XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Rabu, 11 Januari 2012

TEXTUALITY : Sekelumit Komunikasi Mutualisme Via BBM

Tagline:
Commiting is hard when you’re this used to roaming.


Storyline:
Kekecewaan melanda Breslin, Erin yang dicintainya membatalkan pernikahan mereka. Berbulan-bulan Breslin berusaha bangkit dengan bantuan sahabatnya. Di sisi lain, Simone yang menjalin hubungan dengan pria beristri Clive menyalurkan kesepiannya dengan belajar melukis. Keduanya tanpa sengaja dipertemukan lewat sebuah insiden hingga sepakat meninggalkan banyaknya hubungan tanpa ikatan masing-masing yang terjalin lewat komunikasi BBM.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Strident Films dan langsung rilis dalam format DVD di Amerika Serikat pada tanggal 23 Agustus 2011.

Cast:
Jason Lewis sebagai Breslin
Carly Pope sebagai Simone
Eric McCormack sebagai Clive
Liam Card sebagai Michael
Kris Holden-Ried sebagai Colin
Kristen Hager sebagai Dani

Director:
Film layar lebar keenam bagi Warren P. Sonoda yang diawali dengan Ham & Cheese (2004).

Comment:
Ponsel Blackberry yang diproduksi oleh RIM, sebuah perusahaan Kanada telah berhasil menjadi bagian dari gaya hidup masa kini. Keunggulannya adalah aplikasi BBM yang mampu menjembatani komunikasi secara luas tanpa henti. Strident Films melihat peluang ini untuk memproduksi sebuah film bertemakan hubungan (sebut saja) cinta antara pria dan wanita yang dipicu oleh BBM. Liam Card ditunjuk sebagai penulis skripnya dengan sentralisasi cerita ada pada tokoh Breslin dan Simone.
Permasalahan dasar adalah kita tidak mengenal siapa itu Breslin dan Simone, hanya dijelaskan profesi keduanya lewat sekelumit adegan sambil lalu. Informasi yang didapat adalah mereka menjalin multi-relationship dengan beberapa orang baik dengan atau tanpa perasaan. Breslin seakan mencari pelarian setelah pernikahannya batal sedangkan Simone kesepian karena berhubungan dengan pria beristri. Pembenaran yang semu pun ditempuh oleh masing-masing dengan caranya sendiri.

Sutradara Sonoda seakan tidak memahami pengetahuan tentang kasih sayang manusia, konsep hubungan antara dua orang hingga hidup itu sendiri. Semuanya terangkum dalam eksekusi drama datar yang berusaha dijejali dengan humor kering. Berbagai adegan seksual yang diselipkan disana-sini juga tidak berhasil memberikan kesan seksi samasekali selain menegaskan bahwa insting alami seorang manusia adalah memenuhi kebutuhan seksnya saja?
Textuality adalah sebuah film mentah dengan skrip yang tidak berbobot karena ditulis tanpa hati dan semangat positif untuk menyadarkan jiwa-jiwa yang hilang di luar sana. Atau justru ini semacam sentilan bagi masyarakat jaman modern yang semakin egois dan individualis? Blackberry hendaknya digunakan sebagai sarana silaturahmi, bukan pengganti esensi absurd dari hubungan antara dua pihak tersebut. Satu-satunya nilai plus disini adalah tampilan dialog yang tak jarang berformat kalimat chatting BBM, membuat anda tersenyum-senyum menertawakan kebiasaan diri sendiri.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 10 Januari 2012

DON’T BE AFRAID OF THE DARK : Misteri Penghuni Ruang Bawah Tanah

Tagline:
Fear is never just make believe.


Storyline:
Gadis kecil Sally dikirim oleh ibunya kepada ayahnya Alex yang kini tinggal bersama kekasih barunya yang juga seorang arsitek muda, Kim. Rumah megah bergaya klasik tersebut awalnya dimiliki seorang pelukis yang secara misterius menghilang begitu saja. Kini Kim yang turut mendesain dan mendekor ulang berusaha mendekatkan diri pada Sally yang lebih tertarik bermain di ruang bawah tanah rumah.Ia tidak menyadari bahwa dalam kegelapan, ada sesuatu yang mengintai.

Nice-to-know:
Guillermo del Toro sempat muncul sebagai cameo di film ini yaitu penumpang di belakang Sally di dalam pesawat.

Cast:
Katie Holmes sebagai Kim
Guy Pearce sebagai Alex
Bailee Madison sebagai Sally
Jack Thompson sebagai Harris

Director:
Merupakan debut feature film bagi Troy Nixey yang pernah menangani film pendek berjudul Latchkey's Lament (2007).

Comment:
Saya acungkan jempol bagi anda yang pernah menyaksikan versi originalnya yang digagas oleh Nigel McKeand di tahun 1973. Kali ini Guillermo del Toro dan Matthew Robbins menyempurnakan skripnya untuk sebuah remake fresh tapi tetap bernuansa klasik. Salah satu ciri khas del Toro yang saya cermati adalah tokoh perempuan yang dikedepankan dalam film-filmnya, sebut saja Pan’s Labyrinth (2006) atau The Orphanage (2007), tanpa terkecuali yang satu ini.
Jika anda berpikir bahwa ini adalah film horor biasa sebaiknya jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Terlepas dari elemen-elemen klise yang terdapat disini yaitu rumah antik, ruang bawah tanah gelap, rahasia masa lalu yang tersimpan dsb ternyata masih ada beberapa bumbu baru semisal bentuk “makhluk” menakutkan yang sebaiknya tidak perlu anda cari tahu lewat berbagai review film di internet agar tidak mengurangi unsur kejutannya.

Sutradara Nixey cukup terampil menjaga konsistensi sinematografi gelap dengan pencahayaan temaram di dalam rumah meskipun di siang hari. Terima kasih pada pemilihan rumah yang mengesankan karya-karya Rembrandt menciptakan atmosfer yang tepat apalagi dibantu oleh suara-suara misterius yang berdecit/berderak tehadap interior kayu yang dominan disini. Opening dan ending film yang agak terlalu sadis tentunya memberikan start dan finish yang menyenangkan bagi para pecinta genre ini.
Bukan hanya konsentrasi untuk menciptakan momen ketakutan yang dominan di sepanjang film ini, tetapi juga penitikberatan cerita pada persoalan umum yang biasa dialami sebuah keluarga yaitu komunikasi orangtua dan anak ataupun antar pasangan seperti Kim dan Alex kali ini. Horor tanpa drama yang dibangun kuat dapat dianalogikan sebagai sajian masakan lezat tanpa bumbu. Beruntung remake yang satu ini tidak melupakan hal krusial tersebut.

Esensi yang digelorakan Don't Be Afraid of the Dark bagi saya lebih ke arah menggemaskan daripada mengerikan, walau belum seekstrim The Orphan (2009). Holmes, Madison dan Pearce menyuguhkan akting yang cukup memikat sehingga karakterisasi masing-masing tercipta dengan kuat. Ending yang lumayan gelap menutup film dengan perasaan pilu sekaligus menegaskan bahwa dunia kegelapan bisa jadi berisikan makhluk-makhluk yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya. Imajinasi del Toro membantu mewujudkan semua itu. Please stay under the (spot)light, Mr. Guillermo!

Durasi:
99 menit

U.S. Box Office:
$24,042,490 till Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 09 Januari 2012

THE BAADER MEINHOF COMPLEX : Gerakan RAF Pengubah Wajah Jerman

Quotes:
Brigitte Mohnhaupt: Stop seeing them the way they weren't.


Storyline:
Jerman tahun 1970, serangan bom, ancaman terorisme dan musuh dalam selimut bertubi-tubi menghantam rapuhnya sistem demokrasi Jerman. Gerakan perlawanan dibentuk oleh Andreas Baader, Ulrike Meinhof dan Gudrun Ensslin yang memerangi kekerasan yang diartikan sebagai wajah baru fasisme. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang lebih aman walaupun nyawa mereka sendiri bisa terancam, terlebih kepala satuan polisi Horst Herold sudah mengendus keberadaan RAF. Akankah perjuangan tersebut akan sia-sia artinya?

Nice-to-know:
Merupakan wakil Jerman untuk berkompetisi dalam ajang Academy Awards 2009 dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.

Cast:
Martina Gedeck sebagai Ulrike Meinhof
Moritz Bleibtreu sebagai Andreas Baader
Johanna Wokalek sebagai Gudrun Ensslin
Nadja Uhl sebagai Brigitte Mohnhaupt
Stipe Erceg sebagai Holger Meins
Niels-Bruno Schmidt sebagai Jan Carl Raspe
Vinzenz Kiefer sebagai Peter-Jürgen Boock

Director:
Feature film kelima bagi Uli Edel yang angkat nama lewat drama erotis, Body of Evidence (1993).

Comment:
Film yang didasarkan pada kejadian nyata memang tidak pernah mudah untuk dibuat. Peristiwa RAF yang menandakan era Deutscher Herbst alias kejatuhan Jerman mungkin tidak pernah anda ketahui sebelumnya. Jika tertarik untuk mendalaminya lebih baik, bisa mencari beberapa film dokumenter seperti Black Box BRD milik Veiel ataupun Todesspiel milik Breloer. Namun jika tidak, sebaiknya siapkan kondisi anda untuk dapat duduk “tenang” selama dua setengah jam.
Kejadian serupa bisa terjadi dimana saja. Konflik ketidakpuasan rakyat terhadap Pemerintahan yang berjalan seringkali terjadi. Masih segar dalam ingatan anda akan kerusuhan Mei 1998 yang dipicu oleh pertikaian aparat dengan mahasiswa Trisakti bukan? Disini anda dapat menyaksikan kiprah terlarang Meinhof, Baader dan Ensslin yang tergabung dalam RAF yang bertindak secara radikal melalui serangkaian aksi “kriminal” yang menganut asas pembenaran pribadi tersebut.

Kualitas akting aktor-aktrisnya rata-rata bagus kalau tidak mau dibilang luar biasa. Martina Gedeck dan Johanna Wokalek menokohkan Ulrike dan Gudrun dengan brilian, termasuk penyamaran dan pelarian yang menyambang nyawa tersebut. Uhl, Gwisdek, Josep Liefers, Blomberg dan Herzsprung juga tidak kalah bersinarnya dalam arahan sutradara Edel yang berhasil memanfaatkan “production value” secara maksimal! Lihat saja lokasi yang amat mencerminkan masa 1970an, tanpa terkecuali sinematografi dan tata kostum sekaligus artistiknya yang juga mendukung.
Pembukaan film yang menyayat-nyayat emosi tersebut terbukti berhasil menyuguhkan kenyataan yang mencengangkan. Kemunculan protagonis yang membangun gerakan perlawanan pun dapat dimengerti. Sayangnya setelah itu terjadi kemerosotan intensitas film. Masuknya berbagai tokoh baru ke dalam grup tanpa pengenalan dan proses yang jelas membuat penonton merasa “lost” dan pada akhirnya tidak terlalu peduli lagi dengan kiprah RAF yang menjadi sentralisasi cerita.

The Baader Meinhof Complex merupakan sebuah tontonan yang benar-benar hanya dapat dinikmati selama durasinya berjalan saja. Sekelumit waktu dimana anda bisa membuka mata dan hati akan mirisnya adegan aksi perjuangan yang berdarah-darah, ketika menarik pelatuk untuk menghabisi nyawa seseorang begitu mudahnya dilakukan, saat korban menggelepar dahulu sebelum betul-betul tersungkur! Namun seusai film, tidak ada lagi yang bisa anda diskusikan dengan rekan atau forum film sekalipun. What you see is what you get adalah statement yang tepat untuk mewakili film ini.

Durasi:
150 menit

U.S. Box Office:
$476,270 till Dec 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 08 Januari 2012

THE DARKEST HOUR : Invasi Alien Tenaga Listrik Bumi

Quotes:
Sean: Team work makes the dream work.


Storyline:
Sean dan Ben adalah dua pemuda Amerika yang ingin mempresentasikan teknologi terbaru mereka di Moscow. Sayangnya ide mereka dicuri oleh Skyler yang membuat keduanya berang. Saat melupakan kekecewaan di bar, Sean dan Ben berkenalan dengan dua gadis Amerika juga yaitu Natalie dan Anne. Tiba-tiba cahaya oranye turun dari langit dan secara misterius mampu meleburkan manusia menjadi debu dalam sekejap! Sean, Ben, Natalie, Anne yang kemudian berjumpa Skyler pun harus bersembunyi di bawah tanah sebelum mencoba kembali ke negara mereka sambil menghindari musuh tak tampak yang mengandalkan energi listrik bumi.

Nice-to-know:
Proses produksi sempat tertunda selama 2 minggu dikarenakan polusi udara luar biasa yang menyebabkan awan hitam melingkupi Moscow pada medio Agustus 2010. Meskipun pada akhirnya sudah berhenti, efek asap yang masih tersisa harus dihilangkan secara digital paska produksi film ini.

Cast:
Emile Hirsch sebagai Sean
Olivia Thirlby sebagai Natalie
Max Minghella sebagai Ben
Rachael Taylor sebagai Anne
Joel Kinnaman sebagai Skyler
Veronika Ozerova sebagai Vika

Director:
Film kedua bagi Chris Gorak setelah Right At Your Door (2006).

Comment:
Salah satu penyebab kepunahan umat manusia bisa jadi karena serangan alien atau makhluk luar angkasa yang secara kekuatan dan teknologi bisa jadi jauh lebih unggul. Kali ini penulis skrip menghadirkan jenis alien yang berbeda yaitu tak terlihat dimana bisa meleburkan manusia menjadi debu hanya dalam satu kedipan mata melalui media yang memanfaatkan energi listrik. Premis yang menarik, bukan?
Sayangnya perjuangan segelintir orang yang berhasil selamat untuk bertahan hidup di kemudian hari justru berjalan terlalu linier. Keberanian yang dipicu oleh keterdesakan hingga sepakat untuk melawan balik. We called it natural instinct! Beberapa adegan bahkan mengingatkan anda akan 28 Days Later yang mengetengahkan wabah menular itu. Anda tinggal memilih (atau menerka) mana dari Sean, Ben, Natalie, Anne dan Skyler yang mendapatkan “kesempatan kedua” pada akhirnya.

Efek 3D yang dibebatkan dalam film ini sepertinya tidak berpengaruh banyak. Aliran listrik berwarna kuning/oranye menyala itu memang efektif dalam background gelap tapi tidak cukup kuat untuk menegaskan visual yang unik. Atau debu bertebaran bekas manusia yang tewas seketika? Ini terlalu absurd, apalagi jika harus membandingkannya dengan Final Destination 5 yang eksklusif itu. Jangan buang uang anda untuk sesuatu yang tidak senilai harganya. Watch it in 2D is more than enough!
Sisi menariknya adalah setting Moskow yang dipilih oleh sutradara Chris Gorak. Kita semua tahu Amerika Serikat adalah negara adidaya dan menyaksikan 5 warganya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan di negeri pecahan Soviet ini lumayan inovatif. Anda bisa bayangkan jika ada di posisi mereka berada di tempat asing. Idealisme untuk kembali ke negara asal merupakan sebuah perjuangan tersendiri yang patut dilaksanakan apapun resikonya.

Akhir kata, saya lebih suka menyebut film ini sebagai remake tidak resmi dari Vanishing On 7th Street (2010) yang tidak jelas juntrungannya itu. Setidaknya The Darkest Hour memang lebih watchable dan mampu menjelaskan keseluruhan plotnya dengan logika yang masih bisa diterima akal sehat. Terlepas pada akhirnya meninggalkan penonton dengan sebuah asumsi melegakan, kita sebagai penduduk bumi wajib bersyukur karena mendiami planet yang kaya raya dan selalu menyediakan semua yang dibutuhkan untuk hidup. Mudah-mudahan bukan suatu potensi menjadi incaran makhluk planet lainnya!

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$14,215,634 till Jan 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 07 Januari 2012

NEW YEAR’S EVE : Times Square Saksi Peristiwa Pergantian Tahun

Quotes:
Claire Morgan: Remember, second chances don't expire until midnight.


Storyline:
Kehidupan warga lajang dan berpasangan New York yang tengah menyambut detik-detik pergantian tahun di Times Square Garden yang dimeriahkan oleh band tenar, Jensen. Laura yang sibuk menyiapkan katering gala dinner. Sam yang terjebak setelah mobil yang ditumpanginya kecelakaan padahal kehadirannya untuk berpidato sudah ditunggu. Single mom Kim yang berusaha melindungi putri remaja kesayangannya Hailey yang sangat ingin merasakan ciuman pertamanya. Apakah malam tahun baru akan menyelesaikan semua konflik yang mendera mereka?

Nice-to-know:
Setelah membintangi Hairspray (2007) bersama Michelle Pfeiffer, Zac Efron jatuh cinta padanya dan mendapat kesempatan untuk mencium Pfeiffer dalam salah satu adegan di film ini merupakan alasan utama Efron menerima peran tersebut.

Cast:
Michelle Pfeiffer sebagai Ingrid
Zac Efron sebagai Paul
Robert De Niro sebagai Stan Harris
Halle Berry sebagai Nurse Aimee
Katherine Heigl sebagai Laura
Jon Bon Jovi sebagai Jensen
Ashton Kutcher sebagai Randy
Lea Michele sebagai Elise
Sarah Jessica Parker sebagai Kim
Abigail Breslin sebagai Hailey
Hilary Swank sebagai Claire Morgan
Josh Duhamel sebagai Sam

Director:
Sutradara berusia 77 tahun, Garry Marshall ini baru mengerjakan film layar lebar ke-17 nya yang diawali dengan Young Doctors In Love (1982).

Comment:
Perkara menulis skrip sebuah ensemble drama bagi Katherine Fugate tidaklah mudah, apalagi jika melibatkan lebih dari 100 aktor-aktris beken Hollywood untuk mengisi semua perannya baik besar maupun kecil. Tentunya hal ini merupakan nilai jual utama bagi penonton untuk turut menyaksikannya. Benang merah yang diuntai adalah malam perayaan menuju pergantian tahun dari 2011 ke 2012 yang mengambil setting di New York, kota terpopuler di Amerika Serikat.
Sutradara Garry Marshall pernah mengerjakan proyek serupa tahun lalu dalam judul Valentine’s Day (2010). Ia dengan adil membagi setiap karakter untuk “tampil” sesuai porsinya masing-masing, terlepas dari banyak atau sedikitnya kesempatan yang diberikan tersebut. Tak lupa, sentuhan kekuatan dramatisasi juga diberikannya yaitu cinta dan kasih sayang, baik antara orangtua-anak, suami-istri, suster-pasien bahkan dua orang berlawanan jenis yang belum saling mengenal pun satu sama lain.

Dua pasangan favorit saya kali ini adalah Paul dan Ingrid serta Randy dan Elise. Mengapa? Paul adalah tipe happy-go-lucky guy yang memancarkan aura positif, kontras dengan Ingrid yang ditakdirkan sebagai pecundang yang mengharuskannya bekerja di malam tahun baru. Bantuan Paul mewujudkan resolusi “tidak mungkin” Ingrid menjadi highlight yang unik disini. Lain lagi dengan Randy yang membenci malam tahun baru dan memilih menyendiri hingga nasib mempertemukannya dengan Elise yang optimis dan hangat kepribadiannya. Chemistry keduanya cukup natural dan beralasan.
Di luar kedua pasangan tersebut rasanya menyuguhkan konflik yang terlalu biasa. Contohnya Laura dan Jensen yang mencoba rujuk kembali. Atau Stan Harris yang mendekati ajalnya ditemani suster Aimee baik hati dimana keduanya sama-sama menantikan orang tercinta di malam tahun baru. Namun pasutri Schwab dan Byrne yang saling bersaling memperebutkan sejumlah uang juga memberikan kontribusi yang tidak kalah menarik terhadap konstruksi cerita.

Kelemahan terbesar film ini adalah detail dan logika. Begitu banyak peristiwa yang terjadi tentunya turut mengalihkan anda akan hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Jika anda mau mencermati tentunya akan menemukan banyak kejanggalan. Sedangkan logika yang terabaikan adalah bagaimana para karakternya dapat bermobilitas dengan mudahnya di tengah kepadatan lalu lintas Times Square Garden tanpa memakan waktu samasekali. Nah, saya yakin anda pernah merasakan suasana malam tahun baru di jalanan ibukota masing-masing.
New Year’s Eve memang diawali dengan kekacauan dimana penonton dijejali satu demi satu problema yang dialami masing-masing karakternya yang silih berganti sibuk berlompatan di layar lebar. Beruntung memasuki pertengahan durasi, beberapa “sparks” berhasil dimunculkan untuk menghangatkan hati anda hingga mau peduli pada tokoh-tokohnya. Yang terpenting, Marshall mampu menekankan esensi dari pergantian tahun itu sendiri yang kerapkali dimanfaatkan orang untuk introspeksi diri dan membuat resolusi baru demi perbaikan kualitas hidup karena waktu memang tidak akan pernah bergerak mundur. Happy New Year 2012, everybody!

Durasi:
118 menit

U.S. Box Office:
$47,257,823 till Jan 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 05 Januari 2012

XIA AIMEI : Pelarian Hidup Prostitusi Terselubung

Quotes:
Mulai sekarang nama kamu adalah.. Xixi


Storyline:
Keluarga Xia Aimei yang berdiam di desa kecil Yangshuo, Cina terjerat hutang yang tidak sedikit. Untuk itu, ia dan sejumlah gadis lain dibawa ke Jakarta untuk menjadi perempuan penghibur club mewah bernama Le Mansion yang dimiliki oleh Jack. Nama XIa Aimei pun diubah menjadi Xi Xi dimana ia bertemu Lie Lie yang juga asal Cina dan Paulina yang asal Uzbekistan yang baik hati padanya. Jack tidak menunggu lama untuk menjual Xixi yang masih perawan pada Bos Marun, salah satu kepala gangster Jakarta. Xi Xi yang panik tanpa sengaja melukai Bos Marun sebelum melarikan diri yang membawanya bertemu dengan AJ Park dan Timun. Akankah AJ Park mampu menenangkan Xi Xi sekaligus membantu gadis itu kembali ke negara asalnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Falcon Pictures dimana gala premierenya diadakan di Plaza Indonesia XXI pada tanggal 5 Januari 2012.

Cast:
Franda sebagai Xia-Aimei / Xi Xi
Ferry Salim sebagai Jack
Samuel Rizal sebagai AJ Park
Olga Lydia
Gilang Dirgahari sebagai Timun
Norman Kamaru
Shareefa Daanish sebagai Lie Lie
Jasmine Julia Machate sebagai Paulina

Director:
Merupakan debut penyutradaraan Alyandra yang sebelumnya menangani video klip Agnes Monica yaitu Paralyzed.

Comment:
Jarang sekali sebuah film nasional membahas sebuah problema dari sudut pandang etnis Cina. Beberapa di antaranya adalah Ca Bau Kan (2002) dan May (2008). Kali ini diangkatlah tema prostitusi yang amat erat hubungannya dengan human trafficking, masalah teranyar yang dihadapi oleh nyaris semua negara di dunia. Trio penulis Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom Sari didapuk sebagai penulis skrip film yang fiktif ini walaupun bisa jadi kisahnya cukup dekat dengan kehidupan nyata.
Sayangnya semua terasa dangkal disini. Latar belakang etnis Cina hanya ditampilkan secuil, saya paham jika ini adalah kasus yang sensitif tetapi jika berani memasang tokoh utama gadis keturunan dengan judul yang khas pula tentunya harus konsisten dengan identitas. Lalu klausal human trafficking itu sendiri tidak juga dijelaskan secara detil selain pengenalan terhadap berbagai subyek/obyek pelakunya saja tanpa latar belakang yang jelas satu sama lain.

Kekurangan yang paling mencolok yaitu proses yang serba instan. Satu adegan menuju adegan lain terasa sekali tanpa transisi yang setia dengan logika. Tidak dijelaskan bagaimana Xi Xi bisa begitu mudahnya keluar masuk Le Mansion di tengah penjagaan security yang (konon) ketat tapi terlihat Cuma 3 orang saja? Belum lagi empati dan chemistry yang dipaksakan antar karakternya mengingat baru saja mereka berkenalan di tempat yang tidak tepat pula?
Sutradara Alyandra sebetulnya mampu menghasilkan gambar-gambar yang dinamis dan menarik untuk disimak layaknya video klip yang menjadi bidang spesialisasinya selama ini. Namun proses editingnya masih terlihat kasar, belum lagi penempatan musik latarnya juga terasa kurang tepat. Padahal jika mau dimaksimalkan, begitu banyak ruang dan waktu yang dapat dimaksimalkan untuk menggagas storytelling yang lebih menarik lagi daripada menyelesaikannya hanya dalam waktu 72 menit saja.

Debut akting layar lebar Franda patut diacungi jempol. Terlepas dari lemahnya karakterisasi Xi Xi, ia mampu berdialog dalam bahasa Mandarin dengan cukup meyakinkan. Bahasa tubuhnya juga lumayan lugas menekankan peran gadis “impor” yang menjadi komoditi prostitusi. Ferry Salim dan Samuel Rizal yang berseberangan pihak malah tergolong kaku dalam menerjemahkan tokoh hitam dan putih meskipun porsi mereka agak dominan kali ini.
Xia Aimei tak lebih dari sekadar tontonan alternatif film lokal yang lain dari biasanya. Sebuah proyek terbaru Falcon Pictures yang sepertinya digarap secara terburu-buru dan serba tanggung. Mudah-mudahan bukan karena ingin mengejar tanggal rilis yang berdekatan dengan jatuhnya perayaan Imlek. Drama yang semestinya disajikan dengan realitas getir yang berujung pada selipan pesan moral kuat untuk dapat mengikat emosi penontonnya, bukan sempilan humor disana-sini yang seakan ingin mengalihkan perhatian dari kelemahan di semua lini.

Durasi:
72 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 04 Januari 2012

UMMI AMINAH : Ustadzah Panutan Cobaan Bertubi-tubi

Quotes:
Mak Ina: Apalagi kalau dipanggil Tuhan gak datang, lebih kualat lagi..


Storyline:
Ummi Aminah adalah seorang ustadzah yang memiliki ribuan jamaah setia. Terbukti dimanapun ia berceramah, mesjid selalu penuh. Dari suami pertamanya, Ummi memiliki putra Umar yang beristrikan Risma dan putri Aisyah yang bersuamikan Hasan. Dari suami keduanya Abah, Ummi mempunyai Zarika, Zainal, Zubaidah, Zidan dan Ziah. Dari kelimanya hanya Zainal yang sudah menikah, istrinya Rini tengah mengandung anak kedua meskipun keduanya kesulitan keuangan. Zarika yang sudah mapan secara karir malah menjalin keakraban dengan asistennya, Ivan yang sudah beristri. Zubaidah yang bertubuh gemuk mendambakan cinta tetangganya, Joko. Ziah yang termuda lebih mementingkan mencari kerja untuk mengumpulkan uang terlebih dahulu. Sedangkan Zidan yang kemayu malah membuka salon yang membuat Abah nya malu. Satu demi satu persoalan menyeruak hingga Ummi sempat terpuruk. Akankah mereka sekeluarga mampu mengatasinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di PPHUI pada tanggal 22 Desember 2011.

Cast:

Nani Widjaja sebagai Ummi Aminah
Rasyid Karim sebagai Abah
Cahya Kamila sebagai Aisyah
Gatot Brajamusti sebagai Umar
Paramitha Rusady sebagai Zarika
Ali Zainal sebagai Zainal
Aty Kanser sebagai Mak Ina
Yessy Gusman sebagai Risma
Revalina S Temat sebagai Rini
Elma Theana sebagai Dewi

Director:

Merupakan film ke-4 bagi Aditya Gumay sejauh ini yang diawali lewat Tina Toon & Lenong Bocah The Movie di tahun 2004.

Comment:
Nyaris setahun berlalu sejak rilisnya Rumah Tanpa Jendela, Aditya Gumay kali ini dipercaya MVP Pictures untuk menggarap sebuah drama keluarga yang cukup kompleks dimana problematikanya amat beragam dan meliputi nyaris seluruh anggota keluarga yang menjadi sentral cerita. Tokoh utama adalah seorang ustadzah terkemuka dan terpandang yang patut menjadi panutan publik yaitu Aminah.
Nani Widjaja masih mampu menyajikan akting yang menggigit sebagai Ummi. Kefasihannya berceramah dari sudut pandang agama di muka umum ternyata kontras dengan kehidupan pribadinya yang penuh cobaan. Lain lagi dengan Ali Zainal menampilkan performa paling brilian dengan gestur dan gaya bicara yang amat mewakili. Sepintas Zainal adalah pria muslim biasa yang taat beribadah sekaligus contoh suami dan ayah yang baik. Namun ketika tanpa sengaja terlibat narkoba, ketabahannya pun diuji habis-habisan.

Kembalinya Paramitha ke layar lebar tidak terlalu sesuai harapan. Peran Zarika di tangannya masih tergolong kelas sinetron. Sama halnya dengan Revalina S. Temat yang belum menunjukkan perubahan berarti dari karakter-karakter yang dimainkannya sebelum ini. Andai saja ada ruang lebih untuk Aty Kanser dimana tokoh Mak Ina yang latah itu seharusnya bisa menggali sisi komedik film ini. Sayangnya pembagian multikarakter tidak memungkinkan hal tersebut.
Duet penulis skrip Adenin Adlan dan Aditya Gumay silih berganti memaparkan permasalahan yang biasa ditemui dalam sebuah keluarga yaitu kesulitan keuangan, cekcok rumah tangga, kecemburuan antar anak, kesulitan jodoh dan lain-lain. Sinematografi yang wajar dan membumi sedikit terkotori oleh proses editing yang kurang rapi. Beruntung Aditya menutup film dengan ending ambigu yang tidak terduga samasekali sehingga menghindari stereotype yang itu-itu saja.

Begitu banyaknya sub plot yang dihadirkan terkadang masing-masing diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat saja. Terlepas dari beberapa scene yang seakan kehilangan esensi, nyatanya Aditya tetap mampu menyematkan intisari yang ada dengan pas. Dramatisasi yang terbentuk disana-sini tidaklah sampai cengeng dan mendayu-dayu tetapi lumayan menyentuh sanubari anda yang mungkin pernah berada dalam situasi serupa.
Sebagai sebuah drama, Ummi Aminah belum sampai pada tahap inspiratif. Namun setidaknya berbagai pesan moral diyakini akan membangkitkan optimisme bahwa setiap cobaan hidup hendaknya tidak dianggap sebagai beban atau hukuman. Kesabaran dan keimanan yang kuat akan membuat kita mampu melaluinya dengan baik. Jangan lupakan fungsi keluarga itu sendiri terutama pondasi kasih sayang orangtua yang tidak akan pernah tergantikan kedudukannya.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 03 Januari 2012

PULAU HANTU 3 : Komedi Ekspos Dada Hantu Pulau

Quotes:
Nero: Kita ini dimana, Mo?
Kimo: Gue juga baru kali.


Storyline:
Resor indah di Pulau Madara memiliki pemilik baru yaitu Patigana yang telah ditinggalkan istrinya. Empat muda-mudi yakni Nero, Kimo, Octa dan Gaby dipertemukan oleh nasib saat bersamaan melamar pekerjaan di resor tersebut. Nero yang merasa dejavu memang pernah berdiam di pulau tersebut bersama teman-temannya dahulu dan kali ini ia memperingatkan yang lain untuk tidak mengusik hantu kuburan belakang pulau. Namun satu-persatu tamu lenyap secara misterius sebelum terungkapnya fakta bahwa mereka dibunuh! Apakah hal ini disebabkan oleh kemarahan hantu belakang pulau atau justru ada kekuatan jahat yang baru?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 28 Desember 2011.

Cast:
Abdurrahman Arif sebagai Nero
Ricky Komo sebagai Kimo
Shinta Bachir sebagai Monica
Boy Hamzah sebagai Patigana
Grace Veronica sebagai Gaby
Laras Monca sebagai Ibu Monca
Aiko Sarwosri sebagai Santang
Jenny Cortez sebagai Korban pertama

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Jose Poernomo setelah terakhir menggarap remake Murder (2004) menjadi Skandal (2011).

Comment:
Kesuksesan komersil Pulau Hantu (2007) disusul Pulau Hantu 2 (2008) secara raihan jumlah penonton memacu sekuel keduanya 3 tahun kemudian. Namun apakah Jose Poernomo yang bertindak sebagai penulis skrip sekaligus sutradara memiliki hal baru untuk dieksploitasi? Atau ia cuma melanjutkan teror hantu menganga berbaju putih dan berambut panjang yang boleh dikatakan perpaduan Sadako dalam The Ring dan Ghostface dalam Scream di pulau terpencil?
Kekhawatiran saya terjadi juga. Jose terlihat kebingungan mengombang-ambingkan ide “setengah jadi” nya di sepanjang durasi. Permasalahan cerita seharusnya ada di sosok Patigana yang berniat membangkitkan istrinya kembali melalui sejumlah ritual. Namun tidak ada penjelasan spesifik akan persyaratan yang dimaksud. Haruskah membunuh? Atau sekadar memperkosa? Korbannya pun ternyata tak pandang bulu, pria atau wanita. Peletakan lilin satu demi satu dianggap cukup untuk membuat penonton mengerti. Justru plot serupa pernah dituturkan lebih baik dalam Enam (2007).

Momok hantu kuburan belakang pulau (selanjutnya disingkat HKBP) malahan tak lagi menakutkan. Kemunculannya semakin sedikit dan sangat predictable, u have seen it before! Hal ini juga disebabkan lebih banyaknya adegan yang menonjolkan (maaf) payudara wanita dalam busana minim. Jose rupanya punya 1001 alasan untuk mensyut bagian tersebut, entah pada saat wanita-wanita tersebut berenang, mandi, jogging, senam dan lain sebagainya, nyaris di setiap kesempatan!
Twist ending yang menyuguhkan “duel maut” sebetulnya bisa menjadi aspek yang menarik sekaligus menjadikan film ini mampu mencapai klimaksnya sebagai sebuah komedi yang digelorakan sejak menit awal. Lagi-lagi Jose mundur beberapa langkah dan berusaha setia dengan pakem horornya yang terus terang saja basi! Satu persatu dibunuh bahkan tanpa cipratan darah sedikit pun? Oh come on, rating Dewasa yang dibebat film ini sudah cukup menjadi lampu hijau baginya.

Abdurrahman Arif dan Ricky Komo yang mengambil alih peran utama yang ditinggalkan Ricky Harun memang cukup berhasil membawakan duet “dumb & dumber”. Kekonyolan dan kemesuman keduanya kompak mengisi setiap frame yang berkesan slapstick. Terima kasih pada sumbangsih Ruslan Bojes yang menghadirkan musik latar layaknya dagelan dalam program televisi. Sebaliknya Boy Hamzah gagal menampilkan akting freak dan psycho yang membuat tokoh antagonis Patigana terasa datar-datar saja.
Pulau Hantu 3 semakin menjauhi kualitas pendahulunya. Originalitas yang semakin semu ditambah kemiskinan kreatifitas membuat sekuel ini lebih pantas “direct-to-dvd” daripada dijual sebagai tontonan layar lebar. Samasekali tidak ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Saya menyaksikan film ini tanpa ekspektasi apa-apa selain unsur fun belaka dan patut bersyukur tidak sampai meninggalkan bioskop dalam kondisi “mabok susu”. U know what I'm talking about!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Senin, 02 Januari 2012

MOST FAVORITE LOCAL MOVIES OF 2011

CATATAN HARIAN SI BOY

Catatan Harian Si Boy tidak hanya mengajak penonton generasi lama untuk bernostalgia dan menerima versi estafet ini dengan tangan terbuka tetapi juga penonton generasi baru untuk bertualang dalam balutan tema klasik muda-mudi yang tak lekang oleh waktu. Persaingan cinta, pembuktian diri, kesetiakawanan, pengharapan memang akan selalu mendapat tempat dalam proses pendewasaan seseorang tanpa terkecuali.

SANG PENARI

Ada baiknya sebelum menonton, anda membaca novelnya untuk memperkaya pemahaman karena masih banyak hal yang tidak dijelaskan dalam filmnya yang terbatas oleh durasi dan kebijakan sensor. Meski tidak runut, Sang Penari mampu menyuguhkan dramatisasi yang kaya makna terutama dari segi pengabdian dan pengorbanan dua individu berlainan jenis. Sebuah cinta yang tidak selalu memaksakan kata hati tetapi cukup dimengerti logika sebelum benar-benar berlalu dalam suatu ambiguitas yang pilu.

SIMFONI LUAR BIASA

Simfoni Luar Biasa di tangan Awi hadir dalam sinematografi klasik ala tahun 80an. Meski demikian film musikal ini mampu bertutur dengan nyaman sehingga minus yang ada menjadi termaafkan. Sisi emosionalnya cukup menghangatkan hati walau tidak sampai menyentuh batas tertinggi yang diharapkan bisa mengharu-biru penonton. Setiap manusia boleh saja memiliki tujuan hidupnya masing-masing tetapi yang terpenting adalah bagaimana ia beradaptasi dengan segala hambatan yang dihadapi sebelum mencapai garis finish.

TENDANGAN DARI LANGIT

Tendangan Dari Langit selayaknya sebuah masakan berbumbu komplit, anda akan menemukan berbagai rasa di dalamnya. Scoring musik garapan Tya Subiakto dan lantunan suara Kotak juga terasa megah dalam melebur dinamis ke dalam bangunan cerita. Perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan tulus memang dibutuhkan untuk mengejar pilihan dan tujuan hidup anda. Rasakanlah dukungan perhatian, kasih sayang, kesetiakawanan dari orang-orang terdekat anda di sepanjang perjalanan tersebut. Film ini berhasil menjadi salah contoh konkrit bagaimana sebuah mimpi harus diwujudkan secara benar. Very recommended!

ARISAN! 2

Jika harus membandingkan; Arisan! (2003) menurut saya adalah film yang smart, simple, witty and fun to watch. Sedangkan Arisan! 2 (2011) ini lebih mencerminkan sisi glam, mature, complex and spiritual. Kedua episode memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi. Namun ternyata ada yang jauh lebih penting dari sekadar “eksis” di dunia nyata (party, holiday) dan dunia maya (Twitter, Facebook) bagi kaum hedon metropolitan tersebut yaitu persahabatan jangka panjang melewati suka dan duka. Itulah yang ingin digarisbawahi oleh Teh Nia lewat sajian dialog berbobot nan menohok.

POCONGGG JUGA POCONG

Poconggg Juga Pocong adalah satu-satunya komedi romantis ala remaja lokal yang formulanya "bener" di sepanjang 2011 ini. Kita akan melihat proses jatuh cinta ABG, utarakan isi hati (tolak/terima), bergalau ria sampai ke proses moved-on yang teramat berat itu. Rasa senang dan haru akan mewarnai film yang saya belum tahu apakah akan sukses di pasaran atau tidak (prediksi minimal lima ratus ribu penonton) tetapi rasanya jargon-jargon yang digunakan akan semakin populer seperti cinta yang diibaratkan kentut ataupun naik angkot. Tidak ada alasan takut jatuh untuk sesuatu yang memang layak diperjuangkan. Maka dari itu, melompatlah terus, cong!

THE PERFECT HOUSE

Saya berani katakan bahwa The Perfect House dapat dikatakan thriller lokal terbaik di sepanjang tahun 2011 yang banyak diisi oleh komedi horor. Kinerja berbagai departemen yang saling bersinergi mampu menghadirkan tontonan menarik yang sangat solid production valuenya. Kejutan twist di akhir cerita terbukti cukup “mengganggu” walau tidak akan asing bagi anda penyuka genre serupa, menutup rangkaian mimpi buruk konstan sepanjang satu setengah jam. Satu rumah berjuta cerita, siapkah anda memasukinya?

THE MIRROR NEVER LIES

Keunggulan The Mirror Never Lies memang dari bahasa gambar Kepulauan Wakatobi yang berbicara banyak plus potret kehidupan warga Sulawesi Tenggara sehari-harinya. Meskipun bertempo lambat dan runut dalam bercerita, anda tetap antusias dan terkagum-kagum menyaksikannya. Di saat credit title menggulung layar, saya jamin pikiran anda sudah melayang pada nikmatnya makanan khas kazuami dan bergegas merencanakan perjalanan ke Kabupaten yang beribukota Wangi-Wangi tersebut.

7 HATI 7 CINTA 7 WANITA

Terlepas dari plus minus yang dimilikinya, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita jelas menambah deretan terbatas film lokal berkualitas era tahun 2000an ke atas. Relevansi tema yang teramat nyata digarap dengan tajam, acungan jempol bagi Robby. Rupanya hanya perlu keberanian dan kreatifitas untuk menghasilkan sebuah film layak tonton. Saran saya, cobalah berpikir secara universal bagi anda yang memiliki minat untuk menyaksikannya, niscaya anda akan menemukan banyak wacana berfaedah mengenai ego dan diferensial pria dan wanita di dalamnya.

FISFIC Vol. 1

Kompetisi film pendek yang diilhami dari penyelenggaran 5th iNAFFF 2011 ini sukses menghadirkan kompilasi 6 karya sineas muda masa depan Indonesia. Meal Time, Rengasdengklok, The Reckoning, Rumah Babi, Effect, Taksi akan meneror anda dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Standar paradigma baru untuk genre sejenis yang diharapkan akan mengubah wajah horor Indonesia yang masih didominasi oleh seks dan hantu-hantuan tidak jelas. Merasa tertantang untuk ambil bagian dalam event serupa di tahun mendatang? Siapa tahu andalah berikutnya!

Minggu, 01 Januari 2012

MOST FAVORITE FOREIGN MOVIES OF 2011

Daftar film berikut disusun secara random . Patut diingat, bukan terbaik melainkan terfavorit, mengacu pada kesediaan saya untuk menyaksikan judul-judul berikut lebih dari satu kali.

THE BILLIONAIRE

The Billionaire memang menempatkan setiap sekuensinya sedemikian rupa untuk membangun emosi penonton naik turun layaknya rollercoaster dalam ritme yang terjaga. Film ini merupakan tontonan wajib bagi anda para pengusaha muda yang butuh inspirasi nyata. Dalam mencapai suatu tujuan adakalanya tidak sekadar bermodalkan keyakinan dan keberuntungan tetapi kerja keras dan usaha pantang menyerah yang tidak sedikit. Memang tiada buah manis yang dapat dipetik begitu saja tanpa mengalami pahitnya sebuah proses yang terjal dan penuh liku.

REAL STEEL

Real Steel sesungguhnya mengisahkan cinta dan kekuatan yang memperjuangkannya. Sesederhana itu! Tak peduli berapa kali anda menerima pukulan atau cobaan, kemampuan bertahan dan terus mencoba capai apa yang diyakini sangatlah layak dilakukan. Film aksi drama yang pantas disaksikan seluruh anggota keluarga demi sebuah pembelajaran yang teramat menghibur. Bersiaplah untuk berteriak, menangis, tertawa sambil merasakan kebesaran “hati baja” yang sesungguhnya telah dimiliki oleh setiap manusia itu.

LADDA LAND

Bagi penonton yang menghargai kekuatan cerita, Laddaland akan bermakna lebih dari sekadar film horor yang berhasil. Bagaimana disfungsi sebuah keluarga dapat terjadi karena kesalahpahaman kecil dan pengharapan yang begitu tinggi antar anggotanya. Dunia supernatural itu sesungguhnya ada di sekitar kita dan bisa jadi mengganggu kewarasan manusia itu sendiri dalam menghadapinya. Silakan tertawa, terperanjat, tercekam, tersentuh dan bayangkan jika anda berada di posisi Thee. Sulitkah menjadi seorang kepala keluarga yang hanya ingin yang terbaik bagi keluarganya sendiri?

FINAL DESTINATION 5 3D

Tak diragukan lagi, Final Destination 5 adalah episode terbaik dari keseluruhan franchise. Kejutan yang sama memang ditawarkan Final Destination (2000) tetapi ketiadaan aspek 3D membuatnya sedikit berada di bawah. Lihat bagaimana kematian mengenaskan dapat menimbulkan rasa terkejut dengan sentuhan kejenakaan secara bersamaan. Twist ending yang merangkum keseluruhan perjalanan maut pun menutupnya dengan sempurna. Jadilah saksi hidup Final Destination 1-5, niscaya pandangan anda mengenai kematian tidak akan pernah sama lagi.

WARRIOR

Anda tidak perlu menyukai seni beladiri untuk jatuh cinta dengan film ini. Warrior adalah sebuah drama bro-mance yang nyaris sempurna. Contoh sebuah keluarga disfungsi dalam balutan maskulinitas bagaimana karakter Tommy dan Brendan menerjemahkan sakit hati mereka dengan caranya masing-masing. Tentukanlah pada siapa anda berpihak di antara keduanya. Kombinasi jantung berdebar-debar menyaksikan pertarungan seru dengan perasaan tercabik-cabik mengikuti penuturan konfliknya dalam durasi panjang bisa berefek samping menggenangnya air mata di pelupuk mata anda tanpa disadari. And the winner is..

SOMETHING BORROWED

Something Borrowed tidak hanya manis romantis tapi juga sendu provokatif. Drama bermakna yang kental dengan proses “introspeksi” dengan kandungan momen back and forth nya. Membuat anda berpikir dalam-dalam bagaimana menjadi seorang sahabat sempurna, kekasih ideal tanpa harus menyakiti? Atau menerawang apakah sebuah kesalahan dapat diperbaiki secara benar, untuk kemudian melangkah maju merengkuh impian-impian pribadi yang terpendam? Ahhh pertanyaan-pertanyaan dilematis yang pasti dihadapi setiap orang tanpa terkecuali sebelum rasa penyesalan itu benar-benar datang pada akhirnya..

INSIDIOUS

Terus terang saya tidak mudah ditakuti oleh film horor apapun juga. Namun harus saya akui Insidious adalah one of the scariest movies of all time yang mampu membuat anda terpaku dalam kengerian tanpa batas sambil merasakan degup jantung yang tidak menentu. Saya yakin anda akan merasakannya pula dan bisa jadi merasa paranoid setelah meninggalkan gedung bioskop. Tapi ini bukanlah akhir dari penderitaan 100 menit anda karena bersiaplah terbayang-bayang oleh creepy images yang secara otomatis terekam dalam memori terlebih saat harus sendiri memasuki rumah kosong anda. Berani? Karena jika tidak anda akan melewatkan kesempatan “What it feels like to be scared out of your skulls for once in your lifetime?”

SHAOLIN

Sebagai tontonan penyambut Imlek 2011, Shaolin memang memiliki banyak keunggulan yang patut diperhitungkan. Terutama filosofi Buddhist yang teramat kental. Bagaimana obsesi dan keserakahan akan kekuasaan dan kekayaan dapat membuat seseorang berbuat apapun juga walau harus terjerumus ke tempat yang teramat rendah sekalipun. Bukankah hukum karma berjalan secara adil dalam kehidupan ini?

DELHI BELLY

Keseluruhan elemen yang bersinergi dengan baik menjadikan Delhi Belly film India terbaik tahun ini. Komedi yang fun untuk diikuti, crazy and nasty at the same time! Tashi, Arup dan Nitin mungkin mewakili orang-orang biasa seperti kita yang terjebak dalam rutinitas membosankan, pekerjaan menyebalkan dan nasib kurang beruntung yang membuat hidup terasa sulit untuk dijalani. Berbagai turning point baik disengaja ataupun tidak jelas mungkin dapat mengubah arah kehidupan menjadi lebih baik (atau lebih buruk). Well, in the end it doesn’t really matter if you got great companions along the way.

SOURCE CODE

Source Code adalah sebuah suspense thriller yang cerdas. Pembahasan dua plot yang berjalan bersama (Colter Stevens dan Sean Fentres) diikuti pula oleh pengembangan karakter masing-masing tokoh hingga sampai pada konklusi yang memikat tanpa harus kehilangan elemen action itu sendiri. Tidak lupa pesan moral yang berusaha disisipkan mengenai pencarian kebahagiaan sejati serta bagaimana menghadapi dunia yang terkadang sinis akan eksistensi kita. Hiburlah diri anda dan temukan makna dari setiap detik yang disodorkan Duncan James di awal karir panjangnya ini.