XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ryoo seung yong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ryoo seung yong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juli 2013

MIRACLE IN CELL NO 7 : Sorrow Over ‘Fantasy’ Social Drama


Original title:
7beonbangui Seonmool.

Nice-to-know:
Pengambilan gambar berakhir pada tanggal 10 Oktober di Iksan, Jeollabuk-do, Korea Selatan dimana semua napi mempunyai misi mengeluarkan Yong-gu dari penjara untuk sementara waktu.

Cast:
Ryoo Seung-yong sebagai Yong-Goo
Jeong Man-shik sebagai Sin Bong-sik
Oh Dal-su sebagai So Yang-Ho
Park Shin-Hye sebagai Ye-Seung
Park Won-sang sebagai Choi Choon-Ho
Kal So-Won sebagai Ye-Seung
Kim Jung Tae sebagai Man-Bum

Kim Ki-cheon sebagai Seo
Jung Jin-young sebagai Jang Min-Hwan


Director:
Merupakan film keempat bagi Lee Hwan-kyung setelah Champ (2004).

W For Words:
Mungkin masih membekas dalam ingatan moviegoers akan dua film Hollywood berkelas Oscar yaitu The Green Mile (1999) dan I Am Sam (2001) meski sudah lebih dari satu dekade berlalu. Apa relevansinya dengan film Korea yang meraih banyak nominasi di ajang Baek Sang Art Awards ini? Jika anda tarik garis lurus maka didapatlah kisah ayah keterbelakangan mental bersama putri kecilnya dan juga seorang napi tak bersalah yang dipidana hukuman mati. Kombinasi yang kemudian dijamin akan menawan hati anda selama lebih dari dua jam durasinya. Tak percaya?

Pada tahun 1997, pria dengan mental terbelakang bernama Yong-gu dijebloskan ke penjara sambil menunggu kasus persidangan yang menjeratnya dengan pasal pembunuhan, penculikan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang juga putri seorang Komisaris polisi. Putrinya Ye-sung di luar dugaan berhasil menyusup ke sel atas bantuan bos Yang-ho dan krunya masing-masing Chun-ho, old Seo, Bong-shik, Man-beom. Tak tersisa waktu banyak bagi mereka untuk berjuang keras menyelamatkan Yong-gu dari dakwaan hukuman mati dalam pengawasan kepala polisi Min-hwan.

Skrip yang ditulis secara koperatif oleh Lee Hwan-Kyung, Kim Hwang-Sung dan Kim Young-Suk ini jika dicermati memang menyisakan banyak pertanyaan. Sebut saja kondisi penjara yang lebih bernuansakan rumah lengkap dengan selimut, meja makan hingga toilet. Atau bagaimana penjagaan ketat dengan segala ritualnya yang tidak lazim. Namun jika anda bisa menerima keganjilan tersebut, niscaya hati anda akan tertawan seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Ya. Premis keadilan versus ketidakadilan akan selalu memikat untuk disimak dengan segala konsekuensi yang berlaku.

Sutradara Lee banyak bermain dengan elemen fantasy yang bertentangan dengan realitas. Setting penjara yang cerah dan hangat contohnya. Semuanya kian terasa indah karena sinematografi bergaya soft edges dari Kang Seung-gii. Belum lagi scoring music yang menyentuh dan sound design yang terasa pas di tiap suasana. Timing untuk melontarkan humor dan menghadirkan haru juga patut diacungi jempol karena sisi penokohan yang terbangun secara stabil serta adanya pergeseran karakteristik yang disesuaikan dengan konflik yang dihadapi.

Si kecil Kal So-Won jelas paling mencuri perhatian dengan keluguan menggemaskannya yang mengundang simpati. Upaya Ryoo Seung-yong menghidupkan sosok retarded dengan wajar juga pantas mendapatkan apresiasi tinggi. Chemistry keduanya sangat kuat di sepanjang film hingga membuat siapapun yang melihatnya akan tersentuh. Lima aktor kawakan Oh Dal-su, Jeong Man-shik, Park Won-sang, Kim Jung Tae dan Kim Ki-cheon bermain kompak dalam mendukung ayah anak yang innocent itu. Aktris populer Park Shin-Hye bagaikan icing on a cake, memberi sentuhan terakhir sebagai Ye-sung dewasa berhati teguh.

Miracle In Cell No 7 sejauh ini sudah menjadi film Korea terlaris ketiga sepanjang masa di belakang The Host (2006) dan The Thieves (2012). Rasanya di beberapa negara Asia lainnya akan mampu berbicara banyak mengingat begitu besar potensi word of mouth nya sebagai tearjerker yang manis sekaligus tragis. Tak usah malu untuk mengusap air mata yang terjun bebas di pipi anda kala menyaksikannya. Drama sosial yang disamarkan sebagai komedi ini jelas berpotensi tinggi menggugah sensitivitas anda dari lubuk hati terdalam sekalipun. Definitely one of Asian’ father-daughter flick not to be missed!

Durasi:
12
7 menit

Asian Box Office:
$
12.320.000 till Jul 2013

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 28 Maret 2012

WAR OF THE ARROWS : Awesome Archers’ Battle Finale


Quotes:
Nam-yi: Rasa takut untuk dihadapi, bukan dielakkan.

Nice-to-know:
Mencatatkan diri sebagai film terlaris kedua setelah Sunny tahun 2011 di negeri asalnya, Korea. Namun saat diedarkan kembali pada bulan Oktober dengan tambahan director’s cut berhasil mendongkrak posisinya ke urutan teratas.

Cast:
Park Hae-il sebagai Nam-Yi
Ryoo Seung-yong sebagai Jyu Shin-Ta
Moon Chae-won sebagai Ja-In
Kim Mu-Yeol sebagai Seo-Goon
Lee Han-wi sebagai Gap-Yong
Lee Kyeong-yeong sebagai Kim Moo-Sun
Park Gi-woong sebagai Doreukon

Director:
Merupakan film ketiga Kim Han-min sejauh ini yang diawali oleh Paradise Murdered (2007).

W for Words:
Lotte Entertainment dengan pecahannya Dasepoclub Co. bekerjasama dengan DCG Plus Co. menghadirkan sebuah action bertempo cepat dengan latar belakang epik sejarah yaitu kependudukan Manchu China di ranah Korea sekitar tahun 1600an. Plot ceritanya mungkin umum yaitu seorang pria dalam misi penyelamatan saudarinya yang diculik musuh sampai memimpin gerakan masyarakat melawan tirani. Namun yang membedakan adalah penggunaan senjata yang disinggung dalam judulnya yaitu busur dan panah!

Pemanah ulung sekaligus pengkhianat mati-matian menyelamatkan putra putrinya ketika kediamannya diserbu hingga harus mengorbankan nyawanya. Saat itulah Nam-yi dan Ja-in melarikan diri, tumbuh dewasa bersama 13 tahun kemudian dengan kemampuan beladiri yang diwarisi dari ayahnya. Ketika Ja-in dilamar Seo-goon, armada kerjaan Qing tiba-tiba menyerang dan melarikan wanita malang tersebut. Nam-yi tak tinggal diam, ia memimpin gerakan pemberontakan sekaligus menghadapkannya pada pertarungan akhir hidup dan mati dengan Jyu Shin-ta dan kawanan yang bengis itu.
Sutradara Kim berhasil menangani action berskala besar dengan narasi yang linier dan sederhana sehingga tidak perlu membuat penonton sulit mencerna apa yang disuguhkannya. Pemakaian bahasa lawas Manchu yang nyaris punah menjadi daya tarik tersendiri meskipun teramat asing di telinga anda. Sinematografi Kim Tae-seong dan ilustrasi musik Choi Tae-young juga berhasil memperkuat intensitas yang diinginkan termasuk adegan kucing-tikus menelusuri belantara hutan dan lembah yang masih asri.

Semua aktor aktris disini terlihat keren dalam kostum tradisional Korea ataupun baju perang tentara Manchu yang meyakinkan itu. Park melanjutkan peran emosionalnya dalam The Host (2006) dalam sosok Nam-yi yang ditugaskan melindungi adiknya. Ketangkasannya memanah juga patut diapresiasi karena terlihat bertarung dengan hati. Moon sendiri juga bukan tipikal wanita yang tidak bisa apa-apa, Ja-in jelas bisa melawan dengan gigih jika dibutuhkan. Ryoo mampu menjiwai peran antagonis dengan maksimal, naluri pemburu Shin-ta terkesan mengerikan sampai titik darah penghabisan.
Paruh pertama film memang sedikit bertele-tele dengan kinerja kameranya yang sedikit shaky. Namun semuanya terbayar lunas di paruh kedua yang mencekam dimana duel panah kelompok Nam-yi dan Shin-ta seakan membawa film ke babak yang baru, survival in the woods yang memperhitungkan segala kemungkinan termasuk lokasi sarang harimau, arah angin, jarak lompatan dsb. War of the Arrows lemah dari konteks sejarah tapi kuat dari segi aksi intens. Anda hanya akan peduli pada nasib Nam-yi, Ja-in dan Seo-goon dimana anak panah terakhir bisa jadi menentukan nasib kubu yang terakhir berdiri tegak.

Durasi:
122 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!