XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jamie chung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jamie chung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Desember 2012

THE MAN WITH THE IRON FISTS : Cheesy Martial Arts Attempt From RZA

Quote:
The Blacksmith: When you forge a weapon, you need three things: the right metal, temperatures over fourteen hundred degrees... and someone who wants to kill. Here in this village, we got all three. 

Nice-to-know: 

First cut film ini berdurasi empat jam. Sutradara RZA sempat menyarankan membaginya dalam dua film tapi produser Eli Roth tak setuju. Mereka akhirnya memotongnya menjad 90 menit.

Cast: 
RZA sebagai Blacksmith
Rick Yune sebagai Zen Yi, The X-Blade
Russell Crowe sebagai Jack Knife
Lucy Liu sebagai Madam Blossom
Dave Bautista sebagai Brass Body
Jamie Chung sebagai Lady Silk


Director: 
Merupakan debut penyutradaraan RZA alias Robert Fitzgerald Diggs yang lebih dikenal sebagai aktor dan pengisi soundtrack. 

W For Words:
Melihat trailernya yang mengingatkan pada film-film Quentin Tarantino, sebut saja Kill Bill 1-2 (2003-2004), bisa jadi ekspektasi anda akan melambung jauh. Tagline yang cukup provokatif “You can’t spell Kungfu without F & U” pun didengungkan jauh-jauh melalui poster resminya. Tak banyak yang tahu bahwa penggagas film ini adalah RZA (baca: Rizza)  yang lebih dikenal sebagai aktor dan music producer. Tak banyak yang tahu bahwa ia penggemar setia film martial arts yang berpengaruh pada pemilihan Wu-Tang Clan sebagai nama grup hip-hopnya.

Kericuhan terjadi di Jungle Village, sebuah desa terpencil pedalaman China ketika ekspedisi emas milik Gold Lion melintas. Pengkhianatan yang dilakukan asistennya Silver Lion membuat putra Gold Lion yaitu Zen Yi bertekad membalas dendam. Seorang pembuat senjata yang dikenal dengan sebutan Blacksmith tengah berniat melarikan diri dari desa bersama kekasihnya, pelacur Lady Silk yang juga anak buah dari mucikari Madam Blossom. Kedatangan Jack Knife dan Brass Body yang juga mengincar kekayaan dan kekuasaan semakin meruncingkan persaingan hidup dan mati.

RZA bekerjasama dengan produser Eli Roth menulis skrip selama dua tahun dimana titik berat ada pada keunikan senjata yang digunakan masing-masing tokoh. Mungkin itulah penyebab dangkalnya karakterisasi yang seharusnya dimiliki juga. Dialog-dialog one liners tidak cukup membantu penonton untuk merasa terikat pada salah satu di antara mereka. Fokusnya pun tak terbentuk sempurna karena berpindah-pindah mulai dari Jack Knife di bagian pembuka, X Blade di pertengahan hingga Blacksmith di penghujung. Who’s actually the protagonist in here?

Sebagai sutradara, RZA menyajikan adegan kematian dengan brilian, unsur gore dengan cipratan darah disana-sini akan membuat anda terpekik. Temponya cukup terjaga lewat serangkaian sekuens aksi non-stop seru. Sayangnya flashback di beberapa bagian sedikit mengganggu walau sebetulnya tidak perlu. Scoring music nya yang merupakan kombinasi hip hop, new age, simfoni dan berbagai genre lain amat mendukung narasinya. Tata kostum dan artistik juga tergolong menakjubkan ditambah efek CGI untuk membuat “transformasi” nya terasa nyata.

Kemunculan RZA sebagai Blacksmith merupakan satu titik lemah meski porsinya sudah minim. Menarik melihat Russell Crowe memainkan peran yang berbeda dengan tubuh yang tambun. Aksi Lucy Liu jelas mengingatkan anda pada tokoh O-Ren Ishii dalam film yang disebutkan di atas. Byron Mann memberikan akting teatrikal sebagai bad guy. Berbeda dengan Dave Bautista, Cung Le atau Rick Yune yang memperlihatkan keunggulan fisik masing-masing. Jangan lupakan penampilan cameo dari Chen Kuan Tai, Gordon Liu, Pam Grier, Daniel Wu hingga Andrew Lin di berbagai kesempatan terbatas.

The Man With Iron Fists merupakan proyek ambisius RZA yang terlepas dari mempunyai nilai jual tetapi pada akhirnya kesulitan untuk mempertahankan konsep serious action flick hingga terkesan campy dan silly sekaligus. Pengungkapan berbagai twist yang disiapkan alih-alih memberikan kejutan, nyatanya malah semakin membingungkan dengan lapisan plot yang bertumpuk tak terselesaikan. Saksikan apabila anda menginginkan sebuah suguhan martial arts ala Asia dalam nafas Western yang kental. It would be fun enough for you to shout f*ck and sh*t several times during movie.

Durasi: 
95 menit

U.S. Box Office: 
$15,522,060 till Dec 2012


Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 30 September 2012

PREMIUM RUSH : Action Ride With No Brake


Quotes: 
Wilee: I like to ride. Fixed gear. No brakes. Can't stop. Don't want to, either.

Nice-to-know: 
Joseph Gordon-Levitt sempat menabrak taksi dan membanting tubuhnya ke kaca jendela hingga pecah. Hasilnya adalah 31 jahitan di lengannya yang digunakan untuk melindungi wajahnya. Kecelakaan yang tak diinginkan ini ditampilkan di credit title sebelum daftar cast bergulir.

Cast: 
Joseph Gordon-Levitt sebagai Wilee
Jamie Chung sebagai Nima
Dania Ramirez sebagai Vanessa
Sean Kennedy sebagai Marco
Michael Shannon sebagai Bobby Monday
Aasif Mandvi sebagai Raj
Wolé Parks sebagai Manny
Christopher Place sebagai
Bike Cop 

Director: 

Merupakan feature film kelima bagi David Koepp setelah Ghost Town (2008).

W For Words: 
Joseph Gordon-Levitt telah menempuh perjalanan panjang untuk menjadi aktor pilihan produser masa kini sejak kemunculan sosok ciliknya dalam Family Ties (1988) atau Dark Shadows (1991). Kini ia berlakon sebagai kurir bersepeda yang berani mengambil resiko, Wilee. Premis yang sesungguhnya tak asing lagi bagi penonton generasi lawas dimana Kevin Bacon pernah melakukannya dalam Quicksilver (1986). Namun bagi penonton generasi baru tentu ini adalah sesuatu yang fresh dan belum pernah mereka lihat sebelumnya. I believe both generations will give it a try!

Demi tambahan uang, Wilee meminta tugas terakhirnya hari itu pada Raj. Tidak sulit karena dengan sepeda frame baja bergigi besi tanpa rem, jarak dari lokasi A ke B menjadi singkat walaupun lalu lintas ramai Manhattan tak dapat dihindari. Di luar dugaan kurir pesaing, Manny yang tengah mendekati kekasihnya, Vanessa mengambil paket misterius darinya. Wilee tidak tinggal diam dan mengejar Manny di sepanjang kota hingga menarik perhatian polisi dan juga pria asing berjas, Bobby Monday yang tampak menyimpan maksud jahat tersembunyi.

Sutradara Koepp tampak memahami betul jalanan NYC mulai dari jalan utama hingga pelosok lengkap dengan track pejalan kaki dan pesepeda sekaligus yang tak jarang geografisnya turun naik. Itulah sebabnya unsur action dinamis dan thriller inovatif disini mampu terus memacu adrenalin penonton. Sinematografi “panjang kali lebar” milik Mitchell Amundsen termasuk peta berbasis GPS dari layar ponsel secara tak langsung memandu sudut pandang penonton yang seakan dibawa serta menelusuri satu persatu titik lokasi yang dituju. 

Skrip milik Koepp-Kamps ini mencoba menipu garis waktu dengan narasi maju mundur demi sebuah perspektif non linier yang utuh. Suatu hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan apabila plot intinya sudah cukup kuat untuk bercerita secara runut. Lontaran dialog “praktis” dan konflik “sederhana” di antara para tokohnya berusaha dihajar dengan tempo cepat sehingga penonton akan memaklumi bahwa sesungguhnya tidak ada pihak antagonis yang patut ditakuti atau karakter pendukung fungsional yang pantas diingat. If it’s not, it would be boring presentation.

Gordon-Levitt merupakan pilihan tepat bagi karakter Wilee dengan athleticism tinggi. Visinya dalam bersepeda jelas menentukan nasibnya, apakah tertangkap, tertabrak, gagal menjalankan tugas dsb. Lihat visualisasi probabilitas resiko yang selalu dikalkulasinya setiap mengambil sebuah keputusan. Sangat menarik! Ramirez dan Parks memang sejak awal ditampilkan secara cool untuk menjadi penyeimbang Wilee. Upaya Shannon untuk benar-benar terlihat menyebalkan lumayan berhasil. Sama halnya dengan penokohan Chung yang berbeda dari biasanya. 

Premium Rush adalah sebuah tontonan yang dikemas dalam packaging yang dua kali lebih bagus dari isi yang sebenarnya. Acungan jempol bagi Koepp yang bekerjasama dengan orang (Gordon-Levitt) yang tepat! Berbagai adegan kejar-kejaran panjang dijamin membuat anda menahan nafas sambil mengagumi kebesaran nyali para kurir berani mati tersebut. Tak lupa selipan beberapa violence baik yang dimaksudkan secara sadar atau tidak mungkin membuat anda meringis sambil membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Pengalaman menyaksikan bikers beraksi tak akan lebih menyenangkan dari ini. Lakukanlah tanpa rem yang pakem alias nalar yang kritis. Just enjoy the ride!

Durasi: 
91 menit

U.S. Movie Box Office: 
$19,665,102 till September 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 18 September 2011

THE HANGOVER PART 2 : Pernikahan Stuart Bertualang Merambah Bangkok

Quotes:
Stu Price: Oh my God! We kidnapped a monk!
Alan: We live an alternative lifestyle.


Storyline:
Dokter gigi Stu akan menikahi Lauren di Thailand. Berseri-seri menantikan hari yang ditunggu-tunggu, Stu berkumpul dengan Doug dan Phil dan mengingatkan mereka agar tidak ada pesta bujangan kali ini termasuk tidak mengundang si biang rusuh Alan. Meski pada akhirnya keempat sahabat tersebut bisa bersama-sama kembali di Bangkok, Stu tidak merasakan sambutan yang hangat dari ayah mertuanya. Malam menjelang pernikahan, mereka sepakat minum bir di sekeliling api unggun bersama Teddy yang juga adik kandung Lauren yang sangat berprestasi. Beberapa jam kemudian, Stu, Phil dan Alan terbangun di sebuah motel asing nan kotor, bersama Mr. Chow! Apa yang terjadi semalaman dan kemana Teddy menghilang adalah dua hal penting yang harus mereka pecahkan atau pernikahan Stu-Lauren terancam tidak akan pernah terjadi.

Nice-to-know:
Cameo tukang tato sedianya diisi oleh Mel Gibson sebelum digantikan Liam Neeson. Sayangnya sutradara Todd Phillips menginginkan syuting ulang yang kemudian tidak dipenuhi oleh Neeson. Akhirnya Nick Cassavetes yang mengisi peran tersebut.

Cast:
Bradley Cooper sebagai Phil
Memiliki acara televisinya sendiri Childrens Hospital (2008-2010), Ed Helms berperan sebagai Stu
Sempat mengisi peran dalam serial televisi Bored to Death (2009-2011), Zach Galifianakis bermain sebagai Alan
Justin Bartha sebagai Doug
Pria bergelar dokter bernama Ken Jeong ini muncul pertama kali dalam serial televisi The Big Easy (1997). Kali ini ia menjiwai tokoh Mr. Chow dengan gila-gilaan.
Paul Giamatti sebagai Kingsley
Jamie Chung sebagai Lauren
Mason Lee sebagai Teddy

Director:
Todd Phillips juga pernah menggunakan format tiga pria dewasa serupa dalam Old School (2003) dengan trio Luke Wilson, Vince Vaughn dan Will Ferrell.

Comment:
The Hangover adalah sebuah komedi khas Amrik berbujet “hanya” 35 juta dollar yang sukses mencetak angka box-office 277 juta dollar untuk peredaran di Amerika saja pada tahun 2009 yang lalu, belum dikompilasi dengan hasil rilis internasionalnya. Tidak mengherankan jika duo produser Daniel Goldberg dan Todd Phillips sepakat melanjutkan petualangan gila-gilaan itu dalam rentang waktu 2 tahun dengan memindahkan settingnya ke Bangkok, Thailand.
Tiga penulis skrip Craig Mazin, Scot Armstrong dan Phillips sendiri tidak banyak mengubah apa yang sudah disuguhkan 2 tahun lalu. Ketiganya juga berkolaborasi dengan duet Jon Lucas dan Scott Moore yang ditugaskan memperkaya karakter-karakter yang terlibat dalam sekuel ini. Bangkok juga terbukti menjadi panggung yang lebih gelap dan menyimpan petualangan-petualangan yang bisa dikatakan tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang di luar Asia pada umumnya.

Trio Phil, Stu dan Alan lagi-lagi harus menghadapi seseorang yang menghilang, dalam kasus ini adalah Teddy (dihidupkan oleh putra sutradara kenamaan Hongkong, Ang Lee) yang bertindak sebagai calon adik ipar Stu yang tengah berupaya mengambil simpati ayah mertuanya yang asli Thailand itu. Satu hal yang menarik, Galifianakis mendapat porsi yang sedikit lebih dominan kali ini. Ia tidak hanya lebih bodoh tetapi juga lebih kejam dan kasar daripada prekuelnya sehingga tak jarang menempatkan kawan-kawannya dalam situasi yang tidak menguntungkan samasekali.
Cooper seperti biasa ditaruh di baris depan dengan penampilan flamboyannya. Sedangkan Helms yang menjadi sentralisasi cerita dapat dibilang mempertaruhkan seluruh hidupnya dalam mempertahankan cinta, persahabatan sekaligus integritas dirinya sendiri. Apakah kehilangan gigi sebanding dengan mentato wajah dan “perkosaan” yang dialaminya? Anda boleh menjawabnya suka-suka. Yang pasti ada satu nama lagi yang kembali ditempatkan sebagai spotlight yaitu Ken Jeong. Saya tidak akan membahas kiprah aktor satu ini agar tidak mengurangi unsur kejutannya!

Sutradara Phillips memang spesialis komedi dewasa. Namun sayangnya ia justru terlalu malas untuk melakukan pendekatan baru sehingga memilih untuk menggunakan formula lawas yang terlalu mirip dengan prekuelnya. Sebut saja berbagai adegan slapstick atau jokes yang terlontar dari interaksi trio mabuk-lupa tersebut. Padahal saya percaya, Todd masih mungkin mengeksplorasi beberapa trik dan kejutan segar daripada sekadar mengganti macan dengan monyet merokok misalnya?
Meskipun masih menawarkan puluhan tawa lepas (bagi yang bisa mencerna humor khas Phillips atau Galifianakis), The Hangover Part II dapat diidentifikasi sebagai remake dari The Hangover karena begitu banyaknya repetisi dan kesamaan strukturisasi yang terjadi. Tidak terlalu memuaskan bagi anda yang sudah menyaksikan prekuelnya hingga pada akhirnya membicarakan lelucon jorok khas pria selepas meninggalkan gedung bioskop termasuk penis, testikel yang cukup gambling dipertontonkan itu. Mudah-mudahan saya tidak perlu meng“copy paste” review ini pada ulasan Part III yang akan datang tepat 3 tahun ke depan.

Durasi:
100 menit

U
.S. Box Office:
$167,847,116 till mid Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Selasa, 02 Agustus 2011

SUCKER PUNCH : Realitas Misi Pelarian Imajinatif

Quotes:
Sweet Pea: And finally. This question. The mystery of whose story it will be, of who draws the curtain. Who is it that chooses our steps in a dance? Who drives us mad, flashes us with whips, crowns us with victory when we survive the impossible? Who is it that tells all these things?


Storyline:
Gadis muda bernama Baby Doll terpaksa dikurung dalam RS mental oleh ayah dirinya yang penyiksa untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dalam 5 hari. Baby Doll lantas bertemu 4 gadis lainnya yaitu Sweet Pea, Rocket, Blondie, Amber dan menciptakan dunia fantasi sendiri untuk berencana keluar dari sana. Realitas antara kenyataan dan khayalan pun semakin samar dimana mereka membutuhkan 5 jenis barang untuk kabur sebelum High Roller yang ditakutkan datang menjalankan tugasnya.

Nice-to-know:
Film pertama Zack Snyder yang tidak didasarkan pada remake/adaptasi manapun juga.

Cast:
Aktris muda Australia ini mulai terkenal lewat Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events (2004), Emily Browning berperan sebagai Baby Doll
Baru saja tampil dalam Limitless (2011), Abbie Cornish bermain sebagai Sweet Pea
Jena Malone sebagai Rocket
Vanessa Hudgens sebagai Blondie
Jamie Chung sebagai Amber
Carla Gugino sebagai Dr. Vera Gorski
Oscar Isaac sebagai Blue Jones

Director:
Feature film pertama Zack Snyder adalah Dawn of the Dead (2004).

Comment:
Bagi kalangan moviegoers seluruh dunia rasanya setuju jika menganggap Zack Snyder adalah sutradara revolusioner yang dimiliki Hollywood. Visualisasi yang ciamik selalu menjadi menu utama di setiap karya-karyanya, sebut saja 300 yang melegenda itu atau Watchmen yang sama-sama diangkat dari novel grafis. Tidak jika jika sebagian besar bujet dihabiskan untuk menata departemen yang satu ini demi kepuasan mata tentunya.
Plot ceritanya merupakan salah satu inovasi yang patut diacungi jempol. Bukan hanya originalitasnya tetapi juga keberaniannya memadukan fiksi, drama dan action sekaligus. Permasalahannya adalah Snyder tidak berhasil membuat penonton terintrusi ke dalam jalinan kisahnya yang seakan berpijak di antara khayalan dan kenyataan. Hal ini menyebabkan ketidakpedulian terhadap karakter mana yang survive or dead in the end.
Meski demikian para ladies disini sangat memanjakan mata. Browning, Cornish, Hudgens, Chung, Malone masing-masing memancarkan pesona yang berbeda-beda. Blonde, brunette, feminin, tomboy silakan tentukan pilihan anda. Kemahiran Baby Doll, Sweet Pea, Rocket, Blondie, Amber dalam “beraksi” disini sangat menyenangkan untuk disaksikan walaupun nyaris tidak ada kedalaman karakter yang mampu membangkitkan emosi.
Sesaat bisa jadi anda merasa lost di bagian pembukaan dan pertengahan film karena merasa tidak terkoneksi dengan visi Snyder. Feeling yang hampir sama dengan Watchmen dimana serangkaian adegan spektakuler seakan bersifat ambigu. Memasuki ending setidaknya segala perasaan tersebut sedikit tergantikan oleh antusiasme. Namun twist yang disiapkan di akhir film mungkin tidak terlampau sukar diterka oleh anda yang sudah familiar dengan kejutan-kejutan sejenis. Well tried!
Sucker Punch memang semata-mata hanya berusaha menghibur penonton dengan koreografi dan sinematografi yang menakjubkan di sepanjang durasinya. Tidak lebih dan tidak kurang! Minus-minus yang disebutkan di atas kelihatannya akan mengurangi ponten anda terhadap film juga didesign untuk 3D dan IMAX ini pada akhirnya. Namun tidak ada salahnya mengikuti petualangan Baby Doll dalam menemukan peta, api, pisau, kunci sebelum menjawab misteri sendiri mengapa anda memutuskan untuk menonton yang satu ini.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$36,381,716 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 08 November 2009

SORORITY ROW : Balas Dendam Bagi Persaudaraan Theta Pi

Quotes:
Jessica-Please God don't let me get killed. Please God don't let me get killed.
Cassidy-Stop giving him ideas.

Cerita:
Nyaris lulus dari kampus membuat pesta pribadi, enam anggota Theta Pi masing-masing Cassidy, Jessica, Claire, Ellie, Chugs dan Megan sepakat menggoda Garrett, adik Chugs di suatu kamar asmara. Malang karena hal tersebut berbuntut pada kematian Megan secara mengenaskan. Mereka kemudian sepakat menguburkan Megan di suatu pertambangan dan menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut. Delapan bulan berlalu, tepat pada hari graduasi, kasus Megan kembali terkuak saat ponsel kelima saudari berbunyi secara bersamaan. Mau tidak mau mereka harus kembali memutar otak untuk menyelesaikan hal tersebut sampai benar-benar akhir sebelum satu-persatu menemui ajalnya.

Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di Pennsylvania termasuk Soldiers and Sailors Museum and Memorial - 4141 Fifth Avenue untuk adegan graduasi.

Act:
Lima bidadari ditampilkan di film ini yang berakting berlari dan menjerit sepanjang film masing-masing Briana Evigan sebagai Cassidy, Leah Pipes sebagai Jessica, Jamie Chung sebagai Claire, Margo Harshman sebagai Chugs, Rumer Willis sebagai Ellie. Juga Audrina Patridge sebagai Megan, si korban utama di awal film.

Sutradara:
Memulai penyutradaraan sejak Beyond Suspicion (1997), Stewart Hendler memang banyak terlibat dalam genre thriller ataupun horor. Disini ia berusaha meremake film bergagasan sama yang pernah muncul di tahun 1983 lalu.

Comment:
Bisa dikatakan sebuah remake yang cukup berhasil jika dibandingkan Black Christmas (2006) atau Prom Night (2008). Plot ceritanya mungkin mengingatkan anda pada perpaduan Mean Girls dan I Know What You Did Last Summer dimana perkumpulan saudari kampus Theta Pi tersebut sudah disumpah untuk saling percaya, saling merahasiakan dan menjunjung solidaritas dimana kemudian terjadilah misteri pembunuhan yang baru bisa diungkap di akhir film. Tidak asing bukan? Untungnya thriller remaja ini berhasil menjaga tensi secara konsisten dari awal sampai akhir, terima kasih pada penampilan seksi para gadis-gadis tersebut yang cukup memanjakan mata dan saling melontarkan sindiran tajam satu sama lain. Beberapa scene pembantaian cukup sadis dan mengejutkan walau tidak ditampilkan secara eksplisit. Pelaku pembunuhan terasa dipaksakan "kerahasiaannya" sehingga memang tidak mudah untuk anda tebak. Secara keseluruhan, Sorority Row cukup menyenangkan sebagai sebuah tontonan ringan tanpa ekspektasi berlebihan terutama bagi anda pecinta genre slasher.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$11,956,207 till Nov 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!