XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label chris pine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chris pine. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

STAR TREK INTO DARKNESS : Mesmerize Space Voyage Favors Non Trekkies


Quote:
James T. Kirk: If Spock were here, and I were there, what would he do?
Scotty: He'd let you die.

Nice-to-know:
Menurut J.J. Abrams, konsep perjalanan waktu dan kenyataan alternatif yang digunakan pada seri terdahulu mendorong kemungkinan adanya reboot film baru.

Cast:
Chris Pine
sebagai James T. Kirk
Zachary Quinto sebagai Spock
Zoe Saldana sebagai Uhura
Karl Urban sebagai Bones
Simon Pegg sebagai Scotty
John Cho sebagai Sulu
Benedict Cumberbatch sebagai Khan
Anton Yelchin sebagai Chekov
Bruce Greenwood sebagai
Pike

Director:
Merupakan feature film ke
empat bagi J.J. Abrams setelah terakhir menangani Super 8 (2011).

W For Words:
Apabila menilik sejarah panjang Star Trek dari serial televisi hingga film layar lebar, niscaya anda akan menemukan ratusan judul/episode dengan puluhan aktor-aktris yang pernah memerankan multi karakter dalam franchise ini. Lantas apa bedanya dengan garapan J.J. Abrams melalui dua seri reboot nya yang terpaut empat tahun sejauh ini? Jawabannya bisa jadi karena Hollywood minded. Ya, nama Abrams memang kian tersohor sebagai filmmaker, baik produser, penulis skrip maupun sutradara. Terbukti Star Trek (2009) berhasil meraup lebih dari 250 juta dollar lewat peredaran di Amerika Serikat saja.

Kembali dari misi Enterprise yang kontroversial karena mengancam keselamatan Komandan Spock, Kapten James T. Kirk menjadi sorotan organisasi karena melanggar beberapa peraturan dasar Starfleet. Saat
sidang tengah dilakukan di London, markas mereka diserang oleh seorang pria misterius yang belakangan diketahui bernama John Harrison. Kepalang tanggung, Kirk dan Spock kembali bertandem dan melakukan pengejaran hingga ke Klingon demi menghentikan teror penghancuran dunia. Persahabatan dan kesetiaan mereka pun diuji di atas ambang hidup dan mati.

Kolaborasi Roberto Orci dan Alex Kurtzman kembali menelurkan skrip yang mengambil kejadian beberapa bulan setelah kejadian film pertama. Bagi para Trekkies (die hard fans Star Trek) mungkin akan kecewa melihat penyempitan karakter menjadi segelintir saja. Namun penonton umum tampaknya tidak akan keberatan mengingat konflik dapat lebih terfokus lagi dalam skala yang lebih besar. Interaksi antar tokohnya menjadi lebih efisien setelah disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Keputusan yang cerdas sehingga plotnya terkesan lebih dinamis tanpa harus meninggalkan ‘identitas’ Star Trek itu sendiri.

Abrams
masih mempertahankan trademark nya yaitu CGI mumpuni yang membuat setiap adegan aksinya terasa megah. Terlebih detail setting kapal dan angkasa luar nya yang menakjubkan, sesuai dengan bujet besar yang dihabiskan. Efek 3D nya pun tidak melulu gimmick, banyak eye-popping yang memanjakan mata. Apalagi kisaran tiga puluh menit adegan yang khusus disyut dengan kamera IMAX yang kian merelakan kocek lebih penonton. Semua itu bisa jadi mubazir jika tidak dilengkapi karakterisasi kuat yang untungnya tercipta meski tak seluruh tokoh mendapat porsi yang memadai.
 
Pine yang selama ini berupaya lepas dari bayang-bayang William Shatner sukses menerjemahkan karakter Kirk muda yang rebel sekaligus intuitif tanpa berlebihan. Tumbuh kembangnya yang dominan di atas karakter lain jadi kekuatan tersendiri. Quinto merupakan penyeimbang yang tepat di sini dimana karakter Spock yang sebetulnya Vulcan tetap mampu membawakan emosi manusia dengan gemilang. Munculnya karakter baru Dr. Carol Marcus dan John Harrison yang dijiwai secara memorable oleh Eve dan Cumberbatch tidak menghalangi Saldana, Urban, Cho, Yelchin, Pegg, Greenwood untuk mencuri perhatian pula selama durasi berjalan.

Star Trek Into Darkness memang masih menawarkan tipikal ending ‘hero movies’ yang kerap dipakai Hollywood beberapa tahun terakhir. Quite predictable if you already get used to it. Beruntung ikatan emosional Kirk dan Spock yang kental berhasil membangun nyawa film secara keseluruhan. Thanks to smart dialogue and humor sides that get along well! Imajinasi tinggi dengan twist dan turns yang variatif plus skala yang lebih besar tanpa harus meninggalkan ‘akar’ Star Trek akan membuat space voyage anda kali ini lebih berarti, better than its predecessor!

Durasi:
1
32 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 19 Februari 2012

THIS MEANS WAR : (Not) A Spy Movie But Bromance Rivalries


Quotes:
Lauren: Oh, I think I'm going to hell.
Trish: Don't worry. If you're going to hell, I'll just come pick you up.

Nice-to-know:
Sam Worthington, Colin Farrell, Justin Timberlake dan Seth Rogen sempat dipertimbangkan untuk dua pemeran utama sebelum terpilih Chris Pine dan Tom Hardy pada akhirnya.

Cast:
Reese Witherspoon sebagai Lauren
Chris Pine sebagai FDR Foster
Tom Hardy sebagai Tuck
Til Schweiger sebagai Heinrich
Angela Bassett sebagai Collins
Chelsea Handler sebagai Trish

Director:
Merupakan film kelima bagi McG yang terakhir menggarap Terminator : Salvation (2009).

W for Words:
Premis cinta segitiga yang dibumbui dengan persaingan antar agen rahasia dalam menjalankan misi masing-masing. Hm, sepintas terdengar klise dan tidak terlalu istimewa. Namun melihat nama Tom Hardy dan Chris Pine yang tengah naik daun di Hollywood sebagai dua pentolannya sekaligus sang America’s sweetheart Reese Witherspoon pada jajaran castnya, bisa jadi anda menaruh ekspektasi tinggi. Sebaiknya tidak, karena anda mungkin akan kecewa pada akhirnya.
Dua agen CIA kelas atas yaitu Tuck dan FDR tengah menuntaskan misi menangkap bandit internasional bernama Heinrich. Saat rehat, FDR menyarankan Tuck untuk pergi berkencan dengan gadis yang baru dikenalnya lewat internet, Lauren. Di luar dugaan, Lauren justru tanpa sengaja bertemu FDR sepulang pertemuan dengan Tuck. Kedua agen yang sama-sama berani mati demi menyelamatkan nyawa masing-masing ini pun terlibat persaingan cinta yang ketat hingga melibatkan cara-cara yang tidak sehat.

Sutradara McG nampaknya tahu bagaimana menyatukan para bintang tersebut untuk bekerjasama secara maksimal di depan kamera. Jalan ceritanya memang mudah ditebak tapi untungnya dialog yang tercipta di antara karakter yang terbatas itu cukup bergigi, terlebih perkataan ceplas-ceplos menggigit dari Chelsea Handler yang provokatif untuk memancing tawa itu. Adegan aksi yang minimal lebih tepat disebut sebagai latar belakang cerita tapi masih cukup krusial di berbagai lini terutama di bagian pembuka dan penutup.
Jualan utama duet Pine dan Hardy terbukti dinamis. Tokoh FDR dan Tuck sama-sama pria tangguh yang berbagi chemistry bromance dan rivalitas secara memikat. Lihat bagaimana keduanya memanfaatkan teknologi canggih untuk saling mendahului. Sebagai penyeimbang, Witherspoon mungkin tidak semenarik dalam film-film bergenre sejenis terdahulu tetapi tokoh Lauren di tangannya benar-benar feminin dengan logika dan perasaan yang kerapkali bertentangan.

This Means War tampaknya berupaya menjangkau audiens yang lebih luas dengan plot cerita yang disuguhkan oleh penulis Timothy Dowling dan Marcus Gautesen ini. Jelas bukan action spy yang megah atau tipikal komedi boys and girls yang jenaka ataupun romance flick yang penuh tarik ulur tetapi McG mengemasnya dalam standar “jalan tengah” yang lumayan menghibur. Manjakan mata anda dengan aksi keren Hardy dan Pine dalam setelan kemeja dan jas yang perlente atau kebingungan Witherspoon dalam menjatuhkan pilihan yang sama beratnya. The most important thing is who’s ur pick from the very start?

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 27 November 2010

UNSTOPPABLE : Misi Menghentikan Kereta Tanpa Masinis

Quotes:
Frank: This ain't training. In training they just give you an F. Out here you get killed.

Storyline:
Sang masinis ceroboh Dewey meninggalkan keretanya selagi berusaha menarik rem sendirian. Sayang usahanya untuk kembali ke kereta sudah terlambat karena kecepatannya. Kejadian ini menarik perhatian Connie, pengawas jalur KA yang berusaha meminimalisir resiko terlebih setelah mengetahui bahwa sebagian gerbong tersebut mengangkut muatan kimia yang berbahaya dan mudah terbakar. Sayangnya usahanya tidak disetujui oleh sang pimpinan Galvin yang tetap yakin mampu mengatasinya. Di lain kesempatan, tandem engineer senior-junior Frank dan Will tengah berargumen mengisi hari-hari mereka dengan permasalahan masing-masing. Kemudian keduanya berusaha melakukan usaha terbaiknya untuk menghentikan kereta sebelum menghancurkan kota kecil Stanton.

Nice-to-know:
Berdasarkan insiden sungguhan dimana pada tanggal 15 Mei 2001, 47 gerbong lokomotif meninggalkan Toledo, Ohio tanpa masinis hingga berhenti setelah berlari sejauh 66 mil dan melewati tiga negara bagian. Beruntung tidak ada korban dalam kejadian tersebut.

Cast:
Merupakan kerjasama kelimanya dengan sutradara Tony Scott yang diawali dalam Crimson Tide (1995), Denzel Washington bermain sebagai Frank yang menjalani hari-hari terakhirnya sebelum pensiun.
Mulai ternama di seantero dunia lewat peran Captain Kirk muda dalam Star Trek (2009), Chris Pine kebagian peran masinis muda bernama Will yang tengah bermasalah dengan rumah tangganya.
Rosario Dawson sebagai Connie
Ethan Suplee sebagai Dewey
Kevin Dunn sebagai Galvin

Director:
Bukan kebetulan jika Tony Scott terakhir kali menggarap thriller bersetting kereta juga yakni dalam The Taking of Pelham 1 2 3 (2009).

Comment:
Secara tidak langsung, film ini akan mengingatkan anda pada The Taking Of Pelham 123 yang merupakan proyek remake tahun lalu. Menampilkan kinerja Washington dan Travolta yang diarahkan oleh Scott memang cukup mengecewakan disana, apalagi dibandingkan dengan versi originalnya. Namun buang jauh-jauh pesimisme anda terhadap film ini jika film yang saya sebutkan pertama menjadi acuannya. Meski sama-sama bersetting di kereta tetapi jauh berbeda hasilnya, sebab utamanya karena ini adalah action movie, not a crime thriller.
Penulis Mark Bomback menghasilkan skrip dengan premis yang sederhana dan sangat mendasar bahkan tanpa tokoh antagonis sekalipun. Yang ada hanyalah heroisme Frank yang senior dan Will yang junior. Keduanya dibawakan dengan sangat baik oleh Washington dan Pine. Chemistrynya terasa wajar dikarenakan mereka sama-sama memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi meski hanya sebagai manusia biasa. Belum lagi konflik pro-kontra Dawson dan Dunn yang cukup menggigit dimana masing-masing berusaha mempertahankan idealisme dan rasionalitas tersendiri.
Sutradara Scott memang sedikit melambat di awal dengan dramatisasi klise yang menyertai pengenalan para karakternya. Namun memasuki pertengahan hingga akhir, tensi film semakin meningkat apalagi situasi mencekam yang diciptakannya terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Menggunakan kereta sungguhan, jalur KA yang riil sehingga kecepatannya membelah angin dengan decitan pergantian jalur seakan membawa kita berada di tengahnya.
Cukup menyenangkan melihat Unstoppable hadir sebagai tontonan action murni tanpa unsur 3D ataupun efek CGI yang berlebihan yang sudah semakin membombardir industri film Hollywood belakangan ini. Jalan cerita yang mudah diikuti berpadu cantik dengan sinematografi memukau yang menampilkan full adegan outdoor di Pennsylvania. Ini jelas bukan film kelas penghargaan pretensius tetapi sangat menyenangkan untuk mengisi waktu luang anda terutama bagi pecinta film aksi yang mengandalkan kepahlawanan orang-orang biasa yang banyak kita temui di sepanjang jalan.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$41,867,769 till mid Nov 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 02 September 2009

CARRIERS : Perjalanan Sahabat Saudara Menghindari Wabah

Quotes:
Doctor: Sometimes choosing life is just choosing a more painful form of death.


Storyline:
Merebaknya virus mematikan di belahan bumi membuat Brian dan kekasihnya Bobby serta adiknya Danny dan teman mereka Kate bertekad mengungsi ke pantai dimana abang adik tersebut biasa menghabiskan liburan masa kecil mereka. Sayangnya dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi rusak di tengah gurun hingga harus menumpang pada seorang pria bernama Frank dengan putrinya Jodie yang terinfeksi. Keenam orang yang saling menjaga jarak itu mulai menciptakan dilema dan konflik yang semakin memuncak hingga tidak terlihat jalan kembali seperti sediakalanya.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Paramount Vantage, Likely Story, This Is That Productions dan Ivy Boy Productions.

Cast:
Mulai dikenal sejak membintangi Thumbsucker (2005), Lou Taylor Pucci berperan sebagai Danny Green
Chris Pine sebagai Brian Green
Piper Perabo sebagai Bobby
Pebalet ini pernah mendukung The Ring Two (2005), Emily VanCamp bermain sebagai Kate

Director:
Merupakan debut sekaligus kolaborasi pertama bagi kakak beradik asal Spanyol bernama David dan Alex Pastor ini.

Comment:
Epidemi penyakit menular biasanya digambarkan mengerikan dalam sebuah film. Hal yang sama berlaku pada skrip yang dikembangkan David dan Alex Pastor ini, hanya saja mereka memperkuat jalinan keempat tokoh utama disini yang terdiri dari dua pasang kekasih dan sepasang abang adik kandung. Bagaimana perjalanan yang seharusnya menuju kebebasan bersama harus berantakan karena kecerobohan dan keegoisan masing-masing.
Pucci merupakan salah satu aktor muda berbakat yang belum banyak diketahui. Peran Danny yang lemah hati itu dilakoninya dengan baik, tak jarang sahabat dan abangnya sendiri bisa begitu dominan terhadapnya. Sedangkan Pine yang namanya semakin melejit sebagai calon aktor besar di masa mendatang tidak mengecewakan sebagai Brian yang temperamen dan bajingan itu. Perabo dan VanCamp juga memperkaya karakteristik dalam film dengan sisi feminin yang tidak monoton tersebut.
Pastor brothers yang juga bertindak sebagai sutradara itu menghadirkan konsep film yang cukup inovatif dengan production value yang sangat berarti. Terkadang durasinya yang nyaris mencapai satu setengah jam itu terasa sangat lama dikarenakan gaya penuturan yang seksama. Meskipun penonton sudah tahu kemana suatu adegan akan mengarah tapi perpanjangan detil cerita tetap dilakukan untuk menegaskan konflik apa yang sesungguhnya dialami para tokohnya itu.
Jika anda mengharapkan adegan sadis ataupun kejutan horor bertubi-tubi yang mencekam, bersiaplah untuk kecewa. Carriers tak lebih dari sekadar drama yang kental dengan aroma persahabatan dan kekeluargaan, mengaduk-aduk emosi penonton untuk benar-benar bersimpati pada semua karakternya yang terbilang abu-abu. Plotnya memang tak terlalu berfokus pada penyebab merebaknya virus mematikan itu tetapi lebih pada situasi dimana rasa kemanusiaan bisa dikalahkan oleh keputus asaan yang menyedihkan.

Durasi:
84 menit

U.S. Box Office:
$90,820 till Sep 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 13 Juni 2009

STAR TREK : Asal Mula Kisah Kapten USSR James T. Kirk

Quotes:
Spock-James T. Kirk.
Kirk-Excuse me?
Spock-How did you find me?
Kirk-Whoa... how do you know my name?
Spock-I have been and always shall be, your friend.
Kirk-Wha...
[shakes head]
Kirk-Euh... look... I-I don't know you.
Spock-I am Spock.
Kirk-...Bullshit.

Cerita:
Memasuki Starfleet Academy, James T. Kirk muda harus melepaskan diri dari semangat kepahlawanan ayahnya, George Samuel Kirk di masa lalu yang meninggal sebagai kapten di USS Kelvin ketika berperang melawan kaum Romulan. Namun James T. Kirk yang memang berbakat berhasil mencuat dan mendapatkan kepercayaan Kapten Pike sebagai Komandan Pertama dibawah Spock. Perseteruan mereka melawan kaum Romulan yang dipimpin Nero berlanjut dan harus bersiap agar kehidupan bumi yang sekarang dan di masa depan tidak terancam musnah.

Gambar:
Sangat futuristik dengan kostum dan setting yang detail dan eye-catching juga tidak lupa interior dalam kapal luar angkasa yang mewah.

Act:
Mengawali karir di layar gelas pada tahun 2003 lewat beberapa serial ternama seperti The Guardian, CSI : Miami dan ER membuat aktor muda Chris Pine dikenal dan pada tahun 2009 menggebrak lewat perannya sebagai James T. Kirk muda yang ugal-ugalan tetapi berani mengambil resiko dengan perhitungan yang matang.
Zachary Quinto tenar lewat peran antagonis dalam serial teve ternama Heroes tampil gemilang sebagai Spock yang bertangan dingin dan selalu tidak ekspresif dalam situasi apapun.
Pernah mendukung film franchise televisi Hulk (2003), Eric Bana kali ini kebagian peran antagonis Nero yang berkulit hijau.
Sebelum ini tampil singkat dalam Vantage Point (2008) tidak menyurutkan langkah Zoe Saldana memainkan karakter love interest James T. Kirk yang akhirnya menjalin asmara dengan gurunya Spock yakni Nyota Uhura.
John Cho yang tenar lewat Harold & Kumar Go to White Castle (2004) disini sebagai Sulu yang jenaka.
Anton Yelchin bermain kocak sebagai Pavel Chekov, komandan pintar beraksen Rusia yang kental.

Sutradara:
Namanya mencuat setelah membesut Mission Impossible III pada tahun 2006 yakni J.J. Abrams yang konon selalu merahasiakan proses syuting dari khalayak umum. Tangan dinginnya terbukti sukses mengangkat karirnya sebagai sutradara potensial Hollywood.

Komentar:
Meskipun dijelaskan bahwa Star Trek 2009 merupakan reboot, sulit rasanya menyingkirkan aspek-aspek yang sudah ada dari film-film terdahulunya yang kondang di era 1990an. Namun demikian franchise terbaru ini mampu tampil stylish dan tetap setia pada pengembangan karakter tokohnya dalam berseteru satu sama lain demi mengemban misi bersama. Pemilihan cast yang sebagian besar belum memiliki nama besar awalnya cukup berjudi tapi dibayar dengan penokohan yang brilian sehingga semua kekurangan tertutupi. Ceritanya sendiri tergolong klise tapi dibalut dengan alur cerita yang konstan dan menarik. Terima kasih pada sutradara J.J. Abrams yang membuat tampilan Star Trek secara keseluruhan menakjubkan sekaligus membuka peluang sekuel-sekuelnya bermunculan di masa mendatang.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$222,712,175 till Jun 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 24 Januari 2009

BLIND DATING : Jika Pria Tuna Netra Menjalani Kencan Buta

Quotes:
Leeza Raja-Why doesn't he use his cane?
Dr. Evans-Because he doesn't think of himself as blind.

Storyline:
Meskipun pintar, tampan, populer tetapi Danny memiliki kekurangan paling mendasar yaitu buta. Namun demikian ia tetap tegar dan mandiri, sering berjalan tanpa tongkat dan mengenali benda/orang dari suara dan baunya. Kakaknya Larry yang menjadi supir limo berulangkali berusaha menjodohkan Danny dengan wanita karena dianggap tidak normal masih perjaka di usia 22 tahun! Beberapa kencan buta yang dilaluinya tidak membuat Danny bahagia sampai ia bertemu Leeza, resepsionis rumah sakit tempatnya diterapi. Keduanya lambat laun dekat satu sama lain meskipun pernikahan Leeza sedang diatur keluarganya dengan seorang pria India. Sementara itu satu kesempatan operasi diambil Danny walaupun hasilnya tidak dapat dipastikan.

Nice-to-know:
Aslinya dirilis tahun 2006 dan bahkan di Malaysia sudah beredar tahun 2007. Entah mengapa di Indonesia baru diedarkan tahun 2009!

Cast:
Karir aktingnya dimulai lewat Why Germany? (2004), Chris Pine mendapat peran Danny, pemuda buta yang charming, pintar dan selalu berpandangan ke depan.
Karakter Leeza Raja yang cantik sederhana merupakan debut layar lebar pertama bagi Anjali Jay.
Salah satu pentolan franchise movie American Pie, Eddie Kaye Thomas kebagian tokoh Larry, kakak Danny yang mesum.

Director:
Pria kelahiran Georgia bernama James Keach selama ini berpengalaman di dunia pertelevisian termasuk 24 episode serial Dr. Quinn, Medicine Woman periode 1993-1998.

Comment:
Jika melihat teaser poster dan trailernya, kita akan menyangka film ini hanyalah komedi remaja yang ringan seperti popcorn. Nyatanya kita hanya dibuat tertawa terpingkal-pingkal pada tiga puluh menit pertama saat Larry berusaha "keras" mengatur kencan buta bagi adiknya. Setelah itu film mengalir dengan esensi drama mengenai pencarian Danny akan hubungan serius dengan lawan jenis sekaligus jati dirinya sendiri. Sebagai orang buta yang sepintas terlihat tidak buta, Pine menjiwai peran Danny dengan baik dengan bahasa tubuhnya termasuk sorot mata lugunya. Anjali juga tidak mengecewakan sebagai Leeza, gadis India yang bermata bulat besar tetapi sudah terbuka budayanya. Sedikit kolusi saat Jane Seymour yang notabene istri sang sutradara mendapat peran kocak sebagai Dr. Evans yang hobi telanjang! Bagaimanapun chemistry Pine dan Anjali yang sebetulnya terbentur budaya itu tercipta dengan baik sehingga membuat penonton bersimpati pada keduanya yang sama-sama terbebani dengan kehidupan pribadi masing-masing. Andai saja Keach mampu mengeksplorasi sisi yang satu ini, niscaya hasil akhir akan lebih baik lagi. Endingnya terasa dipermudah saat kedua keluarga menerima begitu saja. Hm, jika tidak mempermasalahkan ini itunya, Blind Dating akan bisa anda nikmati dengan perasaan jenaka dan haru sekaligus.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$87,416 till May 2007 (limited few screens).

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent