XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label shawn yue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shawn yue. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

MOTORWAY : Familiar Quality Chase and Drive Theme


Tagline:
Lo: If you lose your drive, you’re worse off than a broken car.

Nice-to-know:
Film berjudul asli Che Sau yang diproduksi Milkyway Image Productions ini rilis di Hongkong pada tanggal 21 Juni 2012.

Cast:
Anthony Wong sebagai Lo
Shawn Yue sebagai Cheung
Guo Xiaodong sebagai Jiang
Michelle Ye
Barbie Hsu
Josie Ho

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Pou-soi Cheang setelah Accident (2011).

W For Words:
Kabarnya produser Johnny To dan sutradara Soi Cheang telah mengerjakan proyek ini sejak tahun 2009. Berbagai proses pengulangan mulai dari skrip, syuting hingga editing pun menyertai sebelum film dapat dirilis sepenuhnya medio 2012 ini. Sesungguhnya buah pemikiran Joey O'Bryan dan Kam-Yuen Szeto ini tidak menawarkan hal baru dengan formula serupa milik franchise The Fast And The Furious, Gone In 60 Second (2000) atau produksi Hongkong sendiri, Initial D (2005). Meski demikian hal tersebut tidak menyurutkan langkah saya untuk menyaksikannya. In the end, I’m satisfied enough!

Jiang adalah pengemudi ulung yang telah pensiun tapi sepakat membantu criminal berbahaya keluar dari penjara demi satu perampokan berlian terakhir di Wui Tai Commercial Building. Musuh bebuyutannya, Lo juga akan menjalani masa bakti terakhirnya sebagai polisi senior. Polantas muda, Cheung yang ambisius bertekad menangkap Jiang tetapi gagal di gang sempit yang menghancurkan mobilnya. Dikeluarkan dari satuan karena sifat pembangkangnya, Cheung tak berniat mundur dan meminta bantuan Lo untuk mengajarkan teknik mengemudi terbaiknya.

Sutradara Cheang berupaya mempercepat tempo untuk menghindari kebosanan. Perasaan yang memang sulit dihindari ketika terjadi dramatisasi di beberapa bagian, terlebih penjelasan masa lalu Lo yang dirasa perlu. Untungnya penampilan aktor-aktris kaliber Hongkong disini samasekali tak mengecewakan walaupun tidak dominan. Karakter kunci tetap dipegang oleh trio Anthony, Shawn dan Guo yang memberikan penjiwaan yang sesuai dengan karakterisasi masing-masing. Kemunculan sekilas Barbie sebagai dokter bedah yang disukai Cheung memberikan warna lain dalam kemungkinan romansa di antara mereka.

Jangan harapkan aksi kejar-kejaran seru yang rajin menghancurkan mobil mewah layaknya produksi Hollywood. Film ini terbukti masih menawarkan semua hal tersebut tetapi dalam skala yang lebih kecil. Tentunya sudah disesuaikan dengan konflik yang ada di antara penjahat karismatik dan polisi simpatik yang setara itu sehingga terjadi pertukaran dialog yang efektif secukupnya. Yang menarik, sinematografer Yuen Man Fung dan Kenny Tse melakukan keseluruhan proses tanpa permisi dimana waktu syuting memang dominan di malam hari. This is what you called guerrilla-style!

Segi lighting yang minim karena pencahayaan natural di bagian penghujung film memang agak mengganggu kenikmatan penonton dalam mengetahui apa yang tengah terjadi. Overall, Motorway masih lumayan mengesankan walau mengusung ide familiar dan gaya konvensional. Seperti yang anda tahu, sang jagoan percaya diri, gagal pada kesempatan pertama, bangkit karena mendapat suntikan moral dari sosok ayah/guru yang membimbingnya sebelum sukses mencapai tujuannya. Therefore, only smart filmmaking skills make it slightly different this time!

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 18 Mei 2011

MY BEST BODYGUARD : Pencegahan Virus Mematikan Reporter Berani

Tagline:
The world’s most dangerous virus is about to end human race.


Storyline:
Sebuah virus jenis baru HOPE tengah mengancam Bangkok yang dapat menewaskan seseorang hanya dalam waktu 4 hari! Fakta tersebut diketahui oleh Nicha, reporter wanita ternama yang kemudian berusaha menelusuri sebab musababnya itu. Ternyata 7 orang tidak beruntung tengah digunakan oleh perusahaan farmasi asing sebagai bahan percobaan sekaligus penemuan anti virus tersebut. Nicha dibantu oleh Thud dan juga NSSD harus mengungkapkan semuanya sebelum terlambat meski mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Nice-to-know:
Distributor Hongkong, Media Asia akan mendistribusikan film secara internasional, sedangkan Oriental Eyes akan menangani peredaran domestik Thailand.

Cast:
Ubolratana Rajakanya sebagai Nicha
Chakrit Yamnam sebagai Thud
Shawn Yue sebagai Shawn
Dr. Archong Chumsai Na-Ayuthaya
Sompol Piyapongsiri

Director:

Sirippakorn Wongchariyawat

Comment:
Thailand mungkin lebih dikenal dengan pasokan film horor atau komedi romantisnya beberapa tahun terakhir yang terbukti cukup sukses menembus pasaran Asia termasuk Indonesia. Namun jika berbicara mengenai action kontemporer seperti yang satu ini, rasanya masih terlalu ambisius walaupun sudah didukung dengan bujet tinggi dan berkolaborasi dengan Hongkong sekalipun. Asia tetaplah Asia dan tidak akan pernah sama dengan nuansa Hollywood bagaimanapun juga.
Premis film ini adalah mengenai penyebaran virus jenis baru yang disebut HOPE. Pihak yang berada di sisi antagonis mungkin bisa dimaklumi yang kebetulan berasal dari kaum kapitalis alias pengusaha industri besar. Tapi kalangan protagonisnya yang kebetulan seorang presenter televisi wanita? Yang bertindak sendiri di luar sepak terjang polisi? Oke menurut saya hal ini sedikit aneh dan terlalu dipaksakan apapun alasannya.
Setelah mengetahui siapa pemeran Nicha sebenarnya rasanya misi filmmaker sudah dapat diterka. Ia adalah Putri Ubolratana Rajakanya, alias keturunan langsung Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Regent Sirikit! Sayangnya Sang Putri harus diakui kurang memiliki aura bintang dan tidak cukup meyakinkan sebagai reporter berkelas yang sangat dominan kemunculannya. Itulah sebabnya dibutuhkan beberapa aktor good looking untuk tandemnya tapi tidak banyak membantu karena justru lebih memperjelas gap.
Shawn Yue yang paling berpengalaman dalam genre action (lihat saja daftar film Hongkong yang dibintanginya) justru kesulitan berbahasa Inggris dengan baik sehingga mengurangi daya tariknya. Malah Chakrit yang paling terlihat wajar dan bisa dibilang judul film ini merujuk pada perannya disini. Tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya jika semua karakter terkesan kurang eksplorasi, skrip yang ditulis oleh C.R.A.B. memang tidak memungkinkan untuk itu.
Sutradara Wongchariyawat tampak kesulitan menyatukan kepingan-kepingan action yang serba palsu disini. Saya pikir mungkin hanya 50% yang setidaknya terlihat sungguhan, sisanya hanyalah buang-buang peluru ke space kosong, lontaran mobil atau adu fisik yang dibantu oleh editor. Pengertian aktor dan petarung sungguhan jelas berbeda. Anda termasuk penonton reguler film action diyakini kecewa dengan suguhan aksi kali ini.
Tidak susah menyimpulkan My Best Bodyguard sebagai film aksi dengan komposisi buruk di dalamnya. Selayaknya anda yang sudah bisa tersenyum melihat trailernya yang sangat berusaha terlihat “menjual” itu dipastikan akan tertawa lebih lebar lagi menyaksikan keseluruhan isinya. Sebuah proyek ambisius yang nampaknya tidak akan mengatrol posisi Sang Putri ke tingkat superstar meskipun ia berhasil survive pada akhir cerita dan sempat melontarkan serentetan kalimat bijaksana sekalipun!

Durasi:
105 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 13 Maret 2011

THE CHILD’S EYE : Turis Muda-Mudi Terperangkap Hotel Berhantu

Storyline:
Enam muda-mudi terdampar di Thailand karena situasi politik tahun 2008 yang memanas di negara itu. Masing-masing adalah Rainie dan Lok yang nyaris putus, kakak beradik Ling dan Rex serta oasangan Ciwi dan Hei. Dikarenakan bandara ditutup dan harus menunggu jemputan Paman Wong, mereka terpaksa tinggal di sebuah hotel tua yang kumuh. Kejadian demi kejadian aneh mulai dialami terlebih setelah bertemu tiga anak aneh dan anjingnya. Masalah timbul saat Lox, Rex dan Hei menghilang secara bersamaan. Rainie, Ciwi dan Ling harus menguak rahasia masa lalu mengerikan yang terjadi disana sekaligus kembali ke Hongkong dengan selamat.

Nice-to-know:
Pemutaran perdananya dilakukan pada Venice Film Festival pada tanggal 4 September 2010 yang lalu di luar kompetisi.

Cast:
Rainie Yang sebagai Rainie
Shawn Yue sebagai Lok
Ciwi Lam sebagai Ciwi
Rex Ho sebagai Rex
Elaane Kwong sebagai Ling
Jo Koo
Gordon Lam

Director:
Oxide dan Danny Pang terakhir cukup mendapat perhatian di Hollywood lewat remake Bangkok Dangerous (2008) yang dibintangi oleh Nicolas Cage.

Comment:
9 tahun setelah The Eye yang legendaris itu pertama muncul, status Pang Brothers telah berubah menjadi sutradara kembar papan atas perfilman Asia. Saya sendiri harus mengakuinya walau merasa tidak seluruh karya mereka memiliki hasil maksimal. Terlebih episode terakhir franchise tersebut yang muncul tahun 2005 dengan title The Eye 10 terus terang mengecewakan karena lebih pantas disebut komedi.
Kali ini misi Danny dan Oxide tidak mudah sebab harus menggarap film horor Hongkong pertama berbasis 3D walau bukan yang pertama di Asia sebab sudah didahului oleh Jepang lewat The Shock Labyrinth (2009). Berbagai efek 3D diyakini akan cukup mengagetkan tetapi nyaris tanpa inovasi yang berarti. Yang patut dipuji hanyalah konsistensi tone warna hijau gelap yang dihadirkan sepanjang film.







Sayangnya plot cerita yang juga ditulis mereka bersama Thomas Pang kurang mendapat pengembangan yang menarik sehingga membuat fokusnya terasa berloncatan disana-sini. Narasi yang membosankan dengan alur lambat bisa jadi membuat audiens mengantuk memasuki pertengahan durasi. Menunggu kemunculan hantu yang diyakini dapat menjaga antusiasme tapi cuma terjadi sesekali saja.
Dari jajaran akting, Rainie Yang sudah melakukan yang terbaik sebagai leading actress tapi tidak cukup kuat untuk mengambil simpati penonton. Begitu pula dengan Shawn Yue yang sebetulnya punya peluang baik untuk menunjukkan tingginya jam terbang yang dimiliki malah terkesan bermain apa adanya. Justru karakter “putih” anjing yang bisa ‘melihat’ dan karakter “hitam” setengah manusia setengah anjing yang menakutkan memiliki daya tarik tersendiri disini, setidaknya pada setiap adegan yang melibatkan salah satunya.
Sebetulnya The Child’s Eye memiliki awal yang menjanjikan tapi ditutup oleh Pang Brothers tanpa konklusi yang matang. Sangat khas mereka. Balutan efek psikologis yang dihadirkan lewat ruang-ruang sempit di dalam hotel yang klastrofobik beserta penggunaan efek CGI yang cukup efektif membangun creepy mood mungkin merupakan nilai terbaik yang ada dalam produksi film ini. Walau kekurangan demi kekurangan yang dominan sulit ditutupi begitu saja.

Durasi:
95 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: