XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label jeff bridges. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jeff bridges. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

R.I.P.D. : Restless Cops Keeping Peace Tryouts

Quote:
Roy Pulsipher: Damn. I don't know what eyes to shoot you between.

Nice-to-know:
Di Amerika Serikat dan negara lainnya, film ini dirilis pada tanggal yang sama dengan Red 2, sekuel Red yang ditangani Robert Schwentke dengan bintang Mary-Louise Parker. Juga dua hari setelah Turbo yang disulihsuarakan oleh Ryan Reynolds.

Cast:
Jeff Bridges sebagai Roy
Ryan Reynolds sebagai Nick
Kevin Bacon sebagai Hayes
Mary-Louise Parker sebagai Proctor
Stephanie Szostak sebagai Julia
James Hong sebagai Nick's Avatar
Marisa Miller sebagai
Roy's Avatar

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Robert Schwentke setelah RED (2010).

W For Words:
Buddy cop movies mungkin sudah biasa dalam persepsi anda. Bagaimana jika mereka hantu? I bet most of you might think for hours to recall similar themes you’ve seen before. Got it? No? Okay forgiven! Dead Heat di tahun 1988 dimana sutradara Mark Goldblatt memasangkan Treat Williams dan Joe Piscopo adalah satu dari sedikit judul di antaranya. Entah mengapa saya sendiri justru langsung teringat akan franchise Ghostbusters yang sudah menjadi teman setia sepulang sekolah dulu. Yes, I’m 80’s generation. Proud and will always be.

Bertekad menyerahkan emas temuan saat menggerebek sarang kriminal, polisi jujur Nick malah terbunuh dalam tugas. Rohnya sampai di hadapan Proctor yang menawarkannya sebuah posisi di Departemen Rest In Peace dimana pemberantas kejahatan yang telah meninggal bekerja menjaga perdamaian di muka bumi dari ancaman monster. Nick yang tidak memiliki pilihan kemudian dipasangkan dengan Roy, petugas senior nan eksentrik yang selalu punya cara sendiri. Kerjasama unik pun terjalin dimana Nick malah mendapat kesempatan untuk mencari pembunuhnya.
Adaptasi komik serial Dark Horse milik Peter M. Lenkov ini ditranskripsi oleh Phil Hay dan Matt Manfredi ke dalam bentuk skenario. Benang merah yang digunakan memang nyaris serupa dengan trilogy Men In Black (1997-2012) dimana ketidakcocokan Nick dan Roy dieksploitasi sedemikian rupa di awal cerita. Ide yang cukup orisinil adalah wujud asli dunia nyata Nick dan Roy yang begitu kontradiktif meski terkadang physical jokes yang repetitif ini tak jarang mengganggu. Sedangkan kelemahan yang paling mendasar adalah tidak adanya perbedaan prosedural ‘above universe’ yang semestinya bisa digali lebih jauh lagi.

Aktor aktris yang terlibat di sini sudah mengalami limitasi karakter sehingga terasa begitu satu dimensi. Humor yang dilontarkan terbilang hit and miss, sebagian besar terlalu karikatural. Bridges masih mengandalkan gaya lawasnya lengkap dengan suara sengau dan sorot mata tajamnya. Reynolds berupaya semaksimal mungkin menampilkan perjalanan emosi dari hidup hingga mati. Chemistry keduanya tergolong asyik terlepas dari keterbatasan di sana-sini. Parker juga masih mencuri perhatian dalam kerjasama keduanya berturut-turut dengan sang sutradara.
Overall, Sutradara Schwentke berupaya mengalihkan perhatian penonton dari faktor skrip yang kurang solid dengan memfokuskan diri pada dynamic duo Bridges-Reynolds dan sekuens aksi cepat dari satu titik ke titik lain. Sayangnya benang merah film tak dipungkiri memang membutuhkan polesan CGI yang mumpuni. Aspek lain lagi yang juga gagal ditampilkan karena teknologi yang digunakan kurang kekinian. Bahkan 3D nya tak membantu. Monsternya tak jauh beda dengan apa yang diburu oleh Ghostbusters sehingga gagal memukau penonton dewasa yang sudah kian terbiasa menikmati sajian mutakhir. 

R.I.P.D. mungkin masih bisa dihargai dalam usahanya menghibur penonton lewat materi yang begitu terbatas, mostly helped by Nick-Roy’s mishmash combination and Schwentke’s practical approach. Selebihnya adalah presentasi setengah jadi yang menyisakan begitu banyak lubang menganga di sana-sini. Twist di penghujung film pun rasanya tidak mengejutkan lagi. Moviegoers might find it quite (at least) suitable for one hour and a half entertainment but in the end should agree that those undead probably better rest in peace rather than get wrong tryouts.

Durasi:
96 menit

U.S. Box Office:
$33,284,630 till September 2013

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sabtu, 18 Desember 2010

TRON LEGACY : Petualangan Penyelamatan Di Dunia Cyber

Quotes:
Alan Bradley: I promised you that if I ever got any information about your dad, I'd tell you first, right? I was paged last night; came from your dad's office at the arcade.
Sam Flynn: So?
Alan Bradley: "So?" That number has been disconnected for twenty years! Two nights before he disappeared, he came to my house. He said he was about to change everything - science, medicine, religion. He wouldn't have left that, Sam. He wouldn't have left you.

Storyline:
Di usia 27 tahun, Sam Flynn tumbuh menjadi seorang pemberontak akibat ditinggal ayahnya, Kevin Flynn yang menghilang secara misterius sejak ia kecil. Kevin sendiri pernah dikenal sebagai pengembang video game terbaik di seluruh dunia dan kini hanya tertingggal Flynn's Arcade yang sudah terbengkalai. Pada suatu malam, Sam menangkap signal aneh dari Flynn's Arcade yang disinyalir datang dari ayahnya yang mungkin saja terperangkap selama 20 tahun di dalam dunia cyber. Dibantu Quorra, Sam akhirnya bertemu kembali dengan Kevin. Sayangnya kehidupan dunia cyber tersebut sudah berkembang sedemikian rupa hingga menciptakan sosok penguasa yang tidak akan membiarkan ketiganya lolos dari sana. Berhasilkah Sam membawa ayahnya kembali ke dunia?

Nice-to-know:
Syuting film ini hanya menghabiskan waktu 64 hari tetapi paska produksinya membutuhkan 68 minggu karena kompleksitas spesial efeknya.

Cast:
Meneruskan peran ganda Kevin Flynn / Clu, Jeff Bridges pertama kali terlibat dalam TRON (1982).
Mengawali karir aktingnya dalam Troy (2004), Garrett Hedlund disini bermain sebagai Sam Flynn.
Baru saja terlihat dalam The Next Three Days yang rilis bersamaan, Olivia Wilde kebagian karakter Quorra
Bruce Boxleitner sebagai Alan Bradley / Tron
James Frain sebagai Jarvis
Beau Garrett sebagai Gem
Michael Sheen sebagai Castor / Zuse
Anis Cheurfa sebagai Rinzler

Director:
Merupakan debut penyutradaraan bagi Joseph Kosinski yang sebelumnya beberapa kali terlibat dalam serial televisi.

Comment:
Rasanya saya mempunyai pendapat yang berbeda dari kebanyakan orang mengenai film ini yang rata-rata memberikan nilai tinggu. Original Tron yang muncul di tahun 1982 jelas tidak pernah saya dengar atau saya saksikan, sebab saya belum lahir di tahun itu. Yang saya tahu Tron : Legacy merupakan sekuel dan menceritakan generasi yang lebih muda dengan kondisi yang lebih kini tentunya kalau tidak mau dibilang lebih futuristik lagi. So, i really have no idea until see the trailer itself.
Kisahnya cukup menarik dimana perjalanan memasuki dunia cyber yang tak terduga memang membuat sebagian besar penonton bertanya-tanya apa yang akan disuguhkan kemudian. Namun satu hal yang perlu saya tegaskan, benang merah cerita ini adalah hubungan ayah dan anak serta proses si anak menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Sesimpel itu. Hanya saja ditambah dengan berbagai subplot yang mendukung seperti kisah cinta ataupun perseteruan. Tidak seru jika tidak ada dua hal ini dalam sebuah film blockbuster berbujet besar.
Spesial efek merupakan nilai utama yang dijual disini. Lihat bagaimana visualisasinya sangat memanjakan mata dengan sinar berwarna warni yang dilengkapi dengan background dark blue. Cakram berwarna putih, kontras dengan pedang berwarna oranye sekaligus melambangkan dua kubu yang saling berseberangan. Kostum aktor-aktrisnya sendiri konon menghabiskan 13 juta dollar! Luar biasa bukan? Sebanding dengan hasil akhirnya.
Jajaran cast yang mendukungnya bermain cukup baik. Bridges yang paling senior berakting bagus sebagai Kevin, tapi tidak sebagai Clu yang terlalu "digital" penampilannya apalagi ditambah dengan jenggot. Mungkin ini cara terbaik untuk me"muda"kannya tetapi malah terlihat palsu. Sedangkan Hedlund yang masih tergolong junior sedikit mengingatkan pada awal kemunculan Christensen dalam Star Wars, hanya saja Hedlund sedikit lebih dinamis dan natural dalam membawakan karakter Sam. Wilde menjadi daya tarik sendiri sebagai Quorra apalagi kostumnya yang super ketat nan seksi selayaknya Catwoman tanpa penutup mata. Jangan juga lupakan nama Martin Sheen.
Kekurangan film ini adalah fokus yang sering berpindah-pindah. Terlalu panjang di bagian yang tidak perlu dan kadang terlalu pendek di bagian yang penting. Prolog film harus diakui membosankan dan monoton. Namun setelah sejam berlalu dan Sam mulai memasuki The Grid, mata anda akan terjaga dengan Light Cycles, Light Runner dsb yang menampilkan berbagai adegan aksi yang menegangkan. Diperkuat oleh theme musik yang sangat pas menyatu dengan konsep film ini, Tron: Legacy rasanya bisa menutupi kelemahan yang dipunyainya. Film yang konon berbujet 300 juta dollar ini akan menghibur anda dengan penampakan yang futuristik sekaligus memukau walau tidak akan membombardir anda dengan aksi non stop sepanjang durasinya yang lumayan panjang itu. Pakailah terus kacamata 3D anda walau akan sedikit memusingkan kepala pada akhirnya.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$52,100,000 in opening week of mid Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Kamis, 05 Agustus 2010

THE OPEN ROAD : Reuni Ayah dan Anak Penuh Polemik

Tagline:
They've got a long way to go.

Storyline:
Carlton bermain baseball di liga kampusnya di bawah bayang-bayang kebesaran nama ayahnya, Kyle Garrett yang pernah masuk Hall of Fame cabang olahraga yang sama. Saat mengetahui ibunya Katherine akan dioperasi karena kebocoran jantung dalam waktu dekat, Carlton bersama mantan kekasihnya, Lucy bertekad mengajak ayahnya pulang untuk menjenguk. Sayangnya hal tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, perjalanan dari Houston harus ditempuh dengan berbagai kejadian dan peristiwa yang akan mempengaruhi hidup Carlton secara pribadi.

Nice-to-know:
Nama belakang Garrett yang digunakan Jeff Bridges dalam film ini sesuai dengan nama depan kakak kandungnya yang meninggal karena SIDS pada umur satu setengah bulan.

Cast:
Terakhir mendukung The Love Guru (2008), Justin Timberlake bermain sebagai Carlton yang berjanji membawa pulang sang ayah kepada ibunya yang akan menjalani operasi.
Pertama kali bermain film lewat The Yin and the Yang of Mr. Go (1970), Jeff Bridges berperan sebagai Kyle, mantan bintang baseball Amerika.
Kate Mara sebagai Lucy.
Mary Steenburgen sebagai Katherine.

Director:
Merupakan karya kedua bagi Michael Meredith setelah Three Days Of Rain (2002) .

Comment:
Nyaris tidak terdengar gaung film ini hingga muncul di jaringan Blitz Megaplex. Bahkan dengan iming-iming promo buy 2 tickets get 1 free cd juga masih tetap sepi penonton! Apakah sedemikian tidak menjualnya? Mari kita telusuri bersama. Intinya adalah drama keluarga yang berfokus pada interaksi ayah dan anak yang sudah bertahun-tahun hidup terpisah. Bagaimana mereka berusaha menyesuaikan diri satu sama lain di tengah permasalahan yang dihadapi masing-masing. Mungkin penonton akan jenuh melihat polah tingkah Bridges tetapi penjiwaannya sebagai seorang ayah bermasalah cukup berhasil. JT sekali lagi membuktikan bakatnya sebagai aktor, kita tidak akan melihat figur penyanyi disini tetapi seorang remaja labil yang masih belajar nilai-nilai kehidupan dari pengalaman pribadinya. Kehadiran Mara juga memberikan warna yang berbeda dengan sorot mata dan mimik mukanya yang lembut. Selain itu peran Dean Stanton, Steenburgen, Lovett, Danson yang kesemuanya sudah senior tidak perlu diajarkan lagi dalam mengisi karakternya masing-masing.
Kemiskinan jam terbang sutradara Meredith masih sangat kentara terutama dalam hal permainan kamera dan proses produksi yang agak menyedihkan. Beruntung hal tersebut tertutupi oleh penulisan skrip yang brilian dan kegemilangan aktor-aktrisnya. Ditambah dengan music theme yang kaya akan nuansa blues, jazz ataupun instrumental minimalis yang mengiringi scene demi scene. Terus terang menurut saya interaksi Bridges dan JT merupakan nilai jual utama yang sangat menarik untuk disimak. Meskipun olahraga baseball seakan menjadi tempelan belaka di prolog film, selebihnya alur bergulir dengan lancar membangun konflik-konflik yang ada tanpa terasa membebani penonton sedikitpun. Alhasil Open Road merupakan drama keluarga yang menghangatkan hati sekaligus menyentuh di beberapa bagian lewat pesan moral yang ingin disampaikannya. Sayang sekali film ini tidak tereksploitasi dan kemungkinan hanya akan teronggok berdebu di bagian rak rental yang tidak tersentuh pelanggan.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$19,348 till early September 2009 (7 screens only).

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent