XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label vincent cassel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vincent cassel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

BLACK SWAN : Peran Hitam Putih Obsesi Balet Angsa

Quotes:
Nina Sayers: I had the craziest dream last night about a girl who has turned into a swan, but her prince falls for the wrong girl and she kills herself.

Storyline:
Karirnya sebagai ballerina di New York City tidak membuat Nina berhenti mengejar cita-citanya. Kesempurnaan lah yang ia butuhkan untuk mendapatkan peran White Swan dan Blake Swan dalam pentas Swan Lake yang kesohor itu. Gurunya Thomas menantang Nina untuk bisa keluar dari imej gadis baik-baik yang selama ini diperlihatkannya. Belum lagi tuntutan ibu Nina, Erica yang juga mantan ballerina ternama pada jamannya. Nina pun berlatih semakin keras dan mulai mengubah kepribadiannya agar tidak dicemooh ballerina primadona uzur, Beth ataupun rekannya, Lily yang diam-diam mengincar perannya. Namun apakah obsesi penuh tidak membahayakan dirinya sendiri?

Nice-to-know:
Dibutuhkan sekitar 10 tahun lamanya untuk menyelesaikan skrip film ini.

Cast:
Satu dari dua filmnya di tahun 2010 selain ini adalah Hesher, Natalie Portman disini bermain sebagai Nina Sayers, pebalet handal yang disiapkan untuk pentas puncak Swan Lake yang legendaris itu.
Mila Kunis sebagai Lily
Salah satu peran Vincent Cassel yang paling memorable bagi saya adalah sebagai Mesrine. Kali ini ia kebagian tokoh Thomas Leroy yang mengajar balet sekaligus ketua pentas Swan Lake.
Barbara Hershey sebagai Erica Sayers
Winona Ryder sebagai Beth Macintyre

Director:
Nama Darren Aronofsky mulai mendapat pengakuan internasional saat menangani Requiem for a Dream (2000).

Comment:
Film ini tepat menandai boikot yang dilakukan oleh MPAA terhadap bioskop-bioskop Indonesia. Rasanya sayang sekali sebuah film berkaliber Oscar harus dibatalkan rilisnya secara sepihak dan calon penonton yang penasaran mesti menunggu berbulan-bulan untuk peredaran vcd/dvd resminya. Yah setidaknya masih muncul daripada tidak samasekali.
Cerita yang diinspirasi dari drama balet klasik Swan Lake ini skripnya dikembangkan oleh trio Mark Heyman, Andres Heinz dan John J. McLaughlin sedemikian rupa sehingga terciptalah sebuah drama thriller yang penuh misteri mengenai transformasi angsa putih dan angsa hitam yang silih berganti mengisi layar. Tidak lupa berbagai petunjuk yang ambigu mengisi nyaris setiap perpotongan scenenya sehingga arahnya sulit diduga.
Sutradara Aronofsky menghadirkan editing dan visualisasi yang luar biasa. Permainan warna hitam dan putih yang seimbang seakan mengisyaratkan konsep malaikat dan iblis. Belum lagi scoring music yang demikian dominan serasa menghantui audiens dengan seribu pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Ia juga tidak pernah bermasalah dengan tempo disini dimana tempo lambat sekalipun tetap mengajak penonton larut dalam fokus cerita.
Dapat dikatakan ini adalah puncak karir akting seorang Natalie Portman yang diganjar Piala Oscar Aktris Terbaik. Perannya sebagai Nina sangat brilian. Keluguan seorang gadis yang penurut dan sulit keluar dari pakem dirinya sendiri berbalik menjadi kedewasaan seorang wanita yang pembangkang dan berusaha bebas dari segala aturan yang membelenggu. Rasa simpati dan antipati akan menyergap diri anda melihat perubahan 180 derajat pada karakter Miss Sayers tersebut.
Di luar Portman masih ada nama-nama lain yang bermain tidak kalah menariknya. Terutama Cassel yang penggoda sekaligus sulit ditebak niatannya sebagai pelatih balet Thomas. Hershey yang berhasil mengontrol Portman di setiap scene yang melibatkan figur keibuannya secara dominan. Kunis sebagai Lily yang mengintai setiap tindakan Nina dan bertekad mencuri peran utama darinya. Jangan lupakan juga Winona yang masih menyisakan kebintangannya di penghujung karir seorang pebalet handal Beth.
Black Swan akan menghipnotis diri anda selama nyaris 2 jam. Semua elemen bersinergi dengan maksimal disini mulai dari penulis, sutradara hingga aktor-aktrisnya. Belum lagi tampilan koreografi balet yang memesona termasuk adegan pamungkasnya yang luar biasa itu. Sesaat anda akan dibawa memasuki dunia horor psikologis yang menakutkan sekaligus berusaha menebak kekelaman jiwa seorang Nina Sayers yang terobsesi sedemikian rupa. Sebuah kesempurnaan memang kadang harus dibayar mahal dengan totalitas pengorbanan yang tidak sedikit nilain
ya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$106,952,327 till May 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 11 Maret 2011

PUBLIC ENEMY NUMBER ONE : PART 2

Quotes:
Jacques Mesrine: One day they'll shoot me to death, and it will completely make sense. Natural. After all, for someone who was in prison with maximum security, there are no rules. Like me, I live without rules.

Storyline:
Pelarian dari penjara bersama Jean Paul membuat Mesrine tersohor dan menjadi criminal nomor satu yang paling sulit dilumpuhkan. Mesrine kembali ke Perancis dan merampok sejumlah bank bersama rekan-rekannya serta selalu berhasil lolos dari kejaran polisi dengan cara-cara yang luar biasa. Sempat dijebloskan ke Maximum Security Prison di Paris, Mesrine malah bertandem dengan François Besse untuk kabur sekali lagi. Statusnya pun mulai berubah menjadi revolusioner, berkencan dengan Sylvia dan kemudian dengan bangga melakukan interview di media akan perspektif dirinya.

Nice-to-know:
Vincent Cassel menambah bobotnya sekitar 20 kg selama 4 bulan sebelum proses syuting dimulai.

Cast:
Pertama kali saya lihat aktingnya dalam Birthday Girl (2001), Vincent Cassel melanjutkan peran Jacques Mesrine disini.
Ludivine Sagnier sebagai Sylvia Jeanjacquot
Mathieu Amalric sebagai François Besse
Samuel Le Bihan sebagai Michel Ardouin
Gérard Lanvin sebagai Charlie Bauer

Director:
Jean-François Richet mengawali debut penyutradaraannya lewat État des lieux (1995).

Comment:
Beruntung sekali, film ini akhirnya bisa tayang di Indonesia lebih karena kekosongan slot film-film studio besar Hollywood. Jika episode pertamanya banyak berkisah mengenai pembentukan karakter sang kriminal nomor satu. Maka episode keduanya ini lebih bertutur tentang bagaimana melumpuhkannya setelah audiens disuguhkan kepintaran dan kelicinannya dalam aksi-aksinya. Tentu saja menggunakan penekanan yang berbeda dimana sudut pandang kita akan terbentuk sepenuhnya akan sosok Mesrine sesungguhnya.
Sutradara Richet masih tetap mempertahankan nuansa serius episode pertama dimana level kekerasannya masih realistis. Namun saya merasa episode keduanya ini lebih konservatif terlihat dari aksi kejar mengejarnya. Skrip di awal yang tergolong monoton dengan hanya memperlihatkan perampokan dan pelarian berubah menjadi pertunjukan karakter Mesrine sebagai hipokrit yang seringkali merugikan orang-orang di sekitarnya terutama ambisinya untuk melumpuhkan sistem demi sistem demi mencapai target yang semakin tinggi.
Penampilan Cassel disini sangat kuat. Terbukti ia mengubah penampilan fisiknya sedemikian rupa dengan perut yang mulai membuncit, belum lagi serangkaian penyamaran yang dilakukannya teramat meyakinkan. Terkadang kita sulit mengenali karakter Mesrine yang memiliki 1001 wajah. Emosinya yang keras juga terlihat dari setiap aksinya, membentuk karisma seorang kriminal hebat dengan sempurna. Kebetulan nama-nama di luar Cassel juga bermain secara maksimal sehingga satu sama lain terasa saling mendukung menyuguhkan plot cerita yang intens.
Saya harus akui episode pertamanya lebih berkualitas secara keseluruhan tetapi entah mengapa saya lebih antusias mengikuti jalinan cerita episode keduanya ini dari menit awal sampai akhir. Terlepas dari obyektifitas yang terkadang kabur akan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan ke penonton, Public Enemy Number One yang judul aslinya Mesrine : Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy #1 ini merupakan salah satu biografi terbaik yang dibuat Perancis sepanjang sejarah perfilman Eropa. Akting yang mumpuni, penyutradaraan yang brilian berhasil menjaga intensitas film dengan baik lewat serangkaian aksi memukau yang sangat tradisional dalam pengertian positif. Selamilah pola pikir seorang Mesrine dan silakan tarik kesimpulan yang bisa anda rangkai.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$275,125 till Feb 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Selasa, 14 September 2010

PUBLIC ENEMY NUMBER ONE : Asal Usul Gangster Legendaris Perancis

Original title:
L'instinct de mort

Storyline:
Sejak muda Jacques Mesrine sudah menunjukkan karakternya yang keras dan pemberani. Seringkali ia berpindah-pindah dari pelukan satu wanita ke wanita lain sampai bertemu Sofia yang akhirnya memberinya 3 anak dan berujung perceraian. Kemudian ia berjumpa Jeanne yang berpaham sama dengannya. Keduanya melakukan perampokan bersama dan berakhir di penjara untuk waktu yang cukup lama. Namun bukan Mesrine namanya jika menyerah begitu saja. Ia pun merancang pelarian bersama Jean-Paul di tengah penjagaan yang ketat..

Nice-to-know:
Awalnya Barbet Schroeder sempat ditunjuk untuk mengarahkan dua film Mesrine ini.

Cast:
Mengawali karier akting layar lebar lewat Les cigognes n'en font qu'à leur tête (1989), Vincent Cassel bermain sebagai Jacques Mesrine yang dikenal sebagai musuh publik Perancis nomor satu pada jamannya.
Cécile De France sebagai Jeanne Schneider
Gérard Depardieu sebagai Guido
Gilles Lellouche sebagai Paul
Roy Dupuis sebagai Jean-Paul Mercier
Elena Anaya sebagai Sofia

Director:
Jean-François Richet sebelum ini mengarahkan film Hollywood, Assault on Precinct 13 (2005).

Comment:
Saya sedikit mempertanyakan mengapa film ini masuk ke Indonesia! Bukan atas dasar negatif tapi lebih merupakan pemakaian judul yang salah seakan merupakan satu film yang utuh. Padahal sebetulnya terbagi dua yang dirilis nyaris bersamaan yaitu Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy Number One. Bahwa tidak jelas part II nya apakah akan masuk kembali ke bioskop? Tidak ada yang tahu sejauh ini.
Ini adalah film Eropa secara umum yang menceritakan biopik seorang Jacques Mesrine, gangster legendaris Perancis pada periode tahun 60-70an. Otomatis ingatan kita membubung pada Public Enemies (2009) nya Johnny Depp yang mengisahkan seorang John Dillinger, gangster legendaris Amerika pada periode tahun 30an. Dejavu? Tidak juga. Mesrine tetaplah tokoh unik yang secara luar biasa diwujudkan oleh aktor berbakat Vincent Cassel yang sudah membuktikan kualita aktingnya di berbagai film internasional. Semua scene utama Cassel mulai dari perampokan, penyanderaan, perkelahian, pembunuhan, penyiksaan, pelarian termasuk romantisme dan pemukulan terhadap wanita akan memporak-porandakan perasaan anda yang menyaksikannya. Terasa sangat real hingga dibutuhkan beberapa gunting sensor untuk beberapa bagiannya.
Richet juga menyajikan sinematografi yang memuaskan. Setting tahun 60an dihadirkan dengan pencahayaan yang pas. Belum lagi close-up shot para tokohnya yang seringkali membuat audiens merasa terlibat langsung dalam adegan terkait. Tensi tinggi sebuah action thriller juga terjaga sepanjang durasinya sehingga perjalanan hidup seorang Mesrine sebelum menjadi legenda benar-benar tereksploitasi dengan maksimal. Yah mudah-mudahan saya berkesempatan menonton kelanjutannya. Jika tidak di bioskop maka terpaksa di dvd. Go see it!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$413,958 till mid Sept 2010 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 17 Agustus 2010

IRREVERSIBLE : Telusur Balik Satu Kejadian Tak Terduga

Tagline:
Le temps détruit tout - Time destroys everything!

Storyline:
Diawali dengan sekuens gay club bernama The Rectum dimana dua pria masuk dengan tujuan mencari seseorang bernama Le Tenia. Lewat serangkaian adegan kemudian berpindah pada kejadian dimana wanita cantik bernama Alex diperkosa dan dianiaya dengan brutal oleh pria asing di terowongan bawah tanah. Sebelumnya pacar Alex, Marcus dan mantan kekasih Alex, Pierre tengah bercengkrama di sebuah pesta. Bagaimana semua kejadian tersebut terangkai menjadi sebuah frame utuh?

Nice-to-know:
Sutradara Noe hanya memiliki draft tiga halaman untuk film ini sebelum memulai syutingnya sehingga mengharuskan para pemainnya berimprovisasi sendiri dalam berdialog.

Cast:
Sebelum ini Monica Bellucci tampil dalam Asterix and Obelix Meet Cleopatra (2002) dan sekarang bermain sebagai Alex.
Sempat mendampingi Nicole Kidman dalam The Birthday Girl (2001), Vincent Cassel berperan sebagai Marcus.
Albert Dupontel sebagai Pierre.
Jo Prestia sebagai Le Tenia.

Director:
Pria kelahiran Buenos Aires bernama Gaspar Noé ini terakhir mendapat pujian besar lewat karyanya I Stand Alone (1998).

Comment:
Sedikit terlambat mengetahui film ini dan baru belakangan mendapat referensi menontonnya dari beberapa teman, saya menyempatkan menontonnya tanpa berekspektasi atau berpengetahuan apapun. Menit-menit pertama harus diakui sangat memusingkan dimana adegan nudis juga aksi seksual dalam sebuah gay club diekspos secara gamblang dengan pencahayaan gelap kemerahan menggunakan apa yang tampak seperti kamera tangan. Hal tersebut berlangsung lama dan kesengajaan sutradara tersebut sempat membuat 200 orang dari total 2400 orang melenggang keluar bioskop pada pemutaran Festival Film Cannes (2002). Setelah memasuki menit ke-30, kembali audiens dibuat shock dengan adegan perkosaan brutal di terowongan bawah tanah yang cukup panjang selama 9 menit. Banyak respon terhadap scene ini dimana sebagian penonton bahkan merasa turn on sedangkan sebagian lagi merasa miris dibuatnya. Dua sekuens tersebut merupakan aset terbesar film ini ditambah penampilan gemilang Bellucci yang cantik seksi tapi bernasib malang, Cassel dan Dupontel juga berakting baik sebagai dua orang sahabat yang juga rivalitas dalam cinta. Sutradara Noe patut diacungi jempol untuk kreatifitasnya memainkan timeline film yang berjalan mundur dari belakang ke depan dan keberaniannya menampilkan keekstriman aksi kekerasan secara nyata. Itulah yang membuat Irreversible menjadi cult movie yang sangat spesial dari Perancis dengan nuansa Eropa yang kental. Jelas bukan film yang bisa disukai siapapun juga karena akan menghadirkan perasaan campur aduk setelah menyaksikannya tetapi harus diakui sangat brilian dan tidak biasa pengeksekusiannya.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$753,501 till April 2003.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 08 Desember 2009

EASTERN PROMISES : Kemelut Bayi, Istri Traumatis dan Konflik Kejahatan Mafia Rusia

Quotes:
Anna-My uncle has gone missing, since I told you about him translating the diary. Nikolai Luzhin-Your uncle is fine, he is in Edinburgh, in a 5-Star Hotel. I was ordered to send him to Heaven with a bullet in his brain... instead I gave him a first class ticket to Scotland. He is old-school, he understands things... exile or death

Cerita:
Di London, remaja Rusia yang tengah hamil tiba dalam kondisi berdarah di rumah sakit yang akhirnya hanya menyelamatkan bayinya. Seorang istri Rusia, Anna Khitrova menemukan buku harian Tatiana dalam bahasa Rusia dan bertekad menemukan keluarganya untuk mengantarkan bayi tersebut. Sayang pamannya, Stepan menolak membantu menerjemahkan diary tersebut sehingga Anna meminta bantuan pemilik restoran Rusia bernama Semyon. Dengan petunjuk Stepan, Anna akhirnya mengetahui bahwa Semyon dan anaknya yang sakit, Kirill memperkosa Tatiana saat berusia 14 tahun. Semyon ternyata bukan orang sembarangan karena menjadi kepala mafia "Vory v Zakone" sehingga membahayakan keselamatan Anna dan keluarganya. Beruntung supir Semyon, Nikolai Luzhin punya rencana lain dan membantu Anna demi sebuah tujuan pribadi.


Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di London termasuk pasar Broadway, pekuburan Brompton, klub football Chelsea, stasiun bawah tanah Great Portland, RS Middlesex, Universitas Greenwich, asrama Surrey, studio Three Mills dan sungai Thames yang tersohor itu.


Act:

Aktris Australia, Naomi Watts yang terakhir tampil dalam The Painted Veil (2006) disini kebagian peran Anna, seorang istri yang tengah trauma karena keguguran bayi hasil perkawinan antar ras yang tidak pernah disetujui ayahnya itu.
Meski lebih banyak terlibat di serial televisi sepanjang karirnya, Viggo Mortensen mencapai kebintangan setelah memerankan Aragorn dalam trilogi legendaris, The Lord Of The Rings (2001-03). Kali ini ia didapuk menjadi Nikolai, supir Semyon yang tangguh sekaligus ambisius.

Aktor asli Perancis yang pernah mendukung L'appartement (1996), Vincent Cassel sebagai Kirill yang sakit mental dan kejam.
Armin Mueller-Stahl kebagian karakter antagonis, Semyon yang memiliki restoran Perancis sukses sekaligus rahasia kejahatan masa lalu.

Sutradara:
David Cronenberg
yang pernah bekerjasama dengan Viggo Mortensen sebelumnya dalam A History Of Violence (2005) kembali dengan film yang kental dengan nuansa Rusia yang bersetting di London dengan plot yang saling kait mengait.


Comment:
Belakangan ini bisa dikatakan sulit menemukan film yang mampu memuaskan audiens dengan semua elemen yang ditawarkan sebuah film. Inti film ini adalah cerita kejahatan orang-orang yang sepintas terlihat tidak bermasalah. Dengan kombinasi narasi bercerita, mood film dan sisi humanisme karakter-karakternya menciptakan suatu tontonan yang unik sekaligus diingat. Sinematografinya cukup menjanjikan dengan gaya Noir yang berpadu dengan Inggris klasik. Pemilihan cast dirasa tepat dengan nama-nama Rusia yang dipimpin oleh kuartet Watts, Mortensen, Cassel, Mueller-Stahl yang semuanya non-Rusia dan berwatak. Apalagi Mortensen yang memberikan penjiwaan maksimal pada karakter Nikolai yang memang misterius sekaligus kunci dari hubungan semua tokoh terkait. Meskipun demikian, saya peringatkan Eastern Promises bukanlah tipe film yang bisa dinikmati semua kalangan. Terutama karena membutuhkan intensitas tinggi untuk mengikuti eksplorasi temanya secara konsisten disamping beberapa adegan kekerasan yang cukup miris. Jika publik Eropa memberikan nilai tinggi tentunya tidak salah. Namun bagaimana dengan publik Amerika dan Asia pada khususnya?

Durasi:
95 menit


U.S. Box Office:
$16,866,286 till Oct 2007


Overall:
7.5 out of 10


Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable

7-average

7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good

9-excellent

No such perfect 9.5 or 10!