XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ajay devgn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ajay devgn. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2015

DRISHYAM : When Right Versus Wrong Couldn’t Get Any Better


Tagline:
Visuals can be deceptive.

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film Malayalam terlaris sepanjang masa berjudul sama.

Cast:
Ajay Devgn sebagai Vijay Salgaocar
Tabu sebagai Meera Deshmukh
Kamlesh Sawant sebagai Gaitonde
Shriya Saran sebagai Nandhani Vijay Salgaonkar
Rajat Kapoor sebagai Mahesh Deshmukh
Ishita Dutta sebagai Anju
Mrinal Jadhav sebagai Anu
Rishab Chaddha sebagai Sameer Deshmukh

Director:
Merupakan feature film keenam bagi Nishikant Kamat setelah Lai Bhaari (2014).

W For Words:
Jeethu Joseph adalah tokoh di balik suksesnya film Malayalam berjudul Drishyam (2013) yang kemudian dibuat ulang dalam versi Tamil berjudul Papanasam (Destruction of sins) dua tahun kemudian dimana Kamal Haasan dan Gauthami berupaya mengikuti jejak Mohanlal dan Meena. Pada waktu bersamaan, Nishikant Kamat mengerjakan remake yang persis sama dengan harapan melampaui pencapaian box-office sekaligus jumlah penonton. Tentu saja mengandalkan nama besar Ajay Devgn dan Tabu yang sedianya lebih dikenal luas baik regional maupun internasional.

Pengusaha jaringan teve kabel di desa terpencil Goa yang juga yatim piatu dan berpendidikan rendah, Vijay memiliki kecintaan tinggi terhadap film. Ia hidup bahagia bersama istrinya Nandhini dan kedua putri mereka Anju dan Anu. Saat remaja Sam yang juga putra dari Inspektur berdarah dingin Meera Deshmukh menghilang, keluarga Salgaonkar menjadi tersangka hingga harus menjalani proses interogasi panjang di bawah pengawasan polisi korup Gaitonde. Mampukah Vijay melindungi orang-orang tercintanya dari penguasa kejam? 














Skenario yang digagas oleh Upendra Sidhaye sedianya hanyalah pemendekan durasi dari versi originalnya. Pengenalan terhadap keluarga Salgaonkar dilakukan secara lebih cepat. Keyakinan penonton diarahkan untuk memihak kepada mereka apapun yang terjadi sehingga beberapa logika yang mengganggu tidak akan terlalu dihiraukan. Secara kontradiktif, pihak kepolisian dibuat demikian negatif di sini. Layer demi layer misteri yang terbuka harus diakui menarik untuk disimak walau harus menempatkan kebenaran di atas kesalahan sekalipun.

Devgn mungkin salah satu weakest link. Superioritas dirinya sebagai seorang superstar jelas mempengaruhinya untuk dapat sepenuhnya masuk ke dalam karakter Vijay yang membumi dan putus asa. Namun kita bisa melihat upaya maksimalnya. Saran sebagai istrinya hanya terlihat lebih tua beberapa tahun dari Dutta yang menjadi putrinya. Miscast? Sedangkan Sawant jelas paling berhasil memancing emosi penonton lewat sikap buruk dan ignorant Gaitonde. Tabu juga menunjukkan penampilan gemilang melalui tokoh Meera yang multi-layer tersebut, tegas dan rapuh secara bersamaan. 














Sutradara Kamat memang sedikit kedodoran di paruh pertama film yang berjalan cukup lambat tanpa penekanan titik petunjuk yang berarti.  Paska interval barulah pace nya meningkat dimana karakter-karakter kunci mulai memegang teguh pada posisinya masing-masing. Setidaknya elemen penting dalam sebuah thriller adalah how mystery unfolds. Bagaimana kenyataan yang sesungguhnya mungkin tidak seperti apa yang terlihat. Twist dan turns yang silih berganti hadir akan menantang anda untuk terus menebak hingga akhir.

Lupakan sejenak Kahaani atau Talaash yang memuncaki daftar film favorit anda di tahun 2012 silam, Drishyam adalah drama suspense thriller yang bisa dikatakan berhasil bagi mereka yang belum pernah menonton versi aslinya. Sebuah adaptasi bebas dari kisah nyata seorang pria biasa dengan tekad dan keberanian luar biasa meskipun menghadapi dilema besar. Is it worth suffering for in the end? I believe yes. A gripping story that will keep you on the edge of your seat. Just watch the proceedings till the final scene blows us off!

Durasi:
163 menit

Movie-meter:

Jumat, 06 Juli 2012

BOL BACHCHAN : Non-Existence Storyline Over-The-Top Comedy


Quotes:
Prithviraj Raghuvanshi: 12'o clock in the night you do ONE NIGHT STAND for me!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Devgan Films, Fox STAR Studios, Shree Ashtavinayak ini rilis di India pada tanggal 6 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Ajay Devgn sebagai Prithvi Raj Singh
Abhishek Bachchan sebagai Abbas Ali
Asin Thottumkal sebagai Sania Ali
Prachi Desai sebagai Radhika
Asrani sebagai Shastri
Archana Puran Singh sebagai Zohra

Director:
Merupakan karya kedelapan Rohit Shetty setelah Singham (2011).

W For Words:
Penampilan cameo aktor legendaris Bollywood, Amitabh Bachchan membuka film ini dengan lagu dan tari yang ceria sekaligus memberikan gambaran bagi penonton akan isi filmnya sendiri. Bukan kebetulan juga jika salah satu nama pada jajaran cast diisi oleh Bachchan Jr alias Abhishek Bachchan. Penulis skrip Yunus Sajawal mengerahkan seluruh kemampuannya dalam meramu elemen humor dan slapsticknya. Maka dari itu sangat disarankan anda meninggalkan akal sehat sebelum memutuskan untuk menonton yang satu ini.

Abbas Ali dan saudarinya Sania Ali bermigrasi dari Delhi ke Ranakpur karena pelanggaran yang dilakukannya. Di sana Abbas bekerja pada bos galak sekaligus penguasa daerah, Prithviraj Raj Singh yang tidak mentolerir satu kebohonganpun. Demi memperkuat alibi, Abbas harus berpura-pura memiliki saudara kembar yang gay sekaligus menciptakan sosok ibu palsu Radhika. Masalah semakin runyam saat Prithvi jatuh cinta pada Sania tepat di saat kebohongan demi kebohongan yang dibuat Abbas semakin terkuak.

Semua trik yang digunakan untuk mengocok perut dalam film ini mungkin bekerja dengan baik pada orang lain tapi tidak untuk saya. Jujur saya merasa aneh sendiri mengetahui fakta bahwa mungkin saya satu-satunya orang di gedung bioskop yang tidak tertawa samasekali. Bahasa Inggris campur sari slengean dari Devgan terasa overdosis di sepanjang durasinya, diperparah dengan tambahan sound effect yang mengganggu. Berbagai jenis penyamaran dari tokoh-tokohnya juga over-the-top, selalu berujung pada adegan dimana Prithvi dan asistennya menjadi saling menyalahkan. Painful!
Plot ceritanya nyaris tidak ada, berjalan linier dengan banyak pengulangan disana-sini. Tak banyak kejutan atau improvisasi berarti yang dilakukan oleh sutradara Rohit Shetty. Bol Bachchan seakan komik bergerak dan bersuara yang menjual castnya untuk menarik penonton datang berbondong-bondong. Lupakan cinta antar saudara kandung atau ketertarikan antar dua sejoli, film ini hanya didesain untuk tertawa selama dua jam setengah dan secara instan melupakan segalanya ketika film berakhir. Well, for me it’s a long torturous!

Durasi:
155 menit

Asian Box Office:
Rs 72.8 crore in opening week in India

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 06 Mei 2012

TEZZ : Silly Premise Worthy One Stop Action


Tagline:
What Is Rightfully Yours?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh United 7 Entertainment ini sudah rilis di China pada tanggal 27 April 2012 yang lalu.

Cast:
Anil Kapoor sebagai Arjun
Ajay Devgn sebagai Aakaash
Philip Martin Brown sebagai Inspector Alan
Zayed Khan sebagai Aadil
Kangana Ranaut sebagai Nikita
Mohanlal sebagai Shivan
Sameera Reddy sebagai Megha

Director:
Merupakan film ke-67 bagi Priyadarshan.

W For Words:
Apa yang anda lakukan ketika sebuah negara dengan budayanya secara tidak langsung mengeliminasi sesuatu yang berharga yang anda miliki. Bisa jadi anda akan bertindak seperti halnya Ajay Devgn disini yaitu memasang bom dalam sebuah kereta yang melaju kencang sambil mengharapkan uang tebusan sebagai kompensasinya. Itulah yang berusaha diketengahkan oleh United 7 Entertainment lewat film terbarunya ini yang sedikit terinspirasi dari apa yang sudah dilakukan oleh Hollywood sebelumnya.

Aakaash adalah seorang insinyur cerdas yang masuk ke London dengan cara yang ilegal. Sayangnya hukum tidak mentolerir keberadaannya. Sebagai balas dendam, Aakaash bersama dengan kompatriotnya, Adil dan Megha memasang bom dalam sebuah kereta. Suatu aksi teroris yang dipicu oleh ketidakadilan yang dialaminya hingga harus berhadapan dengan polisi senior yang baru saja pensiun, Arjun. Bukan hanya itu, sejumlah besar uang tebusan dimintanya demi hidup berkecukupan dengan istrinya, Nikita dan putra mereka di kemudian hari.
Bagian terbaik film ini adalah elemen actionnya antara Anil Kapoor dan Ajay Devgn terutama pertarungan tangan kosong ataupun permainan kucing tikus di basement parkir rumah sakit di penghujung film. Koreografinya ditangani oleh Gareth Milne yang sebelumnya berpengalaman lewat The Bourne Identity, The Bourne Ultimatum beserta kerjasamanya dengan Peter Pedrero. Tidak lupa menyebutkan penampilan menarik dari Sameera Reddy sebagai sang gadis pengendara sepeda cekatan.

Sutradara Priyadarshan dan penulis skrip Robin Bhatt tidak banyak merekonstruksi plot cerita sedemikian rupa untuk mengubah stereotype. Tentu saja seperti biasa pihak protagonis yang menjalani kriminalitas dalam perfilman Bollywood wajib didukung oleh kejadian tragis sebagai penunjang demi membujuk penonton untuk tetap bersimpati. Adegan pembuka saat tokoh Aakaash masuk ke Desi Club dimana Mallika Sherawat bernyanyi dan meliuk erotis bersama para penari latarnya nyaris tak memberi kontribusi apa-apa selain mempertunjukkan kebiasaan para pendatang India di London tersebut.
Tezz memang menawarkan premis yang terlampau sederhana kalau tidak mau dikatakan malas bercerita. Semua situasi dirancang sedemikian rupa sehingga setiap karakternya tinggal mengikuti alur yang ada termasuk cameo aktor legendaris Mohanlal yang terasa sia-sia itu. Klimaksnya sendiri terlalu mudah ditebak tanpa berupaya meningkatkan standar logika yang ada. Film ini hanyalah pengulangan formula yang sudah-sudah dengan sedikit ketegangan disana-sini dan tentunya faktor Devgn, Kapoor, Irani, Reddy dan Khan lah yang membuat anda ingin menyaksikan yang satu ini sebagai pengisi waktu belaka.

Durasi:
122 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent