XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label ha ji won. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ha ji won. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

SECTOR 7 : Misi Pengeboran Minyak Berujung Malapetaka

Tagline:
Something awaits 8,000 feet under the sea off the southern tip of Jeju Island.


Storyline:
Kapten Jeong-man dikirim untuk mengevakuasi anggota kru Sector 7. Namun saat Hae-jun bersikeras bahwa mereka akan menemukan sumber minyak, proses menjadi ditunda setelah satu usaha terakhir. Sayangnya ketika badai melanda, komunikasi dengan kantor pusat menjadi terputus. Belum lagi dikejutkan dengan tewasnya ilmuwan Kim secara misterius. Para kru mulai mencurigai adanya makhluk buas yang mengincar nyawa mereka. Apa yang sesungguhnya terjadi di sana? Bagaimana bertahan hidup dari serangan maut bertubi-tubi di tengah-tengah lautan luas?

Nice-to-know:
Film yang berjudul asli Chilgwanggu ini sudah beredar di negara asalnya pada tanggal 4 Agustus 2011 yang lalu.

Cast:
Ha Ji-won sebagai Cha / Hae-jun
Ahn Sung-kee sebagai Jeong Man
Oh Ji-ho sebagai Kim / Dong-soo
Cha Ae-ryeon sebagai Scientist Kim
Lee Han-wi sebagai Medic
Park Cheol-min
Song Sae-byeok

Director:
Merupakan film ketiga Kim Ji Hun yang diawali lewat Mokpo the Harbor (2004).

Comment:
Korea adalah salah satu pelopor genre sains fiksi dalam industri perfilman Asia. Salah satunya adalah The Host (2006) yang hingga saat ini masih mencatatkan diri sebagai film lokal berpendapatan tertinggi di negeri ginseng tersebut di samping Avatar (2009) sebagai film non-lokalnya. Harus diakui kinerja CGI mereka tergolong maju dan mulai mengejar Hollywood, jangan bandingkan dengan Indonesia yang mencoba saja belum berani.
Yun Je-Gyun yang pernah menggarap naskah berbagai genre sebelumnya kali ini mengambil pendekatan dasar thriller sains fiksi yaitu permainan kucing tikus antara monster dan manusia. Sah-sah saja untuk membangun ketegangan yang diinginkan tetapi penonton tentunya juga masih peduli dengan drama yang melatarbelakanginya. Satu hal krusial yang gagal dijelaskan Yun adalah mengapa sang monster demikian ngotot memangsa manusia dengan tentakel-tentakelnya?

Harus diakui Ha Ji-won memang tampil keren di film ini. Superioritas “manusia biasa”nya bahkan melebihi heroine. Lihat bagaimana ia berlari tunggang langgang atau bermanuver mengendarai motor di atas geladak berlumurkan minyak. Saya sampai berpikir, “Kok staminanya gak habis-habis ya? Luar biasa!” Namun sayangnya tidak ada eksplorasi karakter Hae-jun yang mengembalikannya ke bumi terutama soal hubungan cintanya dengan Dong-soo yang seakan tanpa proses itu.
Aktor senior Ahn Sung-kee masih memperlihatkan akting yang mumpuni terlebih karakter Jeong Man merupakan salah satu kunci disini tapi sayangnya flashback yang menjelaskan semua itu terasa datar saja. Cha Ae-ryeon dan Oh Ji-ho juga malah terkesan numpang lewat saja. Padahal tokoh-tokoh dalam film ini tidak terlalu banyak dan seharusnya bisa mendapat porsi yang lebih memadai untuk ditelaah masing-masing daripada menyuguhkan dialog-dialog singkat kurang bermakna.

Sutradara Kim semestinya memanfaatkan modal awal yang bagus yaitu Sector 7 itu sendiri yang terlihat terasing dan terapung sendirian di tengah lautan. Suatu production value yang amat berharga sebagai sebuah setting film, tinggal bagaimana mengolahnya ke dalam sebuah tontonan spektakuler. Efek 3D dan IMAX nya tidak terlalu menjual, jauh lebih menarik adalah visualisasi sang monster itu sendiri meskipun saya merasakan perbedaan ukurannya ketika scene indoor dan outdoornya.
Jika anda berniat menyaksikan Sector 7 sebaiknya buang jauh-jauh ekspektasi tinggi. Nikmati saja sajian menit per menit tanpa berpikir terlalu ilmiah sambil bersorak mengikuti perjalanan karakter simpatisan anda yang syukur-syukur selamat hingga akhir. Endingnya bisa jadi mengerutkan kening audiens karena banyaknya aksi tanpa alasan serta terlalu berusaha mengulang pencapaian Sigourney Weaver dalam Alien (1978). Well, CJ Entertainment sepertinya lupa bahwa sekarang sudah memasuki tahun 2011. Let the classic alone!

Durasi:
104 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Jumat, 05 Februari 2010

HAEUNDAE : Bencana Tsunami Kepunahan Republik Korea

Tagline:
There is no escape from nature’s wrath.


Storyline:
Man-sik dan Yeon-hee yang pernah gagal membangun rumah tangga berusaha menjaga kesempatan kedua yang mereka miliki. Dr. Kim yang peduli akan prediksi tsunami di Pantai Haeundae harus berkutat dengan istrinya yang menuntut cerai dan pertumbuhan putri kecil mereka. Hyoung-sik yang menyelamatkan seorang gadis Seoul harus berjuang di tengah badai ganas. Tsunami yang meluluh-lantakkan seantero Republik Korea pun menciptakan konflik kepentingan, provokasi bahkan gejolak jiwa yang tragis selepas bencana berakhir.

Nice-to-know:
Merupakan film Korea berbujet terbesar yaitu sekitar US$ 11 juta sekaligus film bencana pertama yang banyak diinspirasi dari film-film legendaris bergenre serupa.

Cast:
Ha Ji-won sebagai Gang Yeon-heui
Park Joong-Hoon sebagai Kim Hwi
Sol Kyung-gu sebagai Choi Man-shik
Eom Jeong-hwa sebagai Lee Yu-jin
Song Jae-ho sebagai Paman Choi

Director:
Yun Je-Gyun menggarap film kelimanya dimana karir sutradaranya diawali oleh My Boss, My Hero (2001).

Comment:
Hollywood dari waktu ke waktu telah menelurkan begitu banyak judul film bergenre bencana mulai dari banjir, angin puyuh, badai dsb. Jika sudah demikian, lantas apa yang tersisa buat sineas Asia untuk difilmkan? Contoh paling konkrit adalah Korea Selatan yang cukup ambisius memproduksi yang satu ini. JK Youn yang menulis skripnya rasanya terinspirasi dari berbagai judul yang sudah ada sehingga tidak heran jika banyak kemiripan disana-sini yang mengurangi kadar originalitasnya.
Penceritaan berbagai tokoh dengan segala karakteristiknya di beberapa belahan bumi kembali digunakan secara tidak efektif disini. Lebih dari satu jam pertama dihabiskan dengan drama beralur lambat yang cukup membosankan, diselingi dengan humor getir yang sesekali menyeruak. Fakta-fakta pendukung akan hadirnya tsunami yang mengancam juga terkesan kurang meyakinkan meskipun data-data dan gambar grafis sudah berusaha dimunculkan di layar komputer para peneliti tersebut.
Walaupun sudah menggunakan nama-nama tenar yang dimiliki negeri ginseng itu entah mengapa saya masih merasa penjiwaannya kurang maksimal. Tidak ada satupun karakter yang mampu membangun koneksi dengan penonton, bisa jadi karena terlalu sedikit ekspos yang diberikan terhadap mereka akibat harus bergantian berbagi layar. Jikapun ada adegan yang menyentuh, lebih karena tuntutan skenario yang mengharuskan seperti itu, contohnya 40 menit terakhir yang tampak terlalu berupaya menguras air mata, sebagian mungkin berhasil tetapi sebagian lagi tidak.
Haeundae alias Tidal Wave ini secara garis besar belum mampu memenuhi standar film bencana yang kompeten. Nyaris sama lemahnya dengan 2012 yang kebetulan malah saya saksikan lebih dahulu. Spesial efek yang digunakan juga tidak terlalu spektakuler, masih kalah dari dramatisasi berlebihan yang dibangun oleh penyutradaraan yang terkesan amatir. Tidak ada yang tersisa selain keju lembek yang dipaksa meleleh sebagai analoginya. Rasanya akan lebih baik apabila anda lebih memilih menyaksikan Poseidon, Armageddon ataupun judul-judul lawas lain yang mungkin saja diputar di TV cable tengah malam hari.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!