XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label rachel nichols. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rachel nichols. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2012

ALEX CROSS : Underpar Action Unimportant "Cross" Rebuilt


Tagline: 
Don’t ever cross Alex Cross.

Nice-to-know: 
Idris Elba sedianya mengambil alih peran Alex Cross dari Morgan Freeman dimana ia pernah membintangi film Tyler Perry yang berjudul Daddy's Little Girls (2007).

Cast: 

Matthew Fox sebagai Picasso
Tyler Perry sebagai Dr. Alex Cross
Rachel Nichols sebagai Monica Ashe
Giancarlo Esposito sebagai Daramus Holiday
Edward Burns sebagai Tommy Kane
Jean Reno sebagai Leon Mercier


Director: 

Merupakan feature film kesebelas bagi Rob Cohen setelah The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor (2008).

W For Words: 
Masih membekas dalam ingatan saya betapa piawainya seorang Morgan Freeman membawakan tokoh Dr. Alex Cross dalam Kiss The Girls (1997) dan Along Came A Spider (2001). Entah apa yang ada di pikiran QED International, Envision Entertainment Corporation, IAC Productions, James Patterson Entertainment untuk menghidupkan karakter tersebut dengan bintang.. Tyler Perry? Marc Moss yang juga menulis skrip tahun 2001 itu kini bertandem dengan Kerry Williamson untuk menerjemahkan novel milik pencetus aslinya yakni James Patterson yang berjudul Cross.

Dr. Alex Cross adalah detektif pembunuhan kawakan yang didukung oleh tangan kanannya, Tommy Kane dan kekasihnya, Monica Ashe. Suatu ketika seorang pembunuh sadis yang dikenal dengan sebutan Picasso muncul dan menebar teror kesakitan dari penyiksaan. Korban pertamanya adalah wanita kaya, Fan Yau Lee dimana pebisnis Jerman, Erich Nunemacher menjadi target berikutnya. Dr. Alex Cross mengendus petunjuk yang ditinggalkan sang pelaku dan berupaya membongkar motif sesungguhnya di balik semua kasus kejahatan ini. 

Entah mengapa saya merasa filmmakers lebih memihak pada tokoh antagonis dibanding protagonis. Ini tidak wajar! Sejak menit pertama kemunculannya, Picasso lebih mencuri perhatian dengan sisi psikopat berdarah dingin yang meyakinkan. Sedangkan Alex Cross tidak mencerminkan sosok detektif cerdas yang sigap. Empatinya terhadap rekan kerja, ibu, istri dan anaknya sendiri pun tidak terlihat hangat. Elemen aksi dan misteri di tiga puluh menit pertama sebetulnya menjanjikan, intensitas suspensinya menurun di tiga puluh menit kedua sebelum berantakan di paruh terakhirnya.

Rob Cohen memang berpengalaman dalam menyutradarai film action. Namun hal itu tidak menjamin kualitas film yang lebih mendekati kelas B dengan dialog cheesy ini. Endingnya yang mengambil lokasi di Bali dengan sedikit penggunaan bahasa Indonesia mungkin akan menarik bagi penonton kita meskipun terkesan dipaksakan demi menyimpulkan berbagai plot yang dikembangkan sejak awal. Keputusannya untuk meminimalisasi CGI mungkin harus dibayar mahal mengingat beberapa adegan aksi disini kentara memakai stuntman dengan set lokasi yang terlalu standar pula.

Perry bukanlah aktor buruk tapi ia harus jeli memilih peran. Detektif Alex Cross, sang jagoan intelek jelas bukan untuknya. Bahkan Fox melakukan tugas yang lebih meyakinkan dengan sorot mata tajam dan perawakan mengerikan, terima kasih pada kerja kerasnya dalam memahat tubuh walaupun tidak sekalipun nama karakternya disebut dalam film. Burns dan Nichols tidak memiliki pengaruh apa-apa sebagai sidekick dimana screentime nya juga minimal. Begitupun dengan Reno yang tiba-tiba muncul dan merasa berkewajiban menjelaskan semuanya.

Alex Cross tidak terasa sebagai thriller cerdas high profile seperti dua pendahulunya, melainkan drama kepolisian biasa dengan misi sulit dan balas dendam yang kental tanpa lupa menyebut unsur seksualitas yang cukup eksplisit di bagian prolog. Klimaks yang biasanya menyelamatkan sebuah film kali ini berdampak sebaliknya. Narasi penutup yang terburu-buru,  fokus yang hilang hingga rangkaian penjelasan yang tidak masuk akal mungkin saja menamatkan karakter Cross dalam film untuk selama-lamanya. All i can say, this is under par. So, Morgan Freeman, Ashley Judd and Monica Potter were much luckier that time!

Durasi: 
101 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 19 September 2011

CONAN THE BARBARIAN : Sedikit Plus Banyak Minus Pahlawan Dark Ages

Quotes:
Conan: You have a name?
Tamara: Tamara Amalia Jorvi-Karashan. And yours?
Conan: Conan.
Tamara: Conan... that's it?
Conan: How many names do I need?


Storyline:
Kaum Cimmerian yang dipimpin oleh Corin berhasil menghancurkan kelompok penyihir Acheron. Bertahun-tahun kemudian dalam peperangan dengan rivalnya, Corin kehilangan istrinya yang terluka walau sempat melahirkan bayi laki-laki yang kelak diberi nama Conan. Tak terasa, Conan tumbuh menjadi remaja pria yang tegar sebelum menjelma menjadi pendekar tangguh. Balas dendam pun dicanangkannya terhadap Khalar Zym yang telah merenggut nyawa ayahnya itu. Dalam perjalanannya melintasi Hyboria, Conan berjumpa Tamara dan jatuh hati padanya. Tamara sendiri disinyalir keturunan terakhir yang dicari oleh Khalar Zym dan putrinya Marique untuk membangkitkan arwah Maliva demi menguasai dunia. Berhasilkah Conan menuntaskan misinya?

Nice-to-know:
Kellan Lutz dan Jared Padalecki sempat dipertimbangkan untuk peran Conan sebelum diputuskan nama anyar Jason Momoa.

Cast:
Angkat nama lewat serial tenar sepanjang masa Baywatch (1999-2001), Jason Momoa ditunjuk sebagai Conan
Stephen Lang sebagai Khalar Zym
Rachel Nichols sebagai Tamara
Ron Perlman sebagai Corin
Rose McGowan sebagai Marique

Director:
Pria kelahiran Jerman bernama Marcus Nispel ini terakhir menggarap film remake Friday The 13th (2009).

Comment:
Pertama-tama, Robert E. Howard harus diberikan penghormatan akan idenya menciptakan karakter Conan yang legendaris itu. Tidak peduli berapa banyaknya reboot, spin-off, prekuel, sekuel yang dihasilkan puluhan filmmaker selama beberapa masa, karakter Conan tetaplah karakter Conan ciptaan Howard yang gagah berani dan pantang menyerah. Sosok kepahlawanan yang patut diteladani oleh siapapun juga.
Sayangnya kali ini trio penulis Thomas Dean Donnelly, Joshua Oppenheimer dan Sean Hood seperti kesulitan menyatukan isi kepala mereka bersama-sama dalam menghasilkan skrip yang brilian. Lihat saja bagian pembuka dimana pengenalan Conan kecil yang begitu dangkal, setiap karakter di bagian ini hanya mengucapkan sebaris kalimat dimana adegan membunuh dan bertahan hidup berlalu begitu saja hingga memasuki fase berikutnya.


Lebih dari dua pertiga bagian film yang menceritakan Conan dewasa juga tidak jauh berbeda. Dibekali dengan serentetan adegan aksi berujung pertumpahan darah yang bombastis sekalipun tidak akan ada artinya jika tidak dilengkapi oleh plot cerita dan karakterisasi yang mampu mengikatkan diri dengan penonton. Tak kurang dari 8 orang produser yang bekerjasama pun semakin memperbesar “dosa” mereka dengan membalut film dalam format 3D yang sia-sia belaka!
Sutradara Nispel juga melakukan gaya penceritaan yang miskin dengan intensitas yang turun naik. Terkadang amat menjemukan dengan dialog-dialog klise antar tokohnya yang seakan tidak mengenal jaman, etika dan kebudayaan sekaligus. Semua mengalir begitu saja selayaknya kisah Conan terjadi di masa sekarang ini, kontras sekali dengan tata kostum yang sebetulnya sudah tampil meyakinkan sesuai periodenya itu.


Tokoh yang dimainkan oleh Lang dan McGowan menjadi karakter favorit saya disini dengan kekejian dan kelicikannya. Masih di atas Momoa ataupun Nichols yang justru tidak terlalu berhasil menciptakan keterikatan asmara yang kental di antara keduanya. Namun kekurangan yang terjadi tidak sepenuhnya patut ditimpakan pada mereka mengingat konsistensi pengarahan sang sutradara terhadap aktor-aktrisnya disini wajib dipergunjingkan.
Conan The Barbarian memang sepintas terlihat megah, epik dengan kinerja CGI yang lumayan mengesankan. Namun di balik semuanya, tidak ada motivasi kuat yang dibutuhkan dari filmmaker untuk mendongkrak pijakan film ini dari kelas B yang menempel padanya. Apabila anda tetap penasaran atau memang menyukai genre pahlawan klasik semacam ini, saksikanlah tanpa nalar yang kritis dan tingkat kepedulian yang minimum terhadapi segala minusnya. Bisa jadi versi HBO malah lebih baik dari yang satu ini.

Durasi:
110 menit

U
.S. Box Office:
$20,920,882 till mid Sep 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 14 Agustus 2009

G.I. JOE : RISE OF THE COBRA

Quotes:
Duke-[after crashing into cars while running in the accelerator suits] Okay, that was crazy... What happened to you?
Ripcord-I went through the train. What happened to you?
Duke-I jumped over it.
Ripcord-[pause] You can do that?
Duke-I told you to read that manual.
Ripcord-There's a manual?

Cerita:
Ahli senjata James McCullen berhasil menciptakan nanoteknologi yang dipercaya mampu menghancurkan seluruh kota tanpa sisa. Adalah Duke dan Ripcord yang diselamatkan oleh Scarlett, Snake Eyes dan Heavy Duty saat bertugas untuk kemudian direkrut Jenderal Hawk untuk menjadi anggota pasukan G.I. Joe yang berpusat di Afrika Selatan. Setelah berlatih keras dan mempersiapkan strategi jitu, pasukan elit tersebut harus menghadapi McCullen yang rupanya mendapat bantuan Doctor dalam menciptakan armada tentara yang kebal dan tidak kenal rasa takut. Berhasilkah G.I. Joe terlebih setelah Duke mengetahui bahwa mantan kekasihnya Ana telah berubah sifat 180 derajat?

Gambar:
Sebagian besar berlokasi syuting di California dan Republik Ceko termasuk adegan utama di Paris yang menggunakan replikanya. Aksi seru yang ditampilkan hampir sepanjang film membuat scene bergerak cepat dan kerapkali sulit tertangkap mata.

Act:
Hampir seluruh jajaran castnya memiliki nama di kancah perfilman Hollywood.
Dennis Quaid sebagai Jenderal Hawk.
Channing Tatum sebagai Duke.
Sienna Miller sebagai Ana.
Marlon Wayans sebagai Ripcord.
Ray Park sebagai Snake Eyes.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Rex.
Rachel Nichols sebagai Scarlett.
Jonathan Pryce sebagai Presiden AS.
Jangan lupakan aktor papan atas Lee Byung Hun yang memulai debut internasionalnya dengan meyakinkan sebagai Storm Shadow.

Sutradara:
Belum banyak film yang dihasilkan Stephen Sommers. Namun yang paling melecutkan namanya tentu saja The Mummy (1999) dan sekuelnya The Mummy Returns (2001). Sejak saat itu ia mulai dipercaya menangani film-film berbujet besar dan potensial box-office.

Komentar:
Teringat saat usia terbilang belia menyaksikan kartun G.I. Joe di televisi hampir 15 tahun silam membuat ekspektasi tinggi kala mendengar film layar lebarnya akan diproduksi. Hari ini saya menontonnya dan satu hal yang paling merasuk dalam pikiran saya adalah adegan kejar-kejaran di Paris saat G.I. Joe berusaha menghentikan Baroness dan Storm Shadow untuk menghancurkan Menara Eiffel dengan nanoteknologi! Adegan hampir 30 menit tersebut sangat spektakuler dan membuat penonton menghela nafas kagum. Selebihnya? Ini hanyalah manifestasi CGI yang sudah berulang-ulang-ulang kembali disuntikkan pada film aksi Hollywood liburan musim panas berbujet ratusan juta dollar dengan mengabaikan kecerdasan plot cerita dan hanya terlihat cool dari luarnya saja. Terlalu dangkal dan mudah ditebak dengan akting yang standar dan dialog yang juga biasa. Untungnya hampir semua penonton masih bisa dipuaskan karena harus diakui sebagai film aksi, Rise Of The Cobra memiliki banyak unsur yang bisa dijual. Saya menganggap ini masih sedikit lebih baik dibandingkan sekuel Transformers. Namun yang paling diharapkan adalah peningkatan kualitas di berbagai sisi jika memang muncul sekuelnya di masa mendatang. Kita tunggu saja!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$54,713,046 in opening week Aug 2009

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Jumat, 24 Oktober 2008

P2 : Terjebak Dalam Basemen Gedung Bersama Psikopat

Quotes:
Thomas-What kind of car does he drive?
Angela Bridges-I don't know.
Thomas-You don't know? You don't know what kind of car your fiancé drives?
Angela Bridges-A Toyota.
Thomas-A Toyota? Now. that is a fast car. He could be here any minute...

Cerita:
Angela pulang terakhir pada malam Natal di kantornya. Saat berusaha menstarter mobilnya di basement P2, mesinnya tidak mau menyala. Datang satpam bernama Thomas membantunya sekaligus mengajaknya makan malam bersama. Angela menolak karena harus memenuhi undangan keluarganya tapi malah membuat Thomas kecewa. Tiba-tiba ia menyergap Angela dan menyekapnya sambil menebar teror mimpi buruk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Akankah Angela berhasil keluar dari P2 dengan selamat?

Gambar:
Bersetting di Ontario, Canada, film ini praktis hanya menggunakan satu gedung perkantoran dan basement parkir sebagai lokasi syutingnya.

Act:
Rachel Nichols memulai debutnya dalam peran kecil di Autumn In New York (2000) disini berperan sebagai Angela Bridges, karyawati mandiri ambisius yang harus menghadapi situasi sulit tidak terduga.
Pernah mendukung thriller horor remaja Soul Survivors (2001), Wes Bentley kali ini kebagian karakter antagonis Thomas, petugas security yang psikopat dan posesif.

Sutradara:
Franck Khalfoun terakhir menyutradarai Snowboarder (2003) dan dalam P2 ini dibantu oleh sutradara penulis spesialis thriller, Alexandre Aja.

Komentar:
Dengan setting irit yang memaksimalkan keterbatasan lokasi, P2 justru terlihat kuat dalam eksekusi. Berhasil mempertahankan tensi dari awal sampai akhir dengan aktor-aktris yang sangat minim dan plot yang simpel bukanlah perkara mudah. Namun hal itu dibuktikan sutradara dan cast dengan cukup baik. Meski tidak diungkapkan masa lalu Thomas hingga berkarakter seperti itu, rasanya tidak terlalu mengganggu bangunan cerita. Cocok lah bagi anda penyuka thriller yang baik dan sulit diduga.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$3,992,339 till Dec 2007

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!