XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rifky balweel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rifky balweel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 November 2010

SUSAH JAGA KEPERAWANAN DI JAKARTA : Realita Gadis Kampung Menjual Diri Di Ibukota

Storyline:
Primadona Desa Kandang Jago, Srinthil bermimpi bisa menjadi bintang film dan hidup berkecukupan di kota besar. Dua sahabatnya sejak kecil yaitu Kunil dan Centini hanya bisa mendengarkan sambil turut membayangkan. Demi menghindari perjodohan orangtuanya, ketiga dara tersebut nekad lari ke Jakarta dengan uang pas-pasan. Kesulitan mencari tempat tinggal yang sewanya sesuai dengan bujet, mereka akhirnya terdampar di sebuah motel yang seringkali dijadikan transaksi seks singkat. Disitulah Srinthil bertemu teman lamanya yang juga seorang pekerja seks. Lewat Jiun sang pekerja di motel tersebut, ketiganya nekad mencoba menjadi PSK sambil tetap berusaha mempertahankan kehormatan mereka. Beruntung banci setiakawan bernama Bertha mau membantu untuk mendandani Srinthil, Kunil dan Centini serta membantu “memuaskan” klien-klien ketiganya. Akankah kebohongan dan pertaruhan yang mereka jalani akan dibayar mahal kelak?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sentra Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 29 November 2010 yang lalu.

Cast:
Masayu Anastasia sebagai Srinthil
Aulia Sarah sebagai Centini
Sarah Rizkya sebagai Kunil
Rifky Balweel sebagai Jiun
Indra Birowo sebagai Bertha
Tessy Srimulat

Director:
Merupakan film pertama Joko Nugroho yang perilisannya tertunda nyaris 2 tahun!

Comment:
Saya merasa film ini seperti produk tambal sulam. Pergantian rumah produksi dan guntingan sensor LSF bisa jadi menjadi penyebab utamanya. Sejujurnya saya sempat tertarik pada konsep Urbanisexy beberapa tahun lalu dan saya merasa judul tersebut lebih tepat dengan isi film secara keseluruhan. Plot cerita sebetulnya biasa saja mengenai trio gadis kampung yang nekad mengadu nasib di Jakarta dan akhirnya berlabuh sebagai wanita-wanita penghibur. Yang membedakan adalah mereka masih berusaha mempertahankan keperawanan masing-masing dan itu sukses! Terima kasih pada Indra yang bermain sangat “total” sebagai Bertha dengan berbagai macam wig dan kostum yang sangat “tampil”! Sebagian dari anda bisa jadi jengah melihat aksi Indra yang semakin lebay seiring bertambahnya durasi film ini.
Masayu, Aulia dan Sarah berusaha menyajikan akting semaksimal mungkin. Namun diantara ketiganya, Masayu lah yang paling luwes dengan bahasa tubuh dan ekspresinya yang juara itu. Sayangnya kedangkalan karakterisasi mereka tak bisa dipungkiri karena sepanjang film kita hanya disajikan polah tingkah Srinthil, Kunil dan Centini yang tiada habisnya menerima pelanggan dan kemudian berlari-lari keluar kamar. Lagi dan lagi.. Sempat membuat saya berpikir untuk menyalakan counter tetapi setelah dipikir-pikir rasanya lebih baik memejamkan mata sejenak
Sutradara Joko selaku masinis terkesan kesulitan menjaga keretanya tetap berada di jalur yang benar. Alhasil sepanjang perjalanan melenceng sana-sini, sempat tersasar pula karena berpindah jalur hingga pada akhirnya sampai juga di stasiun setelah kehilangan beberapa muatannya. Itulah yang terjadi pada Susahnya Jaga Keperawanan Di Jakarta. Anda hanya dapat menikmatinya sekitar 30 menit pertama saja, selebihnya anda boleh memilih untuk turun dari kereta daripada mengalami pusing kepala, gangguan penglihatan atau pendengaran akut akibat visualisasi yang melelahkan dan tata musik yang berlebihan.
Kesalahan akan kualitas akhir di bawah standar ini mungkin pantas dialamatkan pada perombakan skrip sebelum akhirnya dirilis juga. Membuat film ini seperti kebingungan menentukan identitasnya sendiri, apakah komedi hitam, drama realita, atau apapun itu namanya, anda sendiri yang boleh menentukan!

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Jumat, 13 Maret 2009

TEROWONGAN RUMAH SAKIT : Dihantui Ibu Kandung Masa Lalu

Cerita:
Seorang gadis muda, Dinar dikirim kedua orangtuanya ke rumah sakit karena penyakit asma yang memburuk. Rawat inap itu ternyata membawa pengalaman spiritual bagi Dinar karena sejak awal ia kerapkali melihat penampakan wanita menggendong bayi yang berlari-lari di koridor rumah sakit tersebut. Berusaha mengumpulkan fakta dari suster ataupun pengurus rumah sakit, Dinar tidak mendapat keterangan apapun. Ditemani sahabatnya Akila dan kekasihnya Bimo, Dinar berusaha mencari jawaban dari itu semua sebelum orang-orang terdekat yang pernah diimpikannya tewas mengenaskan dengan misterius.

Gambar:
Dominan dengan scene lambat yang sebagian besar bersetting di rumah sakit. Nuansa kosong dan sunyi mampu tertangkap dengan baik.

Act:
Sarah Shafitri sebagai Dinar memperlihatkan emosi yang baik setelah baru saja kita lihat aktingnya sebagai gadis posesif dalam Kambing Jantan.
Rifky Balweel yang sebelumnya bermain dalam The Wall tidak jauh berbeda dengan peran stereotype yaitu pacar yang tidak setia bernama Bimo tapi akhirnya menyadari kekeliruannya untuk kemudian mendampingi kekasihnya melewati semua problema.
Dibantu oleh Ray Sahetapy dan Henidar Amroe sebagai orangtua Dinar.

Sutradara:
Berturut-turut setelah membesut parodi Sumpah "Ini" Pocong, Helfi Ch Kardit yang dikenal luas sejak Hantu Bangku Kosong mencoba kembali genre drama horor. Sayangnya tema yang disampaikan kali ini kurang kuat sehingga sulit dieksplorasi lebih dalam lagi.

Komentar:
Sangat datar! Begitu kesan yang saya tangkap saat menyaksikan film ini. Nyaris tanpa riak dari awal sampai akhir meskipun beberapa penampakan sebetulnya cukup menakutkan. Penonton akan dengan mudah menebak cerita secara keseluruhan mulai beberapa menit pertama film sehingga tidak ada lagi unsur kejutan. Klimaksnya pun tidak membantu. Hm, meski tidak sampai dibilang di bawah standar karena penggarapan yang sebetulnya cukup baik, Terowongan Rumah Sakit tidak akan menjadi karya yang memorable.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!