XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Kamis, 12 April 2012

KUNGFU POCONG PERAWAN : Degradasi Kreatifitas Pasangan Mengganggu


Quotes:
Mey Mey: Kita harus hormat pada kakak tertua yang lagi makan kedondong. Hai kakak kedua cium pipi aku dong!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh K2K Productions ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 9 April 2012.

Cast:
Olga Syahputra sebagai Boh Lam
Jessica Iskandar sebagai Mey Mey
Yadi Sembako sebagai Boh Siaw
Daus Mini sebagai Ang Pao
Rizky Putra sebagai Baron alias Amsyong Lu

Director:
Merupakan film kedua bagi Yoyok Dumprink di tahun 2012 ini setelah Kafan Sundel Bolong.

W For Words:
Ada satu yang menarik tatkala melihat poster film hasil desain Michael Tju beberapa bulan lalu. Pasalnya saya melihat penampakan yang sama persis dengan Kungfu Panda (2008) dimana latar belakang, warna dasar dan jenis huruf yang digunakan betul-betul jiplakan murni, lengkap dengan tagline: “Kata orang lebih dahsyat dari si panda?” Oh my God! Jika memang permintaan sang produser, maka dimana akal sehat seorang KK Dheeraj yang tak henti-hentinya membombardir masyarakat dengan karya-karya non orisinil?
Mey Mey yang merupakan kembang perguruan kungfu menaruh hati pada kakak kedua Boh Lam meskipun oleh gurunya dijodohkan dengan kakak pertama Boh Siaw. Tugas besar menanti Boh Siaw bersama dengan bocah Ang Pao yaitu mencari kitab sakti di hutan. Malangnya tak lama keduanya tewas dalam kecelakaan. Sementara itu, musuh bebuyutan Amsyong Lu dan kawanannya berhasil menculik Mey Mey sekaligus membunuh guru besar. Kini Boh Siaw dan Ang Pao yang telah menjadi pocong harus menyelamatkan Mey Mey sekaligus membalaskan dendam.

Dua hubungan “aneh tapi nyata” dihadirkan disini. Pertama, Olga Syahputra dan Jessica Iskandar yang tengah menjadi buah bibir karena diberitakan berpacaran. Nyatanya dalam film, percintaan mereka hanya dibahas di bagian pembuka dan penutup saja, itupun dengan interaksi konyol penuh dialog spontan menggelikan. Kedua, Yadi Sembako dan Daus Mini sebagai tandem pocong besar kecil yang (katanya) ahli kungfu. Ide untuk memodernisasi kostum dan penampilan mereka pasti mengingatkan anda pada Ajun Perwira dan Nycta Gina dalam Poconggg Juga Pocong.
Sutradara Yoyok Dumprink memang konsisten menghadirkan sinematografi layaknya FTV lengkap dengan ornamen musik ala Tiongkok. Entah mengapa saya yang kebetulan tumbuh dalam budaya Tionghoa merasakan pencemaran imej akan perguruan kungfu yang biasanya sakral itu. Sang guru besar diperlakukan dengan tidak senonoh oleh murid-muridnya, belum lagi tokoh Mey Mey yang seliweran tanpa latar belakang itu dengan bahasa Mandarin yang juga.. ah sudahlah. Bahkan ada adegan jiplakan dari Johnny English Reborn dimana Yadi Sembako menirukan Rowan Atkinson “menarik batu”.

Kesimpulan utuhnya adalah Kungfu Pocong Perawan samasekali tidak lucu dan tidak seru. Kelemahan skrip amat terasa menyelinap di setiap perpindahan adegan yang menandakan pergantian subplot. Humornya kering, berantemnya garing. Apa lagi yang anda harapkan? Jika terang-terangan dimaksudkan sebagai parodi mungkin bisa lebih dimaafkan. Namun mempertimbangkan banyaknya penjiplakan disana-sini yang disengaja membuat sisi kreatifitasnya terdegradasi ke tempat yang paling dalam. Mudah-mudahan film semacam ini tidak pernah mewakili wajah perfilman Indonesia!

Durasi:
77 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 11 April 2012

BATTLESHIP : Mind Your Brain For Mindless Entertainment


Tagline:
This summer, the battle for Earth begins at sea.

Nice-to-know:
Game “Battleship” itu sendiri diciptakan oleh Milton Bradley sejak tahun 1931 yang terinspirasi dari World War I.

Cast:
Liam Neeson sebagai Admiral Crane
Taylor Kitsch sebagai Alex Hopper
Alexander SkarsgÄrd
sebagai Stone Hopper

Brooklyn Decker sebagai Samantha
Rihanna sebagai Raikes
Jesse Plemons sebagai Ordy
John Bell
sebagai Angus
Tadanobu Asano sebagai Nagata

Director:
Peter Berg
yang juga dikenal sebagai aktor ini terakhir menyutradarai film layar lebar yang dibintangi oleh Will Smith yaitu Hancock (2008).

W for Words:
Sebetulnya bukan hal baru jika sebuah blockbuster action Hollywood hanya menjual tembakan dan ledakan belaka. Untuk itu pasang ekspektasi serendah mungkin terhadap produksi Universal yang satu ini meskipun trailernya cukup menjanjikan apalagi rilisnya tergolong mencuri start di bulan April sebelum masa summer movies tiba. Terilhami oleh classic board game dari Hasbro yang juga sukses menelurkan Transformers franchise, rasanya anda bisa memiliki gambaran bagaimana perwujudan skrip yang ditulis oleh duet kakak beradik Erich Hoeber dan Jon Hoebert tersebut.
Alex Hopper adalah seorang letnan Angkatan Laut yang sembrono dan tengah meminta restu dari Admiral Crane untuk meminang putrinya, Samantha. Patroli yang dilakukan oleh Alex dan Raikes menangkap signal aneh dari perairan terbuka. Pertanyaan mereka tak lama terjawab saat kaum alien dengan kekuatan penghancur luar biasa mulai menyerang dan memporak-porandakan bumi. Alex yang juga “bersaing” dengan saudaranya Stone harus berkolaborasi dengan Nagata menyusun strategi demi mengalahkan musuh yang teknologinya jauh lebih unggul itu.

Di bawah arahan Peter Berg, film ini sudah berjalan di jalur tepat dengan berfokus pada dua sisi utama. Satu, serbuan alien unik berhelm yang membuat mereka dapat membedakan sinar merah dan hijau terhadap obyek di hadapan sesuai tingkat bahayanya. Tidak ada penjelasan logis mengapa mereka menyerang bumi, penonton dibiarkan larut dalam asumsi masing-masing. Kedua, perlawanan NAVY SEALs dengan taktik cerdas untuk menanggulangi musuh lebih terlihat seperti pertarungan video game dimana penonton seakan dikondisikan langsung sebagai pengamat pertama.
Tak ada satupun karakter protagonis disini yang tidak heroik tetapi tanpa latar belakang kuat. Taylor Kitsch patut dicap sebagai aktor beruntung karena peran-peran besar selalu jatuh ke tangannya. Namun tokoh Hooper di tangannya terasa dipaksakan berjiwa patriotik dengan superioritas tinggi dimana karismanya masih amat kurang. Asano jauh lebih berwibawa sebagai Kapten Nagata, Liam Neeson membawakan tone yang itu-itu saja sebagai Crane yang penggerutu, Rihanna yang hanya kebagian satu/dua kata dialog singkat diiringi dengan lari kesana kemari, Decker yang berfungsi sebagai pemanja mata, kesemuanya tidak akan memorable bagi anda selepas meninggalkan bioskop.

Bagaikan perpaduan Independence Day (1996) dan Transformers (2007), efek CGI digunakan secara efektif untuk menyajikan grafis pertempuran yang memukau. Kehancuran besar-besaran terhadap planet kita tercinta yang diwakili oleh segelintir negara ini dihadirkan secara singkat tanpa eksploitasi berlebihan. Namun kontribusi sound dan music department sangat mengingatkan kita pada Transformers : Dark of the Moon (2011) dimana suara bising dentuman disana-sini saya rasakan lumayan mengganggu indera pendengaran tapi setidaknya dalam skala yang lebih tolerable.
Terbukti Battleship masih mengusung patriotisme yang kental terutama dari sudut pandang Amerika Serikat, lihat bagaimana pensiunan tentara perang mendapat “penghargaan” tersendiri menjelang akhir. Plot cerita yang kosong dan karakterisasi yang lemah setidaknya tertutupi rapat oleh suguhan aksi yang intens dan visualisasi yang mencengangkan. Sudah cukup alasan bagi anda untuk duduk anteng melalui durasi yang sedikit terlampau lama itu. You got ships and battles in preceeding, should not mind with the mindless entertainment sometimes, right?

Durasi:
131 menit


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6

6-poor

6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good

9-excellent

Selasa, 10 April 2012

HOUSEFULL 2 : Laugh Riot But Sometimes Failed Chuckles


Tagline:
The Dirty Dozen.

Nice-to-know:
Film berbujet INR 450,000,000 ini rilis 5 April 2012 di Indonesia, sama seperti di negara asalnya.

Cast:
Akshay Kumar sebagai Jolly 1 / Sunny
Asin sebagai Henna
John Abraham sebagai Jolly 2 / Max
Jacqueline Fernandez sebagai Bobby
Shreyas Talpade sebagai Jolly - 3 / Jai
Shazahn Padamsee sebagai Parul
Ritesh Deshmukh sebagai Jolly - 4 / Jwala
Zarine Khan sebagai JLo
Rishi Kapoor sebagai Chintu Kapoor
Randhir Kapoor sebagai Daboo Kapoor
Boman Irani sebagai Batook Patel
Mithun Chakraborty sebagai JD alias Jaggu Daaku

Director:
Sajid Khan menggarap film keempatnya sejauh ini yang justru awal karirnya diawali dengan genre horor yaitu You Must Be Scared (2006).

W for Words:
Saya tidak menyaksikan Housefull (2010) yang juga dibintangi oleh Akshay Kumar dan digarap oleh Sajid Khan tetapi menyempatkan diri untuk membaca sekilas ulasan yang kebanyakan melayangkan kritik pedas terhadap komedi yang mencetak sukses komersil ini. Sajid Khan bersama dengan Sajid Nadiadwala dan Farhad Sajid kembali berkolaborasi dalam menulis skrip tanpa alur dan benang merah yang jelas, murni mengandalkan adegan slapstick dan dialog penuh humor yang dominan di sepanjang durasinya.

Daboo dan Chintu adalah dua saudara tiri yang saling bersaing untuk mendapatkan menantu kaya bagi putri-putri mereka yaitu Bobby dan Henna. Jai dan Jolly, putra pria terkaya di Inggris – JD lantas mengutus Max dan Sunny ke rumah Kapoor sebagai Jolly. Padahal Max dan Sunny pernah berseteru karena seorang gadis bertahun-tahun silam. Kini reuni keduanya justru membutuhkan kekompakan untuk menuntaskan misi mereka sekaligus menemukan jodohnya masing-masing.
Dengan selusin casts yang terkesan ramai itu, Akshay Kumar berhasil menghibur dengan gaya komedinya yang elegan meski erangannya yang diulang-ulang itu cukup mengganggu. John Abraham memang tidak selugas biasanya dalam melucu tetapi karismanya tetap menjual. Dimana keduanya tampil pasti tercipta sebuah action yang menarik terlepas dari naturalisasi cerita yang mengkhususkan diri untuk itu. The duo’s sequences together are quite entertaining. Kehadiran Ritesh Deshmukh yang charming itu tergolong lebih efektif dibandingkan Shreyas Talpade yang porsinya lebih minor. Sayangnya empat aktris utama tak lebih dari fungsinya sebagai pemanis belaka.

Plot cerita yang lemah dan mudah ditebak tersebut justru diperparah dengan kebingungan sutradara Sajid Khan menyatukan kepingan demi kepingannya. Percakapan yang tercipta memang cukup menggigit tapi berkali-kali gagal menyentuh sisi humoris yang diinginkan. Beruntung lagu-lagunya amat berpotensi menarik perhatian, terima kasih pada Anarkali disco chali dan Pappa toh band bajaayein yang diyakini mampu membuat anda bergoyang menikmati koreografi unik dari aktor-aktrisnya yang tersaji di hadapan anda.
Housefull 2 diciptakan sebagai komedi “keras” yang dapat dinikmati jika anda mau mengesampingkan intelejensi. Cukup duduk manis menikmati adegan demi adegan yang disuguhkan dalam durasi yang seperti biasa panjang! Paruh pertama lebih menyenangkan tapi premisnya tidak cukup kuat untuk membawa masalah melewati intermission. Paruh kedua diawali dengan menjanjikan tapi justru kesenangannya semakin memudar hingga ditutup dengan klimaks yang dipaksakan. So, everybody’s happy? Kita jelas butuh alasan untuk tertawa, tentunya harus melewati proses tersenyum terlebih dulu.

Durasi:
145 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:



Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 09 April 2012

[REC] 3 : GENESIS Wrong Approach But Pleasant Mixed Ups


Tagline:
Two radically different films from Paco Plaza and Jaume BalaguerĂł.

Nice-to-know:
Diproduksi keroyokan oleh Canal+ España, Filmax, Ono, Rec Génesis A.I.E., Televisió de Catalunya (TV3) dan Televisión Española (TVE).

Cast:
Leticia Dolera sebagai Clara
Diego MartĂ­n sebagai Koldo
Javier Botet sebagai Niña Medeiros
Àlex Monner sebagai Adrián
Mireia Ros sebagai Menchu

Director:
Paco Plaza melanjutkan apa yang sudah dimulainya dalam [Rec] (2007) dan [Rec] 2 (2009).

W for Words:
Film yang sempat diputar pada ajang South by Southwest Film Festival di USA pada tanggal 9 Maret 2012 yang lalu ini merupakan episode lain dari [Rec] (2007) yang fenomenal tersebut hingga diremake oleh Hollywood menjadi Quarantine (2008). Masih dari tangan pionir yang sama yaitu Paco Plaza, ia bersama penulis skrip lainnya yakni Luiso Berdejo kini menghadirkan drama thriller horor yang bersetting di sebuah acara pernikahan.
Clara dan Koldo yang saling mencintai sepakat untuk menikah dalam resepsi sederhana sepanjang hari yang dihadiri oleh keluarga, kerabat dan sahabat dekat mereka. Ketika paman Victor yang tengah sakit menyerang tamu wanita tua, infeksi mulai menjalar dari satu orang ke orang lain. Kepanikan melanda hingga memisahkan Clara dan Koldo yang sama-sama berjuang untuk bertemu kembali sekaligus mempertahankan nyawa masing-masing dari serangan zombie ganas membabi buta.

Jika anda mengharapkan trademark [Rec] dalam installment ketiganya ini bisa jadi kecewa karena konsep camcorder handheld yang “biasa” diusung oleh sutradara Paco Plaza cuma bertahan selama 22 menit pertama lewat sudut pandang sang videografer pernikahan profesional. Selebihnya tidak berbeda dengan film zombie kebanyakan dimana sinematografi konvensional tersaji dalam narasi linier yang pada akhirnya mengambil kejadian sebelum film pertama.
Tak dinyana, Diego Martin dan Leticia Dolera merupakan pasangan protagonis yang mudah disukai penonton. Keduanya elok dan terlihat saling mencintai. Usaha mereka untuk tetap selalu bersama akan menggugah simpati dan geregetan secara bersamaan. Perlawanan yang akhirnya dilakukan terhadap zombie bisa jadi mengundang tepuk tangan riuh audiens, lihat bagaimana Koldo melengkapi dirinya dengan baju besi dan pedang yang dipinjamnya dari makam atau Clara bertransformasi menjadi bridezilla dengan gergaji listrik di tangannya. Epic!

Tidak mudah memang untuk menggabungkan unsur komedi, horor dan romantika sekaligus. Humornya sedikit lebih dominan tapi terasa predictable sehingga kelucuannya tidak maksimal. Horornya masih mengandalkan make up dan darah yang cukup efektif. Sedangkan romantikanya terkesan naĂŻf dan sarkastik meski lumayan berhasil menjaga tensi yang diinginkan. Sesungguhnya saya berhasil dipuaskan oleh [Rec] 3 ini sehingga ingin memberinya nilai 7.5. Namun seiring hilangnya gaya mockumentary kuat dari franchise [Rec] membuat saya harus menurunkannya satu bar. Still a pleasant presentation from a bunch of zombies who trying to ruin sweet Latinos couple’s big day!

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 08 April 2012

THE LADY : Biopic Fights For Democracy And Freedom


Quotes:
Suu Kyi: It is not power that corrupts but fear. Fear of losing power corrupts those who wield it and fear of the scourge of power corrupts those who are subject to it.

Nice-to-know:
Penulis skrip Rebecca Frayn menghabiskan waktu tiga tahun setelah proses interview langsung dengan tokoh-tokoh di sekitar Aung San Suu Kyi demi rekonstruksi cerita yang mendekati aslinya.

Cast:
Michelle Yeoh sebagai Aung San Suu Kyi
David Thewlis sebagai Michael Aris
Jonathan Raggett sebagai Kim Aris
Jonathan Woodhouse sebagai Alexander Aris
Susan Wooldridge sebagai Lucinda Philips
Benedict Wong sebagai Karma Phuntsho

Director:
Luc Besson tahun lalu menggarap dua film sekaligus yaitu The Extraordinary Adventures of AdĂšle Blanc-Sec dan Arthur 3: The War of the Two Worlds.

W for Words:
Masyarakat Asia seharusnya mengenal sosok Aung San Suu Kyi, seorang wanita pejuang kemerdekaan di Burma, Myanmar. Jika tidak maka inilah kesempatan anda untuk mengikuti jejaknya dalam sebuah biopic karya Luc Besson. Saya tidak salah sebut dan anda pun tidak salah dengar mengingat sineas Perancis yang satu ini memang populer dengan film-film aksinya. Tentunya sebuah pertaruhan besar bagi filmmaker Eropa dalam menggarap film berlatar belakang Asia walau di sisi lain menguntungkan karena jangkauan pasar akan lebih luas.
Suu Kyi yang berusia 3 tahun sudah ditinggal ayahnya yang tewas ditembak karena dianggap pengkhianat. Tumbuh dewasa sebagai seorang ibu rumah tangga bersuamikan pengajar Oxford yaitu Michael Aris, Suu Kyi mulai memasuki ranah politik karena melihat ketidakadilan yang diterapkan oleh pihak militer Burma. Keberaniannya memang berhasil menggerakkan masyarakat sebelum berakhir tatkala menjadi tahanan rumah selama 15 tahun. Michael dan kedua putra mereka, Kim dan Alexander mencari segala cara untuk mengambil simpati dunia termasuk melobi petinggi Nobel.

Michelle Yeoh merupakan aktris Asia yang sudah memiliki nama di dunia internasional. Pemilihannya sebagai Suu Kyi memang bijak karena karismanya yang anggun sudah demikian kuat terpancar dari sorot mata dan intonasi suaranya. Kemampuan Yeoh menggunakan bahasa Inggris dan Burma secara simultan juga tergolong mengagumkan. Mohon tidak membandingkannya dengan Meryl Streep sebagai Margaret Thatcher dalam The Iron Lady (2011) hanya karena jarak rilis yang berdekatan.
Pemisahan suami istri ataupun ibu dengan anak-anaknya dalam jarak dan kesempatan yang mustahil merupakan adegan yang paling memilukan disini. Anda mungkin berkali-kali menitikkan air mata melihatnya, saat putra Suu Kyi berpidato saat mewakilinya menerima Nobel Perdamaian di Norwegia atau ketika Michael divonis mengidap kanker di saat bersemangat merayakan hari ulang tahunnya. Chemistry Thewlis dan Yeoh memang lembut, mereka tidak rutin bertukar kata-kata cinta klise tetapi momen saling menenangkan sudah membuat penonton mengerti betapa besar cinta keduanya.

Sutradara Besson mungkin salah satu faktor The Lady tidak mampu mencapai klimaks yang diinginkan. Pemilihan ritme yang turun naik membagi fokus antara aspek politik dan keluarga memang sedikit mengganggu apalagi tidak banyak penjelasan historis krusial tentang ujung pangkal suatu tahapan. Meski begitu jika anda mau mengabaikan kelemahan tersebut, pasti akan melebur dalam perjalanan Suu Kyi yang luar biasa sebagai ikon pejuang demokrasi dan kebebasan sekaligus menempatkan Pemerintah Burma dalam posisi yang kurang menguntungkan. Sebuah ajaran tegas untuk memerangi ketakutan daripada memenjarakan kebenaran.

Durasi:
132 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 07 April 2012

ACT OF VALOR : Heroic Courage Real-Life Heroism


Tagline:
The only easy day was yesterday.

Nice-to-know:
Film ini dibintangi oleh tentara Navy SEALs dan SWCC Amerika yang sesungguhnya demi menghindari kekecewaaan akan sedikit penyimpangan fakta.

Cast:
Alex Veadov sebagai Christo
Roselyn Sanchez sebagai Lisa Morales
Nestor Serrano sebagai Walter Ross
Jason Cottle sebagai Abu Shabal
Emilio Rivera sebagai Sanchez

Director:
Merupakan kolaborasi feature film pertama bagi Scott Waugh dan Mike McCoy setelah sebuah dokumenter pendek Navy SWCC di tahun 2007.

W for Words:
Pernah menyaksikan film bertemakan perang sebelumnya? Saya yakin sudah dalam berbagai kualitas mulai dari baik hingga buruk sekalipun. Kali ini penulis skrip Kurt Johnstad menjaga plot cerita sesederhana mungkin yaitu seorang agen CIA -yang bukan kebetulan adalah seorang wanita- diculik di Costa Rica hingga para petinggi menugaskan 8 anggota NAVY SEALs yang dipimpin Letnan Rorke dan Chief Dave untuk menyelamatkan sekaligus membekuk otaknya yaitu Christo dan Abu Shabal walau harus keliling dunia dengan tanggungan resiko yang tidak mudah yaitu nyawa mereka sendiri.

Adegan pembuka yang memperlihatkan Roselyn Sanchez disiksa secara brutal demi mendapatkan informasi mungkin akan membuat anda terpekik. Tidak heran jika dialah satu-satunya wajah yang anda kenal disini, selebihnya para aktor yang bermain merupakan anggota NAVY SEALs yang asli mulai dari penembak jitu, petarung di darat, air sampai ahli komando. Ketidakpedulian untuk memperkenalkan nama satu persatu bisa jadi menjelaskan bahwa sutradara Mike McCoy dan Scott Waugh hanya menuntut aksi mereka untuk menuntaskan misi dengan meminimalisir jatuhnya korban.
Pada kehidupan nyata, mereka adalah suami sekaligus ayah dari istri dan anak-anaknya yang harus menerima kenyataan pahit melepas kepergian pria yang dicintainya dengan resiko 50:50 kembali selamat! Namun di lapangan, penonton akan menjadi saksi bagaimana mereka amat mahir menyusun strategi, menggunakan senjata ataupun berkelahi tangan kosong. Interaksi minimum sempat tercipta saat pertukaran dialog antara Letnan Rorke dan Chief Dave yang menjadi highlight menarik film.

Act of Valor yang lebih terasa sebagai video game combat dibandingkan sebuah action thriller ini menjual maskulinitas para tentara yang berani menyambang nyawa tatkala menyergap musuh di medan perang yang asing sekalipun. Serentetan realisasi adegan dibuat senyata mungkin oleh McCoy-Waugh termasuk menggunakan handheld camera di beberapa bagian yang tak jarang membuat mata anda tak berkedip sambil menahan nafas. Meski demikian kesan superioritas Amerika Serikat di sepanjang film tak dapat dihilangkan begitu saja. Well, propaganda or not, u can judge by the humanity sides.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$56,092,474 till March 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 06 April 2012

TITANIC 3D : Full Steam Reminiscence Of Its Sinking You’ll Never Forget


Quotes:
Rose: Jack, I want you to draw me like one of your French girls. Wearing this...
Jack: All right.
Rose: Wearing *only* this.

Nice-to-know:
Memegang rekor dengan menempati posisi puncak box office Amerika Serikat selama 15 minggu berturut-turut mulai dari 19 Desember 1997 hingga 2 April 1998.

Cast:
Leonardo DiCaprio sebagai Jack Dawson
Kate Winslet sebagai Rose DeWitt Bukater
Billy Zane sebagai Caledon 'Cal' Hockley
Kathy Bates sebagai Molly Brown
Frances Fisher sebagai Ruth Dewitt Bukater
Gloria Stuart sebagai Old Rose
Bill Paxton sebagai Brock Lovett
Bernard Hill sebagai Captain Edward James Smith

Director:
Merupakan pemenang Academy Award kategori Best Picture pertama yang diproduseri, disutradarai, ditulis sekaligus diedit oleh orang yang sama yaitu James Cameron.

W for Words:
Salah satu dari sedikit film yang menyandang predikat nyaris sempurna menurut saya ini pertama kali beredar pada akhir tahun 1997 dan sukses mencatatkan diri sebagai film terlaris sepanjang masa sebelum dipatahkan oleh karya teranyar James Cameron lainnya yaitu Avatar (2010). Faktanya adalah saya pertama kali menyaksikannya di vcd bajakan dengan kualitas belum 100% bersama seluruh anggota keluarga sambil menantikan detik-detik pergantian tahun 1998. Tidak usah heran karena pada waktu itu saya belum menonton film di bioskop sefrekuentif sekarang.
14 tahun berlalu, memperingati 100 tahun peristiwa naas yang tak terduga tersebut, Cameron merilisnya kembali dalam format 3D dengan embel-embel “pengalaman bersinema yang paling dalam dan dinamis mengenai perjalanan kapal Titanic itu sendiri”. Pernyataan yang menurut saya tidak sepenuhnya benar tetapi efek 3D nya jelas sukses menghadirkan kedalaman gambar yang lebih tajam dan jernih yang tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi layar bioskop masa kini.

Esensi menyaksikan kembali bagi sebagian besar orang ternyata bukan karena 3D melainkan tujuan bernostalgia yang manis terutama dengan orang-orang terkasih. Sinematografi yang dihasilkan samasekali tidak terkesan lawas, hal ini dikarenakan Cameron sudah menggunakan teknologi canggih pada jamannya sehingga dapat dikategorikan timeless. Skrip yang juga ditulisnya sendiri memang masih berisi romantika picisan antara dua orang dari kelas sosial berbeda tetapi bukan itu yang menjadi fokus penonton melainkan sisi emosional yang campur aduk antara iba, simpati, trenyuh dan sebagainya.
Gaya penceritaan Cameron tergolong menakjubkan sehingga durasi 195 menit tidak terasa lambat. Keragaman karakter yang diusungnya berhasil menjembatani berbagai konflik yang dilandasi oleh kesenjangan antar kasta yang tercermin dari pembagian lantainya, sebuah masalah abadi yang akan selalu terjadi dimanapun. Lihat bagaimana kalangan atas sibuk menyombongkan kekayaan masing-masing dalam pesta mewah membosankan, berbanding terbalik dengan kalangan bawah bersenang-senang dengan cara yang sederhana lewat iringan musik dan bir murahan.

Hal tersebut memicu kemudian akan pertunangan yang tak diinginkan antara Rose dan Cal, perjumpaan yang tak terduga antara Jack dan Rose, pertahanan status sosial yang diupayakan Ruth, persamaan martabat yang diusahakan Molly atau pengorbanan mulia Kapten Edward dan para krunya. Kesemua tokoh seakan digariskan dalam suratan takdir yang mengharuskan mereka berada pada tempatnya masing-masing. Saya tahu ini hanyalah fiksi belaka tapi akting dan chemistry luar biasa dari Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet yang masing-masing berusia 23 dan 22 tahun pada waktu itu membuat semuanya kian hidup.
Titanic memang tak terpisahkan dari sinema itu sendiri. Kronologis karam yang demikian megah amat layak dinikmati via layar besar demi mendapatkan suasana mencekam tak terbayangkan yang dilengkapi dengan sound efek yang menggetarkan. 3D nya memang menyempurnakan modernisasi tapi tetap tidak dapat menggantikan pengalaman menonton film ini untuk pertama kalinya (sejujurnya selalu merasa demikian walau sudah berkali-kali melihatnya). Original score dari James Horner terlebih hit My Heart Will Go On dari Celine Dion akan selalu menghantui saya seumur hidupnya tanpa harus disesali. Definitely one of the most amazing wonderful movies of the 20th Century that will never be forgotten!

Durasi:
195 menit

U.S. Box Office:
$600,779,824 till Sept 1998

Overall:
9 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 05 April 2012

ENAK SAMA ENAK : Lawak Nyablak Ala Teamlo


Quotes:
Tante Ros: Hah? Udah gak bayar kos, pake minta ongkos?


Nice-to-know:
Film yang diilhami oleh Warkop DKI ini screeningnya diadakan di Senayan City XXI pada tanggal 2 April 2012.


Cast:
Wawan Teamlo

Ade Teamlo
Kudil
Teamlo
Argo Teamlo sebagai Toro
Avis Teamlo

Dondot Teamlo

Bobby Teamlo

Eko DJ
sebagai Ayah Kudil
Kiki Fatmala

Ezra Pingky
Farida Gaynullina
sebagai Jenifer
Nita Ferlin
Garneta Haruni

Director:
Merupakan film ketiga bagi Chiska Doppert yang mengawali karirnya sebagai alter ego Nayato Fio Nuala.


W For Words:
BIC Productions dan Mitra Pictures tampaknya sudah sepakat untuk mengerjakan 2 proyek film kolaborasi sekaligus dalam waktu 1 bulan! Baru saja kita disuguhi Love Is Brondong, kini hadir lagi sebuah remake -saya lebih suka menyebutnya begitu- serupa tapi tak sama dari film lawas tahun 1990an yang dibintangi oleh Warkop DKI. Bedanya kali ini yang diorbitkan adalah Teamlo alias Tim Humor Solo yang beranggotakan 7 orang masing-masing Argo, Avis, Dondot, Bobby serta trio Wawan, Kudil, Ade yang lebih dikedepankan.
Tiga mahasiswa dengan modal pas-pasan ngekos di tempat Tante Ros yaitu Wawan, Kudil dan Ade yang masing-masing memiliki tipe gadis idaman yang berbeda. Kehadiran si bule Jenifer di kampus mereka membuat ketiganya berbalik arah. Kudil yang mengaku anak juragan jengkol meminta kiriman mobil terbaru oleh bapaknya di kampung. Mobil diantar Toro yang juga terpikat oleh Jenifer. Masalah semakin rumit ketika Bapak Kudil nekad datang ke Jakarta dan bersaing untuk memperebutkan wanita. Siapa yang tertawa paling akhir?
Semoga motivasi filmmakers dalam menggarap proyek ini murni karena penghormatan terhadap Warkop DKI, bukan karena kehabisan ide segar yang sulit mendatangkan profit. Aditya Sugandi, Djaffar Lesmana, Universal Nikko yang mengerjakan skripnya memang berupaya membawa penonton ke tahun 1990an dimana komedi situasi tradisional masih berjaya dalam mengocok perut sekaligus menghibur semua lapisan masyarakat.Sayangnya pecinta film nasional kini belum tentu mengusung idealisme serupa.

Ade, Wawan, Kudil tampak terinspirasi oleh Dono, Kasino, Indro dalam memainkan intonasi suara, ekspresi wajah hingga bahasa tubuh. Beruntung mereka masih bisa “menyanyi” walaupun dengan gaya slengean dan lirik lagu acak adut yang terasa dipaksakan rimanya. Mayoritas humor yang tercipta dari dialog antar personil Teamlo tergolong garing, cuma sebagian kecil yang berhasil mengundang senyum tersungging di bibir penonton. Para pemeran pendukung di luar tim humor Solo pun cukup apik berakting terutama dari jajaran senior macam Eko DJ yang mata keranjang itu.


Sutradara Chiska wajib mengambil rehat sejenak meskipun garapannya kali ini harus saya acungi jempol karena berhasil lepas dari tipikal film-film sebelumnya. Enak Sama Enak tampil apa adanya dan sederhana terlepas dari pengikatan cerita yang kurang terencana. Sederetan adegan slapstick dierahkan demi menutupi kelemahan tersebut yang sayangnya belum tentu diapresiasi oleh penonton modern. Pada akhirnya Teamlo pun terasa lahir dua dekade lebih lambat untuk membawakan lawakan nyablak semacam ini.


Durasi:

80 menit


Overall:
6 out of 10


Movie-meter:

Rabu, 04 April 2012

SEEFOOD : Example Of Bad Animation Should Be


Tagline:
The sharks are coming.. to the land!!

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Sea Level ini rencananya akan tayang di Amerika Serikat bulan Oktober 2012 mendatang.

Cast:
Gavin Yap sebagai Julius
Diong Chae Lian sebagai Pup
Steven Bone sebagai Lanky
Colin Chong sebagai Lee
Choong Chi-Ren sebagai Fatman
Jason Cottom sebagai Larry
Kennie Dowle sebagai Octo

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Aun Hoe Goh.

W for Words:
Melihat trailernya di Blitzmegaplex mungkin tidak banyak orang yang menyangka bahwa film ini adalah produksi Malaysia. Premisnya mengingatkan kita pada Finding Nemo (2003) dan Shark Tale (2004) dimana tokoh utamanya memiliki warna yang kurang lebih sama. Tidak ada salahnya jika terdapat kemiripan disana-sini jika tetap dilandasi dengan ide cerita yang orisinil. Namun tidak demikian dengan animasi 3D pertama dari Silver Ant Sdn. Bhd yang sukses membuat kening saya berkerut sepanjang film.
Hiu bersirip putih, Julius dan hiu bambu, Pup adalah dua sahabat karib. Pada suatu hari, para penyelam mencuri telur-telur yang belum menetas dari sarangnya. Dilandasi kemarahan dan tekad yang bulat, Pup nekad melancong ke dunia manusia di pesisir pantai untuk menyelamatkan kawanannya. Julius panik mengetahui misi Pup itu dan meminta bantuan Octo, Martle cs untuk menyusul ke darat menggunakan peralatan canggih yang terkubur di dasar samudera sekaligus bertualang untuk pertama kalinya.

Entah apa yang ada di pikiran Jeffrey Chiang saat menulis skrip ini. Padahal tokoh-tokohnya lumayan cute dimana penonton seharusnya bersimpati pada mereka. Faktanya semua permasalahannya terangkat dan terselesaikan dengan mentah tanpa banyak penjelasan. Penonton dipaksa memaklumi konsep film anak-anak sehingga keunikan Pup yang bisa hidup di dua dunia pun dianggap wajar. Pesan moral yang biasa disisipkan dalam film animasi pun kali ini luput dari perhatiannya. Gosh!
Sutradara Aun Hoe Goh semakin memperparah dengan penyutradaraannya yang tidak maksimal. Tiga hal yang paling mengganggu adalah editing buruk yang amat mempengaruhi sekuensi adegan satu dengan lainnya, scoring music yang terlampau kasar sehingga adegan di dalam laut seperti membuat saya berada di dalam akuarium dengan udara terbatas serta inkonsistensi angle camera dimana terkadang Pup terlihat lebih besar dibandingkan obyek-obyek di sekitarnya.
Dialog yang tercipta antar tokohnya juga terkesan kosong tanpa humor wajar wajib untuk memancing sedikit tawa. Come on! It’s a kid movie, at least they deserved to be happy during the show! Tokoh-tokoh manusianya justru mengingatkan saya pada serial Ipin & Upin. Terdapat banyak sekali korelasi yang tidak mendukung cerita secara benar seperti armada belut listrik bermata merah yang siap mengambil tahta samudera, ibu dan anak yang mengendarai mobil di malam hari, serangan kepiting menggunakan kelapa yang gagal segagal-gagalnya.

Jika saja ada kuisioner yang diberikan saya selepas menonton, maka lembar tersebut tidak akan memakan waktu lama untuk diisi dengan mencentang kotak di kolom paling kiri alias buruk/poor di semua aspeknya. Tanpa balutan action yang setidaknya lumayan menegangkan dan konklusi lemah yang menutup film samasekali membuat saya hanya duduk termangu di dalam bioskop selama lebih dari satu setengah jam untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa Seefood merupakan animasi terburuk yang pernah saya saksikan sepanjang hidup bahkan kartun sederhana yang bergulir seiring credit title masih lebih menarik!

Durasi:
93 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 01 April 2012

EVA : Straight-forward Drama With Sci-Fi Background


Quotes:
Alex Garel: What do you see when you close your eyes?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh EscĂĄndalo Films S.L., Ran Entertainment dan Saga-Productions ini pertama kali tayang pada ajang Venice Film Festival bulan September 2011 yang lalu.

Cast:
Daniel BrĂŒhl sebagai Alex Garel
Marta Etura sebagai Lana
Alberto Ammann sebagai David Garel
LluĂ­s Homar sebagai Max
Claudia Vega sebagai Eva
Anne Canovas sebagai Julia

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Kike MaĂ­llo setelah dua film pendek dan satu serial televisi.

W for Words:
Dinominasikan dalam 12 kategori hingga akhirnya memenangkan 3 penghargaan minor dalam ajang festival film Goya Awards 2012 tentunya bukan prestasi sembarangan. Sergi Belbel, Cristina Clemente, MartĂ­ Roca, Aintza Serra secara kompak mengerjakan skrip yang memadukan unsur drama, fantasy dan science fiction sekaligus dalam sebuah produksi Spanyol yang mungkin akan mengingatkan anda pada produksi Hollywood bergenre sejenis di masa silam, sebut saja A.I. (2001) yang fenomenal itu.
Tahun 2041, Alex Garel ternama sebagai programmer robot yang kembali ke kampung halamannya setelah 10 tahun hijrah. Disanalah sahabatnya Julia memberi Alex pekerjaan yaitu menciptakan robot prototype anak-anak yang baru. Pertemuannya dengan adik kandungnya, David dan istrinya Lana yang juga mantan kekasihnya membangkitkan kenangan lama apalagi kehadiran Eva yang notabene kemenakan Alex. Lantas Alex meminta bantuan Eva untuk menjadi inspirasinya sampai terlibat jauh dalam proyek yang membuka kisah masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Melihat poster dan trailernya (yang kemudian didukung oleh opening act menggigit) tentu tidak heran jika anda mengharapkan sebuah thriller sains fiksi yang emosional. Apalagi premisnya sendiri berkisah mengenai hubungan kekasih dan mantan, orangtua dan anak, kakak beradik yang notabene mampu memupuk chemistry kental di antara karakteristik yang demikian beragam dari tokoh-tokoh utamanya. Namun sutradara Kike MaĂ­llo tampaknya lebih memilih pendekatan drama runut dengan tempo lambat yang lumayan menyiksa.
Terlalu sedikit jumpy or shocking scenes yang mampu menjaga animo penonton untuk tetap antusias mengikutinya. Identitas asli Eva sebetulnya tidak terlalu sulit diterka sejak awal tapi kemunculan Alex yang terasa tiba-tiba sedikit dipertanyakan. Motifnya kurang kuat dan pada akhirnya tidak membawa penyelesaian apapun terhadap konflik-konflik yang membubung selama narasi berjalan. Meski demikian akting Bruhl, Etura dan Vega terbilang memikat dalam membawakan kebekuan hubungan satu sama lain yang terjadi karena situasi dan kondisi yang berada di luar kendali.

Harus saya katakan, EVA memang menjual strategi yang salah (entah disengaja pihak publicist atau tidak), seakan membohongi calon penontonnya untuk percaya bahwa ada spekulasi intelek yang patut ditunggu di akhir cerita. Nyatanya film ini samasekali tidak menawarkan hal baru yang mencengangkan selain refleksi mendalam tentang identitas dan kepribadian manusia yang tak jarang terbentuk secara alamiah lewat interaksi dengan orang-orang di sekitar selain sifat dasarnya masing-masing. Still a decent movie though but apparently what do you see in EVA might makes you want to close your (sleepy) eyes!

Durasi:
94 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent