XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label gordon chan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gordon chan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Agustus 2012

THE FOUR : Missed Opportunity Potential Asian Superheroes

Quote:
Zhuge Zhengwo: Bagi sebagian besar wanita, tak ada wanita yang baik di dunia ini.

Nice-to-know:
Sudah rilis di China pada tanggal 12 Juli 2012 yang lalu.

Cast:
Ronald Cheng sebagai Life Snatcher
Collin Chou sebagai Iron Hand
Chao Deng sebagai Cold Blood
Crystal Liu Yifei sebagai Emotionless
Sheren Tang
Anthony Wong Chau-Sang sebagai Zhuge Zhengwo
Cheng Tai Shen sebagai Sheriff King
Wu Xiubo sebagai An Shigeng

Director:
Merupakan film ke-30 bagi Gordon Chan setelah terakhir Mural (2011).

W For Words:
Woon Swee Oan yang berkebangsaan Malaysia telah menuai sukses lewat novel yang mengisahkan kiprah empat detektif ulung dalam memecahkan kasus di China masa lampau. Kini adaptasi layar lebar yang ditangani oleh Gordon Chan ini merupakan salah satu film Mandarin paling ditunggu untuk medio 2012. Beruntung publik Indonesia dapat menikmatinya tepat satu bulan setelah tanggal edar di negara asalnya.

Pada jaman Pemerintahan Dinasti Song terdapat The Six Gate Constabulary pimpinan Sheriff King yang beranggotakan pengawal resmi dan The Divine Constabulary pimpinan Zhuge Zhengwo yang beranggotakan rakyat berkemampuan khusus. Saat terjadi kasus peredaran uang palsu, Zhengwo mengutus Iron Fist, Emotionless, Life Snatcher untuk mengusutnya. Ternyata akar kejahatan yang lebih besar justru sedang dirancang oleh An Shigeng yang bertekad membangkitkan pasukan zombie untuk mengambil alih kedudukan raja.

Mungkin butuh waktu lama bagi anda untuk benar-benar terintrusi ke dalam storytelling film wuxia ini. Setengah durasi pertama bahkan dihabiskan untuk pengenalan karakter yang bejibun itu, termasuk pembahasan konflik-konflik dasar yang sebetulnya tak terlalu krusial. Contoh perasaan terpendam Cold Blood terhadap Emotionless atau aura persaingan Zhengwo dan King dalam merebut simpati raja. Sebenarnya sah-sah saja karena bumbu macam itu memang dibutuhkan untuk memanusiawikan tokoh-tokohnya asal tidak berlebihan.

Production design yang terlihat apik mulai dari wardrobe, make-up hingga setting lokasi 80an ala Hongkong terasa mubazir dengan kemiskinan skrip dan eksekusi Gordon yang tidak spesial padahal jam terbangnya terbilang tinggi. Fokusnya pun terasa blur, apakah drama, thriller, fantasy atau martial arts? Jika dianalogikan sebagai mixed-up genres dengan kepadatan subplot disana-sini maka hasilnya bisa diduga, tidak banyak esensi yang berhasil digelorakan pada penonton di sepanjang durasinya.

The Four dapat kita kategorikan sebagai X-Men versi Asia dimana anda dapat temui "mutan" yang dapat berubah bentuk, membaca pikiran, menggerakkan barang-barang, mentransfer panas/dingin dsb. Jajaran cast yang sebagian besar berasal dari daratan China terbilang berhasil menyuguhkan akting yang menarik terutama Anthony yang minim screen presence atau Collin yang berdarah dingin tersebut. Kabar baik (atau buruk) nya, Enlight Pictures sudah sepakat mengembangkan trilogy dimana saat ini Part 2 sedang dalam tahap pengerjaan. We might hope for a better execution and subtle storyline to get more into this potent Mandarin franchise.

Durasi:
118 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
  

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 30 Agustus 2010

KING OF FIGHTERS : Pusaka Pembuka Pertarungan Dimensi Virtual

Tagline:
Live-action feature based on the video game "King of Fighters".

Storyline:
Agen CIA, Terry Bogard menugaskan Mai Shianui untuk bekerjasama dengan Iori Yagami yang memiliki teori bahwa kalung dan cermin yang dimiliki Chizuru jika disatukan akan membuka jalan ke dimensi lain. Juga ada pedang pusaka milik Saisyu Kusanagi yang diincar Rugal Bernstein untuk berkuasa sebagai pendekar dunia virtual King of Fighters. Tujuan Rugal hanya satu yaitu menggabungkan dunia virtual tersebut dengan dunia nyata. Kini klan Kusanagi mengandalkan Kyo yang harus tandem dengan Mai, Iori dan Terry untuk menghentikan aksi Rugal yang ingin menghancurkan peradaban tersebut.

Nice-to-know:
Untuk peredaran Asia nya dipercayakan pada Micott & Basara K.K. sebagai distributor resmi.

