XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label didi petet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label didi petet. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011

DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH : Ketika Cinta Berbeda Status Temukan Takdirnya

Quotes:
Ibu Hamid: Jangan kau turutkan hatimu. Sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra takkan sebangsa dengan benang


Storyline:
Hamid dan Zainab sejak pandangan pertama sudah tertarik satu sama lain. Sayangnya perbedaan martabat di antara mereka menjadi jurang pemisah. Hamid berasal dari keluarga miskin dimana ibunya bekerja pada keluarga Zainab yang terpandang di kampungnya. Bagaimanapun juga Haji Fajar sudah menaruh respek sendiri pada Hamid yang santun dan cerdas itu. Impian dua sejoli itu sebetulnya sederhana yaitu bisa bersama-sama sepanjang hidup mereka dan berkesempatan menunaikan ibadah haji di Mekah. Lewat serangkaian peristiwa menyebabkan Hamid harus jauh dari Zainab menempuh jalan hidupnya sendiri. Akankah cinta yang sepintas tak mungkin terwujud tersebut dapat menemukan takdirnya di Ka’bah?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 18 Agustus 2011.

Cast:
Herjunot Ali sebagai Hamid
Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab
Niken Anjani sebagai Rosna
Tarra Budiman sebagai Saleh
Hj. Jenny Rachman sebagai ibu Hamid
Widyawati sebagai Nyonya Jafar
Didi Petet sebagai Haji Jafar
Leroy Osmani sebagai Rustam
Ajun Perwira sebagai Arifin

Director:
Merupakan film ketiga Hanny R Saputra di tahun 2011 ini dan kesembilan selama 7 tahun karirnya berjalan.

Comment:
Film remake yang diangkat dari sebuah novel populer karya Buya Hamka di tahun 1978 yang kemudian difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1981 ini jelas memiliki beban besar untuk bisa mengekor sukses yang sama atau bahkan melebihinya. Sineas internasional sekalipun seringkali kesulitan menjawab tantangan tersebut. Bagaimana dengan sineas lokal kita? Sebut saja judul-judul yang pernah hadir seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta dsb yang kebetulan bermuatan sama yaitu romansa reliji.
Kini Hanny R Saputra yang tak dinyana kualitas filmnya dari waktu ke waktu mengalami grafik menurun dipercaya oleh produser Dhamoo dan Manoj Punjabi untuk menghadirkan versi terbarunya ini. Cukup beresiko memang! Namun hasil akhirnya saya akui masih lebih bagus dari dua film terakhirnya terutama dari segi sinematografi dan pemanfaatan lokasi. Khusus aspek yang terakhir ini mungkin penggunaan efek spesial patut dimaklumi mengingat kesulitan syuting di lokasi aslinya.
Sedangkan suasana kota Padang di tahun 1920an berhasil diwujudkan sedemikian rupa termasuk lokomotif dan sepeda ontel. Andai saja adegan kapal tenggelam dapat diperlihatkan tentunya bisa menjadi kredit tersendiri. Sayangnya kemunculan produk sponsor yang frekuentif malah mengganggu, seakan sugesti yang disodorkan kepada penonton tidak cukup dengan adegan halus selayang pandang saja. Belum lagi penggunaan berbagai gimmick yang tidak sesuai setting meski masih minor dampaknya.

Kinerja Titien Wattimena & Armantono dalam mengadaptasi skrip boleh diacungi jempol. Beberapa tokoh kunci di luar kedua tokoh utama mampu mendelivery dialog masing-masing dengan lancar. Cinta yang terhadang oleh perbedaan materi dan martabat memang konflik yang teramat klise. Untungnya Hanny tidak terlalu terkesan menye-menye dalam menyuguhkan problematika Hamid dan Zainab selayaknya sinetron, penonton tetap dapat mengapresiasi ini sebagai sebuah proyek layar lebar.
Penunjukan Junot tergolong tepat. Kesan ndeso yang selalu tertindas oleh keadaan terwujud dengan baik. Niscaya kita mampu bersimpati pada Hamid terutama interaksinya dengan Sang Ibu yang bisa menjadi highlight itu, jempol bagi akting Hj Jenny Rachman yang tetap ciamik. Sebaliknya Laudya masih terlalu nge-pop untuk peran Zainab dengan segala spontanitas dan pilihan-pilihan hidupnya. Namun usahanya tetap harus diapresiasi, apalagi adegan-adegan sendu yang dilakoninya masih terasa pas. Chemistry keduanya jujur masih terasa kurang padu di berbagai important scenes.
Di Bawah Lindungan Ka’bah rasanya masih dapat dijual kepada khalayak umum terlebih diedarkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432H. Tempo yang demikian lambat dan ending yang terkesan antiklimaks memang dapat mengurangi nilai akhirnya. Namun bagaimanapun juga tema “kasih tak sampai” dipercaya selalu dapat dinikmati dengan perasaan geregetan bercampur sendu melankolis. Untuk sesaat, biarkanlah dua insan berlawanan jenis yang saling mencintai dapat memiliki kesempatan bersama di atas suratan takdir yang terkadang kejam tak memihak.

Durasi:
120 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 09 April 2010

BEBEK BELUR : Reuni Dagelan Aktor-Aktris Lawas

Storyline:
Pejabat kaya raya bernama Toro dalam perjalanan dinas bersama asistennya secara tidak sengaja bertemu Rini, kembang desa Cibulu. Toro jatuh cinta pada pandangan pertama dan mengaku namanya Sugi walau sudah beristri Rima yang sangat perhatian padanya. Rini pun sesungguhnya telah menjalin kasih dengan sahabat masa kecilnya, Dadang. Namun semua itu tidak berarti karena Ibunya yang matre lantas saja menyetujui lamaran Toro walau ayah Rini tidak setuju. Pernikahan besar-besaran antara Sugi dan Rini pun direncanakan di desa Cibebek bersamaan dengan pagelaran musik Pak Sam. Akankah acara tersebut dapat digagalkan dan Dadang dapat kembali bersatu dengan Rini?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Squarebox ini press conference dan gala premierenya dilakukan di Djakarta Theatre.

Cast:
Nyaris semua aktor-aktris senior yang mendukung film ini menggunakan nama asli untuk karakternya.
Didi Petet
Deddy Mizwar
Slamet Rahardjo
Torro Margens
Gigi Band
Joshua Pandelaki
Ully Artha
Rima Melati
Ida Kusumah
Jajang C. Noer
Nungki Kusumastuti
Bajaj Grup
Valentino
Thessa Kaunang
Sam Bimbo
Sigit Hardadi
Nana S. Patah

Director:
Terakhir membesut Hantu (2007), Adrianto Sinaga kembali menggarap film layar lebar bertemakan drama komedi ini.

Comment:
Senioritas aktor-aktris lawas yang bermain di film ini sangatlah membantu proses narasi cerita yang apik. Sutradara mengaku tidak perlu repot mengarahkan mereka lagi. Semua tampil dengan gaya khasnya masing-masing. Yang sulit mungkin membagi porsi rata antar karakternya yang sedemikian banyak. Bahkan nama sebesar Didi Petet ataupun Deddy Mizwar hanya tampil sebentar pada awal atau akhir film. Beruntungnya Ully, Torro, Joshua, Rima mendapat porsi yang lebih. Lebih beruntung lagi generasi muda yang diwakili oleh Mario Irwiensyah dan Rini Yulianti untuk dapat berpartisipasi, keduanya bermain cukup natural sebagai pemuda-pemudi desa yang sederhana. Plotnya sebetulnya simpel saja dan berkali-kali pernah diangkat film sejenis layar lebar atau televisi terutama di tahun 1980an sampai 1990an, tetapi twist yang menarik dengan gaya tersendiri pada ending cukup membuatnya berbeda. Semua humor yang disuguhkan Bebek Belur sangat menonjol, terima kasih pada semangat kesahajaan yang dipersembahkan dengan porsi yang pas sehingga setiap adegan kecilpun terasa bermakna. Meski terbagi dalam beberapa bangunan cerita yang saling terkait, film ini tetap berjalan pada relnya dan bersinergi pada satu kesatuan utuh. Ohya, band GIGI juga ambil bagian dalam pengalaman pertama mereka bermain film dengan mengubah namanya. Apakah itu? Jika ada kesempatan, tidak ada salahnya menyaksikan kisruh Desa Cibulu dan Cibebek yang akan mengocok perut anda!

Durasi:
105 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Kamis, 10 Desember 2009

AI LOP YU PUL : Kabur Ke Jakarta Merajut Impian Bersama

Tagline:
Cinta Sampai Mati


Cerita:
Saat kios Emak dihancurkan oleh gerombolan penagih hutang yang dipimpin Beno, Topan tidak terima dan bertekad membalas dendam kepada Satyo, bos Beno cs. Disitulah ia berkenalan dengan Indun, putri semata wayang Satyo yang tengah kecewa dengan ayahnya yang berniat kawin lagi. Suatu peristiwa membuat Indun terkesan dilarikan Topan ke Jakarta. Dalam perjalanan, kedua insan berbeda jenis itu mengenal satu sama lain dan berjuang melawan kerasnya kehidupan kota besar. Topan diterima bekerja di sebuah pencucian mobil sedangkan Indun mengejar cita-cita menjadi penulis novel. Satyo tidak tinggal diam kehilangan anak kesayangannya tersebut dan memerintahkan Beno cs untuk mendapatkan Indun kembali. Bagaimana akhir romansa Topan dan Indun yang mulai saling mencinta tersebut?

Gambar:

Rumah kos-kosan dan beberapa sudut lingkungan kumuh Jakarta disyut dengan pas dari berbagai sisi sehingga terkesan realistis.


Cast:
Terakhir tampil dalam sekuel Kawin Kontrak, Ricky Harun kali ini bermain sebagai pemuda Batak, Topan yang berusaha mengais rejeki demi melunasi hutang ibunya yang diperankan Anna Shirley, mantan aktris lawas yang lama absen bermain film.
Sempat mendukung Nadine Chandrawinata dalam Mati Suri (2008), Oxcell disini kebagian karakter Indun alias Indah yang bertekad mandiri walau berayahkan juragan kaya Satyo, yang diperankan aktor senior Didi Petet.


Sutradara:
Pernah dipuji realistis dalam mengarahkan MBA, Winaldha E. Melalatoa kembali dengan roman remaja yang dipadu dengan unsur komedi Betawi yang kental.

Comment:

Film produksi Maleo Pictures ini awalnya cukup idealis dengan menampilkan budaya Betawi yang dikombinasikan dengan Batak. Namun sayangnya eksekusi ide cerita tidak berjalan mulus. Banyak hal-hal yang sangat dipaksakan mengalir dan ditelan bulat-bulat oleh penonton begitu saja hingga bisa jadi membuat muak. Beberapa adegan slapstik yang diperlihatkan VJ Mike Lucock dan kawan-kawan juga tidak mampu memancing tawa lepas. Pemilihan cast juga terasa kurang matang, Ricky hanya pas untuk peran komikal dan jika dibawa drama terlihat kedodoran. Demikian Oxcell yang terkesan cukup kewalahan menciptakan chemistry yang pas dengan lawan mainnya itu. Beruntung beberapa aktor-aktris senior seperti Didi, Anna dan Subarkah tampil natural seperti biasanya. Sang sutradara yang saya sukai kinerjanya dalam MBA kali ini mengulangi kesalahan yang sama dengan DO yaitu plot cerita tambal sulam yang kurang berhasil. Sound yang harusnya membantu malah terdengar menggelikan dengan gesekan biola yang tidak simetris dengan situasi cerita. Pada akhirnya Ai Lop Yu Pul yang diilhami dari lagu almarhum Mbah Surip ini terasa hambar di berbagai unsur dan tidak akan meninggalkan kesan apapun.


Durasi:

85 menit


Overall:
6 out of 10


Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average

7.5-average n enjoyable

8-good

8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 15 Maret 2009

JERMAL : Terpekur Masa Lalu Bersua Anak Masa Depan

Cerita:
Seorang anak berusia 12 tahun bernama Jaya setelah kehilangan ibunya diantar menemui ayah kandungnya yang ia kira sudah lenyap. Pria berumur 48 tahun itu bernama Johar, bekerja di sebuah jermal yakni tempat penjaringan ikan yang beridiri di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Bukan tanpa alasan, Johar berdiam disana karena ingin lepas dari masa lalunya yang kelam. Sayangnya Jaya yang tidak diakui ayahnya harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan lingkungan yang keras sekaligus menghadapi rekan-rekan sebaya yang tidak bersahabat. Bagaimana hubungan ayah dan anak itu selanjutnya?

Gambar:
Hamparan laut kebiruan yang terbentang luas menjadi jualan utama film yang sebagian besar tidak bersetting di darat.

Act:
Didi Petet sebagai Johar wajahnya dipenuhi cambang dan jenggot. Eksplorasi emosinya cukup berhasil sebagai orangtua yang terluka akibat kesalahan masa lalu.
Pendatang baru cilik, Iqbal S. Manurung bermain lepas sebagai Jaya yang cerdas dan bercita-cita tinggi tapi menghadapi situasi kehidupan yang sulit.

Sutradara:
Kolaborasi ketiga orang, Ravi Bharwani, Rayya Makarim dan Utawa Tresno dalam membesut film yang berkelas festival ini boleh jadi kesulitan menyamakan visi dan persepsi secara keseluruhan.

Komentar:
Kesan sunyi nan depresi mewarnai film ini. Mungkin akan sangat membosankan bagi anda yang biasa mencari film hiburan. Namun jika ditelaah lebih dalam, film ini menceritakan perjuangan hidup dan interaksi antar manusia yang kompleks. Menurut saya, ide cerita dan penggarapan sudah baik walaupun sebetulnya sisi personal bisa lebih diperdalam lagi agar konflik batin yang terjadi bisa lebih ditekankan lagi. Kesimpulannya? Jermal cuma akan menambah khasanah film lokal kelas festival yang masih bisa dihitung dengan jari itu.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Senin, 02 Maret 2009

KIRUN+ADUL PENGEN PUNYA PACAR KEREN : Pengejaran Kesalahpahaman Berbuntut Asmara

Cerita:
Dua pemuda Bali, Kirun dan Adul menjalani kehidupan sehari-hari yang nyaris sama, bekerja dengan santai di siang hari lalu party dengan gerombolan cewek seksi di malam hari. Kebosanan merambat dan Kirun bertekad mendapatkan pacar yang bisa melimpahinya dengan kasih sayang. Semua berubah saat Kirun bertemu dengan anak perempuan Wapres yang manis, Gita. Berbuntut dari ketidak sengajaan saat menelpon, Gita malah marah dan menugaskan seorang aparat intelijen bernama Nugroho untuk melacak jejak Kirun. Kontan saja dalam sekejap, Kirun dan Adul berusaha untuk tidak tertangkap dengan terus melakukan pelarian. Bagaimana akhir dari pengejaran tersebut? Apakah kesalahpahaman bisa berbuah manis pada akhirnya?

Gambar:
Khas Jose Poernomo dimana mixing scene dan fast-forward style masih menjadi andalan!

Act:
Ricky Harun sebagai Kirun tetap terjebak dalam peran stereotype anak muda easy going yang polos. Kali ini sebagai Kirun, Ricky "seakan" menjadi dirinya sendiri. Lucu memang tapi just it!
Abdurrahman Arif sebagai Adul bermain kocak dengan mimik muka dan bahasa tubuhnya yang luwes.
Permata Sari Harahap sebagai Gita, sang putri Wapres terlihat belum dapat mengeksplorasi aktingnya disini. Masih terlihat turun naik dan terkadang cenderung datar.
Reza Rahadian sebagai Nugroho, sang intelijen yang kaku, siaga tapi selalu terhambat oleh dua anak buahnya yang bodoh dan lamban.

Sutradara:
Jose Purnomo setelah puas mengeksplorasi pulau berhantu dan sekuelnya kali ini seperti memiliki template yang sama dari segi setting dan gaya bercerita hanya saja ini murni komedi. Kepiawaiannya memang terasa tapi tidak cukup kreatif untuk mengembangkan segala aspek ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Komentar:
Tanpa harapan tinggi saat menyaksikannya, saya malah terhanyut dengan plot sederhana, alur cerita yang cepat dan fun yang ditawarkan Kirun+Adul dengan humor yang terkadang tidak jelas tapi masih bisa memancing tawa. Ringan sekaligus kocak memang, hanya saja entah kenapa kesan berantakan masih terasa di sepanjang film. Mungkinkah durasi yang singkat dengan masa syuting yang cepat menjadi jawabannya?

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!