XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Sabtu, 11 Juni 2011

LADDA LAND : Hidup Baru Perumahan Berhantu

Quotes:
Dead neighbors is what you have to deal to live in your own house.

Storyline:
Demi menghindari tinggal serumah dengan ibu mertua yang tidak pernah menyukainya, Thee membawa istrinya Parn dan putra-putrinya Nat-Nan ke sebuah kompleks perumahan baru yang sedang dibangun yakni Laddaland. Bayangan sebuah kehidupan sempurna perlahan-lahan sirna saat mayat seorang pembantu Burma ditemukan di dalam kulkas rumah tetangganya. Gangguan supernatural mulai melingkupi rumah Thee yang berujung pada konflik intern yang semakin meruncing. Bagaimana Thee dapat mempertahankan keutuhan keluarga pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh GTH Production yang semakin menancapkan kukunya dalam menghasilkan film-film Thailand siap ekspor.

Cast:
Saharat Sungkhapreecha sebagai Thee
Piyathida Worramusik sebagai Parn
Sutadta Udomsil sebagai Nan
Atipit Chutiwatkajornchai sebagai Nat

Director:
Sophon Sakdapisit sebelumnya menangani Coming Soon (2009).

Comment:
Pernah menonton The Amityville Horror yang legendaris dan telah berulang kali diremake itu? Jika jawabannya iya maka anda akan sangat familiar dengan plot film yang satu ini. Perbedaannya hanyalah dikemas dalam nuansa Asia yang biasanya lebih menonjolkan kekuatan drama selain konsep supernatural yang mungkin terasa lebih lekat dengan kehidupan kita sehari-hari apalagi Thailand yang notabene masih negara tetangga.
Premis film ini murni bercerita tentang kompleksitas hubungan intern sebuah keluarga. Bagaimana konflik orangtua dan anak serta suami dan istri yang menjadi suguhan utama. Sedangkan elemen horor merupakan gimmick belaka yang positifnya bekerja dengan sangat baik untuk memperkuat plot utama. Variasi back and forth ini dimaksimalkan oleh Sophon untuk menjaga antusias penonton meski sedikit beberapa penjelasan dasar yang tidak (sempat) diungkapkan atau sebagian dramatisasi yang (agak) berlarut-larut.









Dari segi akting memang tidak luar biasa. Kekuatan karakterisasi lah yang menolong aktor-aktris disini bermain baik. Bagaimana Saharat menjiwai peran Thee yang tertekan oleh mertua yang memandang rendah dirinya atau membahagiakan keluarganya sendiri dengan segala keterbatasan dirinya. Atau Piyathida yang kesulitan berdiri di antara suami dan anak-anaknya sekaligus menghadapi kondisi keuangan yang mulai menipis. Sutadta dan Atipit juga berperan dengan wajar dan menggemaskan sesuai usia masing-masing.
Sutradara Sophon tidak lupa menyelipkan serpihan komedi justru di tengah-tengah suasana mengerikan sebagai icebreaking. Beberapa scene horor juga berhasil menakutkan sekaligus mengejutkan penonton dengan timing yang tepat tanpa terasa berlebihan. Penggunaan setting lokasi juga sangatlah tepat dimana kompleks perumahan yang pada awal digambarkan sebuah impian sempurna pada akhirnya berubah menjadi mimpi terburuk.









Bagi anda yang penakut tapi memberanikan diri menyaksikan film ini, saya akan berikan beberapa kata kunci yakni kulkas merah, mata sensor AC, halaman jemuran, kertas gambar, hidden camera. Bersiap-siaplah! Maafkan jika saya spoiler sedikit kali ini. Dan bagi yang sudah menonton rasanya akan setuju dengan saya. Hal-hal tersebut sebenarnya bukan formula baru dalam sebuah film horor tetapi masih bekerja dengan efektif.
Bagi penonton yang menghargai kekuatan cerita, Laddaland akan bermakna lebih dari sekadar film horor yang berhasil. Bagaimana disfungsi sebuah keluarga dapat terjadi karena kesalahpahaman kecil dan pengharapan yang begitu tinggi antar anggotanya. Dunia supernatural itu sesungguhnya ada di sekitar kita dan bisa jadi mengganggu kewarasan manusia itu sendiri dalam menghadapinya. Silakan tertawa, terperanjat, tercekam, tersentuh dan bayangkan jika anda berada di posisi Thee. Sulitkah menjadi seorang kepala keluarga yang hanya ingin yang terbaik bagi keluarganya sendiri?

Durasi:
110 menit

Thai Box Office:
117 juta baht till May 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 10 Juni 2011

BEASTLY : Kutukan Buruk Rupa Pengharapan Cinta

Quotes:
Kyle: Pretty gruesome, huh?
Lindy: I've seen worse.

Storyline:
Kyle mungkin memiliki segala yang diimpikan remaja pria di dunia mulai dari ayah terkenal, rumah mewah, harta berlimpah, wajah rupawan, tubuh atletis dsb. Hal tersebut menjadikannya tinggi hati dan selalu memandang rendah orang-orang yang buruk rupa terutama Kendra yang sebetulnya seorang penyihir. Meski demikian siswa-siswi SMU mengidolakannya dan memilihnya menjadi Ketua Perkumpulan. Kendra yang sakit hati diam-diam memanterai Kyle sehingga berubah rupa menjadi teramat buruk. Syarat untuk kembali adalah kata-kata “aku mencintaimu” yang tulus dari seorang gadis dalam waktu satu tahun atau ia akan tetap begitu. Harapan pun ada pada Lindy, gadis manis pendiam yang bertekad hidup mandiri.

Nice-to-know:
Sempat dipertimbangkan nama Zac Efron untuk mengisi peran Kyle disini.

Cast:
Karir aktornya diawali lewat Alex Rider: Operation Stormbreaker di usia 16 tahun, Alex Pettyfer kini bermain sebagai Kyle
Lebih banyak terlibat dalam serial televisi remaja termasuk terakhir Robot Chicken (2009), Vanessa Hudgens sebagai Lindy
Mary-Kate Olsen sebagai Kendra
Neil Patrick Harris sebagai Will
Lisa Gay Hamilton sebagai Zola
Peter Krause sebagai Rob

Director:
Merupakan film kedua bagi Daniel Barnz sejauh ini setelah Phoebe In Wonderland (2008).

Comment:
Saya tidak pernah membaca novel berjudul sama karangan Alex Flinn ini. Namun sudah mendengar kabar bahwa inti ceritanya merupakan versi bebas dari Beauty and the Beast yang fenomenal di awal 90an lalu. Atas dasar itulah, saya memutuskan untuk menyaksikannya untuk melihat sejauh mana transformasi sebuah kisah klasik ke jaman modern dapat dilakukan. Apalagi melihat nama-nama pemeran utamanya yang eye-candy itu.
Nyatanya Barnz terlalu asyik dengan dunianya sendiri dalam menerjemahkan skripnya. Dunia remaja yang mungkin hanya pernah dilihatnya saja sewaktu masa sekolahnya dulu tanpa pernah mengalaminya langsung. Itulah sebabnya karakter-karakter disini terasa dangkal tanpa kompleksitas yang dibutuhkan untuk membangun konflik secara lebih emosional. Bagaimana perasaan ketertarikan, kebencian, kesepian, terbuang dst disuguhkan begitu saja dengan datar.
Pettyfer hanya mampu memesona dengan mata biru, rambut pirang dan perut 6 packs nya tetapi transisi penjiwaannya dari Kyle rupawan menjadi Kyle buruk rupa tidak terlalu signifikan. Hanya saja kinerja tim make-up bolehlah mendapat apresiasi dalam menghadirkan sosok botak berwajah penuh luka dan tato aneh di sekujur tubuhnya yang jika boleh jujur sebetulnya lebih bernuansa futuristik dibandingkan ugly.
Hudgens seakan kehilangan charm yang ia tampilkan dalam HSM. Yang membuat penonton jatuh hati pada karakter Lindy mungkin hanya pesona mata dan senyum manisnya saja. Selebihnya tidak terlalu kuat alasan seorang gadis rajin sepertinya bisa “berubah sikap” pada Kyle dengan mudahnya. Satu-satunya yang outstanding disini cuma Harris yang sarkastis sekaligus jenaka sebagai tutor yang buta tetapi selalu menjaga sikapnya itu.
Sebagai sutradara, Barnz terlihat kesulitan mengatur sekuens adegan demi adegannya hingga akhirnya terburu-buru menuju klimaks yang terlampau mudah dan memaksa penonton menerima begitu saja. Dialognya pun sulit terkontrol kontennya sehingga terdengar klise dengan didominasi rayuan gombal yang membuat anda tersenyum (atau mengerutkan kening?). Kelebihannya jelas ada di scoring music yang berhasil membangun mood film secara keseluruhan sehingga enak diikuti.
Drama ini mungkin hanya berhasil pada penonton muda usia pada umumnya dan kalangan perempuan pada khususnya dengan alur mendayu-dayu tanpa keterikatan emosi yang kuat terhadap penonton. Bagi saya hanya mendapat ponten cukup, tidak spesial tapi juga tidak sampai lebur. Beastly (sekali lagi) berusaha mengajarkan manusia untuk melihat kedalaman jiwa seseorang dibandingkan kedangkalan penampilan luarnya saja. Siapa yang tahu jika pada akhirnya orang yang paling tidak diharapkan justru dialah yang dapat anda andalkan.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$27,854,896 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 09 Juni 2011

HATI MERDEKA : Lanjutkan Perjuangan Bebaskan Dendam Hati

Original title:
The hearts of freedom.

Storyline:
Tanpa diduga Amir mundur dari Angkatan Darat karena ingin fokus pada keluarga terutama istri yang selalu mengkhawatirkannya. Maka Tomas, Dayan, Marius pun melanjutkan gerakan perjuangan kemerdekaan itu didampingi pula oleh Senja yang dicintai Tomas dan Marius sekaligus. Mereka menuju Bali lewat laut demi membalaskan dendam pada Belanda terutama Kolonel Raymer yang telah membunuh keluarga Tomas di waktu lalu. Tak lama kemudian mereka dibantu pemimpin pemberontak bawah tanah bernama Wayan Suta untuk mempertahankan ideologi dan melanjutkan revolusi yang sudah terpatri di dada masing-masing itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Media Desa Indonesia & Margate House Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 4 Juni 2011.

Cast:
Darius Sinathrya sebagai Marius
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Lukman Sardi sebagai Amir
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Astri Nurdin sebagai Melati
Nugie sebagai Wayan Suta
Ranggani Puspandya sebagai Dayu
Michael Bell sebagai Kolonel Raymer

Director:
Masih digawangi oleh Yadi Sugandi yang bertandem dengan Conor Allyn selayaknya dalam Darah Garuda (2010).

Comment:
Sebandingkah kesabaran anda untuk menikmati trilogi ini dalam rentang waktu 3 tahun? Jawabannya tentu tidak mutlak sama bagi setiap orang. Namun bagi saya pribadi cukup sebanding karena bagaimanapun juga potret sejarah perjuangan patriotisme bangsa Indonesia patut dihargai setinggi-tingginya. Dan film inilah satu-satunya yang berani mengangkat hal tersebut di era baru abad 21 yang banyak didominasi oleh genre horor dan komedi.
Garis besar ceritanya sendiri tidak berbeda jauh dari apa yang sudah ditampilkan dua prekuelnya yaitu bagaimana melumpuhkan tentara Belanda sekaligus meminimalisir korban yang berjatuhan. Yang berbeda adalah setting pertempurannya yang satu terjadi di atas lautan dan yang lain mengambil setting Pulau Dewata. Konsep yang menarik untuk menghadirkan inovasi baru yang menyegarkan walaupun tidak mutlak harus dilakukan sebetulnya.
Karakter utama yang ditonjolkan kali ini adalah Tomas dan Marius. Donny dan Darius menjawab tantangan tersebut dengan baik terbukti penjiwaan mereka terasa lebih detil apalagi didukung oleh dominannya scene yang melibatkan keduanya. Rahayu juga bermain menawan karena tokoh Senja kali ini cukup mendapat porsi besar sekaligus mengedepankan arti pejuang wanita yang masih dapat dihitung jari sepanjang sejarah perebutan kemerdekaan Indonesia. Kredit khusus bagi penampilan aktor asing (alm) Michael Bell yang berakting ciamik sebagai Kolonel Raymer.
Sutradara Yadi dan Conor cukup cerdik memaksimalkan spesial efek tembakan dan ledakan yang terjadi di setiap scene yang memungkinkan. Bagaimana lokasi dapat disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi medan peperangan yang realistis. Namun yang sedikit mengganggu adalah faktor “keberuntungan” para tokoh utamanya yang bisa selamat berkali-kali dari terjangan peluru ataupun percikan bom. Bukan berarti saya mengharapkan mereka tewas dalam pertempuran tetapi setidaknya dapat dibuat dengan lebih meyakinkan lagi.
Hati Merdeka pun menutup petualangan Amir-Dayan-Tomas-Marius dengan happy ending. Sebuah proyek ambisius yang dikemas dengan cukup membumi dan bersahabat dengan para penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Belum sepenuhnya dikatakan karya anak bangsa tapi semangat filmmaker yang terlibat patut diacungi jempol. Semoga saja semakin banyak produser yang tergerak untuk membangkitkan genre sejenis sekaligus menggairahkan kembali semangat nasionalisme di antara kita semua tanpa terkecuali.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 08 Juni 2011

CARA MENIKMATI FILM BARU DI TENGAH KRISIS FILM

Krisis film yang melanda Indonesia selama 4 bulan terakhir tak dinyana menyebabkan bioskop-bioskop di Ibukota sepi penonton. Menurut sumber yang terpercaya, telah terjadi penurunan drastis sebanyak 20-50% dari jumlah penonton yang tentunya berimbas pada biaya operasional masing-masing sinepleks. Tentunya manajemen harus memutar otak untuk menutupi kekurangan tersebut, salah satunya yang paling kentara adalah penjualan snack (softdrink/popcorn) yang semakin gencar hingga menyambangi setiap baris kursi penonton.

Penyebab krisis ini adalah masalah kenaikan pajak impor film dan sejumlah denda yang ditunggak oleh para importir tersebut sehingga menyebabkan terjadinya boikot oleh 6 studio besar MPAA. Namun saya yakin masalahnya tidaklah sesederhana itu karena telah terjadi praktek monopoli dari lapisan atas hingga bawah sekalipun dalam rentang waktu yang teramat panjang dan juga sederetan isu lain yang tidak terjelaskan. Sayang sekali, Pemerintah kita terkesan berpangku tangan dalam menyelesaikan kasus yang terus berlarut-larut

Kekosongan tersebut lantas diisi oleh pihak 21 yang berusaha “menjual “ stok-stok lama berjumlah +50 judul film yang sudah dipeti-eskan sejak tahun 2005 lalu! Tidak heran jika anda menemukan film yang sedang ditayangkan bisa jadi sudah diputar di HBO, Star Movies bagi yang berlangganan TV kabel ataupun teronggok berdebu pada rak koleksi dvd lawas anda. Fakta ini tidak terelakkan dan sudah dialami oleh para konsumen bioskop pada umumnya.

Tidak terhitung jumlah tweet yang masuk pada jaringan akun Twitter saya menanyakan film-film apa saja yang mereka lewatkan selama periode hiatus ini atau apakah film A akan tayang, bagaimana dengan film B dan seterusnya. Setidaknya daftar panjang berikut dapat menjawab pertanyaan anda perihal film-film unggulan Hollywood yang tidak sudi mampir di negara kita tercinta ini:

Februari:
- The Rite
- Black Swan
- True Grit
- Just Go With It
- I Am Number Four
- Justin Bieber : Never Say Never
- Unknown
- Big Mommas: Like Father, Like Son
- Hall Pass

Maret:
- Rango
- Adjustment Bureau
- Battle : Los Angeles
- Red Riding Hood
- Mars Needs Moms
- Sucker Punch
- Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules

April:
- Hop
- Hanna
- Arthur
- Soul Surfer
- Your Highness
- Rio
- Water For Elephants

Mei:
- Fast Five
- Hoodwinked Too! Hood vs. Evil
- Thor
- Bridesmaids
- Priest
- Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides
- The Hangover II
- Kungfu Panda 2

Ironisnya daftar tersebut akan bertambah panjang karena puncak summer movies justru terjadi di bulan Juni-Juli sekarang ini. Saya dan juga kawan-kawan moviegoers lainnya merasa sangat tersiksa dengan kondisi demikian. Pada akhirnya kami memilih 2 cara yang dianggap realistis setidaknya dari segi tenaga, waktu dan uang yang mungkin dikeluarkan yaitu Download Internet & DVD bajakan!

Survey telah dilakukan beberapa waktu terhadap para bioskopers dengan hasil berikut:

55,2% memilih DVD bajakan

Alasan umum yang dikemukakan adalah harga yang relatif murah dan lapak-lapak DVD yang cukup mudah ditemui. Dengan bermodal 5000-7000 perak saja, anda sudah bisa menonton di televisi rumah sendiri plus subtitle yang bisa dipilih. Mungkin gambarnya belum sejernih kualitas blu-ray atau bioskop tetapi rasanya sudah bisa mengobati kekecewaan. Kekurangannya adalah buruknya kualitas disc atau tergores bisa menyebabkan gambarnya tersendat atapun menimbulkan suara berdecit serta terjemahan yang masih tidak sesuai dengan subtitle aslinya.

44,8% memilih Download Internet

Kebanyakan pengguna internet broadband diyakini memilih cara ini. Bayangkan 1 film bisa diunduh hanya dalam waktu 2-3 jam saja, berapa judul yang bisa anda dapatkan dalam sehari? Tentunya ini kembali lagi pada kecepatan akses masing-masing provider yang berbeda-beda. Jika pihak ini berbaik hati, mereka tidak akan segan-segan membagi hasil unduhan kepada sahabat-sahabatnya. Kelemahannya adalah versi yang diunduh terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau belum adanya subtitle yang lumayan menyulitkan pemahaman cerita.

Krisis film ini merupakan sejarah hitam yang tidak akan pernah terhapus dari catatan industri perfilman Indonesia secara global. Cepat atau lambat penyelesaiannya mungkin hanya Tuhan dan pihak-pihak yang berkepentingan yang tahu. Meminjam tagline AVP: “Whoever wins, we lose..” bahwa siapapun pihak yang merasa menang atas kondisi seperti ini sesungguhnya telah menelan kekalahan telak yang tidak terhitung besaran nominalnya.

Sabtu, 04 Juni 2011

SCREAM 4 : Pengulangan Tragedi Berdarah Pembunuh Baru

Quotes:
Welcome home, Sidney. You're a survivor, aren't you, Sidney? What good is it to be a survivor when everyone close to you is dead? You can't save them. All you can do... is watch.

Storyline:
Kembalinya Sidney Prescott ke tanah kelahirannya Woodsboro dalam rangka promosi bukunya yang ditulis oleh Gale Weathers-Riley yang sudah menikah dengan sheriff Dewey Riley membangkitkan kenangan lama. Ia tinggal di rumah sepupunya Jill dan bibinya Kate. Jill adalah seorang remaja putri yang memiliki sahabat-sahabat penggemar Stab series di kampusnya. Tanpa terduga seseorang benar-benar melakukan pembunuhan berantai yang dimulai dari hari pertama kedatangan Sidney.Sekali lagi Sidney harus bertahan hidup sekaligus melindungi orang-orang terdekatnya yang mulai menjadi incaran si pembunuh bertopeng hantu tersebut.

Nice-to-know:
Dengan empat seri sejauh ini, franchise Scream menjadi satu-satunya horor yang selalu lengkap jajaran cast utamanya sejak awal.

Cast:
Film layar lebar pertamanya adalah The Dark (1993), Neve Campbell kembali sebagai Sidney Prescott, superstar Woodsboro yang menjadi sorotan karena selalu lolos dari Ghostface.
Tahun lalu muncul dalam 6 film sekaligus termasuk ensemble drama Valentine’s Day, Emma Roberts bermain sebagai Jill Roberts
David Arquette sebagai Dewey Riley
Courteney Cox sebagai Gale Weathers-Riley
Hayden Panettiere sebagai Kirby Reed
Marley Shelton sebagai Deputy Judy Hicks
Rory Culkin sebagai Charlie Walker
Nico Tortorella sebagai Trevor Sheldon

Director:
Wes Craven yang sudah berusia 71 tahun ini melanjutkan apa yang sudah dimulainya sejak tahun 1996, 1997 dan 2000.

Comment:
Masa remaja saya (dan mungkin sebagian dari anda) tumbuh bersama trilogi Scream yang sangat fantastis pada waktu itu dan berhasil menciptakan genre thriller remaja baru yang kemudian diekor oleh banyak film sejenis. Kelebihannya adalah skrip yang cerdas dan dieksekusi dengan brilian sehingga tidak kacangan serta mengasyikkan untuk menerka-nerka siapa sesungguhnya sang pelaku yang biasanya baru diungkapkan di menit-menit akhir.
Sang penulis skrip, Kevin Williamson yang kali ini berduet dengan Ehren Kruger berusaha mematahkan premis bahwa film sekuel tidak akan lebih baik dari pendahulunya. Mereka mengembangkan karakter-karakternya sedemikian rupa sehingga bagi tokoh-tokoh lama terasa proses pendewasaannya. Sedangkan transisi pengenalan tokoh-tokoh baru juga terasa smooth sehingga peremajaan franchise ini terbilang berhasil.









Sang sutradara, Wes Craven berupaya menyajikan intensitas ketegangan yang setidaknya sama dengan prekuel-prekuelnya. Pembantaian demi pembantaian yang terjadi walaupun tidak dikatakan baru tetap disajikan dengan cara yang kreatif tanpa harus frekuentif. Eksekusi idenya tergolong mulus sehingga suasana lucu, takut dan heran dapat terbangun sekaligus. Sisipan berbagai babak pada openingnya sangat sukses mencuri perhatian audiens apalagi dengan kemunculan berbagai cameo terkenal.
Departemen akting disini juga terkonsep secara maksimal. Memang Campbell, Arquette, Cox tidak lagi dominan tetapi kehadiran mereka tetaplah krusial untuk menjembatani film yang terputus rentang waktunya selama 11 tahun itu. Sidney tetap terjebak dalam “peran” tough girl nya, Gale yang ambisius, Dewey yang sembrono masih mampu menjelaskan mengapa anda begitu menyukai trilogi Scream terdahulu.
Dari generasi baru, Roberts, Panettiere, Culkin mendapat kesempatan yang sangat baik untuk mengeksplorasi kemampuan masing-masing. Jill yang tertekan karena memiliki ikatan darah dengan Sidney, Kirby yang populer di sekolah, Charlie yang terobsesi dengan film horor semakin memberikan warna tersendiri. Bagaimana mereka berinteraksi dengan karakter-karakter yang lebih senior menjadi salah satu yang menarik untuk disimak.








Bagaimana dengan ending yang khas dari franchise milik Dimension Films ini? Tenang, tidak ada spoiler di bagian ini. Saya hanya menyarankan anda untuk tidak terlalu ngotot menebak identitas Ghostface yang sesungguhnya karena petunjuk yang ditinggalkan Williamson/Craven teramat minim. Penjelasan panjang lebar pada endingnya mengenai motif sang pelaku sedikit banyak memaksa anda untuk menerima logika yang disuguhkan. Memang terasa dipaksakan tetapi masih dapat diterima dengan logika jika anda mau menganalisa lebih jauh.
Bukan hanya slasher berdarah penuh tikaman yang membuat anda miris tapi bertindak pula sebagai satir yang memancing tawa getir dalam kondisi yang tidak memungkinkan sekalipun. Itulah yang membuat Scream 4 sebuah perjalanan nyaris 2 jam yang menghibur dengan ide gila sekaligus brilian! Menjungkir balikkan fakta yang akhirnya ditutup dengan slogan “Don’t fuck with the original!” Bersiaplah untuk menjerit beramai-ramai kali ini dan mungkin anda akan melakukannya lagi di tahun-tahun mendatang dengan Scream 5, 6, 7 dst. Who knows?

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$37,717,659 till May 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 03 Juni 2011

THE WARD : Terkungkung Bangsal Berhantu Misterius

Quotes:
Kristen: Look at me!
Sarah: Sorry, I don't converse with loonies.

Storyline:
Kristen dibawa paksa ke sebuah bangsal Rumah Sakit Jiwa tanpa mengetahui apa penyebabnya. Ia menempati sel bekas seseorang bernama Tammy dan tak lama kemudian berkenalan dengan para penghuni lain, Iris yang ceria berbakat dalam melukis, Zoey yang penakut, Emily yang sinting dan serta Sarah yang sinis. Lambat laun, Kristen menyadari ada sosok tak terlihat bernama Alice yang juga ada di sekitar mereka dengan niat jahatnya. Saat satu persatu mulai lenyap secara misterius, Kristen mulai merancang sebuah pelarian yang tidak mungkin sebelum dirinya sendiri menjadi korban.

Nice-to-know:
Pertama kalinya film panjang John Carpenter yang tidak disyut dalam Panavision sejak debutnya Dark Star (1974).

Cast:
Tahun lalu bermain dalam 4 film dimana 2 sudah masuk Indonesia yaitu The Joneses dan Zombieland. Kini Amber Heard bermain sebagai Kristen yang dijebloskan ke RSJ setelah kedapatan membakar sebuah gubuk pertanian.
Lyndsy Fonseca sebagai Iris
Danielle Panabaker sebagai Sarah
Jared Harris sebagai Dr. Stringer
Mika Boorem sebagai Alice
Mamie Gummer sebagai Emily
Laura-Leigh sebagai Zoey

Director:
Kembalinya sutradara spesialis horor John Carpenter setelah terakhir terlibat dalam Ghosts Of Mars (2001).

Comment:
Jika anda berniat menyaksikan film ini, sebaiknya tidak meneruskan membaca review saya berikut ini ataupun mengikuti referensi-referensi lainnya. Sebab semakin sedikit anda mengetahui plot ceritanya maka akan semakin nikmat dalam menontonnya. Setidaknya unsur kejutan tetap tersimpan rapi hingga akhir cerita. Ending merupakan sesuatu yang sangat dinantikan bagi para pecinta genre horor/thriller, bukan begitu?
Saya telah mengenal nama John Carpenter sebagai spesialis horor/thriller sejak dulu kala meskipun belum berkesempatan menyaksikan semua karya-karyanya. Dan melihatnya kembali dalam film yang dibanjiri bintang-bintang muda rasanya sudah cukup membuat saya mengatakan, “Ayo, kita tonton yang satu ini!”. Dan terbukti nyaris satu setengah jam kemudian, saya terpuaskan dengan konsep yang ditulis oleh duet Michael dan Shawn Rasmussen ini.
Sepintas temanya sangat klise dan saya yakin anda bisa sebutkan sederetan judul film bertemakan sama. Namun yang unik disini adalah elemen horor tradisional yang masih kental dan mampu dimaksimalkan dengan baik, sebut saja setting yang gelap, tokoh-tokoh yang misterius, ilustrasi musik yang mendirikan bulu roma, pencahayaan yang minim plus misteri yang harus dijawab (atau terjawab) di bagian epilog. Semua terkonstruksi dengan baik dalam bangunan cerita yang menyisakan twist menarik.








Saya kagum bagaimana semua tokoh dalam film ini mampu setia pada karakter masing-masing sehingga tercipta suatu sinergi yang kuat di antara mereka. Kristen dijamin akan menjadi tokoh favorit anda sejak opening dan Heard berhasil memberikan nyawa seorang gadis tangguh tidak kenal menyerah di dalamnya. Gummer, Fonseca dan Panabaker juga bermain menarik dan tak jarang menyebalkan dengan “kegilaan” masing-masing. Tanpa lupa menyebutkan nama Harris yang menjaga kesan misterius dan dingin lewat sosok Dr. Stringer walau kemunculannya tidak terlalu banyak.
Mood The Ward memang naik turun sepanjang durasinya tapi dalam pengertian positif. Seakan penonton diajak menikmati orkestra pembangun mood yang menyenangkan. Beberapa efek “takut” bekerja dengan lebih baik bagi para penonton awam yang bisa jadi tersentak berkali-kali. Jika anda berusaha menarik konklusi secepat mungkin sebelum film berakhir, mungkin bisa lebih cermat dalam memperhatikan setiap detil sejak menit pertama terlebih interaksi masing-masing karakternya.
Satu pesan universal dari saya tanpa bermaksud menggurui, kepribadian seseorang memang teramat kompleks dan butuh lebih dari sekadar ilmu pengetahuan untuk benar-benar memahaminya. Mulailah dengan menelaah diri anda sendiri dan memilah-milah sifat-sifat baik buruknya. Tentu tidak ada salahnya jika dilakukan secara berkala demi proses refleksi dan introspeksi diri kea rah yang lebih baik. Dan percayalah anda tidak butuh psikiater untuk melakukannya.

Durasi:
85 menit

Europe Box Office:
€345,664 in Italy till Apr 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 02 Juni 2011

KENTUT : Pengharapan Sepele Puncak Persaingan Politik

Quotes:
Jasmera: Jadi kalo masih ada yang tergilas, itu wajar. Apalagi tertindas, itu juga masih wajar. Sebab kesengsaraan memang diciptakan untuk manusia..

Storyline:
Kabupaten Kuncup Mekar dipimpin oleh Bupati Anwar yang segera mengakhiri masa jabatannya. Dua kandidat kuat penggantinya adalah Patiwa dan Jasmera yang memiliki program masing-masing yang sangat bertolak belakang. Patiwa jelas idealis sedangkan Jasmera radikal dan keduanya harus menjalani serangkaian debat agar publik dapat menentukan pilihannya. Ketika sebuah insiden menimpa Patiwa yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit, Jasmera merasa berada di atas angin dan mulai menghalalkan segala cara. Kesembuhan Patiwa membutuhkan waktu dan harus ditandai dengan keluarnya kentut terlebih dahulu sebelum putaran kedua dimulai..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Citra Sinema dan gala premierenya diselenggarakan di PPHUI pada tanggal 30 Mei 2011 yang lalu.

Cast:
Deddy Mizwar sebagai Jasmera
Ira Wibowo sebagai Irma
Keke Soeryo sebagai Patiwa
Cok Simbara sebagai Dokter Ferru
Iis Dahlia sebagai Delarosa
Anwar Fuady sebagai Bupati Anwar
Rahman Yakob sebagai Rahman Sianipar
Hengky Tornando

Director:
Merupakan film ketiga bagi Aria Kusumadewa yang memenangkan gelar Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2009 di karya sebelumnya yaitu Identitas.

Comment:
Nyaris tanpa gaung tiba-tiba film ini muncul dengan judul satu kata yang sangat enteng. Namun melihat nama-nama di belakangnya, optimisme akan sebuah film lokal berkualitas pun mencuat. Siapa yang tidak kenal Deddy Mizwar? Dan kali ini ia bertandem dengan Aria Kusumadewa yang meskipun baru menghasilkan dua film sebelumnya tapi sudah diakui eksistensinya sebagai sutradara papan atas Indonesia.
Plotnya sendiri terdiri dari tiga babak yang mudah dicerna dan faktual dengan kondisi politik negara ini. Babak pertama, pengenalan dua kubu yang saling bersaing. Babak kedua, debat terbuka demi meyakinkan publik akan program masing-masing. Babak ketiga, keterlibatan banyak pihak dalam melakukan intervensi sosial politik terhadap kedua pihak tersebut. Lihat bagaimana segala kompleksitas tersebut tersaji lewat interaksi-interaksi cerdas dalam balutan dialog-dialog sinis di antara tokoh-tokohnya, tak jarang memancing tawa membahana audiens yang menyaksikannya.
Deddy menunjukkan kelasnya dalam peran Jasmera. Penampilannya yang sangat tidak sedap dipandang dengan segala jenis warna merah yang melekat di tubuhnya itu berbanding lurus dengan pola pikirnya yang mengagungkan poligami dan hedonisme yang bertanggungjawab. Tanpa lupa aksen dan gaya bicaranya tak jarang menyindir tokoh-tokoh masyarakat yang sudah dikenal luas. Tidak perlu saya sebutkan disini karena hanya akan memprovokasi tanpa dasar. Jauh bertolak belakang dengan peran Nagabonar yang idealis itu.
Keke yang mengawali karirnya di dunia modeling ternyata memikat dalam debutnya sebagai aktris ini. Peran Patiwa berhasil mencuri perhatian di paruh pertama film dimana sosok wanita keibuan yang arif dan bijaksana terbukti memenangkan hati calon pemilihnya. Ira Wibowo juga tak kalah konsisten sebagai asistennya yang bernama Irma. Lihat interaksinya dengan Dokter Ferry yang secara mengejutkan menandai kembalinya Cok Simbara di ajang layar lebar. Jangan lupakan pula kontribusi Rahman Yakob sebagai Kepala Satpam yang berkarakter unik itu.
Sutradara Aria kembali menggunakan pendekatan personal dalam membangun karakterisasi para tokohnya disini. Penegasan konflik di babak pertama dan kedua memang jauh lebih tajam dan menarik karena terpusat pada karakter Patiwa dan Jasmera saja. Sedangkan di babak ketiga, ia terkesan berupaya menjejali penonton dengan berbagai macam karakter dari yang paling penting hingga tidak terlalu penting. Hal ini menyebabkan film sedikit keluar dari jalurnya meski apa yang disuguhkannya tetaplah menarik untuk disimak.
Kentut merupakan suguhan satir yang sukses menyentil masyarakat kita sendiri. Persaingan kekuasaan dan kepentingan di tingkat Kabupaten ini jelas dapat diaplikasikan pada skala yang lebih besar lagi. Sayangnya Aria yang juga bertindak sebagai penulis skrip telanjur menganggap penonton sudah tahu bagaimana menyimpulkan endingnya sehingga memutuskan untuk mengakhirinya dengan lebih cepat tanpa banyak konklusi. Namun usahanya tetap harus diapresiasi karena menyajikan sesuatu yang berani sekaligus berbeda di jaman yang serba tidak kondusif ini.
Kentut memang tidak selalu berbau ataupun bersuara, tapi proses pembuangan gas itu sendiri tidak pernah dapat dipungkiri. Sama halnya seperti manusia dalam bersikap ataupun berpendapat, pasti memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 01 Juni 2011

PELET KUNTILANAK : Celana Dalam Sumber Bencana Gaib

Quotes:
Pamela: Hidup itu harus enjoy, bikin dosa yang banyak, baru deh tobat!

Storyline:
Demi mempercantik diri dan memikat cowok-cowok, Pamela menggunakan pelet dengan celana dalam pria sebagai medianya. Sebuah taruhan yang beresiko tinggi karena membuat Pamela bersekutu dengan iblis dimana nyawanya sendiri sebagai taruhannya. Telah banyak jatuh korban akibat ilmunya ini termasuk Daniel yang sebetulnya tulus menyukainya. Lain halnya dengan sahabat Pamela, Tantri yang awalnya lugu tetapi memakai santet untuk membalaskan dendam akibat diperkosa Rudy cs di sebuah bangunan tua. Vega menasihati Pamela dan Tantri untuk segera kembali ke jalan yang benar sebelum semuanya terlambat..

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Films dan press screeningnya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 30 Mei 2011 yang lalu.

Cast:
Debby Ayu sebagai Pamela
Cinta Dewi sebagai Tantri
Angie Yulia sebagai Vega
Billy Davidson sebagai Daniel
Billy As
Yudha Putra

Director:
Koya Pagayo pertama kali menggarap Panggil Namaku 3X di tahun 2005 yang lalu.

Comment:
Film yang awalnya berjudul Pelet Celana Dalam ini merupakan trademark seorang Koya Pagayo, atau mau disebut Nayato? Untuk menghormati keinginan beliau, saya gunakan nama yang pertama saja. Skrip yang ditulis oleh Herry B. Arissa ini tidak peduli apapun isinya maka outputnya akan selalu sama. Tidak jauh-jauh dari kuntilanak, cewek seksi dan ending yang sudah dapat diduga serta yang terpenting adalah logika yang patut dipertanyakan.
Entah apa motif Angie dan Billy Davidson bermain disini. Sekadar ingin eksiskah? Atau sebuah kebanggaan tersendiri pernah diarahkan sutradara paling produktif di Indonesia? Hanya mereka sendiri yang tahu jawabannya. Angie hanya terkesan menjadi sidekick sebagai Vega, nasib Billy lebih miris lagi karena tokoh Daniel yang diperankannya mati mengenaskan sebelum paruh pertama film. Spoiler? Tidak mengapa toh ini bukan suatu kejutan lagi.
Debby Ayu tampaknya sudah siap menerima predikat aktris terburuk tahun 2011 dengan “kecermatannya” memilih film-film yang diperankannya sejauh ini. Sayang sekali! Cinta Dewi mungkin merupakan satu-satunya yang masih cukup pantas dilihat disini. Peran Tantri setidaknya memiliki transformasi yang jelas dari seorang gadis geek baik-baik menjadi santet executor akibat insiden yang dialaminya.
Setidaknya Koya menghargai figur kuntilanak kali ini. Anda tidak akan melihat mbak kunti diperlakukan dengan tidak senonoh seperti yang sudah-sudah. Ia cuma disuruh menggentayangi semua tokoh disini hingga berbuat bodoh sendiri mulai dari meminum gelas berisi belatung, menusuk perut, mencekik leher dsb. Beruntung ia tidak bertanya mengapa diminta melakukan ini itunya karena dalam skenario memang tidak dijelaskan motifnya. Kasihan!
Berbicara mengenai pelet dan santet bisa jadi ada 1001 teori tidak berfakta yang mendukungnya. Kali ini maknanya dipersempit, pelet untuk menarik perhatian seseorang agar menyukai kita sedangkan santet demi mencelakakan seseorang yang tidak kita sukai. Simple as that. Bravo Koya! Jika anda tidak setuju dengan pengertian ini, silakan datangi dukun terdekat di kota tempat tinggal anda masing-masing untuk bertanya. Mudah-mudahan dukunnya baik dan berlagak dosen seperti langganan Pamela disini.
Pelet Kuntilanak tidak hanya membodohi penonton dengan eksplorasi cerita satu arah tetapi juga menggelikan karena membiarkan berbagai macam celana dalam (yang sebagian besar G-String) menghiasi scene demi scene dengan indahnya. Mudah-mudahan properti tersebut dalam kondisi baru atau setidaknya telah tercuci dengan bersih. Sebab jika tidak, bisa jadi menggagalkan proses syuting film ini yang tentunya hal terbaik yang dapat terjadi dalam industri perfilman lokal kita ini.

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 29 Mei 2011

RABBIT HOLE : Kepedihan Pasutri Kehilangan Putra Kecilnya

Quotes:
Nat: You know, Becca, when your brother died, I found the church very helpful.
Becca: I know. I know you did, but that's you. That's not me, and Danny... Danny isn't Arthur.

Storyline:
Suami istri Becca dan Howie Corbett merupakan pasangan berbahagia yang tiba-tiba dunianya hancur saat putra mereka Danny yang baru berusia 4 tahun tewas dalam kecelakaan mobil. 8 bulan berlalu tapi Becca masih saja berduka dan menentang rencana Danny yang berniat memiliki anak lagi. Karena menghabiskan hari-hari di rumah tak jarang Becca berdebat dengan ibunya Nat dan saudarinya Izzy yang tengah mengandung. Belum lagi kebiasaannya menguntit Jason yang menyebabkan Danny tewas. Keluarga Corbett pun menyadari bahwa terombang-ambing dalam kesedihan bisa saja menghancurkan apa yang telah mereka punyai bersama..

Nice-to-know:
Syutingnya membutuhkan 28 hari dan merupakan refleksi pribadi sang sutradara yang kehilangan saudara kandung laki-lakinya yang berusia 14 tahun pada saat ia sendiri berusia 10 tahun.

Cast:
Memenangi Oscar di usia 36 tahun lewat The Hours (2002), Nicole Kidman berperan sebagai Becca
Karirnya diawali di usia 24 tahun lewat film televisi Double Jeopardy (1992), Aaron Eckhart bermain sebagai Howie
Dianne Wiest sebagai Nat
Miles Teller sebagai Jason
Tammy Blanchard sebagai Izzy
Sandra Oh sebaga Gaby
Giancarlo Esposito sebagai Auggie

Director:
Merupakan film ketiga bagi John Cameron Mitchell yang karir sutradaranya diawali lewat Hedwig and the Angry Inch (2001).

Comment:
Lagi-lagi sebuah melodrama bertemakan kehilangan anak. Bedanya film ini tidak dimaksudkan untuk membuat penonton terhanyut karena lebih menekankan pada sisi satirnya. Terlihat dari interaksi antar anggota keluarga maupun orang-orang di luar lingkaran mereka yang secara tidak langsung dilibatkan juga. David Lindsay-Abaire yang mengerjakan skrip untuk pertunjukan teaternya juga ditunjuk untuk menangani versi layar lebarnya ini.
Tidak ada keraguan sedikitpun saat melihat nama Kidman dan Eckhart menjadi leading castnya. Apalagi posternya yang begitu kaya ekspresi dari keduanya. Becca yang sensitif selalu mengeluh waktunya banyak dihabiskan di rumah sehari-hari sedangkan Howie yang berusaha tegar kerapkali mendapat penolakan dari istrinya. Keduanya menampilkan ikatan yang sangat kuat disini. Anda dapat melihat kebahagiaan yang semula terpancar berubah menjadi kegetiran yang tak jarang memicu pertengkaran di antara mereka.
Sutradara Mitchell juga melakukan pendekatan yang tidak biasa dan menjadi kelebihan tersendiri. Film diawali dengan petunjuk yang sangat sedikit akan apa yang sesungguhnya terjadi pada keluarga Corbett. Namun seiring berjalannya durasi, semua terungkap dengan begitu detil dan anda akan merasa bahwa Becca dan Howie secara pribadi mungkin tidak jauh berbeda dengan tetangga anda sendiri. Perspektif anda digiring untuk bisa memahami konflik-konflik yang terjadi.
Beberapa sisi satir yang coba disampaikan berhasil menohok audiens sekaligus memancing tawa getir. Lihat saja perdebatan Becca dan Nat mengenai Tuhan ataupun kehilangan putra yang kebetulan sama-sama mereka alami walau berbeda sebab. Atau bagaimana Becca berusaha menemukan jawaban atas kegalauannya justru dari sosok Jason. Lain lagi dengan Howie yang berupaya mencari pelampiasan dari figur Gaby. Sangat manusiawi! Namun film ini tidak membiarkan hal-hal klise semacam itu merusak momen yang sudah terbangun dengan sempurna begitu saja.
Rabbit Hole akan menghanyutkan anda di setiap menitnya dengan eksekusi yang brilian dan teramat nyata. Permainan akting kelas Oscar dari Kidman-Eckhart dan juga aktor-aktris pendukung lainnya. Kelemahan mungkin hanya di bagian ending yang tidak mengkonklusikan apa-apa. Jika mau menyerahkan pada penonton untuk berpikir masing-masingpun seharusnya dilengkapi dengan kisi-kisi yang lebih tajam. Meskipun demikian, perasaan hampa akibat kehilangan memang sebaiknya disikapi dengan kerelaan dan kemauan untuk terus maju menyongsong kesempatan lain yang segera datang.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$2,221,809 till Apr 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter: