XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label james mcavoy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label james mcavoy. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2011

ARTHUR CHRISTMAS : Misi Menyelamatkan Kesempurnaan Natal

Quotes:
Arthur: I just want it to be perfect for every kid!


Storyline:
Pemuda ceroboh, Arthur hidup di bawah bayang-bayang ayahnya yang sudah menjadi Sinterklas kebanggaan Kutub Utara selama puluhan tahun serta kakaknya Steve yang memiliki etos kerja tinggi dalam mendukung kesuksesan ayah mereka setiap tahunnya. Pertanyaan anda mengenai bagaimana Sinterklas dapat mengirimkan semua hadiah ke segala penjuru tersebut akan terjawab disini. Namun jika ada satu hadiah yang terlewat dari pengawasan, apa yang dilakukan Arthur untuk mempertahankan konsep Natal yang sempurna itu sebelum waktunya habis?

Nice-to-know:
Film kedua yang ditulis oleh Peter Baynham yang memiliki karakter Arthur di dalamnya setelah Arthur yang dibintangi oleh Russell Brand.

Voice:
James McAvoy sebagai Arthur
Hugh Laurie sebagai Steve
Bill Nighy sebagai Grandsanta
Jim Broadbent sebagai Santa
Imelda Staunton sebagai Mrs. Santa
Ashley Jensen sebagai Bryony

Director:
Merupakan debut Sarah Smith yang sebelumnya hanya menangani beberapa mini seri atau serial televisi.

Comment:
Pada bulan Desember setiap tahunnya sudah menjadi kebiasaan jika Hollywood meluncurkan beberapa film bertemakan Natal. Kali ini Aardman Animation bekerjasama dengan Sony Pictures Animation mencuri start di awal bulan dengan kisah kesibukan Santa Klaus menghadapi Natal di Kutub Utara. Dengan premis demikian bisa diduga jika segmentasi yang dituju adalah semua umur alias keluarga yang berniat menghabiskan liburan musim dingin di bioskop.
udah untuk diangkat.
Duet penulis skrip Peter Baynham dan Sarah Smith tidak sekadar memperkenalkan keluarga Santa Klaus yang beranggotakan seorang kakek, ayah, ibu, putra tertua dan putra termuda dengan konflik internal tersembunyi tetapi juga penggunaan teknologi canggih dan keahlian tingkat tinggi untuk bekerja sesuai tenggat waktu yang amat terbatas itu. Tentunya peran para kurcaci yang sepintas berpenampilan seragam itu tidak sedikit dalam membantu “tugas tahunan” tersebut.

Dengan dukungan sederetan aktor aktris Inggris yang mengisi suara film animasi ini maka tidak heran jika aksen British nya begitu kental. Tokoh Arthur di tangan McAvoy menjadi hidup, bagaimana intonasi keraguan bisa berbaur tajam dengan kelembutan seorang pemuda belia berhati emas. Sidekick nya, Bryony juga disulihkan dengan menarik oleh Jensen yang cempreng itu. Sedangkan Laurie, Nighy, Broadbent, Staunton juga menunaikan tugas masing-masing dengan cemerlang.
Entah mengapa saya justru merasa percakapan yang terjadi antar para karakternya terjadi dengan sangat cepat, sehingga menyisakan sedikit waktu bagi penonton untuk mencernanya. Mudah-mudahan bukan hanya saya yang merasakannya. Dari segi konten, humor-humor yang tercipta mungkin tidak sepenuhnya dapat dimengerti oleh anak-anak karena lebih ditujukan bagi pemikiran orang dewasa. Tidak menjadi masalah selama anak-anak masih dapat menikmati animasinya yang mudah dicerna itu.

Kinerja Smith menghadirkan sebuah visualisasi modern yang tetap berkesan tradisional. Tidak ada yang benar-benar baru disini meskipun masih mampu memanjakan mata. Elemen 3D nya memang tidak sampai membuat obyek-obyek seakan bermunculan di hadapan anda tetapi sudah cukup memberikan “kedalaman” gambar yang dibutuhkan. Scoring music yang dikerjakan oleh Harry Gregson-Williams ini terasa hangat membahana dalam menghidupkan nuansa Natal yang dibutuhkan, terlebih penggubahan ulang beberapa tembang ternama tanpa menghilangkan banyak unsur aslinya.
Di luar dugaan, terlepas dari beberapa mixed concepts yang mengingatkan kita akan film-film semacam The Polar Express, Elf dsb, Arthur Christmas masih mampu menerjemahkan sebuah kisah klasik yang teramat menyenangkan dari segi semangat, usaha serta imajinasi humanis yang akan terus menghidupkan api keajaiban Natal dimanapun jua. Last but not least, tidak seorangpun pantas ditinggalkan begitu saja atas alasan apapun juga. Arthur memastikan hal tersebut, terlepas dari faktor bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata.

Durasi:
97 menit

U.S. Box Office:
$12,700,000 in opening week end of Nov 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 23 September 2011

X-MEN : FIRST CLASS Perseteruan Awal Mutan Dua Kubu

Quotes:
Professor Charles Xavier: Listen to me very carefully, my friend: Killing will not bring you peace.


Storyline:
Tahun 1944 di Polandia, Erik Lehnsherr kecil mengeluarkan kekuatan magnetiknya saat ibunya dikirim ke kamp. Dr. Sebastian Shaw yang mengetahui hal itu membawa Erik dan mengajarkannya sisi emosi setelah membunuh ibunya. Sementara itu Charles Xavier yang berasal dari keluarga kaya bertemu Raven dan mengajaknya ke kastil miliknya. Tahun 1962, agen CIA bernama Moira MacTaggert menemukan keberadaan mutan-mutan berkemampuan super di atas manusia biasa dan berniat mempekerjakannya pada Pemerintah USA. Tidak seorang pun mengetahui rencana jahat Shaw yang ingin memulai perang nuklir untuk menghancurkan dunia.

Nice-to-know:
Bryan Singer awalnya ditunjuk sebagai sutradara film ini tetapi mundur karena proyek Jack the Giant Killer hingga digantikan Matthew Vaughn. Meski demikian, Singer tetap menjabat sebagai produser disini.

Cast:
Terakhir mendukung The Conspirator (2010), James McAvoy bermain sebagai Charles Xavier
Aktor Jerman yang mengawali akting lewat serial ternama Band of Brothers di tahun 2001, Michael Fassbender berperan sebagai Erik Lehnsherr / Magneto
Kevin Bacon sebagai Sebastian Shaw
Rose Byrne sebagai Moira MacTaggert
Jennifer Lawrence sebagai Raven / Mystique
Jason Flemyng sebagai Azazel
Nicholas Hoult sebagai Hank McCoy / Beast

Director:
Merupakan film keempat Matthew Vaughn yang terakhir menuai pujian lewat Kick-Ass (2010).

Comment:
Sebagian besar dari moviegoers di seluruh dunia tampaknya menggemari franchise X-Men yang dimulai sejak satu dekade yang lalu. Ini adalah installment kelimanya sekaligus prekuel yang mengambil waktu puluhan tahun sebelum X-Men (2000). Oleh karena itu ada baiknya jika anda merefresh ingatan anda sejenak sebelum menyaksikan film yang satu ini, setidaknya mengingat beberapa peran kunci agar lebih “nyambung” dengan pengenalan tokoh-tokohnya.
Skrip yang dikerjakan secara keroyokan oleh Ashley Miller, Zack Stentz, Jane Goldman dan Matthew Vaughn berdasarkan cerita rekaan Bryan Singer dan Sheldon Turner ini berhasil membangun jembatan yang kokoh dengan trilogy sebelumnya. Bagaimana dua kubu mutan yang saling berseberangan itu terbentuk pada awalnya. Tidak diceritakan secara runut begitu saja tetapi penuh dengan intrik, twist and turns yang membuat kita terus menerka-nerka, siapa memihak siapa, baik ataupun jahat, dsb.

Fassbender menunjukkan akting paling memukau sebagai Erik, agresif dan ambisius. Sama halnya dengan McAvoy di sisi kontradiktifnya sebagai Charles, naïf dan terlalu baik. Chemistry yang tercipta di antara keduanya terkesan kuat, beranjak dewasa bersama-sama dengan satu visi sampai akhirnya mulai mengalami pergeseran seiring merebaknya konflik-konflik yang berhubungan dengan eksistensi manusia pada umumnya dan mutan pada khususnya.
Di luar keduanya masih ada Bacon yang juga bermain memikat di saat kebintangannya mulai meredup. Belum lagi Byrne dan Lawrence yang mewakili karakter wanita masing-masing Moira dan Raven yang mengalami dilema tersendiri dalam menentukan sikap. Keseluruhan tokoh dalam film mendapat perhatian yang cukup terlepas dari besar kecilnya porsi yang ditawarkan, penonton pun dengan mudah dapat mengidentifikasi kekuatan super yang dimiliki mereka semua.

Sutradara Vaughn juga menyuguhkan berbagai sekuens aksi seru yang memanjakan mata dengan sinematografi tahun 60an yang cermat. Permainan spesial efek juga sesuai kapasitas teknologi pada masa itu, tidak berlebihan layaknya film superhero lainnya. Durasi yang panjang menjadi tidak terlalu terasa dengan komposisi musik dari Henry Jackman yang membangun atau keindahan tata kostum sekaligus departemen make-upnya.
Kekurangannya mungkin ada pada ending yang antiklimaks karena anda semua yang sudah menonton X-Men trilogy tentu sudah bisa menebaknya. Terlepas dari fakta tersebut, X-Men : First Class tergolong memuaskan para pecintanya dengan segala kelebihan-kelebihan yang dimiliki sebuah film unggulan musim panas. Tidak ada asap jika tiada api, demikian pula segala sesuatu yang terjadi di muka bumi, setiap pertentangan hitam dan putih akan selalu memiliki cikal bakalnya. Inilah saatnya anda menjadi saksi para mutan tersebut beraksi!

Durasi:
130 menit

U.S. Box Office:
$146,405,371 till Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sabtu, 19 Maret 2011

GNOMEO & JULIET : Perkelahian Membutakan Cinta Penghuni Kebun

Tagline:
A little adventure goes a lawn way.

Storyline:
Montague dan Capulet bukan lagi dua keluarga yang berseteru melainkan dua tetangga yang tidak cocok satu sama lain. Hal ini terjadi juga pada para penghuni kebun mereka yang terbagi menjadi topi merah yang dikepalai Lord Redbrick dan topi biru yang diketuai oleh Lady Blueberry. Masing-masing berusaha mempertahankan areanya dan menghancurkan area lawan. Hingga pada suatu malam saat mengincar anggrek bulan, Gnomeo si topi biru tanpa sengaja bertemu dengan Juliet si topi merah. Dikarenakan masing-masing sedang dalam penyamaran, keduanya pun jatuh cinta. Akankah romansa terlarang tersebut pada akhirnya dapat berakhir bahagia?

Nice-to-know:
Awalnya Ewan McGregor dan Kate Winslet akan menyuarakan Gnomeo & Juliet pada saat produksi film diumumkan.

Voice:
James McAvoy sebagai Gnomeo
Emily Blunt sebagai Juliet
Ashley Jensen sebagai Nanette
Michael Caine sebagai Lord Redbrick
Matt Lucas sebagai Benny
Maggie Smith sebagai Lady Bluebury
Jason Statham sebagai Tybalt
Patrick Stewart sebagai Bill Shakespeare
Julie Walters sebagai Miss Montague

Director:
Sebelumnya Kelly Asbury merupakan salah satu dari tiga yang menyutradarai Shrek 2 (2004).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal adaptasi Shakespeare ini yang kemudian coba ditularkan pada generasi yang lebih muda. Ya film ini memang terasa sekali ditujukan pada anak-anak sebelum mereka mengenal percintaan tragis yang sesungguhnya. Segala sesuatu pada plot ceritanya memang dipermudah dan diperhalus sedemikian rupa sehingga tak jarang kita akan menganggap semua karakter disini adalah mainan. Mengingatkan anda pada premis Toy Story? Benar sekali!
Pengenalan satu persatu karakternya dilakukan secara singkat dan cepat. Oleh karena begitu banyaknya cameo, maka kekuatan masing-masing karakter terasa lemah. Belum lagi ekspresi tokoh-tokoh tergolong kaku yang seharusnya memberikan kontribusi pada sisi emosional yang lebih kentara. Dengan demikian sulit rasanya penonton untuk ,ai bersikap peduli pada mereka termasuk pada Gnomeo dan Juliet itu sendiri.
Sulih suara yang dilakukan oleh aktor-aktris ternama juga tidak berjalan dengan maksimal. McAvoy dan Blunt merupakan aktor-aktris berbakat tapi tanpa melihat wajah mereka rasanya suara dapat diganti siapapun juga. Sederet nama kaliber semisal Caine ataupun Walters tidak memorable samasekali. Semakin menyiratkan kesalahan dalam casting atau memang skrip yang tidak memberikan ruang tersebut?
Sutradara Asbury memang sudah berusaha melakukan usaha terbaiknya untuk mengangkat tema yang biasa-biasa saja menjadi tontonan yang tetap fresh dan berisi. Saya katakan ia berhasil karena di tangan orang lain, bisa jadi hasil akhirnya akan lebih buruk lagi. Ide untuk menggunakan beberapa tembang lawas Elton John sebagai latar belakang musik memang cukup kreatif meskipun tidak berarti banyak selain sebagai pengiring tarian para tokohnya terutama pada bagian ending.
Gnomeo & Juliet menarik untuk penonton muda tapi bagi orang dewasa terasa flat dan sedikit membosankan. Scene demi scene disajikan dalam tempo lambat dan tidak melulu didukung oleh logika yang pantas. Animasinya tidak luar biasa walaupun Disney sudah merombaknya sedemikian rupa supaya berciri khas langsung dengan imajinasi William Shakespeare yang kebetulan karakternya juga muncul disini. Penggunaan efek 3D nya tidak terlalu signifikan sehingga versi 2D nya sudah lebih dari cukup untuk anda saksikan bersama anak-anak atau adik-adik anda.

Durasi:
75 menit

U.S. Box Office:
$89,102,365 till March 2011

Overall:

7 out of 10

Movie-meter:

Rabu, 03 Februari 2010

PENELOPE : Kisah "Penerimaan" Gadis Berhidung Babi

Quotes:
Annie: So what are you hiding from the law or is it just a bad nose job?
Penelope: Mhm, bad nose job..

Storyline:
Meski berasal dari keluarga terhormat dan berkecukupan, hidup gadis muda bernama Penelope tetaplah menderita. Pasalnya ia terkunci kutukan seseorang dari masa lalu kakeknya sehingga berhidung babi. Karena itulah ayah ibunya Franklin dan Jessica memalsukan kematiannya dan mengurungnya selama belasan tahun di dalam istana. Penelope yang semakin dewasa mulai tertarik melihat dunia luar sekaligus mencari cinta sejatinya dengan harapan mampu mematahkan kutukannya. Sayangnya hal tersebut nyaris tidak mungkin karena sudah beratus-ratus pria berdarah biru yang lari saat berhadapan dengannya. Hingga pada suatu ketika datanglah Max yang menarik hati Penelope, perbincangan keduanya dari balik kaca menimbulkan optimisme Penelope. Akankah perjalanan hidupnya seketika dapat berubah menjadi berwarna?

Nice-to-know:
Butuh waktu satu setengah jam untuk memasang hidung prostetik pada Christina Ricci.

Cast:
Setelah Cursed (2005) dan beberapa episode Grey's Anatomy, Christina Ricci kembali dalam film ini sebagai gadis berhidung babi tetapi berhati mulia, Penelope.
Sempat bermain sebagai Mr. Tumnus dalam The Chronicles of Narnia (2005), James McAvoy kebagian peran Max/Johnny yang dibayar untuk mengenal Penelope tetapi malah jatuh hati sungguhan.
Debut pertama Reese Witherspoon sebagai produser utama sekaligus peran Annie.
Richard E. Grant sebagai Franklin Wilhern
Catherine O'Hara sebagai Jessica Wilhern
Simon Woods sebagai Edward Vanderman
Peter Dinklage sebagai Lemon

Director:
Merupakan karya pertama Mark Palansky yang sebelumnya hanya menangani beberapa film pendek dan video interview.

Comment:
Premis gadis berhidung babi terdengar biasa dalam sebuah film. Lalu apakah ini hanya sekadar fairytale biasa? Jangan menyimpulkan terlalu cepat. Benang merahnya menggunakan formula yang sangat sederhana dan jalan ceritanya akan dapat ditebak dengan mudahnya. Namun yang membedakan adalah Penelope menggunakan kejujuran dan ketulusan dalam bertutur sehingga menarik untuk disaksikan.
Daya tarik utamanya jelas ada di Christina Ricci yang membawakan karakter Penelope dengan pesona yang mengundang simpati terlepas dari keanehan fisik yang dideritanya. Diperkuat pula oleh James McAvoy yang sangat natural dengan mata birunya yang polos. Chemistry keduanya berhasil menciptakan romantisme tersendiri yang realistis. Catherine O'Hara yang bermain sebagai Jessica Wilhern juga memukau karena mempotretkan tokoh ibu overprotektif yang luar biasa cerewet. Belum lagi Reese Witherspoon yang walaupun hanya sebagai karakter pendukung tetap memberikan kekuatan akting tersendiri. Sungguh cast yang menarik!
Sutradara Palansky meski belum banyak berpengalaman cukup berhasil membangun mood film dengan baik didukung dengan tone warna pucat kota London yang selalu terang benderang. Menonton Penelope seakan mengikuti sebuah komedi satir yang penuh dengan sindiran-sindiran duniawi seperti orang yang cenderung melihat dari luarnya saja, bisa jadi sebuah drama kehidupan yang sarat makna seperti bagaimana kita diajarkan untuk menerima diri kita sendiri terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada. Kekurangannya adalah terkadang karakter-karakter tertentu seakan diabaikan begitu saja setelah scene demi scene berlalu.
Nikmatilah Penelope dengan santai dan niscaya anda serasa dibawa masuk ke sebuah dunia sinis dimana seorang gadis manis yang menderita karena penolakan dunia terhadapnya berusaha menjalani hidup sewajar dan setulus mungkin. Bukankah cinta kadang dapat menyergap tanpa alasan yang masuk akal? It's a cute movie indeed with sense of touch!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$10,011,274 till Jun 2008

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rabu, 09 Juli 2008

WANTED : Identitas Diri dan Kebenaran Sejati

Quotes:
Sloan-[handing Wesley a gun] Shoot the wings off the flies.
Wesley-[nervous] I don't... I don't know what that means.
Sloan-[slowly] Shoot the wings off the flies.
Wesley-I really think you have me mixed up with somebody else.
Gunsmith-[holding a gun to the back of Wesley's head] On three, either you shoot or I do.

Cerita:
Bosan dengan pekerjaannya sebagai manajer akunting dimana harus menghadapi bos menyebalkan dan kehidupannya sebagai kekasih pecundang pacarnya yang penuntut membuat hidup Wesley Gibson berada di neraka. Saat diberitahu kenyataan bahwa ayah kandungnya dibunuh dengan keji, Wes dipercayakan masuk Fraternity, sebuah organisasi rahasia pembunuh bayaran yang dipimpin oleh Sloan dengan asistennya Fox yang seksi cantik. Wes dituntut bisa menguasai kemampuan terbaik seorang pembunuh bayaran tangguh. Namun apakah itu yang ia cari selama ini? Apa sebenarnya motif The Fraternity menentukan target pembunuhan?

Gambar:
Adegan aksinya boleh dibilang sangat detail termasuk mekanisme peluru melengkung yang ditembakan dari jarak jauh dan tepat mengenai sasaran.

Act:
James McAvoy yang asal Skotlandia memulai debut layar lebarnya pada The Near Room (1995) hingga perannya sebagai Wesley Gibson yang bertransformasi dari pekerja kantoran membosankan menjadi pembunuh bayaran terlatih.
Belum dikenal saat membintangi film pertamanya, Alice & Viril (1993) kondisinya berbanding terbalik saat ini dimana nama Angelina Jolie meroket menjadi aktris papan atas Hollywood. Kali ini ia memainkan pembunuh bayaran wanita, Fox yang tangguh sekaligus misterius.
Sudah puluhan film dibintanginya termasuk The Pawnbroker (1964) dimana namanya tidak tercantum dalam credit title membuat nama Morgan Freeman cukup legendaris. Disini ia memegang peran antagonis kepala organisasi Fraternity bernama Sloan.

Sutradara:
Merupakan film berbahasa Inggris pertamanya setelah lebih banyak terlibat dalam produksi film asing bisa jadi merupakan modal awal Timur Bekmambetov yang asli Kazakhstan ini dalam kancah perfilman Hollywood.

Komentar:
Ditilik dari ceritanya yang agak mengesampingkan logika rasanya sulit menilai Wanted karena terlalu banyak klausal sebab akibat yang diremehkan begitu saja. Namun jika dilihat dari aspek hiburan yang bertabur adegan aksi dan cepat, film ini memperlihatkan keunggulannya dan hebatnya semua dikemas dengan gaya yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah disajikan sebelumnya. Sekarang coba bayangkan saja kehidupan seorang Wesley Gibson sebelum menjadi pembunuh bayaran, merasa familiar dengan kehidupan anda sendiri? Apakah tindakan anda selanjutnya sama dengannya? Maka dari itu, tidak perlu berpikir terlalu jauh dalam menonton film ini, nikmati saja actionnya dan aksi peluru melengkung!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$134,294,280 till Sep 2008

Overall:
7 out of 10

Penilaian:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!