XL #PerempuanHebat for Kartini Day

THE RING(S) : A short movie specially made for Valentine's Day

Tampilkan postingan dengan label topher grace. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label topher grace. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2012

THE DOUBLE : Take Away Its Suspense Act From Beginning

Quotes:
Ben Geary: You're gonna "shoot her in the head"?
Paul Shepherdson: Just making a connection.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi keroyokan oleh Hyde Park Entertainment, Agent Two, Brandt/Haas Productions, Imagenation Abu Dhabi FZ, Industry Entertainment ini rilis terbatas di Amerika Serikat.

Cast:
Richard Gere sebagai Paul Shepherdson
Topher Grace sebagai Ben Geary
Martin Sheen sebagai Tom Highland
Tamer Hassan sebagai Bozlovski
Odette Annable sebagai Natalie Geary
Stephen Moyer sebagai Brutus




Director:
Merupakan debut Michael Brandt yang selama ini dikenal sebagai penulis skrip ini.

W For Words:
Dari judulnya sudah bisa diperkirakan bahwa premisnya akan bercerita mengenai agen ganda, sebuah topik spy thriller yang telah berkali-kali diangkat sebelumnya. Mungkin tidak akan terlalu menarik bagi anda terlebih trailernya telah mengungkapkan banyak hal di dalamnya. Nilai jual film jelas ada pada duet aktor utamanya yaitu “senior-junior” Richard Gere dan Topher Grace dimana keduanya semakin selektif memilih peran sesuai jam terbang masing-masing. Tampuk sutradara diserahkan pada Michael Brandt yang pernah menulis untuk Wanted (2008).

Seorang senator tewas secara misterius oleh pembunuh berantai yang dikenal dengan nama Cassius. Agen C.I.A senior yang sesungguhnya telah pensiun, Paul Shepherdson dipanggil kembali oleh Tom Highland dan dipasangkan dengan debutan lapangan F.B.I. yaitu Ben Geary. Cassius sendiri diyakini sudah tewas tapi modus operandinya dalam menyayat leher korban membangkitkan kemungkinan tersebut. Terbiasa bekerja sendiri, Paul yang awalnya antipati terhadap Ben harus bekerjasama dengan lulusan Harvard itu dalam memecahkan misteri yang ada sebelum keadaan semakin memburuk.

Jika identitas Richard Gere sebagai double agent diungkapkan sejak lima belas menit pertama lantas apa lagi yang tersisa? Brandt yang berduet dengan Derek Haas dalam mengerjakan skripnya ternyata masih menyisakan beberapa twist di penghujung cerita. Pertanyaannya apakah hal tersebut masih penting dan tetap memancing rasa penasaran? Dalam proses menuju kesana, suguhan cat and mouse yang mengandalkan kecerdasan, ketangkasan dan pengalaman antara Gere maupun Grace berlangsung intens sehingga tak ayal membagi penonton dalam dua kubu.

Chemistry Gere dan Grace terbangun secara kurang maksimal dan semakin memburuk jelang epilog. Shepherdson di tangan Gere memang masih karismatik tetapi kita pernah melihatnya dalam peran sejenis yang jauh lebih variatif dalam menegaskan ambiguitas moral. Geary di tangan Grace terbilang intelek dan berkemauan keras serta digambarkan memiliki kehidupan berkeluarga yang sempurna, istri cantik dan putri kecilnya yang lucu. Selain mereka masih ada Sheen yang subtle, Yusman yang affectionate atau Moyer yang brutal sebagai napi di adegan pembukaan film.

Hiburan terbesar mungkin terjadi ketika Gere dengan cekatan menggorok leher korban-korbannya menggunakan kawat yang tersimpan di dalam jam tangannya. Selebihnya tidak banyak adegan aksi yang dibanggakan. Memang ada adegan kejar-kejaran mobil dan manusia tapi tergolong minim pengaruh terhadap adrenalin. Pertanyaan seputar berapa banyak agen Rusia yang bebas memasuki kawasan Amerika Serikat tanpa pengawasan atau relevansi hubungan C.I.A dan F.B.I dalam bekerjasama secara penuh dalam sebuah kasus kejahatan pun meninggalkan lubang yang terlalu banyak untuk dijelaskan.

Sejak awal The Double telah merampas kenikmatan kita menonton sebuah spy thriller yang penuh suspensi dan kejutan disana-sini. Plot tradisional yang dikembangkan setengah jadi ini pada akhirnya menyiksa penonton yang bingung mencari motif untuk bertahan duduk di bangku bioskop hingga ending yang terkesan dipaksakan mengusung patriotisme itu. Mudah ditebak apabila Paul alias Cassius mulai kesulitan menuntaskan tugasnya setelah mengenal lebih dekat kehidupan pribadi Ben. Elemen psikologi lah yang digunakan oleh sutradara Brandt untuk mempertahankan intensitasnya. Who have to die? Who will survive? It is up to you then, how to react in those circumstances.

Durasi:
98 menit

U.S. Box Office:
$137,921 till Oct 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Minggu, 11 Juli 2010

PREDATORS : Terjebak Pemangsa Planet Asing

Tagline:
The most dangerous killers on the planet... but this is not our planet.

Storyline:
Royce terbangun saat meluncur dari pesawat dan mendarat di sebuah hutan asing dengan parasut. Ia tidak sendiri karena segera bergabung gadis militer- Isabelle, tentara Rusia- Nikolai, criminal San Quentin- Stans; tokoh Serra Leoa- Mombasa; raja obat bius- Cuchillo; pria Yakuza- Hanzo dan Doctor Edwin. Mencoba mereka-reka apa yang sesungguhnya terjadi, sekelompok makhluk tak teridentifikasi mulai menyerang mereka. Berada di planet asing, Royce dkk harus bersatu untuk bertahan hidup dalam permainan mematikan.

Nice-to-know:
Proses syutingnya selama 53 hari dan oleh produser Robert Rodriguez dimaksudkan sebagai sekuel Predator (1987) dan Predator 2 (1990).

Cast:
Sebelum ini tampil dalam High School (2010), Adrien Brody bermain sebagai Royce
Mulai dikenal setelah mendampingi Will Smith dalam I Am Legend (2007), Alice Braga kali ini kebagian peran Isabelle
Laurence Fishburne sebagai Noland
Topher Grace sebagai Edwin

Director:
Nimród Antal paling dikenal saat menangani Luke Wilson dan Kate Beckinsale dalam Vacancy (2007).

Comment:
Saya bisa katakan ini adalah versi lain dari The Condemned (2007) dan Death Race (2008), hanya saja musuhnya diganti predator. Disesuaikan dengan kondisi terkini daripada berusaha setia dengan prekuelnya, produser Rodriguez seakan memberikan perspektif baru bagi franchise ini dengan memaksimalkan efek CGI dan MTV style. Hasilnya? Bagi anda penonton muda, mungkin tidak berkeberatan samasekali.
Sutradara Antal sepertinya tidak terlalu mementingkan strategi yang digunakan manusia versus predator ini. Terbukti segala senjata “kelebihan” predator tidak dimaksimalkan sedangkan para manusianya seperti diharuskan berkelompok untuk kemudian terbunuh satu persatu. Padahal “adu pintar” merupakan salah satu elemen menarik yang pernah diusung film Predator jaman dahulu.
Brody sebagai aktor utama disini terlihat menduplikasi Arnold dari segi fisik terbukti tubuh kurusnya seakan disulap menjadi gembung berotot. Saya tidak katakan ia bermain buruk disini tetapi imagenya memang lebih ke arah aktor pintar yang mengandalkan akting daripada fisik. Braga cukup meyakinkan karena terlihat maskulin dan tangguh, pantas rasanya ia sebagai ikon wanita satu-satunya dalam film ini. Sebaliknya Fishburne nyaris tidak kebagian peran berarti lewat beberapa menit kemunculannya. Gracepun masih kurang cocok untuk tampil kejam seperti itu. Sisanya seperti tidak teridentifikasi karena cast yang terlalu banyak dan tidak terfokus padahal mereka merupakan bintang-bintang berkualitas dalam list Hollywood.
Menurut saya, Predators versi baru ini lebih menyerupai permainan mortal kombat alias membunuh atau dibunuh terlepas dari ketidak seimbangan antara dua pihak yang bertikai. Bukankah itu yang menarik dimana yang kuat tidak selalu menang dan yang lemah tidak selalu kalah? Sebuah episode franchise tenar yang dibekali spesial efek canggih tapi tidak terlalu meyakinkan, lebih banyak dibantu dengan pencahayaan minim dan setting malam hari. Belum lagi dikombinasikan dengan plot cerita yang simpel tapi tidak sampai memberikan kreatifitas yang baru ataupun twist yang patut ditunggu di endingnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$52,000,688 till Oct 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter: