XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label patrick lussier. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patrick lussier. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2011

DRIVE ANGRY : Tuntut Balas Dendam Sekte Sesat

Quotes:
Piper: Gimme one good reason I shouldn't shoot you in the face.
Milton: I'm driving.
Piper: You know what I mean!

Storyline:
Misi John Milton cuma satu yaitu mencari Jonah King yang telah menculik cucu perempuan dari putrinya yang menghilang demi persembahan sebuah sekte sesat. Namun John selalu dibuntuti pria perlente, The Accountant yang bertekad menangkapnya kembali. Dalam perjalanan, John bertemu pramusaji Piper yang diyakini dapat membantunya. Berdua mereka menelusuri jejak Jonah dengan mobil dan senjata untuk menumpas siapapun yang menghalangi jalan mereka.

Nice-to-know:
Karakter Nicolas Cage disini adalah John Milton yang juga nama penulis film Paradise Lost, sebuah epic yang bercerita Satan pencipta neraka.

Cast:
Kemunculan pertamanya lewat film televisi Best of Times (1981) telah menuntun Nicolas Cage menjadi seperti sekarang ini. Peran John Milton diwujudkannya dalam sosok berambut setengah pirang, berjaket kulit dan berkacamata hitam.
3 dari 4 filmnya di tahun 2009 sudah saya saksikan termasuk Zombieland, kini Amber Heard bermain sebagai Piper, mantan waitress yang dikhianati tunangannya hingga harus menelusuri perjalanan maut.
William Fichtner sebagai The Accountant
Billy Burke sebagai Jonah King
David Morse sebagai Webster

Director:

Merupakan film berbasis 3D kedua bagi Patrick Lussier setelah My Bloody Valentine (2009).

Comment:
Terus terang saya teramat jengah melihat nama Cage mengisi sebuah film selama 2 tahun terakhir. Kebintangannya semakin memudar dengan peran-peran stereotype yang samasekali tidak membantu apapun dalam peningkatan karirnya. Bagaimana dengan tokoh John Milton disini? Di luar dugaan, Cage mampu memainkan sosok tangguh gila yang berpenampilan dingin dengan penampilan super cuek berantakan dari luka dan codet di sekujur wajahnya. Dan ini menyenangkan apalagi dilengkapi dengan kacamata hitam dan senjata-senjata mematikan yang dimilikinya.
Di luar Cage juga ternyata didukung oleh aktor-aktris yang bermain cool dan nyaman. Sang heroine adalah Heard yang cantik seksi tetapi mampu bertarung dengan cekatan, tipikal jagoan wanita dalam action flick favorit anda. Sang messiah adalah Burke yang terlihat flamboyan yang mengingatkan pada sosok Elvis Presley dengan aksen Amerika Selatan yang mantap. Sang accountant adalah Fichtner yang berdandan kelimis seperti Neo dalam The Matrix tetapi dengan dialog-dialog tajam terlontar dari mulutnya. Lihat bagaimana ia menjentikkan koin dan mengubahnya menjadi kartu identitas FBI dengan cepatnya. Menarik!
Sutradara Lussier memadukan segala elemen yang biasanya dipertontonkan oleh film kelas B yaitu konten-konten dewasa. Sebut saja minuman keras, rokok, seks bebas, senjata tajam dsb plus berbagai umpatan kasar mewarnai nyaris setiap pertukaran kalimatnya. Semua itu terasa cukup menyenangkan dalam balutan 3D seperti desingan peluru, sambaran api, pecahan bom dll meskipun semua itu bukan hal baru lagi.
Skrip yang ditulis oleh Lussier sendiri bersama Todd Farmer memang tergolong klise dan murahan. Anda akan dengan mudah menebak adegan demi adegan bahkan mungkin pengucapan dialog demi dialognya. Namun penempatan soundtrack yang tepat rasanya tetap mampu membuat anda bersemangat mengikutinya sampai selesai walaupun harus menggeleng-gelengkan kepala akan apa yang anda baru saksikan.
Bagi saya, Drive Angry merupakan sebuah guilty pleasure. Film yang berkualitas buruk tapi herannya masih dapat dinikmati sebagai tontonan aksi yang lengkap termasuk suguhan adegan vulgar dan sadis dimana-mana. Sekarang terserah anda menilainya apakah sependapat dengan saya atau tidak. Yang pasti bagian penutup yang memperlihatkan jalan raya terbakar menuju neraka saat credit title bergulir sangatlah indah di mata!

Durasi:

95 menit

U.S. Box Office:

$9,103,951 till March 2011

Overall:

7.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 26 Januari 2011

WHITE NOISE 2 THE LIGHT : Pengalaman Supernatural dan Konsep Dogmatis

Tagline:
Henry Caine: If you save a life... you are responsible for it.


Storyline:
Ketika Abe Dale tengah menikmati makan siang bersama istri dan anaknya di sebuah restoran, tiba-tiba seorang pria asing masuk dan menembak dua orang kesayangannya itu sebelum membunuh dirinya sendiri. Kejadian tersebut membuat Abe shock dan nyaris bunuh diri tapi temannya Marty Bloom berhasil menyelamatkannya. Pengalaman dekat dengan maut itu menyebabkan Abe dapat melihat cahaya putih di sekeliling orang-orang yang akan meninggal. Atas dasar fakta tersebut, akankah Abe mampu menghindari orang-orang tersebut dari kematian tanpa konsekuensi yang mungkin terjadi di kemudian hari?

Nice-to-know:
Dibawa ke sinema di Inggris Raya dengan judul "Brooks Noise".

Cast:

Terakhir mendukung Slither (2006), Nathan Fillion bermain sebagai Abe Dale yang terluka karena kehilangan istri dan anaknya hingga memiliki pengalaman nyaris mati.

Katee Sackhoff sebagai Sherry Clarke
Craig Fairbrass
sebagai Henry Caine

Adrian Holmes
sebagai Marty Bloom

Kendall Cross
sebagai Rebecca Dale


Director:
Patrick Lussier
mengawali karir penyutradaraannya lewat The Prophecy 3: The Ascent (2000) yang langsung rilis dalam format video.


Comment:

Film yang sudah rilis tahun 2007 lalu ini nyatanya baru tayang di Indonesia pada awal 2011. Melanjutkan apa yang sudah dibahas pada prekuelnya yaitu mengenai E.V.P alias Electronic Voice Phenomenon yang difungsikan untuk menangkap suara-suara dari dunia orang mati lewat seperangkat alat yang dioperasikan secara khusus. Jika dulu ada Michael Keaton maka kali ini terpilih Nathan Fillion yang namanya lebih asing lagi.
Plot awalnya menceritakan konsep kembali dari kematian itu sendiri yang membuat karakter Abe mampu melihat “cahaya” putih di sekujur orang di sekitarnya yang akan meninggal. Kemudian cerita bergulir menjadi sedikit dogmatis dimana hukum sebab akibat yang menyinggung Injil/Alkitab diperdebatkan secara gamblang lewat bukti-bukti lisan ataupun tertulis yang sayangnya tidak terlalu meyakinkan untuk dipercaya begitu saja. Fillion sebetulnya sudah tampil maksimal sebagai Abe. Karakter “pahlawan dadakan” setelah berduka kehilangan keluarga yang dicintainya memiliki pencitraan dramatis yang cukup menarik. Hanya saja koneksi dengan tokoh-tokoh lainnya tidak cukup kuat untuk mendukung eksistensinya disini. Contoh saja Sackhoff yang terkesan terlalu “bitchy” sebagai suster Sherry yang seharusnya sopan dan terpelajar. Pada akhirnya Fillion seperti stand alone character yang terasa dipaksakan. Coba salahkan penulis Matt Venne yang melaksanakan kinerjanya secara tanggung. Sutradara Lussier bisa jadi memiliki basis horor/thriller yang cukup baik tetapi kali ini ia menggunakan spesial efek yang kentara dan banyak dibantu oleh sound yang tiba-tiba memecah keheningan. Terkadang mungkin berhasil menakuti penonton tetapi dengan cara yang terbilang kasar. Belum lagi alur lambat yang rasanya membuat film ini sulit tayang di bioskop alias Direct-to-DVD. Saya katakan White Noise : The Light sebetulnya memiliki premis yang jauh lebih menarik daripada White Noise. Namun semua idenya terasa tidak menyatu dan membuat film horor ini kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Terlepas dari semua penilaian negatif tersebut, saya masih cukup menyukainya walau pada akhirnya dibuat kecewa dengan ending yang tidak masuk akal terlebih setelah intensitas yang terjadi di paruh kedua durasinya.

Durasi:
95 menit


U.K. Box Office:

£1,288,726 till Jan 2007.

Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Sabtu, 23 Mei 2009

MY BLOODY VALENTINE : Dendam Pekerja Tambang Psikopat

Quotes:
Burke-[to a crime scene corpse] Happy fucking Valentine's Day.

Cerita:
Pertambangan Hanniger runtuh, lima orang tewas dan satu orang bernama Harry Warden dalam keadaan koma. Diduga Harry menjadi gila dan membantai rekan-rekannya untuk menghemat persediaan air. Setelah terbangun, Harry kembali "berulah" dan melarikan diri dari rumah sakit tepat pada saat hari Valentine. Di lain tempat, empat muda-mudi Axel dan pacarnya Irene menunggu kedatangan teman mereka Sarah dan pacarnya Tom di perayaan Valentine's Day yang diadakan di pertambangan Hannigan yang terbengkalai. Mudah ditebak, Harry muncul dan menghabisi kawanan anak SMU tersebut. Empat sekawan itu kemudian berpisah..Sepuluh tahun berlalu, Axel telah menjadi sheriff setempat dan menikah dengan Sarah. Tidak dinyana Tom kembali ke kota itu setelah kematian ayahnya. Legenda Harry Warden yang terkubur lama tiba-tiba mencuat kembali. Tragedi pembantaian pun terulang kembali. Benarkah sesungguhnya Harry masih hidup?

Gambar:
Mengambil set di Pennsylvania dengan dominan waktu malam hari. Ketenangan kota dan tambang yang terbengkalai disyut dengan baik.

Act:
Terkenal sebagai Dean Winchester dari serial teve sukses Supernatural, Jensen Ackles merambah layar lebar dalam film ini dengan berperan sebagai Tom Hannigan yang berusaha meneruskan pertambangan ayahnya yang pernah terjadi tragedi.
Memulai debut layar lebar di tahun 2001 dalam 3 film yaitu Happy Campers, Blow dan Pearl Harbor, Jaime King kebagian karakter Sarah yang berusaha mencari tahu latar belakang apa yang membuat Harry Warden seakan kembali setelah sepuluh tahun.
Pernah mendukung thriller remaja hit Final Destination (2000), Kerr Smith kali ini bermain sebagai sheriff Axel yang menyimpan "rahasia" terhadap istrinya sendiri yang notabene mantan kekasih sahabatnya dahulu.

Sutradara:
Angkat nama setelah membesut Dracula 2000 dan dua sekuelnya, Patrick Lussier boleh diacungi jempol atas inovasinya menciptakan 3D horor pertama di Hollywood tanpa kehilangan sentuhan ketegangan dan kesadisan.

Komentar:
Remake dari film berjudul sama di tahun 1981. Sebetulnya tidak ada yang baru yang ditawarkan film ini, plot serupa dengan yang kita saksikan dalam Friday The 13th ataupun Halloween tetapi yang membuatnya cukup mengesankan adalah aspek 3-D yang cukup detail dan terorganisir dengan baik mulai dari awal sampai akhir film. Beberapa adegan sadis yang berlumur darah mungkin akan sulit dicerna mata karena sangat mengerikan. Akting pemain cukup standar. Cerita agak sedikit dipaksakan tapi masih bisa diterima karena tetap berusaha menyembunyikan twist di ending. Bagi anda penikmat thriller remaja khas 80an, jangan lewatkan My Bloody Valentine dan persenjatai mata anda dengan kacamata tiga dimensi yang membuat semuanya seakan nyata di hadapan anda!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$51,527,787 till March 2008

Overall:
7.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!