XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label milla jovovich. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label milla jovovich. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

RESIDENT EVIL : RETRIBUTION Mixed Repetition About Alice’s World

Tagline:
Evil goes global.

Nice-to-know:
Jensen Ackles sempat dipertimbangkan untuk mengisi peran Leon S. Kennedy sebelum jatuh ke tangan Johann Urb.

Cast:
Milla Jovovich sebagai Alice
Sienna Guillory sebagai Jill Valentine
Michelle Rodriguez sebagai Rain
Aryana Engineer sebagai Becky
Li Bingbing sebagai Ada Wong
Boris Kodjoe sebagai Luther West
Johann Urb sebagai Leon S. Kennedy
Kevin Durand sebagai Barry Burton



Director:
Merupakan feature film kesepuluh bagi Paul W.S. Anderson setelah remake The Three Musketeers (2011).

W For Words:
Tepat satu dasawarsa lalu, Resident Evil (2002) yang merupakan adaptasi game populer diluncurkan ke pasaran film internasional dan menuai sukses dengan mengumpulkan lebih dari 100 juta dollar di seluruh dunia. Kini sang kreator, Paul W.S. Anderson sudah sampai pada installment kelimanya masih dengan pembahasan Umbrella Corporation dan T-Virus yang menjadi pemicu “kiamat” ini. Pertanyaannya, “Masihkah franchise ini memiliki daya pikat setelah formula bakunya digunakan berulang-ulang?” Again and again and again and again and again. Did i say “again” 5 times already?

Alice terbangun dari tidurnya, mendapati suaminya Carlos akan berangkat kerja dan putrinya Becky akan pergi sekolah. Pagi yang sempurna itu dalam seketika dikacaukan oleh kawanan zombie yang menyerbu masuk rumah mereka. Alice melakukan perlawanan sebelum akhirnya terbangun kembali di dalam ruang tahanan tanpa baju dan senjata. Tak diduga, Ada Wong membantunya melarikan diri dan bersama dengan Luther West, Leon S. Kennedy, Barry Burton mereka melakukan perlawanan terakhir sebelum populasi bumi benar-benar hancur.

Rentang waktu yang digunakan Paul W.S. Anderson disini tidaklah linier. Alice di masa depan dapat bercampur baur dengan Alice di masa lampau, atau justru masa sekarang? Untuk itu tidak perlu heran jika karakter-karakter yang sempat hilang atau sudah tewas di seri-seri terdahulunya bisa muncul kembali, sebut saja Jill Valentine (RE dan RE3), Ada Wong ( RE2 dan RE4) dan Rain (RE) dan juga Albert Wasker (RE5), Leon. S Kennedy (RE2 dan RE4), Carlos Olivera (RE2 dan RE3). Fungsi mereka mungkin hanya sebagai pendamping Alice sehingga tidak terkesan berjuang sendirian di atas kemustahilan.

Milla Jovovich masih tampil dalam kostum kulit ketat berwarna hitam dengan perlengkapan senjata andalannya. Jika biasanya ia menghadapi undead dog maka kali ini monster yang ditawarkan adalah gynormos dan The Axe Man di samping lawan manusia seperti Jill dan Rain atau setengah manusia macam zombie di bagian pembuka. Sayangnya aksi-aksi tersebut sudah pernah kita saksikan sebelumnya mulai dari peluru berhamburan, pisau berterbangan, salto, back flip dsb. Pertarungan pamungkasnya di atas lapisan es pun tak lagi istimewa, lengkap dengan slow motion disana-sini. 
Li Bingbing jelas merupakan salah satu daya tarik bagi penonton Asia. Tokoh Ada Wong di tangannya cukup mencuri perhatian karena kecantikan dan keahliannya. Maafkan kekakuannya dalam berakting yang sedikit terobati dengan kefasihan bahasa Inggris yang sudah cukup terasah. Sinematografi Paul memang masih bersahabat sehingga mudah dinikmati, terlepas dari fakta bahwa efek 3D nya tidak sebaik RE: Afterlife (2010). Jika demikian, maka anda tidak perlu memaksakan diri menyaksikannya dalam format IMAX 3D. It wasn’t that outstanding, regular 3D is more than enough.

Resident Evil : Retribution adalah repetisi tambal sulam dari keempat seri sebelumnya tanpa plot cerita eksis yang berupaya menjelaskan segalanya. Jika anda seperti saya yang sudah telanjur mengikuti Resident Evil series terlepas dari mutu yang semakin hancur bukan karena T-virus ini maka bersiaplah menyongsong The Last Stand sebagai perhentian terakhir nanti. Buang jauh-jauh nalar anda jika ingin (setidaknya) menikmati jibaku seorang Alice dimana Paul W.S. Anderson tahu betul bagaimana memaksimalkan Milla Jovovich sebagai daya tarik utama franchise ini. Hell yes, this is her world, not ours!

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 21 November 2011

FACES IN THE CROWD : Trauma Pengenalan Wajah Pembunuh Serial

Tagline:
She saw the killer's face, but it keeps changing...


Storyline:
Guru SD, Anna Marchant tinggal bersama kekasihnya, Bryce di sebuah apartemen nyaman. Saat sedang pulang minum-minum dengan dua sahabat karibnya Francine dan Nina, Anna tanpa sengaja memergoki seorang pembunuh serial Tearful Jack tengah menghabisi korbannya. SIalnya Anna yang menjadi target serangan Jack terjatuh dari dermaga dan mengalami shock ringan. Akibat paling fatal adalah ia mengalami symptom gangguan pengenalan wajah seseorang. Suatu hal yang beresiko dimana sang pembunuh masih ada di luar sana dan mungkin mengancam nyawanya sebagai saksi hidup!

Nice-to-know:
Diproduksi dengan bujet 15 juta dollar dan edar di Indonesia lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex.

Cast:
Baru saja muncul dalam film remake arahan suaminya yaitu The Three Musketeers, Milla Jovovich berperan sebagai Anna Marchant
Terakhir mendukung RED (2010), Julian McMahon bermain sebagai Sam Kerrest
Michael Shanks sebagai Bryce
Sarah Wayne Callies sebagai Francine
Marianne Faithfull sebagai Dr. Langenkamp

Director:
Feature film kedua bagi Julien Magnat setelah Bloody Mallory (2002).

Comment:
Saya harus akui skrip yang dikembangkan oleh Julien Magnat dan Kelly Smith ini memiliki premis yang brilian. Sebab belum banyak orang yang tahu mengenai Prosopagnosia yaitu kesulitan mengenali wajah seseorang karena terjadinya gangguan stimulus pada otak. Lantas yang ada dalam benak saya adalah sebuah thriller cerdas dengan banyak tikungan disana-sini sebelum ditutup dengan twist yang sulit diduga. Benarkah begitu?
Permasalahannya adalah eksekusi sang sutradara Magnat terasa begitu menyiksa. Openingnya cukup menjanjikan, kemudian diseret sedemikian rupa dengan berbagai subplot tambahan dan eksploitasi karakter pendukung yang tidak perlu. Terlebih satu karakter bisa memiliki seribu wajah yang diblurkan layaknya potongan-potongan hologram. Anda tidak perlu sulit mencari bukti, tinggal lihat section cast dimana terdapat Nina 1, Nina 2, Bryce 1, Bryce 2, Bryce 3, dst. Siap-siaplah untuk bingung!
Jovovich adalah salah satu jaminan nama yang dianggap mampu mengangkat film ini. Terbukti tokoh Anna di tangannya cukup meyakinkan dimana ketakutan, sikap paranoid, kebingungan terpancar jelas dari bahasa tubuhnya. Begitu pula dengan McMahon yang meski tidak luar biasa tetapi lumayan menjiwai peranan detektif dengan baik. Hanya saja menurut hemat saya, ide untuk menyelipkan “sesuatu” di antara keduanya justru sedikit memperlemah kekuatan cerita.

Menilik plot yang diusungnya, rasanya memang lebih cocok sebagai sebuah novel fiksi thriller dimana segala intrik yang terdapat di dalamnya lebih bisa bermain dengan imajinasi pembaca. Coba bandingkan jika dieksekusi ke film, sulit menempatkan posisi seseorang dalam banyak wajah sehingga cenderung membingungkan. Alih-alih membangun suspense, penonton keburu kesal karena kesulitan mengikuti pola pikir “njelimet” sang filmmaker.
Faces In The Crowd sebetulnya berpotensi menjadi sebuah thriller tingkat tinggi jika skripnya digarap dengan baik dan disutradarai secara lebih maksimal. Akhirnya predikat “direct-to-dvd” menjadi tidak terhindarkan karena mayoritas unsur medioker di dalamnya. Endingnya sendiri tidaklah seburuk itu karena logika penonton masih coba dipermainkan dengan flashback maju mundur demi penyelesaian teka-teki yang ditunggu-tunggu. Film ini hanya diperuntukkan bagi anda yang suka menerka serta menyukai Milla.

Durasi:
97 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 23 Oktober 2011

THE THREE MUSKETEERS : Aksi Bersekutu Mencegah Pecahnya Eropa

Quotes:
Porthos: There were four of us, against forty of them.


Storyline:
D'Artagnan muda bersama dengan tiga pendekar legendaris yaitu Athos si ahli meloloskan diri, Porthos si jago tarung dan Aramis si master siasat harus menggagalkan upaya berkobarnya perang di Eropa terutama antara Perancis dan Inggris. Si pencuri cantik Milady de Winter yang berniat mencuri kalung berlian, si gila kuasa Duke of Buckingham, si jahat Cardinal Richlieu dan tangan kanannya, Rochefort siap menggagalkan D’Artagnan dan The Three Musketeers dengan berbagai cara dan intrik yang teramat picik dalam petualangan seru.

Nice-to-know:
Christoph Waltz memiliki tanggal lahir yang sama yaitu 4 Oktober dengan Charlton Heston yang memainkan Richelieu di The Three Musketeers/The Four Musketeers.

Cast:
Tahun lalu tampil dalam Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief, Logan Lerman kali ini kebagian tokoh D'Artagnan
Matthew Macfadyen sebagai Athos
Milla Jovovich sebagai Milady de Winter
Luke Evans sebagai Aramis
Ray Stevenson sebagai Porthos
Til Schweiger sebagai Cagliostro
Mads Mikkelsen sebagai Rochefort
Christoph Waltz sebagai Richelieu
Orlando Bloom sebagai Duke of Buckingham

Director:
Pernah menangani Milla Jovovich sebelumnya dalam Resident Evil (2002), Paul W.S. Anderson menggarap film layar lebar ke-9 nya kali ini.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal novel klasik “Les Trois Mousquetaires” karya Alexandre Dumas père yang mendunia dan sudah diterjemahkan dalam puluhan bahasa itu? Bisa jadi sebagian dari anda yang masih berusia muda yang menjawab tidak. Tidak terlambat untuk mencari referensi sekarang karena sifatnya yang timeless itu. Filmnya pun sudah diremake berkali-kali mulai dari versi tahun 1935 yang dibintangi oleh Walter Abel dan Ian Keith hingga yang terbaru di abad 21 ini.
Duet penulis Alex Litvak dan Andrew Davies memang berusaha setia dengan naskah originalnya. Apalagi Glen MacPherson berhasil menyuguhkan sinematografi yang memikat dengan lokasi-lokasi pilihan yang amat memanjakan mata. Sayangnya sutradara Anderson terlalu banyak memasukkan unsur modern terutama untuk adegan aksinya yang banyak mencomot ide-ide dari film-film memorable yang terkadang tidak pada tempatnya. Berusaha meremajakan? Bukan begitu caranya!

Sebut saja karakter Millady yang terkesan over-the-top dalam film. Tidak mengherankan melihat fakta Jovovich adalah istri dari sang sutradara! Setidaknya ada 3 adegan yang paling mencolok. Lihat bagaimana ia meloloskan diri dari dinding berpeluru di ruang bawah tanah dan menerobos laser mematikan saat mencuri kalung berlian. Familiar dengan Resident Evil? Atau saat ia mengenakan baju minim menuruni istana dengan tali. Ingat Mission Impossible? Meski demikian harus diakui Jovovich memang tampil cantik disini dengan kostum klasik menawan.
Lerman yang masih berpenampilan ‘boyish’ justru tampil cemerlang. Karakter d’Artagnan muda di tangannya justru terasa dinamis dan bersemangat. Aksi memainkan pedangnya juga lumayan. Di luar dugaan, tiga pendekar yang harusnya menjadi sentral cerita malah terpinggirkan. Meski demikian Macfadyen, Stevenson dan Evans lumayan menjiwai Athos, Portos, Aramis dengan karakteristik unik masing-masing. Menyenangkan melihat Bloom bermain santai sebagai Duke of Buckingham.

Semua adegan aksinya memang memenuhi standar film hiburan berbujet besar. Adu siasat, perebutan harta, alih kekuasaan mewarnai pertentangan dua kubu. Paling menghibur adalah pertempuran dua kapal udara di angkasa mulai dari adu meriam sampai tumpang tindih, terlepas dari kemudahan membangun kapal sedemikian megah hanya dalam kejapan mata. Duel pedang di atap antara D’Artagnan dan Rochefort juga memikat, terlebih dilakukan sendiri oleh mereka!
The Three Musketeers adalah sebuah remake yang menghibur walaupun dikotori oleh modernisasi yang tidak perlu dan tak jarang berlebihan. Entah mengapa elemen komedi yang disisipkan malah membuat saya merasa film ini lebih ke arah parodi. Bagi penonton yang sudah mengenal kiprah tiga pendekar ini bisa jadi mempertanyakan motif produser melakukan remake. Sedangkan bagi penonton yang belum, mungkin akan puas dengan full entertainment yang dibalut 3D. Possibly a sequel in the future for united. One for all, all for one...

Durasi:
113 menit

Europe Box Office:
€9,599,925 in Germany till Okt 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Senin, 11 April 2011

A PERFECT GETAWAY : Liburan Bulan Madu Intai Psikopat

Quotes:
Cydney: Well, um... how close is it?
Nick: It's like everything else in Hawaii, as close as far away gets.

Storyline:
Cliff dan Cydney sepakat menghabiskan bulan madu mereka di pulau tropis Hawaii. Selama menjelajahi daerah sekitar, mereka bertemu dua pasangan lainnya masing-masing Kale-Cleo dan Nick-Gina. Air terjun dan pegunungan yang curam memang indah tetapi menyimpan misteri tersendiri saat dikabarkan ada pembunuh berantai yang sering menghabisi para turis. Ciri-ciri yang tercantum pada informasi di internet mengarah pada salah satu anggota grup tersebut. Berhasilkah mereka keluar hidup-hidup dari liburan impian itu.

Nice-to-know:
Sutradara Twohy sempat berdebat dengan studio untuk membiarkan film berjalan dengan rating R daripada versi PG-13.

Cast:
Film layar lebar pertama Steve Zahn adalah Rain Without Thunder (1992). Disini ia bermain sebagai Cliff Anderson
Menjadi aktor pertama kali dalam serial televisi Mr. & Mrs. Smith (1996), Timothy Olyphant kali ini berperan sebagai Nick
Milla Jovovich sebagai Cydney Anderson
Kiele Sanchez sebagai Gina
Marley Shelton sebagai Cleo
Chris Hemsworth sebagai Kale

Director:
David Twohy pernah mengarahkan Pitch Black (2000) yang diikuti sekuelnya The Chronicles of Riddick (2004).

Comment:
Sebuah thriller rasanya tidak lengkap jika tidak ditunjang oleh twist yang menggigit. Tentunya kita sebagai penonton akan merasa senang jika dibiarkan menebak-nebak sepanjang durasi dan saya katakan bahwa film ini cukup berhasil melakukannya. Padahal premisnya sendiri terlihat biasa-biasa saja alias tidak jauh berbeda dengan ratusan judul-judul sejenis yang sudah muncul lebih dulu.
Sutradara Twohy berhasil memanfaatkan setting Hawaii sebagai panggung yang sempurna bagi liburan indah sekaligus terasing dari peradaban. Bagaimana lembah, pegunungan, pantai, hutan, karang, pasir teramat eye-catching seakan mengundang siapapun untuk memanfaatkannya, untuk tujuan baik ataupun mungkin buruk.