Cast:
Sempat mendukung ansambel drama New York, I Love You kini Maggie Q kebagian peran utama sebagai Mai Shiranui
Publik Indonesia mengenalnya dalam Never Back Down (2008), Sean Faris kali ini bermain sebagai Kyo Kusanagi yang harus menuntaskan dendamnya terhadap musuh keluarganya.
Will Yun Lee sebagai Iori Yagami
David Leitch sebagai Terry Bogard
Ray Park sebagai Rugal Bernstein
Sam Hargrave sebagai Ryo Sakazaki
Françoise Yip sebagai Chizuru

Director:
Gordon Chan merupakan nama besar di Hongkong yang memulai debut penyutradaraannya lewat 18 Golden Destroyers (1985).

Comment:
Tidak jera nampaknya produser berusaha mengangkat live action video game ke dalam film aksi laga meski biasanya diprediksi gagal apalagi berkaca pada sejarah film-film sejenis yang muncul lebih dahulu. Kali ini seorang Gordon Chan yang sudah tersohor di Hongkong dan mulai menapak tangga Hollywood dipercayakan bujet sebesar 12 juta dollar untuk mengangkat KoF dengan jajaran bintang terbaik yang bisa ia kumpulkan (sebisanya) dan tidak heran jika menemukan nama-nama Asia yang sudah berkiprah di Hollywood sebelumnya. Sebut saja Maggie Q dan Will Yun yang divisualisasikan cool dengan kostum berwarna gelap. Belum lagi Sean Farris yang terlihat good looking dan digambarkan berdarah Kaukasia-Jepang sekaligus. Walaupun trio tersebut sudah melakukan kinerja maksimal, tampaknya belum mampu menyelamatkan identitas film yang berdiri di tengah sisi Asian dan Hollywood sekaligus.
Faktor utama adalah plotnya yang non eksis, absurd seperti video gamenya yang nyaris tanpa storyline. Dari kenyataan tersebut, apapun subplot yang coba dikembangkan untuk merekonstruksi cerita tidak ada gunanya. Koreografinya juga terkesan hancur dimana proses editing yang tidak mulus terasa sekali. Coba perhatikan scene dimana fighting motion Maggie ataupun Faris sangat terlihat visual efeknya. Belum lagi sinematografi serba kelam dan hitam yang mungkin dimaksudkan untuk membangun nuansa magis nan misterius tapi maaf, malah membuat saya mengantuk dan beberapa penonton lain mati kebosanan (atau kelaparan?) menunggu jam berbuka puasa, beberapa diantaranya meninggalkan bioskop lebih awal.
The King Of Fighters seharusnya memiliki pilihan terbaik yaitu tidak perlu mencoba bercerita tetapi langsung fokus pada laga di dunia virtual saja, one-on-one match ataupun tandem. Setidaknya hal itu bisa lebih memuaskan calon penonton yang sudah mengenal gamenya terlebih dahulu. Atas semua kekeliruan itu, kualitas Street Fighter : The Legend Of Chun Li serasa dua kali lebih bagus ataupun Tekken yang tiga kali lipat daripada ini! Ouch!!!

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 26 September 2008

PAINTED SKIN : Romantika Cinta Manusia Vs Siluman

Cerita:
Dalam perjalanan memimpin pasukannya pulang dari medan perang, Jenderal Wang menyelamatkan seorang gadis cantik, Xiao Wei dari sekelompok bandit dan membawanya pulang tanpa mengetahui gadis tersebut merupakan jelmaan siluman rubah yang harus memakan jantung manusia untuk tetap berwujud manusia. Hanya istri Wang, Pei Rong yang mencurigainya karena beberapa keanehan yang dirasa tidak wajar. Sayang semuanya malah menganggap Pei Rong cemburu dengan kehadiran Xiao Wei. Dibantu mantan kekasih Pei Rong yakni pendekar Yong dan Pemburu Hantu, mereka berusaha mengungkap tabir Xiao Wei yang sesungguhnya.

Gambar:
Setting rumah tradisional Tiongkok mampu menampilkan gambar memikat meski sebagian besar syuting dilakukan pada malam hari.

Act:
Donnie Yen sebagai Yong
Zhou Xun sebagai Xiao Wei
Vicky Zhao sebagai Pei Rong
Chen Kun sebagai Wang Sheng
Sun Li sebagai Xia Bing
Saya menyukai penjiwaan masing-masing karakter di film ini, terutama Zhou Xun yang semakin berkibar namanya belakangan ini. Zhao Wei dan Chen Ce Tan tidak perlu diragukan lagi kaliber aktingnya.

Sutradara:
Kelahiran Hongkong, Gordon Chan sudah terlibat dalam dunia perfilman sejak tahun 1980an dengan mengarahkan Jet Li, Jackie Chan dll. Kali ini mengangkat kisah tradisional Tiongkok yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Adaptasi yang fresh menjadi nilai tambahnya.

Komentar:
Meski didominasi nuansa drama cinta dengan percakapan yang bisa dibilang klise tidak menjadikan film ini membosankan. Dengan berlatar belakang kisah klasik yang sudah berulangkali ditulis ataupun difilmkan, Painted Skin versi terbaru ini tetap tontonan bermutu dari negeri China apalagi didukung dengan kombinasi bintang lawas dan anyar yang berhasil mengangkat film ini. Beberapa adegan pertarungan juga cukup real dan mendukung cerita secara keseluruhan. Wajib tonton apalagi untuk anda penggemar film Mandarin era 1980an!

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!