bose yang megah, editing Deepa Bhatia yang memikat, musik Vishal-Shekhar yang dinamis lengkap dengan koreografi energik sudah menegaskan hal tersebut. Nomor soundtrack macam Vele, Ishq Wala Love, The Disco Song dengan mudah melekat di kepala anda. Tampilan ST Teresa yang luar biasa mulai dari aula, lorong, taman hingga kolam renang standar Olimpiade rasanya mampu mengundang murid manapun untuk bersekolah disini. Pendekatan flashback maju mundur reuni “tak terencana” yang mengambil rentang waktu sepuluh tahun sejak perayaan 25 tahun sekolah mengingatkan anda pada hal serupa dalam 3 Idiots (2009).

Indahkan pertanyaan-pertanyaan anda mengenai karakterisasi yang sangat textbook layaknya dalam pakem Glee atau High School Musical. Bagaimana Abhi yang awalnya masuk karena beasiswa mampu mengikuti gaya hidup jetset. Bagaimana Rohan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya setelah meninggalkan rumah. Bagaimana Shanaya menentukan pilihan hati yang sebenarnya. Selain itu karakter siswi kutu buku, siswa gendut, siswi oportunis dan siswa tangan kanan juga menjelma dalam diri Dimpy, Sodo, Tanya dan Jeet yang stereotype hilir mudik di sela aksi ketiga tokoh utamanya tersebut.

Malhotra dan Dhawan mungkin terlihat lebih tua untuk peran siswa tapi keduanya jelas mampu menyajikan esensi rivalitas dan bromance yang menarik. Malhotra mungkin lebih mudah menarik simpati karena ada di posisi underdog selain ketulusan hatinya, Dhawan harus diakui lebih luwes dalam berdansa di samping keteguhan hatinya membuktikan diri, Bhatt cukup konsisten memerankan gadis innocent yang bergelimang harta di luar prestasi yang patut dipertanyakan. Scene stealer jatuh pada Kapoor yang terampil menokohkan kepala sekolah ambisius yang tak jarang bertingkah komikal.

Student of the Year memang tidak akan menjadi film terbaik tetapi tak dipungkiri salah satu yang paling menghibur tahun ini. Penampilan para debutan yang memikat setidaknya mengesampingkan plot cerita yang  cukup timpang. Apresiasi tinggi untuk kinerja sutradara kawakan K Jo yang tahu betul bagaimana memaksimalkan apa yang ia punya. Jangan lewatkan presentasi masa muda yang penuh gejolak tatkala mengejar cita, cinta sekaligus berusaha menjadi yang terdepan. This is an example of extravagant movie should be with eye-candy and ear-catchy on its’ side. Like it!

Durasi: 
146 menit

India Box Office: 
Rs 25.25 crore till mid October 2012

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent