XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Kamis, 27 Mei 2010

DEPARTURES : Ketika Kematian Membuka Gerbang Kehidupan Baru

Tagline:
The gift of last memories.

Storyline:
Pemain celio, Daigo Kobayashi dilanda kebimbangan setelah orkestra tempatnya bernaung dibubarkan. Ia akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya bersama istrinya, Mika. Daigo melihat iklan lowongan pekerjaan di koran berjudul "Keberangkatan" dan memutuskan untuk melamar posisi tersebut demi menyambung hidup. Ternyata yang dimaksud adalah pemberangkatan orang meninggal sebelum memasuki gerbang kehidupan yang baru! Daigo menerima pekerjaan itu dan berguru pada Tsuyako dan asistennya, Yuriko. Dari rasa enggan, Daigo mau tidak mau belajar bahwa pekerjaan barunya itu mempunyai arti yang lebih bagi sebagian orang.

Nice-to-know:
Memenangkan gelar Film Berbahasa Asing Terbaik dalam Academy Awards 2009.

Act:
Masahiro Motoki sebagai Daigo Kobayashi
Tsutomu Yamazaki sebagai Ikuei Sasaki
Ryoko Hirosue sebagai Mika Kobayashi
Kazuko Yoshiyuki sebagai Tsuyako Yamashita
Kimiko Yo sebagai Yuriko Kamimura

Director:
Sutradara kawakan Jepang berusia 55 tahun, Yojiro Takita sempat membesut Ashura (2005) yang juga diputar di Indonesia itu.

Comment:
Tempo drama Jepang biasanya lambat dengan suasana depresif. Setidaknya itulah yang ada di pikiran saya saat menyaksikan poster film ini di Jiffest 2009 yang lalu. Namun melihat review positif dan juga fakta film Asia Timur ini berjaya di ajang sekelas Oscar, saya baru berkesempatan menyaksikannya nyaris setahun kemudian! Prolog dibuka dengan pengenalan pada karakter Daigo yang tidak beruntung. Meskipun berbakat dalam memainkan cello toh nasib tidak berpihak padanya saat menerima pekerjaan yang bagi sebagian besar orang sangatlah rendah dan menjijikkan karena menerima uang di saat orang berduka. Awalnya ia merasa demikian sampai akhirnya menyadari upacara pelepasan itu sangatlah penting bagi keluarga yang ditinggalkan. Peran itu dilakoni oleh Motoki dengan sangat wajar dan terjaga emosionalnya. Lihatlah caranya memandikan, memakaikan baju dan merias mayat yang juga diperlihatkan secara detail lagi di credit title. Belum lagi penjiwaannya dalam memainkan cello seakan unsur kesepian dan putus asa benar-benar melekat padanya. Sejak mula, audiens seperti halnya Daigo enggan melihat upacara tersebut tetapi lambat laun dapat memaknainya dan diajak juga melihat dari sudut pandang keluarga yang sedang berduka dengan segala macam emosinya. Cast lain juga dengan gemilang mendukung penceritaan beberapa sub plot yang dibangun dan pada akhirnya mengukuhkan suatu lingkaran penuh. Sutradara Takita membangun mood film yang sendu lewat alunan cello sebagai musik latar yang terasa pas hingga menutupnya dengan ending yang brilian. Departures akan membawa anda sebuah pengalaman baru bersinema yang ironisnya dilihat dari sudut pandang kematian dimana rasanya setiap momen kehidupan terasa sangat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Tidak diragukan sebagai salah satu film Asia terbaik sepanjang masa!

Durasi:
125 menit

Asian Box Office:
$61,010,217 till mid Apr 2009 in Japan.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

2 komentar:

Gabby Hakim mengatakan...

I loveeee this movie! One of the best Japanese movie I've ever seen! Saya nonton di JiFFest, film ini bikin saya nangis2 keinget almarhum papa saya. Salah satu film favorit di tahun 2009 kmrn. :)

moviefreak mengatakan...

Setuju bgt, Gab. Very personal yet touching moments inside!