XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label dance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dance. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Agustus 2012

STREET DANCE 2 : Only Interesting Dance Fusion Helps

Quote:
Eva: Dance with your heart, not your head.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi secara kolektif oleh Vertigo Films, BBC Films, British Film Institute (BFI) ini sudah dirilis di Inggris pada tanggal 30 Maret 2012 yang lalu.

Cast:
Falk Hentschel sebagai Ash
Sofia Boutella sebagai Eva
Tom Conti sebagai Manu
George Sampson sebagai Eddie

Director:
Duet Max Giwa dan Dania Pasquini melanjutkan penyutradaraan mereka dalam Street Dance (2010).


W For Words:
Masalah utama yang dihadapi film-film yang mengusung dansa atau tari adalah plot cerita yang lemah. Sudah dibuktikan oleh prekuelnya Street Dance (2010) atau franchise pendahulunya yang jauh lebih populer yaitu Step Up 1-3 (2006-2010). Sebenernya tidak terlalu krusial jika penulis skrip mampu memanfaatkan celah-celah kreatifitas dalam formula standarnya yang tentu saja didukung oleh penceritaan yang inovatif. Bagaimana kinerja Jane English dan Max-Dania sendiri? Apakah cukup solid untuk mengangkat sekuel yang juga dibekali dengan format 3D ini?

Setelah dipermalukan kru “Invicible”, Ash diajak Eddie untuk membalasnya yaitu dengan membentuk grup tari yang orisinil. Keduanya segera melanglang Eropa dan menemukan bakat-bakat baru yaitu Killa, Bam Bam, Terabyte, Ali, Yo Yo, Legend, Tino, Skorpion mulai dari Copenhagen, Amsterdam, Berlin, Prague, Ibiza, Rome, Lyon sampai Pegunungan Alpen. Namun ketika menyaksikan Eva dan Lucien menari Salsa, Ash sepakat menggabungkan jenis tarian baru yang diyakini dapat menandingi “Invicible” di panggung terakhir yang sangat menentukan.

Logika menjadi aspek penting yang diabaikan disini. Tak disinggung bagaimana Ash dan Eddie mencari uang untuk mendanai setiap kegiatan mereka termasuk memberi “makan” para anggota timnya. Kemunculan Eva yang mendadak tak didukung kejelasan latar belakang. Penonton mengetahui bahwa ia gadis baik-baik hanya dari mulut pamannya, Manu yang eksentrik. Padahal di awal terlihat akrab dengan partner tarinya, Lucien yang cuma muncul sekilas. Beragam tokoh multi ras yang masuk dalam kelompok tersebut tidak lantas diberdayakan untuk memperkuat karakteristiknya.

Daya pikat jelas dibebatkan pada duet Hentschel dan Boutella yang menyita mayoritas durasi, bahkan tak menyisakan ruang lagi bagi Sampson yang sebetulnya menjadi penghubung nyawa dengan prekuelnya. Chemistry Ash dan Eva terasa dipaksakan lengkap dengan on/off yang klise dan predictable menjelang akhir cerita. Keduanya memang memiliki “fisik” yang menjual tapi mudah terlupakan begitu film berakhir. Penampilan Conti sudah cukup memikat dengan gaya bicara dan tatap matanya, lihat duel “cabe” nya bersama Hentschel yang lumayan memancing tawa itu.

Sutradara Max-Dania seakan melupakan citarasa British yang kental di film pertamanya. Setting Paris yang disebut sebagai kota cinta itu tak mampu dimaksimalkan sebagai latar belakang geografis yang menarik. Kemonotonan terasa dimana arena tinju menjadi satu-satunya panggung berlatih yang ada atau pertunjukan kemahiran liuk tubuh Boutella yang sangat sensual tersebut. Track-track hip hop dan R&B dengan sedikit banyak sentuhan musik Latin di bawah supervisi Lol Hammond terbukti tetap mampu menjaga ritme tarian yang akan menggetarkan anda.

Tidak banyak yang bisa dibanggakan dari Street Dance 2. Gimmick 3D yang minim bukanlah keunggulannya. Jika Street Dance (2010) mengkombinasikan tari jalanan dengan ballet maka sekuelnya ini memasukkan unsur salsa dan tango yang identik dengan kata panas dan seksi. Kita mungkin tak butuh cerita yang kuat untuk mengcover koreografi dinamik freestyle dancing yang memanjakan mata. Namun tanpa pergeseran konflik dan kekuatan penokohan, sulit bagi penonton untuk menjalin koneksi utuh apalagi lantas ditutup dengan ending yang datar. I found this as entertaining as dance videos, not dance movie itself.

Durasi:
85 menit
U.S. Box Office:
$44,053,042 till July 2012

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 14 Agustus 2011

BEAT THE WORLD : Sekelumit Kisah Di Balik Layar Peserta Kompetisi

Tagline:
They live to dance.. They dance to win!


Storyline:
Yuson tengah mempersiapkan grupnya untuk berkompetisi dalam Beat The World. Sayangnya ia terbentur dengan urusan asmaranya dengan Maya ataupun sahabatnya Easy yang menentang konsep baru kombinasi parkour yang ditawarkan Justin. Di lain tempat, Nina dan Eric yang juga mantan kekasih berseteru untuk mendapat posisi ketua grup. Plus Carlos yang mempertaruhkan sejumlah uang besar untuk bisa ikut serta bersama grupnya para penari Samba di sebuah restoran Brasil. Mereka berkumpul untuk satu tujuan yaitu menjadi juara dunia sekaligus memenangkan hadiah seratus ribu dollar. Siapa yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang?

Nice-to-know:
Film yang juga dikenal dengan judul You Got Served : Beat The World ini langsung masuk pasaran DVD di USA pada tanggal 21 Juni 2011.

Cast:
Tyrone Brown sebagai Yuson
Mishael Morgan sebagai Maya
Ray Johnson sebagai Easy (as Sho-Tyme)
Nikki Grant sebagai Cherry
Chase Armitage sebagai Justin
Christian Loclair sebagai Eric
Kristy Flores sebagai Olivia
Shane Pollard sebagai Carlos
Stephanie Nguyen sebagai Nina

Director:
Merupakan film kedua Robert Adetuyi setelah Turn It Up (2000) yang juga bertemakan musik.

Comment:
Meski tidak bergaung dan rating yang tidak terlalu bagus, film ini tetap menarik perhatian saya untuk membuktikannya sendiri. Apalagi produser Amos Adetuyi menyajikan dance hip hop yang merupakan favorit pribadi untuk bergoyang mengikuti alunan musiknya. Ternyata 90 menit kemudian, ambisi Adetuyi bersaudara memang mengambil alih dan benar-benar mengalahkan dunia dengan minus di semua lini film tanpa kecuali.
Skrip yang ditulis oleh Robert Adetuyi yang juga merangkap sebagai sutradara secara khusus menyoroti 3 grup yaitu Yuson, Eric dan Carlos yang masing-masing berada di Detroit, Berlin dan Rio De Janeiro. Tidak banyak yang bisa diceritakan selain aktifitas berdansa ria dan berlatih sehari-harinya diselingi dengan problematika cinta di antara mereka yang gunanya hanya untuk memperpanjang durasi atau setidaknya mencoba membangkitkan empati penonton.
Sayangnya semua itu tidak berhasil karena para manusia disini adalah penari, bukan aktor ataupun aktris. Dapat dimaklumi jika penjiwaan mereka teramat minim dalam melontarkan dialog-dialog ataupun mengolah bahasa tubuh untuk bisa menyatu dengan plot cerita. Beruntung dalam urusan tari-menari, kesemuanya teramat fasih walaupun koreografi yang disuguhkan tergolong tidak baru lagi kalau mau dikatakan kurang inovatif.
Yuson dan gang jelas mendapat porsi yang paling dominan dalam film ini. Kisah kasih tarik ulur Yuson dan Maya terasa cheesy ditambah dengan kontribusi Cherry dan Eric yang sangat salah itu. Jika harus memihak pada salah satu tokoh disini, saya akan menyebut nama Justin. Entah mengapa Chase Armitage berhasil mencuri perhatian di setiap kemunculannya dengan parkour style dan gaya ngocolnya yang asyik itu. Malangnya ia tidak berkesempatan menjadi spotlight kali ini.
Kompetisi 25 menit disusul dengan final showdown selama 10 menit dalam kompetisi akbar yang menjadi tujuan akhir kesemua karakter disini justru terkesan antiklimaks. Tidak ada yang wah dalam pergerakan mereka ataupun penggunaan atribut yang mendukung untuk itu. Penetapan pemenang juga terasa tidak realistis karena tidak ada team yang terlalu menonjol. Coba anda bayangkan jika tambahan aksi parkour bisa menjadi nilai plus di mata juri? Hm, rasanya tidak seistimewa itu.
Beat The World adalah sebuah proyek ambisius yang tidak bergigi. Jangan bandingkan dengan Step Up dari Amerika ataupun Street Dance dari Inggris yang sudah lebih dulu rilis karena produksi Kanada ini terbukti kalah segala-galanya. Seandainya saja para penari disini mempertunjukkan kemampuan tarinya masing-masing dalam video klip berdurasi singkat (as you often see in Youtube) dan dikompilasi ke dalam sebuah film, mungkin saja hasilnya jauh lebih baik dan enjoyable.

Durasi:
85 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Minggu, 17 Oktober 2010

STEP UP 3D : Perebutan Uang dan Gengsi Kompetisi Tarian Dunia

Quotes:
Luke-What is it that you love about dance?
Natalie-Everything you need to know is in my dancing.
Luke-Everything?

Storyline:
Masuk ke universitas baru tidak membuat persahabatan Moose dan Camille putus. Mereka tetap akrab satu sama lain hingga Moose tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya untuk tetap menari. Di sebuah taman umum, ia berkenalan dengan Luke yang membawanya ke gedung tua basis perkumpulan para penari hip-hop yang dinamakan The Vault. Luke bukannya tanpa niat karena tunggakan sewa gedung tersebut sudah 5 bulan tidak dibayar. Dan satu-satunya cara melunasinya adalah dengan memenangkan kompetisi dansa hip-hop dunia yang akan segera berlangsung. Di sisi lain, Luke juga harus berurusan dengan mantan partner dansanya, Julian yang sudah bergabung dengan Samurai, rival berat Pirates. Siapa yang akan keluar sebagai juara pada final World Jam tersebut?

Nice-to-know:
Adam G. Sevani dan Alyson Stoner sudah pernah bekerjasama sebelumnya dalam beberapa iklan 'JC Penney', video klip Missy Elliott dan rekaman Youtube mereka yang berjudul "Thriller" Remix.

Cast:
Sebelumnya mendapat peran kecil dalam Surrogates (2009) nya Bruce Willis, Rick Malambri bermain sebagai Luke, pentolan grup penari hip-hop Pirates.
Adam G. Sevani sebagai Moose
Sharni Vinson sebagai Natalie
Alyson Stoner sebagai Camille
Joe Slaughter sebagai Julien

Director:
Pria kelahiran Palo Alto pada 2 November 1979 bernama Jon M Chu ini masih melanjutkan Step Up 2 : The Streets (2008) yang juga ditanganinya.

Comment:
Sudah terbukti sebelumnya bahwa dalam film-film yang menonjolkan tarian, cerita bukanlah yang utama. Dan hal tersebut diulangi lagi disini. Plot ceritanya seperti ditulis dalam waktu 15 menit saja oleh duet penulis Amy Andelson dan Emily Meyer sehingga menghasilkan storyline yang klise.
Belum ditambah kinerja Duane Adler dalam menyusun dialog para karakternya yang benar-benar terasa easy dan cheesy. Kedua hal itu tidak dipungkiri sangat mempengaruhi akting para pemainnya. Di luar fakta bahwa nyaris semua aktor-aktrisnya adalah dancer, keempat tokoh utama mendapatkan porsi yang cukup dominan. Sevani sebagai Moose harus diakui lebih berkarakter dibandingkan Malambri sebagai Luke. Sevani seakan dihadapkan pada dua pilihan, studi atau tari dan chemistrynya dengan Stoner terkesan lebih jujur. Sayangnya fokus cerita lebih terarah pada pasangan Malambri dan Vinson yang tidak jauh beda dengan apa yang disuguhkan film-film sejenis sebelumnya.
Di samping empat nama di atas, para dancer asli itu menjalankan tugasnya dengan baik. Termasuk si kembar Santiago yaitu Martin dan Facundo Lombard serta Chadd Smith sebagai Robot Dance Vlad yang cukup mencuri perhatian.
Beruntung sutradara Chu tidak berlama-lama dalam bercerita, melainkan tetap berpusat pada konsep utama dalam melahirkan suatu tontonan tari hiphop yang koreografinya fresh dengan track-track R&B andalan dari nama-nama seperti Flo Rida, T-Pain, Mims, Busta Rhymes dll yang ear-catchy itu. Dalam hal ini Chu menyiasatinya dengan mempercepat tempo dan memaksimalkan unsur 3D yang sejak semula dibebatkannya. Nice work! Lihat openingnya saat Sevani menyuguhkan tarian pembuka di taman hiburan. Atau gelembung-gelembung sabun yang berwarna-warni saat Malambri dan Vinson bermain bersama. Atau warna-warni kostum The Pirates di tarian pamungkas. Semua itu menjadikan Step Up 3D tersaji dalam tarian berenergi tinggi yang dikombinasikan dengan permainan kamera yang inovatif. Layak tonton terutama anda yang sudah mengikuti dua prekuelnya. Nilai 7.5 untuk 2D dan 8 untuk 3D nya!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$42,240,870 till mid Oct 2010

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 28 Februari 2009

MAKE IT HAPPEN : Impian Dunia Tari Gadis Muda Berbakat

Quotes:
Carmen-Maybe he was upset cos you were so bad.
Brooke-Ease off Carmen, she was killing it.

Cerita:
Berambisi masuk Chicago School of Music and Dance yang prestisius, Lauryn pindah dari kampung halamannya di Indiana meninggalkan kakak kandungnya Joel yang mewarisi bengkel mendiang ayahnya. Dengan optimis, ia hanya menerima penolakan pada akhirnya dari tim juri. Kesialan berbuntut panjang saat mobilnya diderek saat menikmati snack di cafe. Beruntung seorang pelayan Dana menawarkannya pekerjaan pembukuan di sebuah klub tari hiburan ternama di kota itu, Ruby's. Mencoba mengubah mimpinya menjadi realistis, Lauryn mencoba peruntungannya menjadi penari di klub tersebut yang membawanya bertemu dengan Russ, seorang komposer cool. Berakhirkah mimpi Lauryn yang telah dibawanya sejak kecil untuk merintis karier menjadi seorang penari yang diakui sekaligus mendapat beasiswa pendidikan sebagai langkah awal?

Gambar:
Koreografi tari yang menarik untuk disaksikan dibumbui potret suasana kehidupan penari penghibur klab malam masa kini.

Act:
Tampil terakhir sebagai putri Bruce Willis dalam Die Hard 4.0, Mary Elizabeth Winstead kebagian peran utama sebagai Lauryn yang mengharuskannya terlihat luwes dan atraktif dalam menari. Tantangan yang saya pikir cukup berhasil dilakoninya.
Didukung pula oleh beberapa pemain yang belum punya nama seperti Tessa Thompson sebagai Dana, Riley Smith sebagai Russ, John Reardon sebagai Joel, Julissa Bermudez sebagai Carmen dan Karen LeBlanc sebagai Brenda.

Sutradara:
Memulai karier sebagai sutradara video klip, citra yang sama masih diperlihatkan Darren Grant dalam Make It Happen. Hanya saja unsur drama sekaligus tari ini bisa dijalaninya dengan seimbang tanpa kehilangan esensi di dalamnya.

Soundtrack:
"Teach Me How To Dance" by Che'Nelle
"Shawty Get Loose" by Lil Mama feat Chris Brown
"Love Ya" by Unkle Jam
"Bottoms Up" by Keke Palmer
"Beware of the Dog" by Jamelia
"Push It" by Salt 'n Pepa
"Just Dance" by Lady GaGa feat Colby O'Donis

Komentar:
Menyaksikan film ini mungkin akan membuat anda teringat pada tema cerita Coyote Ugly (2000). Walau tidak persis sama, Make It Happen terlihat mencoba variasi baru dalam genre dance teen movie. Walau tergolong mudah diterka dari awal sampai akhir, film yang ringan ini tetap menarik untuk disaksikan terutama oleh kaum remaja. Buat anda yang pernah menyukai Save The Last Dance atau Step Up, boleh jadi ini pilihan yang tepat untuk anda mengisi waktu luang apalagi ditambah dengan kecantikan dan keseksian WInstead yang didukung dengan gerak dan harmoni yang enerjik.

Durasi:
80 menit

U.K. Box-Office:
£1,147,470 (UK) till August 2008

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!