XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jay chou. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jay chou. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Februari 2011

THE GREEN HORNET : Duet Lebah Hijau Komedik Berantas Kejahatan

Quotes:
Kato: I was born in Shanghai. You know Shanghai?
Britt Reid: Yeah, I love Japan.

Storyline:
Meski sering berseteru dengan ayahnya yang konglomerat pemilik surat kabar The Daily Sentinel, Britt Reid tetap mewarisi perusahaan tersebut pada akhirnya. Sayangnya Britt seringkali terobsesi pada wanita dan konsep pahlawan super dalam benaknya daripada mengurusi bisnis keluarga tersebut. Saat bertemu asisten ayahnya, Kato yang jago merakit mobil dengan persenjataan canggih, muncul ide Britt untuk membentuk The Green Hornet. Kesalahpahaman misi mereka membuat keduanya menjadi buronan polisi sekaligus penjahat nomor wahid Chudnofsky. Berhasilkah Britt dan Kato yang dibantu asisten cantik Lenore membersihkan nama baik sekaligus memberantas kejahatan?

Nice-to-know:
Awalnya The Green Hornet merupakan acara radio yang disiarkan pada tahun 1936 hingga 1952 dan sempat dikembangkan menjadi serial televisi di tahun 1940an dengan belasan episode.

Cast:
Seth Rogen harus menguruskan badannya 15 kilo untuk peran Britt Reid.
Jay Chou menyingkirkan Stephen Chow dan Jet Li untuk karakter Kato.
Cameron Diaz sebagai Lenore Case
Tom Wilkinson sebagai James Reid
Christoph Waltz sebagai Chudnofsky / Bloodnofsky
David Harbour sebagai Scanlon

Director:
Michel Gondry angkat nama setelah memenangkan Oscar pada tahun 2005 dalam kategori Skrip Asli Terbaik lewat Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004).

Comment:
Pertama kali mendengar proyek ini dikerjakan, ekspektasi saya tidak terlalu tinggi. Apalagi mengetahui ada andil besar Seth Rogen di dalamnya yang bukan hanya bertindak sebagai aktor tapi juga penulis ceritanya bersama dengan Evan Goldberg yang diilhami dari siaran radio lawas karya George W. Trendle. Bukan apa-apa, karena menurut saya Rogen hanya bisa “dijual” di Amerika saja. Untungnya di luar Amerika dan Asia pada khususnya, bolehlah berharap pada sosok biduan pop tenar bernama Jay Chou.
Keduanya dapat dikatakan mendominasi film dari menit pertama sampai terakhir kemunculannya. Mungkin akan mengingatkan anda pada duet khas Amerika-Asia sebelumnya yaitu Tucker dan Chan, disini Rogen dan Chou juga berbagi chemistry sama baiknya yakni mengandalkan bacot dan aksi super cepat! Kasihan sekali melihat Cam terasa sebagai “pemanis” belaka yang menjadi bahan rebutan Britt dan Kato hingga menghancurkan nyaris seisi rumah. Sedangkan Waltz cukup kharismatik sebagai antagonis dengan rambut dan brewok yang mulai kelabu, setidaknya jauh lebih meyakinkan dibandingkan Nic Cage yang semula ditawarkan peran Chudnofsky.
Sutradara Gondry yang pernah sukses luar biasa mengarahkan Jim Carrey dan Kate Winslet menjalankan fungsinya dengan baik. Sekuens aksi terkadang terlalu cepat dengan old-fashioned style sehingga membingungkan untuk diikuti. Lesatan peluru, gerakan tendangan dsb tidak jarang hanya ditampilkan secara siluet saja. Efek 3D yang dibebatkan pada film ini paling terasa pada “motion act” Kato-Vision yang revolusioner ataupun “super-style” The Black Beauty yang canggih itu. Selebihnya tidak terlalu penting untuk ekstra uang yang anda keluarkan.
The Green Hornet tidaklah dibuat untuk mengekor film aksi superhero lainnya yang sudah-sudah tetapi lebih pada interaksi pahlawan super dan sidekicknya (yang sebetulnya lebih hebat itu) dalam berbagi humor sinis selagi beraksi dengan gaya mereka sendiri. Meski menawarkan visualisasi yang cukup menjual, kekurangan jalan cerita yang masih berantakan dan terkesan seadanya ini bisa jadi membagi penonton ke dalam dua kubu yang menyukainya dan yang tidak. Penilaian saya sepertinya netral di tengah-tengah sambil berharap jika ada sekuelnya kelak bisa digarap dengan lebih serius lagi oleh penulis yang lebih jempolan tanpa bermaksud mengesampingkan ego Rogen yang tidak jarang terasa over-the-top itu.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$78,485,016 till Jan 2011.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 24 Maret 2010

TRUE LEGEND : Legenda Kehidupan Dewa Pengemis Mabuk

Storyline:
Pada jaman dinasti Qing, Su Qi-Er merupakan pria kaya dengan kedudukan terhormat. Namun sebuah konspirasi yang diprakarsai Yuan Lie menjatuhkannya hingga nyaris mati. Beruntung istrinya, Ying tetap mendampingi walau harus kehilangan anak mereka yang dibawa oleh Yuan. Lewat berbagai pengobatan, Su berhasil sembuh dan mulai mempelajari ilmu beladiri dari Dewa Mabok dan Pertapa Tua secara misterius. Ying yang takut Su menjadi tidak waras pergi mencari Yuan untuk mendapatkan anak mereka kembali. Akankah Su mampu menantang Yuan yang menguasai cakar 5 racun?

Nice-to-know:
Kembalinya Yuen Woo Ping di kursi sutradara setelah 14 tahun absen.

Cast:
Vincent Zhao sebagai Su Qi-Er
Zhou Xun sebagai Yuan Ying
Michelle Yeoh sebagai Sister Yu
Andy On sebagai Yuan Lie
Jay Chou sebagai Dewa Wushu / Dewa Mabuk
Guo Xiaodong sebagai Ma Qingfeng
David Carradine sebagai Anton

Director:
Merupakan salah satu pesohor perfilman Hongkong, Yuen Woo Ping melakukan debut penyutradaraannya lewat Se ying diu sau (1978).

Comment:
Tampaknya cukup sulit menghasilkan film kungfu Mandarin yang berkualitas dari berbagai aspek belakangan ini. Mungkin yang paling masuk akal adalah mengangkat biografi tokoh legenda jaman dahulu seperti yang sudah dilakukan Donnie Yen dalam IP Man. Kali ini Yuen Woo Ping melakukannya dalam film yang membahas Su Qi-Er ini. Apakah hasil akhirnya sama? Rasanya tidak mungkin karena lain koki maka lain pula masakannya apalagi menggunakan bumbu yang juga berbeda.
Kelemahan film ini adalah jalan ceritanya yang sangat tipikal yaitu anggota keluarga yang terbunuh, balas dendam yang gagal, mengasingkan diri untuk berguru, berlatih bertahun-tahun hingga akhirnya sukses melakukan pembalasan. Belum lagi penggunaan spesial efek yang cukup kentara disana-sini terutama dalam fighting scenenya ditambah proses editing yang masih lemah.
Dari jajaran cast, Vincent Zhao merupakan salah satu idola saya di awal kemunculannya. Meski belakangan namanya tenggelam, kali ini merupakan kesempatan emas baginya. Saya anggap teknik beladirinya memang pantas sebagai Su tapi dari sisi penjiwaan masih belum terlalu maksimal. Andy On lewat karakter antagonis Yuan Lie mengerikan dari segi fisik dan rasanya akan cukup memorable di mata para penonton film kungfu beberapa tahun terakhir. Belum lagi kemunculan Jay Chou sebagai Dewa dari segala dewa kungfu! Yang juga menarik adalah dukungan nama-nama senior macam Gordon Liu, Michelle Yeoh ataupun David Carradine dengan peran yang sebetulnya tidak terlalu penting.
True Legend memang seperti mengisahkan beberapa chapter yang terkesan terpotong-potong sebagai sebuah film utuh. Namun aksi nonstop sepanjang nyaris dua jam rasanya akan cukup menyenangkan bagi anda apalagi disuguhi bermacam-macam lanskap buatan yang lumayan kreatif seperti tepi jurang, dermaga, kuil, padang rumput hingga arena gladiator sebagai pamungkasnya dipadukan dengan koreografi beladiri yang mumpuni.

Durasi:
115 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 31 Desember 2009

TREASURE HUNTER : Balapan Perburuan Harta Karun

Storyline:
Novelis muda, Lan Ting lewat suatu inspirasi bertekad menulis novel tentang pencarian harta karun yang pernah diceritakan ayahnya. The Company merupakan suatu sindikat yang mengawali perburuan tersebut melalui selembar peta yang dimiliki Boss Tu yang menyerahkannya pada asistennya, Qiao Fei. Pada saat bersamaan, putri tunggal Boss Tu, Ting Ting diculik oleh seterunya. Selama petualangan berlangsung, Qiao Fei dan Lan Ting bersama arkeolog, Hua Ding Bang menemui banyak rintangan. Belum lagi tantangan terbesar dari Desert Eagle yang muncul. Siapa yang akhirnya mendapatkan harta karun tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Chang-Hong Channel Film & Video Co. dan Yen Ping Films Production.

Cast:
Terakhir tampil dalam Kungfu Dunk, Jay Chou sebagai Qiao Fei
Baru saja sukses mendukung dwilogi Red Cliff, Lin Chiling sebagai Lan Ting
Eric Tsang sebagai Chop
Chen Daoming sebagai Master Hua

Director:
Chu Yen Ping merupakan salah satu sutradara kawakan Hongkong yang mengawali karirnya lewat Shi da wang pai (1982).

Comment:
Antusiasme awal melihat 3 nama sebagai daya tariknya mulai dari Jay Chou dan Lin Chiling beserta sutradara Kevin Chu mendadak sirna setelah setengah jam berlalu. Plotnya merupakan campur aduk yang sangat tidak orisinil, comotan sana sini dari Indiana Jones ataupun The Mummy yang Hollywood style dikonversikan ke nuansa Asia. Bahkan latar belakang padang pasir dan bangunan tersembunyi di bawahnya juga lengkap tersaji! Oh well..
Mood menonton yang langsung drop semakin hilang ketika Jay dan Lin yang diharuskan membangun chemistry malah terasa berakting sendiri-sendiri. Satu persatu karakter datang dan pergi tanpa andil merekonstruksi bangunan cerita yang ingin dihadirkan termasuk beragam tokoh antagonis yang pada akhirnya dikalahkan dengan mudahnya. Sayang sekali Chen Daoming dan Eric Tsang yang sudah senior menyia-nyiakan bakat mereka dengan bermain disini.
Sutradara Kevin harusnya realistis pada kemampuan terbatasnya mengarahkan komedi modern masa kini saja seperti yang sudah dilakukannya sebelum ini bersama Jay lewat Kungfu Dunk (2008) yang jauh lebih berhasil itu. Konflik yang ingin dihadirkannya terasa berputar-putar saja dan tidak benar-benar menjadi permasalahan yang harus diselesaikan pada akhirnya. The Treasure Hunter merupakan salah satu contoh adaptasi Hongkong yang gagal yang menghasilkan tontonan tidak berisi dan hanya akan membuat penonton menangis karena mencoba bertahan menyaksikannya hingga durasi berakhir dengan harapan menemukan ending yang memuaskan.

Durasi:
105 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent