XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label tommy lee jones. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tommy lee jones. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

HOPE SPRINGS : Basic Ingredients For Marriage Reconnection


Quotes:
Dr. Feld: What about oral sex?
Kay: I wasn't... I wasn't comfortable with that.
Dr. Feld: Giving or receiving?
Kay: [pause] Huh?  


Nice-to-know: 

Film Perancis yang disaksikan Kay dan Arnold di bioskop adalah Le dîner de cons, yang diremake menjadi Dinner for Schmucks dengan bintang Steve Carell.

Cast: 
Meryl Streep sebagai Kay
Tommy Lee Jones sebagai Arnold
Steve Carell sebagai Dr. Feld
Jean Smart sebagai Eileen, Kay's Friend
Ben Rappaport sebagai Brad, Their Son
Marin Ireland sebagai Molly, Their Daughter


Director: 
Merupakan feature film kelima bagi David Frankel setelah terakhir The Big Year (2011).

W For Words: 
Hanya berselang dengan The Iron Lady (2011) yang mengantarnya kembali meraih Piala Oscar, Meryl Streep (63 tahun) bermain dalam drama roman komedi bersama lawan main yang sepantaran usianya. Jika Steve Martin (64 tahun) dan Alec Baldwin (51 tahun) sudah mengiringinya dalam It’s Complicated (2009) maka kali ini giliran Tommy Lee Jones (66 tahun) yang mendampinginya. Prolog saya ini tidak bermaksud membicarakan orang di usia lanjut karena menjadi tua adalah sebuah proses hidup. Duet Black dan Casady rupanya melihat konsep ini secara cermat hingga sepakat memproduserinya.

Paska peringatan hari jadi ke-31, Kay dan Arnold menyadari bahwa api cinta mereka mulai memudar, terlihat dari tidur berbeda kamar dan jarang melakukan kontak fisik. Kay yang putus asa menghubungi penulis buku sekaligus konselor pernikahan, Dr. Feld untuk menjadwalkan terapi baginya. Arnold awalnya menolak mentah-mentah tapi dengan berat hati menuruti kemauan istrinya itu. Perjalanan lintas kota pun dilakoni. Dr. Feld menelusuri akar pemasalahan dan menganjurkan sesi sepanjang minggu. Berhasilkah Kay dan Arnold menjalani semua proses tersebut dari awal?

Vanessa Taylor yang menulis skrip ini tampak memahami betul sensitifitas wanita berumah tangga. Ada satu mitos yang selalu saya benarkan, pria cenderung tertidur setelah orgasme sehingga wanitanya merasa diabaikan. I’m sure this happen to all of you. Okay, let’s get back to topic! Saya menikmati setiap tahap reconnect antara Kay dan Arnold di sini mulai dari yang biasa hingga paling ekstrim sekalipun. Tak lupa proses penuaan juga diterjemahkan dengan begitu baik dari bahasa tubuh maupun aktifitas keseharian yang perlahan-lahan bergeser.

Meryl Streep masih terlihat cantik dan seksi di usia sekarang ini. Auranya begitu kuat terpancar di setiap kemunculannya. Karakter Kay di tangannya begitu rapuh dan konvensional. Menarik melihat Tommy Lee Jones bermain dalam film semacam ini setelah sekian lama. Karakter Arnold digambarkan keras kepala dan berjiwa petualang tetapi takut untuk mengakuinya. Chemistry keduanya cukup kuat, tergambar dari kecanggungan intimacy yang believable. Anda tidak akan menemukan Steve Carell yang slapstick dan eksplosif disini melainkan sosok dokter intelek nan sabar. 

Pengalaman panjang David Frankel dalam menggarap serial televisi sukses Sex and the City (2001-2003) memang berpengaruh pada kesan episodik dari satu scene ke scene lain. Kinerja kamera repetitif memperlihatkan Kay memasak telor mata sapi beserta sosis dan Arnold tertidur menyaksikan acara golf semakin menegaskan kebosanan rutinitas di antara keduanya. Pertukaran dialog suami istri tersebut tergolong realistis tanpa harus didramatisir. Dukungan musik latar yang minim dan sederhana membuatnya terasa kian nyata.

Hope Springs mengajak penonton untuk menjadi pengamat sebelum memutuskan, tanpa bermaksud menguliahi. Kesimpulan yang akhirnya berujung pada penerimaan terhadap kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing selain penghargaan yang ditunjukkan melalui afeksi nyata. Cinta kerapkali terkikis oleh waktu yang tak jarang bermuara pada ketidak bahagiaan. Pada akhirnya kendali ada di tangan kita, mau memperbaharui cara memasak atau menambahkan bumbu baru? Bagi saya sih simpel, ingatlah saat pertama anda jatuh cinta kepadanya walau terkadang tanpa alasan spesifik.

Durasi: 
100 menit

U.S. Box Office: 
$63,536,011 till Oct 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 26 Mei 2012

MEN IN BLACK 3 : Emotional Ending Defies The Neuralyzer Effect


Quotes:
Agent K: There are things out there you don't need to know about.
Agent J: That's not the lie you told me when you recruited me!

Nice-to-know:
Men In Black II rilis di tahun yang sama dengan Spider-Man yaitu 2002. Kini sepuluh tahun kemudian, sekuelnya kembali rilis di tahun yang sama dengan reboot The Amazing Spider-Man.

Cast:
Will Smith sebagai Agent J
Tommy Lee Jones sebagai Agent K
Josh Brolin sebagai Young Agent K
Jemaine Clement sebagai Boris The Animal
Emma Thompson sebagai Agent O
Michael Stuhlbarg sebagai Griffin
Nicole Scherzinger sebagai Boris' Girlfriend

Director:
Merupakan feature film kesepuluh bagi Barry Sonnenfeld setelah terakhir RV (2006).

W For Words:
Men In Black harus diakui telah membawa terobosan sendiri dalam mengangkat tema alien yang biasanya thriller atau horror. Sutradara Barry Sonnenfeld melakukan mixing action comedy sci-fi dengan sangat baik melalui edisi 1997 yang dilanjutkan dengan 2002. Keduanya sukses meraup dollar dalam jumlah yang sangat besar dalam peredaran domestik maupun internasional. Kini skrip edisi ketiganya ditangani oleh kwartet Etan Cohen,David Koepp, Jeff Nathanson, Michael Soccio berdasarkan komik Lowell Cunningham. Pertanyaannya: “Apakah penonton masih antusias setelah satu dekade berlalu?”

Alien jahat Boris berhasil membunuh Agent K muda di tahun 1969 sekaligus mengubah wajah MIB dan dunia yang terancam bahaya. Agent J berinisiatif kembali ke hari sebelum partner abadinya itu tewas dengan bantuan alien cerdas bersahabat Griffin. Perbedaan masa tidak mudah dijalani terlebih Agent K muda samasekali tidak mengenali siapa Agent J sebenarnya. Agent J harus beradaptasi dan menunaikan misinya sesegera mungkin sebelum kehabisan waktu berharganya.

Time traveller. Suatu konsep tidak baru yang selama ini efektif dalam penceritaan sebuah film. Dua hal yang umum anda jumpai adalah perbedaan jaman dan penampilan tokoh utama yang berbeda 180 derajat. Nuansa retro tahun 1969 dihadirkan dengan cermat oleh sutradara Sonnenfeld dimana pada masa itu rasisme digambarkan masih kental. Sedangkan versi muda Agent K dihidupkan secara meyakinkan oleh Josh Brolin. Kelak anda akan lupa peran-peran doi sebelumnya karena ekpresi wajah datar dan bahasa tubuh kakunya yang superfine mengimitasi Tommy Lee Jones yang lebih senior.

Will Smith sendiri masih menghadirkan gaya flamboyan dengan aksi karikaturalnya yang dominan di sepanjang film termasuk saat melompat untuk menembus waktu. Michael Stuhlbarg berhasil menokohkan alien Griffin yang sangat loveable dengan kemampuannya membaca masa depan secara detail. Jemaine Clement tidak buruk sebagai alien antagonis bertangan satu yang entah mengapa penampakannya mengingatkan saya akan Hellboy, Boris The Animal memang tidak menyeramkan tapi cukup membuat anda geregetan. Jangan lupakan berbagai cameo “artis dunia” yang akan memancing tawa anda.

DOP Bill Pope, production designer Bo Welch, visual effects’ expert Ken Ralston dan Jay Redd serta creator makhluk asing Rick Baker sukses mengerjakan tugasnya masing-masing dalam menyuguhkan setting film yang believable. Sayangnya hal tersebut tidak dibarengi dengan konsep humor yang baik kalau tidak mau dibilang kering. Beberapa plot twist yang random pun sedikit mengesankan skrip yang tidak rapi, kerapkali bertentangan dengan logika jika mau ditelaah lebih jauh. Namun anda tidak perlu terlalu serius, nikmati saja hiburan blockbuster ringan ala buddies cop kontra alien ajaib di muka bumi!

Best part of MIB 3 jelas ada di opening dan endingnya. Masa grieving dan goodbye antara Agent J dan Agent K dibuat secara melankolis dan emosional sekaligus menegaskan hubungan macam apa yang berevolusi selama 15 tahun di antara mereka. Yes, Boys to Men in Black definitely needs a long process. Something that you should need to know to get the whole picture of life. Penyelamatan sempurna sebuah sekuel, setidaknya dari efek Neuralyzer yang akan membuat anda melupakan trilogi ini begitu saja. 

Durasi:
103 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 September 2011

CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER Kiprah Awal Tentara Pemimpin Bertameng

Quote:
Johann Schmidt: What makes you so special?
Steve Rogers: Nothing. I'm just a kid from Brooklyn.


Storyline:
Tahun 1942, Amerika menghadapi Perang Dunia II melawan Jerman. Steve Rogers yang bertubuh lemah dan sakit-sakitan tetap nekad mendaftar untuk militer, jiwa kepahlawanannya memang melebihi kemampuan fisiknya. Kesempatan datang saat Dr. Erksine mengajaknya bergabung dalam program rahasia Project Rebirth yang kemudian mengubah nasibnya di kemudian hari. Sayangnya rahasia tersebut berusaha dicuri oleh Hydra yang dikepalai oleh Johann Schmidt alias the Red Skull. Mampukah Steve menjalankan tanggungjawab barunya sebagai Kapten Amerika?

Nice-to-know:
Banyak nama-nama besar yang sempat dikabarkan mengisi jajaran aktor-aktris film ini sebelum batal karena berbagai alasan. Termasuk tiga nama yang sedianya menjadi sutradara yaitu Louis Leterrier, Jon Favreau dan Nick Cassavetes.

Cast:
Pernah mendukung Not Another Teen Movie (2001) di awal karirnya, Chris Evans berperan sebagai Steve Rogers alias Captain America
Angkat nama lewat serial televisi The Prisoner (2009), Hayley Atwell bermain sebagai Peggy Carter
Sebastian Stan sebagai James Buchanan 'Bucky' Barnes
Tommy Lee Jones sebagai Colonel Chester Phillips
Hugo Weaving sebagai Johann Schmidt / Red Skull
Dominic Cooper sebagai Howard Stark

Director:
Saya paling mengenal Joe Johnston dalam film petualangan keluarga Jumanji (1995).

Comment:
Marvel sangatlah populer dengan tokoh-tokoh superheronya yang berangkat dari komik hingga akhirnya diproyeksikan ke layar lebar selama satu dekade terakhir. Memang baru beberapa diantaranya, not much but already quite numbers, tapi sudah mencatat raupan dollar yang begitu tinggi sehingga tidak heran jika tren serupa akan terus berlanjut. Salah satunya yang mendapat giliran kali ini adalah karakter Steve Rogers yang menjadi pusat perhatiannya.
Duo penulis skrip Christopher Markus dan Stephen McFeely membagi hidup seorang Steve Rogers dalam 3 tahap disini. Pertama, Steve pecundang berbadan kurus tapi berjiwa besar. Kedua, Steve hasil eksperimen berbadan tegap yang diproyeksikan sebagai maskot tentara Amerika. Ketiga, Steve yang bertindak sesuai jiwa heroiknya berpartisipasi dalam peperangan melawan Jerman yang dikomandoi oleh Johann Schmidt.

Sayangnya hal-hal tersebut sudah pernah kita saksikan sebelumnya dalam berpuluh-puluh film hasil adaptasi komik superhero tanpa perlu saya sebutkan satu persatu lagi. Konsep From zero to hero! Sutradara Johnston juga tidak banyak membantu dengan alur linier yang dikembangkannya, semua serba predictable bagi penonton. Sesulit itukah membangun konflik dengan lebih cerdas atau setidaknya bermain dengan tensi yang lebih tinggi untuk memberikan suguhan yang lebih bernilai?
Secara postur, Chris Evans memang pilihan terbaik. Efek CGI yang menjadikannya kurus di bagian awal film sukses mencengangkan penonton. Namun dari segi akting, tidak banyak perbedaan yang diperlihatkannya dari karakter Human Torch kecuali sifat komediknya yang hilang samasekali disini. Penjiwaannya pun masih tergolong dangkal jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Maguire ataupun Downey, Jr sebelumnya.
Weaving pernah memukau sebagai antagonis dalam The Matrix Trilogy tetapi sebagai Red Skulls, kharismanya seakan lenyap ditutupi topeng merah ala Hellboy yang terlihat bodoh itu. Kekejamannya sebagai pemimpin Hydra tidak pernah benar-benar memancing antipasti penonton. Atwell yang bermain sebagai love interest Steve Rogers terlihat “bagus” dalam seragam Peggy Carter tetapi lagi-lagi karakterisasinya terlalu lemah dalam menciptakan percikan api romantisme yang terang benderang. Beruntung keluguan dan kesalahpahaman yang kerap dialami keduanya masih dapat menimbulkan rasa gemas tersendiri.

Bujet 140 juta dollar jelas dihabiskan untuk spesial efek yang cukup memanjakan mata. Sebut saja pistol laser biru canggih yang sanggup menghancurkan tubuh manusia dalam sekejap itu, medan peperangan yang didesain sedemikian rupa sebagai panggung baik di darat maupun di udara dan lain-lain. Semuanya dalam balutan nuansa kebiruan walau terkadang semua teknologi yang digunakan terasa terlalu canggih untuk tahun 40an.
Captain America : The First Avenger adalah sebuah repetisi dari apa yang sudah anda saksikan di tahun-tahun sebelumnya. Tidak akan meninggalkan kesan yang dalam, salahkan kedangkalan karakterisasi atau level keseriusan permasalahan yang disampaikan. Yang patut diapresiasi hanyalah kiprah seorang manusia biasa berjiwa luar biasa bernama Steve Rogers dengan tamengnya yang benar-benar ampuh melindunginya itu. Memang tidak jarang pahlawan justru muncul dalam identitas yang tidak terbayangkan sekalipun dan orang itu bisa jadi ada di sekitar anda.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$172,272,760 till Sept 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Minggu, 03 April 2011

THE COMPANY MEN : Bertahan Hidup Paska Pemutusan Kerja

Tagline:
In America, We Give Our Lives To Our Jobs. It's Time To Take Them Back

Storyline:
Kehidupan para eksekutif mapan Amerika hancur dalam seketika saat GTX mengumumkan pengecilan karyawan. Diantaranya adalah Bobby Walker yang memiliki tempat tinggal megah, mobil mewah dan segala perlengkapan mahal. Juga ada Phil Woodward yang harus bersaing dengan pria-pria yang berusia setengahnya untuk mendapatkan pekerjaan baru. Mantan eksekutif Gene McClary juga harus berpedih hati menyaksikan rekan-rekannya berjuang menghidupi keluarga dan meninggalkan kehidupan sempurna mereka satu persatu. Resesi ekonomi bisa saja melanda negara manapun juga dan pemulihannya membutuhkan waktu yang tidak singkat..

Nice-to-know:
Keseluruhan syuting dilakukan di Massachusetts termasuk gedung perkantoran One Communications di dekat Route 128.

Cast:
Pertama kali bermain film di usia 9 tahun lewat The Dark End of the Street (1981), Ben Affleck bermain sebagai Bobby Walker yang harus merelakan aset-asetnya hilang satu persatu demi bertahan hidup setelah kehilangan pekerjaan
Tommy Lee Jones sebagai Gene McClary
Chris Cooper sebagai Phil Woodward
Maria Bello sebagai Sally Wilcox
Tom Kemp sebagai Conal
Nancy Villone sebagai Diane
Rosemarie DeWitt sebagai Maggie Walker
Kevin Costner sebagai Jack Dolan

Director:
Merupakan debut pertama John Wells sebagai sutradara layar lebar setelah sebelumnya menangani serial televisi sukses sepanjang masa, E.R. (1998-2009).

Comment:
Bagi para penonton di luar Amerika Serikat rasanya sulit untuk bisa terkoneksi sepenuhnya dengan keadaan resesi ekonomi di tahun 2010 yang menjadi tema film ini. Namun bayangkan saja satu hal, kemalangan bisa terjadi pada siapa saja, dalam hal ini kehilangan pekerjaan baik karena pemecatan atau pengecilan perusahaan yang umum terjadi dimanapun anda berada.
Lee Jones sebagai manajemen eksekutif Gene mungkin memberikan sumbangsih terbesar bagi GTX dengan ide-idenya. Cooper sebagai Phil juga selalu mendukung Gene dalam pengambilan keputusan penting. Sedangkan Affleck merupakan sales berpenghasilan tinggi dari komisi yang diterimanya. Jobless bagi mereka berdampak besar dalam hidup masing-masing terlebih tanggungjawab terhadap keluarga maupun kerabat dekatnya. Disini ketiganya bermain dengan maksimal meski tidak banyak interaksi yang melibatkan secara bersamaan.
Sedangkan Bello, DeWitt, Villone juga tidak kalah kontribusinya sebagai pendukung tiga pria yang tersebut di atas. Jangan lupakan kehadiran Costner sebagai Jack, si tukang kayu handal yang selalu cekatan dan semangat dalam bekerja dengan filosofi-filosofinya. Sayang sekali peranan mereka tidak sampai pada tingkat penghargaan internasional karena lemahnya proses pemasaran film ataupun rendahnya minat penonton.
Sutradara Wells tampaknya masih mengadopsi gaya serial televisi dalam film feature pertamanya ini. Terbukti perpindahan scene dari hidup Bobby-Gene-Phil terasa seperti pergantian episode. Tempo lambat yang dipakainya cenderung membosankan karena terlampau smooth dan sedikitnya letupan emosi yang muncul untuk tetap membawa penonton bersinergi dengan jalan cerita yang dituturkan.
The Company Men sebagai sebuah drama merupakan babak “gelap” yang menuntut orang untuk bertahan hidup dari kekalahan yang dialaminya. Terkadang hal ini diperlukan sebagai sebuah refleksi diri demi mencapai taraf kehidupan yang lebih baik lagi di masa mendatang. Isu kapitalisme perusahaan yang seringkali menguntungkan pihak yang sudah di atas angin dan merugikan pihak yang sudah kalah pun disajikan secara nyata. Coba saksikan film ini dan bayangkan diri anda jika berada di posisi mereka!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$1,547,510 till Jan 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter: