XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label zach galifianakis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zach galifianakis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juni 2013

THE HANGOVER PART III : Not Drunk Enough To Get You Laugh



Quote:
Alan: We can't be friends anymore. When we get together, bad things happen and people get hurt.
Mr. Chow: Yeah, but that's the point! It's funny!

Nice-to-know:
Sean Penn dan Robert Downey Jr. sempat dipertimbangkan untuk peran yang akhirnya jatuh ke tangan John Goodman.

Cast:
Bradley Cooper sebagai Phil
Ed Helms sebagai Stu
Zach Galifianakis sebagai Alan
Justin Bartha sebagai Doug
Ken Jeong sebagai Mr. Chow
John Goodman sebagai Marshall

Director:
Feature film pertama Todd Phillips adalah Road Trip (2000).

W For Words:
Kwartet Phil, Stu, Alan dan Doug sudah dua kali menghibur anda sebelumnya lewat The Hangover (2009) dan The Hangover Part II (2011) dimana mereka terbangun dalam keadaan setengah mabuk, menyadari ada sesuatu yang salah hingga berupaya keras mengingat-ingat demi memperbaiki semuanya. Nah, pada installment ketiga ini secara mengejutkan tradisi tersebut dipatahkan. Tentunya dengan mengindahkan adegan post credit-title. Masih penasaran dengan produksi Green Hat Pictures dan Legendary Films ini? Well, you should give a try if you say yes.

Paska kematian ayah jutawannya yang mendadak, Alan dibawa teman-temannya ke institusi kejiwaan untuk diperiksa lebih lanjut. Sayangnya dalam perjalanan, mereka keburu dihadang gangster kejam Marshall dan kawanannya yang sepakat menyandera Doug untuk ditukar dengan Chow. Pasalnya, Chow yang kabur dari penjara itu baru saja melarikan batangan emas Marshall senilai puluhan juta dollar. Phil, Stu dan Alan kemudian memutar otak untuk menemukan Chow dalam waktu singkat. Misi yang tidak mudah karena Chow licin seperti belut.
Skrip yang digarap oleh Todd Phillips dan Craig Mazin ini terasa setengah jadi. Konflik yang mengalir linier harus diakui merupakan pendekatan yang fresh. Namun hal itu tidak dibarengi oleh pengembangan karakteristik yang memadai. Jon Lucas dan Scott Moore  terkesan hanya mengulangi slapstick dari keempat tokoh utama yang sudah muncul di dua seri sebelumnya. Titik berat yang ada pada Alan seharusnya dapat lebih dimaksimalkan sebagai start dan finish yang memuaskan. Sebaliknya villain/antagonis di sini justru mencuri perhatian penonton dengan porsi memadai.

Seperti sudah disebutkan di atas, Ken Jeong mendapat peran yang cukup krusial. Chow memang menyebalkan di tangannya tetapi masih kurang menggigit di sebagian besar aksinya.
Galifianakis tampil lebih variatif daripada biasanya. Proses yang dialami Alan untuk menjadi pria dewasa seutuhnya merupakan highlight tersendiri. Cooper dan Helms yang sebelumnya dominan kali ini lebih berfungsi sebagai supporting characters belaka. Malangnya Goodman terlalu stereotype sebagai gangster. Lupakan penampilan ‘cameo’ Graham atau Bartha tapi coba pusatkan perhatian pada McCarthy yang benar-benar tampak sepadan. 
Philips sebagai sutradara sudah berusaha menjaga misteri hingga akhir, lengkap dengan petunjuk demi petunjuk yang mengarah kepadanya. Malang karena sejak menit pertama kekuatannya tidak cukup besar untuk menyita perhatian penonton. Yang mungkin patut diacungi jempol adalah keberaniannya menaikkan tensi melalui rangkaian aksi kejar-kejaran yang melibatkan jalan raya hingga gedung tinggi. Jika sebelumnya anda disuguhi tupai dan harimau sebagai penggiring twist, maka kali ini elemen tersebut hilang. Gantinya adalah jerapah yang bernasib malang demi sebuah shocktherapy kecil pada prolognya.
 
Secara konten, The Hangover Part III ini terbukti masih bersahabat dengan penonton dewasa. Namun kerjasama tim yang memudar itu membuat kenikmatan terasa hambar. Lihat bagaimana masing-masing karakternya nyaris berdiri sendiri di tiap kesempatan. Seri yang satu ini memang diperuntukkan bagi fans setia yang ingin menyaksikan (katanya) bagian terakhir petualangan wolfpack. Bagi saya, penggunaan judul “Wolfpack Got Back” or “Kidnapped For Mission” akan lebih tepat. Jika memang kelak ada kelanjutan atau spin-off (layaknya indikasi end credit title) sebaiknya Phillips melakukan persiapan yang lebih baik demi pesta mabuk-mabukan yang lebih gokil lagi. Who’s still with ‘em?

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$69.448.603 till May 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
 


Rabu, 21 November 2012

THE CAMPAIGN : Good Political Satire For Expected Laughs


Quote: 
Mitch: What's it all about?
Cam Brady: America, Jesus, freedom.

 
Nice-to-know: 

Meskipun poster memperlihatkan dua tokoh utamanya berhadapan dari Capitol Hill di Washington, D.C., keseluruhan film bersetting di North Carolina dimana Cam dan Marty tinggal dan berkampanye.

Cast: 

Will Ferrell sebagai Cam Brady
Zach Galifianakis sebagai Marty Huggins
Jason Sudeikis sebagai Mitch
Dylan McDermott sebagai Tim Wattley
Katherine LaNasa sebagai Rose Brady
Sarah Baker sebagai Mitzi Huggins
John Lithgow sebagai Glenn Motch
Dan Aykroyd sebagai Wade Motch
Brian Cox sebagai Raymond Huggins


Director: 

Merupakan feature film kesembilan bagi Jay Roach yang angkat nama lewat Austin Powers : International Man of Mystery (1997).

W For Words: 
Awalnya sulit bagi saya menemukan alasan untuk menonton film ini. Faktor utama, saya tidak pernah menyukai seorang Will Ferrell yang sisi komediknya tak pernah berhasil membuat saya tersenyum apalagi tertawa, setidaknya tergambar dari beberapa judul film doi yang pernah ditonton sebelumnya. Namun melihat nama Zach Galifianakis sebagai kompetitornya dan juga Jay Roach di kursi sutradara, saya memutuskan untuk memberi kesempatan. Trailernya sendiri selama ini hanya terlihat wara-wiri di jaringan bioskop Blitzmegaplex, bukan 21 Cineplex. Heran!

Cam Brady adalah anggota kongres North Carolina yang telah berulang kali terpilih. Ketika dua pebisnis licik yakni Glenn dan Wade Motch mencalonkan Marty Huggins dalam pemilihan dengan motif tertentu, suara publik mulai terbagi. Selama ini Cam berada di atas angin dengan kampanye ternamanya “Family, Jesus and Freedom” meski tidak dibarengi usahanya memperbaiki sarana umum. Namun Marty yang mengandalkan kepeduliannya terhadap komunitas kemudian mencuat menjadi kandidat terlebih polesan Tim Wattley terhadap figurnya. Siapa yang akan menang pada akhirnya?

Premis film ini sendiri digagas oleh tiga orang termasuk Adam McKay, sedangkan dua lagi yaitu Chris Henchy dan Shawn Harwell turut mengembangkannya menjadi skenario. Penggambaran wakil partai Demokrat dan Republik seakan dibalik stereotype nya.  Cam dari Demokrat cenderung lebih radikal sedangkan Marty dari Republik malah lebih liberal. Konflik yang kemudian terbangun di sepanjang film hanyalah upaya keduanya untuk saling mengungguli di segala bidang hingga masuk ke area personal masing-masing yaitu keluarga.

Sutradara Roach memiliki jam terbang yang tinggi di genre komedi. Ranah politik modern America mulai dirambahnya sejak serial televisi Recount (2008) dan Game Change (2012). Kombinasi yang akhirnya cukup efektif untuk membangun satire dan slapstick secara simultan mulai dari yang ringan hingga yang paling ekstrim, sebagian besar berhasil dan sebagian kecil mungkin tidak. Misi Roach untuk membangun karakteristik secara seimbang setidaknya sukses. Karakter-karakter lain di luar kedua tokoh utama terbukti tak kalah menarik untuk disimak terlepas dari porsi yang lebih minim.
Ferrell dan Galifianakis disini bagaikan yin yang. Ferrell bahkan melakukan impersonifikasi George W. Bush dalam sosok Cam lengkap dengan skandal seksnya yang menjadi rahasia publik. Menarik melihat transformasi Galifianakis dalam sosok Marty yang pemalu dan tidak percaya diri menjadi optimis dan oportunis. Harus diakui mereka bermain satu dimensi dan tensinya sedikit menurun di paruh kedua. Beruntung di saat itu, Sudeikis, LaNasa, Baker, McDermott datang mengisi frame dengan keunikan masing-masing. Sumbangsih Cox, Lithgow, Aykroyd sebagai karakter-karakter senior berperan kunci juga tak bisa dikesampingkan begitu saja.

The Campaign mempunyai premis yang menarik dimana problematika politikus, rasisme, bisnis kotor, praktek korupsi, terorisme dihadirkan lewat visual eksplisit dan bahasa keras menggigit. Memang tidak sepenuhnya fresh tapi masih tetap relevan menggugah tawa dan menggalang rasa penonton sekaligus cukup peduli untuk berpihak pada salah satunya. Kesiapan mental anda untuk menerima komedi sejenis ini amat menentukan seberapa jauh anda akan menikmatinya sebagai hiburan belaka. Bagi saya tak ada salahnya menertawakan persaingan politikus Amerika apalagi menilik sejarah dan motivasi masing-masing yang berbeda-beda.

Durasi: 
85 menit 

U.S. Box Office: 

$96,744,503 till Nov 2012 

Overall: 

7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 29 Februari 2012

FRENEMY : Crapy Storytelling Ideocrazy Buddies


Quotes:
Norma: Gee, if you're not Stephanie Sinclair, and I'm not Stephanie Sinclair, and this is Stephanie Sinclair's apartment, then what the fuck are we all doing here?

Nice-to-know:
Lebih dikenal dengan judul Little Fish, Strange Pound dimana bujetnya hanya menghabiskan kurang dari 500 ribu dollar Amerika.

Cast:
Matthew Modine sebagai Mr. Jack
Callum Blue sebagai Sweet Stephen
Paul Adelstein sebagai Philly
Adam Baldwin sebagai Tommy
Zach Galifianakis sebagai Bucky

Director:
George Dark terakhir kali menangani horor thriller See No Evil di tahun 2006.

W for Words:
Keputusan filmmakers menjual tampang dan nama Zach Galifianakis untuk film ini memang cerdas karena yang bersangkutan tengah naik daun paska kesuksesan The Hangover (2009) dan judul-judul lainnya. Namun jika pada akhirnya dicaci maki penonton karena kampanye marketing yang salah lantas kesalahan patut ditimpakan kepada siapa? Saya pribadi memang menyaksikannya karena berharap satu suguhan komedi hitam yang berbeda di samping faktor adanya aktor lawas Matthew Modine disana.
Dua sahabat lama, Mr. Jack dan Sweet Stephen menelusuri jalanan Los Angeles sambil bertukar pikiran mengenai kehidupan, kematian dan area abu-abu diantaranya. Mereka beranggapan bahwa keteguhan hati bisa membuat apapun terjadi di luar permainan nasib itu sendiri. Pembicaraan yang semakin memanas membuat penuturan mereka semakin absurd dan gelap hingga mungkin melampaui batas penerimaan akal sehat.

Sejak detik pertama sampai terakhir, anda akan dibuat bingung oleh ambiguitas yang tidak terjawab ataupun pernah terpikirkan sebelumnya. Saya tidak menemukan korelasi perampokan toko video porno milik Bucky yang berakhir tragis hingga berujung pada siaran langsung “kids that kill” yang tiba-tiba menempatkan Mr. Jack dan Sweet Stephen sebagai subyek. Tanpa lupa menyebut adegan dimana keduanya berjalan melintasi sepasang gelandangan yang bertengkar hanya karena manipulasi dadu.
Baik Modine, Blue, Galifianakis dan seantero pemeran dalam film ini jelas sudah melakukan kesalahan terbesar dengan mengikuti casting apalagi setuju untuk membintanginya. Entah apa yang ada di pikiran Robert Dean Klein saat menulis skripnya. Kombinasi aneh sebuah komedi hitam yang dicampur adukkan dengan kekerasan berdarah ala thriller murahan sekaligus dilengkapi filosofi hidup dan mati? Gaya penyutradaraan Gregory Dark pun sama membingungkannya karena tidak ada pemisah antara mimpi dan kenyataan.

Little Fish, Strange Pond a.k.a Frenemy pun sukses menempati urutan teratas film terburuk tahun 2012 yang baru akan mengakhiri kuartal pertamanya ini. Sesungguhnya saya dapat menarik benang merah dari penuturan panjang Mr. Jack dan Sweet Stephen yang samasekali tidak simpatik itu selepas credit title bergulir. Namun rasanya tidak ada seorangpun yang akan membenarkan kesimpulan tersebut, memikirkannya saja tidak selain menyesali keputusan bahwa mereka telah membuang waktu yang amat berharga dalam hidup hanya dengan memasukkan keping DVD film ini ke dalam player anda!

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 26 November 2011

PUSS IN BOOTS : Kiprah Kucing Petualang Legenda Kacang Ajaib

Unexpected cool in Latino style. Zorro-alike transforms into cutie fierce cat with its own natural instincts. Fun meows!

Quotes:
Jill: [dangles Puss over a canyon] Is it true a cat always lands on its feet?
Puss in Boots: No! That is just a rumour, spread by dogs!


Storyline:
Puss adalah seekor kucing yatim piatu yang dibesarkan di sebuah panti asuhan bersama si kepala telur bernama Humpty Dumpty. Oleh karena suatu insiden, keduanya yang bersahabat erat harus terpisah. Beberapa tahun kemudian, Puss yang dikenal sebagai kucing bersepatu boot jago pedang ini diajak Kitty Softpaws bertemu kembali dengan Humpty yangmenawarkannya kerjasama melacak jejak kacang ajaib milik duet penjahat Jack dan Jill. Benarkah legenda istana awan dan angsa bertelur emas yang menjadi ambisi Humpty sejak kecil itu benar-benar ada?

Nice-to-know:
Film yang awalnya direncanakan Dreamworks untuk rilis langsung dalam format DVD ini menandakan reuni ke-5 Antonio Banderas dan Salma Hayek.

Voice:
Baru saja menyelesaikan Spy Kids: All the Time in the World in 4D tanpa mencantumkan namanya dalam credit title, Antonio Banderas melanjutkan penyulihan karakter Puss in Boots
Merupakan pemanasan sebelum bermain dalam The Muppets, Zach Galifianakis mengisi suara Humpty Dumpty
Salma Hayek sebagai Kitty Softpaws
Billy Bob Thornton sebagai Jack
Amy Sedaris sebagai Jill
Guillermo del Toro sebagai Komandan / Moustache Man

Director:
Film animasi kedua bagi Chris Miller setelah Shrek The Third (2007).

Comment:
Paska kesuksesan luar biasa franchise Shrek yang telah menelurkan empat film itu dalam jangka waktu satu dekade, Dreamworks Studio memang berupaya keras menciptakan film animasi baru yang setidaknya diyakini dapat dijual di pasaran internasional. Maka muncullah ide untuk membuat spin-off nya yaitu Puss In Boots, tokoh kucing bersepatu boot ahli pedang yang mulai mencuri perhatian sejak Shrek 2 (2004) tersebut.
Karakter yang diciptakan Charles Perrault itu kemudian dikembangkan dalam kisahnya sendiri yang skripnya dikerjakan keroyokan oleh Will Davies, Brian Lynch, David H. Steinberg, Tom Wheeler dan Jon Zack. Plotnya sendiri berkisah mengenai jati diri Puss mulai dari asal usulnya hingga interaksinya dengan tokoh-tokoh yang mempengaruhi jalan hidupnya itu, ditambah dengan penggabungan dongeng legendaris kacang ajaib sampai angsa bertelur emas.

Antonio Banderas masih terpilih melanjutkan Puss dalam aksen Latin yang kental. Karakter Zorro jelas menjadi panutan Puss mulai dari kostum, kelakuan sampai bahasa tubuhnya dan bukan kebetulan Banderas pernah memerankannya beberapa kali dalam live action movie sebelumnya. Selain jago pedang, Puss juga memiliki kemampuan berdansa yang sama baiknya. Tanpa lupa menyebut hipnotis pandangan mata memelasnya yang meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
Zach Galifianakis seperti biasa “juara” dalam menjiwai karakter yang berdiri di antara dua sisi yaitu simpatik sekaligus menyebalkan. Itulah sebabnya Humpty Dumpty amat mencuri perhatian dengan rollercoaster nasibnya yang bisa membuat penonton bingung apakah harus berpihak padanya atau tidak. Salma Hayek memberikan kontribusi tersendiri dengan suara seksinya dalam wujud si cantik Kitty yang bercakar lembut dan panjang akal itu.

Sutradara Miller sangat bergantung pada imej berskala besar. Itulah sebabnya banyak adegan close-up yang menampilkan para karakternya secara detil. Tak jarang, kamera bergerak dinamis memotong layar dalam beberapa bagian sebelum dipersatukan lagi untuk mempermainkan sudut pandang penonton. Efek 3D nya juga cukup menjual dimana syut panjang khusus aksi seru seakan membawa mata audiens ikut “terbang” mengikutinya. Penempatan scoring musik ala salsa dari Henry Jackman juga menjadi nilai tambah spesial mengiringi setiap scene yang disuguhkan.
Puss In Boots tetap setia menampilkan insting alami seekor kucing sebagai humor pintar disana-sini yang mudah sekali memancing tawa dalam komedi situasi, sebut saja mengejar cahaya, meminum susu plus mengeong dalam berbagai ekspresi spontan nan menggemaskan. Terlepas dari gabungan ide orisinil yang menawarkan sedikit kejutan, aksi Puss sebagai petarung dan pecinta ulung tidak boleh dilewatkan begitu saja. Cocok untuk anak-anak dan dewasa sekalipun dimana pesan moral mengenai pengampunan dan kesetiakawanan juga dibebatkan secara pas. Ready for Mexican “aristocat” MEOW, anyone?

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$122,391,873 till mid Nov 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 18 September 2011

THE HANGOVER PART 2 : Pernikahan Stuart Bertualang Merambah Bangkok

Quotes:
Stu Price: Oh my God! We kidnapped a monk!
Alan: We live an alternative lifestyle.


Storyline:
Dokter gigi Stu akan menikahi Lauren di Thailand. Berseri-seri menantikan hari yang ditunggu-tunggu, Stu berkumpul dengan Doug dan Phil dan mengingatkan mereka agar tidak ada pesta bujangan kali ini termasuk tidak mengundang si biang rusuh Alan. Meski pada akhirnya keempat sahabat tersebut bisa bersama-sama kembali di Bangkok, Stu tidak merasakan sambutan yang hangat dari ayah mertuanya. Malam menjelang pernikahan, mereka sepakat minum bir di sekeliling api unggun bersama Teddy yang juga adik kandung Lauren yang sangat berprestasi. Beberapa jam kemudian, Stu, Phil dan Alan terbangun di sebuah motel asing nan kotor, bersama Mr. Chow! Apa yang terjadi semalaman dan kemana Teddy menghilang adalah dua hal penting yang harus mereka pecahkan atau pernikahan Stu-Lauren terancam tidak akan pernah terjadi.

Nice-to-know:
Cameo tukang tato sedianya diisi oleh Mel Gibson sebelum digantikan Liam Neeson. Sayangnya sutradara Todd Phillips menginginkan syuting ulang yang kemudian tidak dipenuhi oleh Neeson. Akhirnya Nick Cassavetes yang mengisi peran tersebut.

Cast:
Bradley Cooper sebagai Phil
Memiliki acara televisinya sendiri Childrens Hospital (2008-2010), Ed Helms berperan sebagai Stu
Sempat mengisi peran dalam serial televisi Bored to Death (2009-2011), Zach Galifianakis bermain sebagai Alan
Justin Bartha sebagai Doug
Pria bergelar dokter bernama Ken Jeong ini muncul pertama kali dalam serial televisi The Big Easy (1997). Kali ini ia menjiwai tokoh Mr. Chow dengan gila-gilaan.
Paul Giamatti sebagai Kingsley
Jamie Chung sebagai Lauren
Mason Lee sebagai Teddy

Director:
Todd Phillips juga pernah menggunakan format tiga pria dewasa serupa dalam Old School (2003) dengan trio Luke Wilson, Vince Vaughn dan Will Ferrell.

Comment:
The Hangover adalah sebuah komedi khas Amrik berbujet “hanya” 35 juta dollar yang sukses mencetak angka box-office 277 juta dollar untuk peredaran di Amerika saja pada tahun 2009 yang lalu, belum dikompilasi dengan hasil rilis internasionalnya. Tidak mengherankan jika duo produser Daniel Goldberg dan Todd Phillips sepakat melanjutkan petualangan gila-gilaan itu dalam rentang waktu 2 tahun dengan memindahkan settingnya ke Bangkok, Thailand.
Tiga penulis skrip Craig Mazin, Scot Armstrong dan Phillips sendiri tidak banyak mengubah apa yang sudah disuguhkan 2 tahun lalu. Ketiganya juga berkolaborasi dengan duet Jon Lucas dan Scott Moore yang ditugaskan memperkaya karakter-karakter yang terlibat dalam sekuel ini. Bangkok juga terbukti menjadi panggung yang lebih gelap dan menyimpan petualangan-petualangan yang bisa dikatakan tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang di luar Asia pada umumnya.

Trio Phil, Stu dan Alan lagi-lagi harus menghadapi seseorang yang menghilang, dalam kasus ini adalah Teddy (dihidupkan oleh putra sutradara kenamaan Hongkong, Ang Lee) yang bertindak sebagai calon adik ipar Stu yang tengah berupaya mengambil simpati ayah mertuanya yang asli Thailand itu. Satu hal yang menarik, Galifianakis mendapat porsi yang sedikit lebih dominan kali ini. Ia tidak hanya lebih bodoh tetapi juga lebih kejam dan kasar daripada prekuelnya sehingga tak jarang menempatkan kawan-kawannya dalam situasi yang tidak menguntungkan samasekali.
Cooper seperti biasa ditaruh di baris depan dengan penampilan flamboyannya. Sedangkan Helms yang menjadi sentralisasi cerita dapat dibilang mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam mempertahankan cinta, persahabatan sekaligus integritas dirinya sendiri. Apakah kehilangan gigi sebanding dengan mentato wajah dan “perkosaan” yang dialaminya? Anda boleh menjawabnya suka-suka. Yang pasti ada satu nama lagi yang kembali ditempatkan sebagai spotlight yaitu Ken Jeong. Saya tidak akan membahas kiprah aktor satu ini agar tidak mengurangi unsur kejutannya!

Sutradara Phillips memang spesialis komedi dewasa. Namun sayangnya ia justru terlalu malas untuk melakukan pendekatan baru sehingga memilih untuk menggunakan formula lawas yang terlalu mirip dengan prekuelnya. Sebut saja berbagai adegan slapstick atau jokes yang terlontar dari interaksi trio mabuk-lupa tersebut. Padahal saya percaya, Todd masih mungkin mengeksplorasi beberapa trik dan kejutan segar daripada sekadar mengganti macan dengan monyet merokok misalnya?
Meskipun masih menawarkan puluhan tawa lepas (bagi yang bisa mencerna humor khas Phillips atau Galifianakis), The Hangover Part II dapat diidentifikasi sebagai remake dari The Hangover karena begitu banyaknya repetisi dan kesamaan strukturisasi yang terjadi. Tidak terlalu memuaskan bagi anda yang sudah menyaksikan prekuelnya hingga pada akhirnya membicarakan lelucon jorok khas pria selepas meninggalkan gedung bioskop termasuk penis, testikel yang cukup gambling dipertontonkan itu. Mudah-mudahan saya tidak perlu meng“copy paste” review ini pada ulasan Part III yang akan datang tepat 3 tahun ke depan.

Durasi:
100 menit

U
.S. Box Office:
$167,847,116 till mid Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Sabtu, 05 September 2009

HANGOVER : Short Term Memory Lost Tiga Serangkai Menjelang Pernikahan

Quotes:
Phil Wenneck-Tracy, it's Phil.
Tracy Garner-Phil, where the hell are you guys?
Phil Wenneck-Listen, we fucked up. We lost Doug.
Tracy Garner-What? We're getting married in *five hours*.
Phil Wenneck-Yeah... that's not gonna happen.

Cerita:
Sebelum pernikahannya dengan Tracy, Doug diwajibkan menghadiri pesta bujangan bersama kedua temannya, Phil dan Stu serta adik Tracy, Alan di Las Vegas. Berempat mereka berjudi dan menikmati penthouse mewah secara gila-gilaan hingga mabuk.. Terbangun di pagi hari, betapa kagetnya Alan menemukan harimau di kamar mandi, Stu kehilangan gigi serinya dan Phil yang baru saja keluar dari rumah sakit. Kepanikan melanda saat Doug menghilang! Segala petunjuk kecil harus dikumpulkan tiga serangkai itu dalam waktu kurang dari 48 jam atau pernikahan Doug-Tracy terancam batal.

Gambar:
Gemerlap meja judi dan hotel berbintang Las Vegas ditampilkan sekilas. Sisanya penelusuran semua sudut California yang penuh dengan adegan pengundang tawa.

Act:
Berangkat dari beberapa serial teve termasuk Alias yang melejitkan namanya, Bradley Cooper sebagai Phil Wenneck, guru SMU yang flamboyan dan memiliki istri cantik.
Ed Helms sebagai Stu Price, dokter gigi culun yang berhubungan dengan wanita dominan, Melissa.
Dari serial teve Tru Calling, Zach Galifianakis sebagai adik Tracy, Alan yang pengangguran dan serabutan.
Justin Bartha dan Sasha Barrese sebagai calon pengantin, Doug Billings dan Tracy Garner yang hanya muncul pada awal dan akhir film.
Turut didukung Heather Graham yang tampil cameo sebagai sang pelacur, Jade serta Mike Tyson sebagai dirinya sendiri.

Sutradara:
Todd Phillips adalah sutradara muda spesialis komedi termasuk Road Trip (2000) yang melejitkan namanya. Beberapa inovasi yang dilakukannya dalam film-filmnya tergolong berhasil karena terbukti karya-karyanya cukup dikenal baik oleh publik Amerika khususnya anak muda.

Komentar:
Tanpa ekspektasi apapun sebelum menyaksikan Hangover selain ingin tertawa sejenak memanfaatkan waktu luang. Namun dari awal sampai akhir film, saya merasa disuguhkan plot cerita yang orisinil dengan tempelan humor dimana-mana. Cooper, Helms dan terutama Galifianakis saling berbagi peran untuk memancing tawa. Mike Tyson dan Ken Jeong pun turut memunculkan twist jenaka. Endingnya pun cukup manis untuk sebuah komedi pria dewasa. Meskipun demikian saya ingatkan untuk anda di luar penonton Amerika, rasanya tidak akan terlalu menyukai gaya becanda film ini. Kelebihan lain adalah arah cerita tidak terduga dan hebatnya penonton seakan digiring untuk ikut mencari petunjuk, apa yang sebenarnya terjadi pada saat mereka mabuk semalaman itu? Semua itu terjawab pada strip film kamera sesaat setelah credit title bergulir, oleh karena itu jangan buru-buru meninggalkan bioskop.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$270,237,753 till end of August 2009 $43,000,000

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!