XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label alex abbad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alex abbad. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2011

VIRGIN 3 : Satu Malam Mengubah Segalanya

Storyline:
Demi merayakan malam terakhir Putri di Jakarta sebelum bertolak ke Melbourne, Dini, Tika dan Sherry nekad masuk ke klab malam yang eksklusif atas bantuan seorang fotografer bernama Tyo. Keempat remaja cewek yang masih belia dan minim pengalaman itu segera menarik perhatian sejumlah pria hidung belang dengan berbagai motif yang mulai mencekoki mereka minuman dan obat-obatan. Lewat serangkaian kejadian, keempatnya kemudian terbangun di sebuah kamar mewah di pagi hari dalam keadaan mabuk dengan luka berdarah di sekujur tubuh. Belum lagi kemunculan seorang pria asing yang belakangan diketahui bernama Allan di toilet hotel tersebut. Apa yang sesungguhnya terjadi semalam?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI pada tanggal 15 Maret 2011.

Cast:
Irish Bella sebagai Sherry
Alex Abbad sebagai Allan
Fero Walandouw sebagai Ben
Gege Elisa sebagai Tika
Shapira Indah sebagai Dini
Ynessa Ioa Gaffar sebagai Putri
Raffi Ahmad

Director:
Film ketiga bagi Nayato di tahun 2011 ini setelah dua film bergenre horor komedi.

Comment:
Tidak butuh waktu lama bagi Nayato untuk kembali menghadirkan drama remaja yang berlatar belakang seks bebas. Dan tidak usah kaget jika franchise Virgin yang awalnya diprakarsai oleh Hanny R. Saputra mulai saat ini akan diklaim olehnya. Jika pada sekuelnya tahun lalu bersubtitle Bukan Film Porno maka sekuel keduanya ini bertajuk Satu Malam Mengubah Segalanya. Mungkin beberapa di antara anda mulai berpikir jika skenario yang ditulis oleh Cassandra Massardi ini jangan-jangan jiplakan The Hangover? Hm, jangan terlalu cepat menyimpulkan.
Saya sendiri sebetulnya lebih suka memberi subjudul Clubbing Satu Malam karena lebih dari separuh durasinya setting dihabiskan di klab malam dengan musik menghentak-hentak. Berbagai jenis dan bentuk muda-mudi sibuk berdansa, minum, lalu lalang dengan pakaian minim nan mencolok mata. Seakan gemerlap kehidupan benar-benar tertuang disana walaupun motif masing-masing belum tentu sama, bisa baik, bisa jahat. Seabu-abu warna seragam empat tokoh remaja putri kita disini.
Tak dipungkiri jika Irish, Shapira, Gege, Ynessa memang camera-face sekali. Nilai jualnya ditambah dengan kulit putih, wajah Indo dan juga berbodi yahud. Namun sedikit mengganggu mendengar mereka berdialog dengan cepat dan tak jarang berteriak akibat frustrasi. Seperti biasa Nayato tidak banyak memberikan ruang akting yang cukup bagi artis-artis barunya. Beruntung Alex Abbad masih bisa mencuri perhatian dengan peranan yang lain dari biasanya, kesan misterius cukup berhasil dipertahankannya di sepanjang film. Belum lagi Raffi yang tampil sekilas sebagai cameo penjual burger di sekolah.
Tampaknya Nayato kali ini sedikit bereksperimen dengan petualangan semalam suntuk yang menggunakan alur linier dengan berbagai subplot sederhana. Namun tak jarang shaky handheld camera semakin melelahkan mata untuk terus mengikuti sampai habis. Entah angin surga mana yang merasuk ke kepalanya, isu human trafficking dibahas juga di bagian ending. Untuk mempertegas maksud dan tujuannya, digunakanlah tulisan besar dengan huruf warna merah yang seharusnya tidak perlu.
Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut di atas dan juga beberapa stereotype film-film bergenre sejenis yang masih ditemui, Virgin 3 sebetulnya masih dapat dikatakan lumayan menarik untuk disimak. Komposisi Tya Subiakto yang mengisi musik scoring nya terasa pas membangun mood film yang turun naik. Nuansa depresi tidak sampai lekat disini tetapi rasanya cukup menyampaikan untuk pesan moral yang dibidik khusus remaja belasan tahun yang seringkali mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan mereka.

Durasi:

80 menit

Overall:

6.5 out of 10

Movie-meter:

Kamis, 21 Oktober 2010

ROKKAP : Asmara Gadis Batak Pelukis Tuna Netra

Quotes:
Ivy-Semoga aja loe dapet jodoh orang Batak kayak gue.
Bow-Asal berambut!

Storyline:
Dikarenakan kecelakaan di masa kecil, Lingga yang kini berusia 31 tahun harus menjalani hidup sebagai tuna netra. Namun Tuhan yang maha adil memberikan kelebihan lain pada gadis Batak itu yakni memiliki kemampuan melukis yang mumpuni. Hasil karyanya itu dijual untuk menghidupi keluarga yang menyisakan ayah dan kakak perempuan yang sangat menyayanginya itu. Di belahan bumi lain, Bow terpaksa menyanggupi permintaan kedua sahabatnya, Gun dan Ivy untuk melakukan sesi foto pre wedding di Danau Toba. Disanalah Bow yang awalnya tertarik pada lukisan Lingga akhirnya bertemu dengan pelukisnya. Keduanya saling jatuh cinta satu sama lain meski ayah Lingga tidak menyetujui hubungan itu begitu saja dan juga Bow belum sepenuhnya putus dari kekasihnya, Vienna yang tinggal di Bali. Mampukah keduanya bersatu di antara segala perbedaan yang mendasar tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Promise Land Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 20 Oktober 2010.

Cast:
Alex Abbad sebagai Bonaventura Christoper
Kinaryosih sebagai Lingga
Agastya Kandou sebagai Gun
Sarah Jane sebagai Ivy
Tongam Sirait sebagai Ayah Lingga
Iyuth Pakpahan sebagai Vienna
Yondik Tanto

Director:
Kolaborasi pertama BM Joe, Ginanti Rona Tembang Asri dan Hendra "Pay" Arifin Hutapea.

Comment:
Entah karena terlalu bersemangatkan indie atau tidak memiliki dana cukup untuk "berkampanye", film ini tiba-tiba melenggang mulus mengisi slot film nasional di minggu ketiga bulan Oktober 2010 ini. Hanya satu hari notifikasi! Namun melihat jajaran pemain dan sekilas posternya, rasanya masih ada sesuatu nilai tersembunyi yang coba dijual disini. Sekadar catatan tambahan, saya menontonnya bersama sekitar lima puluhan siswa-siswi pesantren yang juga didampingi bapak ibu guru mereka, bisa jadi sebagai wacana pembelajaran di sekolah.
Kinaryosih yang mengaku belajar aksen Batak selama sebulan penuh cukup berhasil menjiwai karakter gadis tunanetra Lingga yang berprofesi sebagai pelukis. Ketegarannya tergambar dari komunikasi yang dilakukannya kepada Yang Maha Kuasa serta kelembutan hatinya dalam bersikap terhadap sesamanya. Sedangkan Alex Abbad tampil di luar kebiasaannya yang urakan dan begundal, melainkan jiwa fotografer yang resah dalam mencari arti hidup sesungguhnya. Chemistry keduanya di dalam layar cukup menyatu meskipun alasan yang membuat keduanya cepat saling jatuh cinta tidak cukup kuat. Mungkin inilah yang dimaksud istilah "Rokkap" alias jodoh itu sendiri!
Sutradara Joe, Ginanti dan Pay berhasil menghadirkan lanskap Sumatera Utara dengan sedemikian indahnya. Pesisir Danau Toba yang menjadi latar belakang juga memberikan kontribusi sendiri dalam memanjakan mata. Plot ceritanya sangat kental dengan budaya Batak terbukti dari penggunaan bahasa, musik latar, setting hingga adat istiadatnya. Semua dihadirkan secara minimalis dan lembut, menyatu dengan kekuatan cerita sederhana yang coba dibangun dari awal.
Rokkap merupakan satu dari sangat sedikitnya film nasional off-mainstream yang berani mengusung idealisme tersendiri ini mungkin akan sangat membosankan bagi para penonton awam. Meskipun terkesan terburu-buru menutup layar, endingnya yang agak miris tak terduga sedikit banyak menjadikan drama ini cukup menggigit dan "bernilai" pada akhirnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Minggu, 23 November 2008

PENCARIAN TERAKHIR : Pencarian Tim Pendaki Gunung Misteri

Cerita:
Sita mendapat telepon dari pos Jagawana gunung Sarangan bahwa sudah beberapa hari sang adik Gancar dan teman-temannya belum melapor. Kontan hal itu membuat Sita panik, sedih dan bingung. Dua temannya sesama pengurus outbound, Oji dan Bagus berusaha menghiburnya. Diam-diam, Bagus menyambangi Tito, sahabat lamanya yang pernah hilang saat mendaki gunung Sarangan sampai kehilangan sohibnya Norman 5 tahun lalu. Bersama mereka bergabung dengan tim pencari dengan target waktu 5 hari walaupun harus menghadapi resiko masing-masing di beberapa lokasi gunung yang terkenal angker itu. Apakah misi tersebut akan berhasil? Apa yang sebenarnya terjadi di gunung Sarangan selama ini?

Gambar:
Nuansa pegunungan yang sepintas kelihatan bersahabat namun menyimpan banyak misteri mampu ditangkap dengan baik. Semua setting terlihat meyakinkan karena terlihat seperti lokasi sesungguhnya.

Act:
Lukman Sardi sekali lagi menunjukan kelasnya sebagai aktor papan atas Indonesia. Perannya yang dilematis disini sebagai seorang yang trauma tapi harus menggali kembali ingatan masa lalu nya demi seorang yang ia cintai bisa dimainkan dengan cemerlang.
Richa Novisha sebagai Sita juga memperlihatkan debut yang baik, seorang kakak yang bimbang namun harus tetap maju dan bersikap optimis.
Yama Carlos dan Alex Abbad sebagai sidekick tokoh utama juga tampil sesuai porsinya, terlihat natural dan wajar tanpa improvisasi berlebihan. Patut dicatat ada perkembangan akting yang baik dari keduanya disini.

Sutradara:
Walaupun belum banyak dikenal, Affandi Abdul Rachman bersama Vandea Productions boleh dibilang sukses mengarahkan film ini. Mulai dari pemilihan casting dan lokasi yang dirasa tepat sampai eksekusi secara keseluruhan. Thumbs up!

Komentar:
Salah satu film lokal wajib tonton tahun ini. Ceritanya mengalir ringan namun tetap berisi. Alur lambat yang digunakan sedikit terbantu dengan dialog-dialog yang asyik untuk disimak. Beberapa adegan akan membuat bulu kuduk anda berdiri. Sebuah eksplorasi tentang kegiatan mendaki gunung dilihat dari kacamata orang-orang yang berpengalaman di bidangnya.

Durasi:
100 menit

Overall:
8 out of 10

Penilaian:
Gw ga prnh nilai film dibawah 6 krn biar bagaimanapun itu sebuah karya seni
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10