XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label gerard butler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerard butler. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2012

CORIOLANUS : Great Shakespeare Play Into Cinema

Quote:
Caius Martius Coriolanus: I'll fight with none but thee, for I do hate thee.
Tullus Aufidius: We hate alike.

Nice-to-know:
Ralph Fiennes pernah memerankan tokoh Coriolanus dalam opera di Almeida Theatre, London pada tahun 2000.

Cast:
Ralph Fiennes sebagai Caius Martius Coriolanus
Gerard Butler sebagai Tullus Aufidius
Brian Cox sebagai Menenius
Jessica Chastain sebagai Virgilia
Vanessa Redgrave sebagai Volumnia

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ralph Fiennes yang pernah dua kali dinominasikan sebagai aktor terbaik dalam ajang Oscar.

W For Words:
William Shakespeare dikenal publik sebagai pujangga berbahasa Inggris terbaik di dunia. Karya-karyanya berulang kali dipertunjukkan di atas panggung dan beberapa di antaranya bahkan diadaptasi ke layar lebar. Paling ternama adalah Romeo + Juliet versi Leonardo DiCaprio dan Claire Danes dimana sutradara Baz Luhrmann memindahkan settingnya ke jaman modern. Sama halnya yang dilakukan oleh Ralph Fiennes lewat film ini yang merupakan kali pertama kisah pahlawan Roma ini diangkat dalam format apapun juga. Interesting, huh?

Paska perang, Caius Martius adalah tentara sekaligus figur publik berpandangan ekstrim yang berbalik membenci rakyat Roma karena sikap dan perlakuan mereka yang apatis terhadapnya. Label pengkhianat pun disematkan padanya sehingga demi menghindari kekacauan masal, dewan memutuskan Caius wajib meninggalkan kota. Tidak terima, ia bertekad membalas dendam sekaligus berhadapan langsung dengan musuh bebuyutannya, Tullus Aufidius.

Yang menarik adalah kinerja Fiennes yang super sibuk di depan dan di belakang kamera sekaligus. Pergeseran konfliknya cukup terlihat mulai dari Caius yang dibenci, memperoleh simpati, kehilangan respek,  pengasingan, pengkhianatan sampai keputusan hidup atau mati pada akhirnya. Sejujurnya banyak adegan yang dapat dipangkas untuk penekanan yang lebih efisien sehingga durasinya tidak kelewat lama. Sayangnya lagi nama-nama besar seperti Butler, Cox, Redgrave, Chastain tidak dimaksimalkan dan terkesan sebagai karakter pelengkap belaka bagi Fiennes yang sangat dominan disini.

Penggunaan bahasa menjadi kendala utama disini. Penulis skrip John Logan memilih “setia” pada Shakespeare dengan mempertahankan archaic language yang sangat asing di telinga. Porsi terbesar film yang dihabiskan melalui pertukaran dialog antar karakternya pun semakin memperburuk situasi dimana penonton masa kini bisa jadi kehilangan interest walaupun sudah dibantu dengan subtitle. Padahal jika mau dicermati, setting modern lengkap dengan pemakaian seragam/kostum masa kini, penggunaan ponsel dan pengendaraan mobil teranyar telah menegaskan adaptasi lawas yang bergulir lancar.

Coriolanus seakan diperuntukkan bagi ambisi positif seorang Ralph Fiennes. Karisma dan keahlian aktingnya belum pudar, ditambah kompetensi sutradara yang mulai dirambahnya semakin memperkuat posisinya di kancah perfilman Hollywood masa mendatang. Secara keseluruhan, saya merasa screenplay dengan bahasa asli ini sejatinya lebih cocok bagi panggung teater, bukan media film. It’s definitely not everybody’s cup of tea, especially for moviegoers nowadays who are looking for a quick snack but might end up bored and completely clueless.

Durasi:
123 menit

U.S. Box Office:
$756,452 till May 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 02 Desember 2011

MACHINE GUN PREACHER : Transformasi Pendeta Pejuang Anak Sudan

"Heartwrenching faith and gunfight. Butler handled mixed emotions perfectly. U don't see this kind of movie everyday!"

Tagline:
Hope is the greatest weapon of all.


Storyline:
Bebas dari penjara, Sam Childers bersama rekannya Donnie mendatangi Bandar narkoba yang telah menjebak mereka. Peristiwa tersebut berujung pada kematian seorang pria India yang kemudian mengubah Sam untuk mengikuti jalan Tuhan atas petunjuk istrinya Lynn. Pelan-pelan Sam mulai menata hidupnya dan merintis usaha konstruksi yang kemudian membawanya ke Sudan. Disanalah, Sam benar-benar merasa terpanggil jiwanya untuk menyelamatkan ratusan anak yang dipaksa untuk menjadi tentara perang. Keputusan yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

Nice-to-know:
Sebelum Michelle Monaghan, Vera Farmiga awalnya merupakan pilihan utama untuk peran Lyn tetapi batal karena tengah mengandung.

Cast:
Baru saja menyelesaikan peran Tullus Aufidius dalam Coriolanus, Gerard Butler bermain sebagai Sam Childers dalam film yang juga diproduserinya sendiri ini.
Terakhir mendampingi Jake Gyllenhaal dalam Source Code, Michelle Monaghan berperan sebagai Lynn Childers
Kathy Baker sebagai Daisy
Michael Shannon sebagai Donnie
Madeline Carroll sebagai Paige
Souleymane Sy Savane sebagai Deng

Director:
Merupakan film ke-9 bagi Marc Forster setelah terakhir menggarap 007-Quantum of Solace (2008).

Comment:
Pernah menyaksikan perjuangan seseorang yang bukan siapa-siapa tetapi berani mempertaruhkan segalanya demi kemanusiaan? Sebagian dari anda bisa jadi menyebutkan Hotel Rwanda (2004) sebagai referensinya. Kali ini penulis skrip Jason Keller melakukan upaya terbaiknya yang didasarkan kisah nyata yang dialami oleh Sam Childers. Tema keagamaan bercampur dengan konflik sipil yang diakibatkan oleh krisis penderitaan rakyat Sudan tentu bukan topik yang mudah untuk diangkat.
Salah satu aktor favorit saya, Gerard Butler di luar dugaan menunjukkan akting terbaik di sepanjang karir aktornya. Transformasi emosi yang terus berubah-ubah di sepanjang film sesuai perjalanan hidup Sam Childers terasa amat nyata. Lihat bagaimana multiperan sebagai narapidana, pengedar narkoba, suami bertobat, ayah pemberontak, penembak jitu, pendeta optimis hingga pejuang kemanusiaan yang dilakoni Butler yang bukan kebetulan memiliki penampakan yang mirip dengan Childers asli.

Michael Shannon sebagai mantan partners in crime Childers juga menunjukkan bakat maksimal walau sutradara Forster tidak banyak memberikannya ruang ekspos. Sama halnya dengan Michelle Monaghan yang secara gemilang mampu bertindak sebagai istri suportif dalam susah maupun senang walaupun harus menyimpan rapat gejolak emosinya sendiri. Puluhan anak-anak Afrika yang ambil bagian disini juga menyuguhkan kontribusi natural sesuai kepentingan cerita.
Sutradara Forster menghadirkan sinematografi yang brilian dengan dukungan ilustrasi musik menyayat hati dari Tito Rahman. Perang sipil yang diwarnai penyiksaan, pembunuhan, penyanderaan hingga penghancuran benar-benar menghempaskan perasaan. Plot yang demikian rumit dan kontroversial ini dijabarkan secara detil memberikan waktu bagi penonton untuk mencerna makna demi maknanya. Satu kekurangan mendasar adalah tidak adanya timeline yang jelas sehingga kita tidak tahu berapa lama Sam Childers memperjuangkan semuanya di Sudan.

Catatan terpenting adalah isu yang diangkat dalam film ini mungkin tidak selalu sesuai bagi penonton yang memiliki imannya masing-masing. Proses menemukan Tuhan yang terkesan instan itu ditambah dengan fanatisme khotbah di hadapan umat Kristen yang berapi-api merupakan sebagian adegan yang cukup sensitif. Belum lagi reaksi kaum hipokrit akan pertentangan kebenaran secara logika dan hakiki yang silih berganti menemukan keberpihakannya itu.
Machine Gun Preacher mungkin bukan film yang anda ingin tonton lebih dari satu kali karena isinya yang membuat sanubari terasa miris. Namun momen-momen kuat di dalamnya berulang kali menyentuh perasaan anda. Sam Childer adalah seorang inspirator hitam di atas putih, yang untuk sejenak mungkin akan membuka mata anda terhadap realita kekejaman perang sekaligus mengetuk pintu hati agar mau berbuat sesuatu yang berarti bagi kaum-kaum yang kurang beruntung di luar sana.

Durasi:
129 menit

U.S. Box Office:
$531,595 till mid Nov 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 23 November 2010

THE GAMER : Chaosnya Dunia Virtual Masa Depan

Quotes:
Ken Castle-I think it... you-fucking-do-it!
Kable-Look at this knife... imagine me sticking it into your gut. Think about it. Make it real!

Storyline:
Berkisah mengenai kehidupan di masa depan yang futuristik dimana orang dapat mengontrol/dikontrol orang lain seperti dalam video game. Untuk itu dituntut untuk dapat bertahan hidup daripada mati konyol sia-sia. Adalah satu pria yang harus menyelesaikan 30 pertarungan mematikan untuk selamat yang bernama Kable. Sudah 27 pertarungan ia lewati dengan mulus. Namun hal itu tidak membahagiakan sang pencipta, Ken Castle yang menginginkan Kable mati dengan menyewa berbagai pembunuh professional untuk menghentikannya. Akankah Kable berhasil lolos dan membuat perhitungan dengan Ken sekaligus berkumpul kembali dengan istrinya?

Nice-to-know:
Neveldine/Taylor sempat menginginkan film ini muncul dalam format 3D tetapi batal karena keterbatasan biaya.

Cast:
Awal kemunculannya di tahun 1997 sempat mendukung 007-Tomorrow Never Dies, Gerard Butler kini berperan sebagai Kable / John Tillman yang harus menyelesaikan "misi" besarnya.
Mengawali debutnya via Paycheck (2003), Michael C. Hall disini bermain antagonis sebagai Ken Castle
Amber Valletta sebagai Angie
Kyra Sedgwick sebagai Gina Parker Smith
Logan Lerman sebagai Simon Silverton

Director:
Sejauh ini merupakan film ketiga yang ditulis dan disutradarai oleh Mark Neveldine dan Brian Taylor setelah dwilogi Crank.

Comment:
Cukup sulit mengambil sudut pandang untuk menilai film ini. Jika anda tergolong penonton spesifik alias bisa menerima ide-ide baru, bisa jadi film ini spesial maknanya. Tapi jika anda tergolong penonton regular alias tidak neko-neko, dapat dipastikan film ini akan membuat kening anda berkerut.
Nyaris setahun lalu sempat heboh saat akan ditayangkan di jaringan bioskop Blitzmegaplex dengan judul aslinya The Gamer. Namun beberapa hari menjelang penayangannya ternyata dibatalkan dengan alasan tidak lulus sensor. Memasuki akhir tahun 2010, akhirnya diambil oleh jaringan bioskop 21 dan mengalami pergantian judul menjadi Slayers. Itulah yang membuat saya penasaran dan berharap ada sesuatu yang baru nan istimewa disini. Coba kita kupas satu persatu.
Dari segi plot cerita mungkin sedikit mengingatkan anda pada Surrogates nya Bruce Willis. Perbedaannya disini digunakan manusia asli yang juga punya kehidupan masing-masing. Sedikit inovasi disini, konsep “pengendalian” tersebut digabungkan dengan dunia virtual game dimana settingnya sendiri pun jauh ke depan.
Dari segi eksekusi, duet sutradara Neveldine/Taylor mengulangi apa yang pernah dilakukannya dalam Crank 2 : High Voltage. Pergerakan kamera yang bergoyang-goyang ditambah adegan aksi tanpa henti benar-benar mengganggu penglihatan dan daya tangkap manusia biasa. Jika saja ada jeda diantaranya dengan penggarapan yang lebih rapi, niscaya hasil akhirnya akan lebih menarik. Alur yang dipaksakan cepat dan sedikit melambat di akhir sedikit menutupi karakterisasi para tokohnya termasuk Butler dan Leguizamo yang biasanya gemilang. Sedangkan C. Hall sebagai antagonis sedikit over-the-top meski kesan menyebalkannya dapat.
Beberapa konsep seks virtual disini cukup mengganggu seperti contohnya pria gendut "Rick Rape" yang menyewa wanita penghibur untuk menjadi pemuas nafsunya. Saya tidak melihat ada korelasi dengan bangunan cerita utamanya. Dan jujur yang satu ini agak menjijikkan untuk ditampilkan demikian eksplisit. Beruntung kekerasan dan kesadisan dihadirkan dengan porsi yang pas tanpa lupa percikan darah yang memuncrat dimana-mana.
Slayers alias The Gamer sebetulnya mempunyai potensi sebagai futuristic action thriller yang baik, hanya saja diterjemahkan ke dalam sinematografi yang terkesan sembarangan dan bagaikan tanpa otak di dalamnya. Jelas bukan film yang bisa dinikmati siapa saja. Namun bagi saya, masih terdapat lebih banyak unsur minus dibandingkan plus itu sendiri. Konsep dunia virtual yang chaos disini semoga tidak menginspirasi pihak-pihak tertentu untuk mewujudkannya ke dunia nyata di masa mendatang.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$20,488,579 till early Oct 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 08 Mei 2010

THE BOUNTY HUNTER : Memburu Mantan Istri Pecahkan Kasus

Quotes:
Nicole Hurley-Life is making mistakes.
Milo Boyd-And death is wishing you had made more.

Storyline:
Dipecat dari kepolisian untuk kemudian menjadi pemburu buronan, Milo Boyd ditugaskan menangkap mantan istrinya, reporter Nicole Hurly akibat tidak menghadiri persidangan. Awalnya Milo mengira itu akan berjalan mudah karena ia sudah sangat mengenal perilaku Nic meski hanya berpacaran 6 bulan yang diakhiri dengan pernikahan selama 9 bulan saja! Namun ternyata Nic sendiri sedang menjalani tugas dari atasannya untuk meliput kasus bunuh diri. Sepanjang kejar-mengejar tersebut, Milo dan Nic justru dihadapkan pada kemungkinan mereka bersama kembali. Akankah kewajiban masing-masing dapat dituntaskan di atas kepentingan bersama?

Nice-to-know:
Awalnya peran Nicole Hurly sempat ditawarkan kepada Sarah Jessica Parker.

Cast:
Karir layar lebarnya justru diawali dalam film horor picisan, Leprechaun (1993). Namun nama Jennifer Aniston sampai kini telah menjadi salah satu aktris komedi terlaris yang dimiliki Hollywood termasuk untuk peran Nicole Hurly yang juga seorang pengemudi buruk.
Lahir di tahun yang sama dengan Aniston, Gerard Butler baru memulai dunia akting di Mrs Brown (1997). Disini ia bermain sebagai Milo Boyd, mantan polisi yang beralih profesi dan berjuang mendapatkan uang untuk meneruskan hidupnya.

Director:
Andy Tennant mulai angkat nama setelah mengarahkan si kembar cilik Olsen dalam It Takes Two (1995).

Comment:
Melihat poster dan trailer film ini, orang akan mengharapkan komedi romantik yang menarik apalagi pemasangan nama Aniston dan Butler sebagai cast utama dimana masing-masing sudah memiliki fan base tersendiri. Jalan ceritanya sendiri sangat ringan dan tidak perlu berpikir untuk mengikutinya. Apakah hal-hal tersebut sudah cukup untuk menilai film ini? Ternyata belum. Unsur komedik yang disodorkan mungkin cukup lucu di beberapa bagian tetapi sebagian besar terasa bodoh dan absurd meski nyaris semua dialognya terkesan sinis. Romansa yang ditawarkan juga terasa hambar. Belum lagi arah film yang menjadi terlalu ambisius dengan tempelan plot cerita disana-sini yang sebetulnya tidak penting. Chemistry Aniston dan Butler cukup menggigit walau terasa dipaksakan. Dan memang penampilan mereka berdualah menjadi yang terpenting disini di luar jajaran pendukung lain yang dapat dikatakan pelengkap derita saja. Sutradara Tennant terlihat kebingungan untuk menghasilkan film yang terlalu blur untuk dibawa serius atau tidak lucu untuk dijadikan hiburan semata. Alhasil kinerja The Bounty Hunter terasa di bawah standar rata-rata yang diharapkan audiens.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$64,065,681 till early May 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 27 Maret 2010

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 3D : Pilihlah "Naga" Anda Sendiri

Quotes:
Hiccup-Thank you for nothing, you useless reptile

Storyline:
Berusaha meneruskan legitimasi ayahnya Stoick yang seorang pemimpin Viking sejati dan jagoan pembunuh naga, Hiccup malah berbanding terbalik. Ia tidak punya keberanian sehingga apa yang dibantunya hanyalah menggosok perisai dan menempa besi untuk pedang bertarung. Tibalah saat latihan menaklukkan naga bersama kawan-kawan sebayanya termasuk Astrid, gadis yang disukainya. Hiccup berusaha sekeras mungkin untuk tidak mundur. Pada suatu malam tanpa sepengetahuan siapapun, ia berhasil membidik seekor naga langka di malam hari. Berusaha membuktikan ucapannya, Hiccup pun menyusuri bukit pegunungan dan menemukan Night Fury terluka yang kesulitan terbang tersebut yang akhirnya diberi nama Toothless. Lambat laun tumbuh persahabatan erat diantara keduanya. Sementara itu ayahnya memimpin armada Viking untuk mencari sarang naga tanpa mengetahui keberadaan suatu spesies naga maut yang bersembunyi di baliknya.

Nice-to-know:
Karakter Toothless sang naga digambarkan mirip karakter Stitch, hasil karya Chris Sanders sebelumnya yakni Lilo & Stitch (2002).

Voice:
Selain Gerard Butler yang mengisi suara Stoick rasanya pemeran lain belum banyak dikenal namanya
Jay Baruchel sebagai Hiccup
Craig Ferguson sebagai Gobber
America Ferrera sebagai Astrid
Jonah Hill sebagai Snotlout

Director:
Kolaborasi Dean DeBlois asal Kanada dan Chris Sanders asal Amerika sebelumnya sukses dengan Lilo & Stitch yang menghasilkan $145,794,338 di Amerika saja!

Comment:
15 menit pertama film ini terasa "ngebut" sehingga membuat penonton sedikit pusing karena masih berusaha menyesuaikan dengan penangkapan imej 3D oleh indera penglihatan yang dibantu kacamata khusus. Penyajian komunitas Viking secara garis besar dibuat dengan sangat cepat termasuk tradisi perburuan naga oleh Stoick dkk yang dibuat tidak lazim dan belum pernah diceritakan film manapun. Karakter Hiccup memang mudah membuat penonton bersimpati kepadanya karena seperti orang kebanyakan yang merasa tidak memiliki keistimewaan apapun. Film ini mulai menarik sampai pada titik dimana Hiccup berusaha menemukan jati diri nya dengan mempelajari gerak-gerik naga yang dilumpuhkannya itu. Interaksi keduanya terasa hidup dan natural, salah satu poin nilai utama animasi ini. Hingga lewat pertengahan mendekati akhir, cerita mulai klise dan ending bisa diperkirakan mayoritas penonton. Beruntung gambar-gambarnya masih tersaji dengan unik sehingga kita tetap antusias mengikutinya. How To Train Your Dragon adalah animasi 3D pertama Dreamworks yang tokoh utamanya bukan hewan dan rasanya dapat mencetak kesuksesan secara komersial dimanapun ditayangkan.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Rabu, 09 Desember 2009

LAW ABIDING CITIZEN : Pengacara Tangguh Versus Penjahat Intelek Dan Hukum Bobrok

Quotes:
Clyde Shelton-You're the one who makes deals with murders yea? Well I've come to make mine. Release me.
Nick Rice-[smugly] Or what?
Clyde Shelton-Or I kill everyone.

Cerita:
Terlepas dari kejadian memilukan sepuluh tahun silam dimana dua perampok menerobos rumahnya dan membunuh istri dan anak perempuannya dengan sadis, Clyde Shelton menjelma menjadi ilmuwan penemu yang sangat terencana. Clyde mulai merencanakan balas dendam dan korban pertamanya adalah salah satu pembunuh yang sebenarnya sudah divonis hukuman mati. Pengacara wilayah, Nick Rice ditugaskan untuk menangani kasus ini. Nick berusaha membuat pembunuh yang masih hidup untuk bersaksi untuk rekannya yang meninggal. Namun Clyde punya rencana lain dan tidak membiarkan Nick menyelesaikan tugasnya. Semua bukti yang menjebloskan Clyde ke penjara rupanya tidak begitu saja mengakui keterlibatannya. Clyde menantang Nick untuk memperbaiki sistem hukum bobrok yang berlaku atau semua orang yang pernah berhutang nyawa padanya akan mati sia-sia termasuk Nick dan keluarganya.

Gambar:
Suasana penjara, lokasi bekas industri yang terbengkalai, pengadilan dan kota metropolitan Pennsylvania menjadi setting yang sempurna bagi film aksi suspensi ini.

Act:
Pernah memenangkan Oscar Aktor Terbaik lewat peran musisi buta dalam Ray (2004), Jamie Foxx merupakan aktor kulit hitam kelas atas Hollywood. Disini sebagai District Attorney, Nick Rice, ia menampilkan kharisma yang baik.
Setelah film lainnya di tahun ini, Gamer dilarang tayang di Blitz Megaplex, Gerard Butler tetap menunjukkan potensi maksimal dalam menjiwai Clyde Shelton, pembunuh intelek yang penuh dendam akibat keluarganya dibantai bertahun-tahun silam dan para pembunuhnya tidak mendapatkan hukum setimpal.

Sutradara:
Pria kulit hitam kelahiran NYC ini absen cukup lama setelah terakhir mengarahkan Be Cool (2005). Pada kesempatan ini dengan menjual dua nama berbakat, F. Gary Gray maju dengan action suspens yang sangat menjanjikan ini.


Comment:
Tidak salah jika hampir semua orang punya ekspektasi tinggi terhadap film ini. Dua nama besar aktornya bisa dibilang jaminan mutu dan tanpa bermaksud rasialis, bukan kebetulan keduanya mewakili ras masing-masing disini. Foxx meyakinkan, Butler mengagumkan. Terima kasih pada sang sutradara yang terbiasa dengan film aksi, plot cerita yang sepintas biasa ternyata mampu diramu dengan formula baru yang menarik. Ya penyelewengan hukum yang kerapkali meloloskan tokoh jahat sudah berulang kali difilmkan tetapi jika si warga biasa pembalas dendam menggunakan otak briliannya untuk menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi tanggungjawab pihak berwajib? Itu hal yang baru. Lihat bagaimana Butler dengan cerdasnya menjebak semua peraturan dan sistem hukum dengan mudahnya untuk tujuan mengadili pembunuh yang sesungguhnya. Batas hitam dan putih terasa tipis sekali disini dan itu menjadi salah satu poin minus film ini karena tidak ada karakter yang bisa benar-benar disukai penonton. Law Abiding Citizen mungkin saja mendapat penilaian lebih tinggi jika sedikit ambigu dan tempo menjelang akhir film bisa lebih ditingkatkan. Bukan sebuah film yang berat, tetapi cukup menghibur penonton yang tidak akan merasa tertipu. By the way, adegan Butler telanjang di awal film rasanya tidak berpengaruh banyak pada cerita selain memuaskan kaum hawa dan sebagian kaum pria tentunya.


Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$71,991,438 till Dec 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 17 Oktober 2009

THE UGLY TRUTH : Pria Kontra Wanita Saling Jatuh Cinta

Quotes:
Abby Richter-Why, did you think I sounded desperate?
Mike-Listen to you. Desperately asking me if you sounded desperate?

Cerita:
Produser intelek sebuah acara pagi di Sacramento, Abby hidup dengan kucingnya di sebuah kompleks apartemen yang indah dan memiliki kebun. Semua terasa sempurna hingga ia bertemu dengan dua hal: Pertama; tetangga barunya, Colin adalah seorang dokter bedah muda tampan yang benar-benar tipe idamannya. Kedua; partner kerja barunya, Mike Chadway yang menyebalkan tapi sangat mengerti wanita. Program acara "The Ugly Truth" memang berhasil menaikkan rating sekaligus karir Mike dan Abby. Tidak hanya itu, Mike malah menolong Abby mendapatkan Colin dengan tips-tipsnya yang sangat jitu. Tetapi apakah Abby sendiri nyaman saat tidak menjadi dirinya sendiri. Bagaimana kelanjutan interaksinya dengan Colin ataupun Mike?

Gambar:
Khas rom kom dimana kehidupan urban ditampilkan dengan manis. Sebagian besar bersetting di California termasuk Studio KCET - 4401 Sunset Boulevard, Hollywood, Los Angeles, California, USA tempat kerja Abby dan Mike.

Act:
Masih segar dalam ingatan saya saat gadis remaja 18 tahun pada saat itu bernama Katherine Heigl bermain dalam Wish Upon a Star (1996), kali ini Kath berlakon sebagai Abby Richter, gadis produser sukses yang seringkali minder dalam urusan asmara.
Pernah mendukung remake yang cukup sukses, the Phantom of the Opera (2004), nama Gerard Butler perlahan-lahan semakin menapak di Hollywood. Disini berperan sebagai Mike Chadway, presenter acara sukses "The Ugly Truth" yang sangat mengerti wanita dan segala permasalahannya.
Lebih banyak berkecimpung di serial televisi, tunangan aktris cantik Rosalyn Sanchez bernama Eric Winter ini bermain sebagai Colin, pria sempurna di mata Abby.

Sutradara:
Pernah menangani film bergenre serupa yaitu Win a Date with Tad Hamilton! (2004), Robert Luketic yang kelahiran Australia didapuk mengarahkan film romantik komedi berbujet 38 juta dollar Amerika ini.

Comment:
Sepintas film ini hanyalah terlihat sebagai romantik komedi pada umumnya, pertemuan dua manusia berlawanan jenis yang pada awalnya saling membenci dan akhirnya jatuh cinta. Tetapi setelah menyaksikannya, The Ugly Truth ternyata lebih dari itu. Keseimbangan sudut pandang pria dan wanita dalam memandang cinta ataupun suatu hubungan terjaga dengan stabil sepanjang film sehingga tidak memihak salah satunya. Karena hal itulah, humor sarkasme mengalir dengan lancar sepanjang film dan diyakini mampu memancing tawa. Plot cerita keseluruhan pun cukup kuat dimana pendekatan yang dilakukannya terasa unik. Belum lagi interaksi Heigl dan Butler terasa sangat pas di setiap adegan dan harus diakui keduanya memiliki daya tarik masing-masing. Jelas sebuah romantik komedi yang bisa dinikmati oleh pria juga (terutama bersama pasangannya) karena dapat membuka perspektif baru anda tentang cara pandang suatu hubungan dan interaksi pria-wanita yang sangat realistis dan bisa terjadi pada siapapun juga. Don't miss it!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$88,915,214 till early Oct 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 26 Mei 2008

NIM'S ISLAND : Petualangan Dunia Nyata Berbaur Imajinasi

Quotes:
Jack-You got so much of your mother in you, you know that?
Nim Rusoe-That's a good thing, right?
Jack-Yeah, good. Sure. Unfortunately I could never win a fight with her, either.

Cerita:
Nim Rusoe hidup di sebuah pulau terpencil dengan ayahnya seorang ilmuwan, Jack dan teman baiknya Selkie singa laut, Fred iguana dan Galileo pelikan. Tapi suatu ketika Jack menghilang di tengah laut dan pulau mereka "diserbu". Nim mengirim sebuah e-mail ke pengarang buku petualangan kegemarannya, Alex Rover. Bersama-sama mereka menemukan apa yang menjadi pahlawan sejati dalam kehidupannya sendiri.

Gambar:
Samudera dan kepulauan yang indah, dimana sebagian besar bersetting di Queensland, Australia.

Act:
Aktris cilik kelahiran 14 April 1996 ini pertama kali mencuri perhatian dalam Signs (2002) sebagai anak Mel Gibson. Kali ini sebagai Nim Rusoe, Abigail Breslin cukup sukses memainkan karakter gadis cilik pemberani dan oportunis.
Memenangkan Oscar keduanya sebagai Aktris Terbaik dalam Silence Of The Lambs (1991) menjadi catatan tersendiri bagi Jodie Foster. Disini ia memerankan pengarang sukses yang memiliki phobia terhadap dunia luar, Alexandra Rover.
Aktor Inggris, Gerard Butler memulai debutnya di Mrs Brown (1997) kebagian peran ganda disini, yang pertama sebagai tokoh rekaan petualang Alex Rover dan yang kedua sebagai ayah ilmuwan yang hobi mempelajari hewan bersel satu Jack Rusoe.

Sutradara:
Film pertama Jennifer Plackett yang berkolaborasi dengan Mark Levin yang sebelumnya pernah menggarap film anak-anak akil balik dalam Little Manhattan (2005).

Komentar:
Film yang cocok untuk segala umur karena memiliki unsur petualangan dari sudut pandang seorang gadis cilik. Cerita nyata yang dikombinasikan dengan dunia imajinasi mungkin bukan hal baru tetapi Nim's Island mengangkatnya dari sudut pandang yang berbeda. Menarik melihat Butler memerankan dua karakter sekaligus juga Foster yang biasanya hanya tampil di film "berat". Namun Breslin lah yang memiliki pesona dengan wajah polos dan talenta akting yang natural. Overall, sebuah film yang ringan menghibur!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$48,002,678 till August 2008

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!