XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label prachya pinkaew. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prachya pinkaew. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2011

THE KICK : Keluarga Taekwondo Perebutan Keris Thailand

Tagline:
Come on.


Storyline:
Master Moon yang jago taekwondo mebawa istrinya Yoon dan ketiga anaknya pindah dari Korea ke Thailand. Si sulung Tae-Yang lebih menggandrungi dance, putri tunggal Tae-Mi menguasai high-kick sedangkan si bungsu Tae-Poong adalah jagoan headbutt. Mereka membuka perguruan taekwondo di Bangkok. Suatu hari, kelompok Suk-Doo yang mencuri keris Siam yang legendaris berurusan dengan keluarga yang salah dalam pelarian. Namun selepasnya dari penjara, Suk-Doo bertekad membalas dendam!

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Baa-Ram-Ewe, Bangkok Film Studio dan Kick Company dimana bujet yang digelontorkan adalah 3,5 juta dollar Amerika.

Cast:
K. Kim
Cho Jae-Hyun sebagai Ayah/ Master Moon
Ye Ji-won sebagai Ibu / Yoon
JeeJa Yanin sebagai Wawa
Brahim Achabbakhe
Na Tae-Joo sebagai Tae Yang
Kim Kyong-Suk sebagai Tae Mi

Director:
Prachya Pinkaew baru saja menyelesaikan debut Hollywood nya yaitu Elephant White (2011).

Comment:
Prachya Pinkaew merupakan sutradara kesohor Thailand yang berhasil mengangkat film-film bergenre martial arts ke tingkat yang lebih tinggi, sebut saja Ong Bak (2003) yang kemudian diikuti kedua sekuelnya. Namun ia bukan kacang yang lupa kulit karena seni beladiri Thaiboxing tetap disertakan di samping cabang ilmu lainnya. Persamaan lain adalah tema barang yang dicuri atau diperebutkan oleh beberapa pihak, kali ini adalah Keris.

Yang menarik dalam besutannya kali ini adalah perkawinan antara kultur budaya Thailand dan Korea Selatan, terkadang memang terkesan dipaksakan tetapi setidaknya masih relevan dengan kronologis cerita. Sebuah joint venture yang dapat dikatakan terbagi seimbang. Lihat saja penggunaan Muay Thai dan Taekwondo yang mencolok lengkap dengan kostum nasionalnya masing-masing. Belum lagi gimmick musik Thai pop dan K-pop serta Thai food dan Korean food yang melatarbelakangi berbagai adegannya.
Problem lain yang muncul adalah proses dubbing itu sendiri. Rilis di Thailand, dialog yang melibatkan aktor-aktris Korea terpaksa disulihkan ke bahasa Thailand, begitupun sebaliknya saat rilis di Korea. Untungnya di Indonesia tetap beredar di Blitzmegaplex dengan bahasa asli yang dilengkapi dengan subtitle Indonesia dan Inggris sekaligus. Hal ini mempertahankan keotentikan bahasa masing-masing yang tak jarang terdengar lucu di telinga kita lewat intonasi dan ekspresi pengucapannya.

Beberapa teknik orisinil seperti bertarung di atas gajah atau menggunakan medio kipas angin baling-baling lumayan menyegarkan. Ada juga Kim Kyong Suk yang menampilkan tendangan memutar 360 derajat atau Na Tae Joo yang mengeluarkan jurus-jurus uniknya menggunakan latar belakang musik K-pop! Namun berkelahi menggunakan peralatan dapur dan gurita hidup pada khususnya pernah disaksikan sebelumnya sehingga tidak mengejutkan lagi.
The Kick memang menawarkan adegan aksi yang mengakuisisi plot cerita yang tergolong standar saja. Untungnya masih ada sempilan pesan moral mengenai nilai-nilai keluarga yang diselipkan meski tidak terlalu nyata. Kolaborasi yang menarik ini rasanya tidak menutup kemungkinan akan adanya sekuel di masa mendatang jika sambutannya memuaskan. Aksi komedi yang satu ini tidaklah luar biasa tetapi jelas sebanding dengan waktu luang yang anda sempatkan untuk menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 13 Juni 2011

ELEPHANT WHITE : Misi Balas Dendam Traffickers Bangkok

Storyline:
Di Bangkok, pembunuh bayaran cekatan Curtie Church disewa oleh seorang pebisnis untuk membunuh 6 pria. Setelah tugasnya selesai, pebisnis tersebut menawarkan kontrak lain agar Curtie menghabisi kepala sindikat tersebut yang telah menjebloskan putrinya ke dunia pelacuran dan narkoba sebelum akhirnya tewas. Curtie menghubungi Jimmy untuk memperoleh pasokan senjata berat. Pada saat menuntaskan misinya, Curtie bertemu dengan pelacur muda bernama Mae yang membantunya menyelamatkan gadis-gadis terpenjara itu. Siapa sesungguhnya Mae yang misterius itu?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Millennium Films yang bekerjasama dengan Swingin' Productions.

Cast:
Sempat mendukung serial televisi Black Panther tahun lalu, Djimon Hounsou bermain sebagai Curtie Church
Terakhir tampil sebagai dirinya sendiri dalam serial televisi Bored to Death (2010), Kevin Bacon berperan sebagai Jimmy The Brit
Jirantanin Pitakporntrakul sebagai Mae
Sahajak Boonthanakit sebagai Rajahdon

Director:
Prachya Pinkaew mulai angkat nama setelah menulis, memproduseri sekaligus mengarahkan Ong Bak (2003) yang fenomenal itu.

Comment:
Satu-satunya alasan saya menonton film ini adalah kehadiran Djimon Hounsou yang biasanya bersinar dalam peran pendukung beberapa film ternama. Sedangkan bagi yang lain mungkin menganggap Kevin Bacon, an always decent veteran actor atau Prachya Pinkaew yang sukses menangani film-film martial arts Thailand dan memulai debut Hollywood nya lewat film ini. Sayangnya akhirnya hanya rilis dalam format video saja pada tanggal 17 Mei 2011 yang lalu.
Keputusan direct-to-dvd tersebut memang beralasan. Skrip yang ditulis oleh Kevin Bernhardt itu terlalu banyak mencampur-adukkan ide mulai dari action, drama, relijius, tradisional hingga supernatural yang mengaburkan inti cerita itu sendiri. Tema klise balas dendam yang dibahas di prolog film lenyap begitu saja setelah beberapa menit berlalu dan saya jamin penonton juga akan melupakannya sesegera mungkin.
Pinkaew tergolong masih mampu menghadirkan adegan pertarungan yang keren dan memanjakan mata disini. Tetapi perbedaan nuansa Hollywood dan Thailand tak bisa dipungkiri. Seberapa kerasnya ia berusaha menghadirkan unsur etnik dengan memindahkan lokasi syuting ke Bangkok tidak banyak menolong. Pengarahannya terhadap aktor-aktris yang bermain disini dalam menjiwai karakter masing-masing juga terkesan datar saja.
Hounsou tampak berupaya mengangkat film seorang diri dengan konsep hero yang misterius sekaligus berhati mulia. Lain halnya dengan Bacon yang sedikit memaksakan mengubah aksennya sedemikian rupa sehingga terdengar konyol. Sedangkan Pitakporntrakul menjadi sisi terlemah dalam jajaran castnya dimana tokoh Mae yang sudah “aneh” semakin tak berdaya dengan buruknya akting dan penempatan serba salah di sepanjang scene yang melibatkannya.
Elephant White bisa jadi bermakna Gajah Putih alias Thailand itu sendiri yang juga mengusung spirit Buddhisme disini. Namun gagasan yang biasanya bekerja dengan baik dalam genre horor itu menjadi salah bumbu dalam sebuah film aksi semacam ini. Kegagalan pada nyaris semua departemen film ini tinggal menyisakan fighting scenes yang sebenarnya tidak buruk tapi tidak mampu menyelamatkan 90 menit dalam hidup para penonton yang terbuang sia-sia.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 24 September 2008

CHOCOLATE : Saat Gadis Autis Porak Porandakan Musuh

Storyline:
Yakuza bernama Masashi dan kekasihnya yang asli Thailand, Zin terpaksa berpisah karena Masashi ditugaskan ke Jepang kembali sementara Zin mengandung dan tetap tinggal di negaranya. Sayangnya kelahiran putri mereka, Zen tidaklah sempurna karena menderita autisme. Kekurangan tersebut menjadi kelebihan saat Zen menjadi sensitif panca inderanya dan menguasai berbagai ilmu beladiri termasuk Thai Boxing sebagai dasarnya. Bersama temannya Mang Moom, Zen remaja mulai mengumpulkan uang dari orang-orang yang berhutang pada ibunya yang tengah berjuang melawan kanker. Tugas yang tidak mudah ketika Zen harus menggunakan segenap kemampuannya.

Nice-to-know:
Awalnya beberapa adegan dalam film Jackie Chan dan Bruce Lee ditampilkan sekilas saat Zen menonton televisi. Tetapi akhirnya dihilangkan semua karena masalah lisensi termasuk beberapa scene yang sudah jadi.

Cast:
Yanin Vismitananda sebagai Zen
Hiroshi Abe sebagai Masashi
Pongpat Wachirabunjong sebagai No. 8
Taphon Phopwandee sebagai Mang Moom
Ammara Siripong sebagai Zin

Director:
Dipegang oleh Prachya Pinkaew yang pernah melejitkan Tony Jaa dalam Ong Bak (2003).

Comment:
JeeJa Yanin diganjar nominasi Asian Film Award 2009 lewat kategori Aktris Pendatang Baru Terbaik dan tampaknya pantas saja setelah mempertunjukkan kemampuan beladirinya yang mengagumkan disini. Itulah jualan utama film ini yaitu adegan aksi alias fighting scene di sepanjang durasinya. Bedanya kali ini protagonis wanita yang melakukannya dimana masih sedikit sekali aktris Asia yang mendapat porsi serupa. Sebut beberapa nama di masa silam seperti Michelle Yeoh, Cynthia Khan, Jade Leung dll yang rasanya belum didukung koreografi yang modern. Apalagi ditangani oleh Pinkaew yang sukses dengan Ong Bak yang fenomenal itu. Dari segi plot cerita harus diakui dangkal, bahkan tidak mengharuskan anda berpikir. Cukup duduk tenang menyaksikan aksi maut Yanin menghajar gerombolan lelaki di berbagai setting mulai dari pabrik es batu, rumah penjagalan dsb. Beruntung unsur humanis masih diselipkan dalam plotnya yaitu seorang anak "spesial", kurang secara fisik tetapi memiliki kelebihan tersendiri dalam hal mempelajari martial arts secara otodidak sejak kecil. Chocolate adalah sebuah film aksi Thailand yang akan membuat anda menghela nafas dan membuka mata lebar-lebar dari awal sampai akhir sambil membayangkan Bruce Lee atau Jackie Chan yang melakukannya dalam sosok gadis belia. Menarik bukan?

Durasi:
85 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent