XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ryan phillippe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ryan phillippe. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

THE BANG BANG CLUB : Konflik Internal Fotografer Berani Mati

Quotes:
Kevin Carter: They're right. All those people who say it's our job to just sit and watch people die. They're right.


Storyline:
Didasarkan pada kejadian nyata sewaktu hari-hari terakhir apartheid di Afrika Selatan. Greg berangkat sendirian untuk kemudian bergabung dengan tiga fotografer lainnya yang sudah lebih dulu disana yakni Kevin, Ken dan João. Hasil jepretan mereka diseleksi oleh editor cantik, Robin untuk kemudian dibayar tinggi setelah dimuat dalam majalah. Greg dan Robin menjalin hubungan istimewa hingga menjadi saksi pergeseran makna hidup yang dialami empat fotografer tersebut.

Nice-to-know:
Diproduksi secara keroyokan oleh Foundry Films, Harold Greenberg Fund, Instinctive Film dan Out of Africa Entertainment

Cast:
Terakhir bermain dalam Franklyn dan Stop-Loss di tahun 2008, Ryan Phillippe berperan sebagai Greg Marinovich
Karirnya meningkat paska Watchmen (2009), Malin Akerman kebagian tokoh Robin Comley
Taylor Kitsch sebagai Kevin Carter
Frank Rautenbach sebagai Ken Oosterbroek
Neels Van Jaarsveld sebagai João Silva

Director:
Merupakan feature film debut bagi Steven Silver yang asli Afrika Selatan ini.

Comment:
Film yang premierenya dilangsungkan di Toronto International Film Festival pada tanggal 15 September 2010 yang lalu ini hanya rilis terbatas di beberapa negara dengan judul berbeda-beda. Di Indonesia masuk lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex menggunakan judul yang sama dengan Yunani. Sedangkan di Brazil memakai Repórteres de Guerra, Perancis dengan titel Shots of War serta The Hidden War di Swedia.
Film yang diangkat dari novel karangan Greg Marinovich dan João Silva ini diterjemahkan langsung oleh sutradara Steven Silver dalam bentuk screenplay. Bukan pekerjaan yang mudah untuk ukuran buku sulit seperti itu tetapi Silver sendiri berkebangsaan Afrika Selatan sehingga sedikit banyak mengetahui sejarah hitam yang terjadi disana. Belum lagi fakta bahwa ia sudah pernah menggarap beberapa dokumenter televisi sebelumnya yang rata-rata bertemakan peperangan dan kemanusiaan.
Kuartet Phillippe, Kitsch, Rautenbach, Van Jaarsveld bermain kompak sebagai empat orang fotografer berani mati. Menarik melihat kinerja kamera yang secara dinamis bergerak mengekspos mereka dengan penekanan cara pandang yang berbeda-beda satu sama lain. Porsi terbesar dipercayakan pada Phillippe dan Kitsch yang bertalenta lebih dalam pendekatan fotonya. Lihat bagaimana permainan nasib mereka silih berganti mengikuti roda kehidupan terutama dalam Pulitzer Prize dan segala “efek samping”nya.
Beberapa aktor Afro-Amerika yang mendukung film ini juga tampil mengesankan untuk menegaskan sisi emosional yang nyata sesuai apa yang dialami warga setempat pada waktu itu. Kehadiran sang editor majalah, Akerman sebagai front lady juga memberikan keseimbangan yang tepat bagi tokoh Greg yang berangkat dari nol hingga karakternya dapat terbentuk sedemikian rupa. Narasi tertulis sebelum credit title bergulir dijamin akan menggelitik akal sehat anda akan resiko profesi yang begitu tinggi.
The Bang Bang Club menghadirkan banyak gambar statik maupun bergerak yang cukup mengenaskan untuk dicerna dengan mata telanjang, terlebih menit ke-77 dst yang menggetarkan jiwa dan hati nurani siapapun yang menyaksikannya. Conflict interest yang disajikan dengan cukup sederhana dari sudut pandang yang tidak biasa itu pada akhirnya akan meninggalkan banyak pertanyaan mengenai moral dan etik di dalam benak penonton terutama bagi mereka yang menggemari fotografi.

Durasi:
100 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 23 April 2011

BREACH : Siasat Officer Muda Melucuti Atasan

Quotes:
Eric O'Neill: My name is Eric.
Robert Hanssen: No, your name is Clerk. And my name is Sir, or Boss, if you can manage.
Eric O'Neill: Yes, sir.
Robert Hanssen: And if I ever catch you in my office again, you're gonna be pissin' purple for a week.

Storyline:
Spesialis computer Eric O’Neill bercita-cita menjadi agen FBI handal. Kesempatan itu datang saat ia menjadi seorang officer yang juga asisten dari Robert Hanssen, agen FBI senior yang telah mengabdi selama 25 tahun. Sebetulnya Eric ditugaskan langsung oleh Kate Burroughs dan Rich Garches untuk mengawasi tindak tanduk Robert yang disinyalir menjual data rahasia ke pihak Soviet secara diam-diam. Tidak mudah bagi Eric untuk mendapatkan kepercayaan Robert yang juga mulai mengganggu hubungannya dengan istrinya yang berbeda agama, Juliana. Kini Eric pun harus beradu otak untuk menyelesaikan misi sulit ini sekaligus membekuk Robert yang licik itu.

Nice-to-know:
Dalam film digambarkan karakter yang diperankan Chris Cooper terobsesi dengan Catherine Zeta-Jones. Pada kenyataannya, Cooper dan Zeta-Jones memenangkan gelar Aktor/Aktris Pendukung Terbaik pada ajang Academy Awards 2003.

Cast:
Pernah memenangkan gelar Aktor Pendukung Terbaik dalam ajang Oscar 2003 lewat Adaptation (2002), Chris Cooper bermain sebagai Robert Hanssen
Karir aktornya diawali lewat miniseri televisi berjudul The Secrets of Lake Success (1993), Ryan Phillippe berperan sebagai Eric O'Neill
Laura Linney sebagai Kate Burroughs
Caroline Dhavernas sebagai Juliana O'Neill
Gary Cole sebagai Rich Garces
Bruce Davison sebagai John O'Neill

Director:
Sejauh ini merupakan karya kedua bagi Billy Ray setelah Shattered Glass (2003).

Comment:
Jika anda berpikir film yang satu ini bermuatan berat maka salah besar. Anda tidak perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai FBI, cukup duduk tenang di bangku dan fokuslah pada apa yang akan anda saksikan. Niscaya segala seluk beluk yang tertuang dalam skrip cerdas yang ditulis oleh trio Adam Mazer, William Rotko dan Billy Ray ini dapat dimengerti.
Seringkali penonton salah kaprah mengenai status Eric O’Neill yang dianggap agen baru FBI padahal ia hanya sebagai officer sekaligus asisten dari Robert Hanssen yang berkedudukan sangat tinggi di atasnya. Phillippe menuntaskan tugasnya dengan baik sebagai O’Neill yang panjang akal dan pantang menyerah meskipun sempat disepelekan bosnya di awal dan lagi harus menghadapi problem rumah tangga dengan istrinya. Saya nilai ini adalah penampilan terbaiknya dalam sebuah film!








Siapa yang meragukan kualitas akting aktor sekaliber Cooper? Lihat caranya menginterpretasikan tokoh Hanssen yang penuh kecurigaan dan licin seperti belut. Intonasinya yang jelas menegaskan nama besarnya sebagai seorang senior di FBI. Belum lagi kemampuannya mengatur segala sesuatu sesuai standarnya sendiri sesulit apapun juga termasuk integritas pribadi dan keluarganya.
Saya juga mengagumi sosok Linney yang bermain dingin sebagai Burroughs yang sebetulnya kesepian dan tidak memiliki sesuatu untuk diperhatikan di luar pekerjaannya. Dhavernas yang belum banyak dikenal orang juga memberikan aksen lembut dan rapuh ke dalam tokoh Juliana yang diperankannya. Kontribusi juga disumbangkan Davison, Cole, Haysbert dan lain-lain sebagai karakter pendukung yang tak kalah pentingnya.








Sutradara Ray meskipun baru menghasilkan satu film sebelumnya berlaku selayaknya seorang veteran. Ia tidak membekali film spy ini dengan adegan aksi berbujet besar dengan musik latar yang berlebihan selayaknya film Hollywood. Namun sesederhana sebuah drama spionase yang sangat kaya dari segi karakteristiknya hingga jalinan konflik terbangun dengan begitu rapi. Tempo yang pas begitu asyik membuka scene demi scene yang penuh kejadian penting.
Saya berani katakan Breach yang diinspirasi dari kejadian nyata ini nyaris sempurna sebagai sebuah film. Contoh konkrit bagaimana kegigihan bisa mengatasi hal-hal yang terlihat tidak mungkin sekalipun. Meskipun produksi lama, jangan ragu untuk menyaksikannya di bioskop Ibukota. Nikmatilah permainan kucing tikus yang dramatis ini, turut serta dalam ketegangan saat waktu yang sempit harus dapat digunakan secara maksimal untuk kemenangan besar di akhir. Kesuksesan dan kegagalan memang kadang ditentukan oleh kompleksitas pemikiran dan tindakan manusia itu sendiri selain kesempatan dan takdir yang telah digariskan.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$32,791,865 till Apr 2007

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Jumat, 08 April 2011

THE LINCOLN LAWYER : Kompleksitas Hubungan Pembela dan Terdakwa

Quotes:
Mick Haller: I checked the list of people I trust and your name ain't on it.

Storyline:
Pengacara kriminal Los Angeles, Mickey Haller menandatangani perjanjian untuk membela playboy licik yang juga seorang agen real-estate, Louis Roulet yang dituduh melakukan penyiksaan. Bayaran mahal tidak menjadi masalah karena sang ibu, Mary Windsor akan melakukan apa saja untuk membersihkan nama putranya. Semakin dalam Mick menyelidiki kasus maka terungkap bahwa pribadi Louis tidaklah menyenangkan ditambah dengan bukti-bukti di masa lalu yang cukup memberatkan. Bagaimana Mick harus menukar keadilan dengan hubungan Pembela dan Terdakwa di ruang sidang sekaligus mengindahkan moralnya sendiri?

Nice-to-know:
Michael Connelly menginginkan Matthew McConaughey bermain sebagai Mickey berdasarkan aktingnya dalam Tropic Thunder (2008).

Cast:
Pertama kali muncul dalam serial televisi Unsolved Mysteries di tahun 1992, Matthew McConaughey bermain sebagai Mick Haller
Marisa Tomei sebagai Maggie McPherson
Ryan Phillippe sebagai Louis Roulet
William H. Macy sebagai Frank Levin
Josh Lucas sebagai Ted Minton

Director:
Feature film kedua bagi Brad Furman setelah The Take (2007).

Comment:
Drama pengadilan merupakan salah satu tema yang paling menarik bagi saya. Bagaimana pengacara penuntut dan terdakwa saling beradu argumen mempertahankan posisi klien mereka. Belum lagi jaksa, hakim dan saksi-saksi yang memberatkan. Bagaikan sebuah permainan catur yang penuh strategi dan sulit ditebak arahnya, satu langkah bisa membuka berbagai macam kemungkinan.
Begitupun dengan film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Michael Connelly ini. Bukan hanya aksi sang pengacara sebagai pion utama yang ditampilkan melainkan kehidupan pribadinya sehari-hari juga dibeberkan. Seakan penonton diajak mengenal secara langsung seorang Mick Haller yang digambarkan jumawa, flamboyan dan mengejar keuntungan apapun yang bisa didapatnya. Tidak ada yang lebih tepat selain McConaughey yang memerankan sosok pengacara kharismatik seperti yang pernah ditunjukkannya di awal kemunculannya dalam A Time To Kill (1996).
Interaksi McCounaughey dengan orang-orang di sekitarnya juga terasa realistis. Tomei berakting gemilang sebagai mantan istri yang masih menyimpan sejuta rasa walaupun alasan perceraian mereka tidak sempat dibahas. Phillippe meskipun terkesan datar saja sebagai terdakwa tetapi mampu berdialog dengan sama baiknya. Selain itu masih ada nama-nama beken Macy, Lucas, Leguizamo, Pena, Fisher yang semakin memperkuat karakterasi film ini.
Sutradara Furman juga terampil menampilkan sudut-sudut California termasuk Downtown Los Angeles dan South Pasadena sehingga terlihat dinamis. Kesan serial televisi berepisode panjang memang masih tertangkap disini. Namun semuanya tertutupi oleh banyaknya twist cerita yang sulit diduga terlebih endingnya yang mengejutkan sekaligus smart dan wicked.
Dengan berbagai elemen positif yang sudah disebutkan di atas rasanya The Lincoln Lawyer sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sebuah drama yang dibangun perlahan dengan detail menuju konflik kepentingan yang memikat. Anda akan dibuat menerka-nerka kejadian sesungguhnya yang mendasari kasus tersebut. Berani untuk menjawab akhir cerita yang disodorkan?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$39,416,066 till Apr 2010

Overall:

8 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 16 April 2008

CHAOS : Permainan Kucing Tikus Detektif dan Penjahat

Quotes:
Bernie Callo-I need to speak with you.
Quentin Conners-Well that's where you run out of luck. Because I don't need to speak with you!

Cerita:
Detektif Quentin Conners tanpa keadilan dipenjara dan partnernya Jason York meninggalkan kepolisian setelah penembakan tragis di Pearl Street Bridge. Ketika sebuah bank dalam situasi penyanderaan, Conners ditugaskan pada operasi tersebut bersama protege Shane Dekker. Perampokan yang dipimpin Lorenz sama sekali tidak mengambil uang melainkan menanamkan suatu virus dalam sistem yang bisa mencuri 1 milyar Dollar dari beberapa rekening yang berbeda menggunakan prinsip Chaos. Apakah operasi bisa digagalkan pada akhirnya?

Gambar:
Mengambil setting di Kanada, drama kepolisian ini menggunakan banyak lokasi termasuk berawal di sebuah bank dan berakhir di sebuah dermaga sekaligus airport.

Act:
Aktor laga masa kini, Jason Statham yang pernah menjadi musuh Jet Li dalam The One (2001) kali ini kebagian peran sebagai Detektif Conners yang tangguh dan misterius.
Mantan suami Reese Witherspoon ini yang sebelumnya tampil singkat dalam film peraih Oscar, Crash (2004), Ryan Phillippe bermain sebagai detektif baru Shane Dekker yang cukup terampil dan gigih.
Pertama kali tampil dalam Wildcats (2006), karir Wesley Snipes bisa dibilang turun naik. Dalam Chaos, ia memerankan karakter antagonis York yang culas nan kejam.

Sutradara:
Namanya tidak terlalu kondang karena baru menyutradarai tiga film sebelum ini termasuk yang pertama, Soccer Dog : The Movie (1999). Tony Giglio membesut Chaos yang bertemakan drama kepolisian penuh intrik dan kejutan.

Komentar:
Chaos sebetulnya film yang cukup baik kualitasnya tapi tidak akan diingat orang dalam waktu lama. Plotnya berusaha dibuat cerdas terutama paruh ketiga film menjelang akhir yang seharusnya tidak perlu. Twist-twist yang seperti dipaksakan untuk mengangkat performa film secara keseluruhan. Teori "Chaos" yang bisa dibilang mendasari cerita tidak terlalu kuat mendukung elemen-elemen drama kepolisian yang sudah seringkali ditampilkan. Sayang sekali terlalu banyak kelemahan seakan CHAOS dimana-mana!

Durasi:
100 menit

Box Office:
$321,602 in Netherlands by March 2006

Overall:
6.5 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Kamis, 08 Februari 2007

FLAGS OF OUR FATHERS : Pergulatan Heroisme Perang Dunia Dua

Quotes:
Lundsford-You actually chose the Marines because they had the best uniforms?
Rene Gagnon-No sense being a hero if you don't look like one.

Cerita:
Tahun 1945, Angkatan Darat Amerika Serikat menyerang puluhan ribu tentara Jepang yang berusaha mempertahankan area mereka di Pulau Iwo Jima. Pertempuran berlangsung sengit selama berhari-hari dan menimbulkan banyak korban dari kedua belah pihak. Saat mencapai Gunung Suribachi, enam orang tentara mengibarkan bendera AS di puncaknya sebagai simbol kemenangan Amerika. Peristiwa itu diabadikan oleh fotografer dan foto tersebut menjadi sangat terkenal. Pemerintah berusaha memberikan penghargaan tinggi terhadap tiga tentara tersisa yang masih hidup sekaligus menggalang dana kemanusiaan. Namun tiga orang tersebut harus menghadapi trauma masa lalunya dan beban yang mereka sandang sebagai pahlawan Amerika.

Gambar:
Adegan perang berlangsung riil. Ledakan dan baku tembak terlihat alami. Sewajarnya perang, beberapa adegan yang sadis dan mengerikan pun tertangkap kamera dengan tajam.

Act:
Ryan Phillippe berperan sebagai tentara AU, John 'Doc' Bradley yang merasa dirinya pantas dianggap pahlawan karena sudah berjuang membela negara.
Jesse Bradford sebagai perwira AD, Rene Gagnon yang polos dan berjiwa besar untuk menghadapi "status"nya paska perang. Peran yang sangat berbeda dari yang biasa dimainkannya. Wajah lucu dan manisnya tetap sulit dihilangkan untuk meyakinkan sebagai tentara yang tangguh.
Akting Adam Beach sebagai tentara AS keturunan India, Ira Hayes patut diacungi jempol. Emosinya tertangkap dengan baik sebagai seseorang yang merasa bukan pahlawan sekaligus menghadapi diskriminasi warga sekitar yang menganggapnya hanya beruntung saja.

Sutradara:
Clint Eastwood sudah diakui sebagai sutradara berkelas Hollywood walau belum melepaskan predikat aktor yang juga disandangnya. Tengok saja filmografinya yang walau sedikit tapi sudah mendapat pengakuan internasional. Kita wajib mengangkat topi untuk totalitas dan kreativitas Eastwood yang mau bersusah payah membuat dua film bertemakan sama tapi dari sudut pandang yang berbeda, Flags Of Our Fathers dan Letters From Iwo Jima.

Komentar:
Sisi lain yang diangkat dari sebuah film perang. Tentang arti dari heroisme itu sendiri dan beban yang disandangnya. Bukan seperti kepahlawanan yang semu yang biasa dibesut. Tiga karakter utama mampu dieksplor dalam film yang cerdas ini. Berbagai rasa haru, bangga, kalut dan sedih akan muncul saat menyaksikan sisi humanisme dari para pejuang yang selamat dari perang tersebut. Sebuah cara baru yang efektif!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office (till end of 2006):
$33,574,332

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!