Sinematografi yang demikian sempurna itu tidak diimbangi oleh tempo yang naik turun. Sejam pertama boleh dibilang semacam eksplorasi area dan juga pengenalan para karakternya. Hal ini memang terasa lambat dan sedikit membosankan. Namun penantian itu lumayan terbayar pada setengah jam terakhir dimana tensi semakin meningkat dan ditutup oleh klimaks berdarah yang mendebarkan.
Secara khusus saya memuji penampilan Zahn disini. Transformasi karakternya terjaga dengan baik. Sedangkan Jovovich, Olyphant, Sanchez melakukan usaha terbaiknya masing-masing. Memang tidak ada pendalaman karakter disini karena yang disuguhkan hanyalah identitas belaka dan aktifitas keseharian mereka. Beberapa aktor-aktris lainnya malah terkesan hanya mumpang lewat.
A Perfect Getaway memang berharga dinilai dari twist cerdas yang berusaha disuguhkan. Jangan salahkan penulis/sutradara yang dianggap berusaha membohongi audiens dengan usaha. Jika memiliki waktu luang, cobalah menyaksikan sekali lagi dari sudut pandang yang berbeda, mungkin anda akan berpendapat lain dan bisa jadi semakin mengagumi kinerja Twohy kali ini.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$15,483,540 till Sept 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 25 September 2010

RESIDENT EVIL : AFTERLIFE Perjalanan "Kompleks" Pencarian Arcadia

Quotes:
Alice-My name is Alice. I had worked for the Umbrella Corporation. Five years ago, the T-Virus escaped, and everybody died. Trouble was... they didn't stay dead.

Storyline:
Ketika seluruh dunia sudah terinfeksi virus mematikan akibat ulah Umbrella Corporation, Alice melanjutkan perjalanannya untuk mencari sesamanya yang masih bertahan hidup sekaligus menempatkan mereka semua ke tempat teraman. Dan tanpa diduga, Alice berjumpa Claire yang disangkanya sudah tiada. Mereka berdua tiba di Los Angeles dan bertemu dengan beberapa orang yang selamat yaitu Luther dkk dan tawanan mereka, Chris yang misterius. Gerombolan baru ini akhirnya sepakat menerobos kawanan zombie dan bertekad menemukan suatu tempat bernama Arcadia. Berhasilkah mereka?

Nice-to-know:
Subjudul Afterlife sempat dipertimbangkan untuk dipakai pada seri ketiganya sebelum diputuskan Extinction.

Cast:
Setelah Extinction, Milla Jovovich sempat membintangi 2 film di tahun 2009 yaitu A Perfect Gateway dan The Fourth Kind sebelum kembali dalam peran Alice.
Ali Larter sebagai Claire Redfield
Wentworth Miller sebagai Chris Redfield
Kim Coates sebagai Bennett
Shawn Roberts sebagai Albert Wesker
Sergio Peris-Mencheta sebagai Angel
Spencer Locke sebagai K-Mart
Boris Kodjoe sebagai Luther

Director:
Nama Paul W.S. Anderson mulai dikenal setelah mengadaptasi game ternama Mortal Kombat ke dalam film layar lebar di tahun 1995.

Comment:
My name is Alice.. Kalimat opening yang sudah berulang kali didengungkan dan ingatan saya langsung melayang pada ketiga prekuelnya sekaligus membuat saya berpikir apa saja yang akan ditawarkan di episode keempat kali ini. Dan dugaan tersebut tidak salah, Afterlife kembali mengulang plot yang sama dengan setting yang berbeda. Beberapa adegan pada opening bahkan mengingatkan kita pada I Am Legend dimana Will Smith mendengar broadcast news akan suatu tempat evakuasi yang aman dan berusaha mencarinya dengan harapan menemukan sesama manusia yang masih hidup. Memasuki pertengahan barulah interaksi Alice dengan Claire ataupun Luther cs menjadi suguhan yang menyenangkan. Tentu saja harus ada korban baru yang berjatuhan bukan? Munculnya zombie jenis baru dengan monster dari dalam mulut turut memperkaya khasanah sekuel ketiganya ini.
Entah usaha menarik minat pasar Asia disengaja atau tidak tetapi prolog yang mengisahkan branch Umbrella Corporation yang bersetting di Tokyo terasa sedikit dipaksakan apalagi kemudian muncul beberapa nama ternama dari sana termasuk biduanita Mika Nakashima. Pada scene ini, aksi Alice-Alice sangatlah over the top dan menurut saya akan menjadi bagian favorit para fans RE.
Overall, Resident Evil : Afterlife samasekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Masih dibungkus dengan cerita yang dangkal dan tidak eksis tetapi tetap dibekali dengan visualisasi yang menakjubkan, lebih karena ditambahkan elemen 3D di dalamnya. Ini adalah sekadar hiburan belaka bagi para pecinta franchise RE tetapi tidak untuk saya. Open ending juga menyiratkan akan ada terusannya lagi dan lagi. Sangat melelahkan membayangkannya..

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$43,893,958 till mid Sept 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Selasa, 12 Januari 2010

THE FOURTH KIND : Fakta Penyusupan Alien Dalam Tubuh Manusia?

Tagline:
There are four kinds of alien encounters. The fourth kind is abduction.


Storyline:
Pada tahun 1972, diberikan skala pengukuran kedatangan alien di muka bumi. Saat UFO terlihat, itulah perjumpaan pertama. Bukti-bukti terkumpul adalah perjumpaan kedua. Saat ada kontak itulah perjumpaan ketiga. Lalu yang keempat adalah ketika alien mengambil alih tubuh manusia! Seperti halnya yang terjadi di Nome, kota kecil di Alaska yang dilaporkan paling banyak angka orang menghilang sejak tahun 1960an. Tertarik dengan fakta itu, psikolog Dr. Abigail Tyler memulai sesi videotape dengan koleganya Dr. Abel Campos yang mengalami trauma paska meninggalnya Will, suaminya yang dicurigai dirasuki alien. Pada akhirnya Dr. Abigail menemukan kejanggalan-kejanggalan yang sulit dijelaskan logika pada dokumentasi tersebut.

Nice-to-know:
Syuting dilakukan di Kanada, Bulgaria dan USA. Presiden Kawerak Inc yang mewakili komunitas Alaska, Melanie Edwards mendefinisikan film ini sebagai tidak sensitif terhadap keluarga yang anggotanya turut menghilang di Nome selama bertahun-tahun.


Cast:

Memulai karir akting lewat film Two Moon Junction (1988), Milla Jovovich disini bermain sebagai Abbey Tyler yang superstitius dan mempunyai rasa keingintahuan yang besar.

Will Patton
sebagai Sheriff August

Elias Koteas sebagai Abel Campos


Director:

Nama pria berkulit hitam ini memang unik yaitu Olatunde Osunsanmi. Sebelumnya pernah menangani Etat (2000).


Comment:
Tampaknya menjadi trend sendiri di akhir tahun bagi jaringan Blitzmegaplex untuk memutar film-film bujet kecil Hollywood yang lebih dikategorikan sebagai indie movies. Terakhir kita lihat Paranormal Activity yang sukses menakutkan itu dan kali ini disuguhkan plot cerita yang juga diangkat dari kisah nyata, hanya saja bukan hantu-hantuan tetapi alien. Trailer film ini boleh dibilang menjanjikan karena mampu membangun kengerian. Namun apa yang disuguhkan sesungguhnya jauh dari itu. Sejak menit-menit awal, penonton dipaksakan untuk percaya bahwa alien itu ada (walau sesungguhnya memang ada?! dengan berbagai teori klise yang tidak didukung oleh fakta yang cukup kuat. Alhasil sepanjang film, kita terasa dibodohi dengan penyusupan alien ke tubuh manusia, teknik hypnosis untuk mengembalikan ingatan dan konsep UFO yang sebetulnya sudah sangat lawas. Gaya bercerita dengan narasi malah semakin membingungkan batasan antara tokoh nyata itu sendiri. Cast dan sutradaranya juga tidak membantu samasekali sehingga The Fourth Kind terasa mentah, sama halnya dengan keberadaan Abigail Tyler yang tidak real di dunia nyata lewat pembuktian apapun. Kampanye marketing yang jelas menipu calon konsumennya!

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$25,360,255 till Dec 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